Beranda Nasional Aktual 181 Santri Makan Rezeki dari Langit

181 Santri Makan Rezeki dari Langit

183
0

Tahun 2013, Tabloid Mingguan Pokja News bersama Kelompok Kerja Wartawan Kementerian Agama mengadakan acara Tour de Pesantren. Sekitar 40 pondok pesantren di Jawa Barat dan DKI Jakarta kami kunjungi. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Darul Inayah di Kampung Cipeusing, Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Pemimpin pesantren, KH Asep Sodikin Ismail, bersama sejumlah santri dan menantunya, Ny. Nita Karnita, SE, menyambut kami di pintu gerbang pondok. Lalu, kami diarak ke belakang pondok dengan diiringi shalawat Badar dan tabuhan rebana khas Arabia.
Di belakang, kami diajak berkeliling melihat suasana pondok.

Di sana terdapat lahan yang ditanami berbagai macam sayuran, seperti wortel, kentang, kol, kembang kol, kubis, timun, dan lain-lain.
Di bawah kebun sayuran terdapat lembah sedalam sekitar 30 meter. Di lembah itu terdapat dua buah kolam atau balong yang ditanami ikan mas, nila, dan lele. Di pinggir kolam mengalir sungai kecil yang mengairi kolam tersebut.

Di seberang sana, di bawah bukit batu, terdapat saung tempat para santri beristirahat ketika lelah setelah mengurus ladang sayur-mayur. Di sana juga terdapat peternakan jamur merang.

Setelah berkeliling, kami mampir di depan sebuah kobong untuk bercengkerama santai. KH Asep Sodikin bercerita bahwa pondok tersebut didirikan bersama ayahnya, KH Yoyo Toha, pada tahun 1960 dan diberi nama Darul Inayah. Nama itu dalam bahasa Arab berarti rumah pertolongan atau rumah perlindungan.

KH Yoyo Toha datang dari Garut pada tahun 1942. Ia kemudian bergabung dengan Laskar Hizbullah dan ikut berjuang untuk mencapai kemerdekaan melawan tentara Jepang.

Pada tahun 1955, KH Yoyo Toha diberi tanah oleh DKM seluas 60 meter persegi. Di lahan tersebut, KH Yoyo membangun sebuah tajug atau mushala. Kemudian, ia mengajar mengaji Al-Qur’an kepada anak-anak di sekitar Kampung Cipeusing.

Menurut KH Asep Sodikin Ismail, KH Yoyo Toha bercita-cita mendirikan pesantren khusus untuk anak-anak yatim dan dhuafa. Pada awal berdirinya, santrinya berjumlah sekitar 30 orang yang berasal dari Jakarta, Bekasi, dan Cianjur.

Seiring berjalannya waktu, jumlah santri terus bertambah. Ada pula santri yang datang diantar Satpol PP. Mereka menemukan anak-anak yang hidup menggelandang, menjadi pemulung atau pengemis, lalu dibawa ke pesantren ini.

โ€Semua kami terima, tidak ada yang ditolak sepanjang identitasnya jelas,” kata KH Asep.
Sekarang, jumlah santri mencapai 181 orang, mulai usia sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.

Semua kebutuhan mereka digratiskan, mulai dari makan dan berbagai kebutuhan lainnya. Bagi santri yang bersekolah, pihak pesantren membayarkan SPP-nya, bahkan hingga mereka melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.

Ketika libur Lebaran, para santri juga diberi ongkos mudik. Setahun sekali mereka diajak berwisata ke Dufan atau Ancol.

Setiap hari, pesantren memasak sekitar 50 kilogram beras untuk makan para santri, ustaz, dan keluarga, yang jumlahnya sekitar 200 orang.

Ketika kami bertanya dari mana biaya untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut, Pak Kiai sambil menadahkan tangan menjawab, “Dari atas.”
Maksudnya, dari Allah.

Kata putranya, Abdul Hamzah Zainal, SE, setiap malam para santri diajak melaksanakan salat tahajud berjamaah. Sekitar pukul tiga dini hari, alarm di setiap kamar kobong berbunyi. Semua santri bergegas menuju masjid.

Salat tahajud berjamaah berlangsung hingga menjelang salat Subuh. Setiap pagi, para santri juga melaksanakan salat sunah Dhuha berjamaah di setiap kelas.

“Di atas sajadah kami tengadah memohon kepada Allah hidup dan penghidupan,” tutur Ustaz Hamzah, sedikit memelas.

Ketika sedang berbincang-bincang, tiba-tiba masuk Rois, ketua santri, menyerahkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal. Katanya, itu titipan dari seorang hamba Allah.
Jika isinya uang pecahan Rp100.000, mungkin jumlahnya sekitar Rp5 juta.

“Inilah yang dimaksud rezeki dari atas,” kata Kiai.

Inilah bentuk ketulusan hati seorang kiai.
Waktu kami pamit pulang, setelah disuguhi makan, saat bersalaman Pak Kiai menyelipkan sebuah amplop ke tangan saya sambil berbisik, “Bagi rezeki.” Tak lupa, kami pun cipika-cipiki.
Di luar, di depan mobil, sudah teronggok dua karung sayur-mayur.

โ€Bilih para wartawan palay ngaraosan hasil tatanen barudak santri,” ucap lirih Ustaz Hamzah sambil mengantar kami sampai ke luar.

โ€Ini namanya bala-bala, kwetiau, balaka, combrang. Beuteung bucitrik, berekat meunang,” kata Yanto Supriyanto, wartawan Pokja News. (*)


Eksplorasi konten lain dari News

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan