Beranda Nusantara ALI MURTOPO THINK TANK-NYA DARIPADA SUHARTO

ALI MURTOPO THINK TANK-NYA DARIPADA SUHARTO

0
0

Setiap orang yang pada tahun 1966 sudah dewasa, mustahil tidak mengenal nama Ali Murtopo. Tahun-tahun itu, Ali bersama karibnya, Sudjono Humardani, menjabat sebagai asisten pribadi Mayor Jenderal Suharto, Panglima Kostrad. Mereka sudah akrab dan membantu Suharto sejak sang jenderal menjabat Panglima Kodam Diponegoro di Semarang.

Ketika Suharto diangkat menjadi Panglima Kostrad (pertama) di Jakarta, mereka ikut, semacam bedol desa. Waktu itulah Letkol Ali Murtopo dan Sudjono Humardani ditetapkan sebagai asisten pribadi.

Ali Murtopo adalah seorang tentara kelahiran Blora, 15 September 1922. Ia memiliki talenta intelijen, aktivis, dan politikus ulung.

Dialah yang dengan kemampuan kulasak-kulusek berhasil mendorong Suharto ke tampuk kepemimpinan sebagai Presiden Republik Indonesia kedua pada tanggal 27 Maret 1968.

Tahun 1966, Ali mendekati aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang dipimpin Cosmas Batubara dan sejumlah organisasi pemuda seperti KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia).

Sebagai kendaraan politik, Ali menggunakan Sekber Golkar yang dibentuk Suharto pada tahun 1964. Dalam Pemilu 1971, berkat politik zig-zag AM, Sekber Golkar memperoleh 63,3 persen suara dan mendapat 260 kursi dari 360 kursi di DPR.

Tahun 1973, pemerintah Orde Baru menciutkan jumlah partai politik dari 10 menjadi hanya dua partai dan satu organisasi kekaryaan.

Mereka itu adalah Partai Persatuan Pembangunan (yang berbasis Islam), Partai Demokrasi Indonesia yang mewakili poros nasional, dan satu organisasi kekaryaan, yaitu Sekber Golkar.

Tahun 1974, pascaperistiwa Malari, Ali kehilangan jabatan sebagai asisten pribadi. Jabatan itu dihapus karena tuntutan massa.

Tapi tahun 1978, Ali yang sepatu lars-nya sudah diganti pantalon dan berdasi diangkat menjadi Menteri Penerangan. Tahun 1983, jabatan itu diserahkan kepada Harun Mochammad Kohar atau Harmoko yang menjabatnya selama 14 tahun.

Ali sendiri diangkat menjadi Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung, suatu jabatan yang ditengarai ibarat Pulau Nusakambangan, tempat pembuangan para pejabat yang tersisih.

Maut pula yang menghentikan Ali di panggung kekuasaan.

Serangan jantung merenggut nyawanya pada tahun 1984. (*)


Eksplorasi konten lain dari News

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan