BREBES (Aswajanews.id) – Peringatan Hari Santri menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para ulama, kiai, dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang telah mengabdikan hidupnya bagi agama, organisasi, dan masyarakat. Salah satunya H. Tadjoedin Noor bin H. Achmad Munadjad, tokoh NU yang pernah memimpin MWCNU Wanasari di tengah pergolakan politik nasional.
H. Tadjoedin Noor lahir di Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, pada 7 Juli 1938 dan wafat pada 30 Agustus 2012 dalam usia 74 tahun. Meski lahir di Luwungragi, perjalanan hidup dan pengabdiannya memiliki keterkaitan erat dengan wilayah Klampok dan masyarakat Kecamatan Wanasari.
Menurut riwayat keluarga, ia dikenal sebagai sosok pemberani dan tegas. Kiprahnya berlangsung ketika NU tidak hanya bergerak di bidang keagamaan dan sosial, tetapi juga politik melalui Partai NU, setelah memisahkan diri dari Masyumi pada 1952. Pergolakan politik nasional, termasuk peristiwa 1965, menjadi tantangan bagi kepemimpinan NU di berbagai daerah.
Dalam situasi tersebut, H. Tadjoedin Noor dipercaya memimpin MWCNU Wanasari. KH Maksum Dumeling dan KH Sihabudin Tahmid disebut memiliki peran dalam mendukung atau memberikan kepercayaan kepadanya. Kepemimpinannya menuntut kemampuan menjaga keberlangsungan organisasi, hubungan dengan para kiai, serta soliditas warga nahdliyin di tengah dinamika politik.
Pada 1965, H. Tadjoedin Noor juga menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) Kabupaten Brebes dari Partai NU. Informasi ini disampaikan putranya, Imron Adami Aji. Kiprah tersebut menunjukkan keterlibatannya dalam kehidupan politik dan pemerintahan daerah, selain pengabdian di bidang keagamaan dan kemasyarakatan.
Di lingkungan kepemudaan NU, ia pernah memimpin Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Brebes sebagai Satkorcab Banser Brebes. Ia juga mengemban amanah sebagai Ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kabupaten Brebes, yang menjadi ruang pengembangan seni dan budaya berlandaskan tradisi serta nilai keislaman.
Di luar organisasi, H. Tadjoedin Noor dikenal sebagai jawara pencak silat dari perguruan SH (Setia Hati) Teratai Putih. Pengalamannya di NU, Banser, Lesbumi, dan pencak silat menggambarkan keterlibatannya dalam beragam bidang pengabdian. Meski demikian, rincian masa jabatan dan kiprahnya masih perlu ditelusuri melalui arsip organisasi, kesaksian keluarga, serta dokumen sejarah.
Riwayat hidupnya juga berkaitan dengan keberadaan rumah yang dibangunnya di Klampok, tepat di depan makam waliullah Mbah Rubi atau Syekh Imron Nurudin. Menurut kisah keluarga, pembangunan rumah tersebut dilakukan setelah ia menjadi anggota DPR-GR atas anjuran seorang kiai. Kisah ini memperkuat keterkaitan perjalanan hidupnya dengan masyarakat Klampok yang menjunjung tradisi ziarah dan penghormatan kepada ulama.
Jejak pengabdian keluarga berlanjut melalui Imron Adami Aji, yang pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Brebes. Ia kemudian menjabat sebagai Dewan Pakar Dewan Pendidikan Kabupaten Brebes sebelum menjadi anggota Komisioner Dewan Pendidikan Kabupaten Brebes. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari riwayat keluarga yang turut terlibat dalam kehidupan publik, dengan konteks dan tanggung jawab masing-masing generasi.
Bagi keluarga dan warga NU Wanasari, mengenang H. Tadjoedin Noor bukan sekadar menghormati sosok yang telah wafat, melainkan juga merawat ingatan tentang perjuangan para pendahulu. Banyak tokoh lokal tidak meninggalkan dokumentasi tertulis yang lengkap sehingga sejarah mereka tersimpan dalam cerita keluarga, kesaksian para kiai, dan ingatan masyarakat.
Karena itu, ziarah Hari Santri semestinya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Pengumpulan sejarah lisan, penelusuran arsip kepengurusan, dokumentasi kegiatan, foto lama, surat keputusan, serta wawancara dengan keluarga dan saksi sejarah penting dilakukan untuk menyusun sejarah NU Wanasari secara sistematis dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dari perjalanan H. Tadjoedin Noor, generasi NU masa kini dapat mengambil pelajaran tentang keberanian memikul amanah, kesediaan berkhidmat melalui berbagai bidang, serta pentingnya menjaga hubungan antara organisasi, ulama, dan masyarakat. Nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan melalui pelayanan kepada masyarakat, penguatan tradisi keilmuan, dan pengembangan organisasi yang mampu menjawab tantangan zaman.
H. Tadjoedin Noor telah wafat pada 30 Agustus 2012. Namun, jejak pengabdiannya tetap menjadi pengingat bagi warga NU Wanasari untuk menghargai jasa para pendahulu dan meneruskan perjuangan sesuai kebutuhan masa kini.
Sebab, organisasi yang besar bukan hanya organisasi yang mampu melangkah jauh ke depan, melainkan juga yang tidak melupakan mereka yang telah merintis jalan sebelumnya. Ziarah adalah doa, sejarah adalah ingatan, dan pengabdian merupakan cara terbaik meneruskan perjuangan para pendahulu. (Red/Nas)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























