Beranda Aktual Masyarakat Pesisir Randusanga yang Bertahan dari Gempuran Banjir Rob

Masyarakat Pesisir Randusanga yang Bertahan dari Gempuran Banjir Rob

62

Manusia tidak pernah dapat memilih dari rahim siapa ia dilahirkan dan di mana ia akan menjalani kehidupannya. Namun, setiap orang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan tempat ia tumbuh. Di situlah karakter, ketahanan, dan cara pandang seseorang dibentuk.

Dalam menjalani kehidupan, manusia tidak hanya membutuhkan hubungan dengan sesama, tetapi juga memiliki keterikatan dengan lingkungan tempat tinggalnya. Rasa nyaman, aman, serta kenangan yang tercipta selama bertahun-tahun membuat seseorang memiliki ikatan emosional yang kuat terhadap ruang hidupnya.

Ketika seseorang terus-menerus menjalani aktivitas di tempat yang sama, tumbuhlah apa yang dalam psikologi disebut place attachment atau kelekatan terhadap tempat. Ikatan ini bukan sekadar persoalan fisik, tetapi juga menyangkut identitas, rasa memiliki, serta sumber penghidupan. Karena itu, meninggalkan tempat tersebut bukanlah keputusan yang mudah.

Fenomena inilah yang dapat menjelaskan mengapa masyarakat pesisir Randusanga Kulon, Kabupaten Brebes, tetap memilih bertahan meski setiap tahun diterjang banjir rob yang merusak rumah maupun tambak mereka.

Dari perspektif psikologi sosial, kondisi tersebut dapat dipahami melalui konsep Efikasi Kolektif yang diperkenalkan Albert Bandura (1977). Efikasi kolektif merupakan keyakinan bersama bahwa suatu komunitas mampu bekerja sama untuk menghadapi tantangan dan mencapai tujuan bersama.

Masyarakat Randusanga memiliki keyakinan bahwa mereka mampu saling membantu dalam mempercepat perlindungan serta pemulihan akibat bencana rob. Semangat gotong royong menjadi modal utama dalam mempertahankan keberlangsungan desa.

Ketahanan masyarakat tidak hanya bertumpu pada kemampuan individu, tetapi juga pada kekuatan jaringan sosial, solidaritas, dan rasa kebersamaan. Faktor-faktor tersebut membangun resiliensi komunitas sehingga warga tetap optimistis bahwa desa mereka akan terus bertahan.

Pandangan tersebut juga sejalan dengan teori Constructive Coping yang dikembangkan Richard Lazarus dan Susan Folkman (1984). Menurut teori ini, individu mampu bertahan ketika memiliki strategi penyelesaian masalah yang nyata sekaligus mampu mengelola respons emosional terhadap tekanan.

Di Randusanga, strategi adaptasi tersebut terlihat dalam berbagai bentuk. Banyak warga meninggikan rumah agar terhindar dari genangan rob. Mereka juga melakukan rehabilitasi lingkungan melalui penanaman mangrove sebagai benteng alami terhadap abrasi dan gelombang pasang.

Selain itu, masyarakat mulai melakukan diversifikasi mata pencaharian. Jika sebelumnya hanya mengandalkan sektor tambak, kini sebagian beralih menjadi nelayan, membuka warung pemancingan, hingga mengembangkan potensi wisata pesisir sebagai sumber ekonomi baru.

Mitigasi bencana juga menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Pengetahuan mengenai siklus pasang laut, musim rob, serta kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat diwariskan dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pendekatan transaksional terhadap stres, masyarakat diajarkan untuk menerima kenyataan yang belum dapat diubah sepenuhnya, sembari tetap berusaha mencari solusi. Sikap acceptance dipadukan dengan religious coping, yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui doa, ikhtiar, dan tawakal sebagai sumber kekuatan spiritual.

Pendekatan ini selaras dengan konsep Resiliensi Islami yang dikembangkan psikolog Muslim kontemporer seperti Fuad Nashori. Resiliensi Islami memandang bahwa kemampuan bangkit dari keterpurukan tidak hanya bersumber dari kekuatan mental, tetapi juga dari keimanan dan pengendalian diri.

Sementara itu, teori Place Attachment dan Place Identity yang dikemukakan Harold Proshansky (1978) semakin memperjelas mengapa relokasi sering kali tidak menjadi pilihan masyarakat pesisir.

Bagi warga Randusanga, desa bukan sekadar tempat tinggal, melainkan bagian dari identitas diri. Menjadi “orang Randusanga” adalah identitas sosial yang telah melekat selama bertahun-tahun. Rumah, tetangga, tempat mencari nafkah, hingga berbagai kenangan hidup membentuk ikatan emosional yang sangat kuat.

Karena itu, banyak warga lebih memilih memodifikasi rumah, beradaptasi dengan kondisi lingkungan, atau mengubah profesi daripada harus meninggalkan kampung halaman menuju tempat yang asing.

Logika sederhananya dapat kita lihat pada banyak orang tua yang lebih memilih tetap tinggal di rumah sendiri meskipun anak-anaknya telah mapan. Bukan semata karena rumahnya, tetapi karena mereka telah menyatu dengan lingkungan, mengenal tetangga, memahami kebiasaan sekitar, serta memiliki rutinitas yang memberikan rasa aman dan nyaman.

Demikian pula masyarakat Randusanga Kulon. Mereka tidak sekadar mempertahankan rumah, tetapi juga mempertahankan identitas, sejarah, hubungan sosial, dan sumber kehidupan yang telah mengakar.

Inilah barangkali yang menjadi alasan mengapa masyarakat pesisir Randusanga Kulon tetap memilih bertahan menghadapi banjir rob yang terus datang setiap tahun, meski sektor tambak sebagai tulang punggung ekonomi kerap mengalami kerusakan. Fenomena serupa juga banyak dijumpai di berbagai kawasan pesisir Pantai Utara Jawa, di mana masyarakat lebih memilih beradaptasi daripada meninggalkan tanah kelahirannya.

Wallahu a’lam bishawab.

H. Lukman Nur Hakim, S.Psi.

Alumni Psikologi UMS Surakarta (2000), tinggal di Randusanga Kulon, Brebes.*


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.