Google search engine
Beranda blog

Semarak Haornas 2026, SDN Kaliwlingi 01 Brebes Gelar Senam, Jalan Sehat hingga Bagi Doorprize

0

BREBES (Aswajanews.id) – Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026 di SD Negeri Kaliwlingi 01 Brebes tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Semangat hidup sehat dan kebersamaan terasa ketika keluarga besar sekolah tersebut mengikuti rangkaian kegiatan olahraga, Rabu (9/9/2026).

Dimulai sejak pukul 07.00 WIB, kegiatan berlangsung meriah dengan mengusung tema “Menuju Masyarakat Aktif dan Bugar!”. Senam pagi dan jalan sehat menjadi kegiatan utama yang melibatkan guru, staf, siswa hingga wali murid.

Suasana semakin semarak dengan pembagian doorprize yang menyediakan berbagai hadiah, mulai dari hadiah hiburan hingga hadiah utama. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan yang sekaligus menjadi momentum mempererat hubungan kekeluargaan di lingkungan SD Negeri Kaliwlingi 01 Brebes.

Koordinator kegiatan, Fatni Fitri Nuryanti, S.Pd., menegaskan bahwa peringatan Haornas kali ini tidak hanya ditujukan untuk mengenang momentum olahraga nasional, tetapi juga mendorong keluarga besar sekolah agar lebih aktif menjaga kesehatan.

Kegiatan ini bertujuan selain sebagai peringatan Haornas juga untuk membuat sehat keluarga besar SD Negeri Kaliwlingi 01 dan semangat kekeluargaan,” ujar Fatni.

Menurutnya, olahraga bersama menjadi sarana sederhana untuk membangun kebiasaan hidup sehat sekaligus memperkuat kebersamaan antara sekolah, peserta didik, dan orang tua.

Apresiasi juga disampaikan Kepala SD Negeri Kaliwlingi 01 Brebes, Wargiyanto, S.Pd. Ia memberikan penghargaan kepada seluruh panitia dan peserta yang telah berkontribusi sehingga kegiatan dapat berlangsung dengan tertib dan meriah.

Sementara itu, kegiatan dibuka oleh Solichin, S.Pd.I. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan penuh semangat serta memanjatkan doa agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan memberikan manfaat.

Peringatan Haornas di SDN Kaliwlingi 01 Brebes akhirnya bukan hanya menghadirkan aktivitas fisik, tetapi juga membangun ruang kebersamaan. Guru, siswa, staf, dan wali murid melebur dalam satu kegiatan yang membawa pesan sederhana: sekolah sehat dimulai dari warga sekolah yang aktif dan bugar.

Haornas dan Sejarah Olahraga Nasional

Hari Olahraga Nasional diperingati setiap 9 September berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1985.
Pemilihan tanggal tersebut berkaitan dengan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) I di Surakarta (Solo) pada 9–12 September 1948. PON pertama tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan olahraga Indonesia sekaligus merepresentasikan semangat persatuan dan kedaulatan bangsa melalui olahraga.

Semangat tersebut kemudian dihidupkan kembali di lingkungan sekolah melalui kegiatan sederhana namun sarat kebersamaan.
(Red)

FKDT dan Pergerakan Komunitas Pendidikan Keagamaan Menuju Indonesia Hebat

0

Indonesia hebat tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung tinggi, kemajuan teknologi, dan pertumbuhan ekonomi. Indonesia yang hebat juga lahir dari manusia yang memiliki ilmu, karakter, akhlak, kepedulian sosial, serta fondasi spiritual yang kuat.

Di sinilah pendidikan keagamaan memiliki posisi yang sangat strategis. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, lembaga pendidikan keagamaan—termasuk Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT)—terus memainkan peran penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual.

Dalam konteks tersebut, Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) tidak semestinya hanya dipandang sebagai organisasi administratif atau wadah koordinasi lembaga MDT. FKDT merupakan bagian dari gerakan komunitas pendidikan keagamaan yang memiliki tanggung jawab besar untuk menguatkan eksistensi pendidikan diniyah sekaligus menjawab tantangan pendidikan masa depan.

FKDT sebagai Gerakan Komunitas

Kekuatan pendidikan keagamaan sesungguhnya berada pada komunitas. Ada guru, ustaz, pengelola MDT, orang tua, tokoh agama, pesantren, organisasi kemasyarakatan, pemerintah, dan masyarakat yang saling terhubung.

FKDT hadir untuk mempertemukan kekuatan-kekuatan tersebut.

Karena itu, FKDT perlu terus bergerak dari pola kerja yang bersifat administratif menuju gerakan komunitas yang produktif, kolaboratif, dan transformatif.

Gerakan itu dapat diwujudkan melalui penguatan kapasitas guru, peningkatan mutu pembelajaran, pengembangan kurikulum, pemanfaatan teknologi, penguatan manajemen lembaga, serta membangun jejaring dengan berbagai pihak.

FKDT harus menjadi rumah bersama bagi para penggerak pendidikan keagamaan.

Guru MDT adalah Penggerak Utama

Tidak mungkin membangun pendidikan keagamaan yang kuat tanpa memperkuat gurunya.

Guru MDT bukan sekadar pengajar materi keagamaan. Mereka adalah pendidik yang ikut membentuk cara berpikir, sikap, kebiasaan, dan karakter anak.

Karena itu, peningkatan kualitas guru harus menjadi agenda utama FKDT. Pelatihan, forum berbagi pengalaman, pengembangan kompetensi, literasi digital, dan penguatan metodologi pembelajaran perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Guru yang terus belajar akan melahirkan murid yang memiliki semangat belajar.

Guru yang mengajarkan keteladanan akan membantu melahirkan generasi yang memahami bahwa ilmu harus berjalan bersama akhlak.

Dari Tradisi ke Transformasi

Pendidikan diniyah memiliki tradisi keilmuan yang panjang. Tradisi mengaji, sorogan, bandongan, hafalan, pembiasaan ibadah, adab kepada guru dan orang tua, serta kehidupan sosial yang religius merupakan kekayaan yang tidak boleh hilang. Namun mempertahankan tradisi tidak berarti menolak perubahan.

Justru tantangan kita adalah bagaimana menghubungkan kekuatan tradisi dengan kebutuhan generasi masa kini.

Anak-anak hari ini hidup dalam dunia digital. Mereka membutuhkan kemampuan literasi, teknologi, komunikasi, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis. Semua itu dapat berjalan berdampingan dengan pendidikan agama.

MDT harus mampu melahirkan generasi yang melek teknologi tetapi tetap berakhlak, modern tetapi tidak kehilangan akar tradisi, dan terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Di sinilah FKDT mempunyai ruang perjuangan yang sangat besar.

Membangun Ekosistem Pendidikan Keagamaan

Pendidikan tidak boleh dibebankan hanya kepada sekolah atau madrasah.

Keluarga adalah tempat pendidikan pertama. Madrasah menjadi ruang pembelajaran yang terstruktur. Masjid menjadi pusat pembinaan spiritual dan sosial. Pesantren menjadi salah satu sumber tradisi keilmuan. Masyarakat menjadi lingkungan yang memberikan keteladanan.

Karena itu, masa depan MDT membutuhkan ekosistem pendidikan keagamaan.

FKDT dapat mengambil peran sebagai penghubung berbagai elemen tersebut. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, Kementerian Agama, organisasi keagamaan, pesantren, masjid, perguruan tinggi, dunia usaha, dan komunitas masyarakat perlu terus diperkuat.

Semakin luas kolaborasi, semakin kuat pula daya tawar pendidikan keagamaan.

FKDT dan Masa Depan Generasi Bangsa

Kita sering berbicara tentang bonus demografi. Namun jumlah penduduk usia produktif saja tidak otomatis menjadi kekuatan bangsa.

Bonus demografi akan menjadi berkah apabila generasinya memiliki kompetensi, karakter, etos kerja, tanggung jawab sosial, dan moralitas.

Di sinilah pendidikan keagamaan mengambil bagian.

MDT mungkin berada di lingkungan masyarakat yang sederhana. Gedungnya mungkin tidak selalu megah. Sarana dan prasarananya mungkin masih terbatas. Tetapi dari ruang-ruang sederhana itulah nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, penghormatan kepada orang tua dan guru, serta kecintaan kepada agama dan bangsa terus ditanamkan.

Maka jangan pernah menganggap kecil peran pendidikan diniyah.

Bisa jadi, dari sebuah madrasah diniyah di desa, sedang tumbuh calon guru, ulama, pemimpin, pengusaha, birokrat, teknokrat, dan tokoh masyarakat yang kelak memberikan kontribusi besar bagi Indonesia.

Menuju Indonesia Hebat

Indonesia hebat membutuhkan pembangunan manusia seutuhnya.

Kemajuan teknologi membutuhkan etika. Kecerdasan membutuhkan kebijaksanaan. Kekuasaan membutuhkan integritas. Kemajuan ekonomi membutuhkan kejujuran. Kebebasan membutuhkan tanggung jawab.

Semua itu memiliki hubungan erat dengan pendidikan karakter dan pendidikan keagamaan.

Karena itu, FKDT harus terus meneguhkan dirinya sebagai gerakan penguatan pendidikan keagamaan. Bukan sekadar bergerak ketika ada agenda organisasi, tetapi hadir secara konsisten mendampingi lembaga, memperjuangkan guru, meningkatkan mutu pendidikan, dan membangun kolaborasi.

Gerakan FKDT harus bergerak dari bawah, tumbuh bersama masyarakat, dan memberikan manfaat nyata.

Dari MDT kita menanam ilmu.
Dari guru kita menanam keteladanan.
Dari keluarga kita menanam nilai.
Dari masyarakat kita membangun kepedulian.
Dan dari semuanya kita menyiapkan generasi Indonesia hebat.

Pada akhirnya, FKDT bukan hanya tentang organisasi. FKDT adalah tentang gerakan bersama untuk memastikan pendidikan keagamaan tetap hidup, berkembang, dan relevan dengan zaman.

Jika gerakan ini dilakukan dengan konsisten, kolaboratif, dan penuh keikhlasan, maka pendidikan keagamaan akan menjadi salah satu kekuatan penting dalam membangun Indonesia yang maju, berkarakter, berakhlak, dan bermartabat.

Indonesia hebat bukan hanya Indonesia yang maju secara ekonomi dan teknologi, tetapi Indonesia yang manusianya kuat ilmu, kokoh iman, luhur akhlak, dan besar kepeduliannya kepada bangsa.

FKDT bergerak, pendidikan keagamaan menguat, generasi hebat tumbuh, Indonesia maju.

10 Tahun Berjuang, PAUD An-Nur Ciamis Masih Setengah Jadi, Butuh Uluran Tangan

0

CIAMIS (Aswajanews.id) – Selama satu dekade, Cucu Nurhayati konsisten mengabdikan diri mendirikan dan mengelola Yayasan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) An-Nur yang berlokasi di Dusun Pabrik, Blok Ranca Brerem, RT 17/08, Desa Cihalang, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis.

Yayasan yang berdiri sejak 2015 tersebut lahir dari keprihatinan Cucu melihat masih banyak anak-anak di lingkungan sekitar yang tidak mendapatkan pendidikan anak usia dini. Kondisi ekonomi masyarakat yang mayoritas menengah ke bawah serta jarak menuju lembaga PAUD terdekat menjadi salah satu kendala.

“Di sini mayoritas bukan orang berada. Kalau mau sekolah PAUD harus jauh. Makanya banyak yang putus sekolah,” ujar Cucu saat diwawancarai, Senin (7/9/2026).

Kini, PAUD An-Nur menampung sekitar 20 anak didik. Tidak hanya dari lingkungan sekitar, sejumlah peserta didik juga berasal dari wilayah lain di sekitar Desa Cihalang.

Namun, perjuangan tersebut masih menghadapi persoalan besar. Di tengah keterbatasan pembiayaan, pembangunan gedung yayasan yang berdiri di atas lahan seluas 20 bata atau sekitar 280 meter persegi hingga kini belum juga rampung.

Bangunan tersebut baru mencapai sekitar 50 persen dari keseluruhan pembangunan. Kondisi ini membuat pengembangan sarana dan prasarana pendidikan masih sangat bergantung pada kemampuan finansial pribadi pengelola.

Cucu berharap pemerintah, baik pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun Pemerintah Kabupaten Ciamis, dapat memberikan perhatian terhadap kondisi PAUD An-Nur, khususnya membantu menyelesaikan pembangunan gedung yang hingga kini masih terbengkalai.

“Harapannya ada bantuan,” ungkapnya.

Bagi Cucu, mendirikan dan mengelola PAUD bukan sekadar menjalankan kegiatan belajar mengajar. Menurutnya, pendidikan anak usia dini merupakan bagian penting dalam membangun karakter dan memberikan bekal pengetahuan kepada anak sejak usia dini.

“Usia PAUD itu usia emas. Tujuannya supaya anak-anak punya bekal ilmu sejak dini dan bisa mengurangi angka putus sekolah,” tegasnya.

Selama ini, Yayasan PAUD An-Nur masih beroperasi secara mandiri dengan mengandalkan kemampuan keuangan pribadi pengelola. Di tengah keterbatasan tersebut, semangat untuk memberikan akses pendidikan bagi anak-anak di wilayah sekitar tetap dipertahankan.
Sepuluh tahun perjalanan PAUD An-Nur menjadi gambaran perjuangan pendidikan di tingkat akar rumput. Di satu sisi, kegiatan belajar bagi puluhan anak terus berjalan, namun di sisi lain, pembangunan gedung yang menjadi penunjang utama proses pendidikan masih menunggu uluran tangan.
(Nana S)

Penataaan dan Restorasi Mangrove Tambak Pantura Sebagai Program Prioritas Nasional

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Pemerintah Kabupaten Karawang terus mematangkan koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah guna mengawal percepatan Program Prioritas Nasional Revitalisasi Tambak Pantura Jawa Barat.

Sekretaris Daerah Karawang, H. Asep Aang Rahmatullah, S.STP, MP didampingi Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan menghadiri Rapat Koordinasi Revitalisasi Tambak Nila Salin Pantai Pantura di Sekretariat Negara, Jakarta Pusat (08/09).

Langkah ini difokuskan pada penyelesaian dinamika tata batas lahan, kepastian tata ruang, hingga pendekatan sosial bagi masyarakat terdampak.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melaporkan total luas kawasan revitalisasi mencapai 14.067,5 hektar.Sekda menekankan keterbukaaninformasi, kepastian lokasi relokasi warga, serta skema pascaproyek. Sementara progress pemetaan batas kawasan saat ini sudah 50%.

“Kondisi saat ini memiliki kompleksitas yang agak berbeda dan membutuhkan keterbukaan pelaksanaan program.Perlu ada kejelasan mengenai dua poin utama, yaitu skema investasi serta arah kebijakan pasca-program kedepannya,” ujar Sekda.

Atas nama Pemerintah Daerah, Bupati Karawang menyatakan dukungan penuh terhadap program nasional ini, karena diyakini dapat membawa dampak positif bagi penataan lingkungan, restorasi kawasan mangrove, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir Pantura.

Pemerintah Kabupaten Karawang mendukung penuh Proyek Strategis nasional dengan sinergi seluruh aparat di lapangan yang kini siap bergerak dan tinggal menunggu arahan teknis serta koordinasi lebih lanjut dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. (Ahmad Z)

Kajati Jabar Kunjungi Kejari Cimahi dan Kota Bandung, Tekankan Integritas dan Kinerja

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jawa Barat M. Teguh Darmawan melakukan kunjungan kerja ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Cimahi dan dilanjutkan ke Kejari Kota Bandung, Selasa (8/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Kajati didampingi Wakajati Jabar Dr. Desy Meutia Firdaus, Asisten Intelijen Donny Haryono Setyawan, S.H., M.H., Asisten Tindak Pidana Khusus Agung Arifianto, S.H., M.H., serta Kepala Bagian Tata Usaha.

Kunjungan kerja itu tidak sekadar meninjau kondisi kantor. Kajati juga mengecek sarana dan prasarana, termasuk ruang barang bukti serta manajemen pemeliharaan barang bukti di lingkungan Kejari.

Kajati kemudian bertatap muka langsung dengan jajaran pegawai di masing-masing Kejari.

Dalam arahannya, ia menegaskan pentingnya menjaga nama baik dan marwah institusi Adhyaksa melalui pelaksanaan tugas yang profesional, berintegritas, disiplin, dan sesuai tugas pokok serta fungsi masing-masing bidang.

“Sebagai insan Adhyaksa, seluruh pegawai harus turut serta menjaga nama baik dan marwah institusi,” demikian penekanan Kajati dalam arahannya.

Menurutnya, peningkatan kinerja harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Karena itu, seluruh jajaran didorong untuk bekerja secara profesional, responsif, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kajati juga meminta setiap bidang mengoptimalkan tugas dan fungsinya. Di antaranya melalui penyelesaian perkara yang mengedepankan pendekatan restorative justice, penyusunan legal opinion yang berkualitas dan solutif, serta peningkatan kualitas pelayanan hukum.

Penegakan hukum, lanjutnya, harus dilaksanakan secara profesional, berkeadilan, dan berintegritas.Tak hanya memberikan arahan, Kajati membuka ruang dialog dengan para pegawai. Berbagai masukan dan kendala yang dihadapi jajaran dalam pelaksanaan tugas didengarkan secara langsung untuk kemudian dicari solusi bersama.

Melalui kunjungan dan dialog tersebut, Kajati berharap jajaran Kejari Cimahi dan Kejari Kota Bandung terus meningkatkan kinerja, mempertahankan integritas, serta menjaga kehormatan institusi.

Ia menekankan, setiap tugas dan tanggung jawab harus dijalankan dengan penuh dedikasi demi mewujudkan Kejaksaan yang profesional, berintegritas, dan semakin dipercaya masyarakat. (Red/Kasi Penkum Kejati Jabar)

Estafet Tunas Kelapa 2026 : Menanamkan Semangat Pengabdian dan Kepemimpinan Generasi Muda

0

Ada sesuatu yang istimewa dari sebuah estafet. Bukan sekadar siapa yang berlari paling cepat, tetapi tentang bagaimana sebuah amanah diterima, dijaga, lalu diserahkan kepada generasi berikutnya dalam keadaan tetap memiliki makna.

Begitulah semangat Estafet Tunas Kelapa (ETK) dalam Gerakan Pramuka. Tunas kelapa bukan sekadar simbol yang dibawa dari satu tempat ke tempat lain. Ia menjadi pesan moral tentang kehidupan: tumbuh, berakar kuat, bermanfaat, dan mampu berdiri tegak menghadapi berbagai tantangan.

Tunas Kelapa dan Filosofi Generasi Muda

Kelapa merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat. Hampir seluruh bagiannya dapat dimanfaatkan. Filosofi inilah yang menjadikan tunas kelapa sebagai lambang Gerakan Pramuka.

Dalam konteks pendidikan generasi muda, filosofi tersebut sangat relevan. Anak-anak dan remaja tidak cukup hanya memiliki kecerdasan akademik. Mereka perlu tumbuh menjadi pribadi yang memiliki karakter, tanggung jawab, kepedulian sosial, kemandirian, disiplin, serta semangat pengabdian.

ETK menjadi ruang pendidikan yang menarik karena nilai-nilai tersebut tidak hanya disampaikan melalui teori, tetapi dialami secara langsung.

Di jalan, di tengah masyarakat, dan dalam kebersamaan sesama anggota Pramuka, peserta belajar bahwa kehidupan membutuhkan kerja sama, ketekunan, kesabaran, dan tanggung jawab.

Estafet Amanah Antar Generasi

Estafet Tunas Kelapa juga dapat dimaknai sebagai estafet amanah antar-generasi. Generasi hari ini menerima warisan nilai dari para pendahulu. Nilai tersebut kemudian harus dirawat dan dikembangkan agar dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, kegiatan ETK semestinya tidak berhenti pada seremoni. Jangan sampai tunas kelapa hanya berpindah tangan, sementara nilai yang dikandungnya tidak ikut berpindah ke dalam hati dan perilaku generasi muda.

Semangat Pramuka harus hadir dalam kehidupan sehari-hari: menghormati orang tua dan guru, peduli kepada lingkungan, membantu masyarakat, menjaga persaudaraan, serta berani mengambil tanggung jawab.

Membangun Karakter Melalui Pengalaman

Pendidikan karakter akan lebih kuat ketika anak-anak memperoleh pengalaman nyata. Hal tersebut dibutuhkan gerak langkah nyata dengan memberikan manfaat kepada sesama.

Berjalan bersama, menjaga amanah, mengikuti aturan, menghadapi kelelahan, berkomunikasi dengan masyarakat, dan bekerja dalam kelompok merupakan pengalaman pendidikan yang sangat berharga.

Di sinilah ETK memiliki nilai strategis. Kegiatan tersebut dapat menjadi laboratorium pendidikan karakter yang mengajarkan bahwa keberhasilan tidak dibangun sendirian.
Ada kebersamaan, ada disiplin, ada pengorbanan, dan ada tanggung jawab.

Generasi muda juga belajar bahwa setiap orang memiliki peran. Ada yang membawa amanah, ada yang mendampingi, ada yang memberikan dukungan, dan ada masyarakat yang menyambut. Semuanya menjadi bagian dari satu perjalanan.

Pramuka dan Masyarakat

Yang tidak kalah penting, ETK dapat menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara Gerakan Pramuka dan masyarakat.

Pramuka bukan organisasi yang hidup di dalam lingkungan sekolah saja. Semangat kepramukaan harus mampu hadir di tengah masyarakat melalui kegiatan sosial, kepedulian lingkungan, pelayanan kemanusiaan, dan berbagai bentuk pengabdian.

Ketika ETK melintasi desa dan berbagai lingkungan masyarakat, sesungguhnya terdapat kesempatan untuk memperkenalkan kembali wajah Pramuka yang dekat dengan rakyat.

Pramuka harus menjadi bagian dari solusi atas persoalan sosial di lingkungannya.

Sekolah, Keluarga, dan Masyarakat. Agar nilai-nilai ETK tidak berhenti setelah kegiatan selesai, diperlukan dukungan tiga lingkungan pendidikan: sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Sekolah memberikan penguatan pengetahuan dan karakter. Keluarga menjadi tempat pertama pembentukan akhlak dan kebiasaan. Sementara masyarakat menjadi ruang bagi anak untuk mempraktikkan nilai-nilai tersebut. Dengan demikian, Estafet Tunas Kelapa dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan karakter yang lebih luas.

Kita ingin anak-anak tidak hanya pandai berbicara tentang disiplin, tetapi mampu mempraktikkannya. Tidak hanya memahami gotong royong, tetapi mau melakukannya. Tidak hanya mengenal pengabdian, tetapi memiliki kepedulian untuk membantu sesama.

Menjaga Api Semangat

Pada akhirnya, Estafet Tunas Kelapa adalah tentang menjaga api semangat. Semangat yang terus menyala sepanjang masa.

Tunas yang kecil hari ini akan tumbuh menjadi pohon yang besar di kemudian hari. Begitu pula generasi muda. Mereka adalah tunas bangsa yang sedang tumbuh. Maka dibalik makna tumbuh dibarengi dengan peran dan dukungan beberapa pihak untuk terus berkembang.

Tugas kita bukan sekadar menyaksikan mereka tumbuh, tetapi memberikan tanah yang baik, air yang cukup, dan lingkungan yang sehat agar mereka dapat berkembang menjadi generasi yang kuat. Hal ini sangat penting agar tumbuhnya generasi bukan sebatas fisik, akan tetapi mental dan rohaninya terus berkembang sebagai kekuatan dan modal untuk menuju generasi hebat.

Maka, mari kita jadikan Estafet Tunas Kelapa bukan sekadar perjalanan membawa simbol, tetapi perjalanan membawa nilai. Nilai persaudaraan, kemandirian, kedisiplinan, kepemimpinan, kepedulian, dan pengabdian menjadi spirit dalam berpramuka. Dengan demikian hadirnya Pramuka dalam pendidikan formal menjadi pilar untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

Sebab setiap tunas yang kita jaga hari ini adalah harapan bagi masa depan bangsa. Tunas Kelapa terus berjalan, amanah terus diwariskan, dan semangat pengabdian harus terus dinyalakan. (*)

OMI 2026 Resmi Bergulir, Ribuan Siswa Kabupaten Bandung Berebut Tiket ke Tingkat Nasional

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 tingkat Kabupaten Bandung resmi digelar. Ribuan siswa dari jenjang Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA) mengikuti kompetisi yang menjadi ajang pencarian bibit-bibit unggul berkompetensi.

Pembukaan OMI tingkat Kabupaten Bandung berlangsung di MAN 1 Bandung, Senin (7/9/2026), dan dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Bandung, H. Ramlan Rustandi, S.Ag., M.Si.

OMI 2026 merupakan program nasional yang digelar secara serentak di seluruh Indonesia. Pelaksanaannya mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI Nomor 6843 Tahun 2026.

Menurut Ramlan Rustandi, OMI menjadi salah satu wadah untuk mengembangkan kemampuan sekaligus menemukan peserta didik yang memiliki potensi dan kompetensi unggul.

“OMI ini merupakan program nasional yang dilaksanakan berdasarkan Keputusan Dirjen Pendis Kemenag RI Nomor 6843 Tahun 2026,” ujar Ramlan.

Ia menjelaskan, cabang kompetisi OMI disesuaikan dengan jenjang pendidikan. Untuk tingkat MI terdapat dua cabang, MTs tiga cabang, sedangkan MA mempertandingkan enam cabang.

“Tujuannya untuk mencari bibit-bibit unggul yang memiliki kompetensi,” katanya.

Secara nasional, pelaksanaan OMI 2026 mendapat antusiasme tinggi. Tercatat sebanyak 230.123 peserta mendaftarkan diri dalam kompetisi tersebut.

Dari jumlah itu, sebanyak 229.593 peserta atau sekitar 99,8 persen dinyatakan lolos verifikasi. Para peserta berasal dari 34 provinsi dengan keterlibatan lebih dari 33 ribu lembaga pendidikan.

Menariknya, OMI 2026 tidak hanya diikuti oleh siswa madrasah. Sebanyak 13.271 siswa dari sekolah umum turut ambil bagian dalam kompetisi tersebut.

Mereka berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP hingga SMA.

Keterlibatan siswa sekolah umum menunjukkan bahwa OMI 2026 tidak hanya menjadi ruang kompetisi bagi siswa madrasah, tetapi juga menjadi wadah yang mempertemukan peserta didik dari berbagai satuan pendidikan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan masing-masing.

Ketua Komite Pelaksana OMI 2026 Kabupaten Bandung, H. Ceceng Ismail, S.Ag., mengatakan pelaksanaan OMI tingkat Kabupaten Bandung tidak dipusatkan di satu lokasi, melainkan disebar di sejumlah titik lokasi (tilok) sesuai jenjang pendidikan.

Untuk tingkat MA, pelaksanaan kompetisi dipusatkan di MAN 1 Bandung.

Sementara itu, untuk tingkat MTs, kompetisi digelar di tiga titik lokasi, yakni MTsN 1, MTsN 2, dan MTsN 3. Sedangkan untuk tingkat MI, pelaksanaan OMI tersebar di empat titik lokasi, yaitu di MI Al Musthofa Majalaya, MI Muhammadiyah Rancaekek, MI Al Hikmah Bojongsoang dan MI Yuppi Soreang.

“Dalam penyelenggaraan OMI tingkat Kabupaten Bandung, pelaksanaannya dilakukan di beberapa titik lokasi. Untuk tingkat MA di MAN 1 Bandung, tingkat MTs di tiga tilok, yaitu MTsN 1, MTsN 2 dan MTsN 3, sedangkan tingkat MI di empat tilok,” ujar Ceceng.

Menurut Ceceng, pembagian titik lokasi tersebut merupakan bagian dari pengaturan pelaksanaan kompetisi berdasarkan jenjang pendidikan peserta.

Ceceng menambahkan, rangkaian OMI 2026 dilaksanakan secara bertahap, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga tingkat nasional.

Tahap tingkat kabupaten/kota dijadwalkan berlangsung pada 7–8 September 2026. Peserta terbaik kemudian akan melanjutkan kompetisi ke tingkat provinsi yang dijadwalkan pada 5–6 Oktober 2026.

Selanjutnya, para peserta terbaik dari tingkat provinsi akan melaju ke tingkat nasional yang dijadwalkan berlangsung pada 10–11 November 2026. Sedangkan pengumuman pemenang sekaligus penutupan OMI 2026 tingkat nasional dijadwalkan pada 12 November 2026.

“Rangkaian OMI 2026 akan berlangsung secara bertahap, mulai dari tingkat kabupaten/kota hingga nasional,” kata Ceceng.

Dengan sistem kompetisi berjenjang tersebut, OMI 2026 diharapkan tidak sekadar menjadi ajang meraih juara, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah kemampuan, membangun mental kompetitif yang sehat, serta menjaring siswa-siswi berprestasi yang nantinya dapat menjadi representasi terbaik daerah di tingkat yang lebih tinggi. (Red)

OMI 2026 Digelar di 281 Titik, Kemenag Jabar Matangkan Kesiapan Talenta Madrasah

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Sebanyak 281 titik lokasi (tilok) di Jawa Barat disiapkan untuk pelaksanaan Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat kabupaten/kota Tahun 2026.

Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Barat pun mematangkan kesiapan perangkat, petugas, hingga sarana pendukung agar kompetisi yang digelar secara daring tersebut berjalan tanpa kendala teknis.

Persiapan itu dibahas dalam Rapat Koordinasi Persiapan Pelaksanaan OMI yang digelar secara daring, Minggu (6/9/2026).

Rakor diikuti para Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kabupaten/Kota se-Jawa Barat bersama tim teknis OMI. Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6843 Tahun 2026 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Olimpiade Madrasah Indonesia Tahun 2026.

Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat, H. Badruzaman, menegaskan OMI tidak boleh dipandang sebatas ajang perebutan juara. Lebih dari itu, OMI menjadi instrumen strategis untuk menemukan dan mengembangkan talenta terbaik peserta didik madrasah.

“Sebuah kesuksesan tidak diraih dengan cara yang instan, tetapi melalui proses yang panjang. Menjadi juara adalah bonus dari proses perjuangan,” ujar Badruzaman saat membuka rakor.

Menurutnya, OMI 2026 diarahkan untuk mengidentifikasi, membina, mengembangkan, sekaligus mengakselerasi talenta peserta didik, terutama dalam bidang sains dan riset.

Kompetisi ini juga dirancang untuk memperkuat budaya riset, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta inovasi di lingkungan madrasah.

Yang membedakan, OMI 2026 mengedepankan integrasi nilai-nilai keislaman dalam pengembangan sains dan riset. Peserta didik didorong melihat ilmu pengetahuan bukan hanya sebagai kemampuan akademik, tetapi juga bagian dari ibadah dan sarana pengembangan diri sesuai nilai-nilai Islam.

Budaya lokal turut mendapat ruang dalam kompetisi. Kearifan lokal diintegrasikan sebagai upaya memperkaya perspektif ilmiah sekaligus menjaga identitas budaya peserta didik.

Sementara itu, konsep Kurikulum Cinta dalam sains menjadi salah satu landasan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan sekaligus membangun semangat eksplorasi yang berkelanjutan.

OMI 2026 mengusung tema “Islam, Sains, dan Ekoteologi: Menumbuhkan Talenta serta Menggerakkan Inovasi Madrasah untuk Indonesia Maju.”Tema tersebut menegaskan arah OMI yang tidak berhenti pada pencapaian prestasi akademik. Kompetisi diarahkan untuk melahirkan inovator muda yang mampu mempertemukan nilai-nilai Islam, penguasaan sains, dan perspektif ekoteologi dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan.281 Titik Jadi Ujian KesiapanOMI tingkat kabupaten/kota akan berlangsung secara online pada 7–8 September 2026. Sebanyak 281 tilok yang tersebar di kabupaten/kota se-Jawa Barat menjadi simpul penting pelaksanaan kompetisi.Besarnya jumlah titik lokasi sekaligus menjadi tantangan tersendiri. Kesiapan perangkat, petugas, jaringan, serta sarana pendukung harus dipastikan agar tidak ada peserta yang dirugikan akibat persoalan teknis.Badruzaman meminta seluruh penyelenggara di daerah memastikan kesiapan masing-masing tilok sebelum kompetisi dimulai.

“Saya berharap pelaksanaannya berjalan lancar dan sukses, perangkat juga petugas di tiap tilok sudah dipersiapkan sehingga saat pelaksanaan tidak ada kendala dan menghasilkan murid-murid unggul berkualitas,” tegasnya.

Menurut Badruzaman, persiapan matang bukan semata untuk memastikan kompetisi berlangsung tertib. Lebih jauh, OMI harus mampu menjadi pintu masuk untuk menjaring peserta didik terbaik yang nantinya dapat mewakili Jawa Barat pada kompetisi tingkat provinsi hingga nasional.

Ia juga mengingatkan bahwa prestasi tidak lahir secara tiba-tiba. Pembinaan yang konsisten diperlukan untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kematangan emosional dan spiritual. Karena itu, OMI diharapkan tidak sekadar melahirkan peserta yang mampu meraih medali.

Ajang ini harus menjadi ruang untuk membangun karakter kompetitif yang sehat, jujur, berintegritas, dan memiliki kemampuan riset serta inovasi.

Lebih dari sekadar mengejar kemenangan, OMI menjadi momentum untuk mengembangkan bakat, minat, kecakapan, dan keahlian peserta didik di bidang sains dan riset. Dari ajang inilah diharapkan lahir bibit-bibit unggul yang mampu bersaing hingga tingkat internasional.

Badruzaman menilai keberhasilan peserta didik juga tidak terlepas dari keberhasilan kepala madrasah dalam mengembangkan potensi lembaganya. Semakin banyak prestasi yang ditorehkan, semakin kuat pula kepercayaan masyarakat terhadap madrasah.Dengan demikian, 281 titik OMI di Jawa Barat bukan sekadar lokasi lomba.

Setiap tilok diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda madrasah untuk mengasah kemampuan, membangun budaya riset, mengembangkan inovasi, sekaligus menunjukkan bahwa madrasah mampu melahirkan talenta yang kompetitif.

Melalui perpaduan Islam, sains, riset, dan inovasi, Kemenag Jabar mendorong OMI 2026 menjadi bagian dari ikhtiar mencetak sumber daya manusia unggul. Bukan hanya berprestasi di ruang kompetisi, tetapi juga mampu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan kemajuan Indonesia.

(Sumber: Kemenag Jabar/Novam Scorpiantrien)

Ketua FKDT Brebes Bakar Semangat Kafilah PORSADIN Songgom

0

BREBES (Aswajanews.id) – Suasana pembukaan Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) Kecamatan Songgom, Kabupaten Brebes, berlangsung penuh semangat. Di hadapan puluhan kafilah Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), Ketua DPC Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) Kabupaten Brebes, Akhmad Sururi, bahkan turun langsung membakar semangat para santri untuk berkompetisi secara sportif dan santun.

Pembukaan PORSADIN digelar di MDT Darul Ulum, Dukuh Kampiran, Desa Wanacala, Kecamatan Songgom, Ahad (6/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti delegasi MDT se-Kecamatan Songgom dengan berbagai cabang lomba seni dan olahraga kategori putra maupun putri.

Di hadapan para kafilah, Akhmad Sururi mengajak seluruh peserta meneriakkan yel-yel penyemangat. Tepuk tangan bergemuruh, tangan para santri mengepal, dan semangat kompetisi pun langsung terasa sejak awal kegiatan.

Bagi Sururi, PORSADIN bukan semata-mata soal siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum mempertemukan para santri MDT sekaligus menanamkan nilai sportivitas, persaudaraan, dan akhlak dalam berkompetisi.

“Hari ini kita harus berbahagia karena kita bertemu dengan teman-teman santri MDT se-Kecamatan Songgom. Kita akan berkompetisi dalam beberapa jenis lomba. Tentu kita berharap semua berjalan lancar dan sukses. Berkompetisi secara sehat dan santun menjadi komitmen bersama,” tegas Akhmad Sururi.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Wanacala serta masyarakat Dukuh Kampiran yang telah membuka ruang dan menjadi tuan rumah pelaksanaan PORSADIN Kecamatan Songgom.

Menurutnya, menjadi tuan rumah kegiatan yang melibatkan para santri MDT merupakan sebuah kehormatan sekaligus bentuk dukungan terhadap pendidikan keagamaan di tingkat masyarakat.

“Terima kasih kepada Pemerintah Desa Wanacala dan masyarakat Dukuh Kampiran yang telah menjadi tuan rumah PORSADIN ini. Semoga kegiatan ini membawa keberkahan bagi Dukuh Kampiran dan Desa Wanacala,” ujarnya.

PORSADIN Kecamatan Songgom mempertandingkan sejumlah cabang seni dan olahraga. Para peserta berasal dari MDT se-Kecamatan Songgom dan berkompetisi dalam kategori putra serta putri. Secara keseluruhan, terdapat sekitar 32 peserta dari masing-masing MDT yang ambil bagian dalam ajang tersebut.
Hadiah Khusus bagi Juara yang Lolos Seleksi Kabupaten

Semangat kompetisi juga datang dari jajaran DPAC FKDT Kecamatan Songgom. Ketua DPAC FKDT Kecamatan Songgom, Rosid, bersama jajaran pengurus turut hadir dalam pembukaan.

Dalam sambutannya, Rosid memberikan motivasi kepada para peserta agar tampil maksimal dan menunjukkan kemampuan terbaik. Ia juga menyampaikan komitmen memberikan hadiah khusus bagi peserta yang berhasil meraih juara dan lolos untuk mengikuti seleksi tingkat Kabupaten Brebes

Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari jajaran Kementerian Agama Kabupaten Brebes yang diwakili Mas Sigit.

Dalam kesempatan tersebut, Mas Sigit dipercaya membuka PORSADIN Kecamatan Songgom secara resmi. Pembukaan ditandai dengan pemukulan beduk, disaksikan para pengurus FKDT, peserta, pendamping, serta masyarakat yang hadir

PORSADIN pun resmi dimulai. Bukan sekadar mengejar podium, para santri MDT membawa semangat untuk menunjukkan bahwa olahraga dan seni dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter, sekaligus memperkuat silaturahmi dan kebersamaan antarsantri di Kecamatan Songgom. (Red)

Meriahkan Hari Jadi ke-393, Pemkab Karawang Gelar Haornas, Bupati Cup Hingga Deklarasi Karawang AMAN

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Pemerintah Kabupaten Karawang menggelar rangkaian peringatan Hari Jadi Karawang sekaligus Hari Olahraga Nasional (Haornas) tingkat kabupaten dengan Fun Run 3,93K yang berpusat di Lapang Karangpawitan pada Minggu (6/9/26).

Adapun jalur yang dilalui Fun Run 3,93K yaitu Lapang Karangpawitan -Bundaran Ciplaz – Lapang Karangpawitan dengan peserta sebanyak 1500 pelari dari berbagai daerah.

Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh menyampaikan apresiasi atas antusias masyarakat untuk memeriahkan rangkaian Hari Jadi sekaligus Hari Olahraga Nasional.la juga mengucapkan selamat kepada tiga finisher pertama Fun Run 3,39K. Juga, berharap seluruh rangkaian Hari Jadi ke-393 ini mampu dirasakan oleh seluruh masyarakat Karawang.

Selain Fun Run, dalam kesempatan tersebut juga dilaksanakan Deklarasi Gerakan Stop Boros Pangan (Stop Food Loss and Waste) atau Karawang AMAN (Aksi Masyarakat Anti Boros Pangan).

Melalui gerakan tersebut, Pemkab Karawang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membudayakan belanja bijak serta mengonsumsi pangan tanpa sisa sebagai langkah nyata menjaga ketahanan pangan daerah.

Bupati Aep menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi nyata untuk mewujudkan cita-cita bersama yaitu Karawang Maju.

“Karawang Maju bukan sekadar ucapan, melainkan bagaimana kita mengimplementasikannya secara menyeluruh,” ujarnya.

la juga berpesan kepada seluruh TP-PKK dari mulai kabupaten hingga desa sebagai mitra pemerintah garda terdepan untuk mengedukasi dan mensosialisasikan gerakan Karawang AMAN kepada masyarakat luas.

“Gerakan ini juga bisa diimplementasikan minimal dari diri kita sendiri dan berkesinambungan ke yang lainnya. Semoga apa yang hari ini kita kerjakan, akan berdampak baik di masa depan,” lanjutnya.

Kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan Pakta Integritas Karawang AMAN (Aksi Masyarakat Anti Boros Pangan) oleh Bupati beserta jajaran serta Deklarasi Karawang AMAN yang secara langsung oleh Bupati Karawang dan diakhiri dengan undian doorprize untuk peserta Fun Run 3,93K. (Ahmad Z)

Mewujudkan Masjid Ramah Anak di Pedesaan

0

Masjid bukan sekadar bangunan tempat umat Islam melaksanakan salat. Masjid adalah rumah bersama, pusat pembinaan umat, ruang pendidikan, sekaligus tempat tumbuhnya generasi masa depan. Karena itu, masa depan masjid sesungguhnya sangat ditentukan oleh sejauh mana masjid hari ini mampu menghadirkan dirinya sebagai tempat yang dekat, nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak.

Di pedesaan, masjid memiliki posisi yang sangat strategis. Hampir setiap kampung memiliki masjid atau musala yang menjadi pusat kehidupan keagamaan masyarakat. Dari masjid terdengar azan, berlangsung pengajian, pendidikan Al-Qur’an, kegiatan Ramadan, hingga berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan.

Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan: apakah anak-anak merasa masjid adalah rumah mereka juga?

Pertanyaan ini sederhana, tetapi memiliki makna yang sangat besar.Selama ini, sebagian kita masih melihat anak di masjid dengan kacamata kekhawatiran. Anak dianggap mudah gaduh, berlari, bercanda, atau mengganggu kekhusyukan jamaah. Akibatnya, tanpa disadari, masjid menjadi ruang yang terasa penuh larangan bagi anak.

Padahal, anak-anak memang sedang belajar mengenal dunia. Mereka belum memiliki kemampuan mengendalikan diri seperti orang dewasa. Jika sejak kecil mereka dibiasakan datang ke masjid, mengenal imam, bertemu jamaah, belajar Al-Qur’an, dan merasakan suasana persaudaraan di masjid, maka pengalaman itu akan menjadi bagian penting dari pembentukan karakter mereka.

Masjid ramah anak bukan berarti masjid kehilangan kesakralannya. Sebaliknya, masjid justru sedang menyiapkan generasi yang kelak akan menjaga kesucian, kemakmuran, dan keberlanjutan masjid. Jangan sampai kita terlalu sibuk menjaga ketenangan masjid hari ini, tetapi kehilangan generasi yang akan mengisinya di masa depan.

Masjid Pedesaan Harus Menjadi Ruang Tumbuh dan berkembang untuk anak anak. Mereka adalah aset masa depan yang perlu mendapatkan sentuhan energi masjid. Masjid di desa mempunyai keunggulan yang tidak selalu dimiliki masjid di perkotaan.

Hubungan sosial masyarakat relatif lebih dekat. Takmir mengenal jamaah, orang tua mengenal guru mengaji, dan anak-anak tumbuh dalam lingkungan sosial yang saling mengenal.Modal sosial tersebut harus dikembangkan menjadi ekosistem masjid yang ramah anak.

Masjid dapat menyediakan kegiatan sederhana tetapi konsisten: tadarus anak, taman pendidikan Al-Qur’an, kajian anak dan remaja, permainan edukatif Islami, perpustakaan kecil, kegiatan Ramadan, lomba keagamaan, bakti sosial, hingga kegiatan kebersihan lingkungan masjid.

Tidak semuanya membutuhkan anggaran besar. Yang dibutuhkan adalah kemauan, kreativitas, dan kesediaan orang dewasa untuk memberikan ruang kepada anak-anak. Masjid juga dapat menjadi tempat anak belajar kepemimpinan. Anak-anak bisa dilibatkan dalam kegiatan kebersihan, pengelolaan acara, pembacaan doa, menjadi pembawa acara sederhana, atau kegiatan sosial.

Dengan demikian, mereka tidak hanya diajari tentang masjid, tetapi juga diberi pengalaman memiliki masjid. Mengubah Cara Pandang Orang DewasaMewujudkan masjid ramah anak pada akhirnya bukan hanya persoalan menyediakan fasilitas.

Lebih jauh dari itu, diperlukan perubahan cara pandang orang dewasa. Mereka agar memiliki pandangan yang sama terhadap kehadiran anak anak di masjid.

Jangan sampai yang dimunculkan stigmatisasi negatif terhadap anak yang ramai dan mengganggu kekhusyukan ibadah. Ketika seorang anak berlari di halaman masjid, jangan selalu melihatnya sebagai gangguan. Bisa jadi, ia sedang menemukan kegembiraan pertamanya bersama masjid.

Ketika anak-anak datang berkelompok, jangan buru-buru mengusir mereka. Justru arahkan mereka dengan pendekatan yang mendidik.Tentu saja, anak tetap harus diajarkan adab masjid.

Ramah anak bukan berarti membiarkan segala perilaku tanpa batas. Anak perlu dibimbing agar memahami kebersihan, kesopanan, ketenangan saat salat, dan penghormatan terhadap jamaah.Tegas boleh, tetapi jangan kasar. Mendidik boleh, tetapi jangan menakut-nakuti. Sehingga menjadikan anak jauh dari masjid.

Di sinilah pentingnya keteladanan para takmir, ustaz, imam, orang tua, dan seluruh jamaah sangat dibutuhkan. Dengan demikian mereka akan merasakan nyaman dan bahagia di masjid.

Di tengah perubahan zaman dan derasnya arus informasi digital, anak-anak pedesaan juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Gawai, media sosial, permainan digital, dan berbagai konten internet telah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Masjid tidak boleh hanya menjadi tempat anak belajar membaca Al-Qur’an, kemudian membiarkan pembentukan karakter mereka berlangsung sepenuhnya di luar masjid. Anak-anak membutuhkan tempat untuk bertanya, berdiskusi, bermain, belajar agama, belajar teknologi secara bijak, dan membangun pertemanan yang sehat. Masjid dapat menjadi ruang tersebut.

Dengan demikian, masjid tidak hanya membentuk anak yang mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga anak yang memiliki akhlak, kepedulian sosial, disiplin, tanggung jawab, toleransi, dan kecintaan kepada lingkungan. Dari Masjid untuk Generasi Masa DepanGerakan masjid ramah anak seharusnya menjadi bagian dari agenda besar memakmurkan masjid.

Dewan Masjid Indonesia (DMI), takmir masjid, pemerintah desa, lembaga pendidikan, madrasah, pesantren, TPQ, organisasi kepemudaan, dan masyarakat dapat membangun kolaborasi.Masjid ramah anak dapat dimulai dari hal-hal sederhana:

1). Menyambut anak dengan senyum dan keramahan. 2). Menyediakan ruang atau area kegiatan anak yang aman dan nyaman. 3). Membuat program pendidikan dan kreativitas anak secara rutin. 4). Melibatkan remaja masjid sebagai pendamping dan mentor. 5). Mengajarkan adab masjid dengan pendekatan kasih sayang. 6). Melibatkan orang tua dalam pembinaan anak. 7). Membangun lingkungan masjid yang bersih, sehat, aman, dan inklusif.

Yang paling penting, semua itu dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial. Masjid yang Dicintai Anak Akan Dicintai Generasi Berikutnya.

Kita tentu berharap masjid di pedesaan tidak hanya ramai pada Ramadan atau ketika ada salat Jumat. Kita ingin masjid menjadi pusat kehidupan umat sepanjang waktu.Oleh karena itu keterlibatan kompone masyarakat untuk bersama menggerakkan agar anak anak ke masjid menjadi sangat penting.

Untuk itu, kita harus menanam kecintaan kepada masjid sejak usia dini. Agar rasa cinta yang terpatri dalam hatinya memiliki dampak yang positif untuk masa depan masjid. Anak yang hari ini datang ke masjid bersama ayahnya, belajar mengaji bersama teman-temannya, bermain di halaman masjid, dan mendapatkan senyum dari para jamaah, kelak akan memiliki kenangan yang kuat tentang masjid.

Ketika dewasa, ia akan kembali. Ia mungkin menjadi imam, takmir, guru mengaji, pengurus remaja masjid, atau tokoh masyarakat. Bahkan mungkin menjadi orang yang membangun masjid yang lebih baik bagi generasi sesudahnya.

Maka, masjid ramah anak sesungguhnya bukan sekadar program pelayanan anak. Ia adalah investasi peradaban yang akan menjadikan generasi tumbuh kesadaran semangat beribadah dan memakmurkan masjid. Dari desa, kita bisa memulai gerakan itu. Dari masjid-masjid kecil di tengah kampung, kita menanam benih generasi yang mencintai agama, mencintai masjid, dan mencintai masyarakat.

Dulu masih banyak masjid di desa yang tiap malam ramai dengan anak anak bahkan sampai menginap. Sebab masjid yang hari ini membuka pintunya dengan ramah kepada anak-anak, sesungguhnya sedang membuka pintu masa depan bagi umat.

Sementara banyak kita jumpai di beberapa masjid masih yang kurang bersahabat dengan anak anak. Misalnya ada pesan dari tokoh setempat, agar anak anak sholat jamaahnya di luar ruang utama. Atau pesan lain yang sejenis dengan subtansi mempersempit gerak anak di masjid.

Mari kita wujudkan masjid pedesaan yang tidak hanya megah bangunannya, tetapi juga hangat suasananya; tidak hanya ramai jamaah dewasa, tetapi juga dicintai anak-anak dan remaja. Hal ini sangat penting, mengingat saat ini banyak orang pedesaan yang semangat membangun masjid yang megah dengan biaya milyaran.

Disaat yang sama tidak memiliki konsep membangun generasi yang memakmurkan masjid. Karena sesungguhnya memakmurkan masjid hari ini berarti menyiapkan generasi yang akan memakmurkan masjid esok hari. Mereka yang akan menjadi penerus untuk memakmurkan masjid. (*)

Karawang Mengaji Dibanjiri Ribuan Warga, HUT ke-393 Jadi Momentum Menatap Masa Depan

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Ribuan warga memadati Lapangan Karangpawitan, Kabupaten Karawang, Jumat (4/9/2026) malam. Mereka larut dalam suasana religius melalui Karawang Mengaji, rangkaian peringatan Hari Jadi ke-393 Kabupaten Karawang yang menghadirkan penceramah Ustaz Hanan Attaki.

Bukan sekadar perhelatan keagamaan, Karawang Mengaji menjadi ruang refleksi bersama tentang perjalanan panjang Kabupaten Karawang sekaligus harapan terhadap masa depan daerah.

Ribuan warga dari berbagai wilayah hadir dan mengikuti kegiatan dengan penuh khidmat.Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua DPRD Kabupaten Karawang H. Endang Sodikin, S.Pd.I., S.H., M.H., Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran Pemerintah Kabupaten Karawang, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta masyarakat umum.

Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh mengatakan, Hari Jadi ke-393 tidak semestinya hanya dimaknai sebagai seremoni tahunan.

Menurutnya, bertambahnya usia daerah harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi, memperbaiki berbagai kekurangan, sekaligus memperkuat komitmen membangun Karawang yang lebih maju dan sejahtera.

“Di usia Karawang yang ke-393 tahun ini, kita berharap Karawang semakin maju, masyarakatnya semakin sejahtera, pendidikannya semakin baik, ekonominya semakin kuat, dan kehidupan sosial serta keagamaannya semakin baik,” ujar Bupati.

Ia menegaskan, pembangunan daerah tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi maupun pembangunan fisik, tetapi juga harus berjalan beriringan dengan penguatan kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.

Karena itu, Bupati mengajak masyarakat menjadikan Karawang Mengaji sebagai momentum memperkuat persaudaraan, kebersamaan, serta meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.

“Semoga melalui Karawang Mengaji ini, kita semua mendapatkan keberkahan. Mari kita bersama-sama membangun Karawang dengan semangat kebersamaan, dengan hati yang baik dan niat untuk memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Ustaz Hanan Attaki dalam tausiyahnya mengajak masyarakat untuk tidak menyia-nyiakan usia dan waktu yang telah diberikan Allah SWT.

Menurutnya, kehidupan manusia pada hakikatnya merupakan perjalanan waktu yang terus bergerak dan tidak mungkin diulang kembali. Karena itu, setiap orang perlu menggunakan kesempatan hidup untuk melakukan kebaikan dan memberikan manfaat bagi sesama.

Ia mengingatkan bahwa salah satu bentuk penyesalan terbesar manusia adalah ketika menyadari bahwa waktu dan usia yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan. Pesan tersebut menjadi refleksi penting bagi masyarakat Karawang agar momentum bertambahnya usia daerah tidak hanya dirayakan, tetapi juga diisi dengan semangat memperbaiki diri, memperkuat kepedulian sosial, serta membangun kehidupan masyarakat yang lebih baik. (Liputan: Ahmad Z)

Wartawan Keluhkan Perlakuan Berbeda di Humas Kanwil Kemenag Jabar, Akses Pers Dipertanyakan

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Sejumlah wartawan yang biasa melakukan peliputan di lingkungan Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Barat mengaku kecewa atas perlakuan yang mereka terima seusai acara pelantikan pejabat eselon III dan IV, Kamis (3/9/2026).

Keluhan tersebut muncul ketika sejumlah wartawan hendak mencari informasi tambahan untuk kepentingan pemberitaan dengan mendatangi ruang Humas Kanwil Kemenag Jabar.

Menurut keterangan sejumlah wartawan, saat berada di lobi ruang Humas dan hendak menemui Ketua Tim (Katim) Humas, Sidik, seorang staf Humas berinisial UN datang dan mempersilakan wartawan yang berkepentingan meninggalkan ruangan Humas serta menunggu di ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP).

Arahan tersebut, menurut para wartawan, disampaikan tanpa penjelasan secara rinci mengenai alasan mereka diminta menunggu di ruang PTSP.

Kondisi itu kemudian memunculkan pertanyaan di kalangan wartawan mengenai standar akses awak media ke ruang Humas, terlebih karena mereka datang dalam rangka menjalankan tugas jurnalistik.

Salah seorang wartawan mempertanyakan apakah kebijakan tersebut diberlakukan secara sama kepada seluruh wartawan atau hanya kepada wartawan tertentu.

“Apakah staf bagian Humas tersebut sudah memahami UU Pers Nomor 40 Tahun 1999, khususnya Pasal 18 ayat (1)? Kami tentu berharap jangan sampai ada kebijakan atau tindakan yang justru menghambat wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik,” ujarnya.

Ia juga mempertanyakan adanya dugaan perbedaan perlakuan antara wartawan yang satu dengan lainnya. “Kenapa tidak semua wartawan, melainkan hanya beberapa orang yang diminta menunggu di PTSP, sedangkan wartawan lain masih diperbolehkan berada di ruang Humas? Apakah ini memang kebijakan Humas atau ada instruksi tertentu dari pimpinan?” katanya.

Akses Informasi dan Kemerdekaan Pers

Para wartawan mengingatkan bahwa Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers memberikan jaminan terhadap kemerdekaan pers.Pasal 4 ayat (3) UU Pers menyatakan bahwa untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan serta informasi.

Sementara itu, Pasal 18 ayat (1) UU Pers mengatur ketentuan pidana terhadap pihak yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3).

Karena itu, menurut para wartawan, persoalan tersebut tidak semata-mata menyangkut penggunaan ruang kerja Humas, tetapi juga perlu dilihat dalam konteks hubungan profesional antara lembaga pemerintah dengan insan pers.

“Kebebasan pers adalah bagian penting dalam demokrasi. Kami berharap hubungan antara wartawan dan Kanwil Kemenag Jabar tetap berjalan baik, terbuka, profesional, dan saling menghormati fungsi masing-masing,” ujar wartawan tersebut.

Dedi Asikin: Wartawan Jangan Disamakan dengan Pengguna PTSP

Pandangan lebih tegas disampaikan wartawan senior H. Dedi Asikin. Ia mengaku sejak awal diterapkannya sistem Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), dirinya sudah tidak setuju apabila wartawan diarahkan atau diperlakukan sama dengan masyarakat yang datang untuk memperoleh pelayanan administrasi.

“Dari dulu juga saya mah tidak setuju wartawan di-PTSP-keun,” tegas Dedi.

Menurutnya, PTSP memiliki fungsi sebagai mekanisme pelayanan publik, sedangkan aktivitas jurnalistik memiliki fungsi dan kepentingan yang berbeda.

“PTSP mah buat pelayanan publik, UU Nomor 25 Tahun 2009. Wartawan mah KIP, UU Nomor 14 Tahun 2008. Salah tafsir PTSP itu, latah,” ujarnya.

Dedi menilai perlu ada pemahaman yang proporsional mengenai perbedaan antara pelayanan publik, keterbukaan informasi publik, dan fungsi jurnalistik.

“Harus diperhatikan Humas. Jangan disamakan publik dengan wartawan. Beda fungsi, beda misi,” katanya.

Menurut Dedi, wartawan yang datang ke badan publik untuk melakukan peliputan tidak dapat serta-merta diposisikan sama dengan masyarakat yang datang untuk mengurus pelayanan administrasi.

Namun demikian, ia juga mengakui bahwa setiap lembaga memiliki tata tertib dan mekanisme pengelolaan ruang kerja yang perlu dihormati.

“Kalau memang ada aturan mengenai akses ke ruang kerja Humas, sampaikan secara terbuka dan berlaku untuk semua. Jangan sampai wartawan mendapatkan perlakuan yang berbeda-beda tanpa penjelasan,” ujarnya.

KIP Bukan Berarti Semua Informasi Bebas DiaksesDedi juga menekankan bahwa keterbukaan informasi publik tidak berarti seluruh informasi dan seluruh ruang kerja badan publik dapat diakses tanpa batas.

Menurutnya, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP) telah mengatur jenis informasi yang wajib diumumkan, informasi yang tersedia setiap saat, serta informasi yang dikecualikan. Karena itu, menurut Dedi, persoalan utamanya adalah memastikan mekanisme pelayanan informasi dan hubungan dengan wartawan berjalan secara jelas, transparan, dan tidak diskriminatif.

“Badan publik dalam keterbukaan informasi publik wajib melayani dan memberikan informasi sesuai ketentuan. Tetapi kalau ada informasi atau ruang yang memang memiliki pembatasan, tentu harus ada dasar dan penjelasannya. Jangan sampai mekanisme PTSP justru dipahami sebagai penghalang bagi wartawan ketika menjalankan fungsi jurnalistik,” pungkasnya.

Humas Diminta Berikan Penjelasan

Sejumlah wartawan berharap Humas Kanwil Kemenag Jawa Barat memberikan penjelasan mengenai standar atau ketentuan akses wartawan ke ruang Humas. Kejelasan tersebut dinilai penting agar tidak muncul kesan adanya perlakuan berbeda terhadap awak media yang datang untuk menjalankan tugas jurnalistik.

Bagi insan pers, hubungan dengan lembaga pemerintah idealnya dibangun berdasarkan komunikasi terbuka, profesionalitas, serta penghormatan terhadap fungsi masing-masing.

Wartawan menjalankan fungsi kontrol sosial dan membutuhkan akses terhadap sumber informasi untuk kepentingan pemberitaan. Di sisi lain, badan publik juga memiliki tata kelola, prosedur pelayanan, serta aturan mengenai akses informasi yang harus dipatuhi.

Karena itu, komunikasi yang terbuka dinilai menjadi jalan terbaik agar tata kelola pelayanan di lingkungan Kanwil Kemenag Jabar tidak menimbulkan kesalahpahaman antara petugas Humas dan wartawan.

Hingga berita ini ditulis, pihak Kanwil Kemenag Jawa Barat belum memberikan penjelasan mengenai alasan sejumlah wartawan diminta menunggu di ruang PTSP maupun mengenai dugaan adanya perbedaan perlakuan tersebut.

Redaksi Aswajanews.id membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada pihak Kanwil Kemenag Jawa Barat, Ketua Tim Humas, maupun staf Humas terkait. Klarifikasi akan dimuat secara proporsional sebagai bagian dari prinsip keberimbangan dan kode etik jurnalistik.(Team/Red)

Kejari Karawang Sita Uang Rp42,5 Miliar Hasil Dugaan Korupsi Penyaluran KPR Fiktif BTN ke PT BAS

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Tumpukan uang senilai Rp237 miliar mencuri perhatian dalam konferensi pers pengungkapan kasus dugaan korupsi penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) fiktif Bank Tabungan Negara (BTN) ke PT BAS, yang digelar Kejaksaan Negeri (Kejari) Karawang, Kamis (3/9/2026) sore.

Uang tersebut diperlihatkan sebagai barang bukti dalam perkara yang berkaitan dengan proyek perumahan Arta Sedayu Residence dan Citra Swarna Grande.

Pemandangan tumpukan uang pecahan rupiah yang memenuhi meja ruang konferensi pers itu menjadi perhatian awak media. Nilai Rp237 miliar yang selama ini mungkin hanya terlihat dalam pemberitaan atau laporan keuangan, kali ini diperlihatkan secara fisik.

Untuk membayangkan besarnya jumlah tersebut, jika uang Rp237 miliar digunakan sebesar Rp1 miliar setiap tahun, uang itu secara hitungan baru akan habis dalam waktu 237 tahun.

Angka tersebut menunjukkan betapa besar nilai barang bukti yang diperlihatkan dalam perkara dugaan korupsi tersebut.

Dalam pengungkapan kasus ini, Kejari Karawang telah menetapkan empat tersangka, yakni VY, HJ, OH, dan HH. Penetapan tersangka dilakukan setelah tim penyidik melaksanakan serangkaian pemeriksaan dan mengantongi sejumlah barang bukti.

Namun, ada satu hal yang masih menjadi pertanyaan publik: bagaimana dugaan korupsi penyaluran KPR fiktif tersebut bisa terjadi hingga melibatkan nilai uang yang begitu besar?

Perkara ini tentu menjadi perhatian, mengingat penyaluran KPR berkaitan langsung dengan akses masyarakat terhadap hunian dan kepercayaan publik terhadap lembaga perbankan.

Rp237 miliar, ketika masih berupa angka mungkin sulit dibayangkan. Tetapi ketika ditumpuk dalam bentuk uang di atas meja, barulah terasa sebesar apa jumlah tersebut.

(Liputan: Ahmad Z)

Mendidik dengan Hati dan Cinta untuk MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa

0

Pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari guru kepada murid. Pendidikan adalah proses menumbuhkan manusia. Di dalamnya ada keteladanan, kesabaran, perhatian, doa, dan yang paling utama adalah hati dan cinta.

Inilah yang menjadi ruh pendidikan di MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa. Sebuah lembaga pendidikan formal keagamaan yang berdiri di tengah tengah masyarakat Rengaspendawa Kec Larangan Kab Brebes.

Madrasah bukan hanya tempat anak-anak belajar membaca, menulis, berhitung, dan memahami berbagai ilmu pengetahuan. Madrasah adalah tempat tumbuhnya karakter, akhlak, spiritualitas, keberanian, kemandirian, dan rasa percaya diri. Karena itu, mendidik anak tidak cukup hanya dengan metode dan kurikulum. Anak membutuhkan guru yang hadir dengan hati dengan ketulusan dan cinta.

Guru yang Mengajar dengan Hati

Setiap anak datang ke madrasah dengan latar belakang dan karakter yang berbeda. Ada anak yang cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang percaya diri, ada pula yang masih malu untuk berbicara. Ada yang mudah diarahkan, tetapi ada juga yang membutuhkan perhatian lebih.

Di sinilah pentingnya guru mendidik dengan hati.

Guru tidak hanya melihat nilai yang tertulis di buku rapor, tetapi juga melihat proses perjuangan seorang anak. Ketika seorang anak belum mampu membaca dengan lancar, misalnya, tugas guru bukan sekadar mengatakan bahwa ia belum bisa. Guru perlu bertanya: mengapa ia belum bisa dan bagaimana cara membantunya agar mampu? Sehingga pada saatnya anak akan menemukan titik kesadaran sebagai murid.

Pendekatan seperti inilah yang melahirkan pendidikan yang manusiawi.

Cinta Membuat Anak Merasa Dihargai

Cinta dalam pendidikan bukan berarti memanjakan anak. Cinta adalah kemampuan guru untuk memahami, membimbing, mengarahkan, dan menegur dengan cara yang tetap menjaga martabat anak.

Senyum guru di pagi hari, sapaan ketika anak datang, kesediaan mendengarkan cerita mereka, serta apresiasi terhadap usaha kecil yang mereka lakukan, semuanya dapat menjadi energi positif.

Terkadang kita lupa bahwa kalimat sederhana dari seorang guru dapat membekas sangat lama dalam ingatan seorang anak.

“Kamu pasti bisa.”
“Jangan takut mencoba.”
“Ibu/Bapak Guru bangga dengan usahamu.”

Kalimat-kalimat sederhana itu dapat menumbuhkan keberanian dan keyakinan dalam diri anak.

Madrasah sebagai Rumah Kedua

MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa harus terus dibangun sebagai madrasah yang ramah anak, ramah guru, dan dekat dengan masyarakat.

Madrasah yang baik bukan hanya terlihat dari gedung dan fasilitasnya, tetapi dari suasana yang hidup di dalamnya. Ada senyum, salam, doa, kedisiplinan, kebersamaan, dan keteladanan.

Anak harus merasa bahwa madrasah adalah rumah keduanya. Tempat mereka belajar tanpa rasa takut. Tempat mereka boleh bertanya. Tempat mereka dapat melakukan kesalahan lalu belajar memperbaikinya.

Dalam tradisi pendidikan Islam, ilmu tidak pernah dipisahkan dari adab. Karena itu, pendidikan di madrasah harus mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga lembut hatinya, baik akhlaknya, kuat spiritualitasnya, dan bermanfaat bagi sesama.

Keteladanan Lebih Kuat daripada Nasihat

Anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan guru, tetapi terutama dari apa yang mereka lihat.

Jika guru mengajarkan disiplin, guru harus menunjukkan kedisiplinan. Jika guru mengajarkan sopan santun, guru harus menjadi teladan dalam kesantunan. Jika guru mengajarkan kejujuran, guru harus memperlihatkan kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.

Begitu pula dengan cinta kepada ilmu, cinta kepada agama, cinta kepada orang tua, dan cinta kepada sesama.

Keteladanan guru adalah kurikulum yang hidup.

Karena itu, membangun MI Sirojut Tholibin tidak cukup hanya dengan memperbaiki sistem pembelajaran. Kita juga perlu memperkuat budaya keteladanan di antara seluruh warga madrasah.

Kolaborasi Guru, Orang Tua, dan Masyarakat

Pendidikan anak tidak mungkin berhasil jika hanya dibebankan kepada guru.

Orang tua memiliki peran yang sangat besar. Apa yang diajarkan di madrasah harus mendapatkan penguatan di rumah. Begitu pula masyarakat memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Karena itu, MI Sirojut Tholibin perlu terus membangun kolaborasi yang kuat antara madrasah, keluarga, dan masyarakat.

Ketiganya harus berjalan dalam satu visi: memberikan pendidikan terbaik bagi generasi.

Menyalakan Cahaya dari Rengaspendawa

Nama Sirojut Tholibin mengandung semangat tentang cahaya bagi para pencari ilmu. Maka semangat tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan madrasah.

Dari Rengaspendawa, kita ingin lahir anak-anak yang mencintai ilmu, menghormati guru dan orang tua, memiliki akhlakul karimah, mencintai Al-Qur’an, serta siap menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri keislamannya.

Teknologi boleh berkembang. Zaman boleh berubah. Tetapi pendidikan yang berakar pada akhlak, kasih sayang, dan keteladanan tidak boleh kehilangan tempat.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan tentang seberapa banyak anak mampu menghafal pelajaran, tetapi tentang manusia seperti apa yang tumbuh setelah mereka melewati proses pendidikan tersebut.

Maka mari kita terus merawat MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa dengan ilmu, keteladanan, hati, dan cinta.

Karena anak-anak bukan sekadar peserta didik.
Mereka adalah amanah yang perlu kita rawat dan jaga dengan sebaik-baiknya.
Mereka adalah aset masa depan bangsa.

Dan dari tangan guru-guru yang mendidik dengan hati dan cinta, insyaallah akan tumbuh generasi yang menjadi cahaya bagi agama, keluarga, masyarakat, dan bangsa.

FKDT dan Penguatan Pendidikan Keagamaan di Brebes

0

Pendidikan tidak semata-mata tentang mencerdaskan pikiran. Pendidikan juga tentang membentuk karakter, membangun akhlak, menanamkan nilai, dan mempersiapkan generasi agar mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Dalam konteks itulah keberadaan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) di Kabupaten Brebes memiliki posisi yang sangat strategis.

Madrasah Diniyah hadir di tengah masyarakat, mengisi ruang pendidikan keagamaan yang tidak selalu dapat dipenuhi oleh pendidikan formal. Anak-anak belajar Al-Qur’an, fikih, akidah, akhlak, tajwid, bahasa Arab, dan berbagai khazanah keislaman. Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, Madin menjadi ruang pembiasaan ibadah, sopan santun, penghormatan kepada orang tua dan guru, serta pembentukan karakter.

Karena itu, memperkuat Madin berarti ikut memperkuat masa depan generasi Brebes.

FKDT Harus Menjadi Penggerak Mutu

Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) tidak cukup hanya menjadi organisasi yang menaungi lembaga MDT. FKDT harus menjadi motor peningkatan mutu pendidikan diniyah.

Peran tersebut mencakup peningkatan kompetensi guru, penguatan manajemen lembaga, pengembangan kurikulum, pembinaan kepala MDT, penguatan administrasi, serta pengembangan kreativitas dan prestasi santri.

Hal ini sejalan dengan peran FKDT yang selama ini didorong untuk meningkatkan mutu pengelolaan MDT melalui pembinaan manajemen, profesionalitas guru, administrasi pembelajaran, dan pengembangan bakat peserta didik.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan FKDT bukan hanya seberapa banyak lembaga yang terhimpun, tetapi seberapa baik kualitas pendidikan yang diterima anak-anak di Madin.

Perbup 12 Tahun 2025: Momentum Besar

Brebes sebenarnya telah memiliki pijakan regulasi yang penting.

Peraturan Bupati Brebes Nomor 12 Tahun 2025 tentang Fasilitasi Pengembangan Madrasah Diniyah Takmiliyah mengatur pembinaan, pemberdayaan, rekognisi, afirmasi, pembentukan Tim Fasilitasi Pengembangan MDT, pengawasan, peran masyarakat, hingga pendanaan.

Regulasi tersebut jangan berhenti sebagai dokumen administratif. Perbup harus diterjemahkan menjadi kebijakan nyata yang dirasakan oleh lembaga, guru, santri, dan masyarakat.

Inilah pekerjaan bersama antara pemerintah daerah, Kementerian Agama, FKDT, DPRD, pemerintah desa, pengelola MDT, ulama, orang tua, dan masyarakat.

Regulasi harus melahirkan ekosistem.

Integrasi Pendidikan Formal dan Diniyah

Anak-anak Brebes hidup dalam dua ruang pendidikan: pendidikan formal dan pendidikan keagamaan di masyarakat.

Keduanya tidak semestinya dipertentangkan.

Sekolah memberikan pengetahuan umum dan berbagai kompetensi akademik. Madin memperkuat pendidikan agama, akhlak, dan karakter.

Keduanya dapat berjalan berdampingan.

Karena itu, gagasan integrasi pendidikan formal dengan pendidikan diniyah harus terus diperkuat. Bahkan Kemenag Brebes pada 2026 telah menerbitkan imbauan agar peserta didik mengikuti pembelajaran MDT dan mendorong koordinasi antara lembaga formal dengan MDT.

Ini adalah momentum untuk membangun ekosistem pendidikan Brebes yang saling melengkapi.

Guru Madin Adalah Pejuang Pendidikan

Ada satu kelompok yang tidak boleh dilupakan dalam pembicaraan tentang Madin: guru diniyah.

Mereka mengajar ketika sebagian anak-anak mungkin sudah lelah setelah mengikuti pendidikan formal. Mereka hadir di sore hari, di ruang-ruang kelas sederhana, masjid, mushala, atau rumah pendidikan masyarakat.

Tetapi dari ruang-ruang sederhana itulah karakter generasi dibentuk.

Karena itu, peningkatan kualitas Madin harus berjalan bersamaan dengan perhatian terhadap kesejahteraan dan profesionalitas guru.

Guru Madin harus terus diberikan kesempatan mengikuti pelatihan, peningkatan kompetensi, pengembangan metode pembelajaran, dan penguatan literasi digital.

Jangan sampai kita menuntut pendidikan agama berkualitas, tetapi lupa memperkuat orang-orang yang berada di garis depan pendidikan tersebut.

Kurikulum Diniyah Harus Tetap Berakar, tetapi Terbuka terhadap Perubahan

Madin memiliki kekayaan tradisi keilmuan yang luar biasa. Banyak lembaga menggunakan kitab-kitab yang telah lama menjadi bagian dari tradisi pesantren.

Kekayaan tersebut harus dijaga.

Namun, menjaga tradisi bukan berarti menutup pintu terhadap perubahan.

Kurikulum MDT perlu terus dikaji agar tetap memiliki akar keilmuan Islam yang kuat sekaligus mampu menjawab tantangan zaman.

Literasi digital, pendidikan karakter, wawasan kebangsaan, kesehatan sosial, lingkungan, dan kemampuan menghadapi perkembangan teknologi dapat menjadi bagian dari penguatan kompetensi santri tanpa menghilangkan ruh pendidikan diniyah.

FKDT Brebes sendiri telah memulai diskusi mengenai penguatan dan pengkajian kurikulum MDT sebagai bagian dari upaya memperbaiki kualitas pembelajaran.

Rekognisi Harus Diikuti Peningkatan Mutu

Salah satu perkembangan positif adalah semakin kuatnya pengakuan terhadap keberadaan pendidikan diniyah.

Pengakuan terhadap ijazah MDTA dalam kebijakan SPMB Brebes 2026, misalnya, menunjukkan adanya ruang yang semakin besar bagi pendidikan diniyah dalam ekosistem pendidikan daerah.

Tetapi rekognisi harus menjadi motivasi untuk meningkatkan mutu.

Jangan sampai pengakuan hanya berhenti pada nilai administratif.

Madin harus mampu membuktikan bahwa lulusan pendidikan diniyah memiliki pengetahuan agama yang baik, akhlak yang kuat, kemampuan sosial, serta kesiapan menghadapi kehidupan modern.

FKDT sebagai Jembatan

Ke depan, FKDT harus mengambil posisi sebagai jembatan strategis.

Jembatan antara MDT dan pemerintah.

Jembatan antara pendidikan formal dan nonformal.

Jembatan antara guru dan kebijakan pendidikan.

Jembatan antara pesantren dan masyarakat.

Dan yang tidak kalah penting, jembatan antara tradisi pendidikan Islam dengan tuntutan zaman.

Dengan posisi tersebut, FKDT tidak hanya menjadi organisasi administratif, tetapi menjadi kekuatan perubahan pendidikan keagamaan di Brebes.

Membangun Generasi Brebes

Pada akhirnya, tujuan besar pendidikan diniyah bukanlah sekadar menghasilkan anak yang mampu membaca kitab atau menghafal materi keagamaan.

Tujuan akhirnya adalah membentuk manusia yang berilmu, beriman, berakhlak, memiliki kepedulian sosial, cinta tanah air, dan mampu hidup berdampingan dalam masyarakat yang terus berubah.

Itulah mengapa pendidikan diniyah harus ditempatkan sebagai bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia Brebes.

Pemerintah memiliki regulasi.

FKDT memiliki jaringan.

Guru memiliki ketulusan pengabdian.

Ulama memiliki otoritas moral.

Orang tua memiliki tanggung jawab pendidikan.

Dan masyarakat memiliki kekuatan gotong royong.

Jika semua kekuatan tersebut dipertemukan, Brebes memiliki modal besar untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual dan moral.

Madin bukan pelengkap pendidikan. Madin adalah bagian penting dari ekosistem pendidikan masyarakat.

Maka tugas kita bersama bukan sekadar mempertahankan keberadaan Madin, tetapi menguatkan kelembagaannya, meningkatkan kualitas gurunya, memperbaiki tata kelolanya, mengembangkan kurikulumnya, dan memastikan pendidikan diniyah mendapatkan tempat yang layak dalam pembangunan Kabupaten Brebes.

Karena masa depan Brebes tidak hanya ditentukan oleh seberapa tinggi anak-anak kita menguasai teknologi.

Tetapi juga oleh seberapa kuat mereka memiliki iman, ilmu, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama.

FKDT bergerak, Madin menguat, pendidikan keagamaan tumbuh, dan generasi Brebes menjadi lebih berkarakter. (*)

Memperkuat Komunitas Alumni Pesantren: Jalan Strategis Menuju Konfercab NU Brebes 2027

0

Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (Konfercab NU) Brebes 2027 bukan sekadar agenda rutin organisasi. Ia merupakan momentum penting untuk membaca kembali perjalanan NU Brebes sekaligus menentukan arah gerak organisasi dalam menghadapi perubahan zaman.

Karena itu, pembicaraan menuju Konfercab seharusnya tidak berhenti pada siapa yang akan menjadi Rais Syuriyah atau Ketua Tanfidziyah. Jauh lebih penting adalah pertanyaan: NU Brebes seperti apa yang ingin kita bangun setelah Konfercab 2027?

Pertanyaan tersebut membawa kita pada satu kekuatan besar yang selama ini hidup di tengah masyarakat: komunitas alumni pesantren.

Alumni Pesantren Adalah Kekuatan Kultural NU

NU lahir dan tumbuh dari rahim pesantren. Tradisi keilmuan, sanad keilmuan, adab, khidmah, dan penghormatan kepada ulama merupakan bagian dari DNA perjuangan NU.

Maka, alumni pesantren sesungguhnya bukan sekadar orang-orang yang pernah mondok. Mereka adalah bagian dari jaringan sosial yang membawa nilai-nilai pesantren ke berbagai ruang kehidupan.

Ada alumni yang menjadi guru, kepala madrasah, dosen, pengusaha, birokrat, aktivis sosial, profesional, politisi, maupun tokoh masyarakat.

Mereka tersebar di desa-desa, kecamatan, lembaga pendidikan, pemerintahan, dunia usaha, dan berbagai komunitas.

Jika jaringan tersebut dapat dikonsolidasikan secara sehat, NU Brebes memiliki modal sosial yang luar biasa besar. Tentu hal ini menjadi harapan kita bersama.

Persoalannya bukan kekurangan potensi

Persoalannya adalah belum seluruh potensi tersebut terhubung dalam sebuah ekosistem gerakan yang kuat. Sehingga ibarat kata bagai buih di tengah lautan.

Dari Silaturahmi Menuju Konsolidasi

Selama ini, hubungan alumni pesantren sering kali berhenti pada silaturahmi. Silaturahmi tentu penting. Tetapi untuk membangun organisasi yang kuat, silaturahmi harus ditingkatkan menjadi konsolidasi.

Konsolidasi bukan berarti menyeragamkan semua orang. Konsolidasi berarti mempertemukan potensi yang berbeda dalam satu visi pengabdian.

Alumni pesantren dari berbagai latar belakang pesantren dapat membangun forum komunikasi bersama. Forum tersebut tidak harus menjadi struktur baru yang berhadap-hadapan dengan struktur NU.

Sebaliknya, ia harus menjadi jembatan penguatan ekosistem NU.

Dari forum tersebut dapat lahir berbagai agenda: penguatan pendidikan pesantren, pengembangan madrasah diniyah, kaderisasi pemuda, literasi digital, penguatan ekonomi umat, kegiatan sosial, hingga pengembangan kapasitas kepemimpinan.

Dengan begitu, alumni tidak hanya hadir saat NU membutuhkan massa, tetapi ikut menghadirkan solusi ketika masyarakat membutuhkan NU.

Konfercab Jangan Hanya Bicara Figur. Salah satu penyakit organisasi adalah terlalu cepat membicarakan figur sebelum membicarakan gagasan.

Konfercab 2027 jangan sampai terjebak dalam pertanyaan: “Siapa yang akan memimpin?” Pertanyaan tersebut penting, tetapi bukan satu-satunya. Pertanyaan yang lebih fundamental adalah:

“Agenda besar apa yang harus dikerjakan oleh NU Brebes lima tahun ke depan?”

Dari pertanyaan itu barulah kita bicara tentang kepemimpinan.

Sebab pemimpin yang baik bukan hanya mereka yang mendapatkan dukungan, tetapi mereka yang mampu membawa organisasi bekerja dengan sistem, membangun kader, memperkuat lembaga, merawat hubungan dengan pesantren, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Konfercab harus menghasilkan visi, agenda, dan sistem kerja, bukan sekadar menghasilkan struktur kepengurusan. Sehingga forum tertinggi NU tingkat Kabupaten tersebut akan menjadi tonggak untuk mewujudkan kekuatan NU secara masif.

Kaderisasi Harus Menjadi Agenda Utama

NU Brebes membutuhkan kader yang memahami tradisi sekaligus mampu membaca masa depan. Alumni PD PKPNU yang sudah tersebar dimana mana bisa menjadi kekuatan yang untuk untuk memperkuat masa depan NU.

Oleh karena itu sesungguhnya Kaderisasi tidak cukup dilakukan menjelang Konfercab. Kaderisasi harus menjadi pekerjaan sepanjang masa.

Alumni pesantren adalah salah satu pintu masuk yang sangat strategis.

Generasi muda alumni pesantren perlu diberikan ruang aktualisasi. Jangan hanya ditempatkan sebagai pelaksana kegiatan, tetapi diberi kesempatan untuk berpikir, merancang program, memimpin kegiatan, dan mengambil tanggung jawab organisasi.

Generasi senior memberikan keteladanan dan pengalaman. Generasi muda membawa energi dan inovasi. Keduanya harus dipertemukan dalam satu ekosistem kaderisasi.

Regenerasi bukan mengganti yang lama dengan yang baru. Regenerasi adalah mempertemukan pengalaman dengan energi baru.

Membangun “Peta Kekuatan” Alumni Pesantren

NU Brebes perlu mulai memikirkan sesuatu yang sederhana tetapi strategis: dengan mempelajari peta potensi alumni pesantren.

Berapa banyak alumni pesantren yang ada di Brebes? Pesantren mana saja yang menjadi basis pendidikan mereka? Apa bidang keahlian mereka?

Di mana mereka sekarang mengabdi? Siapa yang bergerak di bidang pendidikan?
Siapa yang bergerak di bidang ekonomi?
Siapa yang memiliki kompetensi teknologi?
Siapa yang memiliki pengalaman organisasi?
Siapa yang memiliki jaringan sosial yang luas?

Deretan pertanyaan tersebut harus kita jawab bersama dengan komprehensif sebagai modal awal untuk menjadikan NU Brebes hebat dan kuat.

Pendataan tersebut bukan untuk kepentingan politik praktis, melainkan untuk membangun basis informasi kader dan potensi umat.

Organisasi modern membutuhkan data.

Tanpa data, konsolidasi sering kali hanya berdasarkan perkiraan.
Dengan data, NU dapat menyusun program secara lebih tepat sasaran.

Politik Organisasi Harus Berbasis Khidmah

Menuju Konfercab 2027, dinamika internal tentu akan muncul. Perbedaan pilihan dan pandangan merupakan bagian dari dinamika organisasi.

Namun, politik organisasi NU harus tetap berada dalam koridor ukhuwah, adab, musyawarah, dan khidmah. Hal ini menjadi garis besar bersama, karena sesungguhnya prinsip prinsip tersebut menjadi landasan yang kuat untuk menggerakkan NU dimana-mana.

Jangan sampai perbedaan pilihan dalam Konfercab membuat hubungan antarkiai, antarpesantren, antarkader, dan antarkomunitas menjadi renggang.

Kita harus belajar bahwa kompetisi dalam memilih kepemimpinan adalah bagian dari proses, sedangkan persaudaraan adalah nilai yang harus dijaga jauh setelah proses itu selesai. Siapa pun yang nanti mendapatkan amanah harus mampu merangkul semua.

Dan siapa pun yang belum mendapatkan amanah harus tetap memiliki ruang untuk berkhidmah. NU terlalu besar untuk dipersempit menjadi sekadar pertarungan kepentingan lima tahunan.

Menuju NU Brebes yang Lebih Terorganisasi

Konfercab 2027 semestinya menjadi momentum melakukan konsolidasi besar-besaran. Sehingga secara hirarkis struktural NU dalam konteks jam’iyyah dan jamaah berjalan dengan penuh keseimbangan.

Struktur NU harus kuat. Karena kekuatan struktural menjadi penggerak organisasi yang secara importatatif akan melaksanakan program. Kekuatan struktural didukung dengan SDM yang profesional dan kompeten dalam melaksanakan tugas dan amanat oraganisasi.

Alumni pesantren harus dirangkul. Kader muda harus diberi ruang. Dan masyarakat harus merasakan manfaat kehadiran NU.

Jika semua itu dapat dibangun, maka NU Brebes tidak hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga kuat secara sosial dan kultural. Hal inilah yang dibutuhkan untuk NU kedepan.

Saatnya Menyatukan EnergiBrebes membutuhkan NU yang mampu bergerak melampaui rutinitas.

Kita membutuhkan organisasi yang mampu menjawab persoalan pendidikan, kemiskinan, ekonomi umat, kepemudaan, transformasi digital, kesehatan sosial, dan berbagai persoalan masyarakat lainnya.
Untuk itu, seluruh potensi harus disatukan. Alumni pesantren adalah salah satunya.

Maka menjelang Konfercab NU Brebes 2027, mari kita mulai membangun ruang komunikasi yang lebih luas. Duduk bersama, berbicara bersama, dan merumuskan masa depan NU Brebes secara bersama.

Bukan untuk membangun kelompok baru.

Bukan untuk mempertajam sekat. Tetapi untuk memperkuat rumah besar NU. Hal ini sangat penting, agar polarisasi politik dalam NU menjelma menjadi kekuatan dalam berjamiyah dengan tetap berpegang kepada khithah NU.

Karena masa depan NU Brebes tidak cukup dibangun oleh satu dua orang. Semuanya ikut terlibat secara bersama untuk berkhidmat di NU.

Masa depan NU Brebes harus dibangun oleh jaringan kader, pesantren, alumni, ulama, generasi muda, dan seluruh warga NU yang memiliki semangat yang sama: berkhidmah.

Pada akhirnya, Konfercab 2027 bukan tentang memenangkan seseorang. Konfercab adalah tentang memenangkan gagasan, memperkuat organisasi, dan memastikan NU Brebes tetap relevan bagi masyarakat.

Dan salah satu langkah strategis menuju ke sana adalah: memperkuat komunitas alumni pesantren dalam rangka menuju Konfercab NU Brebes mendatang. (*)

Pengurus Ranting NU Gandasuli Ngumpul Bareng, Sukses Pasang Plang NU dan Banom

0

BREBES (Aswajanews.id) — Suasana penuh kehangatan dan rasa syukur menyelimuti kediaman Ustaz Edi Purwanto di sebelah timur Mie Ayam Ceker Colotan pada Rabu malam (2/9/2026).

Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Kelurahan Gandasuli, Kabupaten Brebes, menggelar syukuran akbar atas rampungnya pembuatan dan pemasangan plang kebanggaan NU beserta Badan Otonom (Banom). Acara yang dipadati jajaran pengurus NU hingga pimpinan banom ini berlangsung penuh khidmat sejak pukul 21.00 WIB.

Pertemuan tersebut menjadi bukti nyata solidnya pergerakan warga Nahdliyin di tingkat basis dalam menjaga syiar dan kedaulatan organisasi.

Rangkaian acara dibuka langsung oleh Sekretaris Ranting NU Gandasuli, Mas Khafid Rouf Ghofur, S.Com. Suasana makin kekhusyukan saat pembacaan tahlil dipimpin oleh Wakil Tanfidziyah Ustaz Suroto, yang kemudian disempurnakan lewat doa tahlil oleh Rais Syuriyah Ustaz H. Abdul Hamid Muhtadi, S.Pd.I.

Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyah Ranting NU Gandasuli, Ustaz Lebe Muhemin Mutholib, tak bisa menyembunyikan rasa bangga dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat.

Sementara itu, Ustaz H. Abdul Hamid Muhtadi menyampaikan mauizah hasanah yang membakar semangat pengabdian para pengurus. Beliau mengingatkan bahwa berjuang di NU adalah kehormatan besar dan ladang pahala yang tak terputus.

“Kita bersyukur ditakdirkan oleh Allah bisa berkhidmah di NU dengan pikiran, tenaga, dana, doa, dan sebagainya. Insyaallah, sebagai amal saleh akan dibalas oleh Allah di dunia dan akhirat,” tegas Ustaz Hamid.Ia juga menekankan pesan menohok bagi seluruh kader: ber-NU adalah tempat mengabdi dan bersedekah jiwa raga, bukan wadah untuk mencari keuntungan atau “mencari hidup” di dalam organisasi!

Transparansi Tanpa Kompromi: Dana Maulid Tembus Rp12 Juta!

Tidak hanya syukuran, momentum ini juga dijadikan ajang pembuktian akuntabilitas dan transparansi pengurus dalam mengelola amanah umat. Bendahara Ranting NU Gandasuli, RT Syaikhul Hadi, membagikan laporan keuangan tertulis secara terbuka yang merinci seluruh aliran dana kegiatan.

Proyek Plang NU & Banom: Biaya pembuatan hingga pemasangan plang resmi menghabiskan anggaran hampir Rp5,5 juta. Konsumsi All-Out: Luar biasanya, seluruh sajian makanan ringan, minuman, hingga santapan utama dalam acara syukuran ini ditanggung penuh 100% oleh sang tuan rumah, Ustaz Edi Purwanto!

Acara ini dihadiri jajaran pimpinan lintas badan otonom yang memperlihatkan kompaknya kekuatan NU Gandasuli. Tampak hadir di antaranya: Sahabat Hakim (Ketua GP Ansor Gandasuli), Sahabat Tohidin (Ketua Banser Gandasuli), Ibu Hajah Sunkilah, S.Pd. (Ketua Muslimat NU Gandasuli), Sahabat Bazar (Ketua IPNU Gandasuli), Sahabat Veti (Perwakilan Fatayat NU Gandasuli), Ustaz Zamroni (Katib Syuriyah Gandasuli), Mbak Harti (Bendahara Jam’iyyah Manaqib LDNU Ranting Gandasuli).

Langkah nyata Ranting NU Gandasuli ini menjadi bukti bahwa kerja keras, kepedulian, dan transparansi di tingkat akar rumput mampu melahirkan gerakan organisasi yang hidup, transparan, dan membawa keberkahan bagi masyarakat luas! (Red)

SD Negeri Kaliwlingi 01 Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW

0

BREBES (Aswajanews.id) – Keluarga besar SD Negeri Kaliwlingi 01 Brebes menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Jumat (4/9/2026) atau 22 Rabiul Awal 1448 H.

Kegiatan tersebut berlangsung di gedung sekolah dan diikuti oleh keluarga besar sekolah dengan penuh khidmat.Acara dimulai sekitar pukul 07.00 WIB dengan pembacaan hadroh.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pembacaan kitab Barzanji yang diselingi lantunan sholawat hingga pembacaan doa sebagai penutup rangkaian Barzanji. Selanjutnya, kegiatan diisi dengan untaian hikmah yang disampaikan oleh Solichin, S.Pd.I., salah seorang guru SD Negeri Kaliwlingi 01.

Dalam tausiyahnya, Solichin mengajak seluruh keluarga besar sekolah, khususnya para siswa, untuk senantiasa giat belajar, patuh kepada orang tua dan guru, menyayangi teman, serta bersemangat mengikuti berbagai kegiatan positif yang diselenggarakan sekolah.

Menurutnya, berbagai kegiatan sekolah, termasuk peringatan Maulid Nabi, tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk memperoleh pengetahuan dan menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada para siswa.

“Melalui peringatan Maulid Nabi, anak-anak diajarkan untuk mencintai Nabi Muhammad SAW yang telah membawa risalah ajaran agama yang diridai Allah SWT, yaitu agama Islam,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Selain rangkaian kegiatan keagamaan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di SD Negeri Kaliwlingi 01 juga diisi dengan santunan kepada anak yatim piatu dan anak-anak kurang mampu. Santunan tersebut berasal dari salah seorang donatur yang merupakan wali murid SD Negeri Kaliwlingi 01.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperkuat kecintaan siswa kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menumbuhkan kepedulian, kebersamaan, dan semangat berbagi kepada sesama. (Red)

Kelompok Tani Muda Makmur Gelar Syukuran Pembangunan RJIT dan Pembuatan Rubuha di Ujungjaya

0

SUMEDANG (Aswajanews.id) – Kelompok Tani Muda Makmur menggelar syukuran atas pembangunan Rehabilitasi Jaringan Irigasi Tersier (RJIT) sekaligus pembuatan Rumah Burung Hantu (Rubuha) secara swadaya bersama kelompok tani di Desa Ujungjaya, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Kegiatan yang berlangsung di lokasi persawahan Tengah tersebut turut dihadiri UPT Pertanian, Satpel Cimanuk Hulu Cipanas, perwakilan kelompok tani lainnya, jajaran Polsek Ujungjaya, Koramil 1009/Tomo, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Ujungjaya, serta masyarakat setempat.

Pembuatan Rubuha dilakukan sebagai salah satu upaya kelompok tani dalam mengendalikan hama tikus secara alami. Burung hantu diharapkan dapat menjadi predator alami yang membantu menekan populasi tikus di sekitar areal persawahan.

Ketua Kelompok Tani Muda Makmur, Momo Tarma, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pertanian, Pemerintah Kabupaten Sumedang, serta Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sumedang atas bantuan pembangunan RJIT yang telah diberikan.

“Dengan adanya bantuan RJIT ini, kami sebagai kelompok tani sangat terbantu, terutama dalam memenuhi kebutuhan pengairan lahan pertanian. Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pertanian, Pemerintah Kabupaten Sumedang, dan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Sumedang atas bantuan yang telah diberikan,” ujar Momo Tarma.

Menurut Momo, pembangunan RJIT sangat dibutuhkan untuk mendukung kelancaran sistem pengairan lahan pertanian. Namun, masih terdapat jaringan irigasi tersier yang membutuhkan pembangunan dan belum tersentuh program perbaikan.

“Masih ada jaringan irigasi tersier sepanjang lebih dari 500 meter yang belum tersentuh pembangunan. Kami berharap ke depan ini bisa menjadi perhatian, karena sangat diperlukan untuk memaksimalkan sistem pengairan sekitar 25 hektare lahan pertanian,” ungkapnya.

Momo menambahkan, bantuan RJIT yang telah diterima memberikan manfaat besar bagi kelompok tani. Pihaknya berharap pembangunan jaringan irigasi berikutnya dapat lebih banyak dilakukan melalui pola swakelola dengan melibatkan kelompok tani.

“Kami berharap setiap bantuan pembangunan dapat dilaksanakan secara swakelola. Karena bagi kelompok tani, pekerjaan ini bukan semata-mata mengutamakan keuntungan, tetapi yang lebih penting adalah kualitas dan kuantitas pekerjaan. Dengan begitu, bangunan yang dibuat dapat memiliki kualitas yang baik dan bisa dinikmati dalam waktu yang lama,” katanya.

Selain pembangunan RJIT, pembuatan Rubuha juga menjadi bagian dari upaya Kelompok Tani Muda Makmur menerapkan pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan. Keberadaan burung hantu diharapkan mampu membantu mengurangi populasi tikus yang dapat mengancam tanaman padi.

Kegiatan syukuran tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara kelompok tani, pemerintah, Satpel Cimanuk Hulu Cipanas, UPT Pertanian, PPL, aparat keamanan, dan masyarakat dalam mendukung kemajuan sektor pertanian di Desa Ujungjaya.

Dengan perbaikan jaringan irigasi serta pengendalian hama secara alami, Kelompok Tani Muda Makmur berharap produktivitas pertanian dapat terus meningkat. Di sisi lain, keberadaan infrastruktur irigasi yang lebih baik diharapkan mampu memberikan manfaat bagi para petani secara berkelanjutan.
(Wem)

Google search engine
0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan

Recent Posts