“Ngelmu iku, kalakone kanthi laku.” Petuah luhur warisan budaya Jawa ini memiliki makna yang sederhana, tetapi sangat mendalam. Ilmu hanya akan bernilai apabila diwujudkan dalam tindakan nyata. Pengetahuan tidak cukup sekadar dipahami, dihafal, atau didiskusikan, melainkan harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah derasnya arus informasi saat ini, manusia hidup dalam kemudahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berbagai pengetahuan dapat diakses hanya melalui genggaman tangan. Internet, media sosial, buku digital, seminar daring, hingga kecerdasan buatan menghadirkan informasi tanpa batas. Dalam hitungan detik, seseorang dapat menemukan jawaban atas hampir semua pertanyaan.
Namun, kemudahan memperoleh informasi ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan mengamalkan ilmu. Banyak orang memahami pentingnya menjaga lingkungan, tetapi masih membuang sampah sembarangan. Banyak yang mengetahui bahaya korupsi, tetapi tetap tergoda mengambil hak yang bukan miliknya. Banyak pula yang mengerti kewajiban menghormati orang tua, tetapi justru melukai hati mereka melalui ucapan dan perilaku.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama masyarakat hari ini bukanlah kekurangan ilmu, melainkan kurangnya kemauan untuk menjalankan ilmu yang telah diketahui.
Dalam pandangan Islam, ilmu dan amal merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah. Ia mungkin tumbuh tinggi dan terlihat kokoh, tetapi tidak memberikan manfaat bagi siapa pun. Sebaliknya, amal tanpa ilmu berpotensi menyesatkan karena dilakukan tanpa landasan yang benar. Karena itu, ilmu harus menjadi petunjuk arah, sementara amal menjadi bukti nyata dari pemahaman yang dimiliki.
Tradisi pesantren di Indonesia merupakan contoh konkret penerapan filosofi “ngelmu iku, kalakone kanthi laku.” Seorang santri tidak hanya diajarkan memahami kitab kuning, menghafal dalil, atau mendalami ilmu agama. Lebih dari itu, mereka dibiasakan hidup sederhana, menghormati guru, menjaga kebersihan, membantu sesama, dan mengabdi kepada masyarakat.
Para kiai sejak dahulu memahami bahwa tujuan pendidikan bukan semata-mata mencetak manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk pribadi yang berakhlak mulia. Kecerdasan tanpa akhlak dapat melahirkan kesombongan, sementara ilmu yang disertai akhlak akan melahirkan keberkahan.
Sejarah Islam juga memberikan banyak teladan mengenai pentingnya mengamalkan ilmu. Para sahabat Nabi Muhammad SAW tidak hanya mendengar ajaran Rasulullah, tetapi juga berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka belajar tentang kejujuran dan menjadi pribadi yang jujur. Mereka belajar tentang kesabaran dan menunjukkan kesabaran dalam berbagai ujian. Mereka belajar tentang kepedulian sosial dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan mereka.
Semangat itulah yang membuat ilmu mampu mengubah peradaban. Sebuah bangsa tidak menjadi maju hanya karena memiliki banyak teori atau diskusi akademik. Kemajuan lahir ketika ilmu diterjemahkan menjadi kebijakan, inovasi, dan tindakan yang membawa manfaat bagi masyarakat luas.
Sayangnya, kehidupan modern sering kali lebih menghargai simbol-simbol ilmu daripada substansi ilmu itu sendiri. Gelar akademik, sertifikat pelatihan, jumlah buku yang dibaca, bahkan banyaknya pengikut di media sosial kerap dijadikan ukuran keberhasilan. Padahal semua itu hanyalah sarana, bukan tujuan.
Tidak sedikit orang yang gemar menunjukkan pengetahuannya, tetapi enggan menjadikan ilmu tersebut sebagai pedoman hidup. Akibatnya, ilmu berubah menjadi alat pencitraan, bukan jalan menuju kebijaksanaan. Padahal hakikat ilmu adalah membimbing manusia menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih bermanfaat.
Petuah “ngelmu iku, kalakone kanthi laku” juga mengajarkan pentingnya kerendahan hati. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar kesadarannya bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari. Orang yang benar-benar berilmu tidak sibuk membanggakan dirinya, melainkan fokus memperbaiki diri dan memberikan manfaat bagi sesama.
Laku yang dimaksud dalam petuah tersebut tidak hanya berupa tindakan fisik, tetapi juga seluruh proses perjuangan dalam menuntut ilmu. Bangun pagi untuk belajar, bersabar menghadapi kesulitan, menghormati guru, menjaga kejujuran, dan konsisten mengamalkan ilmu merupakan bagian dari laku itu sendiri. Dengan kata lain, ilmu lahir dari kesungguhan, ketekunan, dan kedisiplinan.
Tantangan ini semakin relevan bagi generasi muda. Derasnya informasi sering kali menciptakan ilusi bahwa seseorang telah mengetahui banyak hal, padahal belum tentu memahami dan mengamalkannya. Akibatnya muncul budaya serba instan: ingin terlihat pintar tanpa proses belajar yang mendalam.
Padahal setiap pencapaian membutuhkan perjalanan panjang. Seorang dokter harus menempuh pendidikan bertahun-tahun sebelum melayani pasien. Seorang ulama menghabiskan puluhan tahun belajar sebelum dipercaya membimbing umat. Seorang pengusaha sukses harus melewati berbagai kegagalan sebelum meraih keberhasilan. Semua itu menunjukkan bahwa ilmu dan keberhasilan selalu membutuhkan proses laku yang panjang.
Karena itu, generasi muda perlu menghidupkan kembali semangat “ngelmu iku, kalakone kanthi laku.” Jangan hanya menjadi generasi yang pandai mengutip kata-kata bijak, tetapi menjadi generasi yang mampu mewujudkan kebijaksanaan dalam tindakan. Jangan hanya gemar mengkritik, tetapi ikut berkontribusi memperbaiki keadaan. Jangan hanya memahami pentingnya persatuan, tetapi benar-benar membangun persaudaraan di tengah masyarakat.
Dalam konteks kebangsaan, nilai ini juga sangat relevan. Berbagai persoalan seperti korupsi, ketimpangan sosial, polarisasi politik, dan krisis moral telah lama dibahas dalam berbagai forum. Namun perubahan tidak akan pernah terwujud apabila gagasan-gagasan tersebut berhenti sebagai wacana.
Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia bekerja nyata: guru yang mengajar dengan dedikasi, pemimpin yang jujur dan amanah, pemuda yang aktif menggerakkan perubahan sosial, serta tokoh agama yang menghadirkan kesejukan dan persatuan. Itulah bentuk nyata ilmu yang diwujudkan dalam tindakan.
Nahdlatul Ulama telah lama menanamkan semangat tersebut melalui tradisi khidmah dan pengabdian. Di lingkungan NU, seseorang tidak hanya dinilai dari kecerdasannya, tetapi juga dari kesediaannya melayani umat. Sebab ilmu yang tidak menghadirkan manfaat bagi masyarakat belum mencapai tujuan yang sesungguhnya.
Pada akhirnya, dunia tidak kekurangan orang pintar. Dunia juga tidak kekurangan teori, gagasan, dan konsep besar. Yang sering kali kurang adalah keberanian untuk menjalankan apa yang telah diketahui sebagai kebenaran.
Karena itu, marilah menjadikan ilmu bukan sekadar hiasan di dalam pikiran, melainkan cahaya yang menerangi tindakan. Jadikan setiap pengetahuan yang diperoleh sebagai dorongan untuk berbuat lebih baik dan memberikan manfaat bagi sesama. Sebab hakikat ilmu bukan terletak pada seberapa banyak yang diketahui, melainkan pada seberapa besar kebaikan yang mampu dihadirkan melalui ilmu tersebut.
“Ngelmu iku, kalakone kanthi laku.” Ketika ilmu bertemu dengan amal, lahirlah keteladanan. Ketika pengetahuan diwujudkan dalam tindakan, lahirlah kebermanfaatan. Dan ketika ilmu menjadi jalan pengabdian, di situlah manusia menemukan kemuliaan hidup yang sesungguhnya. ***
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
































