Tanggal 9 November 1945, dua pasukan laskar pesantren berangkat ke Surabaya. Satu pasukan dari Buntet Cirebon dipimpin Kiyai Abbas Jamil dan satu lagi dari Babakan Ciwaringin dipimpin Kiyai Amin Sepuh.
Mereka berangkat dari Stasiun Cirebon dengan menumpang kereta api jurusan Jakarta-Surabaya. Besoknya, pagi sekali, mereka turun di Stasiun Gubeng, stasiun utama kedua setelah Pasar Turi.
Rupanya, kedatangan mereka sudah ditunggu-tunggu oleh KH Hasyim Asy’ari. Sementara itu, ribuan laskar pejuang yang terdiri dari TKR, pasukan Hizbullah, dan laskar santri dari berbagai pondok pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah sudah beberapa hari menunggu komando serbu dari kiai karismatik dan pendiri Nahdlatul Ulama tersebut.
Isyarat maju disampaikan melalui Sutomo atau Bung Tomo yang siap sedia di corong Radio Domei milik pemerintah.
Bung Tomo cukup meneriakkan pekik takbir, โAllahu Akbar!โ dan semboyan, โMerdeka atau mati!โ Maka bergeraklah ribuan laskar pejuang menyerbu pasukan Sekutu yang dipersenjatai senjata modern, laras panjang, dan mitraliur.
Sementara itu, laskar arek Suroboyo hanya membawa sebilah bambu runcing, yaitu tongkat bambu yang salah satu ujungnya diruncingkan. Senjata tradisional itu dipercaya bertuah.
Tentara Sekutu yang berang gara-gara panglima perang mereka, Brigadir Jenderal Mallaby, tewas sehari sebelumnya. Ada yang bilang Mallaby tewas di ujung bambu runcing yang dilemparkan seorang laskar santri. Wallahu a’lam.
Pencipta dan pembuat bambu runcing adalah Kiyai Subhi dari Temanggung, Jawa Tengah. Setelah diruncingkan, bambu itu dioles cairan yang sudah diijazahkan oleh kiyai. Rupanya, Kiyai Subhi memiliki ilmu kanuragan.
Di Jawa Timur ada Kiyai Manshur di Kalipucung, Kabupaten Blitar, yang memiliki keahlian membuat dan mengijazahkan bambu runcing sehingga menjadi senjata yang bertuah dan mematikan.
Terbukti, pasukan Sekutu yang bersenjata modern itu tunggang-langgang berlarian ke arah Pelabuhan Tanjung Perak. Mereka kemudian dipulangkan ke Gujarat, India, yang merupakan pangkalan armada Sekutu.
Lalu, Presiden Sukarno menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan.
Pertempuran Surabaya itu sangat berkaitan dengan Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh para ulama Nahdlatul Ulama di Surabaya, dipimpin oleh KH Hasyim Asy’ari, pada tanggal 22 dan 23 Oktober 1945.
Kemudian, tanggal 22 Oktober diadopsi dan ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional oleh Presiden Jokowi pada tahun 2015. (*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























