Beranda Aktual Salah Kaprah Tawakkal

Salah Kaprah Tawakkal

66
0

Banyak orang mengaku telah bertawakkal, tetapi sesungguhnya belum memahami makna tawakkal yang sebenarnya. Sebab, tawakkal tidak dapat dipisahkan dari usaha atau ikhtiar. Berserah diri kepada Allah SWT semestinya dilakukan setelah manusia berusaha secara maksimal.

Tawakkal merupakan sikap menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT, bersandar sepenuhnya kepada-Nya atas segala sesuatu yang terjadi maupun yang akan terjadi, setelah melakukan ikhtiar sesuai kemampuan.

Tawakkal bukanlah sikap malas-malasan, pesimistis, apalagi pasrah tanpa melakukan tindakan apa pun. Islam mengajarkan keseimbangan antara usaha dan penyerahan diri kepada Allah SWT.

Jangan pula seseorang mengaku bertawakkal dengan membiarkan kunci motor tetap menempel pada kendaraannya, baik ketika berada di tempat umum maupun di rumah.

Perilaku semacam itu bukanlah tawakkal. Sebaliknya, tindakan tersebut justru membuka peluang bagi orang lain, khususnya pencuri, untuk mengambil motor dengan mudah.

Jika motor itu akhirnya hilang, bukan pahala tawakkal yang diperoleh, melainkan kerugian, penyesalan, dan kesedihan akibat kelalaian sendiri.

Menjaga harta merupakan bagian dari tanggung jawab manusia. Karena itu, perintah untuk menjaga dan melindungi harta harus ditaati, bukan justru membuka peluang bagi orang lain untuk mengambil barang milik pribadi.

Hal serupa berlaku dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya, seseorang menanam tanaman dan berharap mendapatkan hasil panen melimpah, tetapi tidak pernah merawat, menyiram, atau memupuknya. Tentu, harapan memperoleh hasil panen yang baik menjadi sesuatu yang sulit diwujudkan.

Ikhtiar merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Tidak mungkin seseorang hanya berdiam diri, lalu berharap segala sesuatu hadir secara tiba-tiba seperti dalam cerita “Sim Salabim”.

Adapun ungkapan Kun Fayakun merupakan kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Manusia tidak memiliki hak untuk menyamakan kehendak dan kekuasaan Tuhan dengan kemampuan dirinya.

Namun, manusia juga tidak boleh meyakini bahwa usaha, perawatan, atau pupuk merupakan satu-satunya faktor penentu keberhasilan panen. Keyakinan yang berlebihan terhadap sebab-sebab material dapat menyeret seseorang pada kekeliruan dalam memahami hubungan antara ikhtiar dan kekuasaan Allah SWT.

Sebagai contoh, seseorang berkata, “Panen kali ini melimpah karena obat dan pupuk yang digunakan sangat cocok.”

Pernyataan tersebut perlu dipahami secara proporsional. Obat dan pupuk memang merupakan sarana yang mendukung keberhasilan pertanian, tetapi bukan penentu mutlak. Allah SWT adalah Dzat yang menentukan segala sesuatu, termasuk hasil panen dan rezeki manusia.

Di sinilah sering terjadi kekeliruan berpikir. Manusia terkadang terlalu mengagungkan sebab atau sarana, hingga melupakan bahwa segala keberhasilan pada hakikatnya berada dalam kekuasaan Allah SWT.

Keberhasilan yang diraih makhluk, termasuk manusia, tidak terlepas dari pertolongan dan kehendak Allah SWT, Dzat pemberi rezeki. Ikhtiar manusia dan berbagai sarana yang digunakan hanyalah bagian dari proses, bukan penentu mutlak hasil akhir.

Disadari atau tidak, cara berpikir semacam ini masih sering ditemukan di tengah masyarakat. Mengakui bahwa suatu sebab bukanlah penentu mutlak memang membutuhkan pemahaman dan pembiasaan.

Akibatnya, sesuatu yang salah bisa dianggap benar, sementara yang benar justru dipandang keliru. Kesalahan yang dilakukan berulang kali bahkan dapat berubah menjadi kebiasaan yang dianggap lumrah.

Salah satu contohnya adalah membiarkan motor terparkir di luar rumah tanpa dikunci setang, bahkan kuncinya masih menempel, lalu menganggap tindakan tersebut sebagai bentuk tawakkal.

Inilah salah kaprah yang masih sering terjadi di tengah masyarakat. Tawakkal dijadikan alasan untuk mengabaikan ikhtiar dan kehati-hatian.

Padahal, tawakkal bukan berarti meninggalkan usaha, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah SWT setelah ikhtiar dilakukan secara maksimal.

Jangan sampai kelalaian dianggap sebagai tawakkal, dan kebiasaan yang salah terus dipelihara hanya karena telah dilakukan secara berulang-ulang.

Tawakkal yang benar adalah berusaha dengan sungguh-sungguh, menjaga amanah, menghindari kelalaian, kemudian menyerahkan segala hasilnya kepada Allah SWT. (*)


Eksplorasi konten lain dari News

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan