Beranda Nasional Ekonomi, Bisnis dan UMKM Ketahanan Pangan Berbasis Konservasi Alam Butuh Pohon, Bukan Banyak Omong

Ketahanan Pangan Berbasis Konservasi Alam Butuh Pohon, Bukan Banyak Omong

0
Eyang Memet Ketua Yayasan Panata Giri Raharja

BANDUNG (Aswajanews.id) – Di tengah perbukitan Malaberes, Desa Mekarsari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung, Eyang Memet tidak sekadar berbicara soal hutan. Ia memilih bekerja pelan, menanam, dan membiarkan alam pulih dengan caranya sendiri.

Bagi Eyang Memet, hutan bukan ruang yang harus dijauhkan dari manusia. Justru sebaliknya—hutan harus tetap hidup, terawat, dan memberi manfaat tanpa kehilangan fungsi utamanya sebagai penyangga kehidupan.

Dalam dua tahun terakhir, sekitar 4 hektare lahan di kawasan Malaberes ia kelola dengan menanam kurang lebih 216 jenis tanaman. Mulai dari pohon konservasi, tanaman langka seperti saninten, palahlar, dan kina, hingga tanaman produktif seperti nangka, alpukat, jeruk, dan kopi.

Di beberapa titik, tanaman-tanaman itu tumbuh berdampingan—antara yang menjaga alam dan yang memberi hasil. Perlahan, kawasan perbukitan Pasirjambu mulai berubah menjadi ruang hijau yang hidup.

Namun bagi Eyang Memet, ini bukan sekadar kebun. Ini cara hidup. Upaya menjaga tanah tetap subur, air tetap mengalir, dan manusia tetap bisa hidup dari alam tanpa merusaknya.

Ia menyebutnya sebagai ketahanan pangan berbasis konservasi—menyatukan pelestarian alam dan kebutuhan manusia dalam satu sistem yang saling menguatkan.

“Konservasi bukan berarti alam dijauhkan dari manusia, tetapi bagaimana manusia hidup berdampingan tanpa merusaknya,” ujarnya di lokasi, Sabtu (16/5/2026).

Ia menegaskan, membangun hutan bukan pekerjaan cepat. Butuh waktu panjang, kesabaran, dan keyakinan bahwa ekosistem hanya bisa tumbuh jika dirawat, bukan dipaksa.

Nilai itu kini mulai diwariskan kepada generasi berikutnya, termasuk Nata Alam Raharja yang turut terlibat dalam pengelolaan kawasan tersebut.

Di antara rimbunnya tanaman yang mulai tumbuh, Nata menyampaikan kalimat sederhana yang kemudian ditegaskan kembali oleh Eyang Memet:

“Alam itu butuh banyak pohon, bukan banyak omong.”

Sebuah pesan yang menampar halus—bahwa menjaga alam tidak cukup dengan wacana, tetapi harus dibuktikan lewat kerja nyata yang terus berjalan.

Ke depan, kawasan ini diharapkan menjadi ruang belajar lingkungan dan contoh nyata bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan alam tanpa saling merusak. *

(Reporter : Uus Aswajanews.id)


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.