Google search engine
Beranda blog Halaman 124

Baik dan Buruk dalam Prespektif Agama

0
Oleh : Akhmad Sururi (Alumni Lirboyo angkatan tahun 2000)

Pagi hari Minggu, 29 Desember 2024 kedatangan tamu seorang teman yang lama hidup di Semarang. Tidak terbayangkan dan terpikirkan akan kembali ke kampung halaman untuk melanjutkan kehidupan bersama dengan orang tua yang tinggal satu (Ibunya).  Itulah kehidupan, banyak misteri yang tidak terduga sebelumnya karena itu menjadi rahasia.

Terlepas hal tersebut ada sesuatu yang menarik saat obrolan di ruang tamu dengan tema spontan tentang kebaikan dan keburukan. Kedua kata tersebut merupakan kata yang berlawanan dan berkaitan dengan prilaku manusia di dunia. Hal tersebut karena manusia secara umum tidak bisa melepaskan dari perbuatan buruk, setidaknya pernah berbuat buruk atau jelek dalam hidupnya.

Dalam prespektif agama kebaikan dan keburukan bersumber dari Wahyu yang menjadi sandaran setiap muslim. Hal tersebut antara lain tesebut dalam Al Qur’an surat Asy-Syams ayat 7-10: “Demi jiwa dan apa yang menyempurnakannya, lalu Dia mengilhaminya tentang kejahatan (fujur) dan ketakwaan (taqwa), sungguh beruntunglah orang yang menyucikannya.” Sebagian Mufasir menegaskan bahwa jiwa manusia memiliki kemampuan (potensi) untuk memilih atau memahami perbuatan buruk (fujur) dan kebaikan (takwa). Disinilah Alloh memberikan perangkat akal untuk bisa membedakan antara baik dan benar. Perangkat tersebut tentu harus diisi Ilmu yang bersumber dari wahyu.

Melalui Wahyu itulah manusia bisa memahami baik dan buruk serta benar, dan salah. Oleh karena itu peran Wahyu (Qur’an) menunjukkan (Hudan) manusia kepada jalan kebaikan dan kebenaran. Tanpa kehadiran Wahyu yang dibawa oleh Utusan (Nabi Muhammad SAW), manusia akan sulit menemukan makna kebaikan dan kebenaran. Fungsi Wahyu sebagai petunjuk karena manusia memiliki potensi berbuat jelek sekaligus potensi berbuat baik. Oleh karena itu Wahyu sebagai sumber pengetahuan memberikan pemahaman kepada manusia mana yang baik dan mana yang buruk.

Menurut beberapa penelitian yang mengupas tentang kata khair dan syarr di dalam Al-Qur’an menyebutkan kata khair terdapat sebanyak 190 kali dalam 54 surah, sedangkan kata syarr terdapat sebanyak 31 kali dalam 22 surah. Dalam Al-Qur’an, kata khair dan syarr memiliki berbagai macam konteks dalam kehidupan manusia. Ini artinya bahwa pintu kebaikan lebih banyak dibandingkan dengan kejahatan atau kejelekan. Banyak kebaikan yang bisa kita lakukan di dunia ini dalam bentuk amal soleh baik yang berhubungan dengan Hablum mina Alloh atau sesama manusia.

Sementara itu kata “syarr” (54) dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan khoir    artinya  bentuk kejelekan dan kejahatan. Perkara manusia yang melakukan kejelekan lebih banyak kita belum menghitung secara pasti. Namun yang jelas banyak kebaikan sebagaimana bersumber dari wahyu yang bisa dilakukan oleh manusia.

Sehingga sangat masuk akan kalau penyembutan “Khoir” lebih banyak dibandingkan dengan “syarr.”

Sesungguhnya Allah banyak membuka peluang kebaikan untuk manusia yang berbuah pahala. Menyingkirkan duri di jalan merupakan kebaikan, membaca tasbih menjadi pahala, senyum juga merupakan kebaikan dan masih banyak lagi kebaikan lainnya. Semua kebaikan berbuah pahala meskipun hanya sekedar niat belum melakukan perbuatan baik tersebut. Saat melakukan kebaikan maka pahalanya akan dicatat oleh Malaikat dengan berlipat ganda. Berbeda halnya dengan keburukan sekedar niat akan melakukan keburukan atau kejelekan maka Malaikat belum mencatatnya sampai manusia itu melakukannya. Artinya setelah manusia melakukan kejelekan tersebut Malaikat baru mencatat menjadi sebuah dosa. Semoga kita terhindar dari perbuatan jelek dan buruk, dan Alloh SWT senantiasa memberikan kekuatan kepada kita semua untuk berbuat baik dan menebarkan kebaikan di dunia ini. ***

www.youtube.com/@anas-aswaja

BNNK Cimahi Terus Eksis Perangi Narkoba

0
Klinik Pratama BNN Kota Cimahi berhasil tingkatkan kualitas hidup klien penyalahguna narkoba sebesar 86,61 persen dari target 68 persen
Klinik Pratama BNN Kota Cimahi berhasil tingkatkan kualitas hidup klien penyalahguna narkoba sebesar 86,61 persen dari target 68 persen

CIMAHI (Aswajanews.id) – Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Cimahi terus eksis melakukan sejumlah penanganan permasalahan narkoba di wilayah hukumnya.Dimana upaya itu dilakukan dalam rangka memajukan generasi yang cerdas tangguh dimasa mendatang, agar dapat terealisasi dengan baik. Demikian diungkapkan Ketua BNNK Cimahi, Yulius Amra, S.H bersama jajarannya dalam siaran persnya, di Kantor BNNK Cimahi, Jln Cihanjuang No 142, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Jawa Barat, Senin (30/12).

Diungkapkannya, bahwa ada sejumlah penanganan yang telah mereka lakukan di tahun 2024. “Agar lebih terarah dan jelas penangannya, maka kami bagi dalam beberapa tim, seperti tim rehabilitasi, tim pencegahan dan pemberdayaan masyarakat (P2M) dan tim pemberantasan,” ujar Yulius.

Menurutnya, selama setahun berjalan, BNNK Cimahi telah melakukan sejumlah layanan dan penanganan serta pemberantasan. Alhasil dari kolaborasi itu, telah berhasil merehabilitasi 112 orang,108 laki-laki dan 4 perampuan. Para penyalahgunaan narkoba itu, selain direhabilitasi di Klinik Pratama BNN Kota Cimahi mereka juga (yang memiliki gangguan psikiaatris sedang keberat) mendapat layanan rujukkan di luar Cimahi, seperti Rumah Sakit Jiwa Propinsi Jawa Barat dan Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Jakarta.

“Selain layanan rehabilitasi, kami juga membentuk Unit Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM) di kelurahan Cibabat dan Melong,” ungkapnya.

Dalam setahun unit ini berhasil melayani 10 klien penyalahguna narkoba kategori ringan atau rendah, yang mendapat layanan pemulihan, pemdampingan KIE, Kelompok Dukungan Sebaya (KDS), relapse prevention, life skill, serta bina lanjut.

Layanan pasca rehabilitasi, bagi 25 orang mantan penyalahguna narkoba, layanan penerbitan SKHPN (Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkoba) sebanyak 503 layanan.

Begitupun, dengan tim penecegahan dan pemberdayaan masyarakat berhasil menggagas beberapa kegiatan pencegahan, seperti: 1). Advokasi penguatan ketahanan keluarga anti narkoba berbasis sumber daya pembangunan kelurahan dengan sasaran 2 kelurahan, yaitu kelurahan Cibabat dan Kelurahan Melong.

2). Program ketahanan anti narkoba dengan melibatkan 10 keluarga melalui pertemuan, fokus pada pengasuhan, kesadaran bahaya narkoba dan pola hidup sehat.

3). Program remaja teman  sebaya anti narkoba, melalui dialog interaktif dengan 10 remaja untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman menolak narkoba.

4). Penyuluhan sejumlah 97 kegiatan dengan total   95.478 peserta.

Sementara kegiatan pemberdayaan masyarakat dilaksanakan dengan strategi, mewujudkan kota Cimahi menjadi kota tanggap ancaman narkoba (Kotan). Dengan sejumlah programnya, meliputi: pembinaan teknis, pemetaan, pengembangan kapasitas dan pembinaan masyarakat (50 penggiat dan 210 satgas) Monitoring evaluasi. Pemeriksaan tes urine 20 kali, 663 orang.

“Demikian pula, tim pemberantasan dalam akhir laporan, terungkap bahwa mereka berhasil bersama Tim gabungan BNNP Jabar berhasil menangkap tersangka ABS dengan 229 gram ganja.Melakukan pelayanan asesmen terpadu sebanyak 113 orang. Razia gabungan. Pengawasan terhadap perusahaan yang ada di kota Cimahi,” ujar Yulius sembari menghimbau agar masyarakat tetap mengisi dan merayakan liburan akhir tahun dengan aktivitas yang positif dan tidak berlawanan dengan hukum untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan jauhi narkoba  obat obat yang terlarang.

Ikut hadir dan terlibat dalam kegiatan tahunan tersebut, Kasubag Umum, Ahmad Nukman Ginanjar , S.E., M.Ak, Katim P2 M, Yoni Ronald, S.E. Katim Rehabilitasi, Hana Gumiyarna, SKM dan Katim Pemberantasan, Bagus Rampa, S.E., M.M. (Sinto)

Kebijakan Baru 2025 untuk Penerima PKH dan Bansos, Ini Aturan yang Berlaku di Seluruh Indonesia

0
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul)
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul)

JAKARTA (Aswajanews.id) – Pemerintah Indonesia berencana untuk mengatur regulasi terkait batas waktu bagi penerima PKH dan bansos. Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, mengungkapkan bahwa aturan tersebut direncanakan akan diterapkan pada tahun 2025.

Ia menyampaikan hal ini dalam sambutannya pada Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2024. Acara tersebut berlangsung di Kantor Kemensos, Jakarta Pusat, pada hari Jumat, 27 Desember 2024.

Gus Ipul menekankan pentingnya regulasi tersebut dalam meningkatkan efektivitas distribusi bantuan sosial.

Berdasarkan data dari Pusat Data dan Informasi (Pusdatin), ada orang atau keluarga yang sudah 15 tahun menerima PKH dan bansos.

Gus Ipul tidak ingin hal tersebut terus terjadi karena banyak keluarga yang sudah tergraduasi dari program itu.

Selain itu, dia bercerita melakukan kunjungan ke Lampung untuk menggraduasi Keluarga Penerima Manfaat (KPM) beberapa hari yang lalu.

Gus Ipul menargetkan ke depannya agar lebih banyak KPM yang tergraduasi atau lulus dari program tersebut.

Ia menyebut program Kemensos yang paling besar ada di perlindungan sosial yang mencapai 80 persen. Sedangkan program lain hanya mendapatkan alokasi 20 persen, seperti program pemberdayaan.

Perlindungan sosial berupa bansos dan PKH sekitar Rp70 triliun, meliputi PKH Rp28 triliun dan bansos Rp44-45 triliun. (Red)

Ketua Dekopinwil Jabar Apresiasi Rencana Audit Dana Hibah Dekopin: Langkah Menuju Koperasi Indonesia yang Lebih Baik

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Nurodi, S.E., Ketua Dekopinwil Jawa Barat memberikan apresiasi tinggi terhadap rencana audit investigasi dana hibah Dekopin yang diusulkan Ketua Umum Dekopin, Mas Bambang.  Langkah ini dinilai sebagai upaya penting dalam meningkatkan kepercayaan publik terhadap koperasi di Indonesia.

“Rencana audit ini sangat patut diapresiasi,” ujar Ketua Dekopinwil Jabar.

“Ini menunjukkan komitmen nyata Ketua Umum Dekopin untuk membangun koperasi Indonesia yang bersih dan transparan. Ketegasan beliau dalam mendorong audit investigasi ini membuktikan keseriusannya memberantas praktik-praktik yang merugikan koperasi dan anggotanya,” ungkapnya.

Ketua Dekopinwil Jabar juga menekankan pentingnya integritas kepemimpinan.  Beliau menyebut Mas Bambang sebagai sosok muda yang bersih dari kasus keuangan dan masalah hukum, menjadi modal berharga dalam memimpin Dekopin.

“Beliau adalah pemimpin yang tepat untuk masa depan koperasi Indonesia. Dengan rekam jejak bersih, beliau dapat memimpin Dekopin tanpa beban masa lalu dan fokus menjalankan program kerjanya,” tambahnya.

Lebih lanjut, Ketua Dekopinwil Jabar mendesak agar audit investigasi segera dilaksanakan agar Ketua Umum Dekopin dapat memulai program kerjanya tanpa terbebani isu-isu yang belum terselesaikan. Proses audit yang transparan dan akuntabel diharapkan mengembalikan kepercayaan publik dan memulihkan citra koperasi Indonesia.

“Semoga audit ini berjalan lancar dan hasilnya dipublikasikan secara terbuka,” tutup Ketua Dekopinwil Jabar.

Transparansi adalah kunci koperasi yang kuat dan berkelanjutan. Dukungan dari Dekopinda Garut dan Desakan Audit Seluruh Tingkat. Dekopinda Garut juga menyatakan dukungannya terhadap rencana audit tersebut.

Ketua Dekopinda Garut, H. Asep Supriadi, menyatakan, “Dekopinda Garut akan mengikuti langkah-langkah yang akan dilaksanakan oleh Dekopin dan Dekopinwil Jabar.”

Pernyataan dukungan ini semakin memperkuat desakan agar audit tidak hanya terbatas pada Dekopin pusat, tetapi juga mencakup Dekopinwil dan Dekopinda di seluruh Indonesia selama 10 tahun terakhir.  Hal ini dianggap penting untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas di seluruh tingkatan organisasi koperasi.

Langkah komprehensif ini diharapkan dapat membersihkan praktik-praktik yang merugikan dan membangun kepercayaan publik yang lebih besar terhadap koperasi di Indonesia. Dengan demikian, koperasi dapat berperan lebih optimal dalam pembangunan ekonomi nasional. (Red)

Wisuda ke-9 STAIKAP Pekalongan, Alumni Diminta Jangan Berhenti Mencari Ilmu

0
Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-9 STAIKAP Pekalongan di Hotel Dafam, Kota Pekalongan Senin (30/12/2024)
Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-9 STAIKAP Pekalongan di Hotel Dafam, Kota Pekalongan Senin (30/12/2024)

PEKALONGAN (Aswajanews.id) – Sekolah Tinggi Agama Islam Ki Ageng Pekalongan (STAIKAP) menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka dalam rangka Wisuda Sarjana ke-9 Manajemen Pendidikan Islam dan Sarjana Ekonomi Syariah bertempat di Hotel Dafam, Kota Pekalongan pada Senin (30/12/2024). Sidang Senat Terbuka ini dibuka oleh Ketua Senat STAIKAP, Dr. KH. Sabilal Rosyad, M.S.I. dengan menggunakan Bahasa Arab yang sangat fasih.

Dalam pidatonya, Ketua STAIKAP Dr. Muhammad Ali Gunawan, S.Pd, M.Pd mengatakan, para wisudawan dengan gelar akademis yang berhasil disandang, dapat mengamalkan ilmu yang dimiliki, menapaki karier dan kembali ke tengah masyarakat, serta memberikan kontribusi yang terbaik untuk bangsa dan negara.

“Selamat dan sukses untuk para mahasiswa. Wisuda ini bukanlah akhir dari menuntut ilmu, karena Anda tetap harus mencari ilmu dimanapun tempatnya,” katanya.

Ali menambahkan, ketika kembali ke masyarakat, antara ilmu yang Anda pelajari di kuliah dengan yang ada di dunia nyata itu bakalan jauh berbeda karena perubahan masyarakat itu tidak bisa diprediksi. Makanya orang harus tetap belajar.

“Hukum Newton yang ketiga ini begitu Anda bereaksi sekali, maka masyarakat itu akan membalas sekali. Seberapa besar reaksi yang Anda berikan, reaksinya juga satu kali. Kehidupan itu tidak seperti yang anda baca di teori-teori yang telah dipelajari. Perubahannya begitu drastis. Orang itu harus tetap belajar. Tapi hukum teorinya Newton itu statis, tidak dinamis. Kebenarannya Newton akhirnya dibantah, digugurkan oleh konsep teorinya Einstein, relativitas,” terang Ali.

Perwakilan wisudawan, M. Arwani dalam sambutannya mengajak para wisudawan untuk berbenah dan berkembang, serta mampu menyesuaikan kondisi zaman.

“Marilah kita jadikan hari ini sebagai tonggak awal yang membakar semangat kita untuk terus berkembang, untuk terus belajar, dan untuk terus berkontribusi, khususnya bagi masyarakat,” ujarnya.

Disampaikan, setiap langkah harus menjadi inspirasi bagi orang lain, dan jadikan setiap pencapaian sebagai bukti bahwa mimpi-mimpi itu bisa menjadi kenyataan. “Serta jadikan ilmu dan ketaqwaan sebagai gaun dalam berfikir dan bertindak agar kita bisa membangun masa depan yang gemilang, menyongsong era baru dengan keberanian dan semangat hingga tercapai cita dan angan kita semua,” tambahnya.

Wakil Ketua I STAIKAP, Minati Maulida, M.S.I menyampaikan, wisuda ke-9 STAIKAP kali ini meluluskan 30 mahasiswa, dengan rincian 23 mahasiswa Prodi Manajemen Pendidikan Islam dan 7 mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah. “Dengan ini, maka total alumni sejumlah 409,” ucapnya.

Adapun penghargaan untuk wisudawan terbaik pada wisuda kali ini jatuh kepada Devita Ramadhani (Prodi Ekonomi Syariah) dan Imam Faris Setiyo (Prodi Manajemen Pendidikan Islam).

Acara wisuda ini turut dihadiri Sekretaris Yayasan Madrasah Islamiyah (YMI) H Muzakki, Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (APTIKIS) Dr. K.H. Ahmad Tantowi, M.Si., M.Pd., Kopertais Wilayah X Jawa Tengah Prof. Dr. Rokhmadi, M.Ag., pengurus YMI Dr. Nur Kholis, M.A dan beberapa tamu undangan lainnya, baik dari instansi pemerintahan maupun perguruan tinggi. (Kontributor: Khairul Anwar)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Membanggakan, Pelajar SIKK Raih Medali Emas dan Perak di Ajang YPAC

0

KUALA LUMPUR (Aswajanews.id) – Lima Pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), Sabah, kembali meraih prestasi di tingkat internasional. Para pelajar yang tergabung sebagai Tim Tari Prabu SIKK itu meraih 1 medali emas dan 1 medali perak dalam ajang Asia Pacific Youth Performing Arts Championship (YPAC-5) Malaysia 2024, yang diselenggarakan di Panggung Bandaraya Kuala Lumpur (City Theatre), Kuala Lumpur, 20-23 Desember 2024.

Medali emas diraih oleh Aldelyn Elfyera, Alya Primah, Kamilia Putri Fathiyyah dan Norfazillah Binti Anhar untuk kategori Traditional Group Dance dengan tarian berjudul “Urung Ansaluang”. Sementara Medali perak diraih oleh Muhammad Khoirul Izzan dan Norfazillah Binti Anhar untuk kategori Modern Dance (Duo) dengan tarian berjudul “Shadow Mask”.

Dalam keterangannya, Kepala Sekolah SIKK Sahyuddin mengatakan bahwa capaian yang sudah diraih itu akan menjadi motivasi bagi siswa lain untuk bekerja keras dalam meraih prestasi yang lebih baik di masa depan.

“Selamat dan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dari awal sampai akhir sehingga anak-anak kita bisa meraih prestasi yang luar biasa,” seraya mengingatkan ajang seperti YPAC sangat penting juga bagi siswa sehingga mereka dapat belajar tentang budaya dari negara peserta yang lain.

Di tahun ini, YPAC 5 diikuti oleh peserta dari 25 negara, yakni China, Singapura, Jerman, Britania Raya, Laos, Bhutan, Rusia, Brunei Darussalam, Indonesia, Ukraina, Korea, Australia, Myanmar, India, Filipina, Jepang, Kamboja, Thailand, Amerika Serikat, Vietnam, Prancis, Kanada, Italia dan Portugal.

Tim Tari Prabu SIKK, dengan personil berbeda, memang selalu aktif dalam YPAC dan selalu pulang dengan medali. Tahun 2024, tarian yang disajikan adalah kreasi yang diciptakan oleh Guru Seni Tari SIKK yaitu Dwi Kristiyanto, Sri Ningsih Sukirman dan Dhestiansia Narendra yang sekaligus menjadi pelatih Tim Tari Prabu SIKK sejak awal dibentuknya tim tersebut.

Ketua Tim Delegasi SIKK, Sir Arsyad pada menyatakan apresiasi kepada semua pihak di SIKK dan pelatih yang senantiasa memberikan motivasi dan dorongan semangat bagi anak anak sehingga mereka bisa ikut YPAC.

“Juga kepada orang tua pelajar yang tanpa kenal lelah memberikan perhatian dalam proses latihan sampai perlombaan,” kata Arsyad yang sekaligus menjabat selaku Wakil Kepala Divisi Prestasi SIKK.

Tak ketinggalan, pelatih tari, Dwi Kristiyanto juga mengungkapkan kebanggaannya dengan hasil yang telah diraih. Menurutnya, anak-anak sudah berlatih keras tidak mengenal waktu dan lelah sehingga bisa membawa medali emas dan perunggu.

“Semoga hasil ini dapat memberikan pengalaman baru bagi mereka tentang proses, bahwa untuk mencapai hasil maksimal diperlukan pejuangan dan latihan dengan sungguh sungguh,” pungkasnya.

Sebagai informasi, YPAC merupakan sebuah program kompetisi kesenian berskala luas yang rutin diselenggarakan oleh Persatuan Kebudayaan dan Kesenian Malaysia (PKKM) serta didukung Kementerian Pelancongan, Kesenian dan Kebudayaan Malaysia.

Tujuannya untuk saling promosi budaya serta pertukaran pengalaman dan keahlian dalam kesenian dan kebudayaan para pesertanya yang berasal dari berbagai negara.

Saat penyelenggaraan ajang yang sama di tahun 2020, Tim Tari Prabu SIKK meraih 1 medali emas, 1 perunggu dan 1 perak. Sedangkan, keikutsertaan di tahun 2022 menghasilkan raihan 1 medali emas dan 2 perak. (Nasrullah Ali Fauzi/Kemendikdasmen)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Sapa Guru Madrasah di Pegunungan, Dir GTK: Bangun Generasi Hebat, Jawab Tantangan Zaman

0
Dir GTK Thobib Al Asyhar sapa guru di kawasan pegunungan Moga Pemalang
Dir GTK Thobib Al Asyhar sapa guru di kawasan pegunungan Moga Pemalang

PEMALANG (Aswajanews.id) – Madrasah binaan Kementerian Agama tersebar di seantero nusantara. Ada sebagian yang berada di wilayah perkotaan, tidak sedikit juga yang berada di kawasan perbukitan, pegunungan, bahkan daerah pedalaman dan terluar.

Hal itu mendorong Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Thobib Al-Asyhar untuk bisa menyapa para pejungan pendidikan di berbagai tempat. Thobib hadir untuk membawa pesan harapan dan perubahan, menjadikan Madrasah Hebat bukan sekadar slogan, tetapi sebuah misi nyata.

Salah satunya yang Thobib lakukan di Pondok Pesantren Nihadlul Qulub, Jl. Soka, Desa Moga, Pemalang, Sabtu (27/12/2024). Dia hadir menyapa guru Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), hingga perwakilan dari Madrasah Diniyah, dan ormas kepemudaan.

“Kalian adalah pahlawan di medan yang mungkin tak terlihat megah, tetapi dampaknya begitu besar,” pesan Thobib.

“Di sini, di pelosok perbukitan ini, kita bangun generasi hebat yang mampu menjawab tantangan zaman,” sambungnya.

Menurut Thobib, menjadi guru tidak sekadar mengajar, tetapi juga mendidik dengan hati. “Guru madrasah swasta memiliki peran yang sangat strategis. Di tangan kalian, nilai-nilai Islam ditanamkan, generasi unggul dibentuk, dan masyarakat diberdayakan,” paparnya.

Guru madrasah harus berkarakter, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, dan mendidik dengan cinta serta kasih sayang. Pesan ini diperkuat dengan paparan buku “Menjadi GURU ALA NABI: Cara Islam Mendidik dan Melahirkan Generasi Hebat” yang baru saja diterbitkan Kementerian Agama. Buku ini menjadi panduan inspiratif untuk para guru, menggambarkan cara Nabi Muhammad mendidik dengan penuh hikmah dan kasih.

Thobib juga menyoroti pentingnya literasi digital di era modern. Pondok Pesantren Nihadlul Qulub, dengan fokus Tahfidzul Qur’an dan Digital Marketing, menjadi contoh bagaimana teknologi dapat menjadi alat dakwah dan pemberdayaan ekonomi.

Para guru lalu diajak memahami peran teknologi dalam mendukung dakwah dan promosi madrasah. Thobib menekankan pentingnya kemandirian ekonomi melalui peluang bisnis digital seperti toko online dan afiliasi. “Madrasah swasta di pelosok tidak boleh tertinggal. Dengan teknologi, kita dapat menjangkau dunia,” katanya.

Kehadiran Direktur GTK Madrasah di Pesantren Nihadlul Qulub cukup menginspirasi. Para peserta, yang terdiri dari guru-guru madrasah swasta di kawasan Pemalang dan Tegal, merasakan semangat baru.

“Beliau bukan hanya memberi teori, tetapi juga mendorong kami untuk benar-benar bergerak,” ujar salah satu peserta, guru dari sebuah madrasah di pelosok Pemalang.

“Ini bukan sekadar supervisi, tetapi sebuah panggilan untuk berubah,” sambungnya.

Sebagai penutup, Thobib mengajak semua pihak untuk terus bersinergi dalam membangun Madrasah Hebat. Dia menegaskan bahwa transformasi pendidikan, khususnya di madrasah swasta, membutuhkan kerjasama antara pemerintah, pesantren, dan masyarakat.

“Kita mulai dari sini, dari Desa Moga,” ujar Dr. Thobib penuh optimisme. “Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil, dan saya melihat semangat itu di wajah kalian semua,” tandasnya. (Kontributor: Moh Khoeron)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Pertemuan DPW FKDT Jateng di Nyatnyono : Meneguhkan Semangat Berkhidmah untuk FKDT

0
Pengurus Harian melakukan evaluasi kegiatan selama 2 tahun berjalan sekaligus menyusun perencanaan teknis kegiatan tahun 2025
Pengurus Harian melakukan evaluasi kegiatan selama 2 tahun berjalan sekaligus menyusun perencanaan teknis kegiatan tahun 2025

SEMARANG (Aswajanews.id) – Akhir tahun 2024 tepatnya hari Sabtu, 28 Desember 2024 menjadi salah satu hari bersejarah untuk DPW FKDT (Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah) Jawa Tengah. Sore hari menjelang Maghrib berkumpul beberapa pengurus Harian untuk melakukan evaluasi kegiatan selama 2 tahun berjalan sekaligus menyusun perencanaan teknis kegiatan tahun 2025. Berkumpul di sebuah gazebo di atas lokasi tanah yang akan dibangun gedung DPW FKDT Jawa Tengah. Lokasi tersebut di area parkir makam Wali Syekh Munadi, di pojok sebelah kiri, desa Nyatnyono Ungaran Barat Kab Semarang.

Kegiatan yang berlangsung secara sederhana dibuka oleh Akhmad Sururi selaku pengurus DPW FKDT Jawa Tengah yang menjadi wakil ketua. Setelah pembukaan dilanjutkan dengan berkirim doa dan tahlil kepada para Ulama dan orang orang yang berkhidmah kepada Madrasah Diniyah yang dipimpin oleh Kyai Abdul Rohman selaku Ketua DPW FKDT Jawa Tengah dan dilanjutkan oleh Kyai Abdul Manan dari Pati dan Kyai Mujib Hidayat selaku salah satu jajaran Dewan Pertimbangan DPW FKDT Jawa Tengah.

Dalam kesempatan tersebut, Kyai Abdul Rohman mengatakan bahwa pertemuan sore ini merupakan pertemuan yang sudah kita rencanakan beberapa hari yang lalu. Kita akan menyampaikan persiapan rakerwil DPW FKDT Jawa Tengah yang rencananya akan dilaksanakan pada awal tahun 2025 pada bulan kedua atau Februari. Oleh karena itu hari ini kita mempersiapkan laporan kegiatan yang sudah berjalan sekaligus membahas secara teknis pelaksanaan kegiatan program tahun 2025.

“Kami sangat senang atas kehadiran pengurus harian pada sore hari ini. Mari kita niati berkhidmah untuk Madrasah Diniyah. Sebagai pengurus sangat dibutuhkan kebersamaan dalam berkhidmah. Oleh karena itu mari kita bersama meneguhkan kembali semangat berkhidmah untuk FKDT dan madrasah Diniyah. Kita akan berbagi tugas dalam satu kepengurusan DPW FKDT Jawa Tengah, termasuk untuk beberapa program yang akan kita laksanakan pada tahun 2025,” kata Kyai Dur.

Menurut Kyai Dur, program yang mendesak terkait dengan rencana pembangunan kantor FKDT Jawa Tengah. Perencanaan ini membutuhkan urun rembug semuanya dengan melibatkan DPC, FKDT Kab/ Kota se-Jawa Tengah. Oleh karena itu rakewil nanti kita sampaikan rencana pembangunan sekaligus menyampaikan program turun ke bawah (Turba) ke Kab/Kota se-Jawa Tengah.

Rapat sekarang lanjut Kyai Dur, diharapkan bisa berbagi tugas terkait dengan keuangan beberapa orang dan yang berhubungan dengan program berapa orang. Semua nanti kita bagi tugas dengan jelas dan akan kita matangkan saat pertemuan Sabtu depan di Kab Demak.

Dalam forum tersebut, Kyai Karmin selaku pengurus harian DPW FKDT Jawa Tengah mengatakan bahwa dirinya merasa bersyukur dan bersenang hati karena FKDT Jawa Tengah secara resmi telah memilki tanah yang akan dibangun untuk kantor. “Saya bersyukur dan merasa gembira karena kita secara resmi telah memilki tanah untuk pembangunan gedung DPW FKDT Jawa Tengah. Ini menjadi kebanggaan kita bersama selaku pengurus DPW FKDT Jawa Tengah. Lebih dari itu tentu yang kita pikirkan dengan serius adalah rencana pembangunan dan proses penggalian dana,” kata Kyai Karmin yang pada tahun 2024 dilantik kembali menjadi anggota DPRD Kab Demak dari Fraksi PKB.

Rapat yang berlangsung sampai jam 21.00 WIB dihadiri oleh beberapa Pengurus Harian, termasuk Sekretaris DPW FKDT Jawa Tengah, Gus Zahid yang saat sekarang menjabat sebagai Kepala Kantor Kemenag Kab Purbalingga. Dalam forum tersebut, Gus Zahid mengatakan Kab Banjarnegara siap untuk menjadi tuan rumah Rakerwil DPW FKDT Jawa Tengah pada pertengahan Februari 2025. (Red)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Pandangan Ulama tentang Perayaan Tahun Baru: Antara Tradisi dan Syariat

0
Penulis: Abdul Manan, S.H Praktisi Hukum

Perayaan Tahun Baru telah menjadi tradisi yang melekat di tengah -tengah masyarakat, baik di negara Barat maupun Timur, termasuk juga di Indonesia. Perayaan Tahun Baru telah menjadi tradisi momen yang dirayakan oleh berbagai lapisan masyarakat di seluruh dunia, pun termasuk umat Islam. Merayakan tahun baru telah menjadi hal umum di berbagai kalangan, termasuk di tengah masyarakat Muslim. Namun, hal ini juga menjadi bahan diskusi di kalangan ulama. perayaan ini sering menjadi topik diskusi karena adanya berbagai aspek budaya, agama, dan syariat yang terlibat. Para Ulama memiliki pandangan yang berbeda terkait hukum perayaan tahun baru, tergantung pada perspektif syariat dan konteks sosial.

Dengan demikian muncul lah suatu pertanyaan dalam diri kita, Apakah kita selama ini merayakan tahun baru suatu hal yang keliru dalam Islam? Atau apakah merayakan tahun baru telah melanggar Syariat Islam? Apakah perayaan ini dapat dibenarkan dalam Islam, atau justru harus dihindari?

Nah sobat hukum, penulis akan menguraikan berbagai Bagaimana pandangan para ulama tentang perayaan Tahun Baru. Berikut adalah penjelasan dari berbagai ulama mengenai perayaan tahun baru.

Pandangan yang Membolehkan dengan Syarat

Sebagian ulama berpendapat bahwa perayaan Tahun Baru adalah mubah (diperbolehkan) selama tidak bertentangan dengan syariat Islam. Mereka melihat perayaan ini sebagai tradisi sosial yang bersifat netral, bukan bagian dari ritual keagamaan tertentu.

Salah satu ulama yang mendukung pandangan ini adalah Syekh Yusuf al-Qaradawi. Dalam salah satu fatwanya, beliau menyatakan bahwa umat Islam boleh ikut merayakan momen pergantian tahun asalkan dilakukan dengan cara yang tidak melanggar nilai-nilai Islam. Beliau menekankan pentingnya menjauhi kemaksiatan, seperti pesta minuman keras, musik yang berlebihan, atau perbuatan sia-sia lainnya. Al-Qaradawi juga menekankan agar umat Islam memanfaatkan momen Tahun Baru untuk introspeksi dan memperbarui niat dalam meningkatkan amal kebaikan.

Kemudian salah satu ulama yang juga mendukung pandangan ini adalah Imam Ibn Muflih. Dalam kitab Al-Adab Al-Syar’iyyah, Imam Ibn Muflih menyebutkan bahwa merayakan tahun baru diperbolehkan jika tidak mengandung unsur dosa atau melanggar syariat.

Para ulama yang mendukung pandangan ini juga sering menekankan pentingnya melihat perayaan Tahun Baru dari sudut pandang budaya. Mereka menilai bahwa selama sebuah tradisi tidak memiliki unsur kemusyrikan atau bertentangan dengan akidah Islam, tradisi tersebut dapat diterima. Dalam hal ini, perayaan Tahun Baru dapat dianggap sebagai bentuk ekspresi budaya yang bersifat universal.

Pandangan yang Melarang

Di sisi lain, terdapat juga ulama yang memandang bahwa perayaan Tahun Baru tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam. Mereka menganggapnya sebagai bentuk tasyabbuh (meniru) tradisi non-Islam, yang dilarang dalam syariat.

Ibnu Taimiyah seorang ulama besar dalam sejarah Islam, dikenal dengan pendiriannya yang tegas terhadap tasyabbuh. Dalam bukunya Iqtidha’ al-Sirat al-Mustaqim, beliau menyatakan bahwa umat Islam seharusnya menjauhkan diri dari tradisi-tradisi yang berasal dari luar Islam, terutama jika tradisi tersebut memiliki akar dalam kepercayaan atau budaya yang tidak Islami. Menurutnya, perayaan Tahun Baru merupakan tradisi yang memiliki kaitan dengan perayaan keagamaan masyarakat non-Muslim, sehingga tidak sepatutnya diikuti oleh umat Islam.

Adapun dalil yang digunakan yaitu Hadits Riwayat Abu Dawud dan Ahmad “Barang siapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.”

Menurut Ibnu Taimiyah, perayaan Tahun Baru, terutama yang berasal dari budaya Barat atau non-Islam, tidak sesuai dengan prinsip menjaga identitas keislaman.

Pendapat yang senada juga disampaikan oleh para ulama Salafi kontemporer. Seperti Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz. Mereka menegaskan bahwa umat Islam harus memprioritaskan identitas keislaman dan menjauhkan diri dari perayaan-perayaan yang tidak memiliki dasar dalam syariat. Mereka mengingatkan umat untuk lebih mengutamakan perayaan-perayaan Islam, seperti tahun baru Hijriyah, yang memiliki nilai spiritual dan sejarah dalam Islam.

Pendekatan Tengah: Mengedepankan Kebijaksanaan

Selain pandangan yang membolehkan dan melarang, terdapat juga ulama yang mengambil pendekatan tengah. Mereka berpendapat bahwa perayaan Tahun Baru tidak bisa dinilai secara hitam putih, tetapi harus dilihat berdasarkan konteksnya.

Salah ulama yang mengambil pendekatan tengah ini adalah Syekh Muhammad Abduh. Syekh Muhammad Abduh merupakan seorang tokoh pembaru Islam, pernah menyatakan bahwa Islam tidak menolak tradisi selama tradisi tersebut tidak bertentangan dengan prinsip dasar agama. Dalam konteks perayaan Tahun Baru, beliau berpendapat bahwa yang terpenting adalah niat dan cara pelaksanaannya. Jika perayaan ini digunakan untuk mempererat hubungan sosial atau introspeksi, maka hal tersebut dapat bernilai positif. Namun, jika perayaan ini mengarah pada kemaksiatan atau pemborosan, maka sebaiknya dihindari.

Fatwa Ulama Indonesia di Indonesia, Majelis Ulama Indonesia (MUI) tidak mengeluarkan fatwa resmi yang melarang atau membolehkan perayaan Tahun Baru. Namun, beberapa tokoh MUI menekankan pentingnya umat Islam menjaga akhlak dan menghindari hal-hal yang bertentangan dengan syariat selama perayaan tersebut. Umat Islam juga dianjurkan untuk memanfaatkan momen ini dengan kegiatan positif, seperti muhasabah, doa bersama, atau kajian keislaman.

Dari berbagai pandangan ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa perayaan Tahun Baru memiliki berbagai sudut pandang dalam Islam. Perbedaan pendapat ini mencerminkan kekayaan khazanah pemikiran Islam yang memberikan ruang bagi umat untuk memilih berdasarkan keyakinan dan situasi mereka masing-masing. Yang terpenting, umat Islam diharapkan untuk tetap menjadikan syariat sebagai pedoman utama dalam merayakan tradisi apa pun. Jika perayaan Tahun Baru dijadikan sebagai momen untuk introspeksi, memperbaiki diri, dan meningkatkan hubungan dengan Allah SWT, maka hal itu dapat bernilai positif. Sebaliknya, jika perayaan ini dilakukan dengan cara yang melanggar syariat, maka sebaiknya dihindari.

Sebagai umat Islam, kita juga diingatkan untuk tidak melupakan identitas keislaman dan tetap memprioritaskan perayaan-perayaan yang memiliki makna spiritual, seperti tahun baru Hijriyah. Dengan cara ini, perayaan Tahun Baru dapat menjadi momen yang bermakna tanpa mengabaikan nilai-nilai agama.

Pada akhirnya, pandangan ulama tentang perayaan Tahun Baru menunjukkan pentingnya bersikap bijak dalam menyikapi tradisi dan budaya. Islam adalah agama yang fleksibel, tetapi tetap memiliki prinsip-prinsip yang harus dijaga. Oleh karena itu, perayaan Tahun Baru tidak hanya menjadi sebuah seremoni, tetapi juga momen yang dapat dimaknai lebih mendalam sesuai dengan ajaran Islam. Mari kita jadikan momen pergantian tahun sebagai waktu untuk memperkuat iman, memperbaiki diri, dan memberikan manfaat bagi orang lain. ***

Program Makan Siang Gratis Sebaiknya Dibatalkan

0
oleh ; Bernard Simamora, S.Si., S.IP, S.H., M.H., M.M.
oleh ; Bernard Simamora, S.Si., S.IP, S.H., M.H., M.M.

Program makan siang gratis bagi siswa yang direncanakan diluncurkan pemerintahan Prabowo menjadi topik menarik karena bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan siswa dan menunjang kualitas pendidikan. Namun, di balik niat baik tersebut, program ini diprediksi akan menghadapi berbagai tantangan serius yang berasal dari keberagaman kondisi sekolah dan siswa di Indonesia.

Dengan lebih dari 17.000 pulau, ribuan sekolah dengan situasi yang berbeda, serta siswa yang berasal dari latar belakang sosial dan budaya yang beragam, implementasi program ini menghadirkan lebih banyak masalah daripada solusi. Oleh karena itu, ada alasan kuat untuk mempertimbangkan pembatalan program ini dan mengalihkan sumber daya ke inisiatif lain yang lebih relevan dan efektif.

  1. Ketimpangan Infrastruktur Sekolah

Salah satu kelemahan mendasar dari program makan siang gratis adalah ketimpangan infrastruktur sekolah di Indonesia. Banyak sekolah, terutama di daerah terpencil, tidak memiliki fasilitas dapur, air bersih, atau ruang makan yang layak untuk mendukung penyediaan makanan gratis. Sebaliknya, sekolah di daerah perkotaan cenderung lebih siap, meskipun jumlah siswa yang besar tetap menjadi tantangan. Ketimpangan ini menciptakan situasi di mana sebagian sekolah mampu menjalankan program dengan baik, sementara yang lain tidak dapat melakukannya sama sekali. Akibatnya, program ini cenderung tidak merata dan hanya menguntungkan sebagian kecil siswa.

  1. Ketidakcocokan dengan Kebutuhan Lokal

Kondisi sosial, ekonomi, dan budaya siswa sangat beragam di seluruh Indonesia. Di beberapa daerah, siswa dari keluarga miskin sangat membutuhkan bantuan makanan, tetapi di daerah lain, sebagian besar siswa berasal dari keluarga mampu yang tidak memerlukan subsidi makan siang. Keberagaman ini membuat alokasi sumber daya menjadi tidak efisien karena pemerintah harus menyediakan anggaran untuk seluruh sekolah tanpa mempertimbangkan kebutuhan spesifik masing-masing daerah. Program yang tidak relevan di daerah tertentu hanya akan menjadi pemborosan anggaran.

  1. Masalah Logistik dan Distribusi

Indonesia menghadapi tantangan geografis yang luar biasa, dengan banyaknya wilayah terpencil yang sulit dijangkau. Distribusi bahan makanan ke daerah-daerah ini membutuhkan biaya tinggi dan waktu yang lama, yang sering kali menyebabkan bahan makanan rusak atau tidak sampai tepat waktu. Masalah logistik ini menyebabkan program makan siang gratis di daerah terpencil menjadi tidak praktis dan bahkan kontra-produktif. Selain itu, biaya transportasi yang besar dapat mengurangi dana yang seharusnya digunakan untuk menyediakan makanan berkualitas.

  1. Standar Gizi yang Tidak Konsisten

Program makan siang gratis menghadapi kesulitan dalam memastikan standar gizi yang konsisten di seluruh Indonesia. Sekolah di daerah maju mungkin mampu menyediakan makanan bergizi, sementara sekolah di daerah terpencil hanya mampu menyediakan makanan seadanya karena keterbatasan sumber daya. Ketidakkonsistenan ini membuat program tersebut tidak memenuhi tujuan utamanya, yaitu meningkatkan gizi siswa. Lebih buruk lagi, kurangnya pengawasan terhadap kualitas makanan dapat menyebabkan risiko kesehatan bagi siswa, seperti penyebaran penyakit akibat makanan yang tidak higienis.

  1. Ketidakefisienan dalam Pengelolaan Anggaran

Pengelolaan anggaran untuk program makan siang gratis belum tentu efisien karena harus mencakup seluruh sekolah di Indonesia, tanpa mempertimbangkan kebutuhan spesifik masing-masing wilayah. Dana yang besar dialokasikan untuk program ini, tetapi hasilnya tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Sebagian besar anggaran habis untuk logistik dan pengadaan bahan makanan, sementara dampaknya terhadap kesejahteraan siswa sering kali tidak signifikan. Ketika anggaran terbatas, alokasi dana untuk program ini mengorbankan sektor pendidikan lain yang lebih mendesak, seperti pembangunan infrastruktur sekolah dan pelatihan guru.

  1. Tidak Sesuai dengan Kebiasaan Lokal

Keberagaman budaya di Indonesia menciptakan kebiasaan makan yang berbeda-beda di setiap daerah. Menu makan siang yang disediakan pemerintah sering kali tidak sesuai dengan selera atau kebiasaan makan siswa di daerah tertentu, sehingga makanan tersebut tidak dikonsumsi. Selain itu, di beberapa daerah dengan komunitas adat, pola makan masyarakat lebih bergantung pada bahan lokal yang tidak tersedia dalam program makan siang. Hal ini menyebabkan pemborosan besar, di mana makanan yang disediakan menjadi tidak bermanfaat.

Mengapa Program Ini Perlu Dibatalkan?

Dengan berbagai kelemahan yang ada, program makan siang gratis bagi siswa tampaknya lebih banyak menghadirkan tantangan daripada solusi. Ketimpangan infrastruktur, keberagaman kebutuhan, masalah logistik, dan ketidakefisienan anggaran menunjukkan bahwa program ini tidak dirancang untuk mengakomodasi kompleksitas situasi di Indonesia. Alih-alih memaksakan program yang sulit diimplementasikan, pemerintah dapat mengalihkan sumber daya ke program yang lebih relevan dan efektif, seperti peningkatan infrastruktur sekolah, pemberian beasiswa gizi kepada siswa yang benar-benar membutuhkan, atau pelatihan guru untuk mendukung pendidikan yang lebih berkualitas.

Alternatif yang Lebih Efektif

  1. Pemberian Dana Tunai untuk Gizi Siswa; Pemerintah dapat memberikan dana tunai langsung kepada keluarga miskin yang memiliki siswa, sehingga mereka dapat membeli makanan bergizi sesuai dengan kebutuhan lokal.
  2. Fokus pada Perbaikan Infrastruktur Sekolah; Dana yang dialokasikan untuk program makan siang dapat digunakan untuk membangun dapur, sanitasi, dan fasilitas makan di sekolah-sekolah terpencil, sehingga mereka dapat menyediakan makanan secara mandiri jika diperlukan.
  3. Program Edukasi Gizi; Mengedukasi siswa dan keluarga mereka tentang pentingnya gizi dan cara memanfaatkan bahan lokal untuk makanan sehat akan memberikan dampak jangka panjang yang lebih baik.
  4. Distribusi Pangan Berbasis Komunitas Lokal; Pemerintah dapat bekerja sama dengan komunitas lokal untuk memastikan bahwa bahan makanan tersedia dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

Program makan siang gratis pemerintah bagi siswa memiliki niat yang baik, tetapi kelemahan mendasarnya, terutama terkait keberagaman kondisi sekolah dan siswa di Indonesia, membuat program ini sulit untuk berhasil. Ketimbang terus mempertahankan program yang tidak efektif, pemerintah disarankan untuk membatalkan inisiatif ini dan mengalokasikan dana ke program-program yang lebih sesuai dengan kebutuhan spesifik masyarakat Indonesia. Dengan pendekatan yang lebih terfokus dan relevan, kesejahteraan siswa dan kualitas pendidikan dapat ditingkatkan secara lebih signifikan dan berkelanjutan. (*)

Hati-hati Bom Waktu! Sebagai Anak Bangsa Indonesia, Sebaiknya Kita Saling Mengevalusi Diri

0
Penulis : Kamas Wahyu Amboro (Akademisi, Aktivis, Pengamat)
Penulis : Kamas Wahyu Amboro (Akademisi, Aktivis, Pengamat)

Berita setiap hari begitu banyak permasalahan bangsa ini. Sepertinya kita belum lama mendengar ada Hakim yang disuap? Kemudian ditemukannya uang di salah satu oknum? Penangkapan korupsi dari mulai berkaitan dengan rel kereta hingga tambang, dan ada lho orang di Indonesia merugikan negara ratusan triliun vonis Hakim 6,5 tahun.

Kalo saya disuruh memberi saran? Saya cuman bilang ga papa, lanjutin saja mumpung masih berkuasa nimbun kekayaan sebanyak-banyaknya siapa tahu mau nyaleg atau nyalon presiden ente? Heuheuehu

Saran yang saya ungkapkan sepertinya cerminan sikap permisif anak bangsa. Tapi di zona yang lama didalamnya penuh dengan ketimpangan terasa adem ayem tapi perasaan ketidakadilan pelan-pelan terasa, kemudian masuk ke sanubari, kemudian perasaan itu menjadi perasaan kolektif. Kita menyadari bangsa ini memang bangsa yang masih muda untuk ukuran sebuah negara yang lahir 1945. Presiden saja baru 8 orang. Tapi itu bukan menjadi alasan pembenaran berbagai sistem yang buruk.

Rasa permisif itu secara natural terucapkan oleh masyarakat, dari mulai meminjam Bahasa Tegal, “Pan belih temen?” Atau orang sunda berkata “bae weh”. Rasa kecewa begitu berat tapi taka da hal yang bisa dilakukan secara signifikan, akhirnya ungkapan rasa permisif itu secara natural muncul.

Uangkapan optimis dilakukan oleh orang yang katanya pinter berkuasa “…Kita akan menjadi Negara dengan Ekonomi Terbesar” atau “..Kita akan menjadi Indonesia Emas 2045..”. orang seperti saya yang mendengar, mengatakan “Indonesia emas mbahmu”.

Mau berbicara kesejahteraan rakyat, mau bicara ekonomi rakyat, omong kosong! Pusat permasalahannya di Jakarta. Uang berhenti di sana, sirkulasi tidak lancar, sehingga ketimpangan tinggi. Gausahlah gimmic, toh kalian juga lagi ketar-ketir, gimana caranya menyelematkan diri sendiri dari operasi lawan politik. Bom waktu bagi kalian adalah ketangkep Jaksa atau KPK. Yang menjadi focus utama adalah naik ke jabatan lebih tinggi, atau mengamankan posisi sekarang hingga pemilu yang akan datang. Terkumpul 20-30 M, terus nyaleg lagi periode depan agar kepilih. (*)

www.youtube.com/@anas-aswaja

PWNU Jateng Adakan Rakorwil LAZISNU, LPBINU dan LWPNU

0
Rakorwil PWNU Jateng, Building and Raising Trust On People (Membangun dan Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat Terhadap NU)
Rakorwil PWNU Jateng, Building and Raising Trust On People (Membangun dan Meningkatkan Kepercayaan Masyarakat Terhadap NU)

SLEMAN (Aswajanews.id) – PWNU Jawa Tengah menyelenggarakan Rakorwil tiga Lembaga se-Jateng yang diikuti oleh Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah NU (LAZISNU), Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim NU (LPBINU), serta Lembaga Wakaf dan Pertanahan NU (LWPNU) yang bertempat di Asrama Haji Donohudan Sleman, Sabtu-Ahad (28-29 Desember 2024). Agenda Rakorwil yang diadakan selama dua hari tersebut diawali dengan Apel Siaga Relawan Penanggulangan Bencana dari tiga unsur lembaga peserta.

Pembina Apel, Prof. Dr. Hasyim Muhammad, MA dalam sambutannya sebagai amanat pembina menyampaikan bahwa Rakorwil tiga lembaga NU se-Jateng ini sangat penting guna persiapan musim penghujan yang rawan terjadi bencana alam.

“Profesi relawan ini tidak boleh disepelekan meski yang namanya relawan pastinya tanpa digaji dari pihak manapun. Maka kita sebagai relawan harus membulatkan tekad yang kuat. Di samping itu, barangkali secara ilmu, dzikir thoriqoh, atau perilaku suluk lainnya tidak mampu kita lakukan, maka ini bisa menjadi pilihan alternatif dalam berthoriqoh di bawah naungan NU menuju ridho Allah (suluk). Sebagaimana diungkapkan dalam kitab Hidayatul Adzkiya bahwa kita dianjurkan memilih thoriqoh yang sesuai dengan kondisi kita,” ujarnya memotivasi para peserta Rakorwil.

  1. Abdul Ghofur Rozin Sahal, atau yang akrab disapa Gus Rozin, dalam sambutannya sebagai ketua Tanfidziah PWNU Jateng saat membuka agenda Rakorwil menegaskan bahwa kegiatan ini harus bisa menghasilkan rumusan aplikatif demi upaya kinerja yang solutif bagi ketiga lembaga peserta. Oleh karenanya, hal ini bertujuan paling tidak agar:
  2. Memangkas distrust dan membangun serta meningkatkan kepercayaan di masyarakat.
  3. Membangun akuntabilitas dan transparansi yang kredibel.
  4. Pembenahan tata kelola.
  5. Membentuk sistem yg tepat.
  6. Harus didukung oleh ketua PCNU dan bergerak sinergi dengan Banom dan atau lembaga-lembaga NU lainnya.

Acara Rakorwil dilanjutkan rapat perlembaga di ruang pertemuan masing-masing hingga hampir dini hari. Para peserta yang siangnya telah menempuh perjalanan jauh ke lokasi kegiatan pun tetap antusias, meski terkantuk-kantuk didera lelahnya perjalanan, mengikuti kegiatan hingga akhir sesi malam itu.

PCNU Brebes mengirim delegasi tiga lembaga peserta Rakorwil yang diwakili oleh Syukron Ma’mun Aro (Ketua LAZISNU) Bachtiar Luthfi (Sek. LAZISNU), H. Abdul Haris (ketua LWPNU), Mahalli (LWPNU), Fauzan Amin (LPBINU), Frendy (LPBINU). Sampai reportase ini dirilis, acara belum usai dan masih berlanjut di agenda hari kedua, Ahad, 29 Desember 2024. (Aisy Hanif Firdaus)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Berkumpul Mencari Kawan bukan Menciptakan Lawan

0
oleh : Akhmad Sururi
oleh : Akhmad Sururi (Ketua DPC FKDT Kab Brebes)

Sore hari di kantor FKDT Kab Brebes kedatangan seorang kawan yang satu almamater dari Pondok Pesantren Lirboyo. Sama sama pernah menimba ilmu di Lirboyo, hanya beda angkatan, Saya lebih dulu tamat. Namanya Asep begitu kawan kawan memanggil dia dalam beberapa kesempatan, dengan nama lengkapnya Akhmad Saefulloh kelahiran asli Brebes dan saat ini tinggal di desa Banjaranyar Kec Brebes Kab Brebes. Kegiatan sehari sebagai Kepala Madin di desa Padasugih, salah satu desa di Kecamatan Brebes. Sementara aktivitas organisasinya sebagai sekretaris PC HIMASAL Kab Brebes dan menjadi pengurus lembaga MWC NU di Kecamatan Brebes.

Bertemu dengan seorang kawan sesama alumni biasanya tak kelas dari canda tawa, riang gembira dan nyaris tidak ada obrolan yang serius. Akan tetapi pertemuan saya dengan Asep sore ini di luar kebiasaan, karena tidak banyak canda dan tawa, lebih pada ngobrol yang serius dengan memiliki bobot makna yang mendalam.  Tentu makna tersebut memiliki benang merah dengan aktivitas sebagai guru Madin dan aktivis organisasi di lingkungan alumni dan NU. Kedalaman makna obrolan yang serius tidak bisa dilepaskan dari semangat bersama untuk memilih bagaimana bergerak lebih maju dengan asas kebersamaan dalam komunitas untuk menuju tujuan yang dicita-citakan.

Ada dua kata yang beda huruf di awal memiliki makna yang diametral. Yang pertama “Kawan” dan yang kedua “Lawan” sinonim dengan teman, sahabat dan musuh. Dua kata ini sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari meskipun kadang tidak terasa atau tidak terlihat oleh mata telanjang. Oleh karena itu sesungguhnya dalam seriap kumpulan baik di organisasi atau lainnya yang kita cari adalah kawan dan sahaba. Karena berkawan dan bersahabat akan lebih banyak mewujudkan nilai nilai kesamaan dan pemikiran yang positif untuk kemajuan bersama.

Bagi para politisi meskipun ada adagium “tidak ada kawan abadi yang ada lawan abadi”, sesungguhnya mereka berkawan. Kompetisi dalam pemilu bisa jadi itu merupakan drama sesaat untuk mewujudkan kekuasaan dalam instrumenn demokrasi (Pemilu). Akan tetapi pasca kompetisi banyak politiisi yang kembali berangkulan bersatu untuk membangun bangsa Indonesia tercinta. Mereka lebih mengedepankan kepentingan bangsa dari pada ego partai yang akan menjadi penghambat Indonesia maju.

Kata ‘aduww yang berasal dari akar kata “aduww” yang artinya musuh disebutkan sebanyak 106 kali dengan berbagai bentuk variasinya di dalam Al-Qur’an. Kata tersebut lebih banyak disandingkan dengan Iblis dan syetan sebagaimana termaktub dalam surat Yassin. Sementara kata “Sahabat” (صاحب) atau “Sohiba” (صاحبة) yang bermakna “teman” atau “sahabat” dalam Al-Qur’an muncul sebanyak 29 kali dalam berbagai bentuk dan konteks. Kata sahiba bersandingan dengan kebaikan dan golongan orang yang melakukan perbuatan baik. Para Sahabat Nabi, ada yang mendapatkan jaminan penghuni surga. Mereka yang beriman meskipun hanya melihat sekedap mata bersama dengan Nabi maka disebut dengan sahabat.

Melihat banyak kata “aduww” atau musuh dalam Qur’an yang tidak sebanding dengan sahiba, maka potensi permusuhan dalam kehidupan manusia ditegaskan dalam surat Al Baqarah saat manusia didaulat untuk menjadi Khalifah (Al Baqarah ayat 30). Malaikat melakukan protes kepada Sang Pencipta dengan argumentasi yang bersandarkan pada fakta historis penghuni bumi sebelum manusia. Namun demikian protes Malaikat dijawab oleh Alloh dengan tegas,” sesungguhnya Aku lebih tahu terhadap apa yang kamu ketahui.”

Permusuhan yang identik dengan perlawanan menjadi stigma buruk dalam area perkumpulan.Oleh karena itu perkumpulan dimanapun tempatnya, apapun namanya yang menjadi kekuatan ruh untuk bersatu adalah rasa “mushohabah”, kebersamaan dan persaudaraan yang kuat. Kebersamaan dalam mendukung kebaikan dan ide gagasan menuju kemajuan menjadi implementasi sikap dan perilaku seorang muslim dan mu’min yang baik. Muslim yang baik tentu tidak akan menghambat sahabat dan temannya saat melakukan kebaikan atau memiliki gagasan yang baik, namun akan mendukungnya dengan ikut terlibat didalam kebaikan tersebut, atau minimal memberikan support melalau kata dan doa. Inilah yang membedakan kawan dengan lawan (musuh).

Maka sesungguhnya permusuhan adalah prilaku setan dan iblis yang harus dijauhi. Awal dari permusuhan adalah sikap iri, dengki, hasud dan sombong  sebagaimana kesombongan Iblis saat diperintahkan sujud untuk menghormati Nabi Adam sebagai manusia.Kesombongan Iblis tersebut berakibat dirinya terusir dari surga dan selanjutnya mencari kawan  sebagai penghuni neraka. Alloh pun mempersilahkan Iblis untuk menggoda manusia sebagai start awal  menjadi kawan di neraka. Hanya orang yang mendapatkan Rahmat dari Alloh yang selama dari godaan Iblis.

Semoga kita semua terjaga dari godaan Iblis yang selalu berusaha memecahkan belah perkumpulan dengan memasukkan penyakit hati. Hanya dengan kekuatan dan kasih sayang Allah SWT kita bisa menjaga perkumpulan dengan persahabatan yang kuat dalam rangka mewujudkan amar makruf nahi mungkar.  Kita harus menyadari bahwa mewujudkan kebaikan dengan bersama akan lebih mudah dan ringan. Maka dari itu berkumpul dalam kebaikan mencari kawan bukan mencari lawan atau musuh. (*)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Bangunan Saluran Drainase Desa Tawangsari Diduga Lambat Dikerjakan

0

INDRAMAYU (Aswajanews.id) – Waktu berakhirnya masa kontrak pengerjaan proyek pembangunan saluran drainase di Desa Tawangsari Kecamatan Arahan Kabupaten Indramayu Jawa Barat. Pasalnya, proyek yang menggunakan anggaran dari Dana Desa (DD) mengalami keterlambatan atau mepet waktu.

Proyek Drainase yang terletak di RT 05 RW 01 Blok Wataban baru dilaksanakan, Kamis (26/12) kemarin, dan hingga hari ini belum rampung baru sekitar 30 persen. TPK (Tim Pelaksana Kegiatan) yang menjadi pelaksana siap-siap kena penalti alias denda keterlambatan pekerjaan (Adendum). besarannya satu per mil per hari dari nilai kontrak.

Hingga batas waktu 4 hari lagi jatuh tempo, progres pekerjaan proyek bernilai Rp 60.653.200 itu minus tujuh puluh persen.

“Kenapa baru dikerjakan sekarang, uangnya dikemanain dulu? Kami lihat kekurangan item pekerjaanya masih banyak. Ini salah satu perencanaan gagal, dan layak secara menyeluruh untuk diaudit pencairan DD tahun 2024. Sebaiknya TPK sebagai pelaksana dan Kuwu Desa Tawangsari sebagai penanggung jawab agar menjelaskan secara terbuka ke publik atau masyarakat atas lambatnya pekerjaan tersebut,” ungkap tokoh masyarakat setempat yang minta identitasnya dirahasiakan.

Penjelasan Kepala Desa Terkait Hilangnya Ambulan air. Ini kata Agus Sahroni!!!

Bupati Sukabumi Lepas Pendistribusian Bantuan ke-25 Kecamatan Terdampak Bencana

Menurutnya, dirinya meyakini bahwa pekerjaan saluran drainase tidak mungkin keburu karena mepetnya waktu yang tinggal empat hari kerja.

“Saya yakin sudah ga keburu, lagian besok sudah libur ga bisa di monev, apalagi SPJ pasti di tahun 2025. Temuan ini perlu ditindaklanjuti, (Red),” ungkap sumber tersebut.

Sumber itu juga menyebutkan, atas fakta diatas Camat Arahan berwenang melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pengelolaan keuangan desa, pendayagunaan aset desa, dan tertib administrasi desa. Selain itu, Camat berwenang memberikan fasilitasi untuk berbagai hal, seperti penyusunan perdes termasuk pengelolaan keuangan desa.

Selaku Pembina Desa, Camat Arahan H. Yus Rusmadi, SE., M.Ak mengakui menerima laporan bahwa ada kegiatan pembangunan saluran drainase yang menggunakan dari anggaran Dana Desa (DD) di Desa Tawangsari Kecamatan Arahan Kabupaten Indramayu. Sesuai regulasi, maksimal sampai akhir bulan ini tanggal 31 Desember 2024 pekerjaan harus selesai.

“Jika tidak selesai sampai batas waktu kita stop, batasnya tinggal 4 hari lagi. Kita sudah dapat laporan, pekerjaan mau dilembur siang dan malam dikerjakan agar bisa selesai tepat waktu. Saya optimis kerjaan bisa selesai,” kata H. Yus.

Menurutnya, ada konsekwensi jika pekerjaan tidak selesai sampai batas waktu tanggal 31 Desember 2024, yakni pekerjaan dibayar sesuai hasil fisik yang dibangun di lapangan. Dan tentunya sisa uangnya dikembalikan ke kas negara.

Hingga berita ini ditayangkan, Kuwu Desa Tawang Sari, Castana belum bisa berikan penjelasan. Saat dihubungi Wartawan lewat Phoncall nya. (Sn)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Polemik Tanah Bengkok Yang Kehambat Irdes Desa Candangpinggan Sudah Direalisasi

0
Para kepala desa bersama pemerintah kecamatan meninjau tanah sawah bengkok yang berlokasi di desa Cadangpinggan, Kecamatan Sukagumiwang
Para kepala desa bersama pemerintah kecamatan meninjau tanah sawah bengkok yang berlokasi di desa Cadangpinggan, Kecamatan Sukagumiwang

INDRAMAYU (Aswajanews.id) – Peristiwa Polemik yang menimpa Tanah bengkok Desa Jengkok yang terhambat oleh pembangunan Irigasi Desa (Irdes) Desa Cadangpinggan Kecamatan Sukagumiwang Kabupaten Indramayu kini keinginan masyarakat atau pihak BPD Desa Jengkok dikembalikan seperti semula, bahkan sudah direalisasikan oleh pihak-pihak terkait, Rabu (26/12).

Hal itu ditururkan oleh Rawidi Kuwu Desa Jengkok, yang sebelumnya tanah bengkok di desanya akan digunakan untuk membangun saluran irdes oleh kepala desa Cadangpinggan tanpa kordinasi atau musyawarah terlebih dahulu dengan kepala desa Jengkok hingga menimbulkan Polemik di tiga Desa, diantaranya Desa Jengkok, Gedangan dan Desa Tersana.

“Sudah disepakati,” tulis Rawidi, saat dikonfirmasi wartawan melalui ponselnya.

Terlihat bersama para kepala desa bersama pemerintah kecamatan melakukan peninjauan langsung tanah sawah bengkok yang berlokasi di desa Cadangpinggan, Kecamatan Sukagumiwang, dan dihadiri dari pihak dua Kecamatan Sukagumiwang dan Kertasamaya dan BPD juga dari pihak FPKB, Kiky anggota DPRD kabupaten Indramayu.

Jajang Sudrajat, Kepala Dinas DPMD Kabupaten Indramayu, saat dirinya dikonfirmasi pihaknya menyampaikan bahwa persoalan yang ada di desa Jengkok sudah ditinjau langsung oleh pihak kecamatan Sukagumiwang dihadiri piahak BPD juga dari FPKB Kiky anggota DPRD kabupaten Indramayu, Minggu (29/12/2024).

“Yg ini sudah di TL pak Camat,” tulisnya, melalui pesan singkat telepon selulernya. (Sn)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Winaryo Camat Cantigi Bungkam, Terkait Informasi Anak Kuwu Desa Panyingkiran Lor Disinyalir KKN

0

INDRAMAYU (Aswajanews.id) – Winaryo, Camat Cantigi dirinya terkesan memilih bungkam dengan adanya informasi yang mencuat di publik terkait anak Kuwu Desa Panyingkiran Lor Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu. Kuwu Tunaini melibatkan anak kandungnya, yakni Ty (Inisail) dijadikan Sekretaris Desa (Sekdes) yang terindikasi adanya praktik KKN, Kamis (26/12).

Lebih lanjut, Jajang Sudrajat, Kepala DPMD (Dinas Pemberdayaan dan Masyarakat Desa) Kabupaten Indramayu, saat dikonfirmasi ia mengatakan bahwa, pihaknya akan mengkonfirmasikan kepada Pihak Kecamatan sebagai pembina dan mengawasi langsung terhadap Pemerintahan di Desa (Pemdes).

“Kami konpirmasi k pak Cmt Krn yg membina dan mengawasi langsung pemdes, unk di tindak lanjuti, mksh mas,” tulisnya, melalui Phon Call nya, kepada Wartawan, Minggu (29/12/2024).

Diketahui sebelumya diberitakan Media PelitaIndo.News yang berjudul “Anak Kuwu Desa Panyingkiran Lor Disinyalir Jadikan Sarat KKN” Alat praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)”.

Mencuatnya informasi di Desa Panyingkiran Lor, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Tuduhan ini menyeret nama Kepala Desa (Kuwu) Tunaeni, yang diduga mengangkat anak kandungnya, TY (Inisial), sebagai Sekretaris Desa (Sekdes).

Menurut informasi yang dihimpun Tim Pelitaindo.News, TY mulai menjabat sebagai Sekdes sejak April 2024, menggantikan Tasim yang mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Namun, pengangkatan TY menuai kontroversi karena disinyalir melanggar regulasi, yaitu Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 30 Tahun 2020, yang secara tegas melarang kepala Desa mengangkat anggota keluarga, termasuk anak atau pasangan, sebagai perangkat Desa karena berpotensi menciptakan praktik KKN.

Sumber terpercaya mengungkapkan bahwa, TY menerima gaji bulanan sebesar Rp 2 juta dari pemerintah pusat, meskipun posisinya sebagai Sekdes tidak melalui proses seleksi yang diatur oleh undang-undang.

“Sejak sembilan bulan terakhir, TY menerima gaji seperti pamong desa lainnya. Padahal, pengangkatannya tidak melalui mekanisme perekrutan yang sah,” ujar seorang tokoh masyarakat yang meminta namanya dirahasiakan.

Lebih lanjut, sumber tersebut menambahkan bahwa TY jarang hadir di kantor desa dan tidak menjalankan tugasnya secara optimal. Beberapa pekerjaan administratif, seperti pembuatan Akta Jual Beli (AJB), bahkan dialihkan ke pihak notaris, padahal pekerjaan tersebut seharusnya bisa diselesaikan di tingkat desa dengan melibatkan camat sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

Selain nepotisme, Kuwu Tunaeni juga disinyalir memanipulasi data terkait penggunaan Alokasi Dana Desa (ADD) untuk menggaji TY selama sembilan bulan terakhir. “Yang lebih parah, ada indikasi manipulasi data penggunaan ADD. TY tidak hanya diangkat sebagai Sekdes tanpa dasar hukum yang jelas, tapi juga mendapat gaji dari anggaran desa,” tambah sumber tersebut.

Saat dimintai konfirmasi, Jumat (13/12), Kuwu Tunaeni mengakui bahwa Sekdes yang baru, TY, adalah anak kandungnya. Ia beralasan bahwa pengangkatan tersebut dilakukan untuk mengisi kekosongan jabatan setelah Sekdes sebelumnya mengundurkan diri. “Memang benar, Sekdes yang baru adalah anak saya, TY menggantikan Pak Tasim. Jabatan ini bersifat sementara karena roda pemerintahan desa harus tetap berjalan,tapi anak saya sudah menikah terpisah dari kartu keluarga (KK),” ujar Tunaeni.

Namun, pernyataan tersebut menuai kritik karena bertentangan dengan regulasi yang berlaku. Gaji pamong desa, termasuk Sekdes, diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2019. Dalam pasal 81 PP tersebut, gaji tetap Sekdes dianggarkan melalui Alokasi Dana Desa (ADD) dengan jumlah minimal Rp 2,2 juta per bulan, setara dengan 110% gaji pokok Pegawai Negeri Sipil (PNS) golongan II/a.

Kasus ini telah memicu keprihatinan masyarakat setempat, yang mendesak pihak berwenang untuk melakukan investigasi menyeluruh terhadap dugaan pelanggaran yang dilakukan Kuwu Tunaeni. Jika terbukti bersalah, sanksi tegas diharapkan dapat diterapkan untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas pemerintahan desa.

Kasus ini sekaligus menjadi peringatan akan pentingnya penegakan aturan dalam tata kelola pemerintahan desa, guna mencegah praktik-praktik yang merugikan masyarakat. (Sn)

www.youtube.com/@anas-aswaja

Pj Gubernur Jabar Minta Masyarakat tidak Ragu Laporkan Jika Ada Pungli

0
Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin memberikan keterangan di Gedung DPRD Jabar, Bandung, Jumat (27/12/2024). ANTARA
Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin memberikan keterangan di Gedung DPRD Jabar, Bandung, Jumat (27/12/2024). ANTARA

BANDUNG (Aswajanews.id) – Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Barat Bey Triadi Machmudin meminta masyarakat tidak ragu untuk melaporkan jika ada praktik pungutan liar (pungli), termasuk dalam periode libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 ini.

Pungli, kata Bey, adalah pekerjaan rumah bersama-sama, sehingga Pemprov Jabar yang telah menurunkan Satpol PP dengan berkoordinasi bersama kepolisian, meminta kerja sama masyarakat untuk turut mengawasi.

“Mohon kerja sama dan pengertiannya, karena pada akhirnya kita harus sama-sama. Masyarakat jangan ragu melaporkan kalau dikenakan pungli,” kata Bey di Gedung DPRD Jabar, Bandung, Jumat (27/12/2024).

Bey juga mengimbau agar masyarakat tidak asal percaya atas ajakan untuk menggunakan jalan alternatif jika terjebak kemacetan, terkecuali pada aparat berwenang di lapangan, agar tidak ada kasus seperti pemerasan yang terjadi di kawasan Megamendung, Kabupaten Bogor beberapa waktu lalu.

“Jika sudah tak tahan dengan kemacetan mohon bertanya pada polisi atau aparat berwenang. Jangan asal percaya dengan arahan belok kiri, kanan, karena melihat jalan sepi, harus dipikirkan yang kita bawa keluarga, apalagi ada anak-anak,” ujarnya.

Bey juga memohon maaf pada masyarakat atas kejadian tak mengenakan soal pungutan liar, getok parkir (Bandung) dan pemerasan penunjuk jalan yang ramai belakangan ini. Bey mengaku telah meminta Satpol PP untuk lebih aktif dan aparat daerah turun ke lapangan.

“Kami mohon maaf terjadinya hal itu, dan saya telah minta Satpol PP lebih aktif lagi turun ke lapangan, masyarakat kan kadang-kadang juga tidak paham mesti bertanya ke siapa karena melihat jalan sepi, dan berprasangka baik ke semua orang dan itu harusnya kami lebih aktif lagi untuk mencegah hal seperti itu,” ucapnya.

Petugas sendiri yang diturunkan untuk melakukan pengawasan, kata Bey, akan disebar di berbagai titik utama pariwisata di Jawa Barat yakni Pangandaran, Ciwidey, Pangalengan, dan Lembang.

“Itu yang jadi fokus perhatian. Tapi juga saya minta tempat -tempat lain, yang tergolong sama. Dengan aparat desa juga kerja sama seperti itu, jangan ada pungli-pungli itu,” ucapnya menambahkan. (*)

Prabowo Kumpulkan Para Ketua Umum Partai-Partai Pendukung di Kertanegara

0

JAKARTA (Aswajanews.id) – Presiden RI Prabowo Subianto yang juga Ketua Umum DPP Partai Gerindra mengumpulkan para ketua umum partai-partai pendukung pemerintah di kediaman pribadi Prabowo, Jalan Kertanegara No. 4, Jakarta, Sabtu (28/12/2024).

Jajaran ketua umum partai yang datang, secara berurutan, yaitu Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia, Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan, Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar dan Presiden PKS Ahmad Syaikhu.

Di Kertanegara, ada juga Ketua Fraksi DPP Partai NasDem DPR RI Viktor Laiskodat, Ketua Harian DPP Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, dan Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani.

Ketua-ketua umum partai yang datang ke Kertanegara secara bergantian itu disambut oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Mayor Inf. Teddy Indra Wijaya.

Pertemuan itu berlangsung tertutup sekira pukul 16.46 WIB selama kurang lebih 2 jam. Namun, jajaran ketua umum partai pendukung itu enggan buka suara terkait dengan isi pertemuan, bahkan langsung meninggalkan kediaman Prabowo selepas acara. Namun, hanya Bahlil saja yang berbicara kepada awak media dari dalam mobil.

“Ada Natalan ya, ya bahas biasa, biasa. Mohon maaf, bapak (presiden) sudah mau naik,” ujar Bahlil yang kemudian meninggalkan lokasi ikut iringan presiden.

Berselang kurang lebih 2 jam kemudian setelah selesai pertemuan para tamu meninggalkan kediaman Prabowo.

Presiden Prabowo juga meninggalkan kediaman pribadinya menuju Indonesia Arena di kompleks Gelora Bung Karno untuk menghadiri Perayaan Natal Nasional 2024, Sabtu malam. (*)

Negeri Bernama Indonesia: Koruptor Makin Bahagia, Masyarakat Miskin ‘Terpaksa’ Bahagia

0
Penulis : Kamas Wahyu Amboro (Akademisi, Aktivis, Pengamat)
Penulis : Kamas Wahyu Amboro (Akademisi, Aktivis, Pengamat)

Indonesia sebagai negara yang katanya Makmur ternyata memiliki keunikan-keunikan tersendiri. Keunikan itu terkadang menjadi lelucon di kalangan intelektual. Memang banyak hal yang kita sebut “Paradoks” mungkin kata ini pernah juga ditulis oleh Presiden Kita bapak Prabowo Subianto. Gagasan yang dibawa beliau adalah Indonesia yang memiliki sumberdaya melimpah tapi rakyatnya tidak Sejahtera. Sebuah gagasan yang masuk akal.

Masyarakat Indonesia ini memang masyarakat yang paling kuat. Gimana tidak kuat? Hidup disebuah negeri yang dituntut untuk sekolah, setelah lulus sekolah, susah untuk kuliah, paska kuliah susah dapat kerja, kalopun dapat kerja, gajinya kecil, gajinya kecil jadi banyak hutang, jadi kurang sejahtera akhirnya timbul berbagai masalah lainnya.

Seakan untuk menjadi sukses di Indonesia ini sangat sulit sekali atau sekedar hidup layak, sepertinya Masyarakat Indonesia sudah bosen dengan istilah kerja keras, nanti sukses, jadi anak pinter nanti sukses. Ketika Masyarakat Indonesia tidak begitu mendengarkan memang faktanya feodalisme masih tinggi.

Kalo kita terlahir dari keluarga yang memang tidak memiliki network yang bagus, akan sulit bagi kita untuk sukses. Bekerja dimanapun sepertinya perlu ‘orang dalem’.

UMR kecil, pengusahanya makin kaya karena cukup kecil beban untuk menggaji karyawan. Karena Masyarakat kurang Sejahtera akhirnya ‘money politic’ menjadi laris. Orang mau memilih karena uang, karena memang masyarakatnya butuh uang walau tak seberapa tetapi akan menjadi berharga. Untuk bisa sukses di Indonesinya sepertinya memang kita butuh terlahirnya dari keluarga yang berada, kedua punya relasi atau kita sering menyebutnya ‘orang dalem’, atau memang kita menjadi orang pinter dan takdir mengantarkan kita menuju kehidupan yang layak.

Tidak hanya dunia industri, dalam bidang pertanian rasanya petani hanya bolak-balik memutar uangnya saja. Dari musim tanam ke musim panen rasanya uang segitu-gitu aja. Bahkan beberapa orang cenderung rugi, mungkin karena memang pekerjaannya tani, dari pada sawah nganggur juga akhirnya ditanam lagi, lagi dan lagi meskipun hasilnya tak sesuai.

Siapa sebenarnya pemain dalam kanca nasional ini? Partai politik butuh uang untuk pembiyaan politik, setiap politisi secara individu juga butuh untuk memenangkan dirinya. Sumber uang itu adalah dilingkaran sebuah Perusahaan atau APBN. Jalannya agar mendapatkan uang adalah bekerja sama dengan pengusaha atau memang menemukan jalannya sendiri untuk mendapatkan uang. Uang ini digunakan untuk memenangkan politisi agar bisa Kembali menjadi pengelola uang APBN.

Ada lelucon yang bagus, cara terbaik untuk kaya cepat adalah dengan korupsi. Dengan waktu 6,5 tahun (penjara), dengan timbal balik triliunan sepertinya bisnis paling menguntungkan. 6,5 tahun adalah harga yang dibayar untuk koruptor yang merugikan negara ratusan triliun. Indahnya negeriku Indonesia, koruptor makin bahagia, masyarakat miskin juga ‘terpaksa’ bahagia karena terbiasa hidup susah. ***

www.youtube.com/@anas-aswaja

Jumat Berkah dalam Bedah Buku bersama Pak Dhe Atmo Tan Sidik

0
oleh : Akhmad Sururi (Alumni Lirboyo angkatan tahun 2000)

Jumat, 27 Desember 2024 menjadi hari yang berkah untuk Penulis pribadi. Pagi Jumat mendapatkan kiriman tulisan opini dari seorang Maestro Budayawan kelahiran Brebes yang saat sekarang tinggal di Kota Tegal. Beliau yang penulis dan teman saya (H Tohir) sering menyebut dengan panggilan Pak Dhe Atmo Tam Sidik. Seorang budayawan yang kaya wawasan Kosmopolit sekaligus pegiat leterasi yang telah mendapatkan penghargaan tingkat nasional.

Satu keberkahan bagi penulis lewat kiriman WA dari Pak Dhe Atmo, mengundang acara bedah buku yang berjudul “Belajar Kepada Murid” karya Dr Maufur, M.Pd Rektor Universitas Bhamada Tegal. Acara yang sangat menarik bagi penulis,karena sebelumnya Pak Dhe Atmo menulis di kolom radar dengan judul “Tasawuf Pedagogik Dr Maufur”. Dalam tulisan tersebut mengutip beberapa ayat Qur’an sebagai sebagai dasar pijakan eksplorasi kecerdasan dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh manusia.

Bedah buku yang berlangsung selepas sholat Jumat sampai jam 4 sore menghadirkan beberapa akademisi dan pejabat di lingkungan kota Tegal serta beberapa budayawan. Beberapa wartawan media cetak dan media elektronik juga hadir ditengah tengah acara tersebut meliput kegiatan diawali dengan deklamasi puisi karya Dr Maufur. Puisi Tegalan berdimensi religius. Cerita seorang Pak Tani sebelum ke sawah pagi hari melaksanakan sholat duha, dan seterusnya.

Sebagai pembuka dalam bedah buku tersebut, Pak Dhe Atmo menyatakan bahwa buku BKM (Belajar Kepada Murid) sebelum dibedah hari ini, secara thawaf sowankan ke beberapa Kyai di Brebes, termasuk KH Subhan Ma’mun (Ulama yang menjadi rujukan masyarakat Brebes).

Sepintas melihat judul di sampul, Kyai Subhan berkomentar bahwa tentang ini pernah dilakukan oleh Syekhuna Kholil Bangkalan sebagai gurunya KH Hasyim Asy’ari.  Sebagai gurunya saat Mbah Hasyim Asy’ari mondok di Madura, Syekh Kholil pernah belajar (ngaji) hadist kepada Mbah Hasyim Asy’ari.

Beberapa kolom dalam buku tersebut dibedah oleh Pak Dhe Atmo awal pembuka menyinggung ralat tulisan terkait dengan huruf. Pak Dhe menyampaikan betapa pentingnya sebuah huruf, sampai ada ayat Qur’an yang dimulai huruf “Qof”. Maka sebenarnya perubahan huruf sangat berpengaruh besar terhadap makna. Perubahan dari Kepala Desa menjadi Kepala Dosa itu sesungguhnya makna berubah hanya karena dari “e” menjadi “o”.

Ketika Pak Dhe Atmo mengungkapkan huruf “Qof ” dalam Qur’an, Penulis teringat buku Rahasia dibalik huruf Qur’an. Bahwa sesungguhnya kumpulan huruf yang menjadi satu kalimat dari bagian ayat Qur’an,satuan hurufnya memiliki makna. Contohnya “Al hamdu” dalam surat Al Fatihah, kalimat yang tersusun dari Alif, Lam dan seterusnya, huruf tersebut memiliki makna. Jumlah total huruf dalam Qur’an sebanyak 1.027.000 huruf, masing-masing memiliki makna.

Lepas tentang huruf, dalam forum bedah buku di hari Jumat yang berkah, Penulis ikut berpartisipasi dengan mengapresiasi buku karya Dr Maufur sekaligus menyampaikan pertanyaan, terkait dengan pendidikan karakter. Salah satu judul dalam buku tersebut dengan tema pendidikan karakter, tapi saat sekarang pendidikan keagamaan dalam nomenklatur pemerintah kurang mendapatkan perhatian. Padahal agama mengajarkan moral atau akhlak sebagaimana ditegaskan oleh hadis Nabi Muhammad SAW.

Apa yang disampaikan oleh Penulis, langsung ditanggapi oleh anggota komisi VIII DPR RI, Abdul Fikri Fakih. Beliau sangat merespon terkait dengan pendidikan keagamaan karena kebetulan menjadi wilayah Bellau di Komisi VIII. Selepas acara Penulis mengirim draft buku tentang MDT dan Beliau dengan senang hati dan memberikan dukungan untuk terus berkarya dalam bentuk leterasi. ***

www.youtube.com/@anas-aswaja

Google search engine
0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan

Recent Posts