
ASWAJANEWS – Empat negara besar dunia Islam, yakni Pakistan, Mesir, Turkiye, dan Arab Saudi, tengah menjajaki pembentukan aliansi pertahanan baru yang disebut-sebut akan menyerupai NATO.
Laporan media The New Arab pada Kamis (23/4/2026) mengungkap, langkah strategis ini menjadi respons nyata atas meningkatnya agresi militer Israel di kawasan Timur Tengah, termasuk kekhawatiran terhadap ambisi ekspansionis yang kerap disebut sebagai “Israel Raya”.
Sebagai tahap awal, latihan militer gabungan antara pasukan khusus Mesir dan Pakistan telah digelar. Ini menjadi sinyal kuat bahwa kerja sama pertahanan lintas kawasan mulai memasuki fase konkret.
Di sisi lain, kepercayaan negara-negara Timur Tengah terhadap Amerika Serikat semakin memudar. Hal ini dipicu oleh kedekatan Washington dengan Israel, serta ketidakmampuan menjamin stabilitas kawasan.
“Negara-negara Arab kini menyadari bahwa mereka tidak akan pernah kebal dari serangan Israel,” ujar analis politik independen Mesir, Islam Mansi.
Kesadaran ini semakin menguat pasca eskalasi konflik besar pada Serangan Israel-AS ke Iran 28 Februari 2026. Dalam konflik tersebut, fasilitas militer AS di kawasan dilaporkan mengalami kerusakan akibat serangan balasan rudal balistik Iran. Bahkan, sistem pertahanan udara canggih milik AS disebut tak mampu sepenuhnya menahan gempuran drone murah dan rudal Iran. Situasi ini memunculkan keraguan serius terhadap efektivitas payung keamanan Amerika di kawasan.
Tak hanya berdampak militer, konflik tersebut juga mengguncang ekonomi global. Negara-negara Teluk mengalami kerugian besar akibat terganggunya distribusi energi, terutama setelah Iran menutup jalur vital Selat Hormuz.
Analis politik Arab Saudi, Omar Saif, menilai bahwa jika aliansi ini benar-benar terwujud, maka dampaknya akan sangat signifikan dalam menahan laju dominasi Israel di kawasan.
“Aliansi ini dapat mengerem ambisi regional Israel,” tegasnya.
Ia menambahkan, kekuatan gabungan empat negara tersebut tidak bisa dianggap remeh. Dengan total populasi mencapai sekitar 500 juta jiwa dan Produk Domestik Bruto (PDB) gabungan sebesar 3,87 triliun dolar AS, aliansi ini berpotensi menjadi kekuatan baru yang diperhitungkan di panggung global.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty, turut membenarkan bahwa pembahasan terkait pengaturan keamanan regional saat ini memang sedang berlangsung.
Langkah ini menandai babak baru dinamika geopolitik Timur Tengah—di mana negara-negara kawasan mulai bergerak membangun kekuatan mandiri, tanpa sepenuhnya bergantung pada kekuatan Barat. (*)
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.































