Beranda Nusantara Masjid Jami Gandasuli Tertua Setelah Masjid Agung Brebes

Masjid Jami Gandasuli Tertua Setelah Masjid Agung Brebes

2459
0
Masjid Jami Gandasuli terletak di Jalan Maulana Malik Ibrahim No 3 RT 01 RW 02 Kelurahan Gandasuli Brebes didirikan oleh Haji Asy'ari bin Haji Ansor sekitar sekitar tahun 1900 M.

BREBES (Aswajanews.id) – Masjid Jami Gandasuli yang berada di Jalan Maulana Malik Ibrahim No. 3, RT 01/RW 02, Kelurahan Gandasuli, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, merupakan salah satu masjid bersejarah di wilayah Pantura Brebes.

Lokasinya tidak jauh dari pusat Kota Brebes, sekitar 4 kilometer dari Alun-Alun Kabupaten Brebes. Masjid ini dikenal sebagai masjid tertua kedua di antara Sungai Pemali dan Sungai Kaligangsa, setelah Masjid Agung Kabupaten Brebes.

Berdasarkan sejarah yang berkembang di masyarakat, Masjid Jami Gandasuli didirikan oleh Haji Asy’ari bin Haji Ansor sekitar awal abad ke-19, atau sekitar tahun 1900 Masehi.

Haji Asy’ari membangun masjid tersebut di atas tanah miliknya dan menggunakan biaya pribadi. Untuk menunjang kemakmuran masjid, ia juga mewakafkan sejumlah sawah miliknya.

Tidak hanya membangun sarana ibadah, Haji Asy’ari juga mendatangkan seorang ulama dari Desa Sindanglaut, Cirebon, Jawa Barat, yakni Kyai Amari bin Kyai Salka, untuk menjadi imam sekaligus membina kehidupan keagamaan masyarakat Gandasuli.

Kyai Amari bahkan diberi rumah dan tanah serta ditanggung kebutuhan hidupnya oleh Haji Asy’ari. Hal tersebut menjadi bagian penting dari sejarah perkembangan kehidupan keagamaan masyarakat Gandasuli.

Hingga kini, berbagai tradisi keagamaan yang telah berlangsung sejak dahulu masih dipertahankan di Masjid Jami Gandasuli.

Di antaranya pemukulan bedug dan kentongan sebelum azan lima waktu, pembacaan puji-pujian sambil menunggu iqamah, serta dzikir dan doa setelah salat.

Pada salat Subuh juga dilaksanakan qunut. Sementara setiap malam Jumat, setelah dzikir dan doa, jamaah melaksanakan tahlil yang dilanjutkan pembacaan Maulid Al-Barzanji serta doa yang diiringi grup hadroh.

Masjid juga menyelenggarakan pengajian rutin setiap malam Kamis. Seusai dzikir dan doa salat Subuh, jamaah laki-laki dan perempuan mengikuti tadarus Al-Qur’an bersama.

Pada hari-hari besar Islam, pengurus masjid menggelar pengajian umum. Tradisi pemukulan bedug dan takbiran juga tetap dilaksanakan semalam suntuk pada malam Idul Fitri dan Idul Adha, mulai setelah Magrib hingga menjelang pelaksanaan salat Id.

Selama bulan Ramadan, kegiatan diisi dengan salat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, pengajian kuliah Ashar, serta pembagian takjil berupa teh, air putih dan makanan ringan bagi jamaah yang akan melaksanakan salat Magrib.

Tradisi Sosial dan Kebersamaan Jamaah

Masjid Jami Gandasuli tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan sosial masyarakat.

Setelah salat Idul Fitri maupun Idul Adha, jamaah melakukan salam-salaman yang dilanjutkan tahlil dan doa serta makan ketupat bersama.

Pada malam tanggal 20 Ramadan, masyarakat juga membawa berkat ke masjid setelah pelaksanaan Tarawih dan Witir. Berkat tersebut kemudian dibagikan kepada jamaah setelah tahlil dan doa.

Kegiatan sosial lainnya antara lain penyembelihan hewan kurban setelah salat Idul Adha, pembagian nasi bungkus kepada jamaah salat Subuh setiap Jumat, serta penyediaan air minum berupa air putih, kopi dan teh berikut makanan bagi jamaah setelah dzikir dan doa salat Jumat.

Pengurus juga mengelola kotak Jumat serta kotak yatim piatu dan dhuafa yang dihitung setelah pelaksanaan salat.

Ada pula tradisi pengambilan air wudu setiap Jumat Kliwon yang dilakukan sejumlah warga.

Dalam pengelolaan masjid, pengurus secara rutin menggelar musyawarah bulanan. Sementara sebelum azan salat Jumat, jamaah mendapatkan pengumuman mengenai berbagai informasi, termasuk laporan dan kegiatan yang berkaitan dengan keuangan masjid.

Berbagai tradisi tersebut menunjukkan bahwa Masjid Jami Gandasuli bukan sekadar bangunan tempat ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sejarah, pendidikan keagamaan, tradisi dan kehidupan sosial masyarakat Kelurahan Gandasuli.

Keberlangsungan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadi bagian penting dalam menjaga identitas dan warisan keagamaan masyarakat Brebes.

(Nuridin/Abdul Hamid Muhtadi)


Eksplorasi konten lain dari News

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.