Beranda Nasional Aktual KETIKA MENTERI COWBOY DICOPOT

KETIKA MENTERI COWBOY DICOPOT

0
0

Ummu Falah (bukan Fayah atau Farah) meminta tanggapan saya soal dicopotnya Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan. Padahal, menurut pendapat saya, kata teman di grup WhatsApp, kinerjanya cukup bagus.

Saya jadi teringat Babe Ujang, teman sesama wartawan Mandala di Tasikmalaya dulu. Dia itu dulu namanya Ujang Barmana Yudiarto, tetapi tiba-tiba dia menghilang. Belakangan saya tahu, dia pergi ke Yogyakarta, menjadi PNS (guru), menikah dengan orang Jawa, beranak-pinak di sana. Setelah pensiun, dia terus menetap di Kota Gudeg.

Dalam statusnya akhir-akhir ini, namanya tertulis Babe Ujang. Tidak tahu atas petunjuk dukun mana.

Ketika Purbaya diangkat Prabowo menjadi Menkeu setahun yang lalu, BU (Babe Ujang) bilang, “Itu mah cuma drama, Kang. PYB itu cuma kuda, bidak dalam permainan catur. Memindahkannya harus memenuhi bentuk huruf L, tidak lurus seperti pion atau raja yang dipindah selangkah jika kena skak.”

Tanggal 14 September itu, PYS sedang rapat RAPBN bersama Komite IV Dewan Perwakilan Daerah.

Tiba-tiba teleponnya berdering. Ia baru mengangkat telepon setelah diingatkan Ketua Banggar DPR. Tanpa ngomong apa-apa, ia bergegas pamit keluar ruangan.

Di luar, di hadapan awak media, ia masih bisa tersenyum sambil cuma bilang, “Takdir dari Allah.” Dijemput kata yang tidak dipahami awak media.

Belakangan diketahui, telepon tadi dari Menteri Sekretaris Negara Prasetio Hadi, mengabarkan bahwa PYS diganti sebagai Menteri Keuangan.

Meski tentu kaget, tetapi ia berusaha tegar.

Kemarin, sehari pasca-dicopot, ia tampak sendirian sedang mancing di kolam yang ada di bawah rumahnya. Sambil ketawa-ketawa, ia bilang akan mengambil pensiun. “Jadi pejabat negara itu ribet,” teriaknya.

Ketua Program Doktoral Universitas Islam Indonesia (UII), Jayadi Hanan, mengatakan ada beberapa faktor yang mendorong Presiden Prabowo mengambil langkah mendadak yang mengejutkan banyak pihak.

PYS itu terlalu banyak membuat gebrakan yang kontroversial. Misalnya, akan mengurangi anggaran kementerian dan badan. Di internal Kementerian Keuangan, ia juga membuat gaduh.

Tanggal 10 September, ia memutasi banyak pegawai, termasuk Ditjen Pajak dan Bea Cukai. Ia juga mengungkap janji Danantara yang akan menyetor PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak) sebesar Rp120 triliun yang belum direalisasi.

Berikutnya adalah konflik dengan daerah, terutama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, terkait Dana Bagi Hasil (DBH) yang cuma omon doang.

Yang terakhir, dan ini yang sangat mungkin menjadi pemicu Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah mendadak, adalah mencopot Menteri Cowboy, Senin, 14 September.

Wallahu alam, cuma Presiden Prabowo dan Allah Yang Maha Tahu. (*)


Eksplorasi konten lain dari News

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan