PEKALONGAN (Aswajanews.id) – Kelompok Studi Mahasiswa Fakultas (KSM-F) ACTA UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan menggelar Workshop “Ekoteologi In Action: Merawat Bumi, Menulis Solusi Lewat Literasi” di Aula Fakultas Syariah, Ahad (5/7/2026). Kegiatan ini bertujuan membangun kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya pelestarian lingkungan melalui gerakan literasi.
Workshop yang diikuti 45 peserta tersebut menghadirkan akademisi, penulis, dan peneliti, Khairul Anwar, M.E., sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Khairul menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya melalui pendekatan teknologi maupun kebijakan. Menurutnya, diperlukan perubahan cara pandang manusia terhadap alam dengan menempatkan lingkungan sebagai amanah yang wajib dijaga.
“Ekoteologi mengajak kita melihat bahwa hubungan manusia dengan alam bukan hubungan penguasa dengan objek yang dikuasai, melainkan hubungan seorang khalifah dengan amanah yang dititipkan Allah. Setiap ikhtiar menjaga lingkungan sesungguhnya merupakan wujud ketaatan dan tanggung jawab moral sebagai seorang hamba,” ujarnya.
Ia menjelaskan, literasi menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran ekologis. Perubahan sosial, kata dia, tidak hanya lahir dari aksi di lapangan, tetapi juga dari gagasan yang disebarkan melalui tulisan dan karya intelektual.
“Merawat bumi harus dimulai dari membangun cara berpikir masyarakat. Literasi menjadi jembatan untuk menyebarkan pengetahuan, menumbuhkan kepedulian, sekaligus menggerakkan aksi. Ketika semakin banyak orang membaca, menulis, dan berdiskusi tentang lingkungan, maka semakin besar pula peluang lahirnya perubahan yang berkelanjutan,” tambah Khairul yang juga dosen di UIN Gus Dur dan STAIKAP.
Khairul juga mendorong mahasiswa agar tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi mampu menjadi produsen pengetahuan melalui artikel populer, penelitian, buku, maupun media digital yang menawarkan solusi atas berbagai persoalan lingkungan.
Sementara itu, Ketua KSM-F ACTA, Nur Silmi Kaffah, mengatakan workshop tersebut merupakan langkah awal organisasi dalam membangun budaya akademik yang responsif terhadap isu-isu lingkungan. Ia berharap mahasiswa mampu mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, kepedulian ekologis, dan tradisi literasi dalam aktivitas akademik maupun pengabdian kepada masyarakat.
“Kami ingin KSM-F ACTA menjadi ruang lahirnya mahasiswa yang tidak hanya kritis dalam berpikir, tetapi juga peduli terhadap masa depan bumi. Melalui workshop ini, kami berharap literasi menjadi gerakan nyata yang mampu menumbuhkan kesadaran ekologis sekaligus melahirkan karya-karya yang memberi manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Nur Silmi menambahkan, tindak lanjut dari kegiatan tersebut adalah penyusunan buku kolaboratif yang memuat gagasan, refleksi, hasil kajian, dan tulisan para peserta mengenai ekoteologi, pelestarian lingkungan, serta peran generasi muda dalam merawat bumi.
“Target akhir dari rangkaian kegiatan ini adalah terbitnya sebuah buku karya bersama peserta Workshop Ekoteologi In Action. Buku ini diharapkan menjadi bukti bahwa literasi mampu menggerakkan aksi nyata sekaligus menjadi kontribusi intelektual mahasiswa dalam menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan dari perspektif keislaman. Kami ingin gerakan ini tidak berhenti di ruang seminar, tetapi terus hidup melalui karya yang dapat dibaca, didiskusikan, dan menginspirasi masyarakat luas,” jelasnya.

Workshop ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas mahasiswa dalam memahami bahwa persoalan lingkungan bukan hanya isu ilmiah, tetapi juga memiliki dimensi teologis yang erat kaitannya dengan nilai-nilai keislaman. Semangat tersebut sejalan dengan komitmen UIN K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan dalam mengembangkan konsep ekoteologi sebagai bagian dari upaya mewujudkan kampus hijau dan berkelanjutan.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan melalui diskusi interaktif mengenai krisis iklim, pengelolaan sampah, budaya literasi, hingga peran mahasiswa sebagai agen perubahan melalui karya tulis. Workshop ditutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama sebagai simbol komitmen untuk terus mengembangkan gerakan literasi yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan.
(Kontributor: Seftia Nurul Izati)
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
































