Beranda Aktual TUKANG NGUPING

TUKANG NGUPING

63
0

Ketika masih kecil, saya sering diingatkan orang tua agar jangan suka menguping pembicaraan orang lain. Kalau ada tetangga sedang berbincang, jangan diam-diam mendekat untuk mendengarkan. Apalagi jika yang dibicarakan adalah kekurangan atau aib seseorang. “Ulah sok nguping, bisi jadi kabiasaan goreng,” begitu kira-kira nasihat orang tua kita.

Di kampung-kampung masyarakat Sunda, orang yang gemar mengintip atau mendengarkan pembicaraan orang lain secara diam-diam punya sebutan sendiri. Ada yang menyebutnya tukang nguping, tukang nyadap, jalma ceuli panjang, atau jalma sok ngadenge-denge. Sebutan itu mungkin terdengar sederhana, bahkan kadang menjadi bahan candaan. Tetapi di baliknya, orang tua sedang mengajarkan sesuatu yang sangat penting: menghormati privasi dan menjaga kehormatan sesama manusia.

Orang tua kita memahami bahwa tidak semua pembicaraan harus didengar, tidak semua rahasia harus diketahui, dan tidak semua urusan orang lain perlu dicampuri. Ada satu nasihat yang hingga hari ini masih relevan: tidak semua yang bisa kita ketahui harus kita ketahui.

Dalam bahasa agama, perilaku mencari-cari kesalahan dan aib orang lain disebut tajassus. Allah SWT mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 12: wala tajassasu “Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”

Dulu, nasihat itu cukup disampaikan di beranda rumah atau ketika anak-anak bermain di halaman. Tidak perlu menjadi tema seminar atau menggunakan teori yang rumit. Cukup satu kalimat dari orang tua, lalu kita belajar menjaga telinga, lisan, dan hati.

Hari ini, ketika teknologi memungkinkan manusia mendengar, merekam, dan mengetahui hampir segala sesuatu tentang orang lain, saya justru teringat kembali nasihat sederhana itu. Betapa jauhnya kemampuan manusia berkembang, tetapi betapa pentingnya akhlak tetap dijaga.

Nasihat orang tua bertemu dengan persoalan zaman

Publik belakangan ini dikejutkan oleh perkara dugaan penyadapan ilegal yang melibatkan sejumlah anggota ยซoknumยป kepolisian. Peristiwa ini tentu harus disikapi secara objektif. Proses hukum harus berjalan dan kita tidak boleh mendahului pembuktian.

Penyadapan tidak selalu merupakan tindakan yang salah. Dalam kondisi tertentu, tindakan tersebut dapat dibenarkan oleh hukum untuk kepentingan penegakan hukum dengan prosedur dan kewenangan yang sah. Persoalannya muncul ketika kewenangan digunakan melampaui batas dan melanggar hak orang lain.

Saya tidak ingin melihat peristiwa ini semata-mata sebagai persoalan kepolisian. Sebagai dosen Manajemen Akhlak di UIN Bandung, saya ingin mengajak kita mengambil pelajaran yang lebih mendasar: bagaimana manusia mengelola dirinya ketika memiliki kemampuan, kesempatan, jabatan, dan kewenangan.

Bukankah semakin besar kewenangan seseorang, semakin besar pula tanggung jawab akhlaknya?

Gelar boleh tinggi, tetapi akhlak jangan rendah

Satu hal yang sering membuat saya merenung. Mengapa kita begitu mudah mengagumi seseorang karena jabatan tinggi, gelar akademik berderet, kekayaan melimpah, atau kekuasaan yang dimilikinya? Kita menganggap mereka sebagai orang hebat. Padahal, semua itu belum tentu menggambarkan kualitas akhlaknya.

Seseorang boleh memiliki gelar profesor atau doktor, menduduki jabatan penting, dan mempunyai kekayaan berlimpah. Tetapi semua itu tidak otomatis menjadikannya manusia yang berakhlak baik.

Ilmu yang tinggi tidak selalu membuat seseorang rendah hati. Kekuasaan yang besar tidak selalu membuat seseorang amanah. Kekayaan yang melimpah tidak selalu membuat seseorang dermawan.

Jabatan adalah amanah, bukan ukuran kemuliaan. Gelar adalah pengakuan akademik, bukan jaminan keluhuran budi. Kekayaan adalah kepemilikan materi, bukan ukuran kebersihan jiwa.

Di sinilah saya teringat ungkapan yang sangat dikenal dalam tradisi pendidikan ulama: Al-adab qabla al-‘ilm, adab sebelum ilmu. Ungkapan ini bukan hadis yang secara langsung disabdakan Rasulullah SAW, tetapi mencerminkan tradisi pendidikan Islam yang menempatkan pembentukan adab sebagai fondasi pencarian ilmu.

Rasulullah SAW sendiri merupakan teladan utama dalam akhlak. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qalam ayat 4:wainnaka laโ€™ala khuqil adhim “Dan sesungguhnya engkaubenar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Kita membutuhkan ilmu, tetapi ilmu harus dibimbing oleh akhlak. Apa gunanya seseorang memahami kejujuran jikamasih gemar berbohong? Apa gunanya memiliki ilmukepemimpinan jika tidak mampu menghormati orang lain? Apa gunanya memiliki kewenangan besar jika tidak mampu mengendalikan diri? ย Jangan sampai gelar kita semakin tinggi, tetapi adab kita semakin rendah.

Mengelola jiwa, bukan sekadar mengatur perilaku

Ungkapan saya dihadapan mahasiswa ketika mengajar Manajemen Akhlak, sering mengatakan bahwa akhlak bukan sekadar pengetahuan tentang baik dan buruk. Akhlak merupakan karakter yang tertanam dalam jiwa dan tercermin dalam perilaku sehari-hari. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa akhlak merupakan keadaan yang tertanam dalam jiwa, yang darinya perbuatan muncul dengan mudah.

Memperbaiki perilaku tidak cukup hanya dengan membuat aturan tetapi harus membangun kesadaran dari dalam diri manusia. Islam mengajarkan konsep tazkiyatun nafs, yaitu proses menyucikan jiwa dari sifat tercela dan menumbuhkan sifat terpuji. Proses ini dapat dilakukan melalui beberapa pembiasaan penting.

Pertama, muraqabah, kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi setiap tindakan kita. Kedua, muhasabah, keberanian mengevaluasi dan mengoreksi diri sebelum sibuk mencari kesalahan orang lain. Ketiga, mujahadah, kesungguhan melawan dorongan negatif dalam diri. Dan keempat, riyadhah al-nafs, latihan membiasakan jiwa untuk melakukan kebaikan.

Semuanya bermula dari hati

Rasulullah SAW mengingatkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa ยซdi dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Itulah hatiยป.

Hati yang terdidik akan membimbing seseorang untuk jujur, amanah, rendah hati, dan menghormati hak orang lain. Kita terlalu sibuk membangun sistem untuk mengawasi manusia, tetapi sering lupa membangun hati agar manusia mampu mengawasi dirinya sendiri.

Dari akhlak lahirlah adab

Adab bukan sekadar persoalan sopan santun, cara berbicara, atau menghormati orang yang lebih tua. Adab adalah kemampuan menempatkan sesuatu pada tempatnya, memahami batas kewenangan, menghormati hak orang lain, dan menjalankan tanggung jawab secara benar.

Dalam konteks dugaan penyadapan ilegal, kita mendapatkan pelajaran bahwa kemampuan mengakses informasi tidak serta-merta memberikan hak untuk mengakses seluruh kehidupan pribadi seseorang.

Orang yang beradab tidak hanya bertanya, “Apakah saya bisa melakukan ini?” Ia juga bertanya, “Apakah saya berhak melakukannya? Apakah ini benar? Apakah tindakan ini merugikan orang lain?”

Di sinilah akhlak menemukan wujud nyatanya. Seseorang yang memiliki hati terdidik akan lebih berhati-hati menggunakan ilmu, jabatan, dan kewenangannya. Ia memahami bahwa ada hak orang lain yang harus dihormati dan ada batas yang tidak boleh dilampaui.

Jangan salah mendidik manusia

Ada kegelisahan yang perlu kita sampaikan dalam dunia pendidikan. Jangan sampai kita terlalu sibuk mencetak manusia yang pintar, tetapi lupa membentuk manusia yang baik.

Keluarga mengajarkan kejujuran sejak anak masih kecil. Pesantren membiasakan santri menghormati guru dan sesama. Sekolah membentuk tanggung jawab. Perguruan tinggi mengembangkan ilmu sekaligus integritas. Semua lingkungan itu seharusnya menjadi ruang pembentukan akhlak.

Sebagai pendidik, saya merasa bahwa pekerjaan besar pendidikan bukan hanya melahirkan sarjana yang cerdas dan kompeten. Kita juga harus membentuk manusia yang memiliki kesadaran moral, kematangan jiwa, dan keluhuran adab.

Kita tidak ingin anak-anak kita kelak menjadi orang berpendidikan tinggi tetapi gemar merendahkan orang lain. Kita tidak ingin mereka menjadi pejabat yang memiliki kekuasaan tetapi kehilangan tanggung jawab.

Pendidikan yang sesungguhnya bukan hanya mengantarkan seseorang mencapai kedudukan tinggi, melainkan juga memastikan bahwa ketika sampai di kedudukan itu, ia tetap menjadi manusia yang tahu diri, tahu batas, dan tahu tanggung jawab.

Jangan Takut Kehilangan Jabatan

Dalam kehidupan, kita sering kali lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan kehormatan. Kita lebih khawatir gelar akademik tidak dihargai daripada khawatir ilmu yang kita miliki tidak membawa manfaat. Kita lebih takut kehilangan kekayaan daripada kehilangan kejujuran.

Padahal, jabatan dapat berakhir, kekayaan dapat habis, dan gelar akademik suatu saat hanya menjadi bagian dari riwayat hidup. Tetapi akhlak akan terus melekat dalam ingatan orang-orang yang pernah berinteraksi dengan kita.

Orang mungkin lupa berapa tinggi jabatan kita dan berapa banyak gelar yang kita sandang. Tetapi mereka akan mengingat bagaimana kita memperlakukan mereka. Apakah kita menghormati orang kecil? Apakah kita menjaga kepercayaan? Apakah kita menolong tanpa merendahkan? Apakah kita mampu menjaga rahasia orang lain?

Rasulullah SAW mengajarkan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, melainkan hati dan amal perbuatannya (HR. Muslim). Karena itu, jangan sampai kita menghabiskan seluruh hidup untuk membangun nama besar, tetapi lupa membangun jiwa yang besar. Penghormatan bisa datang karena kedudukan, tetapi kepercayaan tumbuh karena perilaku.

Kembali kepada nasihat orang tua

Pada akhirnya, saya kembali teringat kepada orang tua kita dahulu. Mereka mungkin tidak pernah membaca buku Manajemen Akhlak, tidak pernah mengikuti seminar pendidikan karakter, dan tidak pernah mengenal istilah tazkiyatun nafs. Tetapi mereka memahami bagaimana mendidik jiwa anak-anaknya. Mereka mengajarkan agar tidak menguping pembicaraan orang lain, tidak mencari-cari aib, tidak mengadu domba, dan tidak merasa berhak mengetahui semua urusan manusia.

Kini, ketika teknologi semakin canggih, informasi semakin mudah diperoleh, dan kewenangan manusia semakin luas, nasihat itu justru semakin relevan. Kepada para orang tua, mari tanamkan kembali nasihat sederhana itu kepada anak-anak kita. Kepada para guru dan kiai, mari jangan lelah mengajarkan adab sebelum ilmu. Kepada perguruan tinggi, mari jangan hanya mencetak sarjana yang cerdas, tetapi juga manusia yang memiliki integritas. Dan kepada para pemegang amanah, mari jadikan jabatan sebagai jalan pengabdian, bukan kesempatan untuk melampaui batas.

Jangan menjadi orang yang gemar menguping. Jangan menyalahgunakan kewenangan untuk menyadap. Jangan mencari-cari aib orang lain.

Pada akhirnya, kita tidak perlu mengetahui semua rahasia orang lain untuk menjadi manusia yang baik. Kita justru perlu lebih mengenali dan memperbaiki rahasia yang tersimpan di dalam jiwa kita sendiri.

Sebab, sebelum sibuk mengawasi kehidupan orang lain, kita harus lebih dahulu belajar mengelola jiwa sendiri.

Dari jiwa yang bersih lahir akhlak yang baik. Dari akhlak yang baik tumbuh adab. Dan dari adab yang terjaga lahirlah kehidupan masyarakat yang bermartabat.

Penulis: Dosen Mata Kuliah Manajemen Akhlak, MPI, Fakultas Tarbiyah UIN SGD Bandung


Eksplorasi konten lain dari News

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan