JAKARTA (Aswajanews) – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan berat pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Mata uang Garuda merosot hingga menyentuh rekor terendah baru di level Rp17.738 per dolar AS pada perdagangan tengah hari.
Pelemahan tersebut menunjukkan fluktuasi tajam dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya. Di sejumlah bank komersial nasional, harga jual dolar AS bahkan telah menembus Rp17.815.
Tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Investor global cenderung memburu dolar AS sebagai aset safe haven menyusul memanasnya konflik di kawasan Selat Hormuz.
Selain itu, lonjakan harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas 100 dolar AS per barel turut memperburuk tekanan terhadap mata uang negara berkembang di kawasan Asia, termasuk Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.
Sentimen negatif juga datang dari persepsi pelaku pasar terhadap kebijakan moneter domestik. Sebagian investor menilai respons otoritas keuangan masih belum cukup cepat dalam meredam volatilitas pasar yang terjadi sejak awal pekan.
Kini perhatian pelaku pasar tertuju pada agenda Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia periode Mei 2026. Pertemuan tersebut dinilai krusial untuk menentukan langkah strategis menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Sejumlah analis memproyeksikan Bank Indonesia berpotensi mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen guna menahan laju pelemahan rupiah. (*)
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
































