Beranda Aktual Masjid Jami Gandasuli, Masjid Tua di Brebes yang Tetap Mempertahankan Soko Guru...

Masjid Jami Gandasuli, Masjid Tua di Brebes yang Tetap Mempertahankan Soko Guru Berusia Lebih dari Satu Abad

0

BREBES (Aswajanews.id) – Di tengah menjamurnya pembangunan masjid bergaya arsitektur Timur Tengah di wilayah Pantai Utara (Pantura) Kabupaten Brebes, Masjid Jami Gandasuli di Kelurahan Gandasuli, Kecamatan Brebes, tetap teguh mempertahankan keaslian bangunan utamanya, terutama empat soko guru (tiang utama) yang diperkirakan telah berusia lebih dari 100 tahun.

Hingga 1 Agustus 2026, Masjid Jami Gandasuli bersama Masjid Agung Brebes menjadi dua masjid tua di Kabupaten Brebes yang masih mempertahankan soko guru sebagai bagian dari bangunan utama. Keberadaan soko guru tersebut tidak hanya memiliki nilai arsitektur, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap warisan budaya, sejarah, serta perjuangan para leluhur yang membangun masjid dengan penuh pengorbanan.

Terletak di Jalan Maulana Malik Ibrahim No. 3, RT 01 RW 02, Kelurahan Gandasuli, Kecamatan Brebes, sekitar empat kilometer dari Alun-Alun Brebes, Masjid Jami Gandasuli dikenal sebagai masjid tertua kedua di kawasan antara Sungai Pemali dan Sungai Kaligangsa setelah Masjid Agung Brebes.

Menurut catatan sejarah masyarakat setempat, masjid ini didirikan sekitar tahun 1900 Masehi oleh Haji Asy’ari bin Haji Ansor di atas tanah milik pribadinya. Seluruh proses pembangunan dibiayai menggunakan harta pribadi sebagai bentuk pengabdian kepada agama dan masyarakat.

Tidak hanya membangun masjid, Haji Asy’ari juga mewakafkan sejumlah lahan persawahan untuk menopang kebutuhan operasional dan kemakmuran masjid. Demi menghidupkan syiar Islam, beliau kemudian mendatangkan seorang ulama dari Sindanglaut, Cirebon, yakni Kyai Amari bin Kyai Salka, yang dipercaya menjadi imam sekaligus pembimbing keagamaan masyarakat Gandasuli.

Kyai Haji Amari lahir pada tahun 1877 dan wafat pada 1962. Makamnya kini berada di Kompleks Situs Bersejarah Jamirah-Jaminten, Kelurahan Gandasuli. Dalam sejarah dakwah Islam di wilayah tersebut, beliau dikenal sebagai ulama pertama yang berperan besar menyebarkan ajaran Islam di Gandasuli dan desa-desa sekitarnya.

Tokoh masyarakat Gandasuli sekaligus Ketua Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Gandasuli, Ustadz H. Abdul Hamid Muhtadi, S.Pd.I, mengatakan jasa Haji Asy’ari dan Kyai Amari sangat besar dalam membangun kehidupan keagamaan masyarakat.

“Sekitar tahun 1900, Mbah Haji Asy’ari membangun Masjid Jami Gandasuli. Untuk menghidupkan kegiatan keagamaan, beliau mendatangkan Kyai Amari dari Sindanglaut, Cirebon. Kyai Amari kemudian menjadi ulama pertama dalam babad Gandasuli yang aktif mengajarkan agama Islam dan berdakwah kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, Kyai Amari dikenal sebagai ulama kharismatik yang berdakwah dengan pendekatan sosial budaya sehingga ajaran Islam mudah diterima masyarakat. Di kalangan warga, beliau juga diyakini memiliki karomah.

Dari pernikahannya dengan Hj. Fatimah, putri Haji Usman, KH Amari dikaruniai enam putra-putri, yakni Nyai Kona’ah, Nyai Romlah, Nyai Fathonah, Sobriyah, H. Miftah, serta Kyai Nasukha yang kemudian dikenal sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Cipeujeuh, Sindanglaut, Cirebon.

Warisan Tradisi yang Tetap Terjaga

Selain mempertahankan bangunan bersejarah, Masjid Jami Gandasuli juga tetap melestarikan tradisi keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi tersebut di antaranya pemukulan bedug dan kentongan sebelum azan lima waktu, pembacaan puji-pujian menjelang iqamah, dzikir dan doa bersama setelah salat fardu, serta pelaksanaan salat Subuh dengan qunut.

Setiap malam Jumat, jamaah rutin menggelar tahlil, doa bersama, pembacaan Maulid Al-Barzanji yang diiringi hadrah, pengajian malam Kamis, tadarus Al-Qur’an setelah Subuh, hingga pengajian umum pada peringatan hari-hari besar Islam.

Tradisi khas lainnya yang masih lestari ialah takbiran semalam suntuk menjelang Idulfitri dan Iduladha, kuliah Asar selama Ramadan, serta tradisi makan kupat bersama setelah Salat Id yang diawali dengan saling bersalaman, tahlil, dan doa bersama.

Pada bulan Ramadan, masjid menjadi pusat berbagai kegiatan ibadah seperti Salat Tarawih, tadarus Al-Qur’an, pembagian takjil, hingga tradisi membawa berkat pada malam-malam akhir Ramadan yang kemudian dibagikan kepada jamaah setelah tahlil.

Transparansi dan Kepedulian Sosial

Masjid Jami Gandasuli juga dikenal sebagai masjid yang mengedepankan transparansi dalam pengelolaan keuangan. Pengurus secara rutin menggelar musyawarah bulanan, menyampaikan laporan keuangan kepada jamaah sebelum Salat Jumat, serta melakukan penghitungan kotak amal dan dana santunan secara terbuka.

Di bidang sosial, masjid menyediakan makanan dan minuman bagi jamaah setiap Jumat, membagikan nasi bungkus kepada jamaah Salat Subuh Jumat, serta menyelenggarakan penyembelihan dan distribusi hewan kurban setiap Hari Raya Iduladha.

Lebih dari sekadar bangunan ibadah, Masjid Jami Gandasuli merupakan warisan sejarah yang mencerminkan perjalanan dakwah Islam di Brebes. Keberadaan soko guru yang tetap dipertahankan hingga kini menjadi simbol penghormatan terhadap nilai sejarah, cagar budaya, dan jasa para pendahulu yang telah meletakkan fondasi kehidupan keagamaan masyarakat.

Di tengah modernisasi arsitektur masjid, Masjid Jami Gandasuli tetap berdiri kokoh sebagai penjaga tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah, sekaligus menjadi saksi perjalanan dakwah yang terus hidup dari generasi ke generasi.

(Nuridin/Abdul Hamid Muhtadi)


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.