Tradisi

Wisata Ziarah ke Makam Mbah Jamirah-Jaminten Sesepuh Gandasuli Brebes

WISATA ziarah atau pilgrimage tourism adalah wisata atau traveling yang dilakukan individu atau kelompok untuk tujuan ziarah atau untuk menjalankan bagian dari kepercayaan spiritual atau agamanya, untuk misionari, atau untuk kesenangan spiritual.

Menurut data World Tourism Organization, situs-situs ziarah masih menjadi tujuan utama para wisatawan seluruh dunia. Setiap tahun sekitar 350 juta wisatawan dari berbagai macam agama dan kepercayaan mendatangi situs-situs ziarah di seluruh dunia.  Dari ritual Haji ke Mekah bagi Muslim, hingga ritual penyucian diri dengan mandi di Sungai Gangga bagi umat Hindu India.

Terkait dengan ziarah ini Syekh Sulhawi el-Gamel dalam bukunya menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan ziarah sesungguhnya terkandung misi lain, yaitu sebuah bentuk ajakan kepada ummat Islam dan ummat beragama lainnya, bahwa suatu saat kita ini pasti akan  wafat seperti mereka yang berada di alam barzah. Dengan itu kita wajib harus selalu mengingat mati, dan selalu harus berusaha menyiapkan bekal hidup di alam kubur kelak. Kita jangan lengah dengan kehidupan duniawi yang serba indah dan mewah ini. Hal ini seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang diperbolehkan ziarah kubur dengan tujuan supaya ingat akan mati dan mendoakan arwah yang sudah ada di alam barzah.

Bagi anda yang gemar melakukan ziarah, tidak lengkap rasanya jika belum mengunjungi Makam Mbah Jamirah-Jaminten. Lokasinya tidak jauh dari Masjid Jami Gandasuli di Kelurahan Gandasuli Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes Jawa Tengah Indonesia. Tidak terlalu sulit untuk menjangkau tempat itu karena tidak terlalu jauh (sekitar 4 Km) dari pusat kota (Alun-alun Kabupaten Brebes). Jarak yang paling mudah menuju lokasi adalah 2 Km kearah Selatan dari kantor DPRD Kabupaten Brebes.

Setiap malam Jumat, di makam itu diadakan pengajian rutin (Yassin, Tawasul, Dzikir, dst) yang dipimpin oleh Ustadz Abdul Hamid Muhtadi.

Asal Usul Desa Gandasuli Brebes

GANDASULI adalah nama dari salah satu kelurahan dalam lingkungan kecamatan Brebes dan terletak di Brebes, Jawa Tengah. Secara kebetulan bahwa ibukota kabupaten termasuk juga dalam daerah kecamatan Brebes. Sebagai kecamatan yang terdapat ibukota kabupaten, kecamatan Brebes tidak kecil peranannya bagi kehidupan pemerintahan di tingkat kabupaten ini.

Letak geografis Desa Gandasuli ialah di sebelah Timur desa Brebes. Sedang batas sebelah utara adalah jalan Raya Daendels (Pantura) yang menghubungkan Brebes-Tegal dan seterusnya dari arah Barat maupun arah timur. Mudahnya letak desa ini tepat di tepi jalan raya yang terkenal Daendels. Sehingga komunikasi dengan luar daerah sangat mudah. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Banjaranyar dan sebelah selatan dengan dukuh Klapasawit yang termasuk wilayah Desa Padasugih.

Seperti yang terdapat didalam desa-desa lain di negeri kita ini, Gandasuli tidak tampak suatu keistimewaan yang menonjol. Kehidupan masyarakat dalam bidang pendidikan, sosial ekonomi, pembangunan boleh dikatakan setarap dengan lain-lain desa terutama dalam wilayah Kecamatan Brebes. Hanya ada satu keistimewaan yang bisa menarik perhatian, telah dikenalnya nama Gandasuli ini sampai keluar daerah, bahkan sampai jauh ke luar daerah kabupaten Brebes.

Keluarga Besar Kyai Amir cucu Kyai Amari bin Kyai Salka saat berziarah di makam mbah Jamirah-Jaminten

Kenyataan bahwa banyak pendatang dari jauh sekedar “nyepi” untuk memohon berkah di makam “mbah Juminten” maupun di makam “mbah Jumirah”. Bermacam-macam tujuan mereka untuk “mengalap” berkah ini, ada yang ingin mendapat rezeki berlimpah, ada pula yang ingin segera naik pangkat atau dapat menduduki jabatan tertentu, ada pula yang ingin mendapat pusaka dan lain-lain. Bermacam-macam pula mereka “nyepi” diantaranya ada yang harus dilakukan dengan cara tafakur tidak tidur semalam suntuk. Konon kabarnya ada juga yang berhasil mendapatkan wahyu, atau bahkan dapat bertemu dengan roh “mbah Juminten” atau “mbah Jumirah” tersebut. Tetapi tidak sedikit pula yang gagal karena ditolak atau tidak kuat menjalankan syarat-syaratnya.

Menurut “Ki Karyad” orang yang dapat digolongkan tua-tua atau sesepuh di Gandasuli (95 th. Pada tahun 1978), yang masih leluhur “Ki Karyad” sendiri. Peninggalan dalang Gandasari ini konon ada seperangkat gamelan (alat musik Jawa) bekas iringan disaat pementasan, dititipkan kepada seorang kepercayaan “Ki Gandasari” di desa Padasugih. Menurut “Ki Karyad “, gamelan yang ada di Padasugih dan disimpan oleh salah seorang pensiunan Guru di sana itulah peninggalan “Ki Gandasari”. Sedang “Ki Karyad” sendiri yang juga seorang dalang tidak bisa merawatnya, sebab semenjak masa mudanya ia sendiri gemar merantau dan pernah mengabdi di dalam Keraton Surakarta Adiningrat/Mangkunegaran. Dan pernah pula bekerja di dalam Keraton Kasepuhan Cirebon.

Ki dalang Gandasari setelah meninggal dikuburkan dekat pohon asam. Dan pohon asam itu hingga kini masih tumbuh kokoh meskipun tampak akan ketuaannya. Demikian tuanya sehingga merupakan satu-satunya pohon yang terbesar dan terimbun di desa Gandasuli. Di makam Ki Gandasari ini sering pula didatangi orang-orang yang “nyepi”. Tidak banyak ceritera orang tentang makam ini, meskipun masih dianggap sebagai makam yang keramat. Pohon asam itulah yang diceriterakan sementara orang adalah sebagai lajernya penduduk Gandasuli. Meskipun cabang atau dahan-dahannya yang tumbuh bebas membuat pemandangan menjadi seram, tidak seseorangpun yang berani mencoba menebang.

Dikatakan oleh “Ki Karyad” bahwa pernah seorang tukang pembuat arang memberanikan diri atas suruhan pemilik tanah pekarangan untuk menebang cabang-cabangnya, tetapi selang beberapa hari setelah peristiwa penebangan itu, si penebang jatuh sakit dan disusul dengan kematiannya. Hal ini diulangi lagi oleh seseorang lain yang tidak mempercayai adanya hubungan penebangan pohon asam dengan meninggalnya orang tersebut. Akhirnya orang kedua inipun mengalami nasib yang sama. Hingga sekarang tidak seorangpun yang berani mengusik pohon itu meskipun diupah berapapun besarnya. Akibatnya pohon itu tumbuh merimbun dan meneduhi daerah sekitar pohon asam itu, sehingga membuat suasana menjadi tampak seram dan angker. Jarang orang berani mendekat pohon itu kecuali mereka yang sudah dengan niat akan “nyepi” di situ.

Dahulu, sebelum penduduk sepadat sekarang ini, pada setiap bulan Maulud terutama di hari Kamis Wage malam Jum`at Kliwon, pohon asam itu didatangi oleh serombongan kera, rombongan kera ini sedemikian banyak sehingga dapat memenuhi dahan-dahan pohon asam itu. Disaat mereka datang tidak ada suara, hanya bergumam seperti suara manusia, dan yang dapat tahu kedatangan merekapun tidak tampak mereka berbondong-bondong. Baru setelah berkumpul mulailah mereka menyuarakan jeritan-jeritan, hiruk-pikuk berteriak-teriak seperti paukan yang menang perang. Kebisingan suara rombongan kera ini dapat didengar semua orang sekitarnya. Tidak sedikit sekali hidup yang menyaksikan kejadian itu. Konon menurut “Ki Karyad” mereka itu sebenarnya manusia juga adalah pasukan dari Surakarta yang akan menuju ke Cirebon. Hanya dalam waktu sebentar merekapun mulai meninggalkan pohon asam itu untuk melanjutkan perjalanan ke arah Barat. Kepergian merekapun mengambil cara seperti mereka datang. Bagi orang-orang yang berumur 65 tahun ke atas dapat dijadikan saksi mata dalam peristiwa – peristiwa itu. Seperti “Ki Karyad” sendiri. “Ki Sakhib” dan lain-lain. sayang hal itu sekarang sudah tidak pernah terjadi, entahla di kelak kemudian hari.

Selanjutnya “Ki Sakhib” yang termasuk pula orang-orang golongan tua telah pula memberikan uraian tentang “mbah Jumirah” dan “mbah Juminten”. Ceritera ini Dia dapatkan dari ceritera orang-orang tua pula secara turun-temurun, jadi tentang kebenarannya hanya Tuhanlah yang maha tahu. Menurut “Ki Sakhib”, dahulu pernah terjadi kekosongan jabatan Bupati di Brebes. Hal ini mengundang  perhatian dari luar daerah. Datanglah dua orang laki-laki kakak-beradik, konon ada yang menyebut asal dari Yogya, ada pula yang mengatakan asal dari Tuban. Di tempat asalnya, mereka telah menduduki jabatan wedana pada saat itu. Tujuan ke Brebes tiada lain untuk mengadu nasib dengan cara “magang” (bekerja sebagai calon Bupati). Dasar nasib belum mujur, sampai di Brebes, lowongan itu telah terisi. Kedua orang laki-laki kakak-beradik yang masing-masing menyebut dirinya “Jumirah” si kakak dan “Juminten” si adik itu singgah di Gandasuli. Berhubung tujuan tidak kesampaian dan akan kembali ke daerah asalnya sudah tidak mungkin, sebab disana mereka telah meletakkan jabatan masing-masing., stelah mengadakan perundingan merekapun pantang untuk menarik keputusan yang telah mereka relakan kepada orang lain. Mereka berdua berniat untuk meningkatkan ilmu yang mereka miliki masing – masing dengan cara masing-masing pula. Jumirah pergi entah kemana tidak satupun yang mengetahui, sedang Juminten tetap tidak mau pergi dari desa Gandasuli. Juminten selalu menonjolkan rasa sosialnya. Pekerjaan sehari-harinya menanak nasi. Sehingga tempat dia menanak dan petilasan itu disebut petilasan atau makam “buyut tungku” (tungku adalah suatu tempat untuk memasak : kompor untuk jaman sekarang). Nasi yang satu kaleng (seperti kaleng susu) ditanak dan dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin atau mereka yang kelaparan. Konon kabarnya nasi yang sedikit itu belum bisa untuk di makan sampai kenyangbagi beberapa orang. Sedangkan keraknya dia ambil dan digunakan untuk pengganti genting sebagai peneduh gubugnya. Dan anehnya biarpun hujan deras sekalipun dengan genting kerak nasi itu juminten tidak akan kehujanan. Pernah sekali peristiwa di kala jalan raya Daendels dibangun, pekerja – pekerja diberi makan oleh juminten. Demikian pula ketika mereka dipaksa unntuk bekerja terus meskipun hari hujan deras, pekerja-pekerja itu diberi kerak nasi sebagai pengganti topi. Dengan tutup kepala kerak nasi itu mereka dapat bekerja terus tanpa gangguan hujan, meskipun hujan lebat sekalipun mereka tetp tdak kehujanan, sedikit basahpun tidak, demikian kata “Ki Karyad”. Hal ini sangat irrasionil bagi alam pikiran kita sekarang. Tetapi begitulah kata orang, kita tidak bisa menolak.

Setelah sekian lama pergi, suatu hari Jumirah si kakak ini datang kembali di Gandasuli, langsung menemui juminten si adik. Juminten dengan rasa kangen (rindu) menanyakan pula sampai dimana saja sekian lamanya pergi, dan apa pula hasilnya. Jumintenpun menceritakan dirinya, bahwa sepeninggal Jumirah pekerjaan sehari-harinya hanya menanak nasi untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin dan kelaparan. Sedang keraknya diambil dan digunakan sebagai pengganti genting sebagai peneduh rumah gubugnya. Dengan rasa bangga Jumirah yang meras bahwa ilmunya meningkat ingin pula menunjukkan betapa hebatnya ilmu itu. Disuruhkan Juminten memejamkan mata sekejap saja, tahutahu Juminten telah dikerumuni oleh berbagai binatang buas seisi hutan rasanya. Juminten tidak menjadi heran atau gugup, tidak juga tampak takut, tetap tenang sambil mengatakan bahwa Ia pun ingin menunjukan betapa kemajuan ilmunya yang diperoleh tanpa pergi jauh itu. Disuruhnya pula Jumirah memejamkan mata pula sekejap, dalam sekejap mata itulah segala binatang buas yang mengerikan lenyap tidak berbekas, seolah-olah tidak ada kejadian sebelumnya.

Tahulah kini ilmu adiknya dapat mengungguli ilmunya, maka tak ingin Jumirah melanjutkan, dan menyatakan kalah. Hanya ada suatu pesan dari Jumirah kepada adiknya “bahwa kelak jika ia meninggal agar dikuburkan di sebelah timur sungai dan Juminten sendiri agar menempati sebelah barat sungai”. Permintaan itu dipenuhi dan kenyataan sekarang meskipun sungai yang membatasi kedua makam itu kini sudah hilang sama sekali bekas-bekasnya, mungkin karena endapan lumpur telah meratakan dasar sungai itu dengan tanah pekarangan.

Bagi yang “nyepi” di makam “mbah Jumirah” tentu ada yang pernah ditemui wujud seekor harimau, kadang harimau hitam (Si Kumbang), kadang bentuk harimau kecil wrna kemerah-merahan (Si Serang), kadang bentuk yang menakutkan karena besar dan loreng-loreng dengan ekor yang berjuntai panjang (Si Gembong). Hingga sekarang meskipun tidak melakukan “nyepi” ada pula penduduk yang menampak harimau di malam hari disaat-saat tertentu. Kadang “mbah Juminten” ada pula berita pemunculannya bentuk seekor kucing warna putih, kadang juga seekor harimau warna putih. Karena pemunculannya mereka kesemuanya berujud harimau itu maka banyak orang meyakinkan bahwa mereka mempunyai ilmu yang sama, kata “Ki Sakhib” adalah ilmu siliwangi. Penduduk yang punya khajad kadang-kadang mendapat kunjungan kucing putih ini. Dan makna kedatangannya itu tidak mendapat penjelasan.

Ada pula ceritera yang dikatakan oleh “Ki Karyad”, bahwa Presiden RI yang pertama, bung Karno almarhum pernah pula berkunjung ke desa Gandasuli. Kunjungan secara ingognite ini secara mendadak dan disaat malam hari. Kunjungan pertama dilakukan pada jaman sebelum penjajahan jepang, jadi sebelum menjabat sebagai presiden RI sudah ada lima kali beliau berkunjung masuk ke rumah “Ki Karyad” dan kunjungan yang entah sudah berapa kali lagi. Bahkan pada jaman penjajahan Jepang, sempat pula bung Karno memimpin latihan keibodan.

Yang sangat terkesan oleh “Ki Karyad” ialah permintaan Bung Karno untuk mencarikan lidi aren. “Ki Karyad” mencari dan mendapat tiga batang lidi, selanjutnya dibawa keliling desa sampai disuatu tempat dimintanya sebatang lalu dilemparkan, konon katanya sampai menimbulkan suara “thak’ yang cukup keras. Sambil beliau katakan bahwa kelak disitu akan didirikan sebuah kantor rakyat, dan kenyataan sekarang tempat itulah didirikan gedung DPRD Tk. II Brebes yang cukup megah. Lidi kedua dimintanya pula dan ditancapkan di suatu tempat sambil mengatakan bahwa di tempat ini akan didirikn pula kantor pemerintah. Kenyataannya sekarang di tempat itu berdiri kantor pajak daerah. Adapun lidi yang terakhir dilemparkan pula, yang ternyata di tempat jatuhnya lidi, sekarang berdiri kantor kepala desa Gandasuli (kantor kepala desa yang lama).

Peristiwa selanjutnya yang ada hubungan dengan kehadiran Bung Karno ini di sana-sini memang sering terdengar dan menjadi buah bibir masyarakat Gandasulii sendiri maupun masyarakat sekitarnya. Berita dari mulut ke mulut ini terkhir pernah kunjungan ingognite ini terdengar pada tahun 1966 setelah beliau turun dari jabatan Presiden. Semenjak itu belum ada lagi ceritera orang mengenai kunjungan ini.

Adapun serentetan kunjungan itu menurut “Ki Karyad” bertujuan meninjen makam Ki Gandasari maupun kedua kakak beradik Jumirah dan Juminten tersebut. Ketenaran makam – makam tersebut tak lain karena masyarakat menganggap keramat. Anggapan kekeramatan ini tertanam pula dalam hati, sementara pejabat-pejabat penting ditingkat pemeritahan kabupaten Brebes sendiri. Diakui atau tidak, hal ini sekedar penulis uraian berdasarkan penjelasan “Ki Karyad”. Demikian pula masyarakat Gandasuli sendiri setiap hari kamis wage malam jum`at kliwon, terutama penduduk asli Gandasuli menaruh “Paso” (semacam mangkuk dari tanah liat) yang diisi air jernih serta diberi bunga-bungaan. Sesaji ini dimaksudkan untuk menjamu bila suatu ketika singgah dipekarangannya, sebab menurut anggapan mereka “mbah jumirah” akan sangat marah jika tidak  disediakan sesuatu. Demikianlah tradisi ini terus berjalan hingga kapan Tuhanlah yang Maha Tahu.

Cerita lain menceritakan bahwa pada jaman dahulu kala sekitar abad 17 dan 18, hiduplah seorang kakak beradik yang bernama Jamirah dan Jaminten. Dia tidak mempunyai sanak saudara, entah dari mana tempat kelahirannya kakak beradik itu. Dia hidup berkecukupan, senang menolong orang miskin, taat beribadah,bahkan orang sekampung pun waktu itu merasa tentram, karena mbah Jamirah selalu memberi makanan anak-anak yang kelaparan. Bahkan kepada orangtua nya disuruh mengambil padi untuk ditumbuk dan dimasak untuk makan sekeluarganya. Anak-anak disuruh mengaji dirumah Jamirah dan Jaminten. Pada suatu hari Jamirah mengeluh sakit, kemudian oleh tokoh masyarakat untuk mengobati dengan mantra supaya sembuh. Tetapi rupanya Allah berkehendak lain, wafatlah Jamirah itu. Maka sebagai tanda terima kasih atas pengabdian jamirah itu, masyarakat sekitar pun membawa bunga-bunga yang harum semerbak. Bunga-bunga untuk menyusuli itu ditaburkan disepanjang jalan mulai dari lingkungan rumah kekanjengan sampai ketempat dimana Jaminten itu meninggal dunia yang menembarkan harum semerbak itu berhamburan kemana-mana. Maka dengan peristiwa tersebut terjadilah nama GANDASOLI yang berasal dari harumnya bunga yang amat sangat menimbulkan bau yang dalam bahasa jawa bau itu sama dengan Ganda atau Bondo. Adapun SOLI yang berarti orang yang taat ibadah atau sholeh. Jadilah Desa Gandasoli, seiring berkembangnya waktu nama Gandasoli berubah menjadi Gandasuli.

Semoga tulisan sejarah singkat Babad Tanah Gandasuli ini dapat bermanfaat bagi kita semua, menjadikan sumber inspirasi dan yang lebih utama adalah lebih mendekatkan kita kepada Sang Kholik Allah SWT, dengan berziarah kita akan selalu mengingat kematian sehingga kita lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, Amiin YRA. *** (Berbagai Sumber)