Sosok pakar pendidikan keagamaan Islam yang tidak pernah lelah memperjuangkan eksistensi pendidikan Islam, khususnya Pondok Pesantren dan Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), salah satunya adalah Prof. Dr. Suwendi.
Bagi saya, Prof. Dr. Suwendi bukan sekadar seorang akademisi. Ia adalah sosok yang mampu mempertemukan dunia pesantren, tradisi keilmuan Islam, dan kebijakan pendidikan negara dalam satu tarikan napas.
Perjuangannya tidak berhenti pada ruang akademik, tetapi hadir dalam berbagai ikhtiar untuk memastikan pendidikan keagamaan tetap mendapatkan tempat yang layak dalam perjalanan bangsa. Sebagai seorang pejuang pendidikan, kapasitas akademiknya tentu tidak perlu diragukan.
Berbagai karya ilmiah, baik dalam bentuk buku maupun artikel, menjadi bukti bahwa gagasan yang disampaikannya memiliki landasan akademik yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan di hadapan publik.
Pertemuan saya dengan beliau terjadi dalam Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT). Saat itu, beliau menjadi salah satu pembina yang secara aktif memberikan kontribusi pemikiran bagi masa depan Madrasah Diniyah Takmiliyah di Indonesia. Dari berbagai diskusi yang saya ikuti, tampak jelas bahwa beliau tidak melihat MDT sekadar sebagai lembaga pendidikan pelengkap.
MDT ditempatkan sebagai bagian penting dari sistem pendidikan keagamaan yang memiliki kontribusi besar dalam membentuk karakter, akhlak, dan pemahaman keagamaan generasi bangsa.Melalui pemikiran dan gagasannya, MDT terus didorong untuk mampu menghadapi berbagai tantangan sekaligus memanfaatkan peluang yang muncul seiring dengan perkembangan kebijakan pemerintah.
Sebagai alumni pesantren, Prof. Dr. Suwendi sangat fasih berbicara tentang pesantren dan Madrasah Diniyah. Dua institusi pendidikan tersebut seolah menjadi bagian dari dunianya. Ia mampu menjelaskan berbagai persoalan pesantren dan MDT dari A sampai Z.Bahkan, bagi saya, beliau ibarat “kamus berjalan” tentang pesantren dan pendidikan diniyah. Seluk-beluk kehidupan pesantren, tradisi keilmuan, pendidikan keagamaan, hingga relasinya dengan kebijakan negara dapat dijelaskan secara akademik sekaligus kontekstual.
Pesantren sebagai Basis Pemikiran
Yang menarik, meskipun memiliki kapasitas akademik yang kuat, Prof. Dr. Suwendi tidak pernah meninggalkan basis pemikiran ulama pesantren.Dunia pesantren yang menempa dirinya justru menjadi fondasi dalam membangun gagasan pendidikan.
Ia mampu menggabungkan tradisi keilmuan pesantren dengan pendekatan akademik dalam satu visi kebangsaan: membangun Indonesia yang berpendidikan, berkarakter, religius, dan bermartabat. Pandangan itulah yang antara lain mewarnai kontribusinya dalam memperjuangkan lahirnya peringatan Hari Santri Nasional.
Jauh sebelum lahirnya Undang-Undang tentang Pesantren, saya pernah mengikuti paparan beliau di hadapan DPR RI mengenai cluster pendidikan keagamaan. Paparan tersebut disampaikan secara sistematis dan detail.
Berbagai jenis pendidikan di bawah Kementerian Agama RI dipetakan dengan jelas, termasuk persoalan kebijakan dan dukungan anggarannya. Bagi saya, pemikiran semacam itu menjadi salah satu bagian penting dari proses panjang menuju lahirnya regulasi yang lebih berpihak kepada pesantren dan pendidikan keagamaan.
Advokasi yang Tidak Kenal Lelah
Perjuangan Prof. Dr. Suwendi untuk pendidikan keagamaan tidak berhenti di ruang seminar atau forum akademik.Saya merasakan sendiri bagaimana berbagai gagasan itu muncul dalam perjalanan dan percakapan informal.
Ketika suatu kali perjalanan bersama beliau dari Cirebon menuju Brebes, banyak cerita yang disampaikan tentang ikhtiar dan advokasi pendidikan keagamaan di hadapan para pejabat negara dan pengambil kebijakan.
Di situlah terlihat bahwa kapasitas akademiknya tidak hanya digunakan untuk menulis buku atau artikel ilmiah. Pengetahuan tersebut menjadi modal penting ketika berhadapan dengan birokrasi dan para pengambil keputusan.
Ia berbicara dengan data, tetapi tidak kehilangan akar tradisi. Ia membawa argumentasi akademik, tetapi tetap memahami realitas pendidikan keagamaan di lapangan.
Ketika pesantren diterpa berbagai persoalan, termasuk kasus bullying dan kekerasan seksual, Prof. Dr. Suwendi juga hadir memberikan perspektif yang berimbang.
Ia berusaha menjelaskan persoalan tersebut melalui pendekatan literasi dan khazanah turats. Dari sana, ia membantu memetakan secara lebih jernih batas antara ta’dzim, pendidikan, disiplin, dan tindakan yang dapat masuk ke wilayah asusila maupun pelanggaran hukum pidana.
Penjelasan tersebut tidak hanya disampaikan dalam ruang halaqah, diskusi, atau seminar. Beberapa tulisannya juga hadir di media daring sehingga dapat dibaca masyarakat luas. Narasinya relatif mudah dipahami, meskipun persoalan yang dibahas tidak sederhana. Di sinilah terlihat karakter seorang akademisi yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memahami fakta dan realitas lapangan.
Membaca Pemikiran Ulama Pesantren
Sebagai alumni pesantren, Prof. Dr. Suwendi juga memiliki kemampuan membaca dan mengembangkan khazanah pemikiran pesantren dalam konteks pendidikan modern. Salah satu buktinya adalah karya yang mengeksplorasi pemikiran KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dalam bidang pendidikan.
Bagi saya, karya semacam itu penting. Sebab, membicarakan pendidikan pesantren tidak cukup hanya dengan menggunakan teori pendidikan modern. Ada khazanah keilmuan pesantren yang harus dibaca, dipahami, dan ditempatkan secara proporsional dalam konteks kekinian.
Gagasan Progresif untuk MDT
Gagasan progresif tentang pendidikan selalu muncul ketika beliau mendapatkan amanah di bidang pendidikan. Saat berada di Subdit MDT, misalnya, beliau pernah merancang gagasan ekspansi MDT ke lembaga pendidikan formal melalui pola pendidikan yang terintegrasi. Termasuk pula gagasan pengembangan pendidikan diniyah di lingkungan lembaga pemasyarakatan.
Meskipun sebagian gagasan tersebut pada saat itu masih dalam tahap rancangan, pemikiran itu telah menjadi inspirasi bagi para pengelola MDT di daerah untuk membangun kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk dinas pendidikan setempat. Ini menunjukkan satu hal penting: MDT tidak boleh berjalan sendiri. MDT membutuhkan sinergi lintas lembaga dan dukungan kebijakan agar mampu berkembang tanpa kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan keagamaan.
Ketika Full Day School Mengancam Ruang MDT
Ketika kebijakan Full Day School (FDS) digulirkan pemerintah, Prof. Dr. Suwendi tidak mengambil posisi yang semata-mata konfrontatif.Dengan pendekatan yang moderat, ia berusaha mencari jalan tengah agar kebijakan pendidikan nasional tetap berjalan, tetapi keberadaan Madrasah Diniyah Takmiliyah tidak menjadi korban.
Kritiknya terhadap kebijakan tersebut disertai argumentasi, data tentang keberadaan MDT, serta penjelasan mengenai peran strategis MDT dalam membangun masa depan anak bangsa. Bagaimanapun, keberadaan MDT sangat dibutuhkan dalam membentuk generasi yang memiliki pengetahuan keagamaan sekaligus akhlak. MDT juga memiliki posisi penting sebagai salah satu lembaga transmisi ilmu agama Islam yang hidup di tengah masyarakat.
Melalui berbagai tulisannya, beliau menawarkan solusi agar MDT tetap bertahan dan berkembang, salah satunya melalui penguatan sinergitas lintas kementerian dan lembaga.
Akademisi yang Tetap Berpijak pada Pesantren
Dari berbagai pengalaman berinteraksi dengan Prof. Dr. Suwendi, saya melihat ada satu benang merah yang kuat: ia tidak pernah mempertentangkan pesantren dengan akademik, dan tidak pula mempertentangkan tradisi dengan perubahan. Justru keduanya dipertemukan. Pesantren menjadi basis nilai dan tradisi keilmuan. Akademik menjadi instrumen untuk membaca perubahan.
Sementara kebijakan negara menjadi ruang perjuangan agar pendidikan keagamaan memperoleh posisi yang lebih kuat dan proporsional. Karena itu, pengukuhan Prof. Dr. Suwendi sebagai guru besar di UIN Jakarta bukan hanya layak dipandang sebagai pencapaian pribadi.
Lebih dari itu, momentum tersebut patut menjadi kebanggaan bagi dunia pendidikan keagamaan, khususnya pesantren dan Madrasah Diniyah Takmiliyah.
Semoga gelar dan amanah akademik tersebut semakin memperkuat langkah beliau dalam memperjuangkan pendidikan keagamaan di Nusantara.
Selamat dan sukses atas pengukuhan Prof. Dr. Suwendi sebagai Guru Besar UIN Jakarta. Semoga terus lahir gagasan-gagasan besar untuk pesantren, Madrasah Diniyah Takmiliyah, dan pendidikan keagamaan Indonesia. Pendidikan keagamaan bukan sekadar pelengkap sistem pendidikan nasional. Ia adalah bagian penting dari ikhtiar membangun manusia Indonesia yang berilmu, berakhlak, dan bermartabat. (*)
























