Kata sontoloyo mulai berkembang di pedesaan Pulau Jawa. Dulu, para penggembala bebek setiap hari mengawal ratusan bebek peliharaannya mencari makan di sawah-sawah yang sudah dipanen. Aktivitas itu diperbolehkan, dengan syarat bebek-bebek tersebut tidak memasuki sawah yang belum dipanen.
Syarat lainnya, bebek-bebek itu tidak boleh menyeberang jalan seenaknya karena dapat mengganggu dan membahayakan lalu lintas.
Namun, para penggembala sering kali tidak mampu mengendalikan bebek-bebek asuhannya. Namanya juga binatang. Punya otak, tetapi tidak punya akal. Wong, manusia yang punya otak dan akal saja terkadang susah diatur.
Teriakan sontoloyo konon bermula dari para pengemudi gerobak sapi. Ketika sedang melaju kencang, tiba-tiba sebarisan bebek menyeberang jalan. Kesal karena perjalanannya terganggu, para pengemudi pedati itu berteriak lantang, “Hei, sontoloyo!”
Kata sontoloyo pun menjadi umpatan yang menggambarkan kekesalan. Dalam perkembangan selanjutnya, kata itu digunakan untuk menyebut orang yang dianggap bodoh, tidak berpikir, atau bertindak tolol.
Bung Karno pernah menulis sebuah artikel berjudul Islam Sontoloyo yang dimuat dalam majalah Panji Islam pada Oktober 1940. Melalui tulisan tersebut, Bung Karno menyindir kalangan ulama dan ustaz yang dinilainya mengajarkan praktik keagamaan menyimpang dari ajaran Al-Qur’an, sekaligus membiarkan berkembangnya praktik klenik dan takhayul.
Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada 2018, Presiden Joko Widodo juga melontarkan istilah “politikus sontoloyo”. Presiden ke-7 Republik Indonesia itu menyindir para politikus yang gemar mengumbar intrik dan fitnah dalam kehidupan politik.
“Itu namanya politikus sontoloyo,” ujar Jokowi ketika itu.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sontoloyo merupakan kata cakapan yang digunakan sebagai umpatan untuk menyebut orang yang bodoh atau tidak beres perbuatannya.
Dasar sontoloyo!
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























