BREBES (Aswajanews.id) – Kepala MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Akhmad Sururi, menguraikan empat konsep utama dalam pendidikan Islam, yakni ta’lim, ta’dib, tarbiyah, dan tadris. Menurutnya, keempat istilah tersebut merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dalam membentuk sistem pendidikan Islam serta menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan nasional.
“Ketika membahas pendidikan nasional, maka pendidikan Islam secara otomatis menjadi bagian di dalamnya karena menjadi salah satu pilar pendidikan nasional,” ujar Sururi.
Ia menjelaskan, ta’lim merupakan konsep pendidikan yang bertumpu pada transfer of knowledge atau proses penyampaian ilmu pengetahuan. Mengutip pendapat pakar pendidikan Abdul Fattah Jalal, ta’lim adalah proses pemberian pengetahuan, pemahaman, pengertian, dan tanggung jawab sehingga manusia menjadi suci dari berbagai keburukan, siap menerima hikmah, serta mampu mengembangkan keterampilan yang bermanfaat.
Konsep tersebut, lanjut Sururi, sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS. An-Nahl ayat 78, yang menjelaskan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apa pun, kemudian Allah menganugerahkan pendengaran, penglihatan, dan hati agar manusia memperoleh ilmu dan bersyukur.
Sementara itu, ta’dib berasal dari kata addaba-yuaddibu-ta’diban yang berarti mendidik adab atau sopan santun. Dalam terminologi pendidikan Islam, ta’dib merupakan proses pembinaan akhlak dan penyempurnaan budi pekerti peserta didik.
Sururi yang juga merupakan alumni Pondok Pesantren Lirboyo mengutip pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas, yang mendefinisikan ta’dib sebagai proses penanaman pengenalan dan pengakuan terhadap tatanan ciptaan Allah sehingga membimbing manusia untuk mengenal kebesaran dan keagungan-Nya. Oleh karena itu, konsep ta’dib mencakup unsur ilmu (ta’lim), pengasuhan (tarbiyah), sekaligus pembentukan karakter.
Adapun tarbiyah, menurut Sururi, berasal dari kata rabba-yurabbi-tarbiyatan yang berarti mendidik, memelihara, dan mengembangkan. Tarbiyah merupakan proses pembinaan manusia secara bertahap menuju kesempurnaan.
Ia mengutip pendapat Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi yang menyatakan bahwa tarbiyah adalah proses membawa seseorang menuju kesempurnaan secara bertahap. Sementara Al-Asfahani memaknai tarbiyah sebagai proses menumbuhkan potensi sesuai kemampuan dan tahap perkembangannya.
“Konsep tarbiyah tidak hanya bermakna pendidikan, tetapi juga pengasuhan dan pemeliharaan seluruh potensi manusia agar berkembang secara optimal,” jelasnya.
Mengenai tadris, Sururi menjelaskan bahwa istilah tersebut merupakan proses pembelajaran yang mendorong peserta didik mampu membaca, mengkaji, memahami, mengingat, mendiskusikan, hingga mengamalkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari.
“At-tadris adalah upaya menyiapkan murid agar mampu membaca, mempelajari, mengkaji, memahami, serta mengamalkan ilmu dengan tujuan mencari ridha Allah SWT,” kata Akhmad Sururi.
Menurutnya, keempat konsep tersebut memiliki keunikan makna yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Masing-masing tidak dapat dipisahkan karena saling melengkapi dalam mewujudkan tujuan pendidikan Islam, yakni membentuk manusia berilmu, berakhlak mulia, beramal saleh, dan memiliki kedekatan kepada Allah SWT.
Sururi menambahkan, seluruh proses pendidikan Islam mengandung pesan agar guru terus meningkatkan kompetensinya, menerapkan metode pembelajaran yang bijaksana, serta membimbing peserta didik secara bertahap dan berkelanjutan hingga terbentuk insan yang berkepribadian muslim.
“Istilah at-tarbiyah merupakan istilah yang paling tepat mewakili pendidikan Islam karena memiliki landasan filosofis yang kuat sebagaimana termaktub dalam QS. Ali Imran ayat 79, yakni perintah agar manusia menjadi insan rabbani,” pungkasnya.
(Red)
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
































