Google search engine
Beranda blog Halaman 14

Ketum DPP FKDT Desak Menag RI Realisasikan Insentif Guru MDT dari APBN

0

JAKARTA (Aswajanews.id) – Ketua Umum DPP Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), KH Lukman Hakim, mengusulkan kepada Prof. KH. Nazaruddin Umar agar pemerintah memberikan insentif bagi Guru Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disalurkan melalui Kementerian Agama.

Usulan tersebut disampaikan dalam sambutannya pada puncak peringatan Harlah ke-14 DPP FKDT sekaligus Pembukaan Rapimnas II FKDT Tahun 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta, Sabtu (11/7/2026).

Menurut KH Lukman Hakim, masih banyak guru MDT di berbagai daerah yang belum memperoleh perhatian memadai dari pemerintah daerah, padahal mereka memiliki peran besar dalam membangun karakter dan akhlak generasi bangsa.

“Guru MDT mengajar dengan penuh keikhlasan dan ketulusan. Saya meminta seluruh guru MDT di Indonesia untuk terus mendoakan bangsa ini. Tidak perlu turun ke jalan atau berdemonstrasi. Saya yakin doa para guru akan mengetuk hati para pemimpin bangsa agar semakin peduli terhadap kesejahteraan guru MDT,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh guru MDT untuk mendoakan Presiden Republik Indonesia, Menteri Agama, para gubernur, bupati, dan wali kota agar diberi kesehatan, umur panjang, serta keberhasilan dalam memimpin, sekaligus tidak melupakan jasa para guru Madrasah Diniyah.

KH Lukman menegaskan, Guru MDT merupakan salah satu pilar penting dalam menjaga nilai-nilai Islam yang moderat dan kehidupan masyarakat yang damai di tengah keberagaman. Karena itu, peningkatan kesejahteraan guru MDT menjadi perjuangan yang akan terus dikawal oleh DPP FKDT.

Ia berharap Menteri Agama dapat memprioritaskan pemberian insentif bagi guru MDT, mengingat jumlah lembaga dan tenaga pengajarnya sangat besar, sementara bisyarah yang diterima masih jauh dari kata layak.

“Pak Menteri adalah alumni Madrasah Diniyah, sehingga tentu memahami betul kondisi para ustaz dan guru MDT yang hingga kini masih menghadapi persoalan kesejahteraan. Semoga kehadiran beliau pada Harlah dan Rapimnas FKDT membawa keberkahan bagi perjuangan guru MDT ke depan,” katanya.

Menanggapi aspirasi tersebut, Menteri Agama Nazaruddin Umar menyampaikan optimisme bahwa pemerintah tengah menyiapkan langkah strategis melalui pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren sebagai tindak lanjut dari implementasi Undang-Undang Pesantren.

Menurutnya, pembahasan mengenai kesejahteraan guru swasta, termasuk guru Madrasah Diniyah Takmiliyah, kini mendapat perhatian lintas komisi di DPR RI.

“Kita berharap dalam waktu yang tidak lama akan ada perhatian khusus dari pemerintah terhadap guru-guru swasta, termasuk guru Madrasah Diniyah,” ujar Menteri Agama.

Acara Harlah ke-14 DPP FKDT dan Pembukaan Rapimnas II Tahun 2026 tersebut dihadiri sejumlah pejabat Kementerian Agama, di antaranya Direktur PD Pontren Basnang Said, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah dan Jawa Barat, Ketua Pembina DPP FKDT Gus Gudfan Arif yang juga Bendahara Umum PBNU, perwakilan Kepolisian Republik Indonesia, anggota DPR RI Oleh Soleh, serta Komisioner BAZNAS Iddy Muzayyad.

Kemeriahan peringatan Harlah juga dihadiri ribuan guru Madrasah Diniyah Takmiliyah dari Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta, serta 27 Ketua DPW FKDT beserta sekretaris dari berbagai provinsi di Indonesia.

(Red/Nas)

www.youtube.com/@anas-aswaja

OTT KPK Guncang Sukoharjo! Bupati Dua Periode ETS Diduga Peras OPD, Uang dan Emas Rp21,2 Miliar Disita

0

JAKARTA (Aswajanews.id) – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap dugaan praktik korupsi yang melibatkan Bupati Sukoharjo dua periode, ETS, yang merupakan politisi PDI Perjuangan. Dalam operasi tangkap tangan (OTT), KPK menetapkan tiga tersangka atas dugaan pemerasan terhadap organisasi perangkat daerah (OPD) serta pemotongan insentif pegawai yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

Ketiga tersangka yang ditahan yakni ETS selaku Bupati Sukoharjo periode 2021–2025 dan 2025–2030, RCH selaku Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Sukoharjo, serta TRM yang menjabat Kepala Bagian Umum Sekretariat Daerah Kabupaten Sukoharjo.

Ketiganya resmi ditahan di Rumah Tahanan Cabang Gedung Merah Putih KPK selama 20 hari pertama, terhitung sejak 10 hingga 29 Juli 2026.

Menurut KPK, perkara ini bermula dari dugaan perintah ETS kepada dua orang kepercayaannya, RCH dan TRM, untuk mengumpulkan setoran dari sejumlah OPD.

Salah satu modus yang diduga dilakukan ialah pemotongan upah pungut (UP) yang berasal dari insentif pemungutan pajak dan retribusi daerah. ETS disebut meminta sekitar 40 persen dari insentif yang diterima pegawai BPKAD.

RCH kemudian diduga memerintahkan para pejabat eselon III di lingkungan BPKAD agar menyetorkan potongan tersebut setiap triwulan sejak 2022 hingga 2026. Dari praktik itu, KPK memperkirakan dana yang terkumpul mencapai sekitar Rp2,93 miliar.

Selain itu, ETS juga diduga menginstruksikan TRM untuk mengumpulkan setoran rutin dari berbagai OPD setiap tahun, termasuk menjelang pencairan Tunjangan Hari Raya (THR). Untuk memenuhi permintaan tersebut, diduga terjadi pembuatan bukti pengeluaran fiktif dan praktik markup dalam pengadaan barang dan jasa di Bagian Umum Setda Kabupaten Sukoharjo.

Selama periode 2024–2026, ETS diduga menerima sekitar Rp840 juta dari setoran rutin OPD yang dihimpun TRM. Sementara RCH juga diduga berhasil mengumpulkan dana dari berbagai sumber pada 2022 dan 2024 dengan total mencapai Rp2,6 miliar. Dana tersebut diduga digunakan untuk kepentingan pribadi ETS.

Dalam operasi tersebut, penyidik KPK turut mengamankan sembilan orang untuk dimintai keterangan dan melakukan penggeledahan di empat lokasi berbeda.

Dari hasil penggeledahan, KPK menyita barang bukti dengan nilai sekitar Rp21,2 miliar, terdiri atas uang tunai dalam berbagai mata uang asing, yakni Dolar Singapura, Dolar Australia, Yen Jepang, Ringgit Malaysia, dan Baht Thailand, serta 25 keping emas dengan total berat 2,5 kilogram.

Atas perbuatannya, ketiga tersangka dijerat dengan Pasal 12 huruf e, Pasal 12 huruf f, dan Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

KPK menilai perkara ini menjadi pengingat bahwa integritas masih menjadi tantangan serius dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Sepanjang 2026, Jawa Tengah tercatat menjadi salah satu wilayah yang beberapa kali menjadi lokasi operasi penindakan terhadap kepala daerah.

Sebelum perkara di Sukoharjo, KPK juga melakukan penindakan terhadap kepala daerah di Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Cilacap, dan Kabupaten Pati.

KPK kembali mengimbau seluruh kepala daerah agar menjalankan kewenangannya secara transparan, akuntabel, serta bebas dari praktik korupsi dan benturan kepentingan.

(Red)

Fatayat NU Brebes Cetak Kader Militan, LKL 2026 Bekali Peserta Kepemimpinan hingga Advokasi

0

BREBES (Aswajanews.id) – Pengurus Cabang (PC) Fatayat NU Kabupaten Brebes sukses menyelenggarakan Latihan Kader Lanjutan (LKL) pada Sabtu–Minggu, 11–12 Juli 2026, di Gedung Jagad Suralaya, Brebes. Kegiatan kaderisasi ini diikuti 50 peserta yang merupakan utusan dari berbagai Pengurus Anak Cabang (PAC) serta perwakilan PC Fatayat NU se-Kabupaten Brebes.

LKL menghadirkan para fasilitator dan narasumber berpengalaman dari Provinsi Jawa Tengah yang memberikan berbagai materi strategis guna memperkuat kapasitas kader Fatayat NU.

Salah satu peserta, Ketua Ranting Fatayat NU Pasarbatang, Nurhidayah, S.Pd.I, mengaku memperoleh banyak pengalaman dan wawasan selama mengikuti pelatihan tersebut.

“Kegiatan ini merupakan proses kaderisasi yang sangat luar biasa. Kami mendapatkan banyak ilmu, mulai dari Ke-Aswajaan, Islam Nusantara, manajemen organisasi, komunikasi, kaderisasi, Pengarusutamaan Gender (PUG), advokasi, hingga analisis SWOT. Semua materi sangat bermanfaat untuk memperkuat kapasitas kader,” ujarnya.

Menurutnya, LKL tidak hanya membentuk kader yang militan dan berintegritas, tetapi juga menjadi ruang untuk menyamakan visi serta strategi dalam mengembangkan organisasi Fatayat NU di setiap tingkatan kepengurusan, mulai dari anak ranting, ranting, PAC hingga PC.

Selain menjadi wadah penguatan kapasitas, kegiatan ini juga mempererat tali silaturahmi antar kader Fatayat NU dari seluruh Kabupaten Brebes sehingga diharapkan mampu memperkuat soliditas organisasi.

Nurhidayah turut menyampaikan apresiasi kepada jajaran PC Fatayat NU Kabupaten Brebes atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

“Terima kasih kepada Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Brebes, Sahabati Ning Rohmatin Alawiyah, beserta Bu Nyai Durrotun Ma’munah dan seluruh panitia yang telah menyelenggarakan kegiatan ini dengan baik. Kami berharap LKL dapat terus dilaksanakan secara berkala agar semakin memperkuat soliditas kader Fatayat NU serta memperkokoh eksistensi Nahdlatul Ulama di tengah arus globalisasi,” pungkasnya. (Red/Nas)

www.youtube.com/@anas-aswaja

KBIHU Al Mabrur Brebes Mantapkan Persiapan Calon Jemaah Haji 2027 Lewat Manasik Perdana

0

BREBES (Aswajanews.id) – Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Al Mabrur Brebes kembali menggelar pembukaan manasik bagi calon jemaah haji musim haji 2027. Kegiatan berlangsung di Masjid Al Mukaromah Islamic Center Brebes, depan MTs Ma’arif NU 1 Brebes, pada Sabtu Wage (11/7/2026).

Acara yang berlangsung pukul 14.00–15.00 WIB dipandu oleh Sekretaris KBIHU Al Mabrur Brebes, H. Abdul Karim, S.Pd., sebagai pembawa acara. Kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat oleh Ustaz Afkar Al Hakim dari Colotan, Gandasuli, Brebes.

Selanjutnya, para pengurus memperkenalkan diri kepada calon jemaah haji 2027 yang akan mengikuti rangkaian bimbingan manasik di KBIHU Al Mabrur Brebes.

Dalam sambutannya, Pembina KBIHU Al Mabrur Brebes, Drs. H. Imam Mujahid, menyampaikan bahwa KBIHU Al Mabrur merupakan KBIHU pertama yang berdiri di Kabupaten Brebes. Berdiri sejak tahun 2002, lembaga tersebut telah mengantarkan sekitar 23 angkatan jemaah haji dengan berbagai pengalaman dan pembinaan yang berkesinambungan.

Sementara itu, Ketua KBIHU Al Mabrur Brebes, H. Abdul Haris, S.Ag., M.Ag., menegaskan komitmen pengurus untuk memberikan pelayanan dan pendampingan terbaik kepada seluruh calon jemaah haji tahun 2027, sehingga mereka mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan baik, benar, dan sesuai tuntunan syariat.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian mauidzah hasanah oleh KH Imam Khumaedi, S.Sos., alumni KBIHU Al Mabrur tahun 2026 yang juga dikenal sebagai mubaligh di Kecamatan Brebes.

Dalam tausiyahnya, KH Imam Khumaedi mengajak seluruh calon jemaah agar meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT. Ia membagikan pengalaman pribadinya yang sempat berada pada daftar cadangan nomor 99, namun akhirnya dapat berangkat haji setelah melalui berbagai proses, termasuk memenuhi persyaratan istitha’ah.

Menurutnya, calon jemaah yang masih berstatus cadangan tidak perlu berkecil hati apabila harus mengikuti manasik lebih dari satu tahun. Sebab, mengikuti manasik di KBIHU Al Mabrur memiliki banyak manfaat, di antaranya mempererat silaturahmi, menambah ilmu tentang ibadah haji, serta menjadi amal fi sabilillah yang insya Allah akan diganti pahalanya oleh Allah SWT.

KH Imam Khumaedi juga mengungkapkan sejumlah keunggulan KBIHU Al Mabrur Brebes, di antaranya memiliki pembinaan yang moderat, terbuka bagi berbagai latar belakang jemaah, didukung pengurus yang responsif dan bijaksana, serta memadukan pembelajaran teori dan praktik ibadah haji.

Selain itu, KBIHU Al Mabrur juga memiliki program kebugaran melalui jalan sehat dan senam yang dilaksanakan di berbagai lokasi sebagai persiapan fisik calon jemaah sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Ia turut mengapresiasi sistem pengelolaan keuangan jemaah yang dinilai tertata dengan baik. Sejak dari Brebes, berbagai kebutuhan seperti dana dam, kurban, badal haji, city tour, ziarah, hingga kas jemaah telah dikelola oleh petugas yang ditunjuk dari perwakilan jemaah. Dengan demikian, saat berada di Madinah maupun Makkah, seluruh kebutuhan tinggal disalurkan tanpa harus kembali melakukan penarikan dana.

“Alhamdulillah, saya bersyukur mengikuti KBIHU Al Mabrur Brebes karena banyak memperoleh pengalaman, ilmu, dan keberkahan selama menjalankan ibadah haji,” ungkap KH Imam Khumaedi.

Rangkaian pembukaan manasik ditutup dengan doa yang dipimpin langsung oleh KH Imam Khumaedi, yang baru saja kembali menunaikan ibadah haji tahun 2026.

Di akhir kegiatan, H. Abdul Khamid Muhtadi, S.Pd.I, alumni KBIHU Al Mabrur tahun 2023 yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Rombongan (Karom) Haji dan kini menjadi salah satu pengurus KBIHU Al Mabrur Brebes, menyampaikan ucapan selamat kepada para jemaah yang baru kembali dari Tanah Suci.
Ia berharap seluruh jemaah memperoleh predikat haji mabrur dan hajjah mabruroh, serta dapat menjadi teladan di tengah masyarakat dengan membawa nilai-nilai kebaikan setelah menunaikan rukun Islam kelima.
(Red)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Kepemilikan Gedung SPPG Sukagumiwang Disengketakan, Kuasa Hukum Sebut Gugatan Masih Berjalan

0

INDRAMAYU (Aswajanews.id) – Sengketa kepemilikan gedung yang digunakan sebagai operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Desa Sukagumiwang, Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu, terus bergulir di Pengadilan Negeri Indramayu.

Polemik kepemilikan aset tersebut berdampak pada terhentinya penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi ribuan siswa di wilayah setempat.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, objek sengketa semula merupakan milik Habibi. Karena mengalami kredit macet di Bank BRI, aset tersebut kemudian dilelang. Dalam proses lelang, Hj. Popong Latifa ditetapkan sebagai pemenang sehingga secara hukum telah memperoleh hak kepemilikan atas objek tersebut dan sertifikat hak milik (SHM) telah diterbitkan atas namanya.

Namun demikian, pihak Habibi melalui kuasa hukumnya masih menempuh jalur hukum untuk menggugat proses lelang tersebut.

Kuasa hukum Habibi, Suntoni, SH., MH, mengatakan bahwa saat ini perkara masih dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Indramayu.

“Saat ini kami sedang melakukan gugatan berjalan dengan nomor perkara perdata 15. Gugatan ini kami ajukan karena menurut kami nilai lelang bangunan berada di bawah nilai pasar. Nilai lelang sekitar Rp380 juta, sedangkan nilai jual umum diperkirakan mencapai sekitar Rp1 miliar. Memang SHM saat ini sudah atas nama pemenang lelang, namun kami tetap melanjutkan gugatan agar klien kami memperoleh keadilan,” ujar Suntoni.

Sementara itu, terkait keberlanjutan operasional Program Makan Bergizi Gratis di lokasi tersebut, pengelola SPPG Sukagumiwang, Wasma, mengaku belum dapat memastikan langkah yang akan diambil ke depan.

Ia menyebut pihaknya masih menunggu perkembangan proses hukum yang sedang berlangsung serta arahan dari pihak terkait mengenai kelanjutan operasional SPPG di lokasi tersebut.

(Herman/Tongol)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Satu Suara! KH Ahmad Fauzan Al Khafidz Resmi Pimpin Masjid Jami Gandasuli Periode 2026–2029

0

BREBES (Aswajanews.id) – Musyawarah pemilihan Pengurus Masjid Jami Gandasuli, Kelurahan Gandasuli, Kecamatan Brebes, berlangsung penuh kebersamaan dan menghasilkan keputusan secara aklamasi. KH Ahmad Fauzan Al Khafidz resmi terpilih sebagai Ketua Pengurus Masjid Jami Gandasuli periode 2026–2029 dalam musyawarah yang digelar pada Jumat Pon malam Sabtu Wage, 10 Juli 2026, bertepatan dengan 25 Muharam 1448 Hijriah.

Kegiatan yang berlangsung di Serambi Masjid Jami Gandasuli mulai pukul 21.00 WIB hingga 22.17 WIB tersebut dihadiri Lurah Gandasuli Anim Falahudin, S.E., Ketua PC JRA Aswaja NU Kabupaten Brebes Ustaz Lebe Didi Nurdiansyah, S.Sos., tokoh agama, tokoh masyarakat, serta jamaah Masjid Jami Gandasuli.

Acara dipandu oleh Dahuri, S.Pd. sebagai moderator. Sambutan pertama disampaikan oleh H. Drs. Jamali Annas selaku penasihat, dilanjutkan sambutan dari Plt. Pengurus Masjid Jami Gandasuli KH Ahmad Fauzan Al Khafidz.

Memasuki agenda inti, forum membentuk tim formatur yang terdiri atas H. Drs. Jamali Annas, H. Amal Muslim, Ustaz Mukrad, RT Syaekhul Hadi, dan Wahudi. Hasil musyawarah formatur menetapkan tiga bakal calon ketua, yakni KH Ahmad Fauzan Al Khafidz, Ustaz Zaenal Abidin, S.Pd.I, dan Ustaz H. Abdul Hamid Muhtadi, S.Pd.I.

Dalam suasana penuh kekeluargaan, salah seorang peserta, Mas Fredy, mengusulkan agar ketiga bakal calon terlebih dahulu dimintai kesediaannya untuk maju.

Menanggapi hal tersebut, Ustaz H. Abdul Hamid Muhtadi, S.Pd.I menyatakan mengundurkan diri dari pencalonan dan mempersilakan dua tokoh yang lebih senior untuk melanjutkan proses. Selanjutnya, Ustaz Zaenal Abidin, S.Pd.I juga menyampaikan dukungan penuh kepada KH Ahmad Fauzan Al Khafidz dan mempersilakan beliau menjadi calon tunggal.

Dengan hanya satu calon yang mendapat dukungan penuh dari forum, seluruh peserta musyawarah sepakat secara aklamasi menetapkan KH Ahmad Fauzan Al Khafidz sebagai Ketua Pengurus Masjid Jami Gandasuli Kelurahan Gandasuli, Kecamatan Brebes, periode 2026–2029.

Usai penetapan ketua, musyawarah dilanjutkan dengan penyusunan kepengurusan harian sebagai berikut:

Ketua

  • Ketua I: KH Ahmad Fauzan Al Khafidz
  • Ketua II: Ustaz H. Abdul Hamid Muhtadi, S.Pd.I
  • Ketua III: H. Amal Muslim

Sekretaris

  • Sekretaris I: Dahuri, S.Pd.
  • Sekretaris II: Agus
  • Sekretaris III: Bowo

Bendahara

  • Bendahara I: Ustaz Mukrad
  • Bendahara II: Kasnuri Suwarno
  • Bendahara III: Sodikin Tarso

Rangkaian musyawarah ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustaz Lebe Muhemin Mutholib, A.Md.Com, selaku Ketua Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Kelurahan Gandasuli.

Terpilihnya KH Ahmad Fauzan Al Khafidz secara aklamasi mencerminkan kuatnya semangat persatuan dan musyawarah di kalangan jamaah. Kepengurusan baru diharapkan mampu membawa Masjid Jami Gandasuli semakin maju sebagai pusat ibadah, dakwah, pendidikan, serta pemberdayaan umat, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat. (Red/Nas)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Ketua Fatayat NU: Kepengurusan Baru Harus Membawa Optimisme bagi Perkembangan NU

0

BREBES (Aswajanews.id) – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kelurahan Pasarbatang, Kecamatan Brebes, menggelar Musyawarah Ranting (Musran) pada Rabu (8/7/2026) malam di Musala Baitus Syuhada, Kelurahan Pasarbatang. Kegiatan yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut berlangsung sekitar tiga jam.

Musran dihadiri oleh seluruh badan otonom (Banom) NU di tingkat ranting, meliputi IPNU, IPPNU, Fatayat NU, Muslimat NU, GP Ansor, Banser, serta jajaran pengurus PRNU Kelurahan Pasarbatang.

Agenda utama Musran adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban pengurus sekaligus penetapan kepengurusan lama sebagai demisioner. Selanjutnya, forum melaksanakan proses pemilihan kepengurusan baru secara musyawarah.

Hasil Musran menetapkan Ustaz Jamil sebagai Ketua Tanfidziyah PRNU Kelurahan Pasarbatang, sedangkan KH Muslim Chudori dipercaya menjabat sebagai Rais Syuriah PRNU Kelurahan Pasarbatang.

Ketua Ranting Fatayat NU Kelurahan Pasarbatang, Nurhidayah, S.Pd.I, menegaskan bahwa regenerasi kepengurusan merupakan kebutuhan organisasi agar NU terus berkembang dan mampu menjawab berbagai tantangan di tengah masyarakat.

“Regenerasi memang perlu dilakukan sebagai persiapan dalam melaksanakan program-program kerja di seluruh Banom NU. Mengingat kondisi wilayah Kelurahan Pasarbatang memiliki banyak tantangan yang memerlukan pemikiran yang optimistis demi perkembangan Nahdlatul Ulama ke depan,” ujar Nurhidayah.

Menurutnya, kepengurusan baru diharapkan mampu menghadirkan semangat baru, memperkuat sinergi antarlembaga di lingkungan NU, serta melahirkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat.

Ia juga berharap seluruh Banom NU di Kelurahan Pasarbatang dapat terus menjaga kekompakan dan berkolaborasi dalam menjalankan program kerja, sehingga keberadaan NU semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

(Red)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Rutinitas MDSRA Gandasuli Brebes, Perkuat Ukhuwah dan Semangat Khidmah di NU

0

BREBES (Aswajanews.id) – Majlis Dzikir Sholawat Rijalul Ansor (MDSRA) Ranting Ansor Gandasuli, Kabupaten Brebes, kembali menggelar kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap setengah bulan sekali pada Rabu Legi malam Kamis Pahing, bertepatan dengan 28 Muharram 1448 H atau 12 Juli 2026.

Kegiatan berlangsung di kediaman Sahabat Nurwanto, Sekretaris Ansor Ranting Gandasuli periode 2024–2026 yang kini menjabat sebagai Komandan Banser Kecamatan Brebes. Rumahnya berada di sebelah timur Mushola Baitut Takwa, Colotan, Kelurahan Gandasuli.

Rangkaian acara diawali dengan istighasah, tahlil, dan doa yang dipimpin Ketua MDSRA Gandasuli, Ustaz Nur Hasyim. Selanjutnya, dilakukan pembacaan Kitab Fathul Qorib oleh Ustaz Nurrohim sebagai bagian dari penguatan pemahaman keislaman warga Ansor.

Dalam sambutannya, Ketua Ansor Ranting Gandasuli, Ahmad Syukron Hakim, menyampaikan apresiasi kepada seluruh sahabat Ansor, Banser, dan warga NU yang telah menyukseskan rangkaian kegiatan Muharraman 1448 H di Kelurahan Gandasuli.

Menurutnya, kegiatan tersebut meliputi semaan Al-Qur’an 30 juz, doa khatmil Qur’an, haul dan tahlil massal, santunan anak yatim piatu, pelantikan Pengurus Ansor Ranting Gandasuli periode 2026–2028, pelantikan Pengurus Ranting NU Gandasuli periode 2026–2031, hingga pengajian umum dan doa penutup.

“Terima kasih atas kerja sama seluruh sahabat yang telah menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan Muharraman. Mohon maaf apabila masih terdapat kekurangan,” ujar Ahmad Syukron Hakim.

Ia juga menyampaikan bahwa Ansor dan Banser Gandasuli diminta aktif berpartisipasi dalam peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia tingkat Kelurahan Gandasuli. Tahun ini, panitia HUT RI diketuai oleh Sahabat Syaekhul Hadi yang juga merupakan Pembina Ansor Kelurahan Gandasuli.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua PC GP Ansor Kabupaten Brebes, Bayu Rohmawan, S.Pd. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi tradisi pembacaan Kitab Fathul Qorib yang dinilai membawa keberkahan sekaligus memperkuat pemahaman keagamaan kader Ansor.

“Saya senang karena dalam kegiatan ini dibacakan Kitab Fathul Qorib. Insyaallah, keberkahan akan selalu menyertai orang-orang yang mempelajarinya,” ungkap Bayu.

Sementara itu, Ketua Ranting NU Gandasuli periode 2026–2031, Ustaz Lebe Muhemin Mutholib, A.Md.Com., membagikan pengalaman pribadinya mengenai makna khidmah di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Ia menceritakan, menjelang pelantikan pengurus, seluruh peserta sepakat mengenakan peci hitam, baju putih, dan sarung hitam. Saat itu dirinya belum memiliki sarung hitam. Namun beberapa hari sebelum pelantikan, seorang tetangga yang baru pulang umrah memberinya bingkisan yang di dalamnya terdapat sarung hitam. Bahkan pada malam sebelum pelantikan, setelah salat Magrib, ia kembali menerima hadiah berupa peci hitam dari seseorang.

“Bagi saya, ini adalah bukti bahwa khidmah kepada NU memiliki keberkahan yang nyata,” tutur Ustaz Muhemin.

Selain kegiatan keagamaan, acara juga diisi dengan pengumpulan sedekah Koin Ansor serta infak untuk kas MDSRA sebagai bentuk kepedulian dan penguatan kemandirian organisasi.

Kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin Rois Syuriah Ranting NU Gandasuli periode 2026–2031, Ustaz H. Abdul Hamid Muhtadi, S.Pd.I., yang turut hadir bersama jajaran pengurus NU dan Ansor Gandasuli.

(Red)

Pemkab Indramayu Perkuat Sinergi Percepatan Penurunan Stunting, Evaluasi Capaian Triwulan II 2026

0

INDRAMAYU (Aswajanews.id) – Pemerintah Kabupaten Indramayu terus memperkuat komitmennya dalam percepatan penurunan angka stunting. Melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bapperida), Pemkab menggelar Rapat Evaluasi Data Intervensi Spesifik dan Sensitif Bidang Kesehatan Triwulan II Tahun 2026 secara virtual, Kamis (9/7/2026).

Kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Kepala Bappeda Provinsi Jawa Barat dalam rangka menyelaraskan komitmen Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TPPS) di seluruh tingkatan pemerintahan.

Rapat dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bapperida Kabupaten Indramayu yang diwakili Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (PPM), Suhartati.

Dalam pemaparannya, Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu menegaskan bahwa percepatan penurunan stunting membutuhkan sinergi lintas sektor. Keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh intervensi spesifik di bidang kesehatan, tetapi juga didukung intervensi sensitif dari berbagai sektor lainnya.

Berdasarkan laporan Triwulan II Tahun 2026, sejumlah indikator prioritas terus dikejar. Pada kelompok remaja putri dan ibu hamil, skrining anemia ditargetkan mencapai 77 persen. Sementara kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) ditargetkan sebesar 67 persen bagi remaja putri dan 70 persen bagi ibu hamil.

Selain itu, Pemkab Indramayu menargetkan cakupan pemeriksaan kehamilan minimal enam kali (ANC 6x) mencapai 82 persen. Pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dengan Kurang Energi Kronis (KEK) maupun berisiko KEK ditargetkan mencapai 85 persen.

“Pemkab Indramayu juga memprioritaskan pemberian ASI eksklusif bagi bayi usia di bawah enam bulan dengan target keberhasilan sebesar 76 persen,” ujar Suhartati.

Pada sektor kesehatan balita, partisipasi orang tua dalam kegiatan penimbangan dan pengukuran balita di Posyandu (D/S) ditargetkan mencapai 85 persen.

Untuk memperkuat pelaksanaan program di lapangan, rapat juga menyepakati sejumlah langkah mitigasi, di antaranya pengadaan alat pemeriksaan hemoglobin (Hb-meter) yang terstandar, digitalisasi pelaporan gizi melalui aplikasi Satu Sehat dan Sigizi Terpadu, serta pelaksanaan Program Aksi Bergizi berupa gerakan minum TTD bersama di sekolah-sekolah.

Di sisi lain, intervensi sensitif turut dipercepat melalui pembangunan Unit Pengolahan Setempat (septic tank), pengembangan jaringan perpipaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), serta program budidaya untuk meningkatkan konsumsi ikan di tingkat keluarga.

Rapat evaluasi tersebut diikuti secara virtual oleh seluruh unsur TPPS Kabupaten Indramayu, meliputi Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial, DPMD, DP3AKB, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, Dinas Perikanan dan Kelautan, Kementerian Agama, Bagian Kesra, TP PKK Kabupaten, serta TPPS tingkat kecamatan yang terdiri atas para camat, kepala UPTD Puskesmas, dan kepala UPTD PLKB se-Kabupaten Indramayu.

Melalui evaluasi berkala ini, Pemerintah Kabupaten Indramayu optimistis berbagai program percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih efektif, sehingga mampu mewujudkan generasi yang sehat, berkualitas, dan bebas stunting. (Sn)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Monev Dana Desa Tahap I Digelar di Desa Karanggetas, Kecamatan Bangodua Pastikan Siap Cair Tahap II

0

INDRAMAYU (Aswajanews.id) – Pemerintah Kecamatan Bangodua melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) pelaksanaan Dana Desa (DD) Tahap I Tahun Anggaran 2026 di Desa Karanggetas, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Jumat (10/7/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan atas arahan Camat Bangodua, Iim Nurahim, S.Sos., melalui Sekretaris Kecamatan Bangodua, Eko Febiyanto, S.IP., bersama tim yang terdiri dari Plt. Kasi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Ahmad Isa, S.S.IP., serta Pendamping Desa Wahyudi.

Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk memastikan pengelolaan Dana Desa berjalan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan sekaligus menjadi persiapan menjelang pencairan Dana Desa Tahap II Tahun Anggaran 2026.

Dalam pelaksanaannya, tim memeriksa berbagai aspek pengelolaan Dana Desa, mulai dari kelengkapan administrasi, kesesuaian penggunaan anggaran dengan rencana kerja pemerintah desa, hingga dokumen pertanggungjawaban kegiatan yang telah direalisasikan.

Sekretaris Kecamatan Bangodua, Eko Febiyanto, S.IP., mengatakan bahwa monitoring dan evaluasi merupakan agenda rutin yang bertujuan menjaga tata kelola Dana Desa agar tetap tertib, transparan, dan akuntabel.

“Monev dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan pengelolaan Dana Desa berjalan sesuai aturan serta siap memasuki proses pencairan tahap berikutnya,” ujarnya.

Menurut Eko, ketertiban administrasi menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kelancaran penyaluran Dana Desa.

“Administrasi yang tertib menjadi salah satu kunci agar proses pencairan Dana Desa dapat berjalan lancar tanpa kendala,” katanya.

Selain melakukan pemeriksaan, tim kecamatan juga memberikan pendampingan dan arahan kepada perangkat desa terkait pengelolaan keuangan, pelaksanaan pembangunan, hingga program pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu, Plt. Kasi PMD Kecamatan Bangodua, Ahmad Isa, S.S.IP., menegaskan bahwa fungsi monitoring tidak hanya sebatas pengawasan, tetapi juga sebagai bentuk pembinaan agar pemerintah desa semakin memahami tata kelola pemerintahan yang baik.

“Pengawasan bukan hanya evaluasi, tetapi juga upaya pembinaan agar desa mampu mengelola anggaran secara efektif, tepat sasaran, dan sesuai regulasi,” tegasnya.

Melalui kegiatan tersebut, Pemerintah Kecamatan Bangodua berharap sinergi dengan pemerintah desa terus terjalin sehingga seluruh program pembangunan dan pemberdayaan masyarakat dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.

“Monev menjadi langkah bersama untuk mewujudkan pengelolaan Dana Desa yang transparan, akuntabel, dan benar-benar berpihak kepada kepentingan masyarakat,” tambahnya.


Di sisi lain, Kepala Desa Karanggetas, H. Nurwedi, AMK., menyambut baik pelaksanaan monitoring dan evaluasi yang dilakukan secara rutin oleh Pemerintah Kecamatan Bangodua. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana penting untuk meningkatkan kualitas tata kelola pemerintahan desa.

“Kami mengapresiasi pendampingan yang dilakukan Pemerintah Kecamatan Bangodua. Ini menjadi bahan evaluasi sekaligus arahan agar pengelolaan Dana Desa semakin tertib dan tepat sasaran,” ujarnya.

Nurwedi menjelaskan bahwa seluruh dokumen administrasi serta laporan pertanggungjawaban penggunaan Dana Desa Tahap I telah dipersiapkan secara lengkap untuk diperiksa oleh tim monitoring.

Ia juga menegaskan komitmen Pemerintah Desa Karanggetas untuk terus meningkatkan tata kelola Dana Desa agar tepat sasaran dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

“Kami menyambut baik kedatangan tim monev dari Kecamatan. Ini menjadi kesempatan bagi kami untuk mendapatkan arahan dan evaluasi demi perbaikan ke depan. Kami pastikan penggunaan Dana Desa Tahap I dilaksanakan sesuai perencanaan yang telah ditetapkan bersama masyarakat,” pungkasnya.

(Suprapto/Herman Tongol)

www.youtube.com/@anas-aswaja

PBNU Tetapkan Ponpes Tambakberas Jombang sebagai Tuan Rumah Muktamar ke-35 NU

0

JAKARTA (Aswajanews.id) – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi menetapkan Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sebagai tuan rumah penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang akan digelar pada 27–31 Agustus 2026.

Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU yang berlangsung di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Selasa (7/7).

Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, mengatakan penetapan Ponpes Tambakberas merupakan hasil kesepakatan bersama yang patut disyukuri.

“Rapat Gabungan PBNU akhirnya menetapkan Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, yang didirikan oleh Kiai Wahab Chasbullah, sebagai tuan rumah Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama,” ujar Gus Ipul, dikutip dari NU Online.

Gus Ipul yang juga menjabat Sekretaris Jenderal PBNU mengajak seluruh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) untuk mempersiapkan diri demi menyukseskan pelaksanaan muktamar.

“Kami mengajak seluruh peserta Muktamar untuk menyukseskan agenda ini dengan semangat kebersamaan dan kegembiraan, serta menghasilkan keputusan terbaik bagi kemaslahatan jam’iyyah,” katanya.

Sebelumnya, PBNU menunda penetapan lokasi Muktamar ke-35 NU dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU yang digelar di Bangkalan, Jawa Timur, pada akhir Juni 2026.

Saat itu terdapat lima daerah yang mengajukan diri sebagai calon tuan rumah, yakni Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sumatera Barat.

Rais Aam PBNU, Miftachul Akhya, menjelaskan penundaan dilakukan karena terdapat lebih dari satu pondok pesantren di wilayah yang sama yang mengajukan diri sebagai lokasi penyelenggaraan.

“Karena ada beberapa pesantren dalam satu wilayah yang mengusulkan menjadi tuan rumah, proses penetapannya dikembalikan kepada PBNU. Seperti halnya penentuan lokasi Munas dan Konbes, kami juga menerjunkan tim survei untuk Muktamar,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, KH Miftachul Akhya juga mengingatkan jajaran pengurus PBNU masa khidmah 2021–2026 untuk tetap menjaga keikhlasan dan semangat pengabdian hingga akhir masa kepengurusan.

“Alhamdulillah, masa khidmah kita tinggal menghitung hari. Kita masuk sebagai pengurus NU dengan niat baik untuk berkhidmah. Kewajiban kita adalah mempertahankan niat baik tersebut hingga akhir,” pungkasnya. (*)

Siti Aminah, Diduga Dianiyaya Saudara Kandungnya lantaran Sengketa Penyerobotan Lahan Sawah

0

INDRAMAYU (Aswajanews.id) – Perselisihan keluarga yang diduga dipicu sengketa lahan sawah di Desa Rawadalem, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, berujung dugaan penganiayaan.

Seorang ibu bernama Siti Aminah mengaku menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan oleh saudara kandungnya sendiri, Solikah, pada Kamis (9/7/2026). Akibat peristiwa tersebut, korban mengalami luka robek serius pada tangan kanan yang diduga disebabkan pecahan piring.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, korban mengalami luka robek sepanjang sekitar 7 sentimeter pada bagian atas tangan dan 10 sentimeter pada bagian bawah, sehingga harus menjalani penjahitan sebanyak 17 jahitan.

Menurut keterangan korban, konflik keluarga tersebut telah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun. Perselisihan bermula dari sengketa kepemilikan lahan sawah yang dibeli Siti Aminah dari kakak tertuanya.

Korban mengaku lahan tersebut diukur, dipatok, bahkan diduga digadaikan kepada pihak lain tanpa sepengetahuan maupun persetujuannya.

“Tanpa izin dan persetujuan dari kami, lahan sawah tersebut secara sepihak diukur, dipatok, dan digadaikan kepada pihak lain oleh Kumed dan Pendi yang merupakan mantan Sekretaris Desa Rawadalem,” ujar Siti Aminah.

Akibat persoalan tersebut, korban mengaku tidak lagi dapat mengelola sawah yang menjadi haknya. Bahkan, hasil panen dari lahan tersebut diduga telah dikuasai pihak lain sehingga memicu konflik berkepanjangan di lingkungan keluarga.

Korban juga mengaku beberapa waktu terakhir kerap kehilangan pot bunga dan mendapati tanaman hias di pekarangan rumahnya dirusak.

Pada hari kejadian, Siti Aminah mencari pot bunga yang hilang hingga ke belakang rumah. Di lokasi itu, ia bertemu dengan kakaknya dan menegur terkait persoalan tersebut.

Teguran itu kemudian berkembang menjadi adu mulut. Dalam pertengkaran tersebut, piring yang sedang dipegang Solikah pecah. Korban menduga pecahan piring tersebut diarahkan ke tangannya hingga menyebabkan luka robek dan pendarahan cukup serius.

“Akibat kejadian ini saya mengalami luka robek yang cukup lebar dan pendarahan parah di bagian tangan,” kata korban.

Usai kejadian, korban dievakuasi oleh anaknya ke Puskesmas Balongan untuk mendapatkan penanganan medis.

Merasa menjadi korban tindak kekerasan, keluarga Siti Aminah menyatakan akan melaporkan dugaan penganiayaan tersebut ke Polres Indramayu agar diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan atau konfirmasi dari pihak Solikah, Kumed, maupun Pendi terkait tudingan yang disampaikan oleh korban. Aswajanews.id masih berupaya menghubungi pihak-pihak tersebut untuk memperoleh klarifikasi dan memberikan ruang hak jawab sesuai prinsip keberimbangan pemberitaan. (Sn)

Monev Dana Desa Tahap I, Kecamatan Bangodua Evaluasi Realisasi Program di Desa Mulyasari

0

INDRAMAYU (Aswajanews.id) – Pemerintah Kecamatan Bangodua melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Dana Desa (DD) Tahap I Tahun Anggaran 2026 sekaligus pembinaan administrasi di Desa Mulyasari, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Mulyasari tersebut dihadiri Sekretaris Kecamatan Bangodua Eko Febiyanto, S.IP, Plt. Kasi Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Ahmad Isa, S.S.IP, Kasi Tata Pemerintahan Anton Sinugroho, ST, Kepala Desa Mulyasari Ayub, Pendamping Desa Wahyudin, perangkat desa, serta tokoh masyarakat.

Plt. Kasi PMD Kecamatan Bangodua, Ahmad Isa, mengatakan bahwa monitoring dan evaluasi serta pembinaan administrasi merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap tahun di seluruh desa.

“Kami dari tingkat kecamatan setiap tahun selalu melaksanakan monitoring dan evaluasi serta pembinaan administrasi. Kegiatan ini bertujuan mengevaluasi tahapan pelaksanaan pekerjaan maupun program, baik yang bersifat fisik maupun nonfisik,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Mulyasari, Ayub, menjelaskan bahwa Dana Desa Tahap I telah direalisasikan untuk berbagai program nonfisik, di antaranya kegiatan Posyandu, penanganan stunting, Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa, gropyokan tikus, pemberian insentif bagi guru ngaji dan guru PAUD.

Adapun untuk kegiatan fisik, Dana Desa telah digunakan untuk pembangunan Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) di Blok Suka Asih RT 05/RW 03.

Di tempat yang sama, Camat Bangodua Iim Nurahim melalui Sekretaris Kecamatan Bangodua, Eko Febiyanto, menegaskan bahwa kegiatan monitoring dan evaluasi merupakan instrumen penting untuk memastikan pengelolaan Dana Desa berjalan sesuai ketentuan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Melalui proses evaluasi yang dilakukan secara menyeluruh, diharapkan setiap kegiatan yang dilaksanakan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat serta mendukung percepatan pembangunan di tingkat desa,” kata Eko.

(Prapto/Herman Tongol)

Ngaji Filsafat Fahruddin Faiz: Kaizen dan Mentalitas Bangsa yang Terus Bertumbuh

0

“Kita tidak bisa menjadi apa yang kita inginkan jika kita tetap menjadi diri kita yang sekarang.” Max DePree Dalam salah satu kajian Ngaji Filsafat Fahruddin Faiz mengangkat tema “Kaizen”, sebuah filosofi yang lahir dari Jepang dan menjadi salah satu fondasi kebangkitan negeri tersebut pasca-Perang Dunia II.

Menariknya, Kaizen tidk dibahas hanya sebagai teori manajemen perusahaan, melainkan sebagai cara pandang terhadap kehidupan. Inilah yang membuat pembahasan tersebut terasa relevan, bukan hanya bagi dunia industri, tetapi juga bagi individu, organisasi, bahkan kehidupan berbangsa. Banyak orang mengira kemajuan Jepang lahir karena teknologi yg canggih atau kecerdasan masyarakatnya.

Padahal, jika menelusuri sejarahnya, kemajuan itu justru berawal dari perubahan mentalitas. Setelah kekalahan pada Perang Dunia II, Jepang berada dalam kondisi yang sangat terpuruk. Infrastruktur hancur, ekonomi lumpuh, dan kualitas produk mereka dipandang rendah oleh dunia.

Mereka bisa saja mencari kambing hitam atau terus meratapi nasib. Namun, yang mereka lakukan justru sebaliknya: membangun budaya belajar dan budaya memperbaiki diri. Di sinilah lahir filosofi Kaizen “kai” berarti perubahan, sedangkan “zen” berarti lebih baik. Artinya, perubahan menuju kebaikan yg dilakukan secara terus-menerus.

Bagi saya, poin paling penting dari kajian Fahruddin Faiz bukanlah sejarah Kaizen itu sendiri, melainkan perubahan cara berpikir yang melatarbelakanginya. Kaizen mengajarkan bahwa pertanyaan terpenting dalam hidup bukanlah, “Siapa yang salah?”, tetapi “Apa yang bisa diperbaiki?”.

Perbedaan dua pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Ketika kita bertanya “Siapa yang salah?, perhatian kita tertuju pada orang. Kita sibuk mencari pelaku, menyalahkan individu, atau mempertahankan ego. Sebaliknya, ketika bertanya “Apa yang bisa diperbaiki?”, perhatian kita berpindah kepada solusi.

Kesalahan tidak lagi menjadi alasan untuk saling menyudutkan, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar. Inilah sebabnya Kaizen mengenalkan metode 5 Why . Sebuah masalah tidak berhenti pada gejalanya, tetapi ditelusuri hingga akar penyebabnya. Mesin rusak bukan semata karena sekring putus. Sekring putus mungkin karena beban berlebih, beban berlebih karena mesin dipaksa bekerja, mesin dipaksa bekerja karena jadwal perawatan terlambat, dan jadwal terlambat karena tidak ada sistem pemeriksaan yg baik. Masalah ternyata bukan pada sekring, melainkan pada sistem.

Pelajaran ini sangat relevan bagi kehidupan kita hari ini. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menginginkan perubahan yang instan. Kita ingin tubuh sehat dalam sebulan, ingin karier melonjak dalam waktu singkat, ingin organisasi maju hanya dengan mengganti pemimpin, atau berharap pendidikan membaik hanya dengan mengganti kurikulum. Kita terbiasa berpikir dalam lompatan besar, padahal perubahan yang bertahan justru lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Kaizen mengajarkan bahwa perubahan besar bukanlah satu peristiwa, melainkan akumulasi dari ribuan perbaikan kecil. Karena itu, Kaizen tidak pernah memaksa seseorang berubah secara drastis. Ia justru mengajak kita memulai dari sesuatu yang sederhana: membaca beberapa halaman setiap hari, datang sedikit lebih tepat waktu, mengurangi satu kebiasaan buruk, atau memperbaiki satu prosedur kerja. Kecil memang, tetapi ketika dilakukan terus-menerus, dampaknya menjadi luar biasa.

Di sinilah saya melihat hubungan yang menarik antara Kaizen dengan pemikiran James Clear dalam Atomic Habits Jika Kaizen menjawab pertanyaan “Mengapa perubahan harus dilakukan sedikit demi sedikit, maka Atomic Habits menjelaskan bagaimana perubahan kecil itu bisa menjadi kebiasaan yang bertahan lama, Keduanya sama-sama menolak budaya instan. Keduanya percaya bahwa kualitas hidup dibentuk oleh apa yang kita lakukan setiap hari, bukan oleh semangat yang hanya muncul sesekali. Yang juga menarik dari kajian Fahruddin Faiz adalah penegasan bahwa “Tidak ada yang benar-benar sempurna”. Kalimat ini bukan ajakan agar kita terus merasa kurang, melainkan kesadaran bahwa selalu ada ruang untuk menjadi lebih baik.

Guru yang telah mengajar puluhan tahun masih bisa memperbaiki metode mengajarnya. Seorang pemimpin tetap harus belajar mendengar bawahannya. Sebuah organisasi yang sudah baik pun masih dapat meningkatkan kualitas pelayanannya. Kesadaran bahwa “selalu ada ruang untuk memperbaiki diri” adalah fondasi dari kemajuan. Sebaliknya, ketika seseorang merasa dirinya sudah paling benar, saat itulah proses belajar berhenti. Menurut saya, pesan inilah yang paling relevan bagi masyarakat Indonesia saat ini. Kita sering memiliki semangat perubahan yang besar, tetapi tidak memiliki budaya perbaikan yang berkelanjutan.

Kita senang meluncurkan program baru, tetapi malas mengevaluasi program lama. Kita lebih mudah menyalahkan individu daripada memperbaiki sistem. Bahkan dalam kehidupan pribadi, kita sering membuat target yang tinggi, tetapi mengabaikan kebiasaan-kebiasaan kecil yang sebenarnya menentukan keberhasilan. Padahal, bangsa yang maju bukanlah bangsa yang tidak pernah melakukan kesalahan.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang menjadikan setiap kesalahan sebagai bahan evaluasi untuk menjadi lebih baik. Organisasi yang besar bukanlah organisasi yang dipenuhi orang-orang hebat, tetapi organisasi yang seluruh anggotanya memiliki keberanian untuk terus belajar, menerima kritik, dan melakukan perbaikan. Mungkin inilah makna terdalam dari kutipan Max DePree yang dijadikan penutup kajian tersebut: “Kita tidak bisa menjadi apa yang kita inginkan jika kita tetap menjadi diri kita yang sekarang.” Kalimat itu mengingatkan bahwa perubahan bukanlah slogan, melainkan disiplin. Ia bukan lahir dari tekad sesaat, tetapi dari kebiasaan kecil yang dipelihara setiap hari. Sebab pada akhirnya, hidup bukan berubah karena satu keputusan besar, melainkan karena ribuan keputusan kecil yang terus diulang. Kaizen mengajarkan kita untuk tidak sibuk menjadi lebih hebat daripada orang lain.

Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa hari ini kita sedikit lebih baik daripada kemarin. Jika cara berpikir ini menjadi budaya dalam keluarga, sekolah, organisasi, hingga pemerintahan maka perubahan besar bukan lagi sekadar harapan, melainkan keniscayaan. Barangkali, inilah pelajaran paling berharga dari Ngaji Filsafat Fahruddin Faiz tentang Kaizen: “Peradaban tidak dibangun oleh revolusi yang sesaat, tetapi oleh budaya memperbaiki diri yang dilakukan terus-menerus”. (*)

Masyarakat Pesisir Randusanga yang Bertahan dari Gempuran Banjir Rob

0

Manusia tidak pernah dapat memilih dari rahim siapa ia dilahirkan dan di mana ia akan menjalani kehidupannya. Namun, setiap orang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan tempat ia tumbuh. Di situlah karakter, ketahanan, dan cara pandang seseorang dibentuk.

Dalam menjalani kehidupan, manusia tidak hanya membutuhkan hubungan dengan sesama, tetapi juga memiliki keterikatan dengan lingkungan tempat tinggalnya. Rasa nyaman, aman, serta kenangan yang tercipta selama bertahun-tahun membuat seseorang memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap ruang hidupnya.

Ketika seseorang terus-menerus menjalani aktivitas di tempat yang sama, tumbuhlah apa yang dalam psikologi disebut place attachment atau kelekatan terhadap tempat. Ikatan ini bukan sekadar persoalan fisik, tetapi juga menyangkut identitas, rasa memiliki, serta sumber penghidupan. Karena itu, meninggalkan tempat tersebut bukanlah keputusan yang mudah.

Fenomena inilah yang dapat menjelaskan mengapa masyarakat pesisir Randusanga Kulon, Kabupaten Brebes, tetap memilih bertahan meski setiap tahun diterjang banjir rob yang merusak rumah maupun tambak mereka.

Dari perspektif psikologi sosial, kondisi tersebut dapat dipahami melalui konsep Efikasi Kolektif yang diperkenalkan Albert Bandura (1977). Efikasi kolektif merupakan keyakinan bersama bahwa suatu komunitas mampu bekerja sama untuk menghadapi tantangan dan mencapai tujuan bersama.

Masyarakat Randusanga memiliki keyakinan bahwa mereka mampu saling membantu dalam mempercepat perlindungan serta pemulihan akibat bencana rob. Semangat gotong royong menjadi modal utama dalam mempertahankan keberlangsungan desa.

Ketahanan masyarakat tidak hanya bertumpu pada kemampuan individu, tetapi juga pada kekuatan jaringan sosial, solidaritas, dan rasa kebersamaan. Faktor-faktor tersebut membangun resiliensi komunitas sehingga warga tetap optimistis bahwa desa mereka akan terus bertahan.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan teori Constructive Coping yang dikembangkan Richard Lazarus dan Susan Folkman (1984). Menurut teori ini, individu mampu bertahan ketika memiliki strategi penyelesaian masalah yang nyata sekaligus mampu mengelola respons emosional terhadap tekanan.

Di Randusanga, strategi adaptasi tersebut terlihat dalam berbagai bentuk. Banyak warga meninggikan rumah agar terhindar dari genangan rob. Mereka juga melakukan rehabilitasi lingkungan melalui penanaman mangrove sebagai benteng alami terhadap abrasi dan gelombang pasang.

Selain itu, masyarakat mulai melakukan diversifikasi mata pencaharian. Jika sebelumnya hanya mengandalkan sektor tambak, kini sebagian beralih menjadi nelayan, membuka warung pemancingan, hingga mengembangkan potensi wisata pesisir sebagai sumber ekonomi baru.

Mitigasi bencana juga menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Pengetahuan mengenai siklus pasang laut, musim rob, serta kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat diwariskan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pendekatan transaksional terhadap stres, masyarakat diajarkan untuk menerima kenyataan yang belum dapat diubah sepenuhnya, sembari tetap berusaha mencari solusi. Sikap acceptance dipadukan dengan religious coping, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa, ikhtiar, dan tawakal sebagai sumber kekuatan spiritual.

Pendekatan ini selaras dengan konsep Resiliensi Islami yang dikembangkan psikolog Muslim kontemporer seperti Fuad Nashori. Resiliensi Islami memandang bahwa kemampuan bangkit dari keterpurukan tidak hanya bersumber dari kekuatan mental, tetapi juga dari keimanan dan pengendalian diri.

Sementara itu, teori Place Attachment dan Place Identity yang dikemukakan Harold Proshansky (1978) semakin memperjelas mengapa relokasi sering kali tidak menjadi pilihan masyarakat pesisir.

Bagi warga Randusanga, desa bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian dari identitas diri. Menjadi “orang Randusanga” adalah identitas sosial yang telah melekat selama bertahun-tahun. Rumah, tetangga, tempat mencari nafkah, hingga berbagai kenangan hidup membentuk ikatan emosional yang sangat kuat.

Karena itu, banyak warga lebih memilih memodifikasi rumah, beradaptasi dengan kondisi lingkungan, atau mengubah profesi daripada harus meninggalkan kampung halaman menuju tempat yang asing.

Logika sederhananya dapat kita lihat pada banyak orang tua yang lebih memilih tetap tinggal di rumah sendiri meskipun anak-anaknya telah mapan. Bukan semata karena rumahnya, tetapi karena mereka telah menyatu dengan lingkungan, mengenal tetangga, memahami kebiasaan sekitar, serta memiliki rutinitas yang memberikan rasa aman dan nyaman.

Demikian pula masyarakat Randusanga Kulon. Mereka tidak sekadar mempertahankan rumah, tetapi juga mempertahankan identitas, sejarah, hubungan sosial, dan sumber kehidupan yang telah mengakar.

Inilah barangkali yang menjadi alasan mengapa masyarakat pesisir Randusanga Kulon tetap memilih bertahan menghadapi banjir rob yang terus datang setiap tahun, meski sektor tambak sebagai tulang punggung ekonomi kerap mengalami kerusakan. Fenomena serupa juga banyak dijumpai di berbagai kawasan pesisir Pantai Utara Jawa, di mana masyarakat lebih memilih beradaptasi daripada meninggalkan tanah kelahirannya.

Wallahu a’lam bishawab.

H. Lukman Nur Hakim, S.Psi.

Alumni Psikologi UMS Surakarta (2000), tinggal di Randusanga Kulon, Brebes.*

Bupati Aep Pastikan LKS Gratis untuk Seluruh Pelajar SD dan SMP Karawang, Ditargetkan Mulai 2027

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Kabar gembira bagi dunia pendidikan di Kabupaten Karawang. Bupati Karawang, Aep Syaepuloh, memastikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang akan merealisasikan program Lembar Kerja Siswa (LKS) gratis bagi seluruh pelajar Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Program tersebut ditargetkan mulai direalisasikan pada tahun 2027 sebagai bagian dari upaya meringankan beban ekonomi masyarakat.

Menurut Aep, setelah berhasil menggratiskan biaya pendidikan di jenjang SD dan SMP, pemerintah daerah kini kembali menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada masyarakat melalui penyediaan LKS secara gratis.

Saat ini, kata dia, Pemkab Karawang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) tengah menyusun skema pelaksanaan program tersebut agar dapat berjalan secara optimal.

“Harapan saya sama, bagaimana saat ini saya ingin merealisasikan hadiah untuk masyarakat Kabupaten Karawang. Tentunya buku LKS ini gratis. Sekarang kami sedang membuat skema programnya seperti apa,” ujar Aep, Selasa (7/7/2026).

Ia menjelaskan, pelaksanaan program tersebut masih menunggu penyesuaian serta perhitungan kemampuan anggaran daerah. Meski demikian, dirinya optimistis program LKS gratis dapat segera direalisasikan.

“Mudah-mudahan bisa terealisasi secepatnya. Kami juga saat ini sedang melihat kekuatan pagu anggaran daerah. Tapi insya Allah bisa,” tegasnya.

Aep menuturkan, setelah berbagai program di sektor kesehatan berjalan dengan baik, kini pemerintah daerah memfokuskan perhatian pada sektor pendidikan. Selain pembangunan sarana pendidikan, pengurangan beban biaya yang harus ditanggung orang tua siswa juga menjadi prioritas.

“Sekarang kesehatan alhamdulillah sudah selesai. Tinggal saya fokus pendidikan. Pembangunan pendidikan juga sedang berjalan, insya Allah LKS ini akan segera kami realisasikan, mohon doanya,” katanya.

Menurutnya, pembelian LKS setiap awal tahun ajaran masih menjadi salah satu pengeluaran rutin yang cukup membebani orang tua siswa. Oleh karena itu, Pemkab Karawang ingin mengambil alih pembiayaan tersebut agar masyarakat tidak lagi mengeluarkan biaya untuk membeli LKS.

“Minimal kalau buku LKS gratis kan tidak membebani kita sebagai orang tua. Saya juga orang tua, saya punya anak, beli buku LKS juga. Mudah-mudahan tahun besok sudah bisa terealisasikan. Bismillah, doanya,” pungkas Aep.

Program LKS gratis ini diharapkan menjadi langkah nyata Pemkab Karawang dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan sekaligus memastikan seluruh anak di Kabupaten Karawang memperoleh akses pendidikan yang lebih mudah, merata, dan terjangkau.
(Ahmad Z)

Heboh Isu Jawa Barat Berganti Nama Jadi Tatar Sunda, Ono Surono dan Dedi Mulyadi Kompak Beri Penegasan

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Isu pergantian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Tatar Sunda, Sunda, atau Pasundan yang ramai beredar di media sosial akhirnya mendapat penegasan dari DPRD Jawa Barat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada usulan resmi, baik dari DPRD Jawa Barat maupun Pemerintah Provinsi Jawa Barat, untuk mengubah nama Provinsi Jawa Barat.

“Saya tegaskan kembali bahwa tidak ada usulan resmi, baik dari Gubernur Jawa Barat maupun dari DPRD Jawa Barat terkait hal ini,” kata Ono Surono, Rabu (8/7).

Menurut Ono, isu tersebut berawal dari aspirasi yang diajukan Komunitas Pengkaji Penggantian Nama Provinsi Jawa Barat melalui surat kepada Ketua DPRD Jawa Barat pada 6 Januari 2025.
Aspirasi tersebut kemudian dibahas dalam audiensi pada 22 Mei 2025. Menindaklanjuti hasil pertemuan itu, Ketua DPRD Jawa Barat menerbitkan nota dinas kepada Komisi I agar dilakukan kajian awal sesuai mekanisme yang berlaku.

Selanjutnya, pada 14 Agustus 2025, Komisi I DPRD Jawa Barat bersama perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Barat kembali menggelar audiensi dengan komunitas pengusul untuk mendalami materi yang disampaikan.

Ono menegaskan, hasil pembahasan tersebut sama sekali bukan persetujuan untuk mengganti nama Provinsi Jawa Barat, melainkan hanya kesepakatan untuk mengkaji aspirasi tersebut secara akademis.

“Hampir mayoritas fraksi di dewan hanya setuju untuk menindaklanjuti kajiannya. Jadi bukan langsung setuju mengubah nama Provinsi Jawa Barat, tetapi setuju dilakukan kajian yang lebih mendalam dan komprehensif,” tegasnya.

Ia menjelaskan, apabila kajian dilakukan, maka harus mempertimbangkan berbagai aspek penting, mulai dari aspek yuridis, historis, sosiologis, budaya, hingga dampak ekonomi. Selain itu, keberagaman masyarakat Jawa Barat yang terdiri dari budaya Sunda, Betawi, dan Cirebon juga harus menjadi perhatian utama.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi turut membantah isu yang beredar. Melalui akun Instagram pribadinya, Dedi memastikan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak pernah memiliki agenda untuk mengganti nama provinsi.

“Kami tegaskan bahwa ada yang melempar wacana membuat cerita-cerita di media sosial akan ada perubahan nama Jawa Barat jadi Tatar Sunda. Seluruh rangkaian itu adalah karangan orang lain. Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan fokus terus bekerja, tidak akan mengurusi perubahan nama. Namanya tetap Jawa Barat,” ujar Dedi.

Dengan adanya penegasan dari DPRD dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang beredar tanpa sumber resmi. Hingga saat ini, tidak ada keputusan maupun usulan resmi terkait perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Tatar Sunda, Sunda, ataupun Pasundan. (*)

Pelayanan Kecamatan Cikampek dan MPP Disidak Wakil Bupati Maslani

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Wakil Bupati Karawang H. Maslani melakukan inspeksi mendadak (sidak) dan pengecekan langsung terhadap pelayanan publik di Kantor Kecamatan Cikampek serta Mall Pelayanan Publik (MPP), pada Selasa (7/7/2026) sekitar pukul 13.30 WIB.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan dengan baik, cepat, tertib, serta sesuai dengan standar pelayanan publik yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Karawang.

Dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati didampingi Camat Cikampek Adi Firmansyah, S.H., M.M., beserta jajaran Pemerintah Kecamatan Cikampek.
Turut hadir Sekretaris Kecamatan H. Ari Maulana, SKM., M.M., Kasi Pemerintahan Hj. Fatmawati, S.H., Kasi Trantib Ade Saprudin, S.E., Kasubag Program Aang Khoerul Hak, Amd.Kep., Kasi PMD H. Abdul Rochim, S.IP., Kasi Kesos Ade Sutardi, S.E., M.M., Kasubag Kepegawaian Pujiyanto, S.E., Penata Kelola Sistem dan Teknologi Informasi Rizki Makmur Ibrahim, S.Kom., serta Penata Kelola Pemerintahan Firda Azijah, S.IP.

Dalam sidaknya, Wakil Bupati meninjau langsung sejumlah ruang pelayanan, berdialog dengan petugas, serta melihat proses pelayanan administrasi yang diberikan kepada masyarakat.

Ia juga memberikan sejumlah arahan agar kualitas pelayanan terus ditingkatkan dengan mengedepankan profesionalisme, kecepatan, transparansi, dan keramahan kepada masyarakat.

“Saya ingin memastikan bahwa masyarakat memperoleh pelayanan yang cepat, mudah, dan nyaman. Kehadiran pemerintah harus benar-benar dirasakan melalui pelayanan publik yang berkualitas,” ujar H. Maslani.

Sementara itu, Camat Cikampek Adi Firmansyah menyampaikan bahwa pihaknya berkomitmen untuk terus meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat melalui evaluasi dan pembenahan secara berkelanjutan.

“Kami menyambut baik kunjungan dan evaluasi dari Bapak Wakil Bupati. Arahan yang diberikan akan menjadi motivasi bagi seluruh jajaran Kecamatan Cikampek untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ungkap Adi Firmansyah.

Kegiatan sidak berlangsung dengan tertib dan lancar. Pemerintah Kecamatan Cikampek berharap kegiatan monitoring seperti ini dapat menjadi sarana evaluasi sekaligus mendorong peningkatan kualitas pelayanan publik yang semakin prima, efektif, dan berorientasi pada kepuasan masyarakat.

Apabila tersedia dokumentasi kegiatan atau pernyataan resmi Wakil Bupati, kutipan langsung dapat disesuaikan agar lebih akurat dan sesuai dengan ucapan beliau.

(Ahmad Z)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Monev Dana Desa Tahap I 2026, Kecamatan Bangodua Pastikan Pengelolaan DD di Desa Malangsari Tepat Sasaran

0

INDRAMAYU (Aswajanews.id) – Pemerintah Kecamatan Bangodua melaksanakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Dana Desa (DD) Tahap I Tahun Anggaran 2026 di Desa Malangsari, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Rabu (8/7/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pembinaan dan pengawasan untuk memastikan pelaksanaan program yang bersumber dari Dana Desa berjalan sesuai ketentuan, tepat sasaran, serta memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.

Tim Monitoring dan Evaluasi yang terdiri dari unsur Kecamatan Bangodua, pendamping desa, dan pihak terkait melakukan peninjauan terhadap pelaksanaan kegiatan pembangunan fisik maupun program pemberdayaan masyarakat yang telah direalisasikan pada Tahap I Tahun 2026.

Selain meninjau pelaksanaan kegiatan di lapangan, tim juga memeriksa dokumen administrasi serta laporan realisasi penggunaan Dana Desa. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kesesuaian antara perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban anggaran sehingga pengelolaan Dana Desa berjalan secara transparan, akuntabel, dan efektif.

Dalam proses evaluasi, tim memberikan pembinaan serta sejumlah masukan kepada Pemerintah Desa Malangsari agar pengelolaan Dana Desa tetap mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku dan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.

Camat Bangodua, Iim Nurahim, melalui Sekretaris Kecamatan Bangodua, Eko Febiyanto, mengatakan kegiatan Monitoring dan Evaluasi merupakan instrumen penting untuk memastikan Dana Desa benar-benar dimanfaatkan bagi pembangunan desa dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Melalui proses evaluasi yang dilakukan secara menyeluruh, diharapkan setiap kegiatan yang dilaksanakan mampu memberikan dampak positif bagi masyarakat serta mendukung percepatan pembangunan di tingkat desa,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Malangsari, Casminto, menyambut baik pelaksanaan monev tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi bentuk pendampingan dan pengawasan yang konstruktif bagi pemerintah desa.

“Hasil evaluasi ini akan menjadi bahan perbaikan dan penyempurnaan dalam pelaksanaan program pembangunan desa pada tahap berikutnya sehingga kualitas pelaksanaan kegiatan terus meningkat,” katanya.

Melalui kegiatan Monitoring dan Evaluasi Dana Desa Tahap I Tahun 2026 ini, Pemerintah Kecamatan Bangodua menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pembinaan, pengawasan, dan pendampingan kepada pemerintah desa guna mewujudkan pengelolaan Dana Desa yang transparan, akuntabel, partisipatif, dan berorientasi pada hasil.

Dengan pengelolaan yang baik, Dana Desa diharapkan menjadi instrumen yang efektif dalam meningkatkan kualitas infrastruktur, pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat, serta kesejahteraan warga desa.

Semangat kolaborasi antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa, pendamping desa, dan masyarakat dinilai menjadi kunci utama dalam mewujudkan pembangunan Desa Malangsari yang berkelanjutan, berdaya saing, serta semakin maju dan sejahtera.

(Prapto/Herman Tongol)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Wabup Maslani Pastikan Pelayanan Publik Cepat dan Dekat dengan Rakyat Lewat Gebyar PATEN di Pangkalan

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Pemerintah Kabupaten Karawang kembali menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan publik yang mudah diakses melalui kegiatan Gebyar Pelayanan Administrasi Terpadu Kecamatan (PATEN) yang digelar di Kecamatan Pangkalan, Rabu (8/7/2026).

Dalam kesempatan tersebut, Wakil Bupati Karawang H. Maslani memastikan seluruh pelayanan kepada masyarakat berjalan cepat, mudah, transparan, dan dekat dengan warga. Menurutnya, kehadiran Gebyar PATEN merupakan upaya nyata pemerintah daerah untuk mendekatkan berbagai layanan publik hingga ke tingkat kecamatan.

Selain meninjau pelayanan administrasi, Wabup Maslani juga menyerahkan sejumlah bantuan kepada masyarakat, di antaranya bantuan sosial berupa kursi roda bagi warga yang membutuhkan, serta penyerahan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikat halal kepada para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kecamatan Pangkalan sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan ekonomi masyarakat.

Suasana penuh kehangatan mewarnai kegiatan tersebut saat penyerahan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Seorang lansia penerima manfaat program Rumah Layak Huni (Rulahu) secara khusus menyerahkan sajian makanan dalam rantang kepada Wakil Bupati H. Maslani sebagai ungkapan rasa syukur, terima kasih, dan apresiasi atas perhatian Pemerintah Kabupaten Karawang terhadap masyarakat.

Momen tersebut menjadi simbol kedekatan antara pemerintah dan masyarakat, sekaligus mencerminkan bahwa berbagai program yang dijalankan Pemkab Karawang telah memberikan manfaat nyata bagi warga.

Melalui Gebyar PATEN, Pemerintah Kabupaten Karawang menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pelayanan publik yang prima, mempercepat akses layanan bagi masyarakat, serta memastikan pembangunan dan kesejahteraan dapat dirasakan secara merata hingga ke seluruh wilayah Kabupaten Karawang.
(Ahmad Z)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Google search engine
0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan

Recent Posts