Google search engine
Beranda blog

15 Siswa SMA Negeri Tomo Diduga Keracunan Usai Santap Menu MBG

0

SUMEDANG (Aswajanews.id) — Sebanyak 15 siswa SMA Negeri Tomo, Kabupaten Sumedang, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (8/9/2026).

Para siswa tersebut mendapatkan penanganan medis di UPT Puskesmas Tomo dan UPT Puskesmas Ujungjaya setelah mengeluhkan sejumlah gejala, di antaranya pusing, mual, dan muntah.

Menu MBG yang disantap sekitar pukul 10.00 WIB itu terdiri atas nasi putih, ayam asam manis, tempe goreng, tumis sawi putih, dan buah lengkeng. Beberapa waktu setelah menyantap makanan tersebut, sejumlah siswa mulai mengalami gejala yang diduga berkaitan dengan makanan yang mereka konsumsi.

Salah seorang siswi SMA Negeri Tomo, Kusuma Dewi, mengaku mulai merasakan panas dan pusing sekitar 30 menit hingga satu jam setelah menyantap menu MBG.

Menurut Kusuma Dewi, terdapat perbedaan pada saus yang disajikan dalam menu tersebut. Ia juga mengaku pernah mengalami kejadian serupa dan menyebut dirinya sudah dua kali mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi menu MBG. Kondisi tersebut membuatnya mengaku kapok untuk kembali menyantap menu MBG.

Sementara itu, Eti, salah seorang orang tua siswa, mengaku mendapat kabar mengenai kondisi anaknya sekitar pukul 17.00 WIB. Ia mengatakan, anaknya dalam kondisi sehat saat berada di rumah sebelum berangkat ke sekolah.

Menurut cerita anaknya, sebelum mengalami mual dan muntah, ia sempat menyantap menu MBG berupa daging ayam yang dicampur dengan nanas.

Eti mengaku khawatir karena kejadian serupa disebut telah dialami anaknya untuk kedua kalinya.

Atas kejadian tersebut, pihak kepolisian telah melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti dugaan keracunan. Pemicu kejadian hingga kini belum terungkap dan masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.

Para siswa yang mendapatkan penanganan medis mulai pukul 18.00 WIB hingga sekitar pukul 19.40 WIB dilaporkan berangsur pulih. Setelah mendapatkan penanganan, mereka diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.
(Wem Askin)

Semarak Haornas 2026, MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa Tanamkan Semangat Sehat dan Bahagia

0

BREBES (Majalahukum.com) – Peringatan Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 di MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa, Brebes, berlangsung penuh semangat dan keceriaan, Rabu (9/9/2026). Para siswa mengikuti rangkaian kegiatan olahraga dengan antusias sebagai bagian dari upaya madrasah menanamkan budaya hidup sehat sekaligus memperkuat pendidikan karakter sejak dini.

Kegiatan Haornas tidak sekadar menjadi momentum untuk menggerakkan tubuh. Di balik aktivitas senam dan jalan-jalan bersama, terselip pembelajaran tentang kedisiplinan, kebersamaan, kepatuhan terhadap aturan, serta semangat pantang menyerah.

Seluruh murid mengikuti kegiatan senam dengan penuh antusias dengan mengikuti irama musik. Kegiatan tersebut dipandu oleh Ibu Sulastri, yang mampu menghidupkan suasana sehingga para siswa mengikuti setiap gerakan dengan penuh keceriaan.

Kepala MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa, Akhmad Sururi, mengatakan olahraga memiliki posisi penting dalam proses pendidikan anak. Menurutnya, aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur bukan hanya membuat tubuh lebih sehat, tetapi juga membangun semangat dan kebahagiaan.

“Olahraga bukan semata-mata gerakan badan. Di dalam olahraga ada pendidikan disiplin, aturan pergerakan, pengaturan napas, gerakan otot, dan sikap pantang menyerah. Nilai-nilai inilah yang ingin kita tanamkan kepada anak-anak sejak dini,” ujarnya.

Menurut Akhmad Sururi, pendidikan yang baik harus mampu memperhatikan perkembangan anak secara utuh. Kecerdasan akademik tidak dapat berdiri sendiri, tetapi perlu berjalan seimbang dengan kesehatan jasmani, kematangan sosial, serta pembentukan akhlak. Karena itu, momentum Haornas menjadi pengingat bahwa anak-anak membutuhkan lingkungan pendidikan yang mendorong mereka untuk aktif bergerak dan menjalani pola hidup sehat.

“Kita ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi yang sehat raganya, kuat karakternya, baik akhlaknya, dan memiliki semangat untuk berprestasi. Madrasah harus menjadi tempat tumbuh yang menyenangkan bagi mereka,” tambah Akhmad Sururi.

Selain menjaga kebugaran, kegiatan olahraga juga menjadi sarana mempererat hubungan antarsiswa. Mereka belajar saling menyemangati, menghargai kemampuan teman, menaati aturan, serta bergerak bersama dalam satu komando. Kebiasaan positif tersebut diharapkan tidak berhenti pada peringatan Haornas.

Semangat berolahraga sejak dini diharapkan menjadi bagian dari gaya hidup sehat yang terus terbawa hingga mereka dewasa. Haornas 2026 di MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa menjadi bagian dari ikhtiar madrasah membangun ekosistem pendidikan yang menyentuh seluruh aspek perkembangan peserta didik.

Olahraga, pendidikan karakter, pembelajaran agama, literasi, dan pengembangan potensi anak dipandang sebagai satu kesatuan yang saling menguatkan. Dari kegiatan sederhana di lingkungan madrasah, para siswa diajak memahami nilai-nilai besar dalam kehidupan: berusaha dengan sungguh-sungguh, menghargai orang lain, tidak mudah menyerah, bekerja sama, serta tetap rendah hati ketika meraih keberhasilan.

Semangat tersebut diharapkan menjadi bekal bagi siswa MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa untuk tumbuh menjadi generasi yang sehat, religius, berkarakter, berprestasi, dan siap menghadapi masa depan.Semangat Haornas 2026:

Para siswa MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa mengikuti kegiatan olahraga dengan penuh antusias dan keceriaan. Momentum ini menjadi ruang untuk menanamkan budaya hidup sehat, kebahagiaan, kebersamaan, serta ketangguhan dalam setiap langkah. (Red)

BNNP Lampung Perkuat Kolaborasi P4GN, PANI Dorong Gerakan Antinarkoba

0

BANDARLAMPUNG (Aswajanews.id) – Perang melawan narkotika membutuhkan kerja bersama yang melampaui batas institusi dan wilayah. Pencegahan tidak cukup dilakukan melalui penindakan, tetapi harus diperkuat dengan edukasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia serta kolaborasi hingga tingkat masyarakat dan pemerintahan desa.

Semangat tersebut mengemuka dalam silaturahmi dan audiensi Pengurus DPW Penggiat Anti Narkoba Indonesia (PANI) Provinsi Lampung dengan Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Lampung, Rabu (9/9/2026).

Pertemuan yang berlangsung di Kantor BNNP Lampung, Jalan Ikan Bawal No. 92, Kangkung, Kecamatan Telukbetung Selatan, Kota Bandarlampung, menjadi momentum untuk memperkuat sinergi Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).

Kepala BNNP Lampung Brigjen Pol Budi Wibowo, SH, S.I.K., MH menegaskan bahwa lembaganya terbuka terhadap kolaborasi dengan para penggiat antinarkoba.

BNNP Lampung, kata Budi, siap menjadi fasilitator bagi para penggiat P4GN, termasuk dalam peningkatan kapasitas melalui pelatihan yang diselenggarakan BNN.

“BNNP Lampung siap menjadi fasilitator para penggiat narkoba dalam penanganan P4GN untuk mengikuti pelatihan di BNN,” ujar Budi.

Menurutnya, penguatan kapasitas menjadi faktor penting karena para penggiat akan berhadapan langsung dengan masyarakat.

Sebelum melakukan sosialisasi di lingkungan pendidikan maupun masyarakat, mereka harus memiliki pemahaman yang kuat mengenai P4GN, pengetahuan tentang bahaya narkotika dan keterampilan pendukung lainnya.

Budi juga mendorong agar para penggiat memiliki sertifikasi dari BNN sehingga edukasi yang disampaikan kepada masyarakat memiliki dasar kompetensi yang jelas.

Budi menempatkan BNNP Lampung sebagai salah satu ujung tombak pencegahan narkotika di tengah masyarakat. Menurutnya, pelayanan P4GN harus terus diperkuat agar masyarakat tidak hanya menjadi objek sosialisasi, tetapi ikut menjadi bagian dari sistem pencegahan.

Posisi Lampung juga memiliki arti strategis. Provinsi ini menjadi salah satu jalur penghubung utama Pulau Sumatera dan Pulau Jawa, termasuk melalui kawasan Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan. Kondisi geografis tersebut membuat penguatan pengawasan dan pencegahan narkotika membutuhkan kerja lintas lembaga dan lintas komunitas.

Brigjen Pol Budi Wibowo bukan sosok baru di Lampung. Ia sebelumnya pernah dipercaya menjabat Kepala BNNP Lampung sekitar Juni 2023. Setelah menjalani sejumlah penugasan, Budi kembali dipercaya memimpin BNNP Lampung sejak 26 Februari 2026. Sebelum kembali ke Lampung, Budi disebut pernah menjabat Kepala BNNP Kalimantan Barat.

Ia juga pernah menduduki posisi Direktur Tindak Pidana Pencucian Uang pada Deputi Bidang Pemberantasan BNN. Dalam perjalanan kariernya, ia juga pernah menjalankan tugas di lingkungan Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Polri.

Saat bertugas di Kalimantan Barat, Budi mengungkapkan pernah terlibat dalam pengungkapan peredaran narkotika dalam jumlah besar yang diduga berasal dari Malaysia.

Dalam salah satu pengungkapan yang disebut terjadi sekitar akhir Mei 2022, aparat mengamankan lima tersangka beserta barang bukti sabu dengan berat puluhan kilogram.

Ketua DPW PANI Provinsi Lampung Sapron bergelar Khadin Imba Kesuma menyambut positif penguatan komunikasi dengan BNNP Lampung. Sapron didampingi Kepala Advokasi PANI Lampung Bara Suwardi, SH dan Penasehat Marhan Idris.

Dalam audiensi tersebut, PANI memaparkan visi, misi, program kerja serta sejumlah kegiatan P4GN yang telah dilakukan di masyarakat.

Sapron berharap pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai agenda silaturahmi, tetapi menjadi awal penguatan kerja sama yang konkret.

“Dengan silaturahmi hari ini diharapkan dapat menjadi pelajaran dan bekal ke depannya bersama BNNP Lampung dalam penguatan kolaborasi P4GN untuk pencegahan dan edukasi,” kata Sapron.

Menurutnya, ancaman narkotika membutuhkan respons bersama karena jaringan peredaran gelap dapat bergerak melintasi wilayah dan bahkan batas negara.

Kepala Advokasi PANI Lampung Bara Suwardi menegaskan pentingnya melibatkan masyarakat dalam agenda P4GN.Ia mengatakan PANI berupaya membantu negara melalui edukasi kepada pelajar, keluarga dan masyarakat.Bara juga menyatakan kesiapannya menyediakan tempat untuk kegiatan formal maupun informal berkaitan dengan P4GN di Taman Wisata Hutan Kayu Gunung Beranti.

“PANI dalam melaksanakan kegiatan P4GN adalah membantu negara, baik di kalangan pelajar maupun dengan mengharapkan peran serta orang tua dan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Bara, upaya pencegahan harus dibangun dari berbagai lapisan. Tidak hanya pemerintah dan aparat, tetapi juga sekolah, keluarga, organisasi masyarakat hingga pemerintah desa.

Ia berharap kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI), dapat memperluas jangkauan edukasi sekaligus mempersempit ruang gerak peredaran gelap narkotika.

Pertemuan BNNP Lampung dan PANI memperlihatkan bahwa perang terhadap narkotika semakin membutuhkan pendekatan kolaboratif. Penindakan tetap penting, tetapi pencegahan menjadi benteng pertama. Edukasi di sekolah, ketahanan keluarga, peningkatan kapasitas penggiat, serta keterlibatan pemerintah desa menjadi bagian penting dalam membangun masyarakat yang lebih tahan terhadap ancaman narkotika.

Lampung, dengan posisi geografisnya yang strategis, menghadapi tantangan sekaligus memiliki peluang menjadi salah satu pusat penguatan gerakan P4GN di tingkat masyarakat. Dari Lampung untuk Indonesia. Dari Indonesia untuk dunia. Perang melawan narkoba membutuhkan keberanian, kolaborasi dan konsistensi. (Humas DPW PANI Lampung)

Enam Murid MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa Ikuti OMI 2026

0

BREBES (Aswajanews.id) — Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Tahun 2026 menjadi salah satu momentum penting bagi MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa untuk menunjukkan semangat dan prestasi peserta didik di bidang akademik.

Sebanyak 6 murid dari MI Sirojut Tholibin mengikuti kegiatan tersebut pada hari Rabu, 9 September 2026 di MTsN 1 Brebes yang beralamat di Ketanggungan. Enam murid yang ikut OMI tahun 2026 adalah Mirza Hakim kelas 6, Fadlan Badrutamam kelas 6 , Kesya Mezzaluna kls 5, Adziba Misykatul Ulya kelas 5 , Farah Maulida kls 6 dan Aliran Syahreza kls 5.

Ke-enam peserta tersebut dibagi menjadi dua sesi. Adapun mata pelajaran dalam OMI 2026 adalah Matematika Terintegrasi dan IPAS Terintegrasi. Kedua mapel tersebut sebelum sudah disiapkan oleh peserta dengan mendapatkan bimbingan dari guru MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa.

Keikutsertaan dalam OMI bukan sekadar mengejar juara, tetapi menjadi ruang bagi para siswa untuk mengembangkan potensi, keberanian, daya pikir, serta pengalaman berkompetisi secara sehat bersama peserta didik madrasah lainnya.

Hal ini sangat penting karena potensi pengetahuan harus kita pupuk sejak usia di MI. MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, terus berkomitmen mengembangkan pendidikan yang memadukan ilmu pengetahuan, akhlak, dan karakter.

Komitmen tersebut sejalan dengan visi madrasah dalam mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak mulia.Kegiatan OMI Tahun 2026 diharapkan menjadi pengalaman berharga bagi para peserta didik.

Mereka belajar bahwa sebuah kompetisi bukan hanya tentang menang dan kalah, tetapi juga tentang proses belajar, disiplin, kerja keras, percaya diri, dan sportivitas.

Lebih dari itu tentu kompetensi literasi digital menjadi dasar utama untuk mengikuti OMI. Bagi MI Sirojut Tholibin, setiap siswa yang berani tampil dalam kompetisi adalah bagian dari prestasi madrasah.

Mereka sedang belajar membawa nama baik madrasah sekaligus membangun kepercayaan diri untuk menghadapi tantangan pendidikan di masa depan.Semoga keikutsertaan MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa dalam OMI 2026 menjadi langkah menuju prestasi yang lebih tinggi. Dengan dukungan guru, orang tua, dan masyarakat, madrasah dapat terus melahirkan generasi yang cerdas, berakhlak, berprestasi, dan siap menyongsong masa depan. (Red)

KEPALA DESA DAN CITA-CITA KEMERDEKAAN: REFLEKSI MENJELANG PILKADES SERENTAK PEMALANG

0

Sosok kepala desa atau lurah sangat berperan penting dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka yang setiap hari berhadapan dengan realitas kehidupan rakyat yang paling bawah. Di sanalah potret atau landscape peradaban Indonesia bisa dilihat tanpa membuka data sensus dari pihak mana pun.

Di desalah suara penderitaan yang paling nyaring didengar, karena desa adalah telinga realitas kehidupan. Di desalah mata batin peradaban muncul. Di desa juga bersemayam budaya, tradisi, dan watak Indonesia.

Melihat Indonesia, lihatlah desa. Karena desa, bagi saya, adalah kemandirian sejati yang jarang berteriak apa pun, kecuali doa-doa tengah malam demi kemajuan sebuah bangsa. Dan dari desa, akar pergerakan Indonesia bermunculan.

Momen pemilihan kepala desa serentak Kabupaten Pemalang ini menjadi momentum refleksi bursa transfer kepemimpinan yang nyata. Mampukah calon-calon kepala desa berkomitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia?

Berdasarkan Undang-Undang tentang Desa, kepala desa bertugas menyelenggarakan pemerintahan, pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan pemberdayaan masyarakat di desa.

Melihat tugas kepala desa tersebut, dibutuhkan kesiapan mental dan batin yang sangat kuat untuk melaksanakan amanat tersebut demi terwujudnya cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Mari melihat fakta di lapangan. Apakah calon kepala desa sudah siap secara lahir dan batin melaksanakan amanat besar tersebut? Apakah masyarakat memilih karena pertimbangan konkret mengenai kesiapan tersebut? Apakah masyarakat masih berdiskusi dalam forum-forum kelompok, warung kopi pojok desa, membedah kesiapan lahir dan batin serta mental calon kepala desa? Apakah rakyat masih peduli untuk berdiskusi tentang nasib dan kemajuan desanya? Atau masyarakat hanya menunggu amplop-amplop dibagikan oleh pecut atau tim sukses calon kepala desa? Refleksi mendalam ini menjadi cermin bagi calon kepala desa dan masyarakat agar cita-cita kemerdekaan Indonesia bisa terwujud.

Melalui momentum pemilihan kepala desa, mari seluruh lapisan masyarakat berdiskusi di forum-forum kecil, forum kepemudaan, forum jagongan, warung kopi, dan pojok-pojok desa. Pertanyakan dan bedah visi-misi calon kepala desa agar momentum membangun peradaban konkret melalui pemerintahan desa tidak hanya menjadi ajang gengsi untuk memperlihatkan kemampuan finansial, tetapi juga menunjukkan kemampuan lahir dan batin serta kepedulian terhadap desa berdasarkan perjalanan hidupnya.

Apakah selama ini calon kepala desa adalah sosok yang peduli dan bertanggung jawab terhadap problem masyarakat?

Apakah calon kepala desa pernah menjadi RT, RW, Kadus, Ketua Karang Taruna, atau ketua komunitas apa pun di desa?

Bagaimana track record pengabdiannya terhadap masyarakat? Sehingga bukan hanya wani piro? Piro amplope? Piro duite? Piro hadiahe? Tetapi, bagaimana pikirannya?Bagaimana hatinya? Bagaimana kepeduliannya terhadap rakyat miskin dan tertindas di desa-desa? Diskusikan dan pertanyakan itu semua demi peradaban desa.

Masyarakat jangan hanya mau menerima amplop, tetapi gagal menitipkan mandat dan amanat konstitusi kepada orang yang tidak siap dan tidak mampu melaksanakan amanat tersebut. Mengingat menjadi pejabat publik paling tidak harus memiliki dua syarat, yaitu kompetensi dan moralitas, maka kemudian ada tiga tahap untuk melihat sosok calon pejabat publik, atau dalam hal ini calon kepala desa, sebelum masyarakat menentukan pilihan atau labuhan dermaga politiknya.

Tiga tahap tersebut adalah:

1. ETIKABILITAS

Merupakan kemampuan masyarakat untuk melihat bagaimana karakter, sikap, kepribadian, dan komitmen terhadap Merah Putih yang menjadi integritas serta etos kerja dalam menjalani kehidupan selama ini.Pertanyakan itu dalam hatimu.Bagaimana karakter calon kepala desa?Bagaimana sikapnya terhadap masyarakat?Bagaimana kepribadiannya?Bagaimana komitmennya terhadap bangsa dan negara?Semua itu merupakan bagian penting untuk melihat sosok calon pemimpin desa.

2. INTELEKTUALITAS

Merupakan barometer masyarakat dalam melihat kualitas pendidikan calon kepala desa.Di mana belajarnya?Siapa gurunya?Apakah mengamalkan ilmunya dalam melaksanakan pengabdian dan kerja-kerja konkret membangun desa selama ini?Mampukah berbicara tentang pembangunan desa dan tata kelola sistem pemerintahan?Mampukah mengorganisir rakyat?Mampukah menjadi garda terdepan meyakinkan rakyat tentang Indonesia Emas 2045 melalui kekuatan desa, baik secara budaya maupun sumber daya yang ada di desa?Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk dijawab sebelum masyarakat menentukan pilihan.

3. ELEKTABILITAS

Merupakan anggapan masyarakat tentang trust atau kepercayaan, keyakinan rakyat terhadap calon bapak atau ibu kepala desa. Siapa yang hidup di hati rakyat sebagai pelindung dan penjaga moral bangsa? Siapa yang konsisten mengajak rakyat hidup rukun dan bersatu, menjunjung tinggi gotong royong? Siapa yang selama ini berjuang ingin mewujudkan cita-cita pembangunan desa? Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kepala desa bukan hanya seseorang yang memenangkan pemilihan, tetapi seseorang yang nantinya menerima amanat masyarakat.

Tiga tingkatan itulah yang menjadi landasan dasar untuk menentukan arah desa.Kepada siapa amanat ini pantas kami titipkan? Maka, momentum pemilihan kepala desa harus menjadi momentum kesadaran bersama. Kesadaran calon kepala desa untuk menunjukkan kesiapan lahir dan batin, serta kesadaran masyarakat untuk menentukan pilihan berdasarkan kompetensi, moralitas, rekam jejak, dan kepedulian terhadap desa.

Jangan sampai demokrasi desa hanya berhenti pada persoalan siapa mendapatkan suara terbanyak. Lebih dari itu, mari kita pertanyakan kepada siapa masa depan desa akan dititipkan.Selamat berkontestasi. Cerdaslah dalam memilih. (*)

Semarak Haornas 2026, SDN Kaliwlingi 01 Brebes Gelar Senam, Jalan Sehat hingga Bagi Doorprize

0

BREBES (Aswajanews.id) – Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 di SD Negeri Kaliwlingi 01 Brebes tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Semangat hidup sehat dan kebersamaan terasa ketika keluarga besar sekolah tersebut mengikuti rangkaian kegiatan olahraga, Rabu (9/9/2026).

Dimulai sejak pukul 07.00 WIB, kegiatan berlangsung meriah dengan mengusung tema “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar!”. Senam pagi dan jalan sehat menjadi kegiatan utama yang melibatkan guru, staf, siswa hingga wali murid.

Suasana semakin semarak dengan pembagian doorprize yang menyediakan berbagai hadiah, mulai dari hadiah hiburan hingga hadiah utama. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan yang sekaligus menjadi momentum mempererat hubungan kekeluargaan di lingkungan SD Negeri Kaliwlingi 01 Brebes.

Koordinator kegiatan, Fatni Fitri Nuryanti, S.Pd., menegaskan bahwa peringatan Haornas kali ini tidak hanya ditujukan untuk mengenang momentum olahraga nasional, tetapi juga mendorong keluarga besar sekolah agar lebih aktif menjaga kesehatan.

Kegiatan ini bertujuan selain sebagai peringatan Haornas juga untuk membuat sehat keluarga besar SD Negeri Kaliwlingi 01 dan semangat kekeluargaan,” ujar Fatni.

Menurutnya, olahraga bersama menjadi sarana sederhana untuk membangun kebiasaan hidup sehat sekaligus memperkuat kebersamaan antara sekolah, peserta didik, dan orang tua.

Apresiasi juga disampaikan Kepala SD Negeri Kaliwlingi 01 Brebes, Wargiyanto, S.Pd. Ia memberikan penghargaan kepada seluruh panitia dan peserta yang telah berkontribusi sehingga kegiatan dapat berlangsung dengan tertib dan meriah.

Sementara itu, kegiatan dibuka oleh Solichin, S.Pd.I. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan penuh semangat serta memanjatkan doa agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan memberikan manfaat.

Peringatan Haornas di SDN Kaliwlingi 01 Brebes akhirnya bukan hanya menghadirkan aktivitas fisik, tetapi juga membangun ruang kebersamaan. Guru, siswa, staf, dan wali murid melebur dalam satu kegiatan yang membawa pesan sederhana: sekolah sehat dimulai dari warga sekolah yang aktif dan bugar.

Haornas dan Sejarah Olahraga Nasional

Hari Olahraga Nasional diperingati setiap 9 September berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1985.
Pemilihan tanggal tersebut berkaitan dengan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I di Surakarta (Solo) pada 9–12 September 1948. PON pertama tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan olahraga Indonesia sekaligus merepresentasikan semangat persatuan dan kedaulatan bangsa melalui olahraga.

Semangat tersebut kemudian dihidupkan kembali di lingkungan sekolah melalui kegiatan sederhana namun sarat kebersamaan.
(Red)

FKDT dan Pergerakan Komunitas Pendidikan Keagamaan Menuju Indonesia Hebat

0

Indonesia hebat tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi, kemajuan teknologi, dan pertumbuhan ekonomi. Indonesia yang hebat juga lahir dari manusia yang memiliki ilmu, karakter, akhlak, kepedulian sosial, serta fondasi spiritual yang kuat.

Di sinilah pendidikan keagamaan memiliki posisi yang sangat strategis. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, lembaga pendidikan keagamaan—termasuk Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT)—terus memainkan peran penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

Dalam konteks tersebut, Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) tidak semestinya hanya dipandang sebagai organisasi administratif atau wadah koordinasi lembaga MDT. FKDT merupakan bagian dari gerakan komunitas pendidikan keagamaan yang memiliki tanggung jawab besar untuk menguatkan eksistensi pendidikan diniyah sekaligus menjawab tantangan pendidikan masa depan.

FKDT sebagai Gerakan Komunitas

Kekuatan pendidikan keagamaan sesungguhnya berada pada komunitas. Ada guru, ustaz, pengelola MDT, orang tua, tokoh agama, pesantren, organisasi kemasyarakatan, pemerintah, dan masyarakat yang saling terhubung.

FKDT hadir untuk mempertemukan kekuatan-kekuatan tersebut.

Karena itu, FKDT perlu terus bergerak dari pola kerja yang bersifat administratif menuju gerakan komunitas yang produktif, kolaboratif, dan transformatif.

Gerakan itu dapat diwujudkan melalui penguatan kapasitas guru, peningkatan mutu pembelajaran, pengembangan kurikulum, pemanfaatan teknologi, penguatan manajemen lembaga, serta membangun jejaring dengan berbagai pihak.

FKDT harus menjadi rumah bersama bagi para penggerak pendidikan keagamaan.

Guru MDT adalah Penggerak Utama

Tidak mungkin membangun pendidikan keagamaan yang kuat tanpa memperkuat gurunya.

Guru MDT bukan sekadar pengajar materi keagamaan. Mereka adalah pendidik yang ikut membentuk cara berpikir, sikap, kebiasaan, dan karakter anak.

Karena itu, peningkatan kualitas guru harus menjadi agenda utama FKDT. Pelatihan, forum berbagi pengalaman, pengembangan kompetensi, literasi digital, dan penguatan metodologi pembelajaran perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Guru yang terus belajar akan melahirkan murid yang memiliki semangat belajar.

Guru yang mengajarkan keteladanan akan membantu melahirkan generasi yang memahami bahwa ilmu harus berjalan bersama akhlak.

Dari Tradisi ke Transformasi

Pendidikan diniyah memiliki tradisi keilmuan yang panjang. Tradisi mengaji, sorogan, bandongan, hafalan, pembiasaan ibadah, adab kepada guru dan orang tua, serta kehidupan sosial yang religius merupakan kekayaan yang tidak boleh hilang. Namun mempertahankan tradisi tidak berarti menolak perubahan.

Justru tantangan kita adalah bagaimana menghubungkan kekuatan tradisi dengan kebutuhan generasi masa kini.

Anak-anak hari ini hidup dalam dunia digital. Mereka membutuhkan kemampuan literasi, teknologi, komunikasi, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Semua itu dapat berjalan berdampingan dengan pendidikan agama.

MDT harus mampu melahirkan generasi yang melek teknologi tetapi tetap berakhlak, modern tetapi tidak kehilangan akar tradisi, dan terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Di sinilah FKDT mempunyai ruang perjuangan yang sangat besar.

Membangun Ekosistem Pendidikan Keagamaan

Pendidikan tidak boleh dibebankan hanya kepada sekolah atau madrasah.

Keluarga adalah tempat pendidikan pertama. Madrasah menjadi ruang pembelajaran yang terstruktur. Masjid menjadi pusat pembinaan spiritual dan sosial. Pesantren menjadi salah satu sumber tradisi keilmuan. Masyarakat menjadi lingkungan yang memberikan keteladanan.

Karena itu, masa depan MDT membutuhkan ekosistem pendidikan keagamaan.

FKDT dapat mengambil peran sebagai penghubung berbagai elemen tersebut. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, Kementerian Agama, organisasi keagamaan, pesantren, masjid, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas masyarakat perlu terus diperkuat.

Semakin luas kolaborasi, semakin kuat pula daya tawar pendidikan keagamaan.

FKDT dan Masa Depan Generasi Bangsa

Kita sering berbicara tentang bonus demografi. Namun jumlah penduduk usia produktif saja tidak otomatis menjadi kekuatan bangsa.

Bonus demografi akan menjadi berkah apabila generasinya memiliki kompetensi, karakter, etos kerja, tanggung jawab sosial, dan moralitas.

Di sinilah pendidikan keagamaan mengambil bagian.

MDT mungkin berada di lingkungan masyarakat yang sederhana. Gedungnya mungkin tidak selalu megah. Sarana dan prasarananya mungkin masih terbatas. Tetapi dari ruang-ruang sederhana itulah nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, penghormatan kepada orang tua dan guru, serta kecintaan kepada agama dan bangsa terus ditanamkan.

Maka jangan pernah menganggap kecil peran pendidikan diniyah.

Bisa jadi, dari sebuah madrasah diniyah di desa, sedang tumbuh calon guru, ulama, pemimpin, pengusaha, birokrat, teknokrat, dan tokoh masyarakat yang kelak memberikan kontribusi besar bagi Indonesia.

Menuju Indonesia Hebat

Indonesia hebat membutuhkan pembangunan manusia seutuhnya.

Kemajuan teknologi membutuhkan etika. Kecerdasan membutuhkan kebijaksanaan. Kekuasaan membutuhkan integritas. Kemajuan ekonomi membutuhkan kejujuran. Kebebasan membutuhkan tanggung jawab.

Semua itu memiliki hubungan erat dengan pendidikan karakter dan pendidikan keagamaan.

Karena itu, FKDT harus terus meneguhkan dirinya sebagai gerakan penguatan pendidikan keagamaan. Bukan sekadar bergerak ketika ada agenda organisasi, tetapi hadir secara konsisten mendampingi lembaga, memperjuangkan guru, meningkatkan mutu pendidikan, dan membangun kolaborasi.

Gerakan FKDT harus bergerak dari bawah, tumbuh bersama masyarakat, dan memberikan manfaat nyata.

Dari MDT kita menanam ilmu.
Dari guru kita menanam keteladanan.
Dari keluarga kita menanam nilai.
Dari masyarakat kita membangun kepedulian.
Dan dari semuanya kita menyiapkan generasi Indonesia hebat.

Pada akhirnya, FKDT bukan hanya tentang organisasi. FKDT adalah tentang gerakan bersama untuk memastikan pendidikan keagamaan tetap hidup, berkembang, dan relevan dengan zaman.

Jika gerakan ini dilakukan dengan konsisten, kolaboratif, dan penuh keikhlasan, maka pendidikan keagamaan akan menjadi salah satu kekuatan penting dalam membangun Indonesia yang maju, berkarakter, berakhlak, dan bermartabat.

Indonesia hebat bukan hanya Indonesia yang maju secara ekonomi dan teknologi, tetapi Indonesia yang manusianya kuat ilmu, kokoh iman, luhur akhlak, dan besar kepeduliannya kepada bangsa.

FKDT bergerak, pendidikan keagamaan menguat, generasi hebat tumbuh, Indonesia maju.

10 Tahun Berjuang, PAUD An-Nur Ciamis Masih Setengah Jadi, Butuh Uluran Tangan

0

CIAMIS (Aswajanews.id) – Selama satu dekade, Cucu Nurhayati konsisten mengabdikan diri mendirikan dan mengelola Yayasan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) An-Nur yang berlokasi di Dusun Pabrik, Blok Ranca Brerem, RT 17/08, Desa Cihalang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.

Yayasan yang berdiri sejak 2015 tersebut lahir dari keprihatinan Cucu melihat masih banyak anak-anak di lingkungan sekitar yang tidak mendapatkan pendidikan anak usia dini. Kondisi ekonomi masyarakat yang mayoritas menengah ke bawah serta jarak menuju lembaga PAUD terdekat menjadi salah satu kendala.

“Di sini mayoritas bukan orang berada. Kalau mau sekolah PAUD harus jauh. Makanya banyak yang putus sekolah,” ujar Cucu saat diwawancarai, Senin (7/9/2026).

Kini, PAUD An-Nur menampung sekitar 20 anak didik. Tidak hanya dari lingkungan sekitar, sejumlah peserta didik juga berasal dari wilayah lain di sekitar Desa Cihalang.

Namun, perjuangan tersebut masih menghadapi persoalan besar. Di tengah keterbatasan pembiayaan, pembangunan gedung yayasan yang berdiri di atas lahan seluas 20 bata atau sekitar 280 meter persegi hingga kini belum juga rampung.

Bangunan tersebut baru mencapai sekitar 50 persen dari keseluruhan pembangunan. Kondisi ini membuat pengembangan sarana dan prasarana pendidikan masih sangat bergantung pada kemampuan finansial pribadi pengelola.

Cucu berharap pemerintah, baik pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun Pemerintah Kabupaten Ciamis, dapat memberikan perhatian terhadap kondisi PAUD An-Nur, khususnya membantu menyelesaikan pembangunan gedung yang hingga kini masih terbengkalai.

“Harapannya ada bantuan,” ungkapnya.

Bagi Cucu, mendirikan dan mengelola PAUD bukan sekadar menjalankan kegiatan belajar mengajar. Menurutnya, pendidikan anak usia dini merupakan bagian penting dalam membangun karakter dan memberikan bekal pengetahuan kepada anak sejak usia dini.

“Usia PAUD itu usia emas. Tujuannya supaya anak-anak punya bekal ilmu sejak dini dan bisa mengurangi angka putus sekolah,” tegasnya.

Selama ini, Yayasan PAUD An-Nur masih beroperasi secara mandiri dengan mengandalkan kemampuan keuangan pribadi pengelola. Di tengah keterbatasan tersebut, semangat untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah sekitar tetap dipertahankan.
Sepuluh tahun perjalanan PAUD An-Nur menjadi gambaran perjuangan pendidikan di tingkat akar rumput. Di satu sisi, kegiatan belajar bagi puluhan anak terus berjalan, namun di sisi lain, pembangunan gedung yang menjadi penunjang utama proses pendidikan masih menunggu uluran tangan.
(Nana S)

Penataaan dan Restorasi Mangrove Tambak Pantura Sebagai Program Prioritas Nasional

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Pemerintah Kabupaten Karawang terus mematangkan koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah guna mengawal percepatan Program Prioritas Nasional Revitalisasi Tambak Pantura Jawa Barat.

Sekretaris Daerah Karawang, H. Asep Aang Rahmatullah, S.STP, MP didampingi Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan menghadiri Rapat Koordinasi Revitalisasi Tambak Nila Salin Pantai Pantura di Sekretariat Negara, Jakarta Pusat (08/09).

Langkah ini difokuskan pada penyelesaian dinamika tata batas lahan, kepastian tata ruang, hingga pendekatan sosial bagi masyarakat terdampak.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaporkan total luas kawasan revitalisasi mencapai 14.067,5 hektar.Sekda menekankan keterbukaaninformasi, kepastian lokasi relokasi warga, serta skema pascaproyek. Sementara progress pemetaan batas kawasan saat ini sudah 50%.

“Kondisi saat ini memiliki kompleksitas yang agak berbeda dan membutuhkan keterbukaan pelaksanaan program.Perlu ada kejelasan mengenai dua poin utama, yaitu skema investasi serta arah kebijakan pasca-program kedepannya,” ujar Sekda.

Atas nama Pemerintah Daerah, Bupati Karawang menyatakan dukungan penuh terhadap program nasional ini, karena diyakini dapat membawa dampak positif bagi penataan lingkungan, restorasi kawasan mangrove, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir Pantura.

Pemerintah Kabupaten Karawang mendukung penuh Proyek Strategis nasional dengan sinergi seluruh aparat di lapangan yang kini siap bergerak dan tinggal menunggu arahan teknis serta koordinasi lebih lanjut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. (Ahmad Z)

Kajati Jabar Kunjungi Kejari Cimahi dan Kota Bandung, Tekankan Integritas dan Kinerja

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jawa Barat M. Teguh Darmawan melakukan kunjungan kerja ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Cimahi dan dilanjutkan ke Kejari Kota Bandung, Selasa (8/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Kajati didampingi Wakajati Jabar Dr. Desy Meutia Firdaus, Asisten Intelijen Donny Haryono Setyawan, S.H., M.H., Asisten Tindak Pidana Khusus Agung Arifianto, S.H., M.H., serta Kepala Bagian Tata Usaha.

Kunjungan kerja itu tidak sekadar meninjau kondisi kantor. Kajati juga mengecek sarana dan prasarana, termasuk ruang barang bukti serta manajemen pemeliharaan barang bukti di lingkungan Kejari.

Kajati kemudian bertatap muka langsung dengan jajaran pegawai di masing-masing Kejari.

Dalam arahannya, ia menegaskan pentingnya menjaga nama baik dan marwah institusi Adhyaksa melalui pelaksanaan tugas yang profesional, berintegritas, disiplin, dan sesuai tugas pokok serta fungsi masing-masing bidang.

“Sebagai insan Adhyaksa, seluruh pegawai harus turut serta menjaga nama baik dan marwah institusi,” demikian penekanan Kajati dalam arahannya.

Menurutnya, peningkatan kinerja harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, seluruh jajaran didorong untuk bekerja secara profesional, responsif, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kajati juga meminta setiap bidang mengoptimalkan tugas dan fungsinya. Di antaranya melalui penyelesaian perkara yang mengedepankan pendekatan restorative justice, penyusunan legal opinion yang berkualitas dan solutif, serta peningkatan kualitas pelayanan hukum.

Penegakan hukum, lanjutnya, harus dilaksanakan secara profesional, berkeadilan, dan berintegritas.Tak hanya memberikan arahan, Kajati membuka ruang dialog dengan para pegawai. Berbagai masukan dan kendala yang dihadapi jajaran dalam pelaksanaan tugas didengarkan secara langsung untuk kemudian dicari solusi bersama.

Melalui kunjungan dan dialog tersebut, Kajati berharap jajaran Kejari Cimahi dan Kejari Kota Bandung terus meningkatkan kinerja, mempertahankan integritas, serta menjaga kehormatan institusi.

Ia menekankan, setiap tugas dan tanggung jawab harus dijalankan dengan penuh dedikasi demi mewujudkan Kejaksaan yang profesional, berintegritas, dan semakin dipercaya masyarakat. (Red/Kasi Penkum Kejati Jabar)

Estafet Tunas Kelapa 2026 : Menanamkan Semangat Pengabdian dan Kepemimpinan Generasi Muda

0

Ada sesuatu yang istimewa dari sebuah estafet. Bukan sekadar siapa yang berlari paling cepat, tetapi tentang bagaimana sebuah amanah diterima, dijaga, lalu diserahkan kepada generasi berikutnya dalam keadaan tetap memiliki makna.

Begitulah semangat Estafet Tunas Kelapa (ETK) dalam Gerakan Pramuka. Tunas kelapa bukan sekadar simbol yang dibawa dari satu tempat ke tempat lain. Ia menjadi pesan moral tentang kehidupan: tumbuh, berakar kuat, bermanfaat, dan mampu berdiri tegak menghadapi berbagai tantangan.

Tunas Kelapa dan Filosofi Generasi Muda

Kelapa merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat. Hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan. Filosofi inilah yang menjadikan tunas kelapa sebagai lambang Gerakan Pramuka.

Dalam konteks pendidikan generasi muda, filosofi tersebut sangat relevan. Anak-anak dan remaja tidak cukup hanya memiliki kecerdasan akademik. Mereka perlu tumbuh menjadi pribadi yang memiliki karakter, tanggung jawab, kepedulian sosial, kemandirian, disiplin, serta semangat pengabdian.

ETK menjadi ruang pendidikan yang menarik karena nilai-nilai tersebut tidak hanya disampaikan melalui teori, tetapi dialami secara langsung.

Di jalan, di tengah masyarakat, dan dalam kebersamaan sesama anggota Pramuka, peserta belajar bahwa kehidupan membutuhkan kerja sama, ketekunan, kesabaran, dan tanggung jawab.

Estafet Amanah Antar Generasi

Estafet Tunas Kelapa juga dapat dimaknai sebagai estafet amanah antar-generasi. Generasi hari ini menerima warisan nilai dari para pendahulu. Nilai tersebut kemudian harus dirawat dan dikembangkan agar dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, kegiatan ETK semestinya tidak berhenti pada seremoni. Jangan sampai tunas kelapa hanya berpindah tangan, sementara nilai yang dikandungnya tidak ikut berpindah ke dalam hati dan perilaku generasi muda.

Semangat Pramuka harus hadir dalam kehidupan sehari-hari: menghormati orang tua dan guru, peduli kepada lingkungan, membantu masyarakat, menjaga persaudaraan, serta berani mengambil tanggung jawab.

Membangun Karakter Melalui Pengalaman

Pendidikan karakter akan lebih kuat ketika anak-anak memperoleh pengalaman nyata. Hal tersebut dibutuhkan gerak langkah nyata dengan memberikan manfaat kepada sesama.

Berjalan bersama, menjaga amanah, mengikuti aturan, menghadapi kelelahan, berkomunikasi dengan masyarakat, dan bekerja dalam kelompok merupakan pengalaman pendidikan yang sangat berharga.

Di sinilah ETK memiliki nilai strategis. Kegiatan tersebut dapat menjadi laboratorium pendidikan karakter yang mengajarkan bahwa keberhasilan tidak dibangun sendirian.
Ada kebersamaan, ada disiplin, ada pengorbanan, dan ada tanggung jawab.

Generasi muda juga belajar bahwa setiap orang memiliki peran. Ada yang membawa amanah, ada yang mendampingi, ada yang memberikan dukungan, dan ada masyarakat yang menyambut. Semuanya menjadi bagian dari satu perjalanan.

Pramuka dan Masyarakat

Yang tidak kalah penting, ETK dapat menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara Gerakan Pramuka dan masyarakat.

Pramuka bukan organisasi yang hidup di dalam lingkungan sekolah saja. Semangat kepramukaan harus mampu hadir di tengah masyarakat melalui kegiatan sosial, kepedulian lingkungan, pelayanan kemanusiaan, dan berbagai bentuk pengabdian.

Ketika ETK melintasi desa dan berbagai lingkungan masyarakat, sesungguhnya terdapat kesempatan untuk memperkenalkan kembali wajah Pramuka yang dekat dengan rakyat.

Pramuka harus menjadi bagian dari solusi atas persoalan sosial di lingkungannya.

Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat. Agar nilai-nilai ETK tidak berhenti setelah kegiatan selesai, diperlukan dukungan tiga lingkungan pendidikan: sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Sekolah memberikan penguatan pengetahuan dan karakter. Keluarga menjadi tempat pertama pembentukan akhlak dan kebiasaan. Sementara masyarakat menjadi ruang bagi anak untuk mempraktikkan nilai-nilai tersebut. Dengan demikian, Estafet Tunas Kelapa dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan karakter yang lebih luas.

Kita ingin anak-anak tidak hanya pandai berbicara tentang disiplin, tetapi mampu mempraktikkannya. Tidak hanya memahami gotong royong, tetapi mau melakukannya. Tidak hanya mengenal pengabdian, tetapi memiliki kepedulian untuk membantu sesama.

Menjaga Api Semangat

Pada akhirnya, Estafet Tunas Kelapa adalah tentang menjaga api semangat. Semangat yang terus menyala sepanjang masa.

Tunas yang kecil hari ini akan tumbuh menjadi pohon yang besar di kemudian hari. Begitu pula generasi muda. Mereka adalah tunas bangsa yang sedang tumbuh. Maka dibalik makna tumbuh dibarengi dengan peran dan dukungan beberapa pihak untuk terus berkembang.

Tugas kita bukan sekadar menyaksikan mereka tumbuh, tetapi memberikan tanah yang baik, air yang cukup, dan lingkungan yang sehat agar mereka dapat berkembang menjadi generasi yang kuat. Hal ini sangat penting agar tumbuhnya generasi bukan sebatas fisik, akan tetapi mental dan rohaninya terus berkembang sebagai kekuatan dan modal untuk menuju generasi hebat.

Maka, mari kita jadikan Estafet Tunas Kelapa bukan sekadar perjalanan membawa simbol, tetapi perjalanan membawa nilai. Nilai persaudaraan, kemandirian, kedisiplinan, kepemimpinan, kepedulian, dan pengabdian menjadi spirit dalam berpramuka. Dengan demikian hadirnya Pramuka dalam pendidikan formal menjadi pilar untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Sebab setiap tunas yang kita jaga hari ini adalah harapan bagi masa depan bangsa. Tunas Kelapa terus berjalan, amanah terus diwariskan, dan semangat pengabdian harus terus dinyalakan. (*)

OMI 2026 Resmi Bergulir, Ribuan Siswa Kabupaten Bandung Berebut Tiket ke Tingkat Nasional

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 tingkat Kabupaten Bandung resmi digelar. Ribuan siswa dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA) mengikuti kompetisi yang menjadi ajang pencarian bibit-bibit unggul berkompetensi.

Pembukaan OMI tingkat Kabupaten Bandung berlangsung di MAN 1 Bandung, Senin (7/9/2026), dan dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bandung, H. Ramlan Rustandi, S.Ag., M.Si.

OMI 2026 merupakan program nasional yang digelar secara serentak di seluruh Indonesia. Pelaksanaannya mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Nomor 6843 Tahun 2026.

Menurut Ramlan Rustandi, OMI menjadi salah satu wadah untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menemukan peserta didik yang memiliki potensi dan kompetensi unggul.

“OMI ini merupakan program nasional yang dilaksanakan berdasarkan Keputusan Dirjen Pendis Kemenag RI Nomor 6843 Tahun 2026,” ujar Ramlan.

Ia menjelaskan, cabang kompetisi OMI disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Untuk tingkat MI terdapat dua cabang, MTs tiga cabang, sedangkan MA mempertandingkan enam cabang.

“Tujuannya untuk mencari bibit-bibit unggul yang memiliki kompetensi,” katanya.

Secara nasional, pelaksanaan OMI 2026 mendapat antusiasme tinggi. Tercatat sebanyak 230.123 peserta mendaftarkan diri dalam kompetisi tersebut.

Dari jumlah itu, sebanyak 229.593 peserta atau sekitar 99,8 persen dinyatakan lolos verifikasi. Para peserta berasal dari 34 provinsi dengan keterlibatan lebih dari 33 ribu lembaga pendidikan.

Menariknya, OMI 2026 tidak hanya diikuti oleh siswa madrasah. Sebanyak 13.271 siswa dari sekolah umum turut ambil bagian dalam kompetisi tersebut.

Mereka berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP hingga SMA.

Keterlibatan siswa sekolah umum menunjukkan bahwa OMI 2026 tidak hanya menjadi ruang kompetisi bagi siswa madrasah, tetapi juga menjadi wadah yang mempertemukan peserta didik dari berbagai satuan pendidikan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan masing-masing.

Ketua Komite Pelaksana OMI 2026 Kabupaten Bandung, H. Ceceng Ismail, S.Ag., mengatakan pelaksanaan OMI tingkat Kabupaten Bandung tidak dipusatkan di satu lokasi, melainkan disebar di sejumlah titik lokasi (tilok) sesuai jenjang pendidikan.

Untuk tingkat MA, pelaksanaan kompetisi dipusatkan di MAN 1 Bandung.

Sementara itu, untuk tingkat MTs, kompetisi digelar di tiga titik lokasi, yakni MTsN 1, MTsN 2, dan MTsN 3. Sedangkan untuk tingkat MI, pelaksanaan OMI tersebar di empat titik lokasi, yaitu di MI Al Musthofa Majalaya, MI Muhammadiyah Rancaekek, MI Al Hikmah Bojongsoang dan MI Yuppi Soreang.

“Dalam penyelenggaraan OMI tingkat Kabupaten Bandung, pelaksanaannya dilakukan di beberapa titik lokasi. Untuk tingkat MA di MAN 1 Bandung, tingkat MTs di tiga tilok, yaitu MTsN 1, MTsN 2 dan MTsN 3, sedangkan tingkat MI di empat tilok,” ujar Ceceng.

Menurut Ceceng, pembagian titik lokasi tersebut merupakan bagian dari pengaturan pelaksanaan kompetisi berdasarkan jenjang pendidikan peserta.

Ceceng menambahkan, rangkaian OMI 2026 dilaksanakan secara bertahap, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga tingkat nasional.

Tahap tingkat kabupaten/kota dijadwalkan berlangsung pada 7–8 September 2026. Peserta terbaik kemudian akan melanjutkan kompetisi ke tingkat provinsi yang dijadwalkan pada 5–6 Oktober 2026.

Selanjutnya, para peserta terbaik dari tingkat provinsi akan melaju ke tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 10–11 November 2026. Sedangkan pengumuman pemenang sekaligus penutupan OMI 2026 tingkat nasional dijadwalkan pada 12 November 2026.

“Rangkaian OMI 2026 akan berlangsung secara bertahap, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga nasional,” kata Ceceng.

Dengan sistem kompetisi berjenjang tersebut, OMI 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi ajang meraih juara, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah kemampuan, membangun mental kompetitif yang sehat, serta menjaring siswa-siswi berprestasi yang nantinya dapat menjadi representasi terbaik daerah di tingkat yang lebih tinggi. (Red)

OMI 2026 Digelar di 281 Titik, Kemenag Jabar Matangkan Kesiapan Talenta Madrasah

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Sebanyak 281 titik lokasi (tilok) di Jawa Barat disiapkan untuk pelaksanaan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat kabupaten/kota Tahun 2026.

Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Barat pun mematangkan kesiapan perangkat, petugas, hingga sarana pendukung agar kompetisi yang digelar secara daring tersebut berjalan tanpa kendala teknis.

Persiapan itu dibahas dalam Rapat Koordinasi Persiapan Pelaksanaan OMI yang digelar secara daring, Minggu (6/9/2026).

Rakor diikuti para Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kabupaten/Kota se-Jawa Barat bersama tim teknis OMI. Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6843 Tahun 2026 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Olimpiade Madrasah Indonesia Tahun 2026.

Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat, H. Badruzaman, menegaskan OMI tidak boleh dipandang sebatas ajang perebutan juara. Lebih dari itu, OMI menjadi instrumen strategis untuk menemukan dan mengembangkan talenta terbaik peserta didik madrasah.

“Sebuah kesuksesan tidak diraih dengan cara yang instan, tetapi melalui proses yang panjang. Menjadi juara adalah bonus dari proses perjuangan,” ujar Badruzaman saat membuka rakor.

Menurutnya, OMI 2026 diarahkan untuk mengidentifikasi, membina, mengembangkan, sekaligus mengakselerasi talenta peserta didik, terutama dalam bidang sains dan riset.

Kompetisi ini juga dirancang untuk memperkuat budaya riset, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta inovasi di lingkungan madrasah.

Yang membedakan, OMI 2026 mengedepankan integrasi nilai-nilai keislaman dalam pengembangan sains dan riset. Peserta didik didorong melihat ilmu pengetahuan bukan hanya sebagai kemampuan akademik, tetapi juga bagian dari ibadah dan sarana pengembangan diri sesuai nilai-nilai Islam.

Budaya lokal turut mendapat ruang dalam kompetisi. Kearifan lokal diintegrasikan sebagai upaya memperkaya perspektif ilmiah sekaligus menjaga identitas budaya peserta didik.

Sementara itu, konsep Kurikulum Cinta dalam sains menjadi salah satu landasan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan sekaligus membangun semangat eksplorasi yang berkelanjutan.

OMI 2026 mengusung tema “Islam, Sains, dan Ekoteologi: Menumbuhkan Talenta serta Menggerakkan Inovasi Madrasah untuk Indonesia Maju.”Tema tersebut menegaskan arah OMI yang tidak berhenti pada pencapaian prestasi akademik. Kompetisi diarahkan untuk melahirkan inovator muda yang mampu mempertemukan nilai-nilai Islam, penguasaan sains, dan perspektif ekoteologi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan.281 Titik Jadi Ujian KesiapanOMI tingkat kabupaten/kota akan berlangsung secara online pada 7–8 September 2026. Sebanyak 281 tilok yang tersebar di kabupaten/kota se-Jawa Barat menjadi simpul penting pelaksanaan kompetisi.Besarnya jumlah titik lokasi sekaligus menjadi tantangan tersendiri. Kesiapan perangkat, petugas, jaringan, serta sarana pendukung harus dipastikan agar tidak ada peserta yang dirugikan akibat persoalan teknis.Badruzaman meminta seluruh penyelenggara di daerah memastikan kesiapan masing-masing tilok sebelum kompetisi dimulai.

“Saya berharap pelaksanaannya berjalan lancar dan sukses, perangkat juga petugas di tiap tilok sudah dipersiapkan sehingga saat pelaksanaan tidak ada kendala dan menghasilkan murid-murid unggul berkualitas,” tegasnya.

Menurut Badruzaman, persiapan matang bukan semata untuk memastikan kompetisi berlangsung tertib. Lebih jauh, OMI harus mampu menjadi pintu masuk untuk menjaring peserta didik terbaik yang nantinya dapat mewakili Jawa Barat pada kompetisi tingkat provinsi hingga nasional.

Ia juga mengingatkan bahwa prestasi tidak lahir secara tiba-tiba. Pembinaan yang konsisten diperlukan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kematangan emosional dan spiritual. Karena itu, OMI diharapkan tidak sekadar melahirkan peserta yang mampu meraih medali.

Ajang ini harus menjadi ruang untuk membangun karakter kompetitif yang sehat, jujur, berintegritas, dan memiliki kemampuan riset serta inovasi.

Lebih dari sekadar mengejar kemenangan, OMI menjadi momentum untuk mengembangkan bakat, minat, kecakapan, dan keahlian peserta didik di bidang sains dan riset. Dari ajang inilah diharapkan lahir bibit-bibit unggul yang mampu bersaing hingga tingkat internasional.

Badruzaman menilai keberhasilan peserta didik juga tidak terlepas dari keberhasilan kepala madrasah dalam mengembangkan potensi lembaganya. Semakin banyak prestasi yang ditorehkan, semakin kuat pula kepercayaan masyarakat terhadap madrasah.Dengan demikian, 281 titik OMI di Jawa Barat bukan sekadar lokasi lomba.

Setiap tilok diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda madrasah untuk mengasah kemampuan, membangun budaya riset, mengembangkan inovasi, sekaligus menunjukkan bahwa madrasah mampu melahirkan talenta yang kompetitif.

Melalui perpaduan Islam, sains, riset, dan inovasi, Kemenag Jabar mendorong OMI 2026 menjadi bagian dari ikhtiar mencetak sumber daya manusia unggul. Bukan hanya berprestasi di ruang kompetisi, tetapi juga mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan kemajuan Indonesia.

(Sumber: Kemenag Jabar/Novam Scorpiantrien)

Ketua FKDT Brebes Bakar Semangat Kafilah PORSADIN Songgom

0

BREBES (Aswajanews.id) – Suasana pembukaan Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, berlangsung penuh semangat. Di hadapan puluhan kafilah Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), Ketua DPC Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes, Akhmad Sururi, bahkan turun langsung membakar semangat para santri untuk berkompetisi secara sportif dan santun.

Pembukaan PORSADIN digelar di MDT Darul Ulum, Dukuh Kampiran, Desa Wanacala, Kecamatan Songgom, Ahad (6/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti delegasi MDT se-Kecamatan Songgom dengan berbagai cabang lomba seni dan olahraga kategori putra maupun putri.

Di hadapan para kafilah, Akhmad Sururi mengajak seluruh peserta meneriakkan yel-yel penyemangat. Tepuk tangan bergemuruh, tangan para santri mengepal, dan semangat kompetisi pun langsung terasa sejak awal kegiatan.

Bagi Sururi, PORSADIN bukan semata-mata soal siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum mempertemukan para santri MDT sekaligus menanamkan nilai sportivitas, persaudaraan, dan akhlak dalam berkompetisi.

“Hari ini kita harus berbahagia karena kita bertemu dengan teman-teman santri MDT se-Kecamatan Songgom. Kita akan berkompetisi dalam beberapa jenis lomba. Tentu kita berharap semua berjalan lancar dan sukses. Berkompetisi secara sehat dan santun menjadi komitmen bersama,” tegas Akhmad Sururi.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Wanacala serta masyarakat Dukuh Kampiran yang telah membuka ruang dan menjadi tuan rumah pelaksanaan PORSADIN Kecamatan Songgom.

Menurutnya, menjadi tuan rumah kegiatan yang melibatkan para santri MDT merupakan sebuah kehormatan sekaligus bentuk dukungan terhadap pendidikan keagamaan di tingkat masyarakat.

“Terima kasih kepada Pemerintah Desa Wanacala dan masyarakat Dukuh Kampiran yang telah menjadi tuan rumah PORSADIN ini. Semoga kegiatan ini membawa keberkahan bagi Dukuh Kampiran dan Desa Wanacala,” ujarnya.

PORSADIN Kecamatan Songgom mempertandingkan sejumlah cabang seni dan olahraga. Para peserta berasal dari MDT se-Kecamatan Songgom dan berkompetisi dalam kategori putra serta putri. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 32 peserta dari masing-masing MDT yang ambil bagian dalam ajang tersebut.
Hadiah Khusus bagi Juara yang Lolos Seleksi Kabupaten

Semangat kompetisi juga datang dari jajaran DPAC FKDT Kecamatan Songgom. Ketua DPAC FKDT Kecamatan Songgom, Rosid, bersama jajaran pengurus turut hadir dalam pembukaan.

Dalam sambutannya, Rosid memberikan motivasi kepada para peserta agar tampil maksimal dan menunjukkan kemampuan terbaik. Ia juga menyampaikan komitmen memberikan hadiah khusus bagi peserta yang berhasil meraih juara dan lolos untuk mengikuti seleksi tingkat Kabupaten Brebes

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari jajaran Kementerian Agama Kabupaten Brebes yang diwakili Mas Sigit.

Dalam kesempatan tersebut, Mas Sigit dipercaya membuka PORSADIN Kecamatan Songgom secara resmi. Pembukaan ditandai dengan pemukulan beduk, disaksikan para pengurus FKDT, peserta, pendamping, serta masyarakat yang hadir

PORSADIN pun resmi dimulai. Bukan sekadar mengejar podium, para santri MDT membawa semangat untuk menunjukkan bahwa olahraga dan seni dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter, sekaligus memperkuat silaturahmi dan kebersamaan antarsantri di Kecamatan Songgom. (Red)

Meriahkan Hari Jadi ke-393, Pemkab Karawang Gelar Haornas, Bupati Cup Hingga Deklarasi Karawang AMAN

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Pemerintah Kabupaten Karawang menggelar rangkaian peringatan Hari Jadi Karawang sekaligus Hari Olahraga Nasional (Haornas) tingkat kabupaten dengan Fun Run 3,93K yang berpusat di Lapang Karangpawitan pada Minggu (6/9/26).

Adapun jalur yang dilalui Fun Run 3,93K yaitu Lapang Karangpawitan -Bundaran Ciplaz – Lapang Karangpawitan dengan peserta sebanyak 1500 pelari dari berbagai daerah.

Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh menyampaikan apresiasi atas antusias masyarakat untuk memeriahkan rangkaian Hari Jadi sekaligus Hari Olahraga Nasional.la juga mengucapkan selamat kepada tiga finisher pertama Fun Run 3,39K. Juga, berharap seluruh rangkaian Hari Jadi ke-393 ini mampu dirasakan oleh seluruh masyarakat Karawang.

Selain Fun Run, dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan Deklarasi Gerakan Stop Boros Pangan (Stop Food Loss and Waste) atau Karawang AMAN (Aksi Masyarakat Anti Boros Pangan).

Melalui gerakan tersebut, Pemkab Karawang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membudayakan belanja bijak serta mengonsumsi pangan tanpa sisa sebagai langkah nyata menjaga ketahanan pangan daerah.

Bupati Aep menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi nyata untuk mewujudkan cita-cita bersama yaitu Karawang Maju.

“Karawang Maju bukan sekadar ucapan, melainkan bagaimana kita mengimplementasikannya secara menyeluruh,” ujarnya.

la juga berpesan kepada seluruh TP-PKK dari mulai kabupaten hingga desa sebagai mitra pemerintah garda terdepan untuk mengedukasi dan mensosialisasikan gerakan Karawang AMAN kepada masyarakat luas.

“Gerakan ini juga bisa diimplementasikan minimal dari diri kita sendiri dan berkesinambungan ke yang lainnya. Semoga apa yang hari ini kita kerjakan, akan berdampak baik di masa depan,” lanjutnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan Pakta Integritas Karawang AMAN (Aksi Masyarakat Anti Boros Pangan) oleh Bupati beserta jajaran serta Deklarasi Karawang AMAN yang secara langsung oleh Bupati Karawang dan diakhiri dengan undian doorprize untuk peserta Fun Run 3,93K. (Ahmad Z)

Mewujudkan Masjid Ramah Anak di Pedesaan

0

Masjid bukan sekadar bangunan tempat umat Islam melaksanakan salat. Masjid adalah rumah bersama, pusat pembinaan umat, ruang pendidikan, sekaligus tempat tumbuhnya generasi masa depan. Karena itu, masa depan masjid sesungguhnya sangat ditentukan oleh sejauh mana masjid hari ini mampu menghadirkan dirinya sebagai tempat yang dekat, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak.

Di pedesaan, masjid memiliki posisi yang sangat strategis. Hampir setiap kampung memiliki masjid atau musala yang menjadi pusat kehidupan keagamaan masyarakat. Dari masjid terdengar azan, berlangsung pengajian, pendidikan Al-Qur’an, kegiatan Ramadan, hingga berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan.

Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: apakah anak-anak merasa masjid adalah rumah mereka juga?

Pertanyaan ini sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat besar.Selama ini, sebagian kita masih melihat anak di masjid dengan kacamata kekhawatiran. Anak dianggap mudah gaduh, berlari, bercanda, atau mengganggu kekhusyukan jamaah. Akibatnya, tanpa disadari, masjid menjadi ruang yang terasa penuh larangan bagi anak.

Padahal, anak-anak memang sedang belajar mengenal dunia. Mereka belum memiliki kemampuan mengendalikan diri seperti orang dewasa. Jika sejak kecil mereka dibiasakan datang ke masjid, mengenal imam, bertemu jamaah, belajar Al-Qur’an, dan merasakan suasana persaudaraan di masjid, maka pengalaman itu akan menjadi bagian penting dari pembentukan karakter mereka.

Masjid ramah anak bukan berarti masjid kehilangan kesakralannya. Sebaliknya, masjid justru sedang menyiapkan generasi yang kelak akan menjaga kesucian, kemakmuran, dan keberlanjutan masjid. Jangan sampai kita terlalu sibuk menjaga ketenangan masjid hari ini, tetapi kehilangan generasi yang akan mengisinya di masa depan.

Masjid Pedesaan Harus Menjadi Ruang Tumbuh dan berkembang untuk anak anak. Mereka adalah aset masa depan yang perlu mendapatkan sentuhan energi masjid. Masjid di desa mempunyai keunggulan yang tidak selalu dimiliki masjid di perkotaan.

Hubungan sosial masyarakat relatif lebih dekat. Takmir mengenal jamaah, orang tua mengenal guru mengaji, dan anak-anak tumbuh dalam lingkungan sosial yang saling mengenal.Modal sosial tersebut harus dikembangkan menjadi ekosistem masjid yang ramah anak.

Masjid dapat menyediakan kegiatan sederhana tetapi konsisten: tadarus anak, taman pendidikan Al-Qur’an, kajian anak dan remaja, permainan edukatif Islami, perpustakaan kecil, kegiatan Ramadan, lomba keagamaan, bakti sosial, hingga kegiatan kebersihan lingkungan masjid.

Tidak semuanya membutuhkan anggaran besar. Yang dibutuhkan adalah kemauan, kreativitas, dan kesediaan orang dewasa untuk memberikan ruang kepada anak-anak. Masjid juga dapat menjadi tempat anak belajar kepemimpinan. Anak-anak bisa dilibatkan dalam kegiatan kebersihan, pengelolaan acara, pembacaan doa, menjadi pembawa acara sederhana, atau kegiatan sosial.

Dengan demikian, mereka tidak hanya diajari tentang masjid, tetapi juga diberi pengalaman memiliki masjid. Mengubah Cara Pandang Orang DewasaMewujudkan masjid ramah anak pada akhirnya bukan hanya persoalan menyediakan fasilitas.

Lebih jauh dari itu, diperlukan perubahan cara pandang orang dewasa. Mereka agar memiliki pandangan yang sama terhadap kehadiran anak anak di masjid.

Jangan sampai yang dimunculkan stigmatisasi negatif terhadap anak yang ramai dan mengganggu kekhusyukan ibadah. Ketika seorang anak berlari di halaman masjid, jangan selalu melihatnya sebagai gangguan. Bisa jadi, ia sedang menemukan kegembiraan pertamanya bersama masjid.

Ketika anak-anak datang berkelompok, jangan buru-buru mengusir mereka. Justru arahkan mereka dengan pendekatan yang mendidik.Tentu saja, anak tetap harus diajarkan adab masjid.

Ramah anak bukan berarti membiarkan segala perilaku tanpa batas. Anak perlu dibimbing agar memahami kebersihan, kesopanan, ketenangan saat salat, dan penghormatan terhadap jamaah.Tegas boleh, tetapi jangan kasar. Mendidik boleh, tetapi jangan menakut-nakuti. Sehingga menjadikan anak jauh dari masjid.

Di sinilah pentingnya keteladanan para takmir, ustaz, imam, orang tua, dan seluruh jamaah sangat dibutuhkan. Dengan demikian mereka akan merasakan nyaman dan bahagia di masjid.

Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus informasi digital, anak-anak pedesaan juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Gawai, media sosial, permainan digital, dan berbagai konten internet telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat anak belajar membaca Al-Qur’an, kemudian membiarkan pembentukan karakter mereka berlangsung sepenuhnya di luar masjid. Anak-anak membutuhkan tempat untuk bertanya, berdiskusi, bermain, belajar agama, belajar teknologi secara bijak, dan membangun pertemanan yang sehat. Masjid dapat menjadi ruang tersebut.

Dengan demikian, masjid tidak hanya membentuk anak yang mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga anak yang memiliki akhlak, kepedulian sosial, disiplin, tanggung jawab, toleransi, dan kecintaan kepada lingkungan. Dari Masjid untuk Generasi Masa DepanGerakan masjid ramah anak seharusnya menjadi bagian dari agenda besar memakmurkan masjid.

Dewan Masjid Indonesia (DMI), takmir masjid, pemerintah desa, lembaga pendidikan, madrasah, pesantren, TPQ, organisasi kepemudaan, dan masyarakat dapat membangun kolaborasi.Masjid ramah anak dapat dimulai dari hal-hal sederhana:

1). Menyambut anak dengan senyum dan keramahan. 2). Menyediakan ruang atau area kegiatan anak yang aman dan nyaman. 3). Membuat program pendidikan dan kreativitas anak secara rutin. 4). Melibatkan remaja masjid sebagai pendamping dan mentor. 5). Mengajarkan adab masjid dengan pendekatan kasih sayang. 6). Melibatkan orang tua dalam pembinaan anak. 7). Membangun lingkungan masjid yang bersih, sehat, aman, dan inklusif.

Yang paling penting, semua itu dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial. Masjid yang Dicintai Anak Akan Dicintai Generasi Berikutnya.

Kita tentu berharap masjid di pedesaan tidak hanya ramai pada Ramadan atau ketika ada salat Jumat. Kita ingin masjid menjadi pusat kehidupan umat sepanjang waktu.Oleh karena itu keterlibatan kompone masyarakat untuk bersama menggerakkan agar anak anak ke masjid menjadi sangat penting.

Untuk itu, kita harus menanam kecintaan kepada masjid sejak usia dini. Agar rasa cinta yang terpatri dalam hatinya memiliki dampak yang positif untuk masa depan masjid. Anak yang hari ini datang ke masjid bersama ayahnya, belajar mengaji bersama teman-temannya, bermain di halaman masjid, dan mendapatkan senyum dari para jamaah, kelak akan memiliki kenangan yang kuat tentang masjid.

Ketika dewasa, ia akan kembali. Ia mungkin menjadi imam, takmir, guru mengaji, pengurus remaja masjid, atau tokoh masyarakat. Bahkan mungkin menjadi orang yang membangun masjid yang lebih baik bagi generasi sesudahnya.

Maka, masjid ramah anak sesungguhnya bukan sekadar program pelayanan anak. Ia adalah investasi peradaban yang akan menjadikan generasi tumbuh kesadaran semangat beribadah dan memakmurkan masjid. Dari desa, kita bisa memulai gerakan itu. Dari masjid-masjid kecil di tengah kampung, kita menanam benih generasi yang mencintai agama, mencintai masjid, dan mencintai masyarakat.

Dulu masih banyak masjid di desa yang tiap malam ramai dengan anak anak bahkan sampai menginap. Sebab masjid yang hari ini membuka pintunya dengan ramah kepada anak-anak, sesungguhnya sedang membuka pintu masa depan bagi umat.

Sementara banyak kita jumpai di beberapa masjid masih yang kurang bersahabat dengan anak anak. Misalnya ada pesan dari tokoh setempat, agar anak anak sholat jamaahnya di luar ruang utama. Atau pesan lain yang sejenis dengan subtansi mempersempit gerak anak di masjid.

Mari kita wujudkan masjid pedesaan yang tidak hanya megah bangunannya, tetapi juga hangat suasananya; tidak hanya ramai jamaah dewasa, tetapi juga dicintai anak-anak dan remaja. Hal ini sangat penting, mengingat saat ini banyak orang pedesaan yang semangat membangun masjid yang megah dengan biaya milyaran.

Disaat yang sama tidak memiliki konsep membangun generasi yang memakmurkan masjid. Karena sesungguhnya memakmurkan masjid hari ini berarti menyiapkan generasi yang akan memakmurkan masjid esok hari. Mereka yang akan menjadi penerus untuk memakmurkan masjid. (*)

Karawang Mengaji Dibanjiri Ribuan Warga, HUT ke-393 Jadi Momentum Menatap Masa Depan

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Ribuan warga memadati Lapangan Karangpawitan, Kabupaten Karawang, Jumat (4/9/2026) malam. Mereka larut dalam suasana religius melalui Karawang Mengaji, rangkaian peringatan Hari Jadi ke-393 Kabupaten Karawang yang menghadirkan penceramah Ustaz Hanan Attaki.

Bukan sekadar perhelatan keagamaan, Karawang Mengaji menjadi ruang refleksi bersama tentang perjalanan panjang Kabupaten Karawang sekaligus harapan terhadap masa depan daerah.

Ribuan warga dari berbagai wilayah hadir dan mengikuti kegiatan dengan penuh khidmat.Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPRD Kabupaten Karawang H. Endang Sodikin, S.Pd.I., S.H., M.H., Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran Pemerintah Kabupaten Karawang, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat umum.

Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh mengatakan, Hari Jadi ke-393 tidak semestinya hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan.

Menurutnya, bertambahnya usia daerah harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi, memperbaiki berbagai kekurangan, sekaligus memperkuat komitmen membangun Karawang yang lebih maju dan sejahtera.

“Di usia Karawang yang ke-393 tahun ini, kita berharap Karawang semakin maju, masyarakatnya semakin sejahtera, pendidikannya semakin baik, ekonominya semakin kuat, dan kehidupan sosial serta keagamaannya semakin baik,” ujar Bupati.

Ia menegaskan, pembangunan daerah tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan fisik, tetapi juga harus berjalan beriringan dengan penguatan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.

Karena itu, Bupati mengajak masyarakat menjadikan Karawang Mengaji sebagai momentum memperkuat persaudaraan, kebersamaan, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

“Semoga melalui Karawang Mengaji ini, kita semua mendapatkan keberkahan. Mari kita bersama-sama membangun Karawang dengan semangat kebersamaan, dengan hati yang baik dan niat untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Ustaz Hanan Attaki dalam tausiyahnya mengajak masyarakat untuk tidak menyia-nyiakan usia dan waktu yang telah diberikan Allah SWT.

Menurutnya, kehidupan manusia pada hakikatnya merupakan perjalanan waktu yang terus bergerak dan tidak mungkin diulang kembali. Karena itu, setiap orang perlu menggunakan kesempatan hidup untuk melakukan kebaikan dan memberikan manfaat bagi sesama.

Ia mengingatkan bahwa salah satu bentuk penyesalan terbesar manusia adalah ketika menyadari bahwa waktu dan usia yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan. Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi masyarakat Karawang agar momentum bertambahnya usia daerah tidak hanya dirayakan, tetapi juga diisi dengan semangat memperbaiki diri, memperkuat kepedulian sosial, serta membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik. (Liputan: Ahmad Z)

Wartawan Keluhkan Perlakuan Berbeda di Humas Kanwil Kemenag Jabar, Akses Pers Dipertanyakan

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Sejumlah wartawan yang biasa melakukan peliputan di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Barat mengaku kecewa atas perlakuan yang mereka terima seusai acara pelantikan pejabat eselon III dan IV, Kamis (3/9/2026).

Keluhan tersebut muncul ketika sejumlah wartawan hendak mencari informasi tambahan untuk kepentingan pemberitaan dengan mendatangi ruang Humas Kanwil Kemenag Jabar.

Menurut keterangan sejumlah wartawan, saat berada di lobi ruang Humas dan hendak menemui Ketua Tim (Katim) Humas, Sidik, seorang staf Humas berinisial UN datang dan mempersilakan wartawan yang berkepentingan meninggalkan ruangan Humas serta menunggu di ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).

Arahan tersebut, menurut para wartawan, disampaikan tanpa penjelasan secara rinci mengenai alasan mereka diminta menunggu di ruang PTSP.

Kondisi itu kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan wartawan mengenai standar akses awak media ke ruang Humas, terlebih karena mereka datang dalam rangka menjalankan tugas jurnalistik.

Salah seorang wartawan mempertanyakan apakah kebijakan tersebut diberlakukan secara sama kepada seluruh wartawan atau hanya kepada wartawan tertentu.

“Apakah staf bagian Humas tersebut sudah memahami UU Pers Nomor 40 Tahun 1999, khususnya Pasal 18 ayat (1)? Kami tentu berharap jangan sampai ada kebijakan atau tindakan yang justru menghambat wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan adanya dugaan perbedaan perlakuan antara wartawan yang satu dengan lainnya. “Kenapa tidak semua wartawan, melainkan hanya beberapa orang yang diminta menunggu di PTSP, sedangkan wartawan lain masih diperbolehkan berada di ruang Humas? Apakah ini memang kebijakan Humas atau ada instruksi tertentu dari pimpinan?” katanya.

Akses Informasi dan Kemerdekaan Pers

Para wartawan mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers memberikan jaminan terhadap kemerdekaan pers.Pasal 4 ayat (3) UU Pers menyatakan bahwa untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan serta informasi.

Sementara itu, Pasal 18 ayat (1) UU Pers mengatur ketentuan pidana terhadap pihak yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3).

Karena itu, menurut para wartawan, persoalan tersebut tidak semata-mata menyangkut penggunaan ruang kerja Humas, tetapi juga perlu dilihat dalam konteks hubungan profesional antara lembaga pemerintah dengan insan pers.

“Kebebasan pers adalah bagian penting dalam demokrasi. Kami berharap hubungan antara wartawan dan Kanwil Kemenag Jabar tetap berjalan baik, terbuka, profesional, dan saling menghormati fungsi masing-masing,” ujar wartawan tersebut.

Dedi Asikin: Wartawan Jangan Disamakan dengan Pengguna PTSP

Pandangan lebih tegas disampaikan wartawan senior H. Dedi Asikin. Ia mengaku sejak awal diterapkannya sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), dirinya sudah tidak setuju apabila wartawan diarahkan atau diperlakukan sama dengan masyarakat yang datang untuk memperoleh pelayanan administrasi.

“Dari dulu juga saya mah tidak setuju wartawan di-PTSP-keun,” tegas Dedi.

Menurutnya, PTSP memiliki fungsi sebagai mekanisme pelayanan publik, sedangkan aktivitas jurnalistik memiliki fungsi dan kepentingan yang berbeda.

“PTSP mah buat pelayanan publik, UU Nomor 25 Tahun 2009. Wartawan mah KIP, UU Nomor 14 Tahun 2008. Salah tafsir PTSP itu, latah,” ujarnya.

Dedi menilai perlu ada pemahaman yang proporsional mengenai perbedaan antara pelayanan publik, keterbukaan informasi publik, dan fungsi jurnalistik.

“Harus diperhatikan Humas. Jangan disamakan publik dengan wartawan. Beda fungsi, beda misi,” katanya.

Menurut Dedi, wartawan yang datang ke badan publik untuk melakukan peliputan tidak dapat serta-merta diposisikan sama dengan masyarakat yang datang untuk mengurus pelayanan administrasi.

Namun demikian, ia juga mengakui bahwa setiap lembaga memiliki tata tertib dan mekanisme pengelolaan ruang kerja yang perlu dihormati.

“Kalau memang ada aturan mengenai akses ke ruang kerja Humas, sampaikan secara terbuka dan berlaku untuk semua. Jangan sampai wartawan mendapatkan perlakuan yang berbeda-beda tanpa penjelasan,” ujarnya.

KIP Bukan Berarti Semua Informasi Bebas DiaksesDedi juga menekankan bahwa keterbukaan informasi publik tidak berarti seluruh informasi dan seluruh ruang kerja badan publik dapat diakses tanpa batas.

Menurutnya, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) telah mengatur jenis informasi yang wajib diumumkan, informasi yang tersedia setiap saat, serta informasi yang dikecualikan. Karena itu, menurut Dedi, persoalan utamanya adalah memastikan mekanisme pelayanan informasi dan hubungan dengan wartawan berjalan secara jelas, transparan, dan tidak diskriminatif.

“Badan publik dalam keterbukaan informasi publik wajib melayani dan memberikan informasi sesuai ketentuan. Tetapi kalau ada informasi atau ruang yang memang memiliki pembatasan, tentu harus ada dasar dan penjelasannya. Jangan sampai mekanisme PTSP justru dipahami sebagai penghalang bagi wartawan ketika menjalankan fungsi jurnalistik,” pungkasnya.

Humas Diminta Berikan Penjelasan

Sejumlah wartawan berharap Humas Kanwil Kemenag Jawa Barat memberikan penjelasan mengenai standar atau ketentuan akses wartawan ke ruang Humas. Kejelasan tersebut dinilai penting agar tidak muncul kesan adanya perlakuan berbeda terhadap awak media yang datang untuk menjalankan tugas jurnalistik.

Bagi insan pers, hubungan dengan lembaga pemerintah idealnya dibangun berdasarkan komunikasi terbuka, profesionalitas, serta penghormatan terhadap fungsi masing-masing.

Wartawan menjalankan fungsi kontrol sosial dan membutuhkan akses terhadap sumber informasi untuk kepentingan pemberitaan. Di sisi lain, badan publik juga memiliki tata kelola, prosedur pelayanan, serta aturan mengenai akses informasi yang harus dipatuhi.

Karena itu, komunikasi yang terbuka dinilai menjadi jalan terbaik agar tata kelola pelayanan di lingkungan Kanwil Kemenag Jabar tidak menimbulkan kesalahpahaman antara petugas Humas dan wartawan.

Hingga berita ini ditulis, pihak Kanwil Kemenag Jawa Barat belum memberikan penjelasan mengenai alasan sejumlah wartawan diminta menunggu di ruang PTSP maupun mengenai dugaan adanya perbedaan perlakuan tersebut.

Redaksi Aswajanews.id membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada pihak Kanwil Kemenag Jawa Barat, Ketua Tim Humas, maupun staf Humas terkait. Klarifikasi akan dimuat secara proporsional sebagai bagian dari prinsip keberimbangan dan kode etik jurnalistik.(Team/Red)

Kejari Karawang Sita Uang Rp42,5 Miliar Hasil Dugaan Korupsi Penyaluran KPR Fiktif BTN ke PT BAS

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Tumpukan uang senilai Rp237 miliar mencuri perhatian dalam konferensi pers pengungkapan kasus dugaan korupsi penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) fiktif Bank Tabungan Negara (BTN) ke PT BAS, yang digelar Kejaksaan Negeri (Kejari) Karawang, Kamis (3/9/2026) sore.

Uang tersebut diperlihatkan sebagai barang bukti dalam perkara yang berkaitan dengan proyek perumahan Arta Sedayu Residence dan Citra Swarna Grande.

Pemandangan tumpukan uang pecahan rupiah yang memenuhi meja ruang konferensi pers itu menjadi perhatian awak media. Nilai Rp237 miliar yang selama ini mungkin hanya terlihat dalam pemberitaan atau laporan keuangan, kali ini diperlihatkan secara fisik.

Untuk membayangkan besarnya jumlah tersebut, jika uang Rp237 miliar digunakan sebesar Rp1 miliar setiap tahun, uang itu secara hitungan baru akan habis dalam waktu 237 tahun.

Angka tersebut menunjukkan betapa besar nilai barang bukti yang diperlihatkan dalam perkara dugaan korupsi tersebut.

Dalam pengungkapan kasus ini, Kejari Karawang telah menetapkan empat tersangka, yakni VY, HJ, OH, dan HH. Penetapan tersangka dilakukan setelah tim penyidik melaksanakan serangkaian pemeriksaan dan mengantongi sejumlah barang bukti.

Namun, ada satu hal yang masih menjadi pertanyaan publik: bagaimana dugaan korupsi penyaluran KPR fiktif tersebut bisa terjadi hingga melibatkan nilai uang yang begitu besar?

Perkara ini tentu menjadi perhatian, mengingat penyaluran KPR berkaitan langsung dengan akses masyarakat terhadap hunian dan kepercayaan publik terhadap lembaga perbankan.

Rp237 miliar, ketika masih berupa angka mungkin sulit dibayangkan. Tetapi ketika ditumpuk dalam bentuk uang di atas meja, barulah terasa sebesar apa jumlah tersebut.

(Liputan: Ahmad Z)

Mendidik dengan Hati dan Cinta untuk MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa

0

Pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Pendidikan adalah proses menumbuhkan manusia. Di dalamnya ada keteladanan, kesabaran, perhatian, doa, dan yang paling utama adalah hati dan cinta.

Inilah yang menjadi ruh pendidikan di MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa. Sebuah lembaga pendidikan formal keagamaan yang berdiri di tengah tengah masyarakat Rengaspendawa Kec Larangan Kab Brebes.

Madrasah bukan hanya tempat anak-anak belajar membaca, menulis, berhitung, dan memahami berbagai ilmu pengetahuan. Madrasah adalah tempat tumbuhnya karakter, akhlak, spiritualitas, keberanian, kemandirian, dan rasa percaya diri. Karena itu, mendidik anak tidak cukup hanya dengan metode dan kurikulum. Anak membutuhkan guru yang hadir dengan hati dengan ketulusan dan cinta.

Guru yang Mengajar dengan Hati

Setiap anak datang ke madrasah dengan latar belakang dan karakter yang berbeda. Ada anak yang cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang percaya diri, ada pula yang masih malu untuk berbicara. Ada yang mudah diarahkan, tetapi ada juga yang membutuhkan perhatian lebih.

Di sinilah pentingnya guru mendidik dengan hati.

Guru tidak hanya melihat nilai yang tertulis di buku rapor, tetapi juga melihat proses perjuangan seorang anak. Ketika seorang anak belum mampu membaca dengan lancar, misalnya, tugas guru bukan sekadar mengatakan bahwa ia belum bisa. Guru perlu bertanya: mengapa ia belum bisa dan bagaimana cara membantunya agar mampu? Sehingga pada saatnya anak akan menemukan titik kesadaran sebagai murid.

Pendekatan seperti inilah yang melahirkan pendidikan yang manusiawi.

Cinta Membuat Anak Merasa Dihargai

Cinta dalam pendidikan bukan berarti memanjakan anak. Cinta adalah kemampuan guru untuk memahami, membimbing, mengarahkan, dan menegur dengan cara yang tetap menjaga martabat anak.

Senyum guru di pagi hari, sapaan ketika anak datang, kesediaan mendengarkan cerita mereka, serta apresiasi terhadap usaha kecil yang mereka lakukan, semuanya dapat menjadi energi positif.

Terkadang kita lupa bahwa kalimat sederhana dari seorang guru dapat membekas sangat lama dalam ingatan seorang anak.

“Kamu pasti bisa.”
“Jangan takut mencoba.”
“Ibu/Bapak Guru bangga dengan usahamu.”

Kalimat-kalimat sederhana itu dapat menumbuhkan keberanian dan keyakinan dalam diri anak.

Madrasah sebagai Rumah Kedua

MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa harus terus dibangun sebagai madrasah yang ramah anak, ramah guru, dan dekat dengan masyarakat.

Madrasah yang baik bukan hanya terlihat dari gedung dan fasilitasnya, tetapi dari suasana yang hidup di dalamnya. Ada senyum, salam, doa, kedisiplinan, kebersamaan, dan keteladanan.

Anak harus merasa bahwa madrasah adalah rumah keduanya. Tempat mereka belajar tanpa rasa takut. Tempat mereka boleh bertanya. Tempat mereka dapat melakukan kesalahan lalu belajar memperbaikinya.

Dalam tradisi pendidikan Islam, ilmu tidak pernah dipisahkan dari adab. Karena itu, pendidikan di madrasah harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga lembut hatinya, baik akhlaknya, kuat spiritualitasnya, dan bermanfaat bagi sesama.

Keteladanan Lebih Kuat daripada Nasihat

Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan guru, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat.

Jika guru mengajarkan disiplin, guru harus menunjukkan kedisiplinan. Jika guru mengajarkan sopan santun, guru harus menjadi teladan dalam kesantunan. Jika guru mengajarkan kejujuran, guru harus memperlihatkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu pula dengan cinta kepada ilmu, cinta kepada agama, cinta kepada orang tua, dan cinta kepada sesama.

Keteladanan guru adalah kurikulum yang hidup.

Karena itu, membangun MI Sirojut Tholibin tidak cukup hanya dengan memperbaiki sistem pembelajaran. Kita juga perlu memperkuat budaya keteladanan di antara seluruh warga madrasah.

Kolaborasi Guru, Orang Tua, dan Masyarakat

Pendidikan anak tidak mungkin berhasil jika hanya dibebankan kepada guru.

Orang tua memiliki peran yang sangat besar. Apa yang diajarkan di madrasah harus mendapatkan penguatan di rumah. Begitu pula masyarakat memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Karena itu, MI Sirojut Tholibin perlu terus membangun kolaborasi yang kuat antara madrasah, keluarga, dan masyarakat.

Ketiganya harus berjalan dalam satu visi: memberikan pendidikan terbaik bagi generasi.

Menyalakan Cahaya dari Rengaspendawa

Nama Sirojut Tholibin mengandung semangat tentang cahaya bagi para pencari ilmu. Maka semangat tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan madrasah.

Dari Rengaspendawa, kita ingin lahir anak-anak yang mencintai ilmu, menghormati guru dan orang tua, memiliki akhlakul karimah, mencintai Al-Qur’an, serta siap menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri keislamannya.

Teknologi boleh berkembang. Zaman boleh berubah. Tetapi pendidikan yang berakar pada akhlak, kasih sayang, dan keteladanan tidak boleh kehilangan tempat.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan tentang seberapa banyak anak mampu menghafal pelajaran, tetapi tentang manusia seperti apa yang tumbuh setelah mereka melewati proses pendidikan tersebut.

Maka mari kita terus merawat MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa dengan ilmu, keteladanan, hati, dan cinta.

Karena anak-anak bukan sekadar peserta didik.
Mereka adalah amanah yang perlu kita rawat dan jaga dengan sebaik-baiknya.
Mereka adalah aset masa depan bangsa.

Dan dari tangan guru-guru yang mendidik dengan hati dan cinta, insyaallah akan tumbuh generasi yang menjadi cahaya bagi agama, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

Google search engine
0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan

Recent Posts