Entah berapa jumlah yang pasti kata “Ini dan Itu” keluar setiap hari dari istriku penyintas stroke. Kata tersebut yang jelas keluar saat meminta tolong, perintah menunjukan sesuatu, membutuhkan dan ingin bercerita.
Diperkirakan dalam setiap hari sekitar 30-50 lebih kata yang keluar. Bukan masalah kata yang ingin didiskusikan disini. Namun sebuah kata yang membingungkan bahkan harus berfikir berkali-kali untuk memaknai kalimat yang sebenarnya diinginkan.
Kata ini dan itu, biasanya di pagi hari kata tersebut banyak keluar, saat aktivitas mulai berjalan. Mulai bangun tidur, kebutuhan ingin kekamar mandi, berpakain, makan dan minum. Ditambah ikut menata pilihan pakaian dan penampilan penulis saat mau berangkat kerja.
Marah dan kadang kala bercampur tangisan bahkan bingung sendiri, saat ucapan ini dan itu keluar. Ditambah penulis sendiri agak lama memahami maksud sebenarnya yang diinginkan. Sehingga penulis harus mengatakan, “Tenang, tidak usah buru-buru,” dan selalu berusaha membantu memecahkan kalimat yang sebenarnya diinginkan dengan menanyakan pokok atau inti yang ingin disampaikan.
Ada satu kata lagi yang sering keluar juga yaitu “Sana dan situ” kata ini keluar, biasanya saat menyuruh mengambilkan sesuatu. atau keinginan menyebutkan barang yang ingin diambil, mengalami kesulitan untuk menyebutkan nama barang atau sesuatu tersebut.
Secara teori, kata “ini dan itu” atau repetisi kata ganti yang rancu sering diucapkan oleh penyintas stroke yang mengalami afasia ekspresif (afasia Broca). Kondisi seseorang yang mengetahui persis apa yang ingin dikatakan, tetapi kerusakan otak kiri menghalangi mereka menyusun kata-kata dengan baik dan benar.
Selain “ini dan itu”, penyintas sering kali mengeluarkan kalimat yang membingungkan atau terpotong seperti:
“Tolong ambilkan … eh … itu … itu!” yaitu kesulitan menemukan kata benda atau kata kerja yang spesifik.
Ada juga kata yang sering tertukar, semisal “Ya, tidak, tidak, ya!” tertukar menyebutkannya. Sudah dibilang belum, dan mau mengatakan belum, bilangnya sudah.
Pada kondisi penyintas stroke seperti ini, memerlukan kesabaran yang sangat luar biasa. Tetap mengedepankan berpikir sedang menarapi keluarga, dan selalu mengajak bicara sebagaimana rekomendasi dari terapis wiacara.
Bagi penulis sendiri, sata kata ini dan itu keluar atau sana, sana. berusaha untuk kontak mata, mendekat dan suruh bicara perlahan-lahan.
Sampaikan inti apa yang ingin katakan dengan kalimat-kalimat yang pendek dan jangan gunakan kata yang sulit. Memberikan jeda waktu untuk berpikir memproses informasi dan merespons.
Fasilitasi komunikasi alternatif, dengan menyediakan alat bantu, seperti papan tulis kecil, kertas yang tertulis nama-nama buah, peralatan makan dan minum, kebutuhan mandi dan berpakaian, atau dengan cara tunjukkan gambar dan isyarat tubuh untuk membantu menyampaikan maksudnya.
Ingat!!! Jangan memotong atau menyela kalimat. Biarkan penyintas menyelesaikan kalimatnya sendiri dan hindari mengoreksi kesalahan bicara mereka secara berlebihan agar tidak menurunkan rasa percaya diri. ***
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
































