JAKARTA (Aswajanews.id) – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah kiai sepuh menggelar pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah ulama senior, di antaranya KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH ‘Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Mu’adz Thohir, KH Abdullah Ubab Maimoen, dan KH Muhibbul Aman Aly.
Forum para kiai tersebut menghasilkan tujuh poin rekomendasi terkait pelaksanaan Muktamar NU ke-35. Salah satu poin penting adalah permintaan agar Presiden Prabowo Subianto mengambil tindakan tegas apabila terdapat menteri atau pejabat pemerintah yang melakukan intervensi terhadap proses pemilihan dalam Muktamar.
Para kiai menilai, intervensi dari pihak pemerintah maupun kekuatan politik eksternal bertentangan dengan prinsip kemandirian dan kedaulatan Nahdlatul Ulama.
“Kami menaruh kepercayaan kepada Bapak Presiden untuk menjaga agar pemerintah tetap berdiri pada posisi kemandirian Nahdlatul Ulama. Apabila terdapat pejabat menteri atau lainnya yang melakukan tindakan tidak patut yang dapat dinilai sebagai intervensi terhadap proses muktamar, kami berharap kepada Bapak Presiden untuk mengambil tindakan tegas,” tegas KH Muhibbul Aman Aly di hadapan awak media.
Ia juga menyatakan kesiapan para kiai untuk bertemu langsung dengan Presiden Prabowo guna menyampaikan berbagai informasi dan keprihatinan terkait dinamika menjelang Muktamar.
“Kami siap menghadap Bapak Presiden untuk menyampaikan secara langsung informasi dan hal-hal yang menjadi keprihatinan kami demi menjaga kehormatan pemerintah, kemandirian Nahdlatul Ulama dan kedaulatan NU,” imbuhnya.
Tolak Tekanan Politik
KH Muhibbul Aman Aly juga menekankan pentingnya menjaga kebebasan peserta Muktamar atau muktamirin dalam menentukan pilihan. Menurutnya, pihak eksternal yang memiliki kekuatan politik tidak boleh melakukan intervensi maupun intimidasi terhadap peserta Muktamar.
Sikap tersebut dinilai dapat mencederai kedaulatan forum dan prinsip organisasi NU. “Hindari segala bentuk tekanan yang dapat dipersepsikan sebagai tekanan pengondisian atau intervensi terhadap proses dan keputusan Muktamar,” tuturnya saat membacakan hasil pertemuan para kiai.
Sementara itu, Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin sebelumnya juga menegaskan agar pemerintah memberikan keleluasaan kepada peserta Muktamar NU untuk menentukan pilihan secara berdaulat.
Menurutnya, sikap tersebut telah ditunjukkan oleh Presiden Prabowo Subianto. “Saya yakin Presiden juga bersikap seperti itu dan juga jangan sampai ada pihak-pihak di bawahnya yang tidak melaksanakannya,” ujar KH Ma’ruf Amin.
Ia juga meminta panitia Muktamar memastikan seluruh rangkaian kegiatan berlangsung kondusif, demokratis, dan jujur serta tetap berpedoman pada nilai-nilai dan akhlak yang telah diteladankan para ulama pendiri NU.
“Kepada para pelaksana, para panitia supaya menjaga supaya Muktamar ini berjalan dengan kondusif. Jangan terjadi apa-apa dan supaya berjalan secara demokratis dan jujur sesuai dengan akhlak NU,” tutur Rais Aam PBNU masa khidmah 2015–2018 tersebut. (Sumber: NU Online)
Capaian Januari – Juli 2026, Fokus pada Infrastruktur, Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi Kerakyatan
Indramayu (Aswajanews.id) – Memasuki 7 bulan masa pemerintahan, Bupati Indramayu H. Lucky Hakim bersama Wakil Bupati H. Syaefudin terus tancap gas mewujudkan visi “Indramayu REANG: Religius, Ekonomi Kuat, Amanah, Nyaman, dan Gotong Royong”. Berbagai program prioritas periode Januari – Juli 2026 mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pemkab Indramayu menegaskan komitmen untuk menghadirkan pemerintahan yang cepat, tepat, dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.
1. INFRASTRUKTUR: PEMERATAAN PEMBANGUNAN HINGGA DESA Sepanjang Januari – Juli 2026, Dinas PUPR Kabupaten Indramayu telah merealisasikan pembangunan dan perbaikan infrastruktur dasar yang tersebar di 31 kecamatan seperti perbaikan jalan lingkungan: 20.298 meter, jalan desa: 31.200 meter dan jalan kabupaten: 23.160 meter.
Perbaikan jembatan dan drainase untuk mengantisipasi banjir dan memperlancar akses pertanian.
Program Air Bersih: Sinergi dengan Kodim 0616, BPBD, dan PDAM untuk penyaluran air bersih di wilayah terdampak kekeringan.
2. PENDIDIKAN DAN SDM UNGGUL
Program Sekolah Gratis dan Beasiswa: Penyaluran bantuan pendidikan untuk siswa SD-SMA dan mahasiswa kurang mampu.
Revitalisasi Sarana Prasarana Sekolah: Rehabilitasi 45 ruang kelas rusak dan pengadaan lab komputer.
3. KESEHATAN DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL
*Bidang kesehatan pemerintah kabupaten Indramayu dibawah kepemimpinan bupati Luky hakim berkomitmen meningkatkan kualitas fasilitas pelayanan kesehatan.
Program Indramayu Sehat: Cek kesehatan gratis dan pembagian PMT untuk balita dan ibu hamil.
Bantuan Sosial: Penyaluran bantuan untuk lansia, disabilitas, dan keluarga miskin tepat sasaran.
4. EKONOMI KERAKYATAN DAN PERTANIAN
Dukungan Petani: Bantuan bibit, alat pertanian, dan perbaikan irigasi untuk mendukung swasembada pangan.
UMKM Naik Kelas: Pelatihan 2.500 pelaku UMKM dan fasilitasi akses permodalan melalui BUMD dan perbankan.
Pasar Rakyat: Revitalisasi 15 pasar tradisional agar lebih nyaman dan modern.
5. TATA KELOLA PEMERINTAHAN AMANAH *Bidang kepemerintahan kabupaten Indramayu berhasil meraih peringkat ke-5 nasional dan peringkat ke-3 di provinsi Jawa Barat dalam bidang Evaluasi Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (EPPD) tahun 2025.
Transparansi dan Layanan Cepat: Digitalisasi pelayanan perizinan dan pengaduan masyarakat melalui aplikasi “REANG Care”.
Penurunan Angka Stunting: Turun 2,3% dibanding tahun 2025 melalui kolaborasi lintas OPD.
Penguatan Keamanan dan Ketertiban: Sinergi dengan Forkopimda, Kodim, dan Polres untuk menciptakan Indramayu yang aman.
Bupati Indramayu, H. Lucky Hakim, menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran dan masyarakat atas dukungannya.
“Alhamdulillah 7 bulan ini kita sudah banyak bergerak. Fokus kami sederhana: membangun dari desa, melayani dengan hati. Indramayu REANG bukan sekadar slogan, tapi kerja nyata. Kami mohon doa dan dukungan masyarakat agar program-program selanjutnya bisa berjalan lebih baik lagi,” tegas Bupati.
Wakil Bupati Indramayu, H. Syaefudin, menambahkan bahwa keberhasilan ini adalah hasil kerja bersama.
“Pak Bupati dan saya berkomitmen hadir untuk rakyat. Pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan adalah prioritas. Mari kita jaga bersama hasil pembangunan ini dengan semangat gotong royong,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Indramayu menargetkan capaian yang lebih besar hingga akhir 2026, dengan fokus pada penurunan kemiskinan, peningkatan kualitas SDM, dan penguatan ekonomi desa. (Herman/Tongol)
Secara umum, kata ayem sepadan dengan rasa nyaman, damai, aman, sentosa, teduh, rukun, dan tenang. Dalam ranah psikologis internal, ayem mencerminkan dinamika mental yang stabil; sebuah ketenangan batin, kepasrahan total, dan hilangnya konflik di dalam pikiran individu. “Mesin” psikologis inilah yang menentukan apakah seseorang bisa tetap damai atau tidak, terlepas dari seberapa kacau situasi yang sedang terjadi di sekitarnya.
Dalam kontek tasawuf, ayem diartikan sebagai kondisi thuma’ninah atau pencapaian tingkatan Nafs al-Mutma’innah, yaitu kondisi jiwa yang telah mencapai kedamaian mutlak dan kestabilan spiritual karena seluruh ruang di hatinya telah dipenuhi oleh rasa ingat kepada Allah SWT (zikrullah).
Makna ayem bagi orang Jawa sendiri merupakan kondisi batin yang damai, sebagai puncak ketenteram batin yang tidak bergantung pada kondisi materi, melainkan pada kemampuan menyelaraskan diri dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta (manunggaling rasa) dan terbebas dari gejolak emosi negatif (kemrungsung),bebas dari gejolak nafsu meskipun situasi di luar sedang kacau. yang menjadi muara tertinggi dari keberhasilan hidup.
Pendidikan tentang berperilaku ayem merupakan kristalisasi dari kearifan lokal (local wisdom) masyarakat Jawa yang ada secara turun-temurun.
Ayem bagi penulis sendiri memiliki mana kata yang lebih mudah diucapkan daripada dipraktikkan. Dimana kondisi ayem bagi seseorang tentu sangat diharapkan. Sederhananya ayem dalam dunia kerja (usaha), mendidikan anak, usia tua dan beribadah.
Ayem dalam dunia Kerja, bagaimaba bekerja fokus pada melakukan kewajiban terbaik tanpa didikte oleh ambisi yang merusak ketenangan batin. Ayem Menyikapi hasil dan rezeki yang didapat
Begitu juga Ayem bersama anak dan keluarga, menjalankan ikhtiar secara maksimal, mendidik dan mengarahkan anak, tidak memaksakan ambisi atas ambisi sendiri, berusaha.merespons terhadap kegagalan yang ditemukan dalam perjalanan hidup, berusaha Melepaskan ketergantungan, selanjutnya menitipkan masa depan anak dan keluarga seutuhnya kepada Allah Swt.
Ayem di usia yang sudah tidak muda, lebih memilih Fokus ibadah dan spiritual, atau menemukan kesibukan ringan, menjaga silaturahmi yang berkualitas, bersyukur atas kemandirian anak dengan melepaskan kendali penuh jalan yang ditempuhnya.
Ayem dalam Ibadah kepada Allah Swt. merupakan puncak kekhusyukan dan kepasrahan seutuhnya (tawakal) kepada Sang Pencipta. Ayem dalam tasawuf sebagai buah dari zuhud (penataan hati) dimana seseorang memainkan seni kehidupannya dalam memandang dan menggenggam dunia di tangan tanpa menaruhnya di dalam hati, sehingga jiwa manusia tetap merdeka dan tidak diperbudak oleh materi. Melihat dunia sebagai alat untuk mencapai bukan tujuan yang hendak dicapai.
Ayem didapat bila dalam beribadah menikmati setiap proses ritual yang dijalaninya, baik saat salat atau berzikir, tidak tergesa-gesa (kemrungsung) ingin cepat selesai. Pikiran ayem fokus total menghadap Allah, seolah-olah dunia di luar sana sedang berhenti berputar.
Ayem beribadah dibangun tidak bisa lepas dari Ikhlas tanpa syarat, murni karena mengharap rida Allah, bukan karena ingin dinilai salih, dermawan, atau terpandang oleh masyarakat (sepi ing pamrih).
Selanjutnya kita juga akan mendapatkan ayem dalam ibadah dan kehidulan dunia ketika Menerima takdir (Rida). Semua yang terjadi karena Allah Swt. dan yakin bahwa skenario Allah Swt lah yang terbaik untuk kehidupan dunia dan menyelamatkan di kwhidupan akhirat kelak.
Secara sederhana dari perilaku kondisi ayem merupakan kondisi psikologis yang tercipta sebagai hasil akhirnya
Psikologi Jawa Ayem
Ki Ageng Suryomentaram mengatakan ayem bukanlah pemberian dari luar, melainkan kemampuan orkestrasi internal manusia dalam mengelola keinginan-keinginannya sendiri.
Ayem menjadi ajaran orang jawa, yang penuh akan nasehat: “Ojo mburu seneng, nanging mburu ayem” (Jangan mengejar kesenangan duniawi yang candu, tetapi kejarlah ketenteraman hati).
Ki Ageng tidak hanya menjelaskan makan tentang ayem semata, tetapi juga mengajarkan bagimana ayem sebagai kedamaian batin dengan mengenali karep (keinginan) diri sendiri, dengan konsep Mulur-Mungkret (keinginan yang mengembang dan mengempis). Artinya orang dapat memyandang predikat ayem jika mampu mengendalikan karep dan tidak diperbudak oleh rasa senang yang semu.
Ayem menjadi pilar utama dalam ajaran jawa Nrimo ing Pandum (Menerima Pemberian): Sikap rida menerima segala ketetapan hidup tanpa rasa iri atau serakah, yang menjadi kunci utama jiwa yang tenang.
Sareh (Sabar dan Tenang): bagaimana menghadapi segala persoalan dengan kepala dingin, tidak tergesa-gesa (kemrungsung), dan percaya semua yang terjadi ada waktunya.
Welingeling (Ingat Asal dan Tujuan): Sebuah kesadaran bahwa hidup di dunia hanyalah mampir minum (mampir ngombe), sehingga tidak perlu terlalu ngotot mengejar duniawi.
Alon-alon Waton Kelakon (Pelan tapi Selamat): Menghargai proses hidup langkah demi langkah demi keselamatan dan kedamaian, bukan sekadar kecepatan hasil.
Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe (Ikhlas Berbuat): Bekerja dan membantu sesama dengan sungguh-sungguh tanpa mengharapkan pujian atau pamrih yang bisa mengotori hati.
Ki Ageng Suryomentaram juga mengatakan “Semua manusia di dunia ini rasa senang dan susah-nya adalah sama.” Orang kaya punya susahnya sendiri, orang miskin punya senangnya sendiri. Maka rasa ayem yang sejati lahir saat kita berhenti membandingkan nasib dan mulai terampil menonton serta mengendalikan laju keinginan di dalam dada kita sendiri. Mudah-mudahan ada manfaatnya. (*)
Di mata Bung Karno, penjajahan merupakan bentuk penghisapan manusia atas manusia (exploitation de l’homme par l’homme) yang harus dihapuskan dari muka bumi.
Setelah Indonesia merdeka, kita mencoba menerapkan sistem demokrasi liberal. Namun, dalam sistem ini kebijakan dan keputusan politik sangat dipengaruhi oleh partai-partai politik. Akibatnya, kehidupan politik menjadi tidak stabil. Kabinet silih berganti dan pemerintahan kerap mengalami perubahan. Bahkan, dalam perjalanan sejarah pemerintahan Indonesia, terdapat kabinet yang hanya mampu bertahan dalam waktu sangat singkat.
Pada tahun 1959, Bung Karno mencoba menerapkan Demokrasi Terpimpin, sebuah sistem yang menempatkan presiden sebagai pusat pengambilan kebijakan dan keputusan politik. Kemudian, pada tahun 1963, Bung Karno juga menerapkan konsep Ekonomi Terpimpin, di mana kebijakan ekonomi lebih banyak didominasi oleh pemerintah pusat. Namun, penerapan ekonomi terpimpin ternyata tidak serta-merta mampu mengubah keadaan ekonomi Indonesia setelah terbebas dari kekuasaan kolonial.
Pendapatan nasional memang tercatat mengalami kenaikan. Pada tahun 1960, pendapatan nasional Indonesia mencapai sekitar Rp390,5 miliar. Pada tahun 1966 angka tersebut meningkat menjadi Rp429,7 miliar. Akan tetapi, kenaikan tersebut tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk yang mencapai sekitar 2,3 persen. Akibatnya, pendapatan per kapita justru mengalami penurunan.
Kondisi tersebut juga tercermin dari meningkatnya indeks biaya hidup. Jika pada tahun 1960 berada pada angka sekitar 160, pada tahun 1966 melonjak menjadi sekitar 120.000. Defisit anggaran belanja negara juga mengalami kenaikan yang sangat tajam. Dalam periode yang sama, defisit meningkat dari sekitar Rp6,9 juta pada tahun 1960 menjadi Rp5.237,7 juta pada tahun 1966.
Nilai ekspor pun mengalami penurunan. Pada tahun 1960, nilai ekspor tercatat sekitar Rp620 juta, kemudian merosot menjadi Rp437,7 juta pada tahun 1966.
Kondisi ekonomi pada masa Orde Lama tentu tidak dapat dilepaskan dari pergolakan politik yang terjadi saat itu. Krisis politik dan ekonomi kemudian berujung pada berakhirnya kekuasaan Presiden Soekarno dan munculnya pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto. Politik menjadi panglima.
Orde Baru dan Tiga Pilar Ekonomi
Pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto mengusung sejumlah kebijakan yang menjadi fondasi pembangunan ekonomi.
Pertama, anggaran berimbang dan kebijakan moneter yang ketat (tight money policy).
Kedua, membuka pintu bagi masuknya modal asing. Pemerintah memberikan ruang yang lebih besar kepada investasi asing untuk masuk ke Indonesia. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat bahwa pada tahun 1994 nilai investasi asing yang masuk mencapai sekitar Rp100 triliun.
Ketiga, devisa bebas, yang memberikan keleluasaan dalam lalu lintas devisa. Namun, setelah Orde Baru tumbang, berbagai kritik terhadap fondasi ekonomi pemerintahan Soeharto mulai bermunculan.
Konsep anggaran berimbang, misalnya, dipertanyakan. Kritik tersebut menyebutkan bahwa pada praktiknya pemerintah tetap mengalami defisit dan menutup kebutuhan pembiayaan melalui utang serta kebijakan moneter.
Kebijakan tersebut, ditambah berbagai persoalan ekonomi lainnya, kemudian ikut memperbesar kerentanan perekonomian Indonesia. Krisis ekonomi 1997–1998 menjadi pukulan telak yang akhirnya ikut mendorong berakhirnya pemerintahan Soeharto.
Reformasi dan Persoalan yang Belum Selesai Setelah Orde Baru tumbang, Indonesia memasuki era Reformasi. Sistem politik berubah, demokrasi berkembang, dan kewenangan pemerintahan mengalami desentralisasi. Namun, pertanyaan besarnya adalah: apakah persoalan ekonomi Indonesia benar-benar telah selesai?
Pemerintahan di era Reformasi masih menghadapi persoalan defisit anggaran dan utang negara. Pemerintah juga terus mendorong investasi, termasuk investasi asing, sebagai salah satu sumber pembiayaan pembangunan.
Pada tahun 2025, kebutuhan pembayaran utang pemerintah mencapai angka yang sangat besar. Pertanyaannya kemudian, sampai kapan pembangunan Indonesia akan terus bertumpu pada utang dan investasi?
Sementara itu, sumber daya alam Indonesia yang seharusnya menjadi modal utama untuk membangun kesejahteraan rakyat terus dieksploitasi.
Kita pernah mengalami penjajahan dalam bentuk penguasaan sumber daya alam oleh kolonialisme. Setelah merdeka, jangan sampai kita justru kembali mengalami ketergantungan ekonomi dengan wajah yang berbeda.
Karena itu, persoalan ekonomi Indonesia bukan semata-mata soal berapa besar pertumbuhan ekonomi, berapa banyak investasi yang masuk, atau berapa besar utang yang dapat diperoleh. Pertanyaan yang jauh lebih mendasar adalah: Untuk siapa sebenarnya kekayaan alam dan pembangunan ekonomi Indonesia? Apakah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat sebagaimana amanat konstitusi, atau justru semakin banyak kekayaan bangsa yang mengalir keluar? Wallahu a’lam.
Judul tersebut muncul saat diskusi kecil dengan seorang Kepala Madrasah Ibtidaiyah di kampung saya sendiri, tepatnya dukuh Jagalempeni Selatan desa Jagalempeni Kec Wanasari Kab Brebes. Sebuah dukuh yang memiliki satu lembaga pendidikan MI, dua Madrasah Diniyah, dua TPQ, Satu PAUD dan satu SMP yang baru berdiri.
Mendiskusikan tentang lembaga pendidikan tentu banyak varian dan sudut pandang yang bisa dibahas dengan pendekatan kajian teori. Hal ini tentu tidak pernah kering secara terus menerus ditulis dalam bentuk karya ilmiah akademik mulai Skripsi, Tesis sampai dengan Disertasi. Oleh karena itu menggali persoalan tentang pendidikan tidak akan pernah berhenti, karena sesungguhnya pendidikan menjadi kebutuhan manusia sepanjang hayat.
Manusia sebagai bagian dari masyarakat memiliki kepentingan terhadap pendidikan ( steakholder) terutama untuk anak anaknya. Oleh karena itu bicara kepentingan akan terkait erat dengan pilihan serta alasan menentukan pilihan lembaga pendidikan. Keputusan menjatuhkan pilihan kepada lembaga pendidikan tertentu tidak bisa lepas dari berbagai latar belakang yang mendasari terhadap keputusan tersebut.
Pilihan masyarakat terhadap lembaga pendidikan untuk anak anaknya setingkat MI atau SD tentu berbeda dengan SMP/MTs dan SMA/MA/SMK. Meskipun pada satu titik dimungkinkan ada prinsip persamaan, contohnya memilih lembaga pendidikan yang berkualitas. Lebih dari itu ada beberapa faktor sosiologis yang mempengaruhi terhadap prinsip pilihan terhadap lembaga pendidikan.
Masyarakat dalam kategori menengah kebawah baik dalam segi pendidikan atau ekonomi akan cenderung memilih lembaga pendidikan dengan biaya yang murah tanpa berfikir kualitas lembaga pendidikan tersebut. Sebaliknya bagi mereka yang tergolong menengah ke atas cenderung memilih lembaga pendidikan yang berkualitas meski dengan biaya yang mahal.
Pada saat yang sama, lembaga pendidikan melakukan kampanye untuk SPMB dengan program dan pemberian sesuatu yang menggiurkan ( sudah jadi rahasia umum) dari lembaga pendidikan setingkat SD/MI. Bahkan lembaga pendidikan tersebut menugaskan kepada seseorang untuk mendatangi calon orang tua murid. Sehingga hari ini ada kesan mencari murid seperti kampanye partai politik.
Hal ini bertolak belakang dengan lembaga pendidikan yang sudah bonafide dengan kualitas pendidikan yang sudah diakui oleh masyarakat. Lembaga pendidikan tersebut justru bisa jadi menolak murid atau menempatkan calon murid cadangan. Tanpa melakukan kampanyepun lembaga pendidikan tersebut sudah diserbu oleh calon pendaftar yang banyak. Hal ini terjadi di lembaga pendidikan mulai MTs/SMP dan SMA/SMK//MA. Bahkan bisa jadi orang tua berani bayar berapapun yang penting anaknya bisa masuk di lembaga pendidikan tersebut.
Setingkat SD/MI jumlah yang lebih dari satu di setiap desa tentu ada kompetisi dalam rekrutmen mencari murid atau kampanye. Disinilah bagi lembaga pendidikan yang tidak memiliki modal untuk kampanye maka akan mendapatkan murid seadanya. Kampanye lembaga pendidikan tersebut dengan memberikan sesuatu pada bulan menjelang penerimaan murid baru.
Nah, disinilah masyarakat akan terbelah sesuai dengan klaster yang telah disebutkan di atas. Pertama memilh lembaga pendidikan untuk anak-anaknya dengan imbalan sesuatu tanpa berfikir terhadap kualitas pendidikan bahkan meskipun jaraknya jauh dari rumahnya. Kedua memilih lembaga pendidikan yang berkualitas tanpa memperdulikan pemberian sesuatu bahkan dengan konsekuensi tertentu.
Fenomena ini menjadi bagian terkecil dalam fakta dalam dunia pendidikan khususnya menjelang SPMB. Perkembangan masyarakat dengan kenaikan strata tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pilihan mereka. Disaat yang sama seiring dengan perkembangan informasi, teknologi, ilmu pengetahuan dan ekonomi dan budaya, lembaga pendidikan juga dituntut untuk memberikan layanan pendidikan yang berkualitas sehingga menghasilkan lulusan memiliki kompetensi sesuai dengan perkembangan zaman. ***
BREBES (Aswajanews.id) – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum bagi umat Islam untuk kembali mengenang sejarah kelahiran Rasulullah sekaligus meneladani perjuangan dan keteguhan iman para perempuan salehah.
Di Masjid Jami Baiturrahim, Dukuh Jagalempeni Selatan, Desa Jagalempeni, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, jamaah mengikuti rangkaian pembacaan kitab Barzanji selama bulan Rabiul Awal. Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap malam, mulai 1 hingga 12 Rabiul Awal, selepas salat Magrib hingga menjelang salat Isya.
Pada malam puncak peringatan Maulid Nabi, Senin malam Selasa, 24 Agustus 2026, bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 H, jamaah berkumpul di aula utama Masjid Jami Baiturrahim dalam suasana khidmat.
Dalam ceramahnya, Akhmad Sururi, Sekretaris PD DMI Brebes, menyampaikan kisah tentang dua perempuan salehah yang dalam tradisi kisah keagamaan disebut hadir menjelang kelahiran Nabi Muhammad SAW, yakni Siti Asiyah, istri Fir’aun, dan Siti Maryam, ibunda Nabi Isa AS.
Keteguhan Iman Siti Asiyah
Sururi mengisahkan keteguhan Siti Asiyah dalam mempertahankan keimanannya. Meski bersuamikan Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan, Siti Asiyah tetap meyakini bahwa hanya Allah SWT yang wajib disembah.
Kisah Siti Maryam
Menurut Sururi, keteguhan tauhid tersebut tetap dipertahankan Siti Asiyah meskipun harus menghadapi siksaan berat dari Fir’aun.
“Pagi harinya Siti Asiyah disuruh menyembah suaminya sebagai Tuhan. Akan tetapi, suruhan tersebut berubah menjadi penyiksaan karena Siti Asiyah tetap kukuh tidak akan pernah menyembah selain Allah. Dia hanya bertauhid kepada Allah,” tuturnya di hadapan jamaah.
Sururi melanjutkan, Siti Asiyah akhirnya menghadapi siksaan berat hingga wafat dalam keadaan mempertahankan keimanannya. Kisah tersebut, kata dia, menjadi gambaran tentang keteguhan seorang perempuan dalam mempertahankan akidah meskipun berada dalam tekanan yang luar biasa.
Selain Siti Asiyah, Sururi juga mengutip keterangan KH Mustofa Aqil, Sekretaris MWC NU, mengenai Siti Maryam.
Siti Maryam dikenal sebagai perempuan suci yang mengabdikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah SWT. Ia merupakan ibunda Nabi Isa AS yang melahirkan putranya atas kehendak dan kuasa Allah SWT.
Dalam kisah kelahiran Nabi Isa AS, Maryam berada dalam kondisi lemah dan mendekati pohon kurma. Atas kehendak Allah, pohon tersebut digerakkan sehingga buah kurma dapat dinikmati untuk membantu menguatkan tubuhnya.
Sururi kemudian mengaitkan keteladanan kedua sosok tersebut dengan kehidupan masa kini. Menurutnya, kisah dua perempuan salehah itu mengajarkan pentingnya ketulusan, kesucian hati, serta keteguhan iman.
Ia bahkan menyebut kehadiran Siti Asiyah dan Siti Maryam dalam kisah kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai gambaran peran perempuan yang membantu proses persalinan.
“Dalam bahasa sekarang menjadi bidan. Ini artinya, ibu-ibu yang akan melahirkan pilihlah bidan setempat yang memiliki ketulusan hati dan kebersihan batin,” ungkap Sururi.
Mengakhiri ceramahnya, Sururi mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan peringatan Maulid Nabi bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi sebagai momentum meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Ia mengajak jamaah memperbanyak membaca shalawat dan menghidupkan sunah-sunah Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW akan mendorong seorang muslim merasakan manisnya iman dan ibadah.
“Sesungguhnya orang yang cinta kepada Allah dan Nabi Muhammad dapat merasakan manisnya iman dan ibadah. Itulah yang membedakan manusia sebagai hamba Allah dengan hewan yang tidak memiliki kewajiban beribadah,” pungkasnya. (Red)
BREBES (Aswajanews.id) – Digitalisasi kini telah merambah berbagai lini kehidupan, termasuk lembaga pendidikan dan pondok pesantren. Pemanfaatan teknologi digital menjadi kebutuhan untuk mempercepat berbagai proses sekaligus meningkatkan akuntabilitas dan transparansi pengelolaan lembaga.
Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mengelola santri tidak lepas dari berbagai transaksi keuangan setiap hari. Mulai dari pembelian kebutuhan sehari-hari santri hingga pembayaran administrasi pendidikan dan kebutuhan operasional pesantren. Jika diakumulasi, transaksi tersebut memiliki nilai cukup besar, bergantung pada jumlah santri dan besaran pembayaran.
Kondisi tersebut mendorong perlunya sistem pengelolaan keuangan yang lebih efektif dan efisien melalui pemanfaatan teknologi digital. Sistem digital diharapkan dapat memudahkan transaksi keuangan tanpa terbatas ruang dan waktu, sekaligus memberikan kemudahan dalam pencatatan dan pemantauan transaksi.
Melihat kebutuhan tersebut, BRI Cabang Brebes menggandeng Forum Musyawarah Ulama (FORMULA) Kabupaten Brebes dan FORMULA Tegal Raya untuk menyosialisasikan program digitalisasi keuangan pesantren.
Sosialisasi digelar pada Senin, 24 Agustus 2026, bertempat di Pondok Pesantren At-Taqwa, Karangmalang, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. Kegiatan tersebut diikuti para pimpinan dan pengasuh pondok pesantren serta pengelola lembaga pendidikan keagamaan Islam, termasuk TPQ dan Madrasah Diniyah, dari wilayah Brebes Barat.
Dalam kegiatan tersebut, perwakilan BRI Cabang Brebes, Faisal, memaparkan sejumlah program digitalisasi layanan keuangan yang dapat diterapkan di lingkungan pesantren.
Materi yang disampaikan antara lain berkaitan dengan transaksi pembayaran santri, tabungan santri, serta berbagai layanan transaksi perbankan lainnya. Program tersebut dirancang untuk memberikan layanan transaksi keuangan secara mandiri dengan dukungan sistem perbankan digital.
Faisal berharap seluruh pesantren di Kabupaten Brebes secara bertahap dapat memanfaatkan layanan digitalisasi keuangan tersebut.
Menurutnya, digitalisasi keuangan ke depan akan semakin berkembang dan menjadi bagian penting dalam pengelolaan lembaga pendidikan.
“Ke depan digitalisasi ini pasti akan merambah ke semua lembaga pendidikan. Untuk sementara, sudah ada beberapa pesantren yang bekerja sama dengan BRI Brebes terkait digitalisasi keuangan pesantren,” ujarnya.
Sementara itu, Drs. H. Hilmy Wahid, M.Si., selaku Ketua Dewan Pertimbangan FORMULA Kabupaten Brebes, mengatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun komunikasi dan kerja sama antara komunitas pesantren dengan BRI.
Ia menjelaskan, komunikasi dengan BRI dilakukan setelah adanya arahan dari jajaran direksi BRI pusat untuk membuka ruang kerja sama dengan komunitas pesantren.
“Komunitas pesantren diharapkan bisa menjalin kerja sama dengan BRI. Banyak program yang bisa dikerjasamakan dengan BRI,” katanya.
Kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah pengurus FORMULA Tegal Raya, yang meliputi Kabupaten Tegal dan Kota Tegal, serta Ketua DPC Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes, Akhmad Sururi.
Dalam forum tersebut berlangsung dialog antara pengelola pesantren dan pihak BRI. Para peserta menyampaikan sejumlah masukan, termasuk harapan adanya kemudahan dalam mengakses dan menjalankan berbagai program layanan BRI bagi pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan.
Sosialisasi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk memperluas pemanfaatan layanan keuangan digital di lingkungan pesantren, sekaligus mendorong tata kelola keuangan yang lebih tertib, efektif, transparan, dan akuntabel. (Red)
BREBES (Aswajanews.id) – Pengurus Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, terus memperkuat khidmat kepada masyarakat. Salah satunya melalui pendirian Klinik Kesehatan Pratama NU Sawojajar yang ditujukan untuk memberikan kemudahan akses layanan kesehatan bagi warga nahdliyin di Sawojajar dan sekitarnya.
Klinik tersebut merupakan salah satu program strategis NU Ranting Sawojajar dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau, profesional, dan berkualitas bagi masyarakat.
Ketua NU Ranting Sawojajar, H. Arif Rahman Hakim, mengatakan pendirian klinik menjadi bagian dari upaya NU untuk hadir secara nyata di tengah masyarakat.
“Kita memiliki kekuatan warga yang mayoritas, sementara layanan kesehatan untuk warga NU sangat dibutuhkan. Di sinilah NU hadir di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan layanan kesehatan secara profesional,” kata H. Arif Rahman Hakim.
Menurut Arif, peresmian Klinik Pratama tersebut menjadi tonggak sejarah bagi NU Ranting Sawojajar. Bahkan, ia menyebut keberadaan klinik kesehatan yang dikelola oleh tingkat ranting NU tersebut menjadi sesuatu yang membanggakan.
Ia juga mengungkapkan, keberadaan Klinik Pratama NU Sawojajar pernah mendapat perhatian dari KH Said Aqil Siroj, mantan Ketua Umum PBNU, ketika berkunjung ke Gedung NU Ranting Sawojajar beberapa waktu lalu.
Sementara itu, Plt. Bimas Kemenag Kabupaten Brebes mengungkapkan bahwa Klinik Kesehatan Pratama NU Sawojajar melibatkan sejumlah tenaga dokter profesional.
Menurutnya, para dokter tersebut memiliki semangat pengabdian dan khidmat kepada NU. Selain profesional, sebagian besar dokter yang terlibat juga masih tergolong muda sehingga memiliki energi untuk mengembangkan pelayanan kesehatan.
“Mereka siap berkhidmat untuk NU karena memang dokter-dokter tersebut secara geneologis lahir dari darah NU dan hidup di lingkungan tradisi NU,” ungkapnya.
Jadi Rujukan Ranting NU
H. Arif Rahman Hakim menambahkan, NU Ranting Sawojajar selama ini juga menjadi rujukan bagi sejumlah pengurus NU di berbagai daerah.
Beberapa pengurus MWC NU dari Jawa Tengah dan Jawa Barat bahkan disebut telah berkunjung ke NU Sawojajar untuk melakukan studi banding, terutama terkait pengelolaan koperasi, keuangan, serta berbagai program pemberdayaan organisasi.
Menurut Arif, NU Ranting Sawojajar saat ini memiliki aset yang nilainya mencapai miliaran rupiah. Seluruh aset dan program tersebut, kata dia, dikelola secara profesional dan transparan untuk kemaslahatan warga nahdliyin.
“NU Sawojajar memiliki banyak potensi yang bisa dikembangkan untuk kemaslahatan bersama warga nahdliyin. Lembaga pendidikan formal dan nonformal, masjid, mushola, serta klinik kesehatan ini menjadi aset NU Sawojajar. Semuanya kami kelola secara profesional,” jelasnya.
Ia menegaskan, kekompakan warga NU menjadi salah satu kekuatan utama dalam menjalankan berbagai program organisasi dan kegiatan sosial kemasyarakatan di Desa Sawojajar.
Dihadiri Tokoh NU dan Pemerintah
Pembukaan Klinik Pratama Kesehatan NU Sawojajar berlangsung di halaman Kantor NU Ranting Sawojajar pada Ahad, 10 Rabiul Awal 1448 H, bertepatan dengan 23 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah tokoh NU dan pejabat Kementerian Agama Kabupaten Brebes. Di antaranya Rois Syuriyah PCNU Kabupaten Brebes KH Hudalloh Karm, Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Brebes KH Solahudin Masruri, serta Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Brebes KH M. Aqso yang didampingi Kasubag TU Dr. KH Akrom Jangka Daosat.
Hadir pula A’wan PBNU KH Subhah Ma’mun yang memberikan ceramah keagamaan dalam rangkaian kegiatan.
Kapolsek turut hadir bersama rombongan grup sholawat dari Polres Brebes.
Selain itu, kegiatan juga dihadiri Rois Syuriah MWC NU Wanasari KH Sobarudin, Sekretaris Tanfidziyah Akhmad Sururi, serta sejumlah badan otonom di lingkungan NU Ranting Sawojajar.
“Hari ini menjadi catatan sejarah bagi Pengurus NU Ranting Sawojajar karena dapat menghadirkan para tokoh NU dan jajaran pemerintah dalam pembukaan Klinik Pratama ini. Semoga klinik ini memberikan manfaat dan menjadi bagian dari khidmat NU kepada masyarakat,” pungkas H. Arif Rahman Hakim. (Red)
Pernahkah kita tanpa sadar memuji si sulung setinggi langit di depan adik-adiknya? Atau sebaliknya, selalu memaklumi kesalahan si bungsu hanya karena ia anak paling kecil?
Dalam psikologi, fenomena semacam ini dikenal sebagai Parental Differential Treatment (PDT), yaitu kondisi ketika orang tua memberikan perlakuan yang berbeda kepada anak-anaknya dalam hal kasih sayang, perhatian, maupun ketegasan dalam menerapkan disiplin.
Ironisnya, pola perlakuan berbeda tersebut sering terjadi tanpa disadari. Orang tua merasa telah memberikan kasih sayang secara adil, tetapi anak-anak bisa merasakan hal yang berbeda. Dari sinilah dinamika keluarga yang tidak sehat dapat perlahan terbentuk.
Jika fenomena tersebut dilihat melalui perspektif teori behaviorisme yang dikembangkan oleh Ivan Pavlov dan John B. Watson, setiap perilaku pada dasarnya berkaitan dengan adanya stimulus atau pemicu. Konsep stimulus-response (S-R) menunjukkan bahwa perilaku tertentu tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan.
Dalam konteks keluarga, sikap pilih kasih pun biasanya memiliki latar belakang tertentu. Ada sejumlah pemicu yang membuat orang tua, terkadang secara instingtif, memperlakukan anak secara berbeda.
1. Cerminan Diri dan Beban Psikologis Orang Tua
Akar pertama dapat berasal dari kondisi psikologis orang tua sendiri. Tekanan hidup, stres, persoalan ekonomi, pengalaman masa lalu, hingga trauma yang belum terselesaikan dapat memengaruhi cara orang tua memperlakukan anak.
Secara psikologis, seseorang cenderung lebih mudah merasa dekat dengan sosok yang memiliki kemiripan dengannya, baik dari sisi karakter, cara berpikir, penampilan, maupun prestasi.
Anak yang dianggap memiliki banyak kesamaan dengan orang tua akhirnya bisa mendapatkan perhatian lebih besar. Sementara anak yang memiliki karakter berbeda justru berpotensi dianggap sulit dipahami atau kurang sesuai dengan harapan orang tua.
2. Jebakan Stereotip Urutan Kelahiran
Masyarakat kita masih sangat akrab dengan stereotip berdasarkan urutan kelahiran. Tanpa disadari, stereotip tersebut dapat memengaruhi pola kasih sayang dan tuntutan orang tua.
Anak bungsu, misalnya, sering dianggap sebagai anak yang paling kecil, paling membutuhkan perlindungan, sehingga lebih mudah dimanja dan dituruti.
Sebaliknya, anak sulung sering diposisikan sebagai tumpuan keluarga. Mereka dituntut menjadi contoh bagi adik-adiknya, berprestasi, mandiri, dan kelak mampu membantu orang tua.
Psikolog Alfred Adler menjelaskan bahwa posisi anak dalam urutan kelahiran dapat memberikan pengalaman psikologis yang berbeda. Anak sulung, misalnya, pada awal kehidupannya mendapatkan perhatian penuh dari orang tua sebelum kemudian harus berbagi perhatian ketika adik lahir.
Dalam kondisi tertentu, tuntutan yang terlalu besar kepada anak sulung dapat membuat mereka merasa harus selalu kuat dan berhasil.
Di tengah dinamika tersebut, anak tengah juga berpotensi merasa terabaikan karena berada di antara tuntutan terhadap anak sulung dan perhatian kepada si bungsu.
Namun, tentu saja, urutan kelahiran bukan satu-satunya faktor yang menentukan kepribadian maupun hubungan anak dengan orang tua. Yang perlu diwaspadai adalah ketika stereotip tersebut berubah menjadi perlakuan yang tidak seimbang.
3. Karakteristik dan Kebutuhan Khusus Anak
Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda. Perbedaan kepribadian, kondisi kesehatan, kemampuan, hingga kebutuhan khusus dapat membuat orang tua memberikan perhatian yang berbeda.
Anak yang sering sakit atau membutuhkan pendampingan khusus, misalnya, tentu membutuhkan lebih banyak waktu, energi, dan biaya dari orang tua.
Perhatian ekstra tersebut sebenarnya merupakan hal yang wajar. Persoalan muncul ketika anak-anak lain yang terlihat baik-baik saja kemudian merasa tidak diperhatikan.
Mereka bisa saja berpikir, “Mengapa Ayah dan Ibu selalu memperhatikan dia, tetapi tidak pernah memperhatikan saya?”
Perasaan semacam inilah yang jika terus dibiarkan dapat berkembang menjadi kecemburuan dan persaingan antarsaudara.
Sulitnya Menjadi Orang Tua yang Benar-Benar Adil
Sebagai orang tua yang anak-anaknya kini telah beranjak dewasa, saya harus jujur mengakui bahwa menghindari jebakan pilih kasih bukanlah perkara mudah.
Memperlakukan anak secara adil, baik laki-laki maupun perempuan, sulung maupun bungsu, merupakan perjuangan yang membutuhkan kesadaran dan evaluasi diri terus-menerus.
Bahkan ketika orang tua merasa sudah berusaha seimbang, sesekali tetap terdengar protes, “Ayah/Ibu berat sebelah!”
Kalimat tersebut seharusnya tidak selalu dianggap sebagai bentuk pembangkangan anak. Bisa jadi, itu merupakan sinyal bahwa ada sesuatu dalam hubungan keluarga yang perlu dievaluasi.
Ketika Rumah Kehilangan Rasa Aman
Dalam institusi keluarga, pilih kasih dapat menjadi tanda terganggunya keseimbangan hubungan. Ketika satu hubungan menjadi terlalu dekat karena adanya anak favorit, hubungan dengan anak lainnya berpotensi merenggang.
Jika berlangsung terus-menerus, fondasi rumah sebagai tempat yang aman dan nyaman dapat melemah.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang justru berubah menjadi arena kompetisi. Anak-anak merasa harus berlomba mendapatkan perhatian, pengakuan, dan kasih sayang orang tua.
Kasih sayang yang seharusnya menjadi kebutuhan emosional justru terasa seperti “piala” yang harus diperebutkan.
Dampaknya tidak sederhana. Anak yang merasa diabaikan dapat mengalami persoalan dalam kepercayaan diri dan hubungan interpersonal. Dalam jangka panjang, pengalaman pengasuhan yang tidak seimbang juga dapat memengaruhi cara anak membangun hubungan dengan orang lain ketika dewasa.
Sebaliknya, anak yang terlalu diunggulkan juga tidak selalu mendapatkan keuntungan. Jika selalu dibenarkan, dimanja, dan ditempatkan sebagai anak paling istimewa, ia dapat tumbuh menjadi pribadi yang sulit menerima kritik, kurang mandiri, atau terbiasa mendapatkan perlakuan khusus.
Pada akhirnya, seluruh anggota keluarga bisa menjadi korban. Hubungan antarsaudara berubah menjadi persaingan yang tidak sehat atau sibling rivalry yang terus terbawa hingga dewasa.
Memutus Rantai Pilih Kasih
Memutus rantai pilih kasih membutuhkan kebesaran hati. Orang tua perlu berani melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri.
Adil bukan berarti memberikan sesuatu dengan jumlah yang selalu sama kepada setiap anak. Adil berarti berusaha memenuhi kebutuhan masing-masing anak tanpa membuat anak lainnya merasa kurang dicintai.
Anak boleh memiliki karakter berbeda. Anak boleh memiliki kebutuhan berbeda. Bahkan perhatian orang tua boleh memiliki bentuk yang berbeda.
Namun, satu hal yang harus tetap sama: setiap anak perlu merasakan bahwa dirinya dicintai, dihargai, dan memiliki tempat yang aman di dalam keluarganya.
Karena keluarga bukan tempat untuk menentukan siapa yang paling disayang. Keluarga adalah tempat setiap anak belajar bahwa apa pun kelebihan dan kekurangannya, selalu ada ruang untuk pulang.
Semoga setiap orang tua senantiasa dimampukan untuk menjaga keseimbangan kasih sayang, memperbaiki kekurangan dalam pola pengasuhan, serta mengantarkan anak-anak menuju gerbang kesuksesan yang penuh keberkahan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
JAKARTA (Aswajanews.id) – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah kiai sepuh menggelar pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026). Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah ulama senior, di antaranya KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH ‘Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Mu’adz Thohir, KH Abdullah Ubab Maimoen, dan KH…
Capaian Januari – Juli 2026, Fokus pada Infrastruktur, Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi Kerakyatan Indramayu (Aswajanews.id) – Memasuki 7 bulan masa pemerintahan, Bupati Indramayu H. Lucky Hakim bersama Wakil Bupati H. Syaefudin terus tancap gas mewujudkan visi “Indramayu REANG: Religius, Ekonomi Kuat, Amanah, Nyaman, dan Gotong Royong”. Berbagai program prioritas periode Januari – Juli 2026 mulai…
Secara umum, kata ayem sepadan dengan rasa nyaman, damai, aman, sentosa, teduh, rukun, dan tenang. Dalam ranah psikologis internal, ayem mencerminkan dinamika mental yang stabil; sebuah ketenangan batin, kepasrahan total, dan hilangnya konflik di dalam pikiran individu. “Mesin” psikologis inilah yang menentukan apakah seseorang bisa tetap damai atau tidak, terlepas dari seberapa kacau situasi yang…
JAKARTA (Aswajanews.id) – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah kiai sepuh menggelar pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026). Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah ulama senior, di antaranya KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH ‘Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Mu’adz Thohir, KH Abdullah Ubab Maimoen, dan KH…
Capaian Januari – Juli 2026, Fokus pada Infrastruktur, Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi Kerakyatan Indramayu (Aswajanews.id) – Memasuki 7 bulan masa pemerintahan, Bupati Indramayu H. Lucky Hakim bersama Wakil Bupati H. Syaefudin terus tancap gas mewujudkan visi “Indramayu REANG: Religius, Ekonomi Kuat, Amanah, Nyaman, dan Gotong Royong”. Berbagai program prioritas periode Januari – Juli 2026 mulai…
Secara umum, kata ayem sepadan dengan rasa nyaman, damai, aman, sentosa, teduh, rukun, dan tenang. Dalam ranah psikologis internal, ayem mencerminkan dinamika mental yang stabil; sebuah ketenangan batin, kepasrahan total, dan hilangnya konflik di dalam pikiran individu. “Mesin” psikologis inilah yang menentukan apakah seseorang bisa tetap damai atau tidak, terlepas dari seberapa kacau situasi yang…
JAKARTA (Aswajanews.id) – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah kiai sepuh menggelar pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026). Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah ulama senior, di antaranya KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH ‘Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Mu’adz Thohir, KH Abdullah Ubab Maimoen, dan KH…
Capaian Januari – Juli 2026, Fokus pada Infrastruktur, Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi Kerakyatan Indramayu (Aswajanews.id) – Memasuki 7 bulan masa pemerintahan, Bupati Indramayu H. Lucky Hakim bersama Wakil Bupati H. Syaefudin terus tancap gas mewujudkan visi “Indramayu REANG: Religius, Ekonomi Kuat, Amanah, Nyaman, dan Gotong Royong”. Berbagai program prioritas periode Januari – Juli 2026 mulai…
Secara umum, kata ayem sepadan dengan rasa nyaman, damai, aman, sentosa, teduh, rukun, dan tenang. Dalam ranah psikologis internal, ayem mencerminkan dinamika mental yang stabil; sebuah ketenangan batin, kepasrahan total, dan hilangnya konflik di dalam pikiran individu. “Mesin” psikologis inilah yang menentukan apakah seseorang bisa tetap damai atau tidak, terlepas dari seberapa kacau situasi yang…
JAKARTA (Aswajanews.id) – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah kiai sepuh menggelar pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026). Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah ulama senior, di antaranya KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH ‘Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Mu’adz Thohir, KH Abdullah Ubab Maimoen, dan KH…
Capaian Januari – Juli 2026, Fokus pada Infrastruktur, Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi Kerakyatan Indramayu (Aswajanews.id) – Memasuki 7 bulan masa pemerintahan, Bupati Indramayu H. Lucky Hakim bersama Wakil Bupati H. Syaefudin terus tancap gas mewujudkan visi “Indramayu REANG: Religius, Ekonomi Kuat, Amanah, Nyaman, dan Gotong Royong”. Berbagai program prioritas periode Januari – Juli 2026 mulai…
Secara umum, kata ayem sepadan dengan rasa nyaman, damai, aman, sentosa, teduh, rukun, dan tenang. Dalam ranah psikologis internal, ayem mencerminkan dinamika mental yang stabil; sebuah ketenangan batin, kepasrahan total, dan hilangnya konflik di dalam pikiran individu. “Mesin” psikologis inilah yang menentukan apakah seseorang bisa tetap damai atau tidak, terlepas dari seberapa kacau situasi yang…
JAKARTA (Aswajanews.id) – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah kiai sepuh menggelar pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026). Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah ulama senior, di antaranya KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH ‘Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Mu’adz Thohir, KH Abdullah Ubab Maimoen, dan KH…
Capaian Januari – Juli 2026, Fokus pada Infrastruktur, Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi Kerakyatan Indramayu (Aswajanews.id) – Memasuki 7 bulan masa pemerintahan, Bupati Indramayu H. Lucky Hakim bersama Wakil Bupati H. Syaefudin terus tancap gas mewujudkan visi “Indramayu REANG: Religius, Ekonomi Kuat, Amanah, Nyaman, dan Gotong Royong”. Berbagai program prioritas periode Januari – Juli 2026 mulai…
Secara umum, kata ayem sepadan dengan rasa nyaman, damai, aman, sentosa, teduh, rukun, dan tenang. Dalam ranah psikologis internal, ayem mencerminkan dinamika mental yang stabil; sebuah ketenangan batin, kepasrahan total, dan hilangnya konflik di dalam pikiran individu. “Mesin” psikologis inilah yang menentukan apakah seseorang bisa tetap damai atau tidak, terlepas dari seberapa kacau situasi yang…
JAKARTA (Aswajanews.id) – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), sejumlah kiai sepuh menggelar pertemuan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Rabu (26/8/2026). Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah ulama senior, di antaranya KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Abdullah Kafabihi Mahrus, KH ‘Athoillah Sholahuddin Anwar, KH Mu’adz Thohir, KH Abdullah Ubab Maimoen, dan KH…
Capaian Januari – Juli 2026, Fokus pada Infrastruktur, Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi Kerakyatan Indramayu (Aswajanews.id) – Memasuki 7 bulan masa pemerintahan, Bupati Indramayu H. Lucky Hakim bersama Wakil Bupati H. Syaefudin terus tancap gas mewujudkan visi “Indramayu REANG: Religius, Ekonomi Kuat, Amanah, Nyaman, dan Gotong Royong”. Berbagai program prioritas periode Januari – Juli 2026 mulai…
Secara umum, kata ayem sepadan dengan rasa nyaman, damai, aman, sentosa, teduh, rukun, dan tenang. Dalam ranah psikologis internal, ayem mencerminkan dinamika mental yang stabil; sebuah ketenangan batin, kepasrahan total, dan hilangnya konflik di dalam pikiran individu. “Mesin” psikologis inilah yang menentukan apakah seseorang bisa tetap damai atau tidak, terlepas dari seberapa kacau situasi yang…
ECOSYSTEM
Positive growth.
Nature, in the common sense, refers to essences unchanged by man; space, the air, the river, the leaf. Art is applied to the mixture of his will with the same things, as in a house, a canal, a statue, a picture.
But his operations taken together are so insignificant, a little chipping, baking, patching, and washing, that in an impression so grand as that of the world on the human mind, they do not vary the result.
Undoubtedly we have no questions to ask which are unanswerable. We must trust the perfection of the creation so far, as to believe that whatever curiosity the order of things has awakened in our minds, the order of things can satisfy. Every man’s condition is a solution in hieroglyphic to those inquiries he would put.
Oceanic Inspiration
Winding veils round their heads, the women walked on deck. They were now moving steadily down the river, passing the dark shapes of ships at anchor, and London was a swarm of lights with a pale yellow canopy drooping above it. There were the lights of the great theatres, the lights of the long streets, lights that indicated huge squares of domestic comfort, lights that hung high in air.
No darkness would ever settle upon those lamps, as no darkness had settled upon them for hundreds of years. It seemed dreadful that the town should blaze for ever in the same spot; dreadful at least to people going away to adventure upon the sea, and beholding it as a circumscribed mound, eternally burnt, eternally scarred. From the deck of the ship the great city appeared a crouched and cowardly figure, a sedentary miser.
Bahkan buah yang paling pahit pun memiliki gula di dalamnya.
– Terry a O’Neal
ECOSYSTEM
Positive growth.
Nature, in the common sense, refers to essences unchanged by man; space, the air, the river, the leaf. Art is applied to the mixture of his will with the same things, as in a house, a canal, a statue, a picture.
But his operations taken together are so insignificant, a little chipping, baking, patching, and washing, that in an impression so grand as that of the world on the human mind, they do not vary the result.
Undoubtedly we have no questions to ask which are unanswerable. We must trust the perfection of the creation so far, as to believe that whatever curiosity the order of things has awakened in our minds, the order of things can satisfy. Every man’s condition is a solution in hieroglyphic to those inquiries he would put.
Pohon yang tumbuh lambat akan menghasilkan buah yang terbaik.
– Molière
“Berkontribusi membuat saya merasa berguna bagi planet ini.”
Istilah Londo Ireng dalam bahasa Jawa secara harfiah berarti “Belanda hitam”. Dalam perkembangannya, istilah tersebut menjadi sebuah sindiran bagi pribumi yang dianggap lebih memihak kepada kepentingan bangsa asing, bahkan kepada kepentingan penjajah, daripada kepentingan bangsanya sendiri.
Dalam sejarah Indonesia, kita memang mengenal keberadaan orang-orang pribumi yang bergabung dalam KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger). Bahkan, Belanda juga pernah merekrut tentara dari berbagai wilayah di luar Indonesia untuk kepentingan kolonialnya.
Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika istilah atau sindiran semacam itu diarahkan kepada anak bangsa Indonesia pada masa sekarang, khususnya kepada wartawan, pengamat, maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menjalankan fungsi kontrol terhadap pemerintah.
Karena itu, ketika Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pernyataannya dalam peringatan Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada 23 Juli 2026 di Jakarta Convention Center, saya merasa perlu menyampaikan pandangan. Menurut perasaan saya, sindiran tersebut salah alamat.
Saya seorang wartawan. Selama kurang lebih 58 tahun—sejak 1967—saya menjalani profesi jurnalistik. Saya berani bersumpah, saya tidak pernah menjadi wartawan yang bekerja untuk kepentingan pemerintah asing ataupun korporasi asing.
Saya bekerja untuk kepentingan bangsa sendiri. Kalaupun seorang wartawan sesekali memberikan kritik kepada pemerintah, hal tersebut bukan berarti ia membenci pemerintah atau menjadi bagian dari kepentingan asing. Kritik merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan demokrasi.
Kebebasan pers telah memiliki landasan hukum dalam perjalanan sejarah Indonesia, dan saat ini secara tegas dijamin oleh Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Wartawan bukan sekadar pembawa berita. Pers mempunyai fungsi sosial yang sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Setidaknya ada tiga fungsi sosial yang melekat pada pers: – Social support, memberikan dukungan terhadap hal-hal positif yang dilakukan pemerintah dan masyarakat. – Social control, melakukan kontrol sosial terhadap kekuasaan dan berbagai kebijakan publik. – Social participation, mendorong partisipasi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Karena itu, kritik terhadap pemerintah tidak selayaknya secara otomatis dipandang sebagai bentuk keberpihakan kepada kepentingan asing. Mengkritik bukan berarti membenci. Mengawasi bukan berarti menjadi lawan.
Memberitakan persoalan bukan berarti menjadi “Londo Ireng”. Justru dalam negara demokrasi, pemerintah membutuhkan pers yang kritis, independen, dan berani menyampaikan fakta. Pers yang hanya memuji kekuasaan tanpa memberikan kritik tentu bukanlah gambaran ideal dari kehidupan pers yang sehat.
Kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto, saya ingin menyampaikan dengan segala hormat: Kami bukan Londo Ireng. Kulit kami sawo matang, sama seperti kulit Bapak. Kami lahir di negeri ini. Kami hidup dari tanah air ini. Dan sepanjang yang kami lakukan dalam profesi jurnalistik, kami bekerja untuk kepentingan bangsa dan negara Indonesia.
Jika kami mengkritik pemerintah, jangan buru-buru dianggap sebagai musuh. Boleh jadi kritik itu justru merupakan bentuk kecintaan kami kepada Indonesia. Kami bukan bekerja untuk asing, Pak Presiden. Kami bekerja untuk Indonesia. ***
Oleh: Akhmad Sururi (Wakil Ketua LTN PCNU Kabupaten Brebes)
Kabar duka menyelimuti warga Nahdliyin Kabupaten Brebes. KH Mustofa Mukhtar, ulama asal Desa Sitanggal, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, yang dikenal sebagai pengasuh pengajian kitab Tafsir Jalalain di Masjid Jami Babussalam Sitanggal, wafat di RSUD Kardinah Tegal pada Ahad, 23 Agustus 2026, dini hari, bertepatan dengan 10 Rabiul Awal 1448 H.
Almarhum wafat setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Kepergian beliau meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, para santri, jamaah, serta masyarakat yang selama ini mengikuti kiprah dakwah dan keilmuannya.
Kabar wafatnya KH Mustofa Mukhtar diperoleh penulis melalui media sosial yang diunggah seorang sahabat dari wilayah Kecamatan Larangan. Saat membaca kabar tersebut, penulis langsung teringat ketika pertama kali sowan ke kediaman beliau bersama H. Solehudin Rengaspendawa.
KH Mustofa Mukhtar dikenal sebagai ulama yang istiqamah mengajarkan kitab Tafsir Jalalain. Pengajian tersebut digelar setiap Sabtu pagi di Masjid Jami Babussalam Sitanggal. Penulis sendiri pernah beberapa kali mengikuti pengajian beliau, terutama pada masa awal pulang dari Pondok Pesantren Lirboyo.
Selain mengajarkan Tafsir Jalalain, beliau juga membuka kajian kitab Al-Hikam di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Larangan. Kajian tersebut diikuti para pengurus MWC NU Larangan dan sejumlah alumni pesantren.
Penulis berkesempatan mengikuti kajian tersebut bersama Ketua MWC NU Larangan saat itu, H. Athoillah Sofyan. Dari forum tersebut, penulis banyak menimba ilmu tasawuf dari KH Mustofa Mukhtar, yang memiliki sanad keilmuan kepada KH Idris Kamali, seorang ulama dan pengasuh pesantren yang dikenal sebagai santri sekaligus menantu Almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama dan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Secara genealogi keilmuan, KH Mustofa Mukhtar merupakan salah satu santri yang mendapatkan kaderisasi dan pendalaman khusus kitab kuning dari KH Idris Kamali.
Dalam perjalanan keilmuannya, beliau berada dalam lingkungan yang juga melahirkan dan membina sejumlah ulama nasional, di antaranya Prof. KH Ali Mustafa Yaqub, Prof. KH Tolchah Hasan, Prof. KH Ma’ruf Amin, serta sejumlah kiai lainnya.
Selain dikenal sebagai ulama dan pengasuh pengajian, KH Mustofa Mukhtar juga pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Brebes dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pada masa awal berdirinya partai tersebut. Saat itu, beliau didatangi langsung oleh KH Subhan Ma’mun bersama Mas Andi, atau Andi Najmi Fuaidi, yang merupakan Sekretaris DPC PKB Brebes pertama, untuk diminta menjadi calon legislatif dari PKB.
Sebagai anggota legislatif yang berangkat dari lingkungan pesantren, KH Mustofa Mukhtar dikenal tetap berpegang teguh pada tradisi pesantren. Hal tersebut tercermin dalam kehidupan sehari-harinya yang sederhana. Dalam menjalankan tugas sebagai wakil rakyat, sikap dan pandangan beliau juga tidak terlepas dari spirit keagamaan serta nilai-nilai yang ditanamkan dalam tradisi pesantren.
Kepergian KH Mustofa Mukhtar bukan hanya menjadi kehilangan bagi keluarga besar Bani Mustar, tetapi juga bagi warga Nahdliyin dan masyarakat Desa Sitanggal. Beliau merupakan sosok ulama yang selama bertahun-tahun mengabdikan diri melalui pengajaran agama dan pembinaan masyarakat.
Bagi masyarakat Sitanggal dan sekitarnya, kepergian beliau meninggalkan ruang kosong dalam tradisi keilmuan dan pengajian yang selama ini beliau rawat dengan penuh ketekunan. Semoga seluruh amal ibadah, perjuangan, ilmu, dan pengabdian Almarhum KH Mustofa Mukhtar diterima oleh Allah SWT, diampuni segala dosa dan kekhilafannya, serta ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.A
Allahummaghfir lahu warhamhu wa ‘afihi wa’fu ‘anhu. Al-Fatihah.
BREBES (Aswajanews.id) – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Gandasuli, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, tasyakuran HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, sekaligus pelantikan pengurus IPNU dan IPPNU Ranting Gandasuli.
Kegiatan tersebut berlangsung pada Sabtu malam Minggu, 22 Agustus 2026, di halaman Masjid Jami Gandasuli, Kelurahan Gandasuli, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes.
Acara dihadiri jajaran pengurus MWC NU Kecamatan Brebes, pengurus Ranting NU Gandasuli, serta sejumlah tokoh agama, tokoh masyarakat, dan unsur pemerintahan Kelurahan Gandasuli.
Di antara yang hadir yakni Sekretaris MWC NU Kecamatan Brebes Ustaz Subhan, Pengasuh Pondok Pesantren Barokatul Quran Gandasuli KH Ahmad Fauzan Al-Khafidz, Lurah Gandasuli Palahudin, SE, Rois Syuriah Ranting NU Gandasuli Ustaz H. Abdul Hamid Muhtadi, S.Pd.I, Tanfidziyah Ranting NU Gandasuli Ustaz Lebe Muhemin Mutholib, A.Md.Com, serta jajaran pengurus badan otonom NU.
Hadir pula Ketua Muslimat NU Gandasuli Hj. Sunkilah, S.Pd., Ketua Fatayat NU Gandasuli Ines, S.Pd., Ketua GP Ansor Gandasuli Sahabat Hakim, serta pengurus IPNU dan IPPNU Ranting Gandasuli.
Selain menjadi momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, kegiatan tersebut juga menjadi ungkapan syukur atas 81 tahun kemerdekaan Indonesia serta terbentuknya kepengurusan IPNU dan IPPNU di tingkat ranting.
Rois Syuriah Ranting NU Gandasuli, Ustaz H. Abdul Hamid Muhtadi, S.Pd.I., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas berbagai nikmat yang telah diberikan.
“Acara ini diadakan sebagai rasa syukur atas lahirnya Baginda Nabi Muhammad SAW melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, rasa syukur atas lahirnya NKRI yang ke-81, serta rasa syukur atas dilantiknya IPNU dan IPPNU Ranting Gandasuli,” ujarnya.
Menurutnya, rasa syukur merupakan bagian penting dalam kehidupan umat Islam. Ia mengingatkan bahwa Allah SWT telah menjanjikan tambahan nikmat bagi orang-orang yang bersyukur.
Hal tersebut, kata dia, sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 yang pada intinya menjelaskan bahwa apabila manusia bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya, sedangkan mengingkari nikmat akan mendapatkan konsekuensi dari Allah SWT.
“Kalau kita bersyukur, janji Allah dalam firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7, akan ditambah nikmat oleh Allah. Tetapi kalau kita kufur, bukan dikurangi, melainkan akan mendapatkan azab dari Allah SWT,” tuturnya.
Ia berharap momentum Maulid Nabi, HUT RI, dan pelantikan IPNU-IPPNU tersebut dapat semakin memperkuat ukhuwah Islamiyah, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, semangat kebangsaan, serta kaderisasi generasi muda NU di Kelurahan Gandasuli.
Kegiatan berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan menjadi momentum bagi warga serta keluarga besar NU Gandasuli untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat peran generasi muda dalam kehidupan keagamaan dan sosial kemasyarakatan. (Red)
Era tahun delapan puluhan banyak remaja yang hidup di masjid masjid kampung. Mereka tidur di masjid dan paginya sekolah. Setiap malam masjid tidak sepi dari remaja dan anak anak yang kadang sambil membawa buku pelajaran sekolah. Penulis sendiri termasuk menjadi bagian dari anak anak yang lebih banyak tidur di masjid saat masih sekolah SD sampai MTs.
Menurut penuturan cerita seorang teman ada beberapa bahkan banyak mungkin pejabat atau orang hebat saat ini dulu pada saat anak anak sering tidur di masjid. Mereka yang tidur dimasjid bisa karena senang kumpul dengan teman sebayanya, atau karena memang di rumahnya memiliki keterbatasan tempat tidur.
Saat ini pemandangan malam hari di masjid sudah tidak ada lagi remaja yang tidur atau membawa buku. Remaja masjid sudah tidak tampak lagi di masjid, kecuali pada saat tertentu misalnya peringatan hari besar Islam. Itupun mereka selesai acara langsung pulang ke rumah atau berpindah di area selain masjid.
Kemana sekarang remaja masjid? Hari ini di beberapa tempat ada papan Ikatan Remaja Masjid, akan tetapi remaja atau anak mudanya lebih banyak mencari tempat santai di Cafe atau tempat lainnya. Mereka saat ini sudah jauh dari masjid, karena memang dari sejak kecil kurang mendapatkan pendidikan untuk cinta masjid atau minimal diajak orang tuanya jamaah sholat wajib di masjid.
Oleh karena itu sesungguhnya program Masjid Ramah Anak ( MRA) sangat strategis untuk membangkitkan kembali rasa cinta masjid dengan menjadi masjid menjadi tempat yang menyenangkan untuk anak anak. Tentu makna menyenangkan tidak diartikan sebagai hiburan akan tetapi masjid sebagai tempat yang nyaman dan senang untuk anak anak.
Kehadiran pemerintah dengan regulasi Program MRA menjadi landasan yang kuat untuk mengkampanyekan masjid ramah anak di masjid kota dan kampung. Meski secara sosiologis antara kota dan kampung berbeda, namun kehadiran MRA membangun kesadaran bersama untuk menjadikan anak anak cinta kepada masjid.
PD Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) DMI memiliki amanah struktural untuk bersama mewujudkan masjid ramah anak. Oleh karena itu ditangan PD PRIMA DMI implementasi MRA bisa dijalankan dengan menggandeng beberapa steakholder di daerah setempat termasuk dengan pemerintah daerah yang memiliki kepentingan mewujudkan Kabupaten layak anak.
Menghidupkan remaja masjid dengan melalui PD PRIMA DMI akan menjadi langkah nyata untuk mengembalikan remaja kita ke masjid dan cinta kepada masjid. Potensi pemuda dilingkungan masjid kita gerakan bersama, termasuk umur mewujudkan Masjid Ramah Anak. *** Penulis : Akhmad Sururi Sekretaris PD DMI Kab Brebes)
TASIKMALAYA (Aswajanews.id) – Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI) Siswa Madrasah Tingkat Provinsi Jawa Barat Tahun 2026 resmi digelar di kawasan olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, pada 22–24 Agustus 2026.
Mengusung tema “Bersatu dalam Bakat, Unggul dalam Taat”, kegiatan ini diikuti ribuan peserta didik yang merupakan perwakilan madrasah dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Barat.
PORSENI Madrasah Jabar 2026 menjadi ajang pertemuan siswa-siswi terbaik dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA). Mereka tidak hanya berkompetisi untuk meraih prestasi, tetapi juga menunjukkan kemampuan di bidang olahraga, seni, dan keagamaan.
Sejumlah cabang olahraga yang dipertandingkan antara lain futsal, bola voli, tenis meja, dan bulu tangkis. Sementara bidang seni dan keagamaan meliputi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Musabaqah Hifzil Quran (MHQ), pidato bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, serta seni kaligrafi.
Ketua Panitia PORSENI, Ujang Dani, S.Pd., M.Si., mengatakan PORSENI tidak semata-mata berorientasi pada perolehan medali dan penghargaan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi peserta didik madrasah untuk mengembangkan potensi sekaligus membangun karakter.
“Tujuan kegiatan ini antara lain membangun citra madrasah sebagai basis pembangunan rohani, keterampilan, dan intelektual, sekaligus memberikan ruang kepada siswa berprestasi untuk mengembangkan minat dan bakatnya,” ujar Ujang.
Melalui kompetisi tersebut, para siswa juga diharapkan belajar mengenai sportivitas, kejujuran, ketekunan, kepercayaan diri, kedisiplinan, serta pentingnya membangun kebersamaan.
Steering Committee PORSENI Jabar 2026, Arief Rifandi, menjelaskan bahwa para peserta merupakan siswa-siswi terbaik yang sebelumnya telah melalui proses seleksi di tingkat kabupaten/kota.
“PORSENI diikuti oleh siswa terbaik dari jenjang MI, MTs, dan MA se-Jawa Barat,” katanya.
Selain menjadi arena kompetisi, PORSENI juga menjadi momentum mempererat silaturahmi antarmadrasah di Jawa Barat. Ajang ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik dan keagamaan, tetapi juga memiliki kemampuan di bidang olahraga, seni, kreativitas, serta karakter dan mental kompetitif yang kuat.
Tema “Bersatu dalam Bakat, Unggul dalam Taat” juga dinilai mencerminkan semangat pendidikan madrasah dalam mengembangkan potensi peserta didik secara menyeluruh, dengan tetap mengedepankan nilai-nilai keagamaan.
Di Balik Semarak PORSENI, Masih Ada Persoalan Madrasah
Namun, di tengah semarak PORSENI dan berbagai prestasi yang ditorehkan para siswa madrasah, masih terdapat sejumlah persoalan mendasar yang membutuhkan perhatian bersama.
Salah satunya berkaitan dengan dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan pendidikan madrasah, terutama menyangkut kesenjangan fasilitas, dukungan anggaran operasional, serta kesejahteraan tenaga pendidik, khususnya di madrasah swasta.
Mayoritas madrasah swasta masih menghadapi keterbatasan sumber pendanaan. Dalam penyelenggaraan pendidikan, sebagian madrasah masih mengandalkan iuran peserta didik untuk memenuhi berbagai kebutuhan operasional.
Kondisi tersebut menjadi tantangan dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana sekaligus mutu pendidikan secara keseluruhan.
Arief menilai, perhatian terhadap pendidikan madrasah perlu ditingkatkan karena madrasah memiliki kontribusi besar dalam mencetak generasi muda, baik dari aspek intelektual maupun karakter dan keagamaan.
“Pendidikan di madrasah seakan masih dipandang sebelah mata. Anggapan kualitas pendidikan di madrasah masih rendah karena adanya sejumlah permasalahan, di antaranya masih kurangnya perhatian dari pemerintah daerah,” pungkas Arief.
PORSENI Madrasah Jabar 2026 di Tasikmalaya dengan demikian diharapkan tidak berhenti sebagai ajang perebutan medali dan penghargaan. Lebih jauh, momentum tersebut dapat menjadi pengingat pentingnya memperkuat komitmen pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terhadap keberlangsungan serta kemajuan pendidikan madrasah.
Dengan dukungan yang lebih kuat, para siswa madrasah diharapkan memiliki ruang yang semakin luas untuk berkembang, berprestasi, dan mengharumkan nama daerah masing-masing serta Jawa Barat.
BREBES (Aswajanews.com) – MTs Ma’arif NU 1 Brebes berhasil mencuri perhatian masyarakat dalam Pawai Kelurahan Pasarbatang, Kabupaten Brebes, yang digelar pada Sabtu (22/8/2026).
Pawai yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 13.00 WIB tersebut berlangsung meriah. Setiap peserta menampilkan berbagai kreasi dan performa terbaik, termasuk MTs Ma’arif NU 1 Brebes yang tampil dengan mengusung gaun kreasi berbahan daur ulang dan marching band.
Penampilan para siswa melalui gaun berbahan daur ulang menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Berbagai limbah diolah menjadi busana dengan nilai estetika tinggi melalui desain kreatif karya siswa.
Penampilan tersebut semakin menarik dengan tata rias dan penyajian yang disiapkan secara apik.Tak kalah menarik, penampilan marching band MTs Ma’arif NU 1 Brebes juga mendapat perhatian penonton, khususnya saat melakukan display di hadapan para pejabat Kelurahan Pasarbatang. Penampilan tersebut semakin semarak dengan iringan tarian dan atraksi bendera.
Ketua Panitia HUT RI, Nurhidayah, S.Pd.I, mengungkapkan rasa bangganya atas kerja sama seluruh tim yang telah mempersiapkan penampilan tersebut.
Tim kegiatan dikoordinasikan oleh Saeful Lukmanul Hakim, S.Pd.I selaku koordinator lapangan.
“Semoga hal yang sudah baik ini dapat dikemas menjadi lebih baik lagi pada tahun-tahun berikutnya,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Syarif Hidayatullah, S.Pd.I, selaku sekretaris kegiatan. Ia berharap kebersamaan dan kerja sama yang telah terjalin dapat terus dipertahankan dalam berbagai kegiatan berikutnya.
Sementara itu, Kepala MTs Ma’arif NU 1 Brebes, Abdul Mufti, S.Pd.I, berharap keikutsertaan sekolah dalam pawai tersebut tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga sarana memperkenalkan kreativitas dan potensi para siswa kepada masyarakat.
“Semoga apa yang kami tampilkan menjadi ajang sosialisasi kepada masyarakat sehingga dapat menjadi daya tarik yang kuat,” tuturnya. (Red)
INDRAMAYU (Aswajanews.id) – Pertamina EP Zona 7 menggelar kegiatan “Ngopisiatif” bersama sejumlah elemen masyarakat di Kedai Kopi Tuan Moeda, Bunderan Kijang, Kabupaten Indramayu, Jumat (21/8/2026).
Tak sekadar ngopi, kegiatan tersebut menjadi ruang terbuka untuk membahas berbagai persoalan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Sejumlah unsur masyarakat, mulai dari LSM, organisasi kemasyarakatan, advokat hingga insan pers, turut menyampaikan pandangan dan masukan.
Dalam pertemuan tersebut, dua isu utama menjadi sorotan, yakni efektivitas program Corporate Social Responsibility (CSR) Pertamina serta persoalan sampah yang hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah di Kabupaten Indramayu.
Head of Comrel CID CSR Zona 7, Wazirul Luthfi, menjelaskan sejumlah program pemberdayaan masyarakat yang telah dijalankan perusahaan. Salah satunya adalah program Desa Energi Berdikari (DEB) yang menyasar berbagai sektor, mulai dari peningkatan ekonomi masyarakat, lingkungan hingga pertanian.
Sementara itu, Head of CRO Jatibarang Field, Dede Darmawan, mengatakan kritik dan masukan dari masyarakat merupakan bagian penting dalam upaya memperbaiki hubungan sekaligus meningkatkan kualitas program perusahaan.
“Pertemuan seperti ini menjadi bagian penting untuk membangun kolaborasi. Kritik dan masukan menjadi bahan evaluasi,” kata Dede.
Ketua Forum Peduli Indramayu, Masdi, turut menyampaikan pandangannya. Menurutnya, kritik dari masyarakat tidak semestinya dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Sebaliknya, kritik dapat menjadi bahan untuk menemukan solusi atas berbagai persoalan yang ada.
Di sisi lain, perwakilan Beritasupercom, Ali Zaidan, mendorong Pertamina untuk terus menjaga komunikasi terbuka dengan kalangan media. Menurutnya, akses informasi yang baik diperlukan agar masyarakat dapat mengetahui berbagai program perusahaan secara utuh.
Melalui kegiatan Ngopisiatif, Pertamina EP Zona 7 diharapkan tidak hanya membuka ruang dialog, tetapi juga mampu membangun kolaborasi yang menghasilkan solusi nyata bagi berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Indramayu.
INDRAMAYU (Aswajanews.id) – Pemerintah Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, melakukan monitoring penyaluran bantuan pangan berupa beras untuk periode Juli, Agustus, dan September 2026 di delapan desa wilayah Kecamatan Bangodua, Jumat (21/8/2026).
Monitoring yang dimulai sekitar pukul 08.00 WIB tersebut dilakukan untuk memastikan distribusi bantuan kepada masyarakat penerima manfaat berjalan lancar, aman, tertib, serta sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
Selain memantau proses penyaluran, petugas memastikan ketertiban antrean dan kelengkapan administrasi penerima bantuan. Langkah ini dilakukan agar bantuan benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak.
Camat Bangodua Iim Nurahim, S.Sos., M.Si., melalui Sekretaris Kecamatan Bangodua Eko Febiyanto, S.IP., bersama Kasi Kesos Darsono, S.HI., dan Kasi Trantib Caskiyah, S.IP., turun langsung memantau sejumlah titik penyaluran di masing-masing desa.
Sekretaris Kecamatan Bangodua Eko Febiyanto mengatakan, monitoring dilakukan untuk memastikan distribusi bantuan berjalan sesuai ketentuan dengan mengedepankan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
“Koordinasi antara pemerintah desa dengan petugas penyalur juga berjalan dengan baik sehingga proses distribusi dapat terlaksana dengan tertib,” ujarnya.
Ia menegaskan, Pemerintah Kecamatan Bangodua akan terus mengawal berbagai program bantuan pemerintah agar tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami berharap bantuan pangan ini dapat meringankan beban ekonomi warga dalam memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari serta membantu meningkatkan kesejahteraan penerima manfaat,” katanya.
153.930 Kilogram Beras untuk 5.131 Penerima
Sementara itu, Kasi Kesos Kecamatan Bangodua Darsono, S.HI., menjelaskan bahwa Kecamatan Bangodua memperoleh alokasi bantuan pangan sebanyak 153.930 kilogram beras untuk 5.131 penerima bantuan pangan (PBP) yang tersebar di delapan desa.
Adapun rinciannya: Desa Mulyasari: 347 PBP, 10.410 kg beras. Desa Rancasari: 484 PBP, 14.520 kg beras. Desa Malangsari: 454 PBP, 13.620 kg beras. Desa Wanasari: 843 PBP, 25.290 kg beras. Desa Tegalgirang: 678 PBP, 20.340 kg beras. Desa Karanggetas: 951 PBP, 28.530 kg beras. Desa Bangodua: 927 PBP, 27.810 kg beras. Desa Beduyut: 447 PBP, 13.410 kg beras.
Setiap Keluarga Penerima Manfaat (KPM) mendapatkan 10 kilogram beras per bulan. Dengan demikian, untuk periode tiga bulan, yakni Juli, Agustus, dan September 2026, setiap KPM menerima total 30 kilogram beras.
Menurut Darsono, bantuan pangan tersebut merupakan salah satu upaya pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan masyarakat di tengah meningkatnya kebutuhan pokok.
“Pemerintah Kecamatan Bangodua berharap bantuan pangan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga penerima manfaat di seluruh desa se-Kecamatan Bangodua,” ungkapnya.
Penyaluran Berlangsung Aman dan KondusifKasi Trantib Kecamatan Bangodua Caskiyah, S.IP., menambahkan bahwa proses penyaluran bantuan pangan beras periode Juli hingga September 2026 di delapan desa berlangsung aman, tertib, dan kondusif.
Pihaknya berharap bantuan tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat penerima.
“Semoga bantuan ini dapat membantu masyarakat, dan kita semua selalu diberi kesehatan serta kelancaran rezeki,” ujarnya.(Prapto/Herman Tongol)
BATANG (Aswajanews.id) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip), Nadya Maharani, memasang alat fertigasi otomatis di Green House Kalamatera milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Kalibeluk, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Sabtu (8/8/2026).
Pemasangan alat tersebut menjadi salah satu program kerja KKN yang bertujuan mengoptimalkan pengelolaan pertanian berbasis teknologi di tingkat desa. Program ini sekaligus menjadi bentuk penerapan ilmu dan teknologi yang diperoleh mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Sebelum alat dipasang, sistem penyiraman tanaman di Green House Kalamatera masih dilakukan secara manual oleh pengelola BUMDes. Kondisi tersebut kerap menjadi kendala ketika pengelola memiliki kesibukan lain atau sedang tidak berada di lokasi saat jadwal penyiraman. Akibatnya, penyiraman terkadang tidak dilakukan secara konsisten sehingga berpotensi memengaruhi pertumbuhan dan kualitas tanaman yang dibudidayakan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Nadya memasang sistem fertigasi yang dilengkapi timer otomatis. Perangkat tersebut diprogram untuk mengatur jadwal penyiraman secara berkala sesuai kebutuhan tanaman. Dengan sistem ini, proses pengairan dapat berlangsung otomatis tanpa harus dioperasikan secara manual setiap hari.
Pengelola BUMDes cukup memastikan ketersediaan air di dalam tandon agar sistem dapat bekerja secara berkelanjutan.Inovasi tersebut mendapat sambutan positif dari pengelola BUMDes Kalamatera.
Maskuri, pengurus bidang pertanian, menilai keberadaan alat fertigasi otomatis dapat meringankan pekerjaan dalam perawatan tanaman.
“Pengairan jadi mudah ya, Mbak. Berarti tinggal mengisi tandon saja kalau habis,” ujar Maskuri.
Apresiasi serupa disampaikan Abdul, tokoh pemuda Desa Kalibeluk. Menurutnya, sebelum adanya sistem otomatis, warga sering mengalami kesulitan mengatur waktu penyiraman, khususnya ketika harus bepergian atau memiliki aktivitas di luar desa.
“Berarti sekarang otomatis ya. Dulu itu bingung kalau pas jam menyiram, apalagi kalau pada pergi sampai minta tolong ditelepon tetangga untuk menghidupkan kran airnya,” ungkap Abdul.
Menurut Abdul, persoalan sederhana seperti penyiraman ternyata cukup mengganggu aktivitas warga. Dengan adanya sistem otomatis, pengelola maupun warga tidak lagi harus berada di lokasi pada waktu tertentu hanya untuk menyalakan keran.
Sistem timer akan mengatur proses penyiraman sesuai jadwal yang telah ditentukan. Hal tersebut sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran seseorang maupun bantuan warga lain.Dorong Pertanian Berbasis TeknologiPenerapan fertigasi otomatis tersebut menjadi salah satu bentuk pemanfaatan teknologi tepat guna dalam pengelolaan pertanian skala desa. Otomatisasi dapat membantu meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga sekaligus meminimalkan risiko kesalahan manusia, seperti lupa melakukan penyiraman atau ketidakteraturan jadwal pengairan.
Program tersebut menunjukkan bahwa teknologi sederhana dapat memberikan manfaat nyata apabila diterapkan sesuai kebutuhan masyarakat.Bagi mahasiswa KKN Undip, pemasangan alat fertigasi bukan sekadar kegiatan akademik, tetapi juga bentuk kontribusi langsung dalam membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat dan unit usaha desa.
Ke depan, alat tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pengelola BUMDes Kalamatera sehingga mampu mendukung produktivitas pertanian sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan Green House.
Inovasi ini juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk mengembangkan teknologi sederhana dan tepat guna dalam mendukung pengelolaan pertanian, penguatan BUMDes, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.(Kontributor: Khairul Anwar)
BREBES (Aswajanews.id) – Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 turut dirasakan para siswa MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa. Beragam perlombaan digelar untuk memeriahkan momentum kemerdekaan, salah satunya lomba mewarnai yang diikuti siswa kelas 1, 2, dan 3 atau kelas bawah.
Lomba mewarnai tersebut dilaksanakan pada Jumat, 21 Agustus 2026, bertempat di teras ruang kelas lantai bawah MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa. Para peserta tampak antusias dan tekun menyelesaikan gambar bertema kemerdekaan yang telah disediakan panitia.
Setiap peserta membawa sendiri peralatan pewarna dari rumah. Sementara itu, gambar yang menjadi objek lomba telah disiapkan oleh koordinator lomba. Dengan menggunakan kertas berukuran setengah folio, para siswa bebas menuangkan kreativitas dan imajinasi mereka melalui perpaduan warna.
Koordinator lomba mewarnai, Ibu Eva, mengatakan kegiatan tersebut secara khusus diperuntukkan bagi siswa kelas bawah. Selain sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT RI ke-81, lomba juga menjadi sarana untuk melatih daya imajinasi dan kreativitas anak.
“Hari ini, Jumat, 21 Agustus 2026, kelas bawah mengikuti lomba mewarnai gambar. Mereka dengan tekun dan cermat mewarnai gambar dengan tema kemerdekaan yang telah disediakan. Gambar yang telah kami bagikan mereka warnai dengan alat pewarna yang dibawa dari rumah,” kata Eva.
Menurutnya, kreativitas para peserta cukup beragam. Masing-masing siswa memiliki imajinasi dan cara tersendiri dalam memberikan warna pada gambar.
“Dengan imajinasi mereka, hasil gambar yang dibuat bagus-bagus. Nantinya akan dipilih juara terbaik pertama, kedua, dan ketiga,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa, Akhmad Sururi, mengapresiasi pelaksanaan berbagai perlombaan dalam rangka memeriahkan HUT RI ke-81.
Ia mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi para siswa, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan rasa cinta Tanah Air, kebersamaan, keberanian, dan kreativitas sejak usia dini.
“Para murid merasa senang dan gembira mengikuti berbagai lomba. Hari ini ada dua mata lomba, yaitu lomba mewarnai dan membawa air di gelas sambil berjalan,” ungkap Akhmad Sururi.
Rangkaian perlombaan berlangsung sejak pagi hingga siang hari di lingkungan MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa. Suasana semakin meriah dengan iringan musik bertema kemerdekaan yang menambah semangat para peserta.
Sejumlah guru turut hadir mendampingi dan memberikan dukungan kepada siswa selama perlombaan berlangsung. Mereka di antaranya Bu Sulastri, Pak Wildan, Pak Rizal, Pak Koni, Bu Eva, dan Bu Fatmawati.
Kegiatan tersebut berlangsung dalam suasana penuh keceriaan. Para siswa terlihat menikmati setiap rangkaian perlombaan sebagai bagian dari perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-81 di lingkungan MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa. (Red)
Berita duka menyelimuti komunitas pendidikan Madrasah Diniyah di Provinsi Banten. H. Agus Trikarna, mantan Sekretaris DPW FKDT Banten, telah mengembuskan napas terakhir pada Kamis, 20 Agustus 2026 dini hari.
Almarhum selama ini diketahui menderita penyakit diabetes dan menjalani cuci darah secara rutin di salah satu rumah sakit di wilayah Tangerang.
Penulis mendapatkan kabar duka tersebut dari KH Tatang Royani, mantan Ketua Umum DPP FKDT yang saat ini berdomisili di Tangerang.
Ketika penulis menghubungi beliau, KH Tatang sedang dalam perjalanan menuju rumah duka. KH Tatang merupakan sahabat seperjuangan almarhum sejak di FKDT Tangerang, kemudian berlanjut di tingkat Provinsi Banten.
Saat itu, almarhum H. Agus Trikarna dipercaya sebagai bendahara yang mendampingi KH Tatang Royani. Kebersamaan keduanya kemudian berlanjut hingga di DPP FKDT.
Bagi penulis, H. Agus Trikarna merupakan sosok yang mudah bergaul dengan siapa pun. Kepribadiannya yang rendah hati, ramah, dan humoris membuat orang yang berbincang dengannya merasa nyaman dan betah berlama-lama.
Banyak guyonan segar yang muncul di tengah obrolan serius, sehingga mampu mencairkan suasana dan memecahkan ketegangan. Namun ketika tampil di hadapan publik, almarhum mampu menunjukkan sikap serius dan penuh wibawa.
Sesekali tetap diselingi humor yang membuat audiens tertawa.Almarhum juga dikenal mampu menempatkan diri dalam berbagai situasi.
Ia dapat menyesuaikan gaya komunikasi maupun penampilannya dengan forum dan siapa saja yang menjadi lawan bicaranya. Sebagai pejuang pendidikan Madrasah Diniyah, almarhum H. Agus Trikarna dikenal dekat dengan para pejabat di lingkungan Kementerian Agama Tangerang, Kanwil Kemenag Banten, maupun Pemerintah Provinsi Banten.
Kedekatan tersebut, bersama pengurus FKDT lainnya termasuk KH Tatang Royani, turut memberikan kontribusi dalam mendorong kemajuan pendidikan Madrasah Diniyah di Provinsi Banten. Almarhum H. Agus Trikarna tercatat sebagai alumni Pondok Pesantren Buntet Cirebon, Jawa Barat, dan Pondok Pesantren Al Amin Madura.
Ketika menimba ilmu di Pondok Pesantren Buntet, almarhum memiliki banyak teman dari Brebes, salah satunya Kiai Rofik asal Kluwut. Setiap melintas di Brebes, almarhum kerap menyempatkan diri untuk mampir. Dari situlah penulis sering bertemu dan bersilaturahmi dengan almarhum.
Saat mondok di Al Amin Madura, almarhum juga pernah bersama Dr. Zuhairi Misrawi, tokoh intelektual Muslim yang kini menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia. Kedekatan tersebut terlihat ketika Munas DPP FKDT di Asrama Haji Pondok Gede.
Saat itu, almarhum yang menghubungi Dr. Zuhairi Misrawi untuk menjadi narasumber dalam sesi halaqah yang membahas tentang Madrasah Diniyah.
Pada akhirnya, kita semua menyadari bahwa kematian adalah sebuah kepastian. Hanya persoalan waktu dan tinggal menunggu giliran. Segala jabatan, harta, dan kedudukan akan ditinggalkan. Hanya amal ibadah yang akan menjadi bekal untuk menemani perjalanan di alam barzah.
Pertemuan terakhir penulis dengan almarhum terjadi saat Rapimnas DPP FKDT pada pertengahan Juli 2026. Saat itu tidak pernah terbayangkan bahwa pertemuan tersebut akan menjadi perjumpaan terakhir penulis dengan beliau.
Selamat jalan, pejuang Madrasah Diniyah Banten.Semoga almarhum H. Agus Trikarna mendapatkan husnul khatimah, segala amal ibadah dan perjuangannya diterima Allah SWT, segala khilaf dan kesalahannya diampuni, serta ditempatkan di taman-taman surga-Nya.Al-Fatihah.