Sore itu, Jumat, 23 Oktober 2026, aku dibangunkan oleh bunyi dering HP yang ada di sebelahku. Kebetulan, saat mau tidur, HP kutaruh di bawah kasur.
Aku lihat siapa yang memanggil. Ternyata, dari seorang petinggi yang ada di kampungku.
“Assalamu’alaikum. Siap, Pak. Ada perintah?” Itulah kata-kata yang biasa aku ucapkan ketika mendapatkan panggilan dari beliau.
“Ada tamu dari pusat, datang ke kampung mau cari makam leluhurnya.”
“Siap, Pak. Ketemu di mana?” jawabku.
“Nanti ketemu di makam saja. Kebetulan saya ikut di mobil bersama para petinggi kabupaten. Sekitar ada delapan mobil lebih.”
“Siap, Pak. Meluncur.”
Aku pun segera menuju makam untuk menemui tamu tersebut yang sudah berada di sana.
Sesampainya di makam, ternyata tamu dari pusat sudah ditemani oleh seseorang yang sebelumnya telah bertemu lebih dahulu dan kebetulan masih saudara.
Saat datang pertama kali, beliau tidak banyak didampingi petinggi kabupaten. Namun, pada kedatangan yang kedua ini, beliau didampingi oleh para pejabat kabupaten. Kebetulan, aku banyak yang kenal, walaupun mereka tidak mengenalku.
“Assalamu’alaikum, Pak Kyai,” kata tamu tersebut menyapaku.
Aku pun bingung disapa Pak Kyai.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawabku.
Tamu dari pusat pun mengatakan bahwa kedatangannya ke makam kampungku untuk berziarah ke makam leluhurnya.
Katanya, beliau memiliki leluhur yang ada di kampungku dan mengatakan bahwa makam ini merupakan makam tua di kampungku.
Beliau pun menyebutkan nama leluhurnya kepadaku.
Dari beberapa cerita tentang nama-nama leluhur yang beliau sampaikan, ternyata ada nama leluhur beliau yang bertemu denganku pada level buyut. Mbahnya beliau bersaudara dengan bapak dari mbah putriku.
Dari informasi yang aku dapatkan, baik saat ini dari ibuku maupun dari nenekku yang dulu saat masih hidup, perkawinan di kampungku rata-rata masih saudara.
Perkawinan mbah putriku dengan mbah kakungku ternyata memiliki jalur paman dan keponakan. Sehingga, dulu ada seorang istri petinggi di kampung yang juga adik dari leluhur pejabat pusat tersebut. Istri petinggi itu dipanggil bibi oleh mbah putriku. Namun, beliau sendiri, yang dipanggil bibi oleh mbah putriku, memanggil suami dari mbah putriku dengan sebutan paman.
Sehingga, aku memanggil istri dari mantan petinggi desaku yang juga adik dari leluhur pejabat pusat tersebut dengan sebutan mbah. Namun, kalau memanggil beliau dari jalur suami nenekku, sebutannya bibi. Sehingga, kadang seseorang bisa dipanggil Pakde (Wa), menurut bahasa di kampungku, tetapi di satu sisi dipanggil kakang kalau dilihat dari jalur kakek.
Ada satu sisi cerita yang membuat aku sedikit kaget (ta’jub) terhadap pencarian dan perjalanan seorang petinggi pusat yang berziarah ke makam leluhurnya.
Bukan teknologi di media yang konon hebat dan canggih yang menunjukkan tempat leluhurnya dimakamkan, tetapi leluhur sendirilah yang menuntun hingga sampai ke makam peristirahatannya, menemui sang cucu serta berdialog imajiner yang tidak semua orang mampu menangkap dan menerjemahkan arti dan maknanya.
Aku jadi ingat kata kakek dan nenekku dulu, yang sering mengajakku berziarah dan mengenalkan makam kakek-neneknya. Mungkin mereka mengajarkan kepada anak cucunya untuk selalu mengenal leluhurnya.
Alhamdulillah, sampai hari ini, leluhur yang ada di kampung terus terjaga, walaupun banyak cerita dengan versi yang berbeda-beda. Hal itu dapat dikatakan sangat wajar karena cerita tersebut belum ada yang membukukan dalam sebuah buku dan hanya berupa cerita persepsi orang-orang dulu saja.
Leluhurku yang dulu pernah menjadi petinggi di kampung konon adalah seorang yang digdaya. Beliau sering diminta untuk membantu, baik dari sisi ekonomi, menolong warga yang membutuhkan, maupun mengobati saat sakit. Dapat dikatakan, “Lurah plus ahli pengobatan.”
Kalau sekarang, leluhur yang digdaya memiliki cucu yang sangat luar biasa.
كُلِّ مَشْهُوْرٍ مَسْتُوْرٌ
Di balik kemasyhuran seseorang, ada yang mastur (tersembunyi) yang membantunya.
Untuk para leluhur kampungku, “Randusanga”, Al-Fatihah. (*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























