Buku itu sebenarnya sudah terbit pada April 2025. Namun, baru marak di media sosial pada September 2025. Para pengguna media sosial memasang sampul buku dan foto Presiden Prabowo Subianto.
Saya makin penasaran, apa gerangan isi buku yang kontroversial itu.
Buku tersebut dihimpun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush’ab Muqoddas.
Ternyata, isinya bukan cerita Prabowo kepada para penyusun. Juga bukan tentang sekte atau madzhab baru tentang Islam yang dibawa seorang tokoh bernama Prabowo Subianto.
Ternyata, isinya lebih dominan memuat pandangan atau perspektif beberapa tokoh politisi yang disebut sebagai kontributor. Mereka adalah tokoh, ulama, akademisi, dan politisi. Bukan cerita tentang bagaimana Prabowo Subianto secara pribadi melaksanakan salat, puasa, zakat, dan ibadah haji.
Yang digambarkan adalah bagaimana Prabowo membangun untuk kesejahteraan masyarakat, bagaimana dia melakukan perdamaian agar rakyat Indonesia hidup aman dan nyaman, bagaimana membangun epoleksosbud, serta bagaimana menciptakan keadilan hukum agar rakyat merasa diperlakukan setara.
Tidak ada istilah belah bambu: mengangkat yang atas dan menginjak yang bawah.
Kata pengantar ditulis Ketua MPR Ahmad Muzani, yang sekaligus mengupas kiprah politik Prabowo dalam mendirikan dan memimpin Partai Gerakan Indonesia Raya.
Kontributor lain yang disebut adalah Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi. Namun, belakangan TGB membantah mengirim tulisan kepada para penyusun.
Sementara itu, Ahmad Muzani disebut sebagai penggagas awal penyusunan buku tersebut.
Saya jadi memiliki perspektif bahwa Islam ala Prabowo Subianto mirip-mirip dengan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa ala mertuanya, Soeharto, yang dulu oleh sebagian publik banyak distigma sebagai agama eling-eling.
Itulah buku Islam Ala Prabowo yang sempat mengundang percakapan luas di media sosial dan membetot rasa penasaran saya bagai besi sembrani. (*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























