Google search engine
Beranda blog Halaman 31

Kirab Panji dan Mahkota Tatar Sunda 2026 Digelar 2 Mei, Sumedang Jadi Titik Awal

0

SUMEDANG (Aswajanews) – Kirab Panji dan Mahkota dalam rangka Milangkala Tatar Sunda 2026 dipastikan akan digelar pada Sabtu, 2 Mei 2026 pukul 18.30 WIB. Kegiatan ini akan dimulai dari Keraton Sumedang Larang dan Alun-Alun Sumedang.

Informasi tersebut disampaikan Luky Djohari Soemawilaga mewakili pihak keraton. Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan kirab tahun ini mengalami penyesuaian setelah adanya integrasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Sumedang.

“Awalnya sempat dinamis, namun akhirnya disepakati dimulai pada 2 Mei di Sumedang,” ujarnya.

Kirab ini merupakan bagian dari rangkaian Karnaval Mahkota Binokasih Sangiang Pake yang akan melintasi 10 daerah di Jawa Barat dan dijadwalkan berakhir di Bandung pada 16 Mei 2026.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang digelar secara mandiri, pelaksanaan tahun ini melibatkan kolaborasi lintas pemerintah. Langkah tersebut dinilai bukan sekadar seremoni, tetapi juga sebagai upaya memperluas edukasi serta promosi budaya Sunda kepada masyarakat luas.

Mahkota Binokasih sendiri merupakan simbol legitimasi kekuasaan Sunda yang sarat nilai historis dan filosofi.

Pihak keraton juga menyampaikan permohonan maaf atas perubahan jadwal selama proses persiapan, sekaligus mengajak masyarakat untuk turut menyukseskan agenda budaya tersebut. (Red)

Wabup Sumedang Salurkan Bantuan Alsintan dan Sarana Tembakau, Dorong Kesejahteraan Petani

0

SUMEDANG (Aswajanews) — Wakil Bupati Sumedang, M. Fajar Aldila, menyerahkan bantuan sarana dan prasarana pendukung usaha tani kepada kelompok tani di Dusun Cibogo, Desa Sukasari, Kamis (30/4/2026).

Bantuan tersebut disalurkan kepada sejumlah kelompok tani di dua kecamatan, yakni Tanjungsari dan Sukasari. Adapun bantuan yang diberikan meliputi pupuk, benih, cultivator, alat perajang tembakau, hingga rumah pengering tembakau.

Penyerahan bantuan ini merupakan bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Sumedang dalam meningkatkan kualitas hasil panen serta efisiensi produksi guna mendorong kesejahteraan petani, khususnya di sektor tembakau.

Dalam arahannya, Wabup M. Fajar Aldila menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan petani menjadi fokus utama pembangunan daerah. Hal tersebut sejalan dengan tema pembangunan Sumedang tahun 2026, “Membumi: Kadeuleu, Karampa, Karasa”, yang diharapkan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

“Saya ingin petani di Sumedang makmur. Ketika petani sudah sejahtera, itu akan menjadi stimulus bagi generasi muda untuk ikut terjun ke sektor pertanian,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya regenerasi petani melalui pendekatan modern, seperti smart farming dan pemanfaatan teknologi digital. Menurutnya, sektor pertanian memiliki prospek menjanjikan jika dikelola secara profesional.

Lebih jauh, ia mengungkapkan visi untuk menjadikan tembakau Sumedang sebagai komoditas unggulan berkelas nasional hingga internasional. Potensi tembakau mole dan tembakau hitam dinilai memiliki peluang besar untuk menembus pasar yang lebih luas.

“Saya punya mimpi, ketika orang mendengar Sumedang bukan hanya tahu tahu Cilembu, tetapi juga mengenal tembakau berkualitas dari daerah ini,” katanya.

Sementara itu, Plt. Camat Sukasari, Mirsana, menyebutkan wilayahnya merupakan salah satu sentra tembakau unggulan di Sumedang. Desa Sukasari bahkan tengah dikembangkan sebagai agrowisata “Kampung Bako” yang mengintegrasikan produksi, edukasi, dan wisata pertanian.

“Mayoritas masyarakat kami adalah petani, baik tembakau maupun hortikultura. Produk tembakau dari Sukasari telah dipasarkan ke berbagai daerah, termasuk luar Jawa Barat,” jelasnya.

Di sisi lain, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumedang, Tono Suhartono, menuturkan bahwa tembakau merupakan komoditas strategis yang terus didorong pengembangannya.

Ia mengungkapkan, harga tembakau saat ini menunjukkan tren positif, berkisar antara Rp60 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram. Untuk menjaga kualitas dan stabilitas harga, pemerintah terus menghadirkan inovasi seperti pembangunan UV dryer (alat pengering modern) serta penguatan sistem resi gudang.

“Sumedang menjadi salah satu daerah dengan pasar tembakau yang terstruktur. Bahkan, kita sudah mulai merintis ekspor. Ini harus kita jaga dan kembangkan bersama,” pungkasnya. (Red)

Jaksa Agung Lantik Kajati Jawa Barat, Sutikno Resmi Gantikan Hermon Dekristo

0

JAKARTA (Aswajanews.id) – Jaksa Agung ST Burhanuddin melantik Sutikno sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, menggantikan Hermon Dekristo yang mendapat promosi sebagai Sekretaris Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Militer (Sesjampidmil).

Pelantikan berlangsung pada Rabu, 29 April 2026, di Aula Gedung Utama Lantai 11 Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta.

Acara tersebut dihadiri Plt. Wakil Jaksa Agung, para Jaksa Agung Muda, Sekretaris Jaksa Agung Muda, serta para pejabat Eselon II di lingkungan Kejaksaan Agung.

Dalam sambutannya, Jaksa Agung menyampaikan ucapan selamat kepada para pejabat yang baru dilantik. Ia menegaskan bahwa para pejabat tersebut merupakan insan terbaik Adhyaksa yang telah melalui proses kajian mendalam, pertimbangan matang, serta penilaian objektif.

Lebih lanjut, Jaksa Agung menekankan pentingnya penerapan penegakan hukum yang humanis dan proporsional, dengan tetap memperhatikan nilai-nilai keadilan yang hidup di tengah masyarakat. Hal ini, menurutnya, harus seimbang dengan aspek kemanfaatan dan kepastian hukum guna meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi Kejaksaan.

Ia juga mengingatkan agar seluruh jajaran memedomani Surat Jaksa Agung Nomor 3 tanggal 17 Januari 2022 tentang peningkatan pengawasan melekat pada setiap satuan kerja.

Mengakhiri arahannya, Jaksa Agung berharap para pejabat yang baru dilantik dapat menunjukkan kinerja dan prestasi nyata.

“Bekerjalah menggunakan nurani dan akal sehat yang konsisten pada kebenaran,” tegasnya, seraya menekankan pentingnya komitmen bersama dalam menjadikan Kejaksaan sebagai lembaga penegak hukum yang unggul, baik dalam penegakan hukum maupun pelayanan publik. (Red)

AMKI Kartini Award 2026 Angkat 11 Perempuan Inspiratif, Dorong Kepemimpinan di Era Digital

0

JAKARTA (Aswajanews) — Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) menggelar penganugerahan AMKI Kartini Award 2026 di Grand Cendana Aston Kartika Grogol Hotel & Conference Center, Jakarta, Rabu (29/4/2026).

Ajang ini menobatkan 11 perempuan dari berbagai bidang sebagai figur inspiratif yang dinilai berkontribusi dalam kepemimpinan, kebijakan publik, hingga kerja-kerja kemanusiaan.

Mengusung tema “Perempuan Tangguh”, pemberian penghargaan ini tidak sekadar seremoni, tetapi juga sebagai upaya kolektif untuk memperkuat peran perempuan dalam ekosistem media, komunikasi, dan ruang publik yang terus berubah akibat arus digitalisasi.

Ketua Umum AMKI, Ir. Tundra Meliala, MM, GRCE, CPCC, mengatakan semangat Raden Ajeng Kartini menjadi landasan utama penyelenggaraan penghargaan tersebut.

Menurut dia, kemajuan bangsa tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan aktif perempuan dalam pendidikan, pemikiran, dan kepemimpinan.

“Ini bukan sekadar penghargaan, tetapi ikhtiar untuk mengangkat, mengakui, dan memperkuat peran perempuan Indonesia di berbagai sektor strategis,” ujar Tundra dalam sambutannya.

Ia menambahkan, di tengah konvergensi media dan transformasi digital yang berlangsung cepat, perempuan kini semakin menempati posisi penting, mulai dari ruang redaksi, institusi pemerintahan, hingga lini terdepan dalam penanganan krisis sosial dan kemanusiaan.

AMKI sendiri berdiri pada 2025 sebagai respons atas dinamika industri media berbasis teknologi. Dalam kurun waktu satu tahun, organisasi ini telah menjalankan sedikitnya 33 program, dengan AMKI Kartini Award sebagai program ke-33.

“Perempuan bukan hanya pelengkap, tetapi penentu arah masa depan ekosistem informasi yang sehat, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Tundra.

Acara penganugerahan diwarnai pula alunan musik bambu dari grup Pinkan Kolintang. Sementara itu, logo AMKI Kartini Award yang menampilkan potret Kartini bernuansa emas dimaknai sebagai simbol keberanian berpikir maju, keunggulan, serta nilai luhur yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pada penyelenggaraan perdana yang didukung BTN, Paragon, Astra Infra, Xaviera Global Synergy, dan Kokola ini, AMKI menetapkan sembilan kategori penghargaan, yakni Kepemimpinan Nasional, Penggerak Kebijakan Publik, Pengabdian Negara, Bhayangkara Inspiratif, Penggerak Sosial Kemasyarakatan, Tokoh Pemberdayaan Masyarakat, Profesional dan Inovator, Inspirasi Ketahanan dan Kemanusiaan, serta Lifetime Achievement.

Kesembilan kategori tersebut mencerminkan luasnya kontribusi perempuan Indonesia, dari tingkat pusat hingga akar rumput. Dari kategori itu, terpilih 11 penerima penghargaan, meliputi:
1.⁠ Inspektur Daerah Provinsi Banten, Dr. Dra. Hj. Sitti Ma’ani Nina, M.Si., CGCAE
sebagai Penggerak Integritas dan Kepemimpinan Perempuan di Sektor Pemerintahan

  1. Ketua TP PKK Provinsi Banten, Tinawati Andra Soni
    sebagai Pemberdaya Perempuan dan Penguat Ketahanan Keluarga

  2. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten, Dr. Hj. Ati Pramudji Hastuti, MARS
    sebagai Pelopor Layanan Kesehatan untuk Masyarakat

4.⁠ ⁠⁠Kepala Kantor Pertanahan Kota Administrasi Jakarta Barat, Dr. Shinta Purwitasari, S.H., S.T., M.H., QRMP
sebagai Penggerak Pendidikan dan Keadilan Agraria

5.⁠ ⁠Plt. Sekretaris Jenderal (Sekjen) MPR RI, Siti Fauziah, SE., M.M
sebagai Pengawal Demokrasi dan Transformasi Kelembagaan Negara

6.⁠ ⁠Wakil Menteri Pekerjaan Umum periode 2024–2029, Ir. Diana Kusumastuti, M.T
sebagai Penggerak Infrastruktur Berkelanjutan

7.⁠ ⁠Pengusaha kosmetik dan filantropis Indonesia pendiri Wardah, Dr. (HC) Dra. Hj. Nurhayati Subakat
sebagai Wirausaha Visioner dan Penggerak Kemandirian Perempuan

8.⁠ ⁠Founder & CEO PT. Xaviera Global Synergy, Wilda Yanti
sebagai Inovator Ekonomi Hijau dan Keberlanjutan Global

9.⁠ ⁠ANGGOTA DEWAN PERS, Dr. Rosarita Niken Widiastuti, M.Si
sebagai Literasi Digital dan Penjaga Etika Informasi Publik

10.⁠ ⁠Anggota DPRA Aceh dan Istri Gubernur Aceh, Ibu Salmawaty, SE., M.M
sebagai Penggerak Perempuan dan Pembangunan Kesejahteraan Keluarga

11.⁠ ⁠Kabagrenmin Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, AKBP Dr. Netty Rosdiana Siagian, S.H., M.H., M.M
sebagai Bhayangkara Tangguh dalam Penegakan Hukum dan Kepemimpinan

Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Amurwani Dwi Lestariningsih, yang mewakili Menteri P3A Dra Hj. Arifatul Chori Fauzi, MS, membuka acara ini, menilai para penerima penghargaan sebagai representasi “Kartini masa kini” yang tidak hanya memiliki gagasan maju, tetapi juga mampu mewujudkannya dalam tindakan nyata.

“Penghargaan ini diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi berkembang menjadi gerakan moral dan sosial yang menginspirasi semakin banyak perempuan Indonesia untuk terus berkarya dan memimpin perubahan,” ujarnya.

Melalui ajang ini, AMKI menegaskan bahwa penguatan peran perempuan bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak dalam membangun masyarakat yang adil, inklusif, dan berdaya saing di era digital. (Sn)

Kirab Panji dan Mahkota Milangkala Tatar Sunda 2026 Digelar 2 Mei di Sumedang

0

SUMEDANG (Aswajanews) – Perhelatan budaya akbar Kirab Panji dan Mahkota dalam rangka Hari Jadi Sumedang dan Milangkala Tatar Sunda 2026 dipastikan digelar pada Sabtu, 2 Mei 2026 di Kabupaten Sumedang.

Kepastian tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi persiapan Milangkala Tatar Sunda 2026 yang berlangsung di Gedung Pakuan, Bandung, Selasa (28/4/2026). Rapat dipimpin oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, didampingi Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, serta dihadiri Bupati Sumedang dan jajaran Karaton Sumedang Larang.

Dari unsur karaton hadir sejumlah tokoh, di antaranya Lukman Soemadisoeria, Luky Djohari Soemawilaga, Lily Soemawilaga, Endi Setiaji, serta Brian Abriansyah.

Radya Anom Luky Djohari Soemawilaga menyampaikan bahwa hasil rapat menetapkan adanya penyesuaian jadwal rangkaian kegiatan. Semula Milangkala Tatar Sunda direncanakan berlangsung pada 8–18 Mei 2026, namun dimajukan menjadi 2–17 Mei 2026.

“Pembukaan akan diawali pada Sabtu, 2 Mei 2026 di Sumedang melalui Kirab Panji dan Mahkota Kemaharajaan Sunda,” ujarnya.

Kirab tersebut rencananya akan dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi, yang juga akan turut serta mengikuti rangkaian kirab.

Selain perubahan jadwal, rute perjalanan kirab juga mengalami penyesuaian, meski tetap melibatkan sembilan kabupaten/kota seperti yang telah direncanakan sebelumnya.

Kirab Panji dan Mahkota yang disinergikan dengan Milangkala Tatar Sunda ini tidak hanya menjadi bagian dari pelestarian adat dan tradisi budaya Sunda, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur.

Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi momentum evaluasi pembangunan yang didanai APBD Provinsi Jawa Barat di sepanjang jalur yang dilalui kirab.

Dalam rapat tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat ditunjuk untuk mengoordinasikan teknis pelaksanaan, termasuk pembagian tugas kepada organisasi perangkat daerah sesuai lintasan kirab.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga menekankan pentingnya penyesuaian jadwal dengan agenda peringatan Hari Jadi Sumedang agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan selaras, tertib, dan optimal.

Sementara itu, untuk kirab panji Sumedang Larang dari Darmaraja menuju Kota Sumedang akan tetap dilaksanakan seperti biasa pada Jumat, 1 Mei 2026, atau sehari sebelum pembukaan resmi. (Red)

Satlantas Polres Karawang Hadirkan Edukasi Interaktif dalam Program Police Goes to School

0

KARAWANG (Aswaja News) – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Karawang terus menggencarkan edukasi keselamatan berlalu lintas melalui program Police Goes to School. Kali ini, kegiatan digelar di SMPN 5 Karawang Barat pada Rabu (29/4/2026).

Kanit Kamsel Satlantas Polres Karawang, Ipda Angga Mas Bani, bersama jajaran personel turun langsung memberikan pembinaan kepada para siswa dan tenaga pengajar. Kegiatan ini dikemas secara interaktif guna meningkatkan pemahaman sejak dini terkait etika dan keselamatan di jalan raya.

Kasat Lantas Polres Karawang, AKP Sudiriyanto, menegaskan bahwa program ini merupakan langkah preventif untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas, khususnya di kalangan pelajar.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan disiplin berlalu lintas sejak dini demi terwujudnya Kamseltibcarlantas yang Presisi di Kabupaten Karawang,” ujarnya.

Ia menjelaskan, edukasi tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga guru sebagai bagian dari lingkungan pembentuk karakter disiplin. Dengan demikian, pesan keselamatan dapat diterapkan secara konsisten baik di sekolah maupun di rumah.

Dalam kesempatan tersebut, Satlantas juga mengingatkan sejumlah hal penting kepada para pelajar, di antaranya kewajiban menggunakan helm berstandar SNI bagi pengendara sepeda motor, larangan menggunakan ponsel saat berkendara, serta pentingnya mematuhi rambu dan marka jalan.


Selain itu, polisi juga menyoroti fenomena berbahaya di kalangan remaja, seperti aksi menghadang truk demi konten media sosial, yang dinilai sangat membahayakan keselamatan.

“Kami mengimbau peran aktif orang tua untuk mengawasi aktivitas anak-anaknya, termasuk memastikan kelengkapan surat kendaraan seperti SIM dan STNK,” tambah Sudiriyanto.

Tak kalah penting, penggunaan knalpot bising atau brong juga menjadi perhatian karena mengganggu ketertiban umum.

Melalui program ini, Satlantas Polres Karawang berharap tercipta budaya tertib berlalu lintas yang dimulai dari lingkungan pelajar, sehingga mampu menekan angka pelanggaran dan kecelakaan di wilayah Karawang.

“Keselamatan di jalan adalah tanggung jawab bersama. Mari kita bangun budaya disiplin demi keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya,” pungkasnya.

(Ahmad Z)

Halal Bihalal PGRI Sumedang, Wabup Dorong Peningkatan Profesionalisme Guru

0

SUMEDANG (Aswajanews) – Wakil Bupati Sumedang, M. Fajar Aldila, menghadiri kegiatan Halal Bihalal Idul Fitri 1447 H yang digelar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Sumedang di Sekretariat Gedung PGRI, Selasa (28/4/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Ketua PGRI Kabupaten Sumedang, para Ketua PGRI Kecamatan se-Kabupaten Sumedang, serta tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati menyampaikan bahwa PGRI Kabupaten Sumedang memiliki potensi besar dengan jumlah anggota mendekati 12.000 orang, mulai dari jenjang TK hingga SMA.

“Sekitar 5.225 anggota tercatat aktif. Ke depan, kami berharap partisipasi ini terus meningkat, termasuk keterlibatan guru PPPK sebagai bagian dari kekuatan pendidikan di Sumedang,” ujarnya.

Ia menegaskan, PGRI bukan sekadar organisasi profesi, melainkan pilar penting dalam pembangunan sumber daya manusia, khususnya di bidang pendidikan.

“Saya berharap PGRI menjadi rumah besar yang mampu merangkul seluruh guru di Kabupaten Sumedang, tetap dalam koridor aturan, serta menjunjung tinggi profesionalisme dan etika organisasi,” katanya.

Selain itu, Wabup juga mendorong penguatan sinergi antara PGRI tingkat kabupaten dan kecamatan dalam mendukung berbagai program pendidikan.

“Kami mendorong PGRI kecamatan untuk berperan aktif dan konstruktif dalam mengimplementasikan program, dengan tetap mempertimbangkan karakteristik wilayah masing-masing,” ungkapnya.

Ia juga mengajak seluruh guru untuk terus meningkatkan kompetensi dan menjaga profesionalisme, mengingat peran strategis guru dalam membentuk masa depan generasi.

Di akhir sambutannya, ia menyampaikan permohonan maaf apabila Pemerintah Kabupaten Sumedang belum optimal dalam memenuhi kebutuhan guru, khususnya PPPK dan honorer.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang, Dr. Eka Ganjar Kurniawan, menyampaikan bahwa kegiatan halal bihalal ini bertujuan mempererat silaturahmi antar anggota PGRI.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan PGRI Kabupaten Sumedang semakin solid dan mampu memberikan kontribusi positif bagi kemajuan pendidikan,” ujarnya. (Red)

Saatnya Guru MDT Berbicara untuk Kepentingan Bangsa

0
Oleh : Akhmad Sururi (Plt Sekjen DPP FKDT)

Hari ini Rabu, 29 April 2026 Penulis berkesempatan untuk mengikuti simposium guru nasional dengan tajuk ” Penguatan Peningkatan Kompetensi dan Profesionalisme Guru dalam Transformasi Pendidikan Nasional”, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Islam Kemenag RI. Acara yang digelar di Jakarta menghadirikan berbagai organisasi profesi guru tingkat nasional.

Kegiatan ini tentu tidak bisa dilepaskan dari berbagai pergerakan dari komunitas guru di Indonesia yang menuntut kepada pemerintah dengan beberapa tuntutan. Sebagai warga negara Indonesia yang memiliki profesi guru dengan tugas mulia tentu sah sah saja untuk menuntut kepada pemerintah. Alam demokrasi di republik Indonesia tercinta ini tentu tidak memasung pergerakan tuntutan atas penilaian ketidak adilan yang selama ini berjalan.

Guru MDT ( Madrasah Diniyah Takmiliyah ) menjadi entitas bangsa yang memiliki peran penting dalam penguatan pendidikan karakter. Meskipun demikian guru MDT tidak banyak ikut melakukan pergerakan dalam rangka menuntut pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan, kecuali di forum tingkat daerah dengan audiensi atau pendekatan politik dengan para pengambil kebijakan.

Merupakan suatu kehormatan bagi DPP FKDT mendapatkan undangan sebagai peserta untuk urun rembug dalam forum nasional yang akan menentukan nasib pendidik atau guru di republik Indonesia. Guru disini tentu bukan hanya mereka yang mengajar pada lembaga pendidikan formal akan tetapi mereka yang mengajar di lembaga non formal keagamaan ( MDT ) juga termasuk guru. Karena sesungguhnya peran guru itu sama yaitu ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Guru MDT di Indonesia dengan jumlah lebih dari 500 ribu orang yang tersebar di seluruh pelosok tanah air memiliki peran penting dalam mewujudkan generasi yang berakhlak mulia. Akan tetapi eksistensi guru MDT belum berbanding lurus dengan amanah dan tugas yang selama ini dijalankan. Faktor regulasi menjadi hambatan utama yang menjadikan guru MDT selalu termarjinalkan dari pusaran kebijakan pemerintah.

UU Guru dan Dosen belum mengakomodir guru MDT yang mayoritas mendapatkan honor kisadan 100 ribu sampai dengan 200 ribu. Angka ini sungguh sangat jauh dibanding dengan upah karyawan perusahaan atau pegawai honorer di lingkungan pemerintah. Oleh karena itu kehadiran pemerintah melalui penguatan regulasi yang berpihak kepada guru MDT menjadi sangat penting. Karena berangkat dari regulasi tersebut akan berdampak terhadap kesejahteraan guru MDT.

Searah dengan revisi UU No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas sangat diharapkan ada penguatan regulasi untuk lembaga pendidikan MDT yang menjadi pilar dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Tanpa penguatan regulasi MDT akan tetap tertinggal dengan lembaga pendidikan formal.

Sesungguhnya kehadiran MDT dengan akar yang kuat memiliki fungsi yang signifikan dalam mewujudkan generasi Indonesia yang berakhlak mulia dengan karakter keagamaan yang kuat. Hal tersebut tidak bisa dipisahkan dengan kehadiran guru MDT yang melaksanakan tugas mendidik dengan penuh ketulusan. Tulus dan ikhlas seorang guru MDT yang berdampak terhadap akhlak dan perilaku murid murid MDT jauh dari perbuatan kriminalitas termasuk tawuran dan sebagainya.

Oleh karena itu momentum yang sangat tepat dalam simposium guru nasional untuk merumuskan skema keberpihakan pemerintah kepada Guru MDT. Terbitnya Kepres Tentang Direktorat Pesantren sangat diharapkan melahirkan kebijakan yang bertumpu kepada profesionalisme guru MDT yang akan berdampak terhadap peningkatan mutu pendidikan MDT. ***

Kaltim Memanas: Sejumlah Kebijakan dan Kontroversi Pemerintahan Provinsi Jadi Sorotan Publik

0

KALIMANTAN TIMUR (Aswajanews) — Dinamika pemerintahan di Kalimantan Timur dalam beberapa waktu terakhir menjadi sorotan publik. Sejumlah kebijakan, pernyataan pejabat, hingga isu tata kelola internal memicu reaksi masyarakat dan memunculkan berbagai pertanyaan terkait arah kepemimpinan di daerah tersebut.

Sejak awal masa pemilihan kepala daerah, sejumlah isu telah lebih dulu mengemuka. Beberapa di antaranya terkait dugaan praktik politik kekerabatan serta penggunaan strategi kampanye digital, termasuk keterlibatan influencer. Namun, isu-isu tersebut sebagian besar beredar di ruang publik tanpa seluruhnya terkonfirmasi secara resmi.

Memasuki masa pemerintahan, perhatian publik semakin meningkat setelah muncul persoalan distribusi bahan bakar minyak (BBM) yang dilaporkan berdampak pada kerusakan kendaraan di sejumlah wilayah. Sejumlah warga diketahui mengambil langkah hukum, meski hingga kini proses dan hasil penanganannya masih terus berjalan.

Di sisi lain, komunikasi publik pemerintah daerah juga menjadi perhatian. Pernyataan pejabat dalam forum resmi yang dinilai menyentuh wilayah sensitif antardaerah memicu respons dari masyarakat, baik di dalam maupun luar Kalimantan Timur.

Sumber di lingkungan pemerintahan daerah, yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, menyebutkan adanya persepsi mengenai pengaruh pihak non-struktural dalam proses pengambilan kebijakan. Namun, klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen dan belum mendapat tanggapan resmi dari pihak terkait.

Relasi antara pemerintah daerah dan media juga turut menjadi sorotan. Sejumlah jurnalis menyampaikan adanya tantangan dalam peliputan isu-isu tertentu. Meski demikian, belum ada pernyataan resmi dari otoritas terkait yang mengonfirmasi adanya tekanan terhadap kerja jurnalistik.

Dalam aspek anggaran, publik menyoroti keberadaan tim ahli dengan jumlah signifikan serta alokasi dana yang disebut mencapai miliaran rupiah. Pemerintah daerah menyatakan bahwa keberadaan tim tersebut dimaksudkan untuk memperkuat kapasitas perumusan kebijakan. Namun, efektivitas dan urgensinya masih menjadi perdebatan di tengah masyarakat.

Selain itu, muncul pula perhatian terhadap sejumlah kebijakan lain, seperti program bantuan pendidikan yang dikabarkan mengalami perubahan, pengadaan kendaraan dinas, serta renovasi rumah jabatan. Pemerintah daerah memberikan penjelasan beragam, mulai dari kebutuhan operasional hingga peningkatan representasi kelembagaan.

Kebijakan terkait kepesertaan bantuan kesehatan juga memicu reaksi, termasuk dari kalangan internal pemerintahan daerah. Hal ini menunjukkan adanya dinamika dalam proses pengambilan keputusan di tingkat daerah.

Puncak dari berbagai persoalan tersebut terlihat dalam aksi demonstrasi yang dilakukan sejumlah kelompok masyarakat. Massa aksi menyampaikan aspirasi secara langsung dan berharap adanya dialog terbuka dengan pimpinan daerah. Namun, hingga aksi berakhir, tuntutan untuk bertemu secara langsung belum terpenuhi.

Pemerintah daerah sebelumnya menyatakan komitmen terhadap keterbukaan pelayanan publik. Namun, sebagian masyarakat menilai masih terdapat kesenjangan antara pernyataan tersebut dengan implementasi di lapangan.

Pengamat kebijakan publik menilai bahwa situasi ini membutuhkan respons yang terukur dan transparan dari pemerintah daerah. “Yang dibutuhkan masyarakat saat ini adalah kejelasan informasi, konsistensi kebijakan, dan ruang komunikasi yang terbuka,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak pemerintah provinsi belum memberikan keterangan resmi secara menyeluruh terkait berbagai isu yang berkembang di masyarakat. (Bambang K)

Gus Syaffa Tekankan Pentingnya Pemahaman Ideologi NU bagi Pelajar SMA NU Al Fattah Tegalgandu

0

BREBES (Aswajanews.id) – Pimpinan Yayasan Al Fattah, H. Musyaffa, Lc atau yang akrab disapa Gus Syaffa, menekankan pentingnya pemahaman keagamaan berbasis Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) bagi kader Nahdlatul Ulama (NU) di kalangan pelajar, khususnya di SMA NU Al Fattah Tegalgandu, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes.

Menurutnya, pemahaman tentang NU tidak boleh sekadar ikut-ikutan tradisi keluarga atau lingkungan. Lebih dari itu, para pelajar harus memiliki keyakinan ideologis bahwa NU dengan ajaran Aswaja An-Nahdliyah merupakan dasar yang kuat untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Ini pertanyaan mendasar yang harus bisa dijawab oleh kalian sebagai kader NU: mengapa memilih NU? Jangan hanya karena faktor keturunan atau lingkungan, tetapi karena pemahaman dan keyakinan,” ujar Gus Syaffa saat memberikan sambutan dalam kegiatan Penguatan Ideologi Aswaja di SMA NU Al Fattah, Jumat (24/4/2026).

Ia menegaskan, menjadi kader NU yang berkualitas harus dimulai dari penguatan pemahaman sejak usia sekolah. Meski jumlah peserta tidak banyak, Gus Syaffa menilai kehadiran mereka menunjukkan komitmen tinggi dalam mendalami ke-NU-an.

Sebagai bentuk evaluasi, Gus Syaffa juga menantang peserta untuk menulis narasi terkait dua pertanyaan utama: apa yang diketahui tentang NU dan bagaimana kondisi NU saat ini. Hasil tulisan tersebut akan menjadi indikator perkembangan pemahaman peserta, sekaligus berkesempatan mendapatkan apresiasi.

Sebelumnya, narasumber kegiatan, Akhmad Sururi, memaparkan sejarah Aswaja yang berawal pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Ia menjelaskan bahwa benih perpecahan umat mulai muncul pada masa Khalifah Utsman bin Affan dan berlanjut hingga masa Ali bin Abi Thalib, yang kemudian berkembang ke ranah pemikiran keagamaan.

Dari dinamika tersebut, lanjutnya, lahirlah tokoh-tokoh yang merumuskan paham Aswaja, seperti Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi, yang menjadi landasan teologis mayoritas umat Islam, termasuk di Indonesia.

Kegiatan ini turut dihadiri Kepala SMA NU Al Fattah, Rikhatul Unim, S.Pd, beserta para pembina dan pengurus IPNU-IPPNU Komisariat SMA NU Al Fattah. (Red/Nas)

Integrasi Ilmu: Fondasi Peradaban dalam Membangun Generasi Muslim Global yang Religius dan Kompetitif

0
Oleh: A'isy Hanif Firdaus, S.Ag. , M.Pd.

Di tengah arus globalisasi yang semakin cepat dan kompleks, umat Islam dihadapkan pada tantangan yang tidak sederhana hari ini. Dunia tidak lagi bergerak dalam batas-batas lokal yang sempit, melainkan dalam jejaring global yang menuntut kecepatan, ketepatan, dan kedalaman dalam berpikir serta bertindak. Teknologi berkembang pesat, membawa perubahan dalam hampir seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari ekonomi, pendidikan, hingga cara manusia berinteraksi dan memahami realitas. Dalam konteks ini, pertanyaan mendasar yang harus dijawab oleh dunia Islam adalah bagaimana membangun generasi yang tetap religius, tetapi sekaligus mampu bersaing dan berkontribusi di tingkat global?

Jawaban paling mendasar atas pertanyaan tersebut terletak pada integrasi ilmu. Keberadaannya bukan sekadar salah satu aspek dalam pembaruan pendidikan, melainkan fondasi utama yang menentukan arah peradaban.

Tanpa integrasi ilmu, segala upaya peningkatan kualitas pendidikan akan berjalan parsial dan tidak menyentuh pada akar persoalan. Integrasi ilmu adalah titik temu antara iman dan rasio, antara wahyu dan akal, antara nilai dan realitas.

Selama berabad-abad, dunia pendidikan Islam sering terjebak dalam pola pikir dikotomis yang memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu agama diposisikan sebagai sesuatu yang suci, berkaitan dengan ibadah dan kehidupan akhirat, sementara ilmu umum dianggap sebagai sesuatu yang duniawi, netral, dan tidak memiliki dimensi spiritual. Pemisahan ini bukan hanya bersifat konseptual, tetapi juga terinstitusionalisasi dalam sistem pendidikan terlihat dari pemisahan sekolah agama dan sekolah umum, kurikulum yang berbeda, hingga cara pandang masyarakat terhadap kedua jenis ilmu tersebut.

Dampak dari dikotomi ini sangat besar. Di satu sisi, lahir generasi yang kuat dalam aspek ritual keagamaan, tetapi kurang memiliki kemampuan untuk membaca dan merespons perkembangan zaman. Mereka mungkin memahami teks-teks klasik dengan baik, tetapi kesulitan ketika dihadapkan pada isu-isu kontemporer seperti kecerdasan buatan, bioteknologi, ekonomi digital, atau perubahan iklim. Di sisi lain, muncul generasi yang unggul dalam sains dan teknologi, tetapi kehilangan arah moral. Mereka mampu menciptakan inovasi, tetapi tidak selalu mempertimbangkan dampak etis dan kemanusiaan dari inovasi tersebut.

Akibatnya, umat Islam mengalami keterbelahan identitas. Ada yang religius tetapi tidak progresif, dan ada yang progresif tetapi tidak religius. Dua kutub ini berjalan sendiri-sendiri tanpa sinergi, sehingga sulit melahirkan peradaban yang kuat dan berkelanjutan. Padahal, sejarah Islam justru menunjukkan sebaliknya. Pada masa keemasan peradaban Islam, para ilmuwan Muslim seperti Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Al-Khawarizmi tidak mengenal dikotomi ilmu. Mereka menguasai berbagai bidang ilmu sekaligus kedokteran, filsafat, matematika, dan teologi dalam satu kesatuan yang utuh.

Dari sini dapat dipahami bahwa dikotomi ilmu bukanlah warisan asli dari tradisi Islam, melainkan hasil dari proses historis yang panjang, termasuk pengaruh kolonialisme dan modernisasi yang tidak utuh. Oleh karena itu, mengembalikan integrasi ilmu bukanlah langkah mundur, melainkan justru langkah maju untuk kembali pada akar peradaban Islam yang autentik.

Integrasi ilmu dalam konteks pendidikan modern berarti menyatukan dimensi spiritual dan rasional dalam satu kerangka berpikir yang utuh. Ilmu tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang bebas nilai, tetapi sebagai amanah yang harus digunakan untuk kemaslahatan. Seorang pelajar tidak hanya diajarkan bagaimana memahami dunia secara ilmiah, tetapi juga bagaimana memaknai dan mengarahkan pengetahuan tersebut sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Dalam praktiknya, integrasi ini dapat diwujudkan melalui desain kurikulum yang holistik. Misalnya, dalam pembelajaran sains, siswa tidak hanya mempelajari hukum-hukum alam secara mekanis, tetapi juga diajak untuk merenungkan keteraturan dan keseimbangan alam sebagai tanda kebesaran Allah. Dalam pembelajaran ekonomi, siswa tidak hanya diajarkan tentang mekanisme pasar dan keuntungan, tetapi juga tentang keadilan distribusi, etika bisnis, dan tanggung jawab sosial. Dalam bidang teknologi, siswa tidak hanya belajar membuat sistem canggih, tetapi juga memahami implikasi etis dari teknologi tersebut.

Pendekatan ini akan melahirkan cara pandang baru terhadap ilmu. Ilmu tidak lagi dipisahkan dari nilai, tetapi justru dipandu oleh nilai. Religiusitas tidak lagi menjadi wilayah privat yang terpisah dari aktivitas intelektual, tetapi menjadi landasan dalam seluruh proses berpikir dan bertindak. Dengan demikian, seorang Muslim tidak perlu memilih antara menjadi religius atau menjadi modern. Keduanya dapat berjalan beriringan dalam satu identitas yang utuh.

Lebih jauh lagi, integrasi ilmu memiliki implikasi besar terhadap daya saing global. Dunia saat ini menghadapi berbagai krisis yang kompleks krisis lingkungan, krisis ekonomi, krisis moral, dan krisis kemanusiaan. Banyak dari krisis ini muncul karena penggunaan ilmu dan teknologi yang tidak disertai dengan pertimbangan etis. Dalam situasi seperti ini, dunia membutuhkan paradigma baru yang tidak hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, tetapi juga kebijaksanaan moral.

Generasi Muslim yang dibentuk melalui integrasi ilmu memiliki potensi besar untuk menjawab kebutuhan ini. Mereka tidak hanya memiliki kompetensi teknis yang tinggi, tetapi juga memiliki kesadaran etis yang kuat. Mereka mampu menciptakan inovasi yang tidak hanya canggih, tetapi juga berkeadilan dan berkelanjutan. Inilah bentuk keunggulan kompetitif yang sesungguhnya keunggulan yang tidak hanya diukur dari capaian material, tetapi juga dari kontribusi terhadap kemanusiaan.

Namun, mewujudkan integrasi ilmu bukanlah tugas yang mudah membutuhkan perubahan mendasar dalam berbagai aspek pendidikan. Pertama, perubahan dalam cara pandang para pendidik. Guru dan dosen harus memahami bahwa tugas mereka tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga membentuk cara berpikir dan karakter siswa. Mereka harus mampu mengaitkan materi pelajaran dengan nilai-nilai Islam secara relevan dan kontekstual.

Kedua, perubahan dalam metode pembelajaran. Proses belajar tidak lagi bersifat satu arah, tetapi harus dialogis dan reflektif. Siswa harus didorong untuk bertanya, berdiskusi, dan mengaitkan pengetahuan dengan realitas kehidupan. Pendekatan interdisipliner juga perlu dikembangkan, sehingga siswa dapat melihat keterkaitan antara berbagai bidang ilmu.

Ketiga, perubahan dalam struktur kurikulum. Kurikulum tidak boleh lagi memisahkan secara kaku antara “ilmu agama” dan “ilmu umum”. Sebaliknya, harus ada upaya sistematis untuk mengintegrasikan keduanya dalam setiap mata pelajaran. Ini bukan berarti semua mata pelajaran harus diisi dengan dalil-dalil agama secara formal, tetapi bagaimana nilai-nilai Islam dapat menjadi ruh yang menjiwai seluruh proses pembelajaran.

Keempat, dukungan dari lingkungan sosial dan kebijakan. Integrasi ilmu tidak akan berhasil jika tidak didukung oleh ekosistem yang kondusif. Orang tua, masyarakat, dan pemerintah harus memiliki visi yang sama tentang pentingnya pendidikan yang holistik. Kebijakan pendidikan juga harus memberikan ruang bagi inovasi dan eksperimen dalam pengembangan kurikulum.

Selain itu, integrasi ilmu juga harus diiringi dengan penguatan literasi global. Generasi Muslim harus mampu berkomunikasi dalam bahasa internasional, memahami perkembangan teknologi, dan terlibat dalam jaringan global. Namun, keterbukaan ini tidak boleh membuat mereka kehilangan identitas. Justru, dengan identitas yang kuat, mereka dapat berinteraksi dengan dunia secara percaya diri dan konstruktif.

Dalam konteks ini, penguasaan bahasa seperti Inggris dan Arab menjadi penting, tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai jembatan untuk mengakses berbagai sumber pengetahuan. Literasi digital juga menjadi kunci, karena hampir seluruh aktivitas global saat ini berbasis teknologi. Namun, semua ini harus diarahkan oleh nilai-nilai Islam, sehingga tidak terjebak dalam arus informasi yang tidak terkendali.

Pada akhirnya, integrasi ilmu adalah tentang membangun manusia yang utuh. Manusia yang tidak terpecah antara iman dan akal, antara dunia dan akhirat, antara nilai dan realitas. Manusia yang mampu berpikir secara kritis, bertindak secara etis, dan berkontribusi secara nyata. Inilah profil generasi Muslim global yang religius dan kompetitif.

Generasi ini tidak hanya menjadi konsumen ilmu, tetapi juga produsen pengetahuan. Mereka tidak hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga mampu menciptakan arah baru bagi peradaban. Mereka hadir di berbagai bidang sains, teknologi, ekonomi, politik, dan budaya dengan membawa nilai-nilai Islam sebagai sumber inspirasi dan solusi.

Jika integrasi ilmu benar-benar diwujudkan dalam sistem pendidikan, maka kita tidak hanya sedang memperbaiki kurikulum, tetapi sedang membangun masa depan. Masa depan di mana umat Islam tidak lagi berada di pinggiran peradaban, tetapi menjadi aktor utama yang memberi warna dan arah. Masa depan di mana religiusitas bukan menjadi simbol, tetapi menjadi kekuatan yang menggerakkan perubahan.

Dengan demikian, integrasi ilmu bukan sekadar konsep, tetapi sebuah keniscayaan menjadi jembatan antara masa lalu yang gemilang dan masa depan yang penuh harapan. kunci untuk membuka kembali pintu kejayaan peradaban Islam bukan dengan meniru, tetapi dengan berinovasi bukan dengan meninggalkan identitas, tetapi dengan menguatkannya.

Di titik inilah, kita dapat melihat bahwa religiusitas dan daya saing global bukanlah dua hal yang bertentangan. Keduanya justru saling menguatkan. Religiusitas memberi arah, sementara daya saing memberi daya. Ketika keduanya bersatu dalam integrasi ilmu, maka lahirlah generasi Muslim yang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga mampu memimpin dan memberi manfaat bagi seluruh umat manusia.

Wallahu A’lam Bishowwab semoga bermanfaat

*A’isy Hanif Firdaus, S.Ag., M.Pd. (Alumni Program Magister Pascasarjana Universitas Wahid Hasyim Semarang, Penulis Keislaman, Sekretaris PRNU KEDAWON, Pengurus LTNNU PCNU Brebes)

Guru MDT, Khidmah Tanpa Batas: Rois Syuriyah PWNU Jateng Tekankan Pengabdian Seumur Hidup

0

UNGARAN (Aswajanews) – Menjadi guru Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) bukan sekadar profesi, melainkan bentuk pengabdian atau khidmah seumur hidup. Hal ini ditegaskan oleh KH Ubadillah Shodaqoh saat menyampaikan mauidzah hasanah dalam peringatan Harlah ke-14 FKDT tingkat Jawa Tengah.

Menurutnya, kedekatan geografis antara guru dan murid MDT menjadikan peran pengawasan tidak berhenti di ruang kelas. “Guru MDT tidak hanya mengawasi saat mengajar, tetapi juga di luar itu, karena mereka hidup di lingkungan yang sama dengan murid,” ujarnya dalam acara yang digelar di kawasan Makam Syekh Hasan Munadi, Nyatnyono, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Kamis (23/4/2026).

Ia menambahkan, relasi antara guru dan murid MDT bahkan berlangsung hingga murid tumbuh dewasa. Hal ini berbeda dengan guru di lembaga formal yang kerap terpisah jarak dan waktu setelah masa tugas berakhir. “Menjadi guru MDT adalah khidmah sepanjang hayat,” tegasnya.

Meski honor yang diterima relatif minim, Yai Ubaid menilai peran guru MDT sangat mulia karena menjadi ladang amal ibadah. Ilmu agama yang diajarkan secara turun-temurun akan terus mengalir sebagai pahala jariyah. Selain itu, keberadaan MDT juga berfungsi sebagai “terapi sosial” bagi anak-anak untuk mengurangi ketergantungan pada gadget, terutama setelah mereka mengikuti pendidikan formal di pagi hari.


Acara Harlah ke-14 FKDT Jawa Tengah ini turut dihadiri berbagai unsur pemerintahan dan tokoh penting, di antaranya perwakilan Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, serta Pemerintah Kabupaten Semarang.

Sebelum seremoni utama, kegiatan diawali dengan mujahadah dan pembacaan manaqib yang dipimpin oleh Abdul Rohman, diikuti jamaah Mujahadah Legian yang rutin digelar setiap malam pasaran Legi.

Sekretaris DPW FKDT Jawa Tengah, Zahid Hasani, bersama jajaran pengurus lainnya juga tampak hadir, termasuk perwakilan DPC FKDT kabupaten/kota se-Jawa Tengah yang memenuhi pendopo agung sekretariat.

Sebagai penutup, dilakukan pemotongan tumpeng sebanyak 14 buah sebagai simbol usia FKDT yang ke-14 tahun, yang kemudian dinikmati bersama oleh seluruh jamaah yang hadir dalam suasana penuh kebersamaan dan rasa syukur. (Red/Nas)

Imam Harus Jadi Teladan Umat, Nasaruddin Umar Tekankan Nilai Kemanusiaan dan Moderasi

0
Menag saat bersilaturahim dengan Pimpinan Wilayah IPIM Sulawesi Tengah di Palu, Sabtu (26/4/2026)

PALU (Aswajanews.id) – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pesan penting kepada para imam masjid di seluruh Indonesia agar mengedepankan keteladanan serta aktif menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan beragama.

Pesan tersebut disampaikan saat silaturahmi dengan Pimpinan Wilayah Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Sulawesi Tengah di Kota Palu, Sabtu (26/4/2026). Turut hadir dalam kegiatan itu Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tengah Junaidin beserta jajaran pengurus PW IPIM setempat.

Menag menegaskan, imam bukan sekadar pemimpin ibadah, tetapi juga figur sentral yang menjadi panutan masyarakat. Karena itu, ia mengingatkan agar para imam menjaga sikap, termasuk tidak membuka atau mempertontonkan persoalan pribadi di ruang publik.

“Imam harus memiliki sifat fashahah (fasih), afif (menjaga diri), muru’ah (bermartabat), istiqamah (konsisten), dan tawadhu (rendah hati). Dengan begitu, wibawa imam akan semakin kuat di tengah masyarakat,” ujar Menag.

Sebagai Ketua Umum PP IPIM, Menag juga berharap organisasi Ittihad Persaudaraan Imam Masjid mampu memperkuat posisi strategis imam dalam pembinaan umat. Ia menekankan pentingnya soliditas dan persatuan di antara para pengurus serta anggota.

Selain itu, Menag menyoroti pentingnya pemberdayaan imam melalui penguasaan ilmu keagamaan yang komprehensif. Ia juga menggarisbawahi urgensi sikap moderat dalam beragama, serta transparansi dalam pengelolaan keuangan masjid.

“Manajemen masjid yang baik akan meningkatkan kepercayaan jamaah dan mempererat hubungan antara masyarakat dengan masjid,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menag turut mengungkapkan rencana penyelenggaraan konferensi imam internasional yang akan digelar pada Agustus 2026 di Kalimantan Timur. Forum ini diharapkan menjadi ruang strategis untuk mendorong diplomasi religius dan kemanusiaan.

“Melalui forum tersebut, imam diharapkan mampu berperan sebagai duta nilai-nilai kemanusiaan di tingkat global,” pungkasnya.

Kegiatan silaturahmi ini dihadiri para pengurus PW IPIM Sulawesi Tengah sebagai bagian dari upaya memperkuat peran imam dalam membina umat. (Red)

KPK Usul Batasi Masa Jabatan Ketum Parpol, Golkar–PKS Dukung, Partai Lain Tuding Intervensi

0

JAKARTA (Aswajanews) – Usulan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk membatasi masa jabatan ketua umum partai politik maksimal dua periode memantik perdebatan sengit. Di satu sisi, langkah ini dipuji sebagai terobosan untuk memutus rantai oligarki kekuasaan di tubuh partai. Namun di sisi lain, kritik keras bermunculan, bahkan menuding KPK telah melampaui batas kewenangannya.

Dukungan terbuka datang dari Partai Golkar dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Keduanya melihat usulan ini bukan sekadar wacana normatif, melainkan kebutuhan mendesak untuk mencegah konsentrasi kekuasaan yang berpotensi melahirkan praktik koruptif.

Golkar secara eksplisit menyoroti bahaya laten dominasi figur tunggal dalam waktu panjang. Ketergantungan berlebih pada satu tokoh dinilai tidak hanya menghambat regenerasi, tetapi juga berpotensi menciptakan “zona nyaman kekuasaan” yang minim kontrol internal.

“Ini bukan soal administratif, ini soal kesehatan demokrasi partai. Kalau kepemimpinan terlalu lama dipegang satu orang, potensi stagnasi dan penyalahgunaan kewenangan makin besar,” ujar sumber internal Golkar.

Sementara itu, PKS menegaskan bahwa konsep pembatasan masa jabatan bukan hal baru. Partai ini mengklaim telah lama menerapkan sistem rotasi kepemimpinan sebagai bagian dari mekanisme kaderisasi dan pencegahan penumpukan kekuasaan.

“Di kami, pembatasan jabatan adalah instrumen kontrol. Ini justru memperkuat organisasi, bukan melemahkan,” tegas perwakilan PKS.

Namun, tidak semua partai sejalan. Sejumlah partai politik lain justru mengambil posisi berseberangan. Mereka menilai usulan KPK sebagai bentuk intervensi berlebihan terhadap otonomi partai.

Argumen yang mengemuka: struktur kepemimpinan dan masa jabatan merupakan domain internal yang sepenuhnya diatur dalam AD/ART. Campur tangan lembaga negara, apalagi lembaga penegak hukum, dinilai berbahaya bagi independensi partai politik sebagai pilar demokrasi.

“Ini preseden buruk. Kalau hari ini KPK bisa mengatur masa jabatan ketua umum, besok apa lagi yang akan diintervensi?” ujar salah satu elite partai yang menolak usulan tersebut.

Lebih jauh, kritik juga menyasar legitimasi KPK dalam mengajukan rekomendasi tersebut. Sejumlah pengamat mempertanyakan apakah lembaga antirasuah itu sedang memperluas perannya dari penindakan korupsi ke ranah rekayasa sistem politik.

Di balik polemik ini, tersimpan persoalan yang lebih mendasar: lemahnya tata kelola internal partai politik. KPK dalam rekomendasinya tidak hanya menyoroti masa jabatan, tetapi juga membuka borok lama—minimnya transparansi keuangan, lemahnya sistem kaderisasi, hingga absennya mekanisme checks and balances yang efektif.

Fakta menunjukkan, banyak kasus korupsi di Indonesia berakar dari struktur kekuasaan partai yang terlalu terpusat dan minim pengawasan. Dalam konteks ini, pembatasan masa jabatan dipandang sebagai salah satu pintu masuk untuk membongkar praktik oligarki yang selama ini mengakar.

Kini, bola panas berada di tangan pembuat kebijakan dan parlemen. Pertanyaannya: apakah semangat reformasi politik ini akan benar-benar diterjemahkan menjadi regulasi yang mengikat, atau justru kandas oleh resistensi elite partai yang merasa terancam?

Perdebatan ini belum usai. Yang jelas, usulan KPK telah membuka kotak pandora tentang siapa sesungguhnya yang mengendalikan partai politik—kader, atau segelintir elite yang enggan melepas kekuasaan. (Sumber referensi: CNN Indonesia (24 April 2026), Kompas, Merdeka.com, DetikNews)

ORARI Kabupaten Bandung Kukuhkan 56 Anggota Baru, Tunjukkan Eksistensi di Era Digital

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI) Lokal Kabupaten Bandung mengukuhkan 56 anggota baru dari Angkatan ke-67 dalam kegiatan yang digelar di Sekolah Alam SMP Prima Cendekia Islami, Desa Warnasari, Pangalengan, Sabtu–Minggu (25–26/4/2026).

Ketua ORARI Lokal Kabupaten Bandung, H. Dadan Konjala, SH, menjelaskan bahwa pengukuhan dilakukan setelah para calon anggota menyelesaikan seluruh tahapan administrasi dan teknis sesuai ketentuan.

“Prosesnya dimulai dari pendaftaran Ujian Amatir Radio (UNAR) melalui sistem e-Licensing SDPPI, kemudian mengikuti ujian sesuai jadwal. Setelah dinyatakan lulus, peserta memperoleh Izin Amatir Radio (IAR) dan resmi dikukuhkan sebagai anggota,” ujarnya.

Pemegang callsign YB1MYT ini mengaku bangga atas antusiasme masyarakat yang tetap tinggi terhadap dunia amatir radio. Menurutnya, kehadiran 56 anggota baru menjadi bukti bahwa hobi ini tetap relevan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

“Meski berada di era digital, amatir radio tidak ditinggalkan. Justru para anggotanya terus beradaptasi dan berinovasi dengan memanfaatkan teknologi,” tambahnya.

Hal senada disampaikan Ketua ORARI Daerah Jawa Barat, Ir. H. Yana Koryana, MP. Ia menegaskan bahwa amatir radio kini telah bertransformasi dengan memadukan teknologi komunikasi modern.

“Sekarang tidak hanya komunikasi suara analog, tetapi juga menggunakan mode digital seperti FT8, JS8Call, dan DMR yang lebih efisien dan jernih,” jelas pemegang callsign YB1AR tersebut.

Ia juga menyoroti integrasi amatir radio dengan internet dan satelit, yang memungkinkan komunikasi lintas benua melalui perangkat sederhana.

“Teknologi seperti Echolink dan gateway digital memperluas jangkauan komunikasi. Bahkan, komunikasi melalui satelit amatir kini semakin mudah diakses,” katanya.

Selain mengikuti perkembangan teknologi, ORARI juga memiliki peran strategis dalam aspek sosial kemasyarakatan, khususnya dalam situasi darurat.

“ORARI menjadi garda terdepan dalam menyediakan komunikasi darurat saat jaringan seluler atau internet lumpuh akibat bencana. Kami juga memiliki CORE ORARI yang terlibat dalam operasi SAR dan distribusi bantuan,” ungkapnya.

Yana turut mengapresiasi eksistensi ORARI Lokal Kabupaten Bandung pasca penggabungan wilayah Bandung Selatan dan Bandung Timur. Dengan mengusung motto “Kagok Edan Jawara Sakalian”, organisasi ini dinilai konsisten aktif dalam berbagai kegiatan, termasuk kebencanaan.

Bahkan, ORARI Kabupaten Bandung mencatat prestasi membanggakan dengan meraih juara umum empat kali berturut-turut dalam ajang Jawa Barat Field Day, kompetisi bergengsi yang menguji kemampuan teknis amatir radio.

“Ini menunjukkan kualitas dan soliditas anggota yang luar biasa,” pungkasnya.

(Red)

Police Goes to School di SMAN 4 Karawang, Satlantas Tekankan Disiplin dan Keselamatan Berlalu Lintas

0

KARAWANG (Aswaja News) – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Karawang terus menggencarkan edukasi keselamatan berlalu lintas melalui program Police Goes to School. Kali ini, kegiatan digelar di SMAN 4 Karawang, Senin (27/4/2026).

Kanit Kamsel Satlantas Polres Karawang, Ipda Angga Mas Bani, bersama jajaran personel memberikan pembinaan langsung kepada para guru dan siswa terkait pentingnya etika serta kedisiplinan dalam berlalu lintas.

Kasat Lantas Polres Karawang, AKP Sudiriyanto, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah preventif untuk menekan angka kecelakaan, khususnya di kalangan pelajar.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan kesadaran kolektif agar tercipta Kamseltibcarlantas yang Presisi di Kabupaten Karawang,” ujar Sudiriyanto.

Ia menekankan bahwa pelajar sebagai pengguna jalan harus memahami risiko berkendara, sekaligus menjadi pelopor keselamatan di lingkungan masing-masing.

Dalam kesempatan tersebut, Satlantas memberikan sejumlah imbauan tegas, di antaranya kewajiban penggunaan helm berstandar SNI bagi pengendara maupun penumpang sepeda motor, larangan menggunakan ponsel atau merokok saat berkendara, serta tidak membawa penumpang lebih dari satu orang.

Selain itu, penggunaan knalpot brong juga kembali disoroti karena dinilai mengganggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat

“Patuhi rambu lalu lintas dan marka jalan. Kelalaian sekecil apa pun bisa berakibat fatal,” tegasnya.

Tak hanya menyasar pelajar, pihak kepolisian juga mengingatkan peran penting orang tua dalam mengawasi aktivitas anak, termasuk melarang aksi berbahaya seperti menghadang truk demi konten media sosial.

Di akhir penyampaiannya, Sudiriyanto mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya tertib berlalu lintas.

“Keselamatan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya aparat, tetapi juga seluruh pengguna jalan,” pungkasnya.
(Liputan: Ahmad Z)

10 PTKIN Tembus Top 100 Webometrics 2026, UIN Bandung Pimpin Peringkat Nasional

0
Kampus 2 UIN Sunan Gunung Jati Bandung di Jalan Cimencrang, Panyileukan, Cimencrang, Gedebage, Kota Bandung, Jawa Barat. /Tangkapan layar/youtube.com/@UIN SGD Bandung

JAKARTA (Aswajanews) – Lembaga pemeringkatan global Webometrics kembali merilis daftar perguruan tinggi terbaik dunia melalui edisi Webometrics Global Web Rankings for Universities Januari 2026.

Dalam rilis terbaru tersebut, sebanyak 100 perguruan tinggi Indonesia berhasil masuk pemeringkatan global dari lebih 32.000 institusi di lebih dari 200 negara. Dari jumlah itu, terdapat 10 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang sukses menembus jajaran top 100 nasional.

Pemeringkatan Webometrics didasarkan pada tiga indikator utama, yakni visibilitas (50 persen), transparansi atau jumlah sitasi peneliti (10 persen), serta keunggulan riset berbasis publikasi ilmiah bereputasi (40 persen).

Berdasarkan data yang diakses pada Minggu (26/4/2026), berikut daftar 10 PTKIN yang masuk 100 besar Indonesia:

  1. UIN Sunan Gunung Djati Bandung
    Peringkat Indonesia: 29
    Peringkat Dunia: 2.444
  2. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
    Peringkat Indonesia: 48
    Peringkat Dunia: 3.159
  3. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
    Peringkat Indonesia: 70
    Peringkat Dunia: 3.920
  4. UIN Raden Intan Lampung
    Peringkat Indonesia: 75
    Peringkat Dunia: 4.038
  5. UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
    Peringkat Indonesia: 76
    Peringkat Dunia: 4.059
  6. UIN Alauddin Makassar
    Peringkat Indonesia: 81
    Peringkat Dunia: 4.112
  7. UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi
    Peringkat Indonesia: 87
    Peringkat Dunia: 4.166
  8. UIN Raden Fatah Palembang
    Peringkat Indonesia: 89
    Peringkat Dunia: 4.206
  9. UIN Sunan Ampel Surabaya
    Peringkat Indonesia: 90
    Peringkat Dunia: 4.208
  10. UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten
    Peringkat Indonesia: 96
    Peringkat Dunia: 4.307

Capaian ini menunjukkan bahwa PTKIN terus mengalami peningkatan kualitas, khususnya dalam aspek visibilitas digital dan kontribusi riset ilmiah di tingkat global.

Dengan semakin kompetitifnya indikator pemeringkatan internasional, perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia dituntut untuk terus memperkuat publikasi ilmiah, kolaborasi riset, serta reputasi akademik di kancah global.

Yang paling mencuri perhatian adalah UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang berhasil menembus peringkat 29 nasional dan posisi 2.444 dunia—menjadikannya PTKIN terbaik di Indonesia tahun ini.

Sementara itu, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta juga masuk jajaran atas, mempertegas tren kebangkitan kampus-kampus Islam di level nasional. (*)

Aliansi Militer Dunia Islam Mulai Dibentuk, 4 Negara Ini Siap Tandingi NATO dan Redam Agresi Israel

0
Menteri Luar Negeri Turkiye Hakan Fidan (kedua dari kanan), Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan Al-Saud (kanan), Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty (kiri), dan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar (kedua dari kiri) berpose bersama dalam Antalya Diplomacy Forum 2026 (ADF2026) di Antalya, Turkiye. (TURKISH FOREIGN MINISTERY PRESS via AFP)

ASWAJANEWS – Empat negara besar dunia Islam, yakni Pakistan, Mesir, Turkiye, dan Arab Saudi, tengah menjajaki pembentukan aliansi pertahanan baru yang disebut-sebut akan menyerupai NATO.

Laporan media The New Arab pada Kamis (23/4/2026) mengungkap, langkah strategis ini menjadi respons nyata atas meningkatnya agresi militer Israel di kawasan Timur Tengah, termasuk kekhawatiran terhadap ambisi ekspansionis yang kerap disebut sebagai “Israel Raya”.

Sebagai tahap awal, latihan militer gabungan antara pasukan khusus Mesir dan Pakistan telah digelar. Ini menjadi sinyal kuat bahwa kerja sama pertahanan lintas kawasan mulai memasuki fase konkret.

Di sisi lain, kepercayaan negara-negara Timur Tengah terhadap Amerika Serikat semakin memudar. Hal ini dipicu oleh kedekatan Washington dengan Israel, serta ketidakmampuan menjamin stabilitas kawasan.

“Negara-negara Arab kini menyadari bahwa mereka tidak akan pernah kebal dari serangan Israel,” ujar analis politik independen Mesir, Islam Mansi.

Kesadaran ini semakin menguat pasca eskalasi konflik besar pada Serangan Israel-AS ke Iran 28 Februari 2026. Dalam konflik tersebut, fasilitas militer AS di kawasan dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan balasan rudal balistik Iran. Bahkan, sistem pertahanan udara canggih milik AS disebut tak mampu sepenuhnya menahan gempuran drone murah dan rudal Iran. Situasi ini memunculkan keraguan serius terhadap efektivitas payung keamanan Amerika di kawasan.

Tak hanya berdampak militer, konflik tersebut juga mengguncang ekonomi global. Negara-negara Teluk mengalami kerugian besar akibat terganggunya distribusi energi, terutama setelah Iran menutup jalur vital Selat Hormuz.

Analis politik Arab Saudi, Omar Saif, menilai bahwa jika aliansi ini benar-benar terwujud, maka dampaknya akan sangat signifikan dalam menahan laju dominasi Israel di kawasan.

“Aliansi ini dapat mengerem ambisi regional Israel,” tegasnya.

Ia menambahkan, kekuatan gabungan empat negara tersebut tidak bisa dianggap remeh. Dengan total populasi mencapai sekitar 500 juta jiwa dan Produk Domestik Bruto (PDB) gabungan sebesar 3,87 triliun dolar AS, aliansi ini berpotensi menjadi kekuatan baru yang diperhitungkan di panggung global.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, turut membenarkan bahwa pembahasan terkait pengaturan keamanan regional saat ini memang sedang berlangsung.

Langkah ini menandai babak baru dinamika geopolitik Timur Tengah—di mana negara-negara kawasan mulai bergerak membangun kekuatan mandiri, tanpa sepenuhnya bergantung pada kekuatan Barat. (*)

Berawal dari Razia Helm, Satlantas Polres Karawang Ringkus Pengedar Sabu di Bundaran Ciplaz

0

KARAWANG (Aswaja News) – Aksi sigap personel Satlantas Polres Karawang berbuah hasil tak terduga. Niat awal menertibkan pengendara yang tidak menggunakan helm, petugas justru berhasil meringkus seorang pria yang diduga pengedar narkotika jenis sabu di kawasan Bundaran Ciplaz, Karawang, Sabtu (25/4/2026) sore.

Kapolres Karawang, AKBP Fiki N. Ardiansyah, melalui Kasi Humas Ipda Cep Wildan, mengonfirmasi penangkapan tersebut terjadi saat personel Unit Turjawali sedang melaksanakan pengaturan lalu lintas sore hari sekitar pukul 16.30 WIB.

“Benar, kejadian bermula saat anggota yang bertugas di bawah pimpinan Ipda Angga Bani memberhentikan seorang pengendara motor karena tidak menggunakan helm. Namun, saat dilakukan pemeriksaan, gerak-gerik pengendara tersebut sangat mencurigakan,” ujar Kapolres melalui Kasi Humas dalam keterangan resminya.

Petugas yang curiga kemudian melakukan penggeledahan badan kepada BA (22) warga Kutawaluya AH (21) warga pedes di lokasi. Hasilnya, polisi menemukan 6 paket sabu yang disembunyikan di dalam saku celana pelaku. Tak berhenti di situ, petugas langsung melakukan interogasi awal di tempat.

“Berdasarkan pengakuan pelaku, ia sudah menyebar 10 paket sabu di beberapa titik, dan masih menyimpan 10 paket lainnya di kediamannya,” tambah Kapolres melalui Kasi Humas.


Secara keseluruhan, polisi berhasil mengidentifikasi total 26 paket sabu dari tangan dan jaringan pelaku. Mendapati temuan tersebut, personel di lapangan langsung berkoordinasi dengan Perwira Pengendali (Padal) untuk mengamankan pelaku beserta barang bukti.

Personel yang terlibat dalam aksi sigap ini di antaranya Ipda Angga Bani, Aiptu Agus Karnadi, Aipda Dicky, Brigadir Bernandus, Bripka M. Bani Adnan, Bripka Hasanudin, Aiptu Agus Hermanto, Briptu Ridwan Maulana, Bripda Ghibran, Bripda Asep, Bripda Fadhil, Aipda Yayan, dan Bripda Bayu.

Saat ini, terduga pengedar narkotika tersebut telah diserahkan oleh Anggota Opsnal Turjawali Sat Lantas kepada Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Karawang untuk dilakukan pengembangan lebih lanjut guna mengungkap jaringan di atasnya.

“Langkah ini merupakan bentuk kesigapan anggota di lapangan. Kami tidak hanya fokus pada ketertiban lalu lintas, tetapi juga berkomitmen memberantas segala bentuk tindak pidana, termasuk peredaran narkoba di wilayah hukum Karawang,” tutup Kapolres melalui Kasi Humas.

(Ahmad Z)

Wagub Jateng: FKDT Berperan Strategis Membentuk Generasi Berakhlakul Karimah

0

UNGARAN (Aswajanews) – Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menegaskan bahwa Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT) memiliki peran penting dan strategis dalam membentuk karakter generasi muda yang berakhlakul karimah.

Hal tersebut disampaikan dalam sambutan tertulis Wagub Jateng yang dibacakan oleh Arif Husni dari Biro Kesra dan Taskin Setda Provinsi Jawa Tengah pada acara Tasyakuran Hari Lahir (Harlah) ke-14 FKDT, Kamis malam (23/4/2026), di Ungaran.

“Atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, kami menyampaikan selamat dan apresiasi kepada FKDT atas perjalanan pengabdiannya selama 14 tahun. Ini adalah perjalanan panjang yang penuh dedikasi dalam membina pendidikan keagamaan, khususnya Madrasah Diniyah Takmiliyah,” ujar Taj Yasin dalam sambutannya.

Menurutnya, FKDT merupakan wadah strategis yang menghimpun lembaga pendidikan diniyah takmiliyah dan berperan sebagai benteng moral di tengah derasnya arus globalisasi.

“Pembangunan tidak hanya berorientasi pada aspek fisik dan ekonomi, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berakhlak mulia. Di sinilah peran FKDT menjadi sangat relevan,” tegasnya.

Ia menambahkan, melalui pendidikan diniyah, anak-anak tidak hanya dibekali ilmu agama, tetapi juga nilai-nilai penting seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat kebersamaan. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang harmonis, toleran, dan berdaya saing.

Wagub juga mendorong FKDT untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat moderasi beragama, serta menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun karakter generasi muda.

“Kami berharap FKDT mampu berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang religius, rukun, dan sejahtera,” lanjutnya.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, kata dia, berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan pendidikan keagamaan melalui sinergi antara pemerintah, FKDT, dan seluruh elemen masyarakat.

Menutup sambutannya, Wagub berharap FKDT terus berinovasi dan beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi ulama.



Acara tasyakuran Harlah ke-14 FKDT yang digelar di kawasan wisata religius Makam Syekh Hasan Munadi tersebut dihadiri berbagai pejabat dan tokoh penting.

Hadir di antaranya Kepala Kanwil Kemenag Jawa Tengah, Saiful Mujab, didampingi Kabid PD Pontren Fathuronji, serta Kepala Kemenag Kabupaten Semarang Ta’yinul Birri Bagus Nugroho.

Turut hadir perwakilan Bupati Semarang, unsur Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, serta jajaran Kementerian Agama Kabupaten Semarang.

Dalam kesempatan tersebut, Rois Syuriah PWNU Jawa Tengah, Ubaidillah Shodaqoh, menyampaikan mauidzah hasanah sekaligus memimpin doa tasyakuran.

Sementara itu, Ketua DPW FKDT Jawa Tengah, Abdul Rohman, memimpin rangkaian kegiatan mujahadah dan manakib Abdul Qodir Jaelani sebelum prosesi tasyakuran dimulai.

Kegiatan ini diikuti oleh DPC FKDT kabupaten/kota se-Jawa Tengah serta para jamaah dari wilayah Ungaran Barat, sebagai momentum refleksi untuk memperkuat komitmen dalam pengembangan pendidikan keagamaan ke depan.

(Red/Nas)

Google search engine
0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan

Recent Posts