Yang paling nyaman, santai, dan enak adalah dekat, bersilaturahmi, dan ngobrol dengan kiai dan santri. Ini pengalaman waktu kami, Pokja Wartawan Kemenag, mengadakan acara Tour de Pesantren pada tahun 2013.
Ada 40 pondok pesantren di Jawa Barat dan DKI Jakarta yang kami kunjungi. Perjalanan darat itu memakan waktu hampir satu bulan.
Salah satu pondok pesantren yang kami kunjungi adalah Darul Inayah di Kampung Cipeusing, Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.
Di gerbang pondok, kami disambut kiai, sejumlah santri, dan mantunya, Ny. Nita Karnita, SE. Dengan nyanyian Sholawat Badar dan tabuhan rebana, kami diantar ke belakang mengelilingi area pondok.
Di belakang pondok ada lahan yang ditanami berbagai macam sayuran, seperti kentang, kol, kembang kol, timun, dan lain-lain. Ada juga peternakan jamur merang.
Di bawah kebun sayur-mayur terdapat lembah dengan kedalaman sekitar 30 meter. Di lembah itu ada dua kolam atau balong yang ditanami ikan mas, nila, dan lele. Di samping kolam mengalir sebuah sungai kecil yang mengairi kolam itu.
Di sebelahnya lagi ada bangunan yang katanya menjadi tempat istirahat para santri ketika lelah mengurusi kebun sayur. Di depan sebuah kobong, kami duduk-duduk bercengkerama.
KH Asep Sodikin Ismail, pimpinan pondok itu, bercerita bahwa pondok tersebut didirikannya bersama ayahnya, KH Yoyo Toha.
Sang ayah datang dari Garut tahun 1942. Lalu bergabung dengan Laskar Hizbullah, berjuang untuk mencapai kemerdekaan melawan tentara Jepang.
Ayahnya kemudian diberi lahan tanah oleh DKM seluas 60 bata. Di lahan itu KH Yoyo mendirikan sebuah tajug (musala). Lalu mulai mengajar ngaji Al-Qur’an kepada anak-anak sekitar Kampung Cipeusing.
Menurut KH Asep, sang ayah bercita-cita ingin membangun pesantren khusus untuk anak-anak yatim dan dhuafa. Cita-cita itu kesampaian pada tahun 1960 dengan ditandai berdirinya sebuah pesantren yang diberi nama Darul Inayah.
Nama itu diambil dari bahasa Arab yang berarti rumah pertolongan atau rumah perlindungan.
Pada awal beroperasi, santrinya ada 30 orang. Semuanya anak yatim dan miskin. Mereka berasal dari Jakarta, Palembang, Cianjur, dan Bekasi.
Belakangan berdatangan dari berbagai tempat, termasuk dari Bandung. Ada yang diantar Satpol PP setelah ditemukan hidup sebagai pemulung atau pengemis, lalu diantar ke sini.
“Kami tak pernah menolak sepanjang identitasnya jelas,” ujar KH Asep.
Sekarang ini ada 181 orang santri, mulai usia SD sampai SMA. Semua belajar dengan gratis.
Setiap hari kami memasak 50 kilogram beras. Semuanya, termasuk ustaz (guru ngaji) dan keluarganya, ikut makan.
Ada donasi tetap setiap bulan berupa 25 karung beras dan uang Rp4 juta.
Ketika kami tanya dari mana menutupi kekurangan-kekurangan biaya, KH Asep sambil menengadahkan tangannya bilang, “Dari atas.”
Yang pasti, alhamdulillah, kami tetap hidup dan di samping memberi ilmu juga memberi makan sekitar 200 orang setiap harinya.
Eh, ketika sedang ngobrol ngalor-ngidul, tiba-tiba seorang rois (ketua santri) memberi tahu ada tamu yang mau bertemu kiai.
Kiai meninggalkan kami sekitar 15 menit. Ketika kembali, wajahnya tampak sumringah. Di tangan kanannya ada sebuah amplop cokelat cukup tebal. Kalau isinya uang, mungkin sekitar Rp5 jutaan.
“Begini,” katanya. “Barusan itu tamu menyerahkan amplop ini. Katanya ia dititipi seseorang untuk menyerahkan amplop ini kepada Pak Kiai. Lucunya, orang itu mengaku tidak kenal dengan yang menitipi. Cuma pesannya dari hamba Allah.”
“Itulah makna yang saya katakan rezeki dari atas.”
Putra kiai, Hamzah Zainal, SE, menyebut selain dari hasil pertanian dan ikan di kolam, mereka juga mengajak santri dan santriwati setiap malam melakukan salat tahajud berjamaah.
Jam 03.00 alarm di tiap kamar kobong berbunyi dan semua bergegas ke masjid. Kami salat tahajud sampai waktu Subuh tiba.
Tiap hari kami juga melakukan salat Dhuha berjamaah. Lalu puasa sunah Senin-Kamis.
“Kami berdoa kepada Allah agar diberi hidup dan kehidupan,” cerita Hamzah didampingi istrinya.
Mereka berdua bekerja sebagai ASN di Pemkab Bandung Barat.
Subhanallah, inilah ketulusan hati seorang kiai.
Kami ini sudah dijamu makan. Waktu mau pulang, diselipkan pula ke tangan saya sebuah amplop sambil berbisik, “Berbagi rezeki,” dan tak lupa cipika-cipiki.
Eh, di luar, di belakang mobil, kami sudah melihat dua karung sayur-mayur teronggok.
“Lumayan para wartawan bilih pada ngaraosan hasil tatanen barudak santri.”
Ini namanya bala ketitik, balaka combrang, beuteung bucitrik berekat meunang.
Sampai-sampai Kepala Seksi Pakapontren Kemenag KBB, Ony Suryana, berdecak kagum. (*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.













