Kamis, 9 September lalu, Ustaz KH Engkos Kosasih, M.Pd., memposting sebuah kalimat pendek:
“Tasik dingin!”
Ternyata, postingan serupa datang dari beberapa daerah. Dari Sukaratu, Kecamatan Cisayong; Parungponteng; Jatiwaras, Kecamatan Sukaraja; Tonjong, Kecamatan Jamanis; hingga Denuh, Kecamatan Cintabodas. Daerah-daerah tersebut sama-sama sedang dilanda udara dingin.
Kabar tentang kondisi “sare ngahodhod”—tidur dengan tubuh menggigil karena dingin—ternyata juga terjadi di Lembang, Bandung Barat.
Menurut BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), fenomena udara dingin seperti ini dapat terjadi di Indonesia, terutama di wilayah Pulau Jawa bagian selatan. Di Tasikmalaya, misalnya, suhu udara pada malam hari dilaporkan turun hingga sekitar 17,6 derajat Celsius, dari kondisi normal yang berada di kisaran 21–23 derajat Celsius.
BMKG juga menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan musim kemarau yang masih berlangsung. Masyarakat Tatar Sunda sebenarnya mempunyai pengetahuan tradisional tentang perubahan musim.
Kalau sudah memasuki bulan berber, yaitu September, Oktober, November, dan Desember, biasanya dianggap sebagai tanda datangnya musim hujan. Sementara ketika memasuki bulan Maret, hujan mulai berkurang dan musim berganti menjadi musim kemarau.
Dalam ilmu meteorologi, kondisi udara dingin pada musim kemarau salah satunya berkaitan dengan angin monsun timur, yang membawa massa udara relatif kering dari wilayah Australia menuju Indonesia.
Angin kering tersebut dapat bertiup cukup kuat tanpa banyak membawa awan. Kondisi langit yang cerah menyebabkan panas yang diterima permukaan bumi pada siang hari lebih cepat dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari.
Akibatnya, suhu udara pada malam hingga dini hari bisa turun cukup drastis, terutama sekitar pukul 01.00–04.30 WIB, bahkan hawa dingin masih terasa hingga sekitar pukul 07.00 pagi.
Fenomena serupa juga dirasakan masyarakat di sejumlah daerah dataran tinggi. Di Wonosobo, yang berada di kawasan Pegunungan Dieng, misalnya, udara dingin menjadi bagian dari kondisi cuaca yang biasa dirasakan masyarakat dan petani.
Lalu, apa yang harus dilakukan masyarakat ketika suhu udara terasa sangat dingin?
Pertama, gunakan pakaian yang cukup tebal, jaket, atau pakaian yang dapat menjaga suhu tubuh.
Kedua, tetap menjaga asupan cairan. Minumlah air putih yang cukup, terutama air hangat. Teh jahe hangat juga dapat menjadi pilihan untuk membantu menghangatkan tubuh.
Sebaliknya, sebaiknya tidak berlebihan mengonsumsi minuman berkafein, teh yang terlalu kental, maupun minuman beralkohol. Hindari pula terlalu banyak minum menjelang tidur agar tidak mengganggu waktu istirahat.
Yang tidak kalah penting, tetap melakukan aktivitas fisik secara wajar agar tubuh tetap hangat.
BMKG memprediksi musim hujan mulai memasuki sejumlah wilayah Indonesia pada periode yang berbeda-beda, tergantung kondisi masing-masing daerah. Mudah-mudahan hujan segera turun dan membawa kesejukan sekaligus mengakhiri kondisi udara dingin yang sekarang masih membuat sebagian masyarakat ngahodhod.
Semoga Ustaz KH Engkos Kosasih dan semuanya tetap sehat dan hangat menghadapi perubahan cuaca ini. (*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























