Ini hal unik dan menarik. Ada semacam pesantren di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung.
Tahun 2015, ketika kami sedang menyiapkan penerbitan buku No’ong Kobong, editor Pokja News, Eka Purwanto, berkunjung ke sana.
Kebetulan saat itu sedang berlangsung pengajian, semacam bandungan. Pesertanya lebih dari 100 orang. Mereka adalah warga binaan (terpidana).
Pengajian semacam bandungan yang biasa terjadi di pondok pesantren tempo dulu sedang berlangsung di sana.
Konon, kegiatan itu sudah berlangsung sejak tahun 2004, setiap hari Senin sampai Kamis, dari pukul 07.00 sampai pukul 12.00, menjelang salat Zuhur.
Ide pendirian pengajian yang mirip pesantren itu berawal dari H. Bakden Al Gufron, H. Syahrudin, dan H. Iqbal. Bakden dan Syahrudin adalah ustaz yang biasa memberikan ceramah kepada para napi, sementara Iqbal adalah warga binaan yang masih menjalani hukuman.
Mereka bertiga menyampaikan niatnya kepada Kepala Lapas. Kalapas kemudian menunjuk Kepala Bidang Pemasyarakatan sebagai pelaksana dan penanggung jawab.
Kalapas juga segera menyiapkan sebuah ruangan besar, persis di hadapan ruangan tempat para napi tidur.
Program pesantren di lapas itu juga didukung Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bandung, Cecep Alamsyah, yang kemudian mengeluarkan surat izin operasional.
Izin operasional itu sudah diperpanjang oleh Kepala Kantor Kementerian Agama yang baru, Dr. Yusuf Umar, pada tahun 2015, dengan nomor KD 10.19/3/PP/007/9320/2015.
Secara struktural dan teknis, pesantren yang diberi nama Al Hidayah berada di bawah naungan Kepala Lapas, dengan jajaran pimpinan Edi Kurniadi, Bc.Ip., SH., MH.; Kepala Bidang Pembinaan, Dery Gusriadi, SH.; Kepala Seksi Binkemasy, Dimas Krisna Setiawan, SH., sebagai penanggung jawab dan pembina kerohanian; serta Andri Warsono sebagai pelaksana harian.
Biaya operasional pesantren, menurut Bakden, diperoleh dari sumbangan para napi yang kaya. Ternyata, masih banyak di antara mereka yang berduit.
Waktu Lebaran tahun lalu, terkumpul donasi sebesar Rp100 juta. Sebanyak Rp60 juta digunakan untuk kegiatan-kegiatan Lebaran. Sisanya, Rp40 juta, dimasukkan ke kas pesantren sebagai cadangan untuk tahun berikutnya.
Baru-baru ini masuk sumbangan dari pengajian ibu-ibu Qolbun Salim di Margahayu Raya.
Dr. Yusuf, selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bandung, mengatakan pihaknya merencanakan membuka pesantren di beberapa lapas.
Yang sudah mendekati kepastian adalah di Lapas Banceuy (Sukarno Hatta) dan Waru.
Eka Purwanto juga sempat bertemu dengan sejumlah napi yang sedang menjalani hukuman di sana. Ada Lutfi Hasan Ishaq bin Ibrahim yang terlibat kasus impor sapi pada tahun 2004. Ada Dada Rosada, mantan Wali Kota Bandung, dalam kasus bansos. Dan ada pula Edi Siswadi, mantan Sekda Kota Bandung.
Menariknya, Edi dipercaya sebagai Ketua DKM Al Muslih yang ada di lingkungan Lapas.
(*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.













