Beranda Aktual Meneguk Sanad dari Jagalan, Jejak Keilmuan Salaf dan Arsitektur Masa Depan Al-Fadlu...

Meneguk Sanad dari Jagalan, Jejak Keilmuan Salaf dan Arsitektur Masa Depan Al-Fadlu Kaliwungu

87

Bagi siapa saja yang pernah melintasi riuhnya jalur pantura Kendal lalu berbelok menuju pusat syiar Islam di Kaliwungu, nama Pondok Pesantren Al-Fadlu wal Fadhilah laksana oase spiritual yang tak pernah kering. Di sanalah, almarhum KH. Dimyati Rois atau yang dengan takzim karib disapa Abah Dim merajut sebuah epik besar. Beliau bukan sekadar ulama kharismatik yang namanya harum di panggung politik nasional atau jajaran tertinggi mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Lebih dari itu, Abah Dim adalah seorang arsitek peradaban pesantren yang berhasil mengawinkan ketajaman nalar kitab kuning, pancaran karomah spiritual, serta kemandirian hidup yang bersahaja yang kini mewujud hingga ke rekam jejak para alumninya di kancah global.

Keberkahan sebuah pesantren sering kali terpancar dari bagaimana sebuah keluarga mampu menjaga estafet keilmuan antargenerasi. Abah Dim, yang sejatinya lahir dari keturunan petani bersahaja di Tegal Glagah, Brebes, mempertautkan nasab keilmuannya dengan pusat spiritual Kaliwungu ketika beliau menyunting Nyai Hj. To’ah. Sang istri bukanlah sosok sembarangan, melainkan putri dari KH. Humaidillah Irfan, sang pemangku tonggak kejayaan Pondok Pesantren APIK Kaliwungu pada masanya. Pernikahan yang dilangsungkan pada awal tahun 1978 ini tidak hanya mempersatukan dua insan, melainkan mempertemukan dua aliran sungai keilmuan yang besar.

Dari rahim pernikahan suci ini, lahir sepuluh putra dan putri yang kini menjadi benteng-benteng pertahanan moral di Al-Fadlu. H. Fadlullah Dimyati Rois atau Gus Fadlu sebagai putra tertua kini memikul tanggung jawab besar dalam menjaga stabilitas kepemimpinan pesantren induk di Kampung Jagalan, meneruskan kharisma sang ayah dalam membimbing para santri senior. Sementara itu, almarhum H. Alamuddin Dimyati Rois menjadi sosok dinamis yang menorehkan tinta emas dengan menginisiasi berdirinya Pondok Pesantren Al-Fadlu 2 di Brangsong sebagai jawaban atas tantangan zaman modern. Bersama saudara-saudara kandung lainnya, baik para srikandi pondok maupun para putra lintas generasi, mereka membagi peran secara apik dalam mendalami perluasan bisnis mandiri pesantren, mengasuh cabang pendidikan formal, hingga madrasah diniyah.

Struktur keluarga besar ini laksana sebuah pohon rimbun yang akarnya tertanam kuat pada tradisi salaf Kaliwungu, sementara dahan-dahannya menjulur luas menyentuh ranah modernisasi, politik, dan ekonomi, membuat Al-Fadlu tetap relevan tanpa kehilangan jati diri.

Jika kita berjalan menyusuri lorong-lorong Al-Fadlu menjelang subuh atau selepas magrib, lamat-lamat akan terdengar dendang bait-bait Nazhom Alfiyah atau gumam pelan pembacaan kitab Fathul Qorib. Di sini, kitab kuning bukanlah benda mati yang dikeramatkan, melainkan entitas hidup yang dibedah dengan metodologi yang sangat disiplin namun adaptif.

Abah Dim membawa tradisi mengaji dari Lirboyo dan Lasem, lalu mengawinkannya dengan kekhasan lokal Kaliwungu. Sistem bandongan dan sorogan diperketat demi menekankan keabsahan syarah dan ketepatan tata bahasa nahu-shorof. Abah Dim terkenal sangat jeli, sepotong harakat yang keliru dibaca oleh santri tidak akan lolos dari telinga beliau, melatih santri untuk memiliki ketelitian tingkat tinggi dalam membaca teks Arab gundul. Menariknya, kitab kuning di Al-Fadlu selalu diturunkan ke bumi lewat konteks nyata. Ketika santri mempelajari bab muamalah mengenai jual beli dan ekonomi, mereka tidak sekadar berdiskusi teoretis di atas meja, melainkan diajak melihat bagaimana teori bagi hasil dipraktikkan langsung di lahan pertanian dan tambak udang milik pesantren. Pengajaran ini melahirkan santri yang tidak gagap saat berhadapan dengan realitas ekonomi masyarakat.

Di balik ketatnya disiplin ilmu, denyut nadi Al-Fadlu selalu dilingkupi oleh aura spiritual yang kental. Karomah sejati dari seorang Abah Dim jarang sekali mewujud dalam bentuk atraksi mistis yang menggelegar, melainkan hadir secara lamat-lamat dalam keseharian mengajar yang bersahaja. Banyak alumni mengingat kemampuan Abah Dim dalam membaca lintasan pikiran atau kasyaf.

Pernah suatu ketika dalam sebuah majelis besar kitab Fathul Mu’in, seorang santri duduk melamun di barisan belakang karena kiriman uang orang tuanya belum kunjung datang. Tanpa diduga, Abah Dim menghentikan bacaannya, menatap ke arah kerumunan, lalu berucap lirih bahwa urusan santri adalah mengaji dan tidak perlu mencemaskan uang karena Allah tidak pernah tidur. Karomah lainnya adalah perihal kemampuan beliau melipat waktu demi istikamah mengajar. Sebagai tokoh nasional dengan jadwal cukup sering di Jakarta, secara logika mustahil beliau bisa sampai di Kaliwungu sebelum subuh. Namun, para santri kerap mendapati Abah Dim sudah duduk tenang di pengimaman masjid tepat saat azan subuh berkumandang, dengan wajah yang segar tanpa jejak kelelahan perjalanan jauh. Bahkan saat dapur pondok kehabisan beras untuk memasak makan ratusan santri, ketenangan batin Abah Dim yang meminta pengurus memeriksa kembali gudang kosong sering kali berbuah keajaiban dengan hadirnya karung-karung beras baru tanpa ada yang tahu siapa pengirimnya. Bagi Abah Dim, urusan perut santri yang sedang menuntut ilmu adalah urusan Allah yang benderang.

Puncak pengakuan atas otoritas spiritual dan keilmuan Abah Dim di panggung nasional terpotret abadi dalam sejarah jam’iyah Nahdlatul Ulama. Pada perhelatan Muktamar ke-34 NU di Lampung akhir tahun 2021, Abah Dim terpilih sebagai salah satu anggota Ahlul Halli wal Aqdi atau AHWA. Luar biasanya, posisi istimewa ini beliau raih dengan mengantongi dukungan tertinggi di antara seluruh ulama sepuh yang diusulkan, yakni sebanyak 503 suara dari berbagai Pengurus Cabang dan Wilayah NU se-Indonesia. Perolehan suara tertinggi ini menjadi bukti sahih betapa seluruh lapis nahdliyin menaruh takzim dan kepercayaan mutlak atas jernihnya mata batin beliau untuk ikut menentukan nakhoda spiritual tertinggi (Rais Aam) PBNU. Kharisma bimbingan langit yang melekat pada diri Abah Dim inilah yang membuat fatwa-fatwanya selalu kokoh dan dipatuhi.

Kekuatan spiritual dan kemandirian itu pula yang beliau bawa saat menakhodai ranah siyasah atau politik. Sejak tahun 2018, Abah Dim mengemban amanah krusial sebagai Ketua Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), menggantikan kiai sepuh sebelumnya. Hingga pelaksanaan Muktamar PKB 2019 di Bali, seluruh utusan wilayah dan daerah secara bulat meminta beliau kembali menduduki jabatan tertinggi penentu garis perjuangan partai tersebut. Aktivitas Abah Dim sebagai Ketua Dewan Syuro bukanlah tentang ambisi kursi kekuasaan, melainkan tentang laku khidmat penjagaan moral politik. Ruang tamu kediaman beliau di Kaliwungu bertransformasi menjadi titik temu strategis di mana para elite politik nasional sowan untuk meminta dawuh, petunjuk, dan doa sebelum mengambil keputusan-keputusan besar bagi hajat hidup bangsa. Melalui posisi politik ini, Abah Dim berhasil menunjukkan bahwa seorang kiai murni bisa mengendalikan arah politik nasional tanpa harus kehilangan kesufiannya, menolak hidup dari belas kasihan proposal demi menjaga muruah sebuah partai santri.

Ketika tantangan zaman menuntut adanya ijazah formal, fondasi spiritual dan metode kitab kuning ini tidak dibuang, melainkan ditransformasikan secara presisi di Al-Fadlu 2 Brangsong melalui arsitektur manajemen kurikulum integratif yang sangat visioner. Al-Fadlu 2 melakukan ko-eksistensi kurikulum dengan menerapkan desain jadwal simetris yang membagi porsi otak santri secara adil. Waktu fajar hingga pagi sepenuhnya didedikasikan untuk sesi spiritual-salaf berupa madrasah diniyah dan setoran hafalan, sementara pagi hingga siang dialihkan ke mode sains dan teknologi melalui kurikulum nasional. Menjelang sore hingga malam, kurikulum diisi dengan integrasi praktik, bahasa asing, dan pendalaman ukhrawi. Uniknya, jurusan vokasi seperti teknik komputer atau otomotif diintegrasikan langsung dengan nilai-nilai fiqih muamalah, seperti konsep kejujuran akad kerja dan amanah. Unit-unit usaha mandiri seperti minimarket dan bengkel didirikan di lingkungan pondok agar santri dapat mempraktikkan ilmunya sekaligus memutar keuntungan untuk beasiswa operasional, meniru persis kemandirian ekonomi Abah Dim. Pola manajemen ini melahirkan standarisasi kelulusan ganda, di mana setiap lulusan menggenggam ijazah negara serta sertifikasi keahlian industri, sekaligus mengantongi syahadah sanad kitab kuning yang menjamin otoritas keagamaan mereka di masyarakat.

Buah dari konsistensi perpaduan ilmu salaf, berkah spiritual, dan ketajaman vokasi ini kini terpancar nyata pada rekam jejak para alumni Al-Fadlu yang tersebar luas di berbagai belahan dan lini kehidupan. Di kancah domestik, alumni Al-Fadlu tidak hanya mendominasi panggung dakwah siber dan pengasuh pondok pesantren baru, melainkan juga mewarnai jajaran birokrasi pemerintahan, teknokrat, hingga pengusaha mandiri yang tangguh di sektor agrobisnis. Tidak sedikit dari mereka yang menjadi motor penggerak ekonomi syariah dan pemberdayaan masyarakat di pedesaan, mereplikasi kemandirian finansial yang dicontohkan oleh Abah Dim. Sementara di kancah global, kepakan sayap alumni Al-Fadlu telah menjangkau universitas-universitas bergengsi di Timur Tengah. Di tanah rantau tersebut, mereka tidak hanya dikenal sebagai mahasiswa yang fasih berargumen dengan kitab-kitab klasik, melainkan juga adaptif terhadap kemajuan teknologi global. Perpaduan antara karomah spiritual Abah Dim yang tak kasat mata, rapinya manajemen kurikulum di Al-Fadlu 2, serta kiprah mendunia para alumninya membuktikan satu hal bahwa Pesantren Al-Fadlu tidak pernah berjalan mundur. Mereka menghormati masa lalu dengan menjaga tradisi para wali, namun mereka juga menguasai masa depan dengan ilmu pengetahuan mutakhir.

Kagem Abah Dim dan Gus Alam, Lahumal Fatihah

Salam, Andi Najmi Fuaidi


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.