Google search engine
Beranda blog Halaman 20

Inspektorat Kota Tasikmalaya Perkuat Pengawasan untuk Wujudkan Pemerintahan Bersih dan Akuntabel

0

TASIKMALAYA (Aswajanews.id) – Inspektorat Kota Tasikmalaya terus memperkuat peran strategisnya dalam menjaga tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan akuntabel di lingkungan Pemerintah Kota Tasikmalaya.

Sebagai unsur pengawas penyelenggaraan pemerintahan daerah, Inspektorat memiliki tugas membantu Wali Kota dalam melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan daerah serta kinerja perangkat daerah.

Kepala Inspektorat Kota Tasikmalaya, Imin Muhaemin, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa tugas dan fungsi Inspektorat mengacu pada Peraturan Wali Kota Tasikmalaya Nomor 55 Tahun 2021 tentang Tugas Pokok dan Rincian Tugas Unit Inspektorat. Dalam regulasi tersebut disebutkan bahwa Inspektur bertanggung jawab kepada Wali Kota melalui Sekretaris Daerah.

“Peraturan tersebut menjadi landasan dalam pelaksanaan fungsi pengawasan internal pemerintah daerah,” ujar Imin, Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, dalam menjalankan tugas pokoknya, Inspektorat Daerah menyelenggarakan berbagai fungsi penting, mulai dari perumusan kebijakan teknis pengawasan, pelaksanaan audit dan reviu terhadap kinerja serta keuangan perangkat daerah, hingga evaluasi dan pemantauan pelaksanaan kegiatan pemerintahan.

Selain itu, Inspektorat juga memiliki peran dalam pengawasan khusus atas penugasan dari Wali Kota maupun Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat, penyusunan laporan hasil pengawasan, koordinasi pencegahan tindak pidana korupsi, serta pengawasan terhadap pelaksanaan reformasi birokrasi.

Imin menegaskan, penguatan fungsi pengawasan merupakan bagian penting dalam upaya menciptakan pemerintahan yang bersih dan bebas dari praktik penyimpangan anggaran maupun penyalahgunaan kewenangan.

“Inspektorat menjadi salah satu garda terdepan dalam mendorong transparansi pengelolaan keuangan daerah serta meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat,” tegasnya.

Melalui visi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih, Pemerintah Kota Tasikmalaya terus mengoptimalkan peran Inspektorat sebagai Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP).

“Dengan pengawasan yang profesional, objektif, dan berintegritas, diharapkan pelaksanaan program pembangunan di Kota Tasikmalaya dapat berjalan efektif, tepat sasaran, serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” pungkasnya.
(Nana S)

190 Siswa MTsN 2 Bandung Resmi Dilepas, Lulus 100 Persen

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Sebanyak 190 siswa kelas IX MTs Negeri 2 Bandung resmi dilepas dalam acara pelepasan yang berlangsung di halaman madrasah, Senin (15/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi penanda berakhirnya masa pendidikan para siswa di tingkat madrasah tsanawiyah sebelum melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Sejak pagi, halaman sekolah dipadati siswa, orang tua, guru, dan tamu undangan.

Acara semakin khidmat dengan kehadiran Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bandung, H. Ramlan Rustandi, yang turut menyaksikan prosesi pelepasan bersama jajaran pejabat dan tokoh pendidikan lainnya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, suasana haru menyelimuti acara saat madrasah memberikan penghormatan kepada seorang guru yang memasuki masa purna tugas.

Penyerahan tanda kasih dilakukan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi dan pengabdiannya selama bertahun-tahun di MTs Negeri 2 Bandung.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan penyerahan simbolis siswa dari pihak madrasah kepada orang tua melalui Komite Sekolah. Momen ini menjadi simbol berakhirnya tanggung jawab pendidikan di tingkat MTs sekaligus awal perjalanan baru bagi para lulusan.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bandung, H. Ramlan Rustandi, mengapresiasi kinerja Kepala MTs Negeri 2 Bandung beserta seluruh jajaran dan Komite Madrasah. Ia menilai meningkatnya kepercayaan masyarakat yang ditandai dengan melonjaknya jumlah pendaftar pada tahun ajaran ini merupakan bukti keberhasilan madrasah dalam membangun kualitas pendidikan, pelayanan, serta hubungan yang baik dengan masyarakat.

“Ini menunjukkan bahwa MTs Negeri 2 Bandung semakin dipercaya dan menjadi pilihan masyarakat untuk pendidikan putra-putrinya,” ujarnya.

Kepala MTs Negeri 2 Bandung, H. Agus Sudianto, S.Pd., menyampaikan rasa syukur atas capaian para siswa. Ia mengungkapkan bahwa seluruh siswa kelas IX tahun pelajaran 2025/2026 dinyatakan lulus.

“Alhamdulillah, tahun ini tingkat kelulusan mencapai 100 persen. Kami berharap para siswa dapat melanjutkan pendidikan dengan baik dan terus menjaga nilai-nilai yang telah ditanamkan selama belajar di madrasah,” ujarnya.

Ia juga berpesan agar para lulusan senantiasa menjaga ibadah, khususnya salat.
“Jangan sampai meninggalkan salat, karena yang pertama kali akan ditanya adalah salat,” pesan Agus di hadapan para siswa.

Usai menyelesaikan pendidikan di MTs Negeri 2 Bandung, para lulusan melanjutkan pendidikan ke berbagai jalur. Sebagian diterima di SMA Maung (Manusia Unggul), sementara lainnya melanjutkan ke SMA, SMK, Madrasah Aliyah, hingga pondok pesantren di berbagai daerah. Madrasah mencatat sekitar 90 persen lulusan telah melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Di sisi lain, MTs Negeri 2 Bandung juga mencatat peningkatan jumlah peserta didik baru pada tahun pelajaran mendatang. Hingga saat ini, jumlah calon siswa baru telah mencapai sekitar 225 orang dan masih berpotensi bertambah.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Humas, H. Nunung Nurjamil, S.Ag., M.Pd., menjelaskan bahwa peningkatan tersebut merupakan hasil dari upaya membangun komunikasi dan silaturahmi dengan berbagai sekolah dasar di sekitar wilayah Bandung.

“Kami melakukan kunjungan dan silaturahmi ke sekitar 15 SDN, MI, dan sekolah dasar lainnya. Alhamdulillah, kepercayaan masyarakat terhadap MTs Negeri 2 Bandung terus meningkat dari tahun ke tahun,” ungkapnya.

Dengan capaian kelulusan 100 persen dan meningkatnya minat masyarakat untuk menyekolahkan putra-putrinya di MTs Negeri 2 Bandung, madrasah ini optimistis terus menjadi salah satu lembaga pendidikan pilihan di Kabupaten Bandung. (Uus/Nas)

Kopda Dudu Surya Maulana, Petinju Tangguh Rindam III/Siliwangi Raih Sabuk Emas Pangdam III/Siliwangi

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan prajurit TNI dari Rindam III/Siliwangi. Kopda Dudu Surya Maulana berhasil meraih Sabuk Emas Pangdam III/Siliwangi dalam ajang Tinju Amatir dan Profesional (AMPRO) yang digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kodam III/Siliwangi.

Kejuaraan bergengsi tersebut berlangsung pada 30 Mei 2026 di Lapangan Serka Dedy Unadi Kodam III/Siliwangi, Jalan Aceh Nomor 69, Kota Bandung. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian peringatan delapan dekade pengabdian Kodam III/Siliwangi kepada bangsa dan negara.

Pada partai final yang direncanakan berlangsung selama delapan ronde, Kopda Dudu Surya Maulana tampil impresif dengan menunjukkan kemampuan teknik bertinju, ketangguhan fisik, serta mental juara yang luar biasa. Prajurit yang bertugas sebagai Tabangujat Denma Rindam III/Siliwangi itu berhasil memenangkan pertandingan melalui kemenangan telak Technical Knock Out (TKO) pada ronde ketiga.

Kemenangan tersebut mengantarkannya meraih Sabuk Emas Pangdam III/Siliwangi sekaligus menambah daftar prestasi membanggakan bagi keluarga besar Rindam III/Siliwangi.

Komandan Rindam III/Siliwangi, Brigjen TNI Bagus Budi Adrianto, S.E., menyampaikan rasa bangga dan apresiasi atas pencapaian anggotanya yang telah mengharumkan nama satuan.

“Prestasi ini merupakan hasil kerja keras, disiplin, dan semangat pantang menyerah yang dimiliki Kopda Dudu Surya Maulana. Semoga dapat menjadi inspirasi bagi seluruh prajurit untuk terus berprestasi, baik dalam pelaksanaan tugas maupun di bidang olahraga,” ujarnya.

Ajang AMPRO sendiri terselenggara atas kerja sama Kodam III/Siliwangi, Asjeko, dan Hassa Creative. Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Kosasih, S.E., M.M., menegaskan bahwa peringatan HUT ke-80 Kodam III/Siliwangi dikemas lebih modern dan dekat dengan masyarakat melalui berbagai kegiatan olahraga yang sehat, kompetitif, dan menghibur.

Antusiasme masyarakat terhadap turnamen ini sangat tinggi. Tercatat hampir 100 pasangan petinju atau sekitar 200 peserta ambil bagian dalam kompetisi yang memperebutkan total hadiah lebih dari Rp125 juta. Pertandingan dibagi ke dalam lima kategori, yaitu Man Open, Man Lower Silver, Open Bronze, Women Lower Bronze, dan Klasifikasi Umur.

Bagi Kopda Dudu Surya Maulana, kemenangan ini bukan sekadar prestasi pribadi. Raihan Sabuk Emas Pangdam III/Siliwangi menjadi bukti bahwa prajurit TNI tidak hanya unggul dalam menjaga kedaulatan negara, tetapi juga mampu mengukir prestasi di bidang olahraga melalui kerja keras, disiplin, dan sportivitas yang tinggi.

Profil Singkat

Kopda Dudu Surya Maulana lahir di Tasikmalaya pada 19 Juli 1989. Ia merupakan suami dari Rika dan ayah dari dua orang anak, yaitu Syakira Maulana dan Kirana Ramdani.

Di lingkungan tugasnya, Kopda Dudu dikenal sebagai prajurit yang disiplin, berdedikasi, dan memiliki semangat juang tinggi. Di balik tugas militernya sebagai Tabangujat Denma Rindam III/Siliwangi, ia menyimpan kecintaan besar terhadap olahraga tinju yang telah membawanya meraih berbagai prestasi membanggakan di tingkat nasional maupun internasional.

Sepanjang kariernya sebagai atlet tinju, Kopda Dudu Surya Maulana telah menorehkan sejumlah prestasi, antara lain:

  • Juara I Asia Tenggara di Johor, Malaysia (2011)
  • Juara I Kejuaraan Nasional di Semarang (2016)
  • Juara II PORAD di Magelang (2018)
  • Juara I PORPROV Jawa Barat di Bogor (2018)
  • Juara I Kejuaraan Nasional di Lampung (2018)
  • Juara Sabuk Danrem Panju Panjung, Kalimantan Tengah
  • Juara Kejuaraan Nasional Tanpa Gelar di Kalimantan Timur (2024)
  • Bermain imbang (draw) melawan mantan juara SEA Games pada Kejuaraan Nasional di Jakarta (2025)
  • Juara dan Peraih Sabuk Emas Pangdam III/Siliwangi pada HUT ke-80 Kodam III/Siliwangi (2026)

Prestasi terbaru yang diraihnya menjadi pencapaian penting dalam perjalanan karier militer sekaligus olahraga yang digelutinya. Kemenangan tersebut membuktikan bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus berprestasi selama dibarengi dengan latihan yang konsisten, disiplin tinggi, dan tekad yang kuat.

Kisah sukses Kopda Dudu Surya Maulana menjadi bukti nyata bahwa semangat juang prajurit Siliwangi terus hidup, tidak hanya dalam menjaga pertahanan negara, tetapi juga dalam mengukir prestasi yang membanggakan di berbagai bidang kehidupan. (Red)

Ngelmu Iku, Kalakone Kanthi Laku: Ketika Ilmu Harus Menjadi Tindakan

0

“Ngelmu iku, kalakone kanthi laku.” Petuah luhur warisan budaya Jawa ini memiliki makna yang sederhana, tetapi sangat mendalam. Ilmu hanya akan bernilai apabila diwujudkan dalam tindakan nyata. Pengetahuan tidak cukup sekadar dipahami, dihafal, atau didiskusikan, melainkan harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Di tengah derasnya arus informasi saat ini, manusia hidup dalam kemudahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berbagai pengetahuan dapat diakses hanya melalui genggaman tangan. Internet, media sosial, buku digital, seminar daring, hingga kecerdasan buatan menghadirkan informasi tanpa batas. Dalam hitungan detik, seseorang dapat menemukan jawaban atas hampir semua pertanyaan.

Namun, kemudahan memperoleh informasi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan mengamalkan ilmu. Banyak orang memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi masih membuang sampah sembarangan. Banyak yang mengetahui bahaya korupsi, tetapi tetap tergoda mengambil hak yang bukan miliknya. Banyak pula yang mengerti kewajiban menghormati orang tua, tetapi justru melukai hati mereka melalui ucapan dan perilaku.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama masyarakat hari ini bukanlah kekurangan ilmu, melainkan kurangnya kemauan untuk menjalankan ilmu yang telah diketahui.

Dalam pandangan Islam, ilmu dan amal merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Ia mungkin tumbuh tinggi dan terlihat kokoh, tetapi tidak memberikan manfaat bagi siapa pun. Sebaliknya, amal tanpa ilmu berpotensi menyesatkan karena dilakukan tanpa landasan yang benar. Karena itu, ilmu harus menjadi petunjuk arah, sementara amal menjadi bukti nyata dari pemahaman yang dimiliki.

Tradisi pesantren di Indonesia merupakan contoh konkret penerapan filosofi “ngelmu iku, kalakone kanthi laku.” Seorang santri tidak hanya diajarkan memahami kitab kuning, menghafal dalil, atau mendalami ilmu agama. Lebih dari itu, mereka dibiasakan hidup sederhana, menghormati guru, menjaga kebersihan, membantu sesama, dan mengabdi kepada masyarakat.

Para kiai sejak dahulu memahami bahwa tujuan pendidikan bukan semata-mata mencetak manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk pribadi yang berakhlak mulia. Kecerdasan tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan, sementara ilmu yang disertai akhlak akan melahirkan keberkahan.

Sejarah Islam juga memberikan banyak teladan mengenai pentingnya mengamalkan ilmu. Para sahabat Nabi Muhammad SAW tidak hanya mendengar ajaran Rasulullah, tetapi juga berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka belajar tentang kejujuran dan menjadi pribadi yang jujur. Mereka belajar tentang kesabaran dan menunjukkan kesabaran dalam berbagai ujian. Mereka belajar tentang kepedulian sosial dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Semangat itulah yang membuat ilmu mampu mengubah peradaban. Sebuah bangsa tidak menjadi maju hanya karena memiliki banyak teori atau diskusi akademik. Kemajuan lahir ketika ilmu diterjemahkan menjadi kebijakan, inovasi, dan tindakan yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.

Sayangnya, kehidupan modern sering kali lebih menghargai simbol-simbol ilmu daripada substansi ilmu itu sendiri. Gelar akademik, sertifikat pelatihan, jumlah buku yang dibaca, bahkan banyaknya pengikut di media sosial kerap dijadikan ukuran keberhasilan. Padahal semua itu hanyalah sarana, bukan tujuan.

Tidak sedikit orang yang gemar menunjukkan pengetahuannya, tetapi enggan menjadikan ilmu tersebut sebagai pedoman hidup. Akibatnya, ilmu berubah menjadi alat pencitraan, bukan jalan menuju kebijaksanaan. Padahal hakikat ilmu adalah membimbing manusia menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat.

Petuah “ngelmu iku, kalakone kanthi laku” juga mengajarkan pentingnya kerendahan hati. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar kesadarannya bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari. Orang yang benar-benar berilmu tidak sibuk membanggakan dirinya, melainkan fokus memperbaiki diri dan memberikan manfaat bagi sesama.

Laku yang dimaksud dalam petuah tersebut tidak hanya berupa tindakan fisik, tetapi juga seluruh proses perjuangan dalam menuntut ilmu. Bangun pagi untuk belajar, bersabar menghadapi kesulitan, menghormati guru, menjaga kejujuran, dan konsisten mengamalkan ilmu merupakan bagian dari laku itu sendiri. Dengan kata lain, ilmu lahir dari kesungguhan, ketekunan, dan kedisiplinan.

Tantangan ini semakin relevan bagi generasi muda. Derasnya informasi sering kali menciptakan ilusi bahwa seseorang telah mengetahui banyak hal, padahal belum tentu memahami dan mengamalkannya. Akibatnya muncul budaya serba instan: ingin terlihat pintar tanpa proses belajar yang mendalam.

Padahal setiap pencapaian membutuhkan perjalanan panjang. Seorang dokter harus menempuh pendidikan bertahun-tahun sebelum melayani pasien. Seorang ulama menghabiskan puluhan tahun belajar sebelum dipercaya membimbing umat. Seorang pengusaha sukses harus melewati berbagai kegagalan sebelum meraih keberhasilan. Semua itu menunjukkan bahwa ilmu dan keberhasilan selalu membutuhkan proses laku yang panjang.

Karena itu, generasi muda perlu menghidupkan kembali semangat “ngelmu iku, kalakone kanthi laku.” Jangan hanya menjadi generasi yang pandai mengutip kata-kata bijak, tetapi menjadi generasi yang mampu mewujudkan kebijaksanaan dalam tindakan. Jangan hanya gemar mengkritik, tetapi ikut berkontribusi memperbaiki keadaan. Jangan hanya memahami pentingnya persatuan, tetapi benar-benar membangun persaudaraan di tengah masyarakat.

Dalam konteks kebangsaan, nilai ini juga sangat relevan. Berbagai persoalan seperti korupsi, ketimpangan sosial, polarisasi politik, dan krisis moral telah lama dibahas dalam berbagai forum. Namun perubahan tidak akan pernah terwujud apabila gagasan-gagasan tersebut berhenti sebagai wacana.

Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia bekerja nyata: guru yang mengajar dengan dedikasi, pemimpin yang jujur dan amanah, pemuda yang aktif menggerakkan perubahan sosial, serta tokoh agama yang menghadirkan kesejukan dan persatuan. Itulah bentuk nyata ilmu yang diwujudkan dalam tindakan.

Nahdlatul Ulama telah lama menanamkan semangat tersebut melalui tradisi khidmah dan pengabdian. Di lingkungan NU, seseorang tidak hanya dinilai dari kecerdasannya, tetapi juga dari kesediaannya melayani umat. Sebab ilmu yang tidak menghadirkan manfaat bagi masyarakat belum mencapai tujuan yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, dunia tidak kekurangan orang pintar. Dunia juga tidak kekurangan teori, gagasan, dan konsep besar. Yang sering kali kurang adalah keberanian untuk menjalankan apa yang telah diketahui sebagai kebenaran.

Karena itu, marilah menjadikan ilmu bukan sekadar hiasan di dalam pikiran, melainkan cahaya yang menerangi tindakan. Jadikan setiap pengetahuan yang diperoleh sebagai dorongan untuk berbuat lebih baik dan memberikan manfaat bagi sesama. Sebab hakikat ilmu bukan terletak pada seberapa banyak yang diketahui, melainkan pada seberapa besar kebaikan yang mampu dihadirkan melalui ilmu tersebut.

“Ngelmu iku, kalakone kanthi laku.” Ketika ilmu bertemu dengan amal, lahirlah keteladanan. Ketika pengetahuan diwujudkan dalam tindakan, lahirlah kebermanfaatan. Dan ketika ilmu menjadi jalan pengabdian, di situlah manusia menemukan kemuliaan hidup yang sesungguhnya. ***

Bupati Aep Temukan Dugaan Dokumen Palsu Saat Sidak THM, Sejumlah Tempat Hiburan Terancam Ditutup

0

KARAWANG (Aswajanews.id) – Bupati Karawang Aep Syaepuloh menemukan dugaan dokumen perizinan palsu saat memimpin inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah tempat hiburan malam (THM) di wilayah perkotaan Karawang, Sabtu (13/6/2026) malam.

Sidak yang digelar hingga dini hari tersebut merupakan tindak lanjut Pemerintah Kabupaten Karawang pasca terungkapnya kasus pesta sesama jenis di salah satu THM yang sempat menghebohkan masyarakat.

Dalam kegiatan itu, Bupati Aep didampingi Kapolres Karawang AKBP Fiki N. Ardiansyah, Dandim 0604 Karawang Letkol Inf Nanda Siswanto, Satpol PP, DPMPTSP, serta sejumlah instansi teknis lainnya.

Hasil pemeriksaan mengungkap sejumlah pelanggaran yang cukup serius. Selain menemukan beberapa tempat hiburan yang belum memiliki kelengkapan izin operasional, tim gabungan juga mendapati adanya dokumen perizinan yang diduga tidak sah atau palsu.

Temuan tersebut langsung mendapat perhatian serius dari Bupati Aep. Menurutnya, keberadaan tempat usaha yang beroperasi tanpa izin lengkap, terlebih menggunakan dokumen yang diduga palsu, tidak dapat ditoleransi.

“Semua temuan akan ditindaklanjuti. Pengelola yang bersangkutan akan kami panggil untuk memberikan penjelasan terkait legalitas usahanya,” ujar Aep sebagaimana dikutip dari TV Berita.

Aep menegaskan, operasi gabungan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh tempat hiburan malam di Karawang beroperasi sesuai aturan yang berlaku dan tidak menjadi lokasi aktivitas yang berpotensi mengganggu ketertiban masyarakat.

Menurutnya, setelah terungkapnya kasus pesta sesama jenis yang berujung pada penutupan operasional salah satu THM, pemerintah daerah merasa perlu meningkatkan pengawasan terhadap seluruh usaha hiburan malam di Kabupaten Karawang.

“Kami ingin memastikan tidak ada aktivitas yang melanggar hukum, norma sosial, maupun ketentuan yang berlaku. Tempat hiburan harus beroperasi sesuai aturan dan memiliki legalitas yang jelas,” tegasnya.

Selain memeriksa aspek legalitas usaha, rombongan juga melakukan patroli ke sejumlah titik yang kerap menjadi pusat aktivitas masyarakat pada malam hari. Lokasi yang disambangi antara lain Jalan Ahmad Yani, Tuparev, Galuh Mas, HS Ronggowaluyo, Adiarsa Barat, hingga Jalan Kertabumi.

Patroli tersebut dilakukan untuk memastikan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat tetap terjaga, terutama di kawasan yang menjadi pusat keramaian pada malam hari.
Pemerintah Kabupaten Karawang menegaskan bahwa pengawasan terhadap tempat hiburan malam tidak akan berhenti pada razia kali ini. Pemeriksaan legalitas usaha serta kepatuhan terhadap aturan operasional akan terus dilakukan secara berkala.

Tempat usaha yang terbukti melanggar ketentuan akan dikenakan sanksi sesuai peraturan yang berlaku, mulai dari teguran administratif hingga pencabutan izin dan penutupan operasional. (Ahmad Z)

TRAUMATISME KORUPSI

0

Hampir dapat dipastikan sebagian besar masyarakat Indonesia saat ini dilanda ketakutan, kekecewaan, bahkan trauma menghadapi berbagai kasus korupsi yang terus mencuat ke permukaan. Berbagai upaya, termasuk janji pemerintah dan presiden untuk memberantas korupsi hingga ke akar-akarnya, hingga kini belum sepenuhnya meyakinkan publik. Jangankan sampai ke akar, pucuk persoalannya pun masih tampak sulit disentuh. Bahkan wacana pembentukan Undang-Undang Perampasan Aset yang diharapkan menjadi senjata ampuh melawan koruptor pun belum kunjung terwujud.

Kata korupsi berasal dari bahasa Latin corruptus atau corrumpere yang berarti merusak, menyimpangkan, atau menghancurkan. Sejarah menunjukkan bahwa korupsi bukanlah kejahatan baru. Praktik ini telah hadir sejak peradaban kuno dan menjadi penyakit yang menggerogoti berbagai bangsa.

Di Mesir Kuno, praktik korupsi tercatat sudah terjadi sejak masa Dinasti Pertama sekitar 3100–2700 SM. Di Yunani Kuno, sejarawan Herodotus mencatat adanya praktik suap yang melibatkan keluarga politikus berpengaruh kepada pendeta Orakel Delphi demi kepentingan politik mereka.

Sementara di Romawi Kuno, korupsi banyak terjadi dalam bentuk pemerasan dan penggelapan pajak yang dibebankan kepada rakyat.

Memasuki era kolonial, korupsi juga berkembang di Hindia Belanda. Perusahaan dagang VOC yang semula menjadi kebanggaan Belanda akhirnya dibubarkan pada tahun 1799, salah satunya karena praktik korupsi yang merajalela di tubuh perusahaan tersebut.
Belanda sendiri mengalami tekanan ekonomi berat setelah Perang Jawa.

Perang yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro itu menguras biaya sekitar 20 juta gulden dan menewaskan ribuan tentara Belanda serta puluhan ribu pejuang pribumi. Selain itu, Belanda juga dibebani berbagai utang kepada negara-negara sekutunya.
Untuk menutup kerugian dan mengisi kas negara, pemerintah kolonial kemudian menerapkan sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Dalam sistem ini, petani di tanah jajahan diwajibkan menyediakan sekitar 20 persen lahannya untuk ditanami komoditas ekspor seperti kopi, tebu, tembakau, dan nila yang laku di pasar Eropa.

Namun, praktik Tanam Paksa juga tidak lepas dari penyimpangan. Banyak pejabat lokal, mulai dari bupati, aparat pribumi, hingga kepala desa, diduga memanfaatkan kewenangan mereka untuk mengambil keuntungan pribadi dari hasil produksi pertanian rakyat. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sebagian akar budaya korupsi yang masih membayangi Indonesia hingga sekarang memiliki jejak sejarah yang panjang sejak masa kolonial tersebut.

Setiap tahun, Transparency International merilis Indeks Persepsi Korupsi yang menggambarkan tingkat korupsi di berbagai negara. Sementara itu, World Bank memperkirakan nilai korupsi di seluruh dunia mencapai sekitar 1,5 hingga 2,5 triliun dolar AS setiap tahun. Angka yang fantastis itu menunjukkan bahwa korupsi telah menjadi salah satu kejahatan modern terbesar yang mengancam kesejahteraan umat manusia.

Rupanya dunia memang masih menjadi ladang basah bagi para pelaku kejahatan kerah putih. Maka tidak mengherankan apabila masyarakat kerap merasa pesimistis dan trauma setiap kali mendengar berita tentang korupsi yang terus berulang tanpa akhir.

“Waluh… waluh…” canda Boys Iskandar dalam grup diskusi Ngadu Bako, menutup perbincangan yang sebenarnya menyimpan kegelisahan mendalam tentang masa depan bangsa. ***

Jangan Mudah Terprovokasi: Memahami Kenaikan Dolar, Harga Pertamax, dan Evaluasi Program Pemerintah

0

Di era media sosial, kita sering menyaksikan fenomena yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Ketika nilai tukar rupiah melemah atau harga kebutuhan meningkat, pemerintah kerap menjadi sasaran kritik. Namun saat kondisi membaik, apresiasi yang diberikan sering kali minim. Padahal persoalan ekonomi tidak sesederhana menyalahkan atau memuji pemerintah semata.

Tulisan ini mencoba mengajak masyarakat melihat persoalan ekonomi secara lebih objektif, sekaligus memberikan evaluasi konstruktif terhadap sejumlah program pemerintahan Presiden Prabowo, khususnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih.

Kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah sering kali langsung dikaitkan dengan kegagalan pemerintah mengelola ekonomi. Padahal kenyataannya jauh lebih kompleks.

Dalam sistem ekonomi modern, nilai mata uang ditentukan oleh mekanisme pasar, terutama permintaan dan penawaran valuta asing. Ketika investor, perusahaan, atau pemilik modal besar mengalihkan asetnya dari rupiah ke dolar, permintaan terhadap dolar meningkat sehingga nilainya menguat dan rupiah melemah.

Sebagai ilustrasi, seseorang yang memiliki dana besar mungkin memilih menyimpan asetnya dalam dolar jika melihat potensi keuntungan dari selisih kurs. Keputusan tersebut rasional dari sudut pandang investasi. Namun jika dilakukan secara masif oleh banyak pelaku pasar, tekanan terhadap rupiah menjadi semakin besar.

Selain faktor domestik, pergerakan nilai tukar juga dipengaruhi oleh suku bunga Amerika Serikat, kondisi geopolitik, arus modal global, hingga sentimen pasar internasional. Karena itu, tidak setiap kenaikan dolar dapat langsung disimpulkan sebagai akibat kebijakan pemerintah.

Kenaikan Harga Pertamax dan Logika Pasar Energi

Perdebatan serupa juga muncul setiap kali harga Pertamax naik. Banyak masyarakat menganggap kenaikan tersebut sepenuhnya merupakan keputusan pemerintah.
Padahal Pertamax merupakan BBM non-subsidi yang harganya mengikuti perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah. Ketika harga minyak mentah internasional meningkat atau rupiah melemah, biaya produksi dan impor energi otomatis ikut naik.

Jika pemerintah terus menahan harga melalui subsidi besar-besaran, beban APBN akan semakin berat. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengganggu kesehatan fiskal negara. Karena itu, masyarakat perlu memahami hubungan erat antara harga minyak dunia, kurs dolar, dan harga BBM. Kenaikan harga tidak selalu berarti pemerintah ingin membebani rakyat, melainkan sering kali merupakan konsekuensi dari dinamika ekonomi global.

Pentingnya Literasi Ekonomi dan Budaya Apresiasi

Demokrasi membutuhkan kritik, tetapi juga memerlukan apresiasi yang proporsional. Ketika indeks saham turun atau ekonomi menghadapi tekanan, kritik bermunculan dari berbagai arah. Namun saat indikator ekonomi membaik, respons positif sering kali tidak sebanding.

Budaya diskusi publik yang sehat seharusnya memberikan ruang bagi kritik sekaligus penghargaan terhadap capaian yang berhasil diraih. Dengan literasi ekonomi yang lebih baik, masyarakat tidak mudah terjebak pada narasi yang menyederhanakan persoalan yang sebenarnya kompleks.

Evaluasi Program Makan Bergizi Gratis

Sebagai warga negara, mendukung pemerintah tidak berarti menutup mata terhadap berbagai kekurangan. Saya mengapresiasi visi besar Presiden Prabowo, namun sejumlah program tetap perlu dievaluasi secara objektif.

Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu kebijakan yang memiliki tujuan mulia, yakni meningkatkan kualitas gizi generasi muda Indonesia. Namun tantangan implementasi masih perlu mendapat perhatian.
Efektivitas distribusi, ketepatan sasaran penerima manfaat, serta efisiensi penggunaan anggaran harus terus diperbaiki. Program ini idealnya lebih diprioritaskan bagi kelompok masyarakat yang paling membutuhkan, terutama di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Sebuah program yang baik tidak hanya ditentukan oleh kualitas gagasannya, tetapi juga oleh keberhasilan pelaksanaannya di lapangan.

Koperasi Merah Putih: Peluang Besar yang Harus Dijaga

Program Koperasi Merah Putih memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi desa. Namun keberhasilannya sangat bergantung pada tata kelola dan kualitas pelaksanaannya.

Masyarakat desa sejatinya telah lama mengenal berbagai bentuk usaha kolektif melalui BUMDes, kelompok tani, kelompok nelayan, maupun lembaga ekonomi lokal lainnya. Karena itu, pendekatan yang terlalu sentralistik justru berisiko mengurangi partisipasi masyarakat.

Pemerintah perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi warga desa untuk mengelola aktivitas ekonomi sesuai potensi dan kebutuhan daerah masing-masing.

Koperasi Merah Putih seharusnya tidak hanya menjadi tempat penjualan kebutuhan pokok. Lebih dari itu, koperasi harus mampu memperkuat posisi petani, nelayan, UMKM, dan pelaku ekonomi desa dalam rantai distribusi nasional.

Melalui koperasi yang sehat, hasil produksi masyarakat dapat memperoleh akses pasar yang lebih luas, sehingga nilai tambah ekonomi lebih banyak dinikmati oleh warga desa sendiri.

Potensi kegagalan Koperasi Merah Putih bukan terletak pada konsepnya, melainkan pada implementasinya. Beberapa risiko yang perlu diantisipasi antara lain:

  • Manajemen koperasi yang tidak profesional.
  • Rendahnya kapasitas sumber daya manusia pengelola.
  • Manajemen koperasi yang tidak profesional.
  • Intervensi politik yang berlebihan.
  • Kurangnya transparansi dan akuntabilitas.
  • Minimnya partisipasi masyarakat sebagai pemilik koperasi.
    Untuk itu, pemerintah perlu menyiapkan program pelatihan yang serius bagi para pengelola koperasi, mulai dari manajemen organisasi, administrasi, pemasaran, hingga pengembangan usaha.

Membangun Indonesia membutuhkan keseimbangan antara kritik dan apresiasi. Kenaikan dolar, perubahan harga BBM, maupun dinamika ekonomi lainnya perlu dipahami melalui perspektif yang lebih luas dan rasional.

Di sisi lain, pemerintah harus terus membuka ruang evaluasi terhadap berbagai program strategis, termasuk MBG dan Koperasi Merah Putih. Dukungan kepada pemerintah tidak berarti meniadakan kritik, sebagaimana kritik tidak selalu berarti kebencian.

Pada akhirnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh kualitas literasi, partisipasi, dan kedewasaan masyarakat dalam memahami berbagai persoalan bangsa. ***

Australia Kejutkan Turki 2-0 di Laga Perdana Piala Dunia 2026

0

Australia national football team membuat kejutan besar dengan menundukkan Turkey national football team 2-0 pada pertandingan pembuka Grup D Piala Dunia 2026 di BC Place, Minggu (14/6/2026). Kemenangan ini menjadi salah satu hasil paling mengejutkan pada pekan pertama turnamen.

Gol kemenangan Australia dicetak oleh Nestory Irankunda pada menit ke-27 dan Connor Metcalfe pada menit ke-75. Penampilan gemilang kiper muda Patrick Beach juga menjadi faktor penting dalam menjaga gawang Socceroos tetap perawan.

Jalannya Pertandingan

Australia tampil tanpa rasa gentar menghadapi Turki yang diperkuat sejumlah pemain berpengalaman Eropa. Tim asuhan Tony Popovic membuka keunggulan pada menit ke-27 melalui aksi individu Irankunda.

Gol berawal dari umpan terobosan Paul Okon-Engstler yang mampu dimanfaatkan Irankunda. Penyerang muda tersebut bergerak cepat, melewati kawalan bek Turki sebelum melepaskan tembakan mendatar yang gagal diantisipasi kiper Ugurcan Cakir. Skor 1-0 bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, Turki meningkatkan intensitas serangan dan mendominasi penguasaan bola. Namun disiplin pertahanan Australia membuat berbagai peluang gagal berbuah gol. Pada menit ke-75, Metcalfe menggandakan keunggulan lewat aksi individu dan tembakan keras dari luar kotak penalti yang kembali tak mampu dihentikan Cakir.

Turki sempat memperoleh peluang emas melalui tendangan bebas kapten Hakan Calhanoglu pada menit ke-85. Akan tetapi, Patrick Beach tampil sigap untuk menggagalkan peluang tersebut. Hingga peluit akhir berbunyi, skor 2-0 untuk Australia tidak berubah.

Modal Berharga di Grup D

Kemenangan ini mengantarkan Australia ke posisi kedua klasemen sementara Grup D dengan tiga poin, di bawah United States men’s national soccer team yang unggul selisih gol setelah mengalahkan Paraguay 4-1. Sementara Turki dan Paraguay sama-sama belum meraih poin.

Susunan Pemain

Australia (5-4-1): Patrick Beach; Alessandro Circati, Harry Souttar (kapten), Jacob Italiano, Jordan Bos, Cameron Burgess; Connor Metcalfe, Aiden O’Neill, Paul Okon-Engstler, Mohamed Toure; Nestory Irankunda.

Turki (4-2-3-1): Ugurcan Cakir; Zeki Celik, Merih Demiral, Abdulkerim Bardakci, Ferdi Kadioglu; Orkun Kokcu, Hakan Calhanoglu (kapten); Ismail Yuksek, Kerem Akturkoglu, Arda Guler; Baris Alper Yilmaz.

(FIFA)

Kopra Institute Desak Polres Morotai Serius Usut Dugaan Judi Online yang Libatkan Sekda

0

MOROTAI (Aswajanews.id) – Direktur Kopra Institute Faisal Hababe mendesak Polres Pulau Morotai untuk bersikap kooperatif, profesional, dan serius dalam menangani dugaan tindak pidana judi online yang diduga melibatkan Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pulau Morotai.

Menurutnya, penegakan hukum tidak boleh pandang bulu, terlebih jika dugaan pelanggaran hukum tersebut menyeret nama seorang pejabat publik yang memiliki tanggung jawab besar terhadap penyelenggaraan pemerintahan daerah.

“Secara kelembagaan, Kopra Institute mendesak dan meminta Polres Pulau Morotai untuk bersikap kooperatif, profesional, dan serius dalam menangani dugaan tindak pidana judi online yang diduga dilakukan oleh pejabat daerah, dalam hal ini Sekretaris Daerah Kabupaten Pulau Morotai,” katanya, kepada wartawan, Sabtu (13/6/2026).

Ia menegaskan bahwa masyarakat saat ini tengah menaruh perhatian terhadap proses penegakan hukum yang berjalan. Karena itu, aparat penegak hukum harus mampu menunjukkan independensi dan keberanian dalam mengusut setiap laporan yang masuk tanpa melihat status sosial maupun jabatan seseorang.

“Kami berharap hukum ditegakkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jangan sampai muncul kesan bahwa hukum hanya tajam kepada masyarakat kecil, tetapi tumpul ketika berhadapan dengan pejabat atau orang-orang yang memiliki kekuasaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa apabila aparat penegak hukum tidak menunjukkan keseriusan dalam menangani perkara yang menjadi perhatian publik, maka hal itu berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.

“Jangan ada perlakuan istimewa terhadap siapa pun. Jika memang ada dugaan yang mengarah pada tindak pidana, maka harus diusut secara transparan dan terbuka. Publik berhak mengetahui sejauh mana proses penanganan kasus ini berjalan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa praktik judi online saat ini telah menjadi perhatian nasional dan pemerintah pusat telah menyatakan perang terhadap aktivitas tersebut. Karena itu, menurutnya, upaya pemberantasan judi online harus dilakukan secara konsisten tanpa memandang latar belakang pelakunya.

“Kalau masyarakat biasa bisa diproses hukum karena terlibat judi online, maka pejabat publik juga harus diperlakukan sama. Prinsip equality before the law atau kesetaraan di hadapan hukum harus benar-benar diterapkan. Tidak boleh ada kesan hukum dipermainkan atau dipilih-pilih dalam penerapannya,” katanya.

Kopra Institute berharap Polres Pulau Morotai segera memberikan kepastian hukum terkait dugaan tersebut agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat serta menjaga kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum.

“Ini bukan semata-mata soal individu, tetapi menyangkut wibawa hukum dan komitmen negara dalam memberantas judi online. Karena itu kami meminta Polres Morotai membuktikan kepada publik bahwa hukum masih berdiri tegak dan berlaku sama bagi semua warga negara,” pungkasnya. (Kamas)

Diduga Proyek Tanah Urugan Perumahan Ningrat Bermasalah, Sejumlah Pihak dan Operator Excavator Diperiksa Polres Indramayu

0

INDRAMAYU (Aswajanews) – Aktivitas pembangunan Perumahan Ningrat Indramayu yang dikerjakan oleh PT Raja Sukses Propertindo sempat terhenti pada Jumat (12/6/2026).

Penghentian sementara aktivitas proyek tersebut diduga berkaitan dengan pemeriksaan yang dilakukan aparat kepolisian terhadap sejumlah pihak yang terlibat dalam pengiriman dan penggunaan material quarry di lokasi pembangunan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, beberapa pihak yang diduga merupakan ceker tanah, pemasok material limestone, serta operator alat berat excavator dibawa ke Polres Indramayu untuk dimintai keterangan.

Selain itu, sejumlah armada pengangkut material juga dikabarkan dihentikan sementara operasionalnya selama proses pemeriksaan berlangsung.

Akibat adanya pemeriksaan tersebut, aktivitas pengangkutan material dan pekerjaan di area proyek tidak berjalan sebagaimana biasanya. Sejumlah alat berat terlihat tidak beroperasi, sementara kendaraan pengangkut material tidak melakukan aktivitas keluar masuk lokasi proyek.

Belum diketahui secara pasti materi pemeriksaan yang dilakukan pihak kepolisian. Namun, informasi yang berkembang menyebutkan bahwa pemeriksaan tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas quarry serta legalitas material yang digunakan dalam proses pembangunan proyek perumahan tersebut.

Sejumlah pekerja di sekitar lokasi menyebutkan bahwa kondisi proyek saat itu tampak lebih sepi dibandingkan hari-hari sebelumnya karena sebagian aktivitas lapangan dihentikan sementara sambil menunggu perkembangan proses pemeriksaan.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak PT Raja Sukses Propertindo terkait penghentian sementara aktivitas proyek maupun pemeriksaan terhadap sejumlah pekerja dan operator di lapangan. Demikian pula pihak Polres Indramayu belum memberikan penjelasan resmi mengenai hasil pemeriksaan maupun status pihak-pihak yang telah dimintai keterangan.

Masyarakat berharap seluruh proses dapat berjalan secara transparan dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Jika ditemukan adanya pelanggaran, penanganannya diharapkan dilakukan secara profesional. Sebaliknya, apabila tidak ditemukan unsur pelanggaran, aktivitas pembangunan diharapkan dapat kembali berjalan normal sehingga tidak menghambat progres pembangunan Perumahan Ningrat Indramayu.

Perkembangan lebih lanjut terkait persoalan ini masih menunggu keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun perusahaan pengelola proyek. (Irsyad)

Profil Tiyo Ardianto: Lulusan Paket C yang Menjadi Ketua BEM UGM dan Sorotan Nasional

0

Nama Tiyo Ardianto belakangan menjadi perhatian publik karena sikap kritisnya terhadap sejumlah kebijakan pemerintah. Mahasiswa Fakultas Filsafat UGM ini dikenal vokal menyuarakan isu pendidikan, kesejahteraan masyarakat, hingga hak-hak anak.

Biodata Singkat
  • Nama: Tiyo Ardianto
  • Asal: Kudus
  • Tanggal lahir: 26 April
  • Pendidikan: Mahasiswa S1 Filsafat angkatan 2021
  • Jabatan: Ketua BEM KM Universitas Gadjah Mada periode 2025–2026
  • Pendidikan menengah: Program Kesetaraan Paket C di PKBM Omah Dongeng Marwah, Kudus.
Perjalanan dari Paket C ke UGM

Tiyo menempuh pendidikan nonformal melalui PKBM Omah Dongeng Marwah di Kudus. Jalur Paket C yang ditempuhnya sempat menjadi bahan perdebatan di media sosial, namun ia justru membuktikan bahwa pendidikan kesetaraan tidak menghalangi seseorang untuk berprestasi dan menembus perguruan tinggi terbaik di Indonesia.

Sebelum diterima di UGM, Tiyo dikabarkan pernah gagal dalam beberapa seleksi perguruan tinggi. Namun pada 2021 ia berhasil lolos ke jurusan Filsafat UGM melalui jalur seleksi nasional.

Prestasi di Bidang Sastra

Selain aktif dalam organisasi mahasiswa, Tiyo dikenal memiliki rekam jejak yang kuat di dunia sastra. Beberapa prestasinya antara lain:

  • Peserta internasional Pertemuan Penyair Nusantara.
  • Juara II Nasional Monolog Bahasa Jawa.
  • Juara I Nasional Lomba Baca Puisi Inspiratif.
  • Karyanya termuat dalam antologi bersama sejumlah tokoh sastra Indonesia, termasuk D. Zawawi Imron dan KH Ahmad Musthofa Bisri.
Sorotan Publik dan Sikap Kritis

Nama Tiyo semakin dikenal setelah aktif mengkritisi sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan persoalan pemenuhan hak anak. Ia juga menjadi perhatian nasional setelah mengirim surat kepada UNICEF terkait kasus tragis seorang siswa di NTT yang diduga mengakhiri hidup karena kesulitan memenuhi kebutuhan sekolah dasar. Menurut Tiyo, peristiwa tersebut menunjukkan masih adanya persoalan serius dalam pemenuhan hak pendidikan anak di Indonesia.

Menghadapi Intimidasi

Sikap vokalnya memunculkan dukungan sekaligus kritik. Tiyo mengaku pernah mengalami berbagai bentuk intimidasi digital, mulai dari peretasan akun, doxing, ancaman penculikan, hingga serangan terhadap keluarganya. Meski demikian, ia tetap aktif menyampaikan pandangannya melalui diskusi publik, podcast, dan media nasional.

Tiyo Ardianto menjadi contoh bahwa latar belakang pendidikan nonformal bukan penghalang untuk meraih prestasi akademik maupun kepemimpinan. Dari seorang lulusan Paket C di Kudus, ia berhasil menjadi Ketua BEM UGM dan salah satu figur mahasiswa yang paling banyak diperbincangkan di Indonesia pada 2026. Terlepas dari pro dan kontra terhadap pandangannya, keberaniannya menyuarakan kritik dan konsistensinya mengangkat isu publik menjadikannya salah satu wajah baru gerakan mahasiswa Indonesia. ***

Melawan Indonesia Cemas; Memutus Rantai Dekadensi Mental Remaja Menuju Indonesia Emas

0
Oleh: Muhammad Ulil Azmi, S.H. (Ketua Umum Forum Mahasiswa Daerah Tegal, Mahasiswa Magister Ilmu Syariah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Masa remaja sejatinya merupakan episentrum energi. Di lembar-lembar psikologi perkembangan, fase ini digambarkan sebagai periode super aktif, produktif, dan penuh ledakan kreativitas. Namun, dinamika kontemporer menunjukkan sebuah paradoks yang mengkhawatirkan: karakteristik remaja kita mengalami penurunan kualitas eksistensial. Hari-hari yang seharusnya menjadi ajang pembuktian diri, kini kerap diisi oleh siklus “galau” yang berkepanjangan, sikap apatis (berpasrah pada nasib), dan kecenderungan menghindar dari masalah (avoidance behavior).

Kondisi ini menciptakan jurang pemisah (gap) yang jauhdengan visi besar bangsa. Seakan-akan yang akan kita dapati di tahun 2045 bukan lagi Indonesia Emas namun Indonesia Cemas.Bagaimana mungkin kita dapat menyambut periode Indonesia Emas dengan generasi yang responsif dan adaptif, jika remaja hari ini justru terkungkung dalam kesempitan berpikir dan mengalami kelumpuhan dalam kemampuan memecahkan masalah (problem-solving)? Fenomena mental down atau penurunan ketahanan mental ini bukan lagi sekadar isu individual, melainkan sebuah ancaman sistemik bagi ketahanan nasional.

Data pada lembaga Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (INAMHS) mengatakan bahwa terdapat penurunan kualitas mental dan maraknya fenomena mudah menyerah pada remaja Indonesia saat ini dipicu oleh beberapa faktor multidimensi, antara lain:

A. Krisis Identitas di Era Digital

Erik Erikson dalam Teori Perkembangan Psikososialmenyatakan bahwa remaja usia 12–18 tahun berada dalam krisis Identity vs. Role Confusion (Identitas vs. Kebingungan Peran). Mereka sibuk mencari tahu “Siapa saya?”. Di era modern, pencarian ini diperparah oleh teori James Marcia tentang Status Identitas, di mana banyak remaja terjebak dalam status Moratorium berkepanjangan tanpa ujung, atau justru mengalami Identity Diffusion kondisi di mana mereka tidak memiliki komitmen arah hidup dan tidak peduli untuk mencarinya, sehingga berakhir pada sikap pasrah pada nasib.

Media sosial mengonstruksi “standar sukses palsu” yang memicu perbandingan sosial secara konstan. Berdasarkan data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (INAMHS), ditemukan bahwa sekitar 1 dari 3 remaja Indonesia (usia 10–17 tahun) memiliki masalah kesehatan mental, dan 1 dari 20 remaja memiliki gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. Keluhan utamanya adalah kecemasan (anxiety) dan depresi yang dipicu oleh tekanan digital.

B. Matra Biologis dan Kelumpuhan Eksekutif Otak

Steinberg dalam Teori Perkembangan Otak Remaja (Neuropsikologi Laurence Steinberg). menemukan adanya Dual-Systems Model. Pada usia 15–16 tahun, sistem sosio-emosional (amigdala) berkembang sangat pesat, sementara sistem kontrol kognitif (prefrontal cortex yang berfungsi untuk perencanaan jangka panjang dan pemecahan masalah) belum matang sempurna hingga usia 25 tahun.

Ketidakseimbangan biologis ini membuat remaja rentan mengalami kelumpuhan emosional saat menghadapi tekanan. Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan peningkatan prevalensi gangguan mental emosional pada remaja usia 15 tahun ke atas yang naik signifikan dari tahun ke tahun. Manifestasinya di lapangan terlihat dari tingginya angka self-harm (menyakiti diri sendiri) dan perilaku pelarian negatif sebagai bentuk coping mechanism yang keliru.

C. Pudarnya Ketangguhan Akibat Overparenting

Teori Efikasi Diri (Self-Efficacy) dari Albert Bandura. Bandura menyatakan bahwa seseorang membangun keyakinan untuk sukses (self-efficacy) melalui mastery experiences yaitu pengalaman langsung dalam menghadapi dan mengatasi kesulitan. Ketika ruang konflik ini direbut, anak tidak akan pernah percaya pada kemampuannya sendiri.

Maraknya pola asuh helicopter parenting atau snowplow parenting (orang tua yang menyapu bersih semua masalah anak) membuat remaja tidak mandiri. Berdasarkan survei lapangan di berbagai sekolah menengah, guru-guru mengeluhkan bahwa siswa kelas 10 saat ini memiliki tingkat ketekunan yang rendah. Ketika diberi tugas yang membutuhkan penalaran kritis atau sedikit rumit, mereka cenderung langsung menyerah, mengeluh di media sosial, atau meminta orang tua mereka untuk memprotes kebijakan sekolah.

Untuk menyelamatkan generasi ini dari kungkungan kesempitan berpikir, diperlukan langkah-langkah preventif dan kuratif yang konkret dengan mengintegrasikan pendekatan psikologis:

Transformasi Pola Pikir Individu (Remaja)

Carol Dweck dalam teori Mindset Theory mengatakan bahwa remaja harus diintervensi untuk mengubah Fixed Mindset (pola pikir statis yang percaya nasib tidak bisa diubah) menjadi Growth Mindset (pola pikir berkembang). Hambatan tidak boleh dilihat sebagai vonis kegagalan, melainkan sebagai umpan balik (feedback) untuk bertumbuh.

Langkah Konkretnya remaja dilatih melakukan Cognitive Reframing (mengubah sudut pandang). Kalimat seperti “Aku tidak bakat di sini, aku pasrah saja” diubah menjadi “Aku belum menguasai ini, taktik apa lagi yang bisa kucoba?”.

Restrukturisasi Lingkungan Pengasuhan dan Pendidikan

Teori Belajar Sosial (Scaffolding) Lev Vygotsky dan Teori Sistem Bioekologis Urie Bronfenbrenner menekankan pentingnya memberikan bantuan yang pas (tidak kurang, tidak lebih) di dalam Zone of Proximal Development (ZPD) anak. Sementara Bronfenbrenner mengingatkan bahwa mikrosistem (keluarga dan sekolah) harus sinkron.

Orang Tua seharusnya berhenti menjadi “penyelamat” di setiap masalah anak. Izinkan anak menghadapi konsekuensi logis dari kesalahannya (misalnya: terlambat mengumpulkan tugas, kalah dalam kompetisi) agar mentalnya tertempa.

Sekolah/Pendidik dianjurkan untuk mengubah orientasi evaluasi. Metode Problem Based Learning (PBL) harus digalakkan di kelas 10 untuk memaksa prefrontal cortexmereka bekerja mencari solusi atas masalah riil, bukan sekadar menghafal materi demi nilai ujian.

Pada akhirnya, Indonesia Emas tahun 2045 tidak akan pernah terwujud jika kita membiarkan remaja hari ini layu sebelum berkembang dalam pelarian emosional yang sempit. Data lapangan adalah alarm keras bagi kita semua. Dengan mengembalikan khittah pengasuhan sesuai teori perkembanganyaitu melatih ketangguhan (resilience) bukan memanjakan kita dapat mengonversi energi “galau” remaja menjadi bahan bakar produktivitas yang solutif bagi masa depan bangsa. ***

Pemkab Bekasi Dukung Penguatan Serikat Pekerja, Asep: Mitra Strategis Wujudkan Hubungan Industrial Harmonis

0

KABUPATEN BEKASI (AswajaNews) – Pemerintah Kabupaten Bekasi menegaskan komitmennya dalam mendukung penguatan peran serikat pekerja sebagai mitra strategis untuk menciptakan hubungan industrial yang harmonis, produktif, dan berkeadilan.

Komitmen tersebut disampaikan Plt Bupati Bekasi, Asep Surya Atmaja, saat menghadiri Pelantikan Pengurus Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PP SPEE FSPMI) periode 2026–2031 yang digelar di Swiss-Belinn Jababeka, Cikarang Utara, Kamis (11/6/2026).

Dalam sambutannya, Asep menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pengurus yang baru dilantik. Ia berharap amanah yang diberikan dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan komitmen dalam memperjuangkan kepentingan pekerja sekaligus menjaga hubungan industrial yang kondusif.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bekasi, saya mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus yang hari ini dilantik. Semoga amanah yang diberikan dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab, integritas, serta komitmen untuk memperjuangkan kepentingan pekerja sekaligus menjaga hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan,” ujar Asep.

Menurutnya, Kabupaten Bekasi sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan ribuan perusahaan dan jutaan tenaga kerja yang beraktivitas di wilayah tersebut, keberadaan serikat pekerja menjadi elemen strategis dalam menjaga stabilitas ketenagakerjaan.

Asep menegaskan bahwa kemajuan dunia industri tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi maupun perkembangan teknologi, tetapi juga oleh kualitas hubungan antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah.

“Kami meyakini bahwa kemajuan dunia industri tidak hanya ditentukan oleh investasi dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas hubungan antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah. Oleh karena itu, semangat dialog, musyawarah, dan kerja sama harus terus dikedepankan dalam menyelesaikan berbagai tantangan ketenagakerjaan yang ada,” katanya.

Lebih lanjut, Pemkab Bekasi berkomitmen untuk terus mendorong terciptanya hubungan industrial yang sehat, menjaga iklim investasi tetap kondusif, serta meningkatkan kesejahteraan pekerja sebagai bagian dari pembangunan daerah yang berkelanjutan.

“Kami Pemerintah Kabupaten Bekasi tentu akan terus berkomitmen untuk selalu mendorong terciptanya hubungan industrial yang sehat, menjaga stabilitas investasi, serta meningkatkan kesejahteraan pekerja sebagai bagian dari upaya mewujudkan Kabupaten Bekasi yang Bangkit, Maju, dan Sejahtera,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Asep juga berharap kepengurusan baru PP SPEE FSPMI dapat menjadi organisasi yang semakin profesional, adaptif terhadap perkembangan dunia industri, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan daya saing industri.

“Saya berharap kepengurusan baru PP SPEE FSPMI dapat menjadi wadah yang semakin profesional, adaptif terhadap perkembangan zaman, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan daya saing industri di Kabupaten Bekasi maupun Indonesia,” ungkapnya.

Menutup sambutannya, Asep menyampaikan selamat kepada seluruh pengurus yang telah dilantik dan berharap organisasi tersebut terus berkontribusi dalam menciptakan hubungan industrial yang kondusif demi kemajuan pekerja, dunia usaha, dan pembangunan daerah.

“Selamat menjalankan amanah kepada seluruh pengurus yang baru dilantik. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk, kekuatan, dan keberkahan dalam setiap langkah pengabdian yang dilakukan,” pungkasnya.

(Diskominfo Kabupaten Bekasi/rka)

Pengasuh Pesantren se-Kabupaten Brebes Deklarasikan Komitmen Pesantren Anti Kekerasan Seksual

0

BREBES (Aswajanews) — Ratusan pengasuh pondok pesantren se-Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, mendeklarasikan komitmen bersama untuk mewujudkan Pesantren Anti Kekerasan Seksual. Deklarasi tersebut menjadi penegasan sikap pesantren dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, bermartabat, dan berkeadilan bagi seluruh santri.

Komitmen itu diikrarkan dalam Halaqah Pengasuh Pondok Pesantren se-Kabupaten Brebes yang digelar di Pondok Pesantren Al-Fattah, Tegalgandu, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Sabtu (13/6/2026). Kegiatan ini diinisiasi oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fattah, KH Musyaffa, yang juga anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, dengan dukungan sejumlah organisasi dan komunitas pesantren, di antaranya RMI, FKPP, JP3M Kabupaten Brebes, serta PWNU Jawa Tengah.

Halaqah tersebut dihadiri ratusan kiai dan nyai pengasuh pondok pesantren dari berbagai wilayah di Kabupaten Brebes. Hadir sebagai narasumber KH Nur Machin Chudlori, Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah; H. M. Aqso, M.Ag., Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes; Ipda Ruth Yosi Natalia dari Polres Brebes; serta Dr. Suwendi, M.Ag., dosen Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam sambutannya, KH Musyaffa menegaskan bahwa isu kekerasan seksual harus menjadi perhatian serius seluruh pengelola pesantren. Menurutnya, langkah pencegahan dan penanganan yang tegas merupakan bagian dari upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pesantren.

“Jika persoalan ini dibiarkan, tentu akan merugikan komunitas pesantren sendiri. Padahal pesantren telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan negara. Karena itu, kita harus terus berkomitmen meneguhkan pesantren sebagai lembaga pendidikan yang aman dan bermartabat,” ujarnya.

Sementara itu, KH Nur Machin Chudlori mengajak seluruh pengasuh dan alumni pesantren untuk tetap optimistis menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi lembaga pendidikan saat ini. Menurutnya, kecenderungan menurunnya jumlah peserta didik juga terjadi di berbagai institusi pendidikan lain sehingga tidak boleh menjadi alasan untuk kehilangan semangat berkhidmah kepada pesantren.

“Kita harus terus membenahi diri dan memperkuat khidmah terhadap dunia pesantren. Jangan sampai bersikap pesimis. Kita harus tetap kuat dan bangga dengan pesantren, serta menunjukkan bahwa alumni pesantren mampu berkontribusi dalam membangun negeri,” katanya.

Dalam paparannya, Dr. Suwendi menegaskan bahwa kasus kekerasan seksual tidak hanya terjadi di lingkungan pesantren, tetapi juga ditemukan di berbagai lembaga pendidikan lainnya, seperti sekolah dan perguruan tinggi. Namun demikian, menurutnya, kenyataan tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk membiarkan praktik kekerasan terus berlangsung.

Ia menekankan pentingnya menjalankan dua prinsip secara bersamaan. Pertama, tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk kekerasan seksual serta memperkuat penegakan hukum terhadap pelaku. Kedua, tidak menjadikan tindakan oknum tertentu sebagai dasar untuk mendelegitimasi seluruh institusi pesantren.

“Keduanya merupakan bagian dari komitmen terhadap keadilan. Kita harus melindungi korban dan menindak pelaku secara tegas, tetapi pada saat yang sama tidak boleh menggeneralisasi kesalahan individu menjadi stigma terhadap seluruh pesantren,” jelasnya.

Suwendi juga menegaskan bahwa tradisi pesantren dibangun di atas penghormatan kepada guru dan keberkahan ilmu. Namun, dalam Islam tidak ada otoritas manusia yang berada di atas syariat dan prinsip keadilan. Karena itu, semakin tinggi kedudukan seorang guru, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga amanah, memuliakan santri, serta memastikan bahwa ketaatan yang tumbuh di lingkungan pesantren adalah ketaatan yang mendidik, membebaskan dari kemungkaran, dan selaras dengan nilai-nilai Islam serta hukum negara.

Sebagai puncak kegiatan, seluruh pengasuh pondok pesantren yang hadir membacakan Deklarasi Pesantren Anti Kekerasan Seksual yang memuat tujuh komitmen bersama, yaitu:

  1. Mewujudkan lingkungan pesantren yang aman dan bermartabat.
  2. Menolak segala bentuk kekerasan seksual.
  3. Melakukan pencegahan melalui edukasi dan pembinaan akhlak.
  4. Menyediakan sistem pelaporan yang aman dan berpihak kepada korban.
  5. Melindungi dan mendampingi korban tanpa diskriminasi.
  6. Menindak tegas pelaku sesuai peraturan dan hukum yang berlaku.
  7. Mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga pesantren bebas dari kekerasan.

Deklarasi tersebut ditutup dengan pernyataan bahwa komitmen bersama itu diikrarkan dengan penuh tanggung jawab demi masa depan santri dan menjaga marwah pondok pesantren.

Melalui deklarasi ini, para pengasuh pesantren se-Kabupaten Brebes menegaskan tekad untuk memperkuat budaya perlindungan terhadap santri sekaligus menjadikan pesantren sebagai ruang pendidikan Islam yang aman, bermartabat, serta menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan. (Red/Nas)

Sambut Hari Bhayangkara ke-80, Polsek Majalaya Gelar Donor Darah, 67 Kantong Darah Terkumpul

0

BANDUNG (Aswajanews) – Dalam rangka memperingati Hari Donor Darah Sedunia sekaligus menyambut Hari Bhayangkara ke-80, Polsek Majalaya Polresta Bandung menggelar bakti sosial donor darah bekerja sama dengan Yayasan Pergerakan Orang Tua Thalassemia Indonesia (YPOTI) dan PMI Kota Bandung. Kegiatan berlangsung di Aula Polsek Majalaya, Kabupaten Bandung, Sabtu (13/6/2026).

Kegiatan yang digelar mulai pukul 08.00 hingga 12.00 WIB tersebut diikuti oleh personel Polri, Bhayangkari, tenaga kesehatan, relawan, serta masyarakat umum. Dari 85 peserta yang mendaftar, sebanyak 67 orang berhasil mendonorkan darahnya.

Aksi kemanusiaan ini menjadi wujud kepedulian terhadap sesama sekaligus membantu memenuhi kebutuhan stok darah bagi masyarakat, khususnya penderita thalassemia dan pasien yang membutuhkan transfusi darah secara rutin.

Kapolresta Bandung Kombes Pol Aldi Subartono, S.H., S.I.K., M.H., CPHR melalui Kapolsek Majalaya Kompol Suyatno, S.Pd.I., M.M., mengatakan bahwa kegiatan donor darah merupakan implementasi nyata semangat Polri Presisi yang tidak hanya hadir dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi kemanusiaan.

“Melalui kegiatan donor darah ini, kami ingin menumbuhkan semangat kepedulian dan solidaritas kemanusiaan. Setetes darah yang kita sumbangkan sangat berarti bagi mereka yang sedang berjuang untuk kesehatan dan kehidupannya. Kami berharap kegiatan ini dapat membantu memenuhi kebutuhan darah bagi masyarakat serta semakin mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat,” ujar Kompol Suyatno.

Ia menambahkan, sinergi antara Polsek Majalaya, PMI Kota Bandung, YPOTI, dan berbagai elemen masyarakat menjadi bukti bahwa kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui kolaborasi yang kuat.

“Momentum Hari Donor Darah Sedunia dan menjelang Hari Bhayangkara ke-80 menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya melalui tugas kepolisian, tetapi juga melalui aksi kemanusiaan yang memberikan harapan bagi sesama. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk terus menumbuhkan budaya donor darah sebagai bentuk kepedulian terhadap kemanusiaan,” tambahnya.


Sebelum mendonorkan darah, seluruh peserta menjalani pemeriksaan kesehatan guna memastikan kondisi tubuh dalam keadaan layak. Kegiatan berlangsung tertib, lancar, dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.

Mengusung tema “Setetes Darah Anda Sangat Berarti Bagi Kami, Anda Sehat Kami Kuat”, kegiatan ini diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan stok darah sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan. (Red)

MTsN 1 Bandung Gelar Tasyakur Bin Ni’mah, Dua Lulusan Tembus Program Maung Jabar

0

BANDUNG (Aswajanews) – Sebanyak 344 peserta didik kelas IX MTs Negeri 1 Bandung yang telah dinyatakan lulus menggelar kegiatan Tasyakur Bin Ni’mah sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun. Kegiatan yang berlangsung di halaman madrasah, Sabtu (13/6/2026), berlangsung khidmat, penuh kebahagiaan, dan dihadiri oleh siswa, orang tua, dewan guru, komite madrasah, serta sejumlah tamu undangan.

Tasyakur Bin Ni’mah yang dirangkaikan dengan pelepasan siswa-siswi kelas IX ini menjadi momen istimewa bagi para lulusan setelah menempuh perjalanan pendidikan di madrasah. Meski diselenggarakan secara sederhana, suasana haru dan kebersamaan begitu terasa sepanjang acara.

Asep Sudrajat, M.Pd., Kepala MTs Negeri 1 Bandung

Kepala MTs Negeri 1 Bandung, Asep Sudrajat, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas keberhasilan seluruh peserta didik yang telah menyelesaikan pendidikan dengan hasil yang memuaskan. Menurutnya, capaian tersebut merupakan buah dari kerja keras siswa, dukungan orang tua, serta dedikasi para guru dalam mendampingi proses belajar mengajar.

“Momentum Tasyakur Bin Ni’mah ini menjadi sarana untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat kelulusan yang telah diraih. Kami berharap para lulusan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, terus berprestasi, serta menjaga akhlak dan nilai-nilai keislaman yang telah ditanamkan selama belajar di madrasah,” ujar Asep.

Asep mengungkapkan, tahun ini MTs Negeri 1 Bandung kembali menorehkan prestasi membanggakan. Selain berhasil meluluskan seluruh peserta didik, sejumlah siswa juga diterima dalam program Sekolah Manusia Unggul (Maung) yang digagas oleh Dedi Mulyadi.

Salah satu siswa berhasil lolos melalui jalur akademik ke SMAN 3 Bandung, sementara siswa lainnya diterima di SMAN 5 Bandung melalui jalur nonakademik berkat prestasi sebagai juara pencak silat tingkat nasional.

“Ini menjadi kebanggaan bagi keluarga besar MTs Negeri 1 Bandung. Prestasi tersebut membuktikan bahwa siswa madrasah mampu bersaing dan berprestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Kami berharap capaian ini dapat menjadi motivasi bagi adik-adik kelasnya untuk terus belajar dan mengembangkan potensi yang dimiliki,” katanya.

Ia menambahkan, keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi antara kerja keras siswa, dukungan orang tua, serta pendampingan para guru yang selama ini berkomitmen memberikan pendidikan terbaik bagi peserta didik.

Dalam kesempatan itu hadir pula Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bandung, Ramlan Rustandi, yang memberikan apresiasi atas penyelenggaraan acara tasyakuran dan pelepasan siswa yang dilaksanakan secara sederhana namun tetap sarat makna.

Menurut Ramlan, pelaksanaan kegiatan di lingkungan madrasah secara efektif dan efisien merupakan bentuk keteladanan dalam menyelenggarakan acara pendidikan yang berorientasi pada nilai, bukan kemewahan. Ia menilai kesederhanaan tidak mengurangi makna kebersamaan dan kebahagiaan para siswa yang telah menyelesaikan proses pembelajaran selama tiga tahun.

“Kegiatan seperti ini menunjukkan bahwa rasa syukur dan kebersamaan tidak harus diwujudkan dengan kemewahan. Yang terpenting adalah penghargaan terhadap perjuangan para siswa, kebersamaan keluarga besar madrasah, serta doa untuk kesuksesan mereka di masa depan,” ungkapnya.

Ramlan juga berharap para lulusan MTs Negeri 1 Bandung dapat terus melanjutkan pendidikan dengan semangat belajar yang tinggi, menjaga akhlakul karimah, serta menjadi generasi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Selain doa bersama dan tausiyah, kegiatan tasyakuran juga diisi dengan berbagai penampilan kreatif siswa serta pemberian penghargaan kepada peserta didik berprestasi. Momen tersebut menjadi kenangan berharga bagi para lulusan sebelum melangkah menuju jenjang pendidikan berikutnya.

Dengan kelulusan 344 peserta didik pada tahun ajaran ini, MTs Negeri 1 Bandung kembali menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi yang unggul dalam prestasi, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai keislaman. Semangat kebersamaan yang tercermin dalam Tasyakur Bin Ni’mah diharapkan menjadi bekal bagi para lulusan untuk terus melangkah, meraih cita-cita, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. (Red/Nas)

PORPI Karawang Semarakkan FORKAB III KORMI, Gaungkan Gaya Hidup Sehat Lewat Olahraga Pernapasan

0

KARAWANG (AswajaNews) – Persatuan Olahraga Pernapasan Indonesia (PORPI) Kabupaten Karawang turut ambil bagian dalam Festival Olahraga Masyarakat Kabupaten (FORKAB) III yang diselenggarakan Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Karawang di Resinda Park Mall.

Partisipasi PORPI dalam ajang tersebut menjadi wujud nyata komitmen organisasi dalam mengembangkan, membina, dan memasyarakatkan olahraga pernapasan sebagai sarana meningkatkan kesehatan, kebugaran, serta produktivitas masyarakat.

Keikutsertaan PORPI pada FORKAB III tidak hanya menjadi ajang unjuk kemampuan dan kompetisi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkenalkan olahraga pernapasan yang teratur, terukur, dan berkelanjutan kepada masyarakat luas. Melalui kegiatan ini, PORPI berharap semakin banyak masyarakat yang memahami manfaat olahraga pernapasan bagi kesehatan fisik maupun mental.

Semangat kebersamaan yang tercermin selama pelaksanaan FORKAB III menunjukkan bahwa olahraga masyarakat memiliki peran strategis dalam mempererat tali persaudaraan, memperkuat solidaritas sosial, serta membangun karakter masyarakat yang aktif, sehat, dan produktif.

KORMI Kabupaten Karawang memberikan apresiasi kepada seluruh pegiat, pelatih, pengurus, dan peserta PORPI yang telah menunjukkan dedikasi, disiplin, serta sportivitas selama kegiatan berlangsung. Prestasi yang diraih dinilai sebagai hasil dari kerja keras, ketekunan, dan komitmen bersama dalam mengembangkan olahraga masyarakat sebagai bagian dari budaya hidup sehat.

Melalui FORKAB III, diharapkan olahraga pernapasan semakin dikenal dan diminati oleh berbagai kalangan. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan mampu mendorong peningkatan partisipasi masyarakat dalam berbagai aktivitas olahraga rekreasi dan kesehatan guna mewujudkan masyarakat Karawang yang sehat, bugar, produktif, dan berdaya saing.

Ucapan terima kasih dan penghargaan turut disampaikan kepada seluruh panitia penyelenggara, pengurus KORMI, serta peserta yang telah berkontribusi menyukseskan FORKAB III. Semangat yang terbangun melalui kegiatan ini diharapkan terus terjaga dan menjadi inspirasi dalam memajukan olahraga masyarakat di Kabupaten Karawang.

“Bersama KORMI, Kita Wujudkan Masyarakat yang Sehat, Bugar, Gembira, dan Luar Biasa.”

(Liputan: AZ/YD)

Mahasiswa Jabodetabek Gelar Aksi di Sudirman-Thamrin, Bawa Lima Tuntutan dan Sempat Bersitegang dengan Aparat

0

JAKARTA (Aswajanews) – Mahasiswa yang tergabung dalam sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jabodetabek menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Jalan Jenderal Sudirman–MH Thamrin, Jakarta, Jumat (12/6). Dalam aksi tersebut, massa membawa lima tuntutan yang ditujukan kepada pemerintah, yaitu: 1. Menghentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 2. Menurunkan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM). 3. Menghentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. 4. Menghentikan militerisme di ranah sipil. 5. Mendesak pemerintah mengakui kesalahan dan berhenti mengelak.

Awalnya, aksi direncanakan berlangsung di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Namun, aparat kepolisian melakukan sterilisasi dan melarang Bundaran HI dijadikan titik konsentrasi massa.

Meski demikian, ratusan mahasiswa tetap menyampaikan aspirasi mereka di sepanjang Jalan MH Thamrin secara tertib. Massa secara bergantian menyampaikan orasi, sementara personel TNI dan Polri yang bertugas melakukan pengamanan tampak berada di tengah kerumunan untuk memantau jalannya aksi.

Situasi sempat memanas ketika terjadi adu argumen antara massa dan aparat. Namun ketegangan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah dilakukan komunikasi, kedua belah pihak sepakat untuk saling menghormati sehingga aksi kembali berjalan kondusif.

Menjelang sore hingga petang, massa aksi masih terus berdatangan dari arah Semanggi menuju kawasan Bundaran HI dengan membawa berbagai atribut organisasi dan spanduk tuntutan.

Suara klakson kendaraan terdengar bersahutan di sepanjang Jalan MH Thamrin, sementara aktivitas masyarakat yang pulang kerja mulai memadati kawasan sekitar Semanggi.

Sementara itu, kawasan Bundaran HI tetap diblokade dari aktivitas demonstrasi. Polda Metro Jaya menjelaskan bahwa keputusan sterilisasi lokasi tersebut didasarkan pada kajian teknis dan analisis dampak sosial yang dilakukan di lapangan.

Menurut kepolisian, ruas Jalan Jenderal Sudirman dan MH Thamrin merupakan jalur utama yang menjadi pusat sirkulasi kendaraan di ibu kota. Konsentrasi massa dalam jumlah besar di kawasan itu dinilai berpotensi menyebabkan kemacetan total yang berdampak hingga ke sejumlah ruas arteri di Jakarta.

Selain itu, Bundaran HI saat ini juga menjadi pusat integrasi berbagai moda transportasi publik. Gangguan di kawasan tersebut dikhawatirkan akan menghambat mobilitas masyarakat yang hendak bekerja maupun beraktivitas.

Polisi juga menilai kawasan Bundaran HI merupakan salah satu zona objek vital ekonomi nasional serta pusat perhotelan internasional. Karena itu, stabilitas keamanan dan kenyamanan di area tersebut perlu dijaga demi mendukung kelancaran aktivitas ekonomi dan menjaga citra ibu kota.

Hingga aksi berlangsung, situasi di sekitar lokasi demonstrasi terpantau aman dan terkendali di bawah pengawasan aparat keamanan. (Red)

Pesantren Harus Bersih dari Kekerasan Seksual, Gus Syaffa Gandeng Kemenag Gelar Halaqah

0

BREBES (Aswajanews) – Anggota DPRD Jawa Tengah dari Fraksi PKB Dapil IX, KH Musyaffa, merencanakan penyelenggaraan Halaqoh Pesantren dengan tema “Kekerasan Seksual: Batas antara Etika dan Ta’dhim dalam Tradisi Pesantren.” Tema tersebut diangkat sebagai upaya mitigasi terhadap tindak kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan pesantren.

Hal itu disampaikan KH Musyaffa saat melakukan koordinasi dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Brebes di Jalan Ahmad Yani, Brebes, Kamis (5/6/2026).

Di hadapan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Brebes, Gus Syaffa—sapaan akrab politisi yang juga alumni Pondok Pesantren Ploso Kediri—mengungkapkan bahwa dirinya mendapat amanah untuk menindaklanjuti pertemuan para pengasuh pesantren se-Indonesia yang sebelumnya digelar di Jakarta.

Menurutnya, diperlukan langkah bersama untuk melakukan mitigasi terhadap berbagai tindakan yang dapat mencederai dunia pendidikan pesantren.

“PKB terpanggil untuk melakukan langkah proaktif dalam penanganan kekerasan seksual di lingkungan pesantren sekaligus menyusun skema mitigasinya. Perkembangan yang terjadi di beberapa daerah sungguh memprihatinkan. Dunia pesantren selama ini dikenal memiliki tradisi adab yang kuat, namun karena ulah oknum tertentu, muncul stigma negatif terhadap pesantren secara keseluruhan. Di sinilah pentingnya kehadiran kita bersama untuk menjelaskan kepada publik bahwa tidak semua pesantren memiliki sisi gelap seperti itu,” ujar Gus Syaffa.

Sebagai praktisi pesantren, ia menegaskan bahwa nilai penghormatan atau ta’dhim serta akhlak santri kepada guru tidak boleh disalahgunakan untuk kepentingan yang melanggar norma agama maupun hukum.

Menurutnya, relasi antara kiai dan santri harus tetap berada dalam koridor syariat dan hukum negara. Tidak boleh ada pembenaran terhadap tindakan menyimpang dengan dalih tradisi pesantren atau konsep ngalap berkah.

“Tidak boleh membungkus nafsu dengan dalih tradisi agama yang berkembang di pesantren. Ketaatan kepada guru tidak berarti harus mengikuti semua perintah yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran agama,” tegasnya.

Gus Syaffa juga menambahkan bahwa tidak ada nilai ketaatan dalam kemaksiatan kepada Sang Pencipta.

“Batas antara taat dan maksiat sudah sangat jelas. Karena itu, perilaku kemaksiatan tidak bisa diklaim sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT,” tandasnya.

Untuk itu, dirinya akan berkolaborasi dengan Kemenag Kabupaten Brebes, Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Kabupaten Brebes, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Kabupaten Brebes, serta JP3M dalam menyelenggarakan Halaqoh Pesantren bertajuk “Ketaatan dan Kehormatan: Batas Etis Relasi Guru dan Santri.”

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 13 Juni 2026, di Pondok Pesantren Al Fattah, Desa Tegalgandu, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes. Halaqoh akan menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan praktisi pesantren, akademisi, kepolisian, dan aktivis perempuan.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Brebes, HM Aqsho, menyambut positif rencana penyelenggaraan halaqoh tersebut. Ia bahkan menyatakan kesiapannya untuk hadir sekaligus menjadi narasumber dalam kegiatan itu.

Dalam pertemuan tersebut, HM Aqsho didampingi Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren), H Juremi A. Fauzi. Sedangkan KH Musyaffa didampingi Ketua DPC FKDT Kabupaten Brebes, Akhmad Sururi. (Nuridin/Red)

Resmi Terpilih! Ustadz Muhaimin Pimpin NU Ranting Gandasuli Lima Tahun ke Depan

0

BREBES (Aswajanews) – Musyawarah Ranting (Musran) Nahdlatul Ulama Ranting Gandasuli yang digelar di Masjid Jami’ Gandasuli, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jumat (12/6/2026), menetapkan Ustadz Lebe Muhaimin Mutholib, A.Md.Com sebagai Ketua Tanfidziyah NU Ranting Gandasuli masa khidmat 2026–2031.

Kegiatan berlangsung khidmat dan dihadiri jajaran pengurus MWC NU Kecamatan Brebes, tokoh agama, pengurus ranting, serta badan otonom (Banom) NU di Kelurahan Gandasuli.

Hadir dalam Musran tersebut Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Brebes H. Asnawi, M.Pd., Sekretaris MWC NU Kecamatan Brebes Ustadz Subhan, Bendahara MWC NU Kecamatan Brebes Ustadz Japra, serta Wakil Sekretaris MWC NU Kecamatan Brebes Ustadz Sholihin, S.Pd., M.Pd.

Turut hadir Pengasuh Pondok Pesantren Barokatul Quran Gandasuli KH Ahmad Fauzan Al-Hafidz, Penasehat Pengurus Masjid Jami’ Gandasuli H. Drs. Jamali Anas, Rois Syuriah NU Gandasuli Kyai Zaenal Abidin, S.Pd.I, Ketua Tanfidziyah NU Gandasuli periode sebelumnya Ustadz H. Abdul Hamid Muhtadi, S.Pd.I, serta perwakilan Pemerintah Kelurahan Gandasuli.

Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Brebes H. Asnawi menegaskan bahwa pergantian kepengurusan merupakan bagian dari proses regenerasi organisasi yang harus disikapi sebagai sunnatullah.

“Perubahan adalah sunnatullah yang harus kita terima dalam kehidupan, termasuk perubahan kepemimpinan dan kepengurusan di organisasi NU. Pergantian kepengurusan di ranting merupakan bagian dari proses regenerasi untuk menjaga keberlangsungan perjuangan Nahdlatul Ulama,” ujarnya.

Musyawarah yang berlangsung secara musyawarah mufakat itu juga menetapkan Ustadz H. Abdul Hamid Muhtadi, S.Pd.I sebagai Rois Syuriah NU Ranting Gandasuli masa khidmat 2026–2031.

Dengan terbentuknya kepengurusan baru, NU Ranting Gandasuli diharapkan semakin aktif menjalankan program keagamaan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan, sekaligus memperkuat khidmat kepada umat serta jam’iyah Nahdlatul Ulama di tingkat kelurahan.

Musran ini menjadi momentum penting untuk memperkuat soliditas organisasi dan melanjutkan estafet perjuangan NU dalam menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah di tengah masyarakat. (Nuridin)

Google search engine
0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan

Recent Posts