Beranda Nusantara Reinterpretasi Nilai Adab dan Etika Kitab Ta’lim al-Muta’allim terhadap Fenomena Feodalisme dalam...

Reinterpretasi Nilai Adab dan Etika Kitab Ta’lim al-Muta’allim terhadap Fenomena Feodalisme dalam Pendidikan Pesantren

0

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk karakter, akhlak, dan intelektualitas umat. Di tengah perkembangan zaman, pesantren terus beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi luhur yang menjadi fondasinya. Salah satu kitab yang selama berabad-abad menjadi rujukan utama dalam pembentukan karakter santri adalah Ta’lim al-Muta’allim Thariq at-Ta’allum karya Imam Burhanuddin Az-Zarnuji. Kitab ini mengajarkan pentingnya adab, penghormatan kepada guru, kesungguhan dalam menuntut ilmu, serta pembentukan akhlak mulia sebagai prasyarat keberhasilan pendidikan.

Namun, dalam praktiknya, pemahaman terhadap konsep penghormatan kepada guru dan kiai terkadang mengalami penyimpangan. Tidak jarang muncul pola relasi yang cenderung feodalistik, yakni hubungan yang menempatkan guru atau kiai sebagai figur yang tidak boleh dikritik, sementara santri diposisikan hanya sebagai objek yang harus selalu patuh tanpa ruang dialog. Fenomena ini perlu dikaji kembali, terutama di tengah upaya mewujudkan pesantren yang ramah anak dan menghormati hak-hak peserta didik.

Secara historis, Ta’lim al-Muta’allim lahir dalam konteks pendidikan Islam klasik yang menempatkan adab sebagai fondasi utama dalam memperoleh ilmu. Az-Zarnuji menegaskan bahwa ilmu tidak akan membawa keberkahan tanpa penghormatan kepada guru. Karena itu, murid dianjurkan menjaga sopan santun, menghormati pendidik, dan menghindari sikap yang dapat mengurangi kewibawaannya. Nilai tersebut tetap relevan hingga kini karena pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan, melainkan juga pembentukan karakter.

Namun demikian, penghormatan tidak identik dengan kultus individu. Adab tidak berarti menghilangkan daya kritis santri ataupun membenarkan perlakuan yang merugikan peserta didik. Dalam konteks pendidikan modern, penghormatan kepada guru seharusnya dipahami sebagai hubungan yang dilandasi rasa hormat, kasih sayang, keteladanan, dan tanggung jawab bersama dalam mencapai tujuan pendidikan. Ketika penghormatan berubah menjadi ketakutan, esensi adab yang diajarkan Az-Zarnuji justru hilang.

Fenomena feodalisme di lingkungan pesantren dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti anggapan bahwa semua keputusan guru harus diterima tanpa pertanyaan, budaya senioritas yang berlebihan, hingga pembenaran terhadap tindakan keras atas nama pembentukan karakter. Dalam kondisi tertentu, pola relasi seperti ini berpotensi menciptakan lingkungan yang tidak aman bagi perkembangan psikologis santri. Padahal, Islam mengajarkan penghormatan terhadap martabat manusia dan menjadikan kasih sayang sebagai fondasi pendidikan.

Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan pendidikan yang jauh dari praktik feodalisme. Beliau mendidik para sahabat dengan kelembutan, membuka ruang dialog, serta menghargai pendapat mereka. Berbagai riwayat menunjukkan bahwa para sahabat dapat bertanya, berdiskusi, bahkan menyampaikan usulan tanpa rasa takut. Hal ini menunjukkan bahwa kewibawaan seorang pendidik tidak lahir dari jarak kekuasaan, melainkan dari keteladanan moral, keluasan ilmu, dan kemuliaan akhlaknya.

Dalam konteks pesantren ramah anak, reinterpretasi terhadap Ta’lim al-Muta’allim menjadi sangat penting. Penghormatan kepada guru perlu diposisikan sebagai bagian dari pendidikan karakter yang humanis. Guru dihormati karena ilmu, akhlak, dan keteladanannya, bukan karena otoritas yang menutup ruang dialog. Santri yang menghormati gurunya tetap memiliki hak untuk didengar, dilindungi, dan diperlakukan secara adil.

Konsep pesantren ramah anak sejatinya selaras dengan prinsip-prinsip Islam yang memuliakan manusia. Lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, bebas dari kekerasan fisik maupun verbal, serta menghargai tumbuh kembang peserta didik merupakan implementasi nyata dari nilai rahmatan lil ‘alamin. Karena itu, tidak ada pertentangan antara tradisi adab dan perlindungan anak. Keduanya justru saling menguatkan dalam mewujudkan pendidikan yang bermartabat.

Nilai-nilai dalam Ta’lim al-Muta’allim sesungguhnya mengandung semangat pendidikan yang progresif. Az-Zarnuji menekankan pentingnya niat yang ikhlas, kesungguhan belajar, musyawarah, memilih teman yang saleh, serta menghormati ilmu dan para ahlinya. Tidak terdapat ajaran yang membenarkan kekerasan ataupun penindasan terhadap peserta didik. Yang diperlukan saat ini bukan meninggalkan kitab tersebut, melainkan membacanya kembali dengan pendekatan kontekstual sesuai perkembangan sosial dan pendidikan masa kini.

Reinterpretasi ini menjadi semakin penting karena pesantren menghadapi tantangan yang berbeda dengan masa lalu. Generasi santri hidup di era digital yang lebih terbuka terhadap informasi dan gagasan. Mereka membutuhkan pendidikan yang tidak hanya menanamkan kepatuhan, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan kecakapan sosial. Jika relasi pendidikan masih dibangun dengan pola feodalistik, potensi santri untuk berkembang secara optimal dapat terhambat.

Sebaliknya, pesantren memiliki peluang besar menjadi pelopor pendidikan Islam yang humanis, inklusif, dan ramah anak. Tradisi penghormatan kepada guru dapat dipadukan dengan prinsip partisipasi, perlindungan, serta penghormatan terhadap hak-hak anak. Kiai dan ustaz tetap menjadi figur sentral yang dihormati, namun hubungan yang terbangun adalah hubungan edukatif yang sehat, dialogis, dan konstruktif. Dengan demikian, kewibawaan pendidik tidak berkurang, bahkan semakin kokoh karena bertumpu pada kepercayaan dan keteladanan.

Pada akhirnya, feodalisme bukanlah bagian dari ajaran Ta’lim al-Muta’allim, melainkan hasil penafsiran yang kurang tepat terhadap konsep adab. Kitab karya Az-Zarnuji mengajarkan penghormatan kepada guru sebagai jalan memperoleh keberkahan ilmu, bukan sebagai legitimasi untuk menutup ruang dialog atau mengabaikan hak-hak peserta didik.

Pesantren ideal adalah pesantren yang mampu menjaga warisan adab klasik sekaligus menjawab kebutuhan zaman. Di dalamnya, santri belajar menghormati guru tanpa kehilangan keberanian untuk berpikir kritis, belajar taat tanpa menjadi pasif, serta belajar berakhlak tanpa harus mengalami kekerasan. Dengan cara demikian, pesantren akan terus menjadi pusat lahirnya generasi yang berilmu, berakhlak, berkeadaban, sekaligus tumbuh dalam lingkungan yang aman, inklusif, dan memanusiakan setiap peserta didik.

Wallāhu A’lam bi ash-Shawāb. Semoga bermanfaat.

www.youtube.com/@anas-aswaja


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.