Wartawan sering kali menjadi korban permainan para penyelenggara negara, baik PNS maupun ASN. Tidak sedikit pejabat yang kurang menyukai kehadiran para pencari berita. Saya sendiri pernah menjadi korban ulah culas mereka.
Peristiwa itu terjadi pada 2004. Saya datang ke Sumedang dengan maksud menemui Bupati Endang Sukandar untuk menanyakan perkembangan pembangunan bendung atau irigasi Jatigede.
Setibanya di ruang tamu, saya diberi tahu ajudan bupati bernama Sofyan Lubis bahwa bupati sedang pergi ke daerah. Sedikit kecewa, saya pun menunggu di ruang ajudan.
Sekitar 15 menit kemudian, tiba-tiba bupati keluar. Melihat saya sedang cinutrung (duduk menunggu), beliau langsung menyapa.
“Eh, aya Boss Dedi. Mau ke saya? Yu!”
Kami kemudian masuk ke ruang kerja bupati. Terkait pembangunan Bendung Jatigede, bupati yang saat itu baru menjabat sekitar dua tahun menjelaskan bahwa proyek tersebut masih cukup lama. Tahapannya baru sebatas penjaringan aspirasi untuk kemudian diajukan ke pemerintah pusat.
Setelah selesai berbincang, saya keluar dari ruangan. Tiba-tiba si ajudan mengejar.
“Aduh, maaf, Pak. Tadi saya mengira Bapak berangkat langsung dari rumah.”
Sambil terus ngaleos (berjalan pergi), saya hanya bergumam, “Sontoloyo!”
Pengalaman serupa dialami Eka Purwanto, wartawan sekaligus editor Tabloid Deras. Nasibnya kurang beruntung ketika menjalankan tugas pada 2015.
Saat itu, saya menyuruh Eka menemui Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat, Drs. H. A. Buhori, MM. Sebelumnya, sang kepala kanwil memang meminta saya mengirim seseorang untuk menemuinya di kantor.
Eka pun berangkat ke Gedung Kanwil Kemenag Jabar di Jalan Sudirman 644, Bandung. Setibanya di lantai tiga, ia menemui sekretaris pimpinan (Sekpim), seorang perempuan, yang mengatakan bahwa kepala kanwil sedang rapat.
Eka menunggu. Seperempat jam berlalu, setengah jam, satu jam, bahkan hingga dua jam. Namun, tak kunjung ada kepastian kapan ia bisa diterima.
Saya kemudian menelepon kepala kanwil.
“Pak, orang yang saya suruh menemui Bapak sudah dua jam menunggu. Katanya Bapak sedang rapat,” ujar saya.
Dengan nada terkejut, kepala kanwil menjawab, “Mana dia? Suruh masuk! Saya tidak rapat. Saya sendirian di kamar kerja.”
Eka akhirnya dipanggil masuk. Kepala kanwil keluar dan mengajaknya ke ruang kerja. Namun, pertemuan itu hanya berlangsung beberapa menit. Eka sudah kembali keluar.
Setibanya di kantor, ia tertawa ketus sambil menggerutu.
“Garelo!”
Begitulah. Wartawan yang datang untuk menjalankan tugas mencari informasi justru kerap dipermainkan oleh orang-orang yang seharusnya melayani publik. Kadang, yang membuat kesal bukan pejabatnya, melainkan mereka yang merasa lebih berkuasa daripada pejabat itu sendiri. (*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























