Beranda Aktual Karhutla Gunung Ciremai Belum Padam, 65 Personel MPA Dikerahkan Cegah Api Meluas

Karhutla Gunung Ciremai Belum Padam, 65 Personel MPA Dikerahkan Cegah Api Meluas

0
0

KUNINGAN (Aswajanews.id) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sejak Rabu malam (21/10/2026). Hingga Kamis (22/10/2026) sore, api masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya dan mengancam kawasan hutan serta lahan masyarakat di sekitarnya.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan yang diperbarui Kamis pukul 10.00 WIB, kebakaran menghanguskan sekitar 1,5 hektare dari total luas lahan bambu yang terdampak sekitar 2 hektare. Api pertama kali terpantau sekitar pukul 20.44 WIB.

Kepala BPBD Provinsi Jawa Barat, Teten AME, mengatakan penanganan kebakaran dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri atas Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Brigdalkarhutla) TNGC, BPBD Kabupaten Kuningan, UPT Pemadam Kebakaran, Satpol PP, serta unsur TNI-Polri.

Berdasarkan pemantauan udara pada Kamis pagi pukul 07.08 WIB, kepulan asap masih terlihat di empat titik kebakaran. Petugas terus berupaya memadamkan sisa api sekaligus mencegah rambatan kebakaran ke kawasan hutan lainnya.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, turun langsung ke lokasi pada Kamis (22/10/2026) untuk memimpin penanganan kebakaran yang mengancam kelestarian ekosistem Gunung Ciremai.

Dedi juga menginstruksikan pengerahan warga Desa Seda dan Desa Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, yang wilayahnya berbatasan dengan titik kebakaran. Pelibatan masyarakat diharapkan dapat mempercepat pemadaman, terutama di kawasan pegunungan dengan medan terjal.

Menurut Dedi, kondisi medan menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman. Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mengerahkan helikopter dengan metode water bombing guna menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.

65 Personel MPA Diterjunkan

Di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung, sebanyak 65 personel Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning diterjunkan untuk membantu mengendalikan kebakaran dan menahan rambatan api agar tidak menjangkau lahan pertanian maupun permukiman warga.

Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Juniar Arif, S.Hut., mengatakan keselamatan personel menjadi prioritas utama dalam penanganan kebakaran. Bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) dari desa-desa penyangga Gunung Ciremai, para personel berupaya memutus jalur rambatan api dan menjaga area yang berpotensi terdampak.

“Gunung Ciremai adalah menara air bagi masyarakat Kuningan, Majalengka, dan Cirebon. Begitu api terpantau, personel kami bergerak, memadamkan, membuat sekat bakar, dan berjaga sampai api benar-benar padam,” ujar Nandar, Kamis (22/10/2026).

Ia menjelaskan, kondisi vegetasi dan serasah hutan yang kering akibat musim kemarau meningkatkan risiko penjalaran api. Situasi tersebut menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh personel yang bertugas di lapangan.

Dalam upaya pemadaman, personel MPA bersama KTH memanfaatkan pasokan air dari truk tangki dan embung yang tersedia di sekitar kawasan. Sebagian personel lainnya membuat sekat bakar di sejumlah titik rawan untuk menghambat pergerakan api menuju area yang lebih luas.

Hingga Kamis sore, para petugas masih bertahan di lokasi untuk mengendalikan kebakaran dan mengantisipasi kemungkinan api mendekati lahan pertanian serta permukiman penduduk.

Kebakaran Gunung Ciremai menjadi perhatian serius karena kawasan taman nasional tersebut memiliki fungsi ekologis penting sebagai daerah resapan air dan penyangga kehidupan masyarakat di wilayah Kuningan, Majalengka, dan Cirebon.

Sinergi antara pemerintah, petugas kehutanan, TNI-Polri, relawan, dan masyarakat diharapkan mampu mempercepat pemadaman sekaligus mencegah dampak kebakaran meluas ke kawasan hutan yang lebih besar. (Red)


Eksplorasi konten lain dari News

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan