Siswa sekolah formal semangat mengikuti pembelajaran di MDT Al Ittihad desa Jipang Kec Karanglewas Kab Banyumas
BANYUMAS (Aswajanews.id) – Peserta Didik lembaga pendidikan formal setingkat SMP/SMA di Banyumas masih mengikuti pembelajaran di Madrasah Diniyah Takmiliyah. Pemandangan ini tentu tidak semua Madin di Banyumas atau di Jawa Tengah. Hanya sebagian kecil MDT di Banyumas yang peserta didiknya (santri) merupakan siswa formal setingkat SMP/SMA.
Siswa sekolah formal semangat mengikuti pembelajaran di MDT Al Ittihad desa Jipang Kec Karanglewas Kab Banyumas
Tepatnya di Madin Al Ittihad desa Jipang Kec Karanglewas Kab Banyumas seluruh santrinyan saat pagi hari sekolah di SMP/SMA terdekat. Adapun pembelajaran yang dilaksanakan di MDT Al Ittihad pada malam hari mulai bada magrib sampai setengah sembilan malam. Mereka dengan semangat mengikuti pembelajaran MDT sampai pada jenjang akhir setingkat MDTA untuk SD/SMP dan MDTW setingkat SMP/SMA.
Perlu diketahui, Kab Banyumas adalah salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang menerapkan full day school untuk SD dan SMP. Siang hari selama lima hari belajar dari pagi sampai sore hari di lembaga pendidikan formal. Sementara untuk malam hari belajar di MDT Al Ittihad. Selama beberapa jam santri belajar dengan tekun di ruang kelas dengan jeda istirahat digunakan untuk sholat jamaah Isya.
Kurikulum yang diterapkan di Madin Al Ittihad adalah kurikulum berbasis Pesantren. Hafalan nadhoman menjadi makanan setiap hari. Kitab kitab turos merupakan materi yang diajarkan oleh guru guru yang mayoritas lulusan Pesantren. Mulai dari kitab Safinah, Mabadi Fiqih, Fathul Qorib, Aqidatul Awam, Tuhfatul Atfal dan kitab kitab lain terjadwal dalam satu minggu.
Adapun setiap ujian akhir mengikuti jadwal yang diselenggarakan oleh FKDT. Materi soal yang diujikan sebagian besar dari FKDT kecuali beberapa mata pelajaran yang berbasis pesantren dan muatan lokal seperti ke NU an. Saat ujian berlangsung seluruh santri dengan menggunakan pakaian seragam mengikuti dengan penuh konsentrasi. Jeda istirahat antara dua mata ujian pada malam hari digunakan untuk sholat jamaah isya di masjid yang berdekatan dengan Madin tersebut.
Pembelajaran MDT yang dilaksanakan pada malam hari menjadi solusi disaat anak anak siang hari sudah full waktunya di lembaga pendidikan formal. Meskipun demikian mereka tetap memiliki semangat yang tinggi untuk belajar ilmu agama Islam di MDT Al Ittihad. Itulah keunikan MDT, bisa belajar pada malam hari. Keunikan tersebut tidak semua MDT di Indonesia belajar pada malam hari. *(Red)
Kreativitas Komunitas Madin di Indonesia beraneka ragam. Wujud kreativitas tersebut merupakan implementasi dari gagasan untuk menjadikan Madin lebih banyak dikenal oleh masyarakat dan pemerintah. Lebih dari itu secara substantif kreatifitas bertujuan untuk mendongkrak kompetensi santri diniyah melalui beberapa kegiatan yang diikuti oleh santri diniyah.
Salah satu kreativitas dan inovasi yang dilakukan oleh DPAC FKDT (Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah) Kec Bojong Kab Tegal adalah Pekan Madaris yang diselenggarakan selama dua hari dua malam. Masing masing delegasi dari Madin sejumlah kurang lebih 40 anak tiap Madin menginap di rumah rumah penduduk setempat. Bahkan ada beberapa Madin yang membawa kontingen sampai 100 peserta. Tuan rumah menyediakan tempat penginapan sekaligus MCK untuk kegiatan selama dua hari. Mereka (tuan rumah) dengan senang hati menyediakan rumahnya untuk di tempati tanpa dipungut biaya sepeserpun. Bahkan tuan rumah menyediakan kue dan minuman ala kadarnya sebagai penghormatan kepada tamu tamu Madin satu kecamatan.
Adapun kegiatan selama dua hari semua perlombaan berbasis Madrasah Diniyah Takmiliyah. Perlombaan tersebut meliputi, lomba hafalan Aqidatul Awam, beberapa nadhoman yang diajarkan di Madin, MTQ, Tahlil, membaca berjanzi, sholat jenazah, pidato, sholat jamaah dan dzikir bada sholat dan perlombaan yang mencerminkan tradisi Madrasah Diniyah Takmiliyah.
Masing-masing Madrasah Diniyah secara bergotong-royong memberikan iuran untuk kegiatan Pekan Madaris tersebut. Masyarakat desa setempat jauh jauh hari sudah berembug dengan pemerintah desa untuk membantu suksesnya acara tersebut. Penggalangan dana dari dermawan masyarakat setempat untuk kegiatan Pekan Madaris digerakkan oleh Panitia desa setempat.
Setiap mata cabang lomba disediakan panggung di tempat yang strategis. Adapun perlengkapan panggung yang meliputi sound, kursi dan lainnya disediakan oleh panitia. Setiap panggung untuk lomba dipastikan ramai dengan pengunjung dari para pendukung dan masyarakat setempat. Setip majlis lomba ada Panitia dan dewan juri yang melakukan penilaian secara profesional.
Perlombaan atau festival secara maraton dilaksanakan setelah seremonial pembukaan. Biasanya pembukaan dilaksanakan pada sore hari dan dihadiri oleh beberapa pejabat daerah serta tokoh agama dan masyarakat setempat. Saat penyelenggaraan festival pekan Mandari di desa Tuwel Kec Bojong Kab Tegal, Penulis berkesempatan hadir dan memberikan sambutan pembukaan atas nama DPW FKDT Jawa Tengah.
Sungguh luar biasa semarak ramainya Festival Pekan Madaris yang melibatkan seluruh elemen masyarakat setempat. Malam hari Penulis diajak oleh Ketua DPC FKDT Kab Tegal H Muslihudin berkeliling melihat beberapa majlis perlombaan. Semua majlis dipadati oleh para suporter masing masing Madin dan masyarakat setempat. Jalan dan gang di kampung tersebut penuh lalu lalang santri diniyah. Rumah rumah penduduk semua pintunya terbuka menyambut tamu santri dan guru Madin se-Kecamatan.
Kegiatan Festival Pekan Madaris yang diselenggarakan secara rutin setiap satu tahun sekali bisa menjadi contoh bagi FKDT daerah lainnya. Beberapa kegiatan festival perlombaan yang mencerminkan tradisi Madin bisa dilestarikan sebagai bagian dari ikhtiar menempa kompetensi dan mental santri Madin.
Peran serta masyarakat yang penuh menjadi bukti keguyuban dan kekompakan warga dalam mewujudkan kepedulian terhadap Madin. Mereka tulus dan senang hati menyambut tamu tamu mulia dari komunitas Madin. Mereka dengan terbukanya mempersilahkan rumahnya untuk ditempati oleh santri dan guru Madin. Semoga kegiatan ini akan bisa diwujudkan untuk tingkat Propinsi Jawa Tengah. (*)
Kakanwil Kemenag Jateng, Dr. H. Musta'in Ahmad, SH, MH
SEMARANG (Aswajanews.id) – Capaian Kota Salatiga (peringkat 3) dalam Indeks Kota Toleran (IKT) 2021 dan konsistensi prestasi IKT sebelumnya patut diapresiasi. Kota Surakarta (peringkat 9) melengkapi capaian Kota Salatiga, sekaligus membentuk raihan istimewa Jawa Tengah dalam Indeks Kota Toleran (IKT) 2021.
Capaian ini tentu tidak lepas dari kontribusi Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah pada aspek insersi, adaptasi, dan pelaksanaan, moderasi beragama pada ranah pendidikan. Pasalnya, sesuai dengan amanah yang tercantum dalam RPJMN 2020 – 2024, pendidikan menempati posisi strategis terkait penguatan moderasi beragama di mana toleransi (tasamuh) menjadi salah satu nilai dasarnya.
Kakanwil Kemenag Jateng, Dr. H. Musta’in Ahmad, SH, MH
Terkait hal tersebut, Direktorat Pendidikan Agama Islam berkesempatan menemui Kepala Kantor Kementerian Agama Jawa Tengah, Musta’in Ahmad, Selasa (12/4/2022), dalam kaitan penyusunan Feature Moderasi Beragama pada Pendidikan Agama Islam di Sekolah. Wawancara dipandu Kasubag TU Direktorat PAI dan tim media PAI.
“Majeng” menjadi motto Kanwil Kemenag Jateng. Bisa diceritakan apa sesungguhnya makna dan filosofi “Majeng” tersebut?
Majeng adalah spirit agama untuk menjadi lebih baik dari kemarin. Dalam konsep tersebut, status hari ini harus lebih maju dari kemarin. Untuk maju itu membutuhkan spirit dan etos. Kalau bekerja hanya sekedar bekerja, binatang juga bekerja dalam pengertian tersebut. Manusia bekerja dengan etos. Makna etos itu kemudian berkembang pada deret pengertian “Majeng” itu sendiri. Yang pertama adalah semangat untuk menjadi lebih baik, yang kedua adalah negara hadir. Dalam pengertian ini, negara hadir dalam keruwetan yang dihadapi masyarakat. Ketiga, kesediaan untuk berani berkompetisi; konsep ini mewujud di antaranya dorongan pada anak-anak kita untuk berkompetisi dalam kapasitas kependidikan mereka.
Dari akronimnya, “M” adalah moderat, yakni berada dalam posisi yang tidak berlebih-lebihan. Keseimbangan antara hak dan kewajiban adalah pengertian awalnya. Namun karena kita melayani umat beragama, ketepatan maknanya kemudian terletak pada sikap beragama yang moderat. Kita harus percaya diri bahwa beragama yang tepat adalah beragama yang moderat. Harapannya, aparatur Kanwil Kemenag di semua lini pelayanan, akan mampu menunaikan kewajibannya dengan baik. Sementara itu, “A” adalah akuntabilitas, “JE” adalah jernih, dan “NG” adalah ngayomi.
Kembali ke Salatiga. Dalam pemahaman saya, Salatiga itu kota yang spiritualistik yang didukung penerimaan terhadap cerita rakyat. Pada saat Sunan Pandanaran meninggalkan dunia keningratan, beliau menuju Tembayat untuk lengser keprabon madhep ing pandhito; menjadi ulama di Tembayat didampingi oleh istrinya.
Dalam perjalanan Sunan Pandanaran, terjadi friksi antara istri dan para perampok mengenai harta tersebut. Dari friksi tersebut timbul sikap saling menyalahkan. Tanpa menekankan kesalahan pada istri dan perampoknya, Sunan Pandanaran lebih melihat pada kesalahan pihak ketiga (ego duniawi) yang kemudian dipahami sebagai “salah tiga”, seterusnya menyatu menjadi “Salatiga”. Makna cerita rakyat ini begitu simbolik dan kuat.
Nama Salatiga, sesuai cerita rakyat yang bisa ditemukan dalam catatan sejarah, memiliki makna dan pesan kuat bahwa untuk menjadi rukun dan guyub itu mengalahkan materi. Ini merupakan alam bawah sadar dari pembentukan kota. Salah satu contoh dan dampaknya, kerelaan untuk menjadi guyub ini mendorong banyak pihak untuk bersekolah di Salatiga. Jadi, nilai spiritualitas warga ini menjadi dasar yang kuat membentuk semangat menerima keragaman pada diri warga Salatiga.
Salatiga dan Jawa Tengah, bagi saya adalah “kal-bunyaani al-marshuus”, satu tubuh yang membangun kebersamaan. Langit itu indah, bukan karena kesendirian lintang kemukus, melainkan karena keberadaan bermacam bintang dan rasi yang kita kenal. Semua harus bersinar. Itu artinya kita tidak bisa sendiri, harus bekerja sama. Pada saat Rasulullah meninggal, baju perang beliau masih tergadai di salah satu penganut Yahudi.
Di Salatiga, Katolik dan Protestan itu membentuk harmoni dan kerja sama yang baik. Mereka saling melengkapi kekurangan guru agama, karena anak-anak butuh pelajaran agama. Kerja sama ini menginspirasi umat agama lain untuk membentuk kerja sama dan kolaborasi. Dalam analogi kapak 212 Wiro Sableng, saya sendiri dulunya (sewaktu kecil) menyukai komik, saya menggambarkan bahwa kapak dibutuhkan untuk menyelesaikan berbagai masalah. Potensi konflik dan intoleransi perlu diredam dengan kapak 267. Dalam konsep guru kesenian, 267 ini terbaca sebagai notasi re – la – dan si. Kita bisa menyebutnya sebagai kapak relasi.
Bagaimana pandangan Bapak mengenai penguatan moderasi beragama di Jawa Tengah, khususnya Kota Salatiga, dalam kaitan capaian pada Indeks Kota Toleran 2021?
Penguatan moderasi beragama merupakan hal penting yang senantiasa diupayakan oleh Pemerintah Kota Salatiga bersama dengan instansi pemerintah, tokoh agama, tokoh masyarakat beserta seluruh anggota masyarakat. Dengan tingginya keberagaman di Salatiga, penguatan moderasi beragama yang dilakukan semua pihak dapat memperkuat toleransi di antara berbagai umat beragama.
Dalam upaya penguatan moderasi beragama yang ditempuh Kantor Kementerian Agama Jawa Tengah, di antaranya, bersama dengan Pemerintah Kota Salatiga dan FKUB, bersama-sama menggelorakan konsep moderatisme dalam setiap kegiatan yang bersentuhan dengan agama atau keagamaan. Selain itu, kita juga menjalankan kerja sama lintas agama dengan prakarsa Rumah Moderasi yang terbentuk melalui Badan Kerja Sama Gereja-Gereja Salatiga (BKGS). Langkah ini seterusnya melahirkan Forum Komunikasi Penyuluh Lintas Agama (FKPLA).
Keberagaman sesungguhnya sudah menjadi warna dasar bangsa Indonesia, dengan segala dinamikanya. Dalam konteks kontestasi warna keragaman tersebut, apa sesungguhnya yang menjadi, katakanlah, niché (titik beda), di Salatiga khususnya atau Jawa Tengah pada umumnya, dari khazanah keragaman lainnya?
Di Salatiga, tinggal bersama lebih dari 30 suku bangsa Indonesia dengan 6 agama. Dalam kehidupan bersama di Salatiga, sikap toleran, menghargai perbedaan, dan senantiasa mengupayakan kemanfaatan bersama merupakan kondisi yang dapat dilihat sehari-hari. Salatiga, bagi saya, sekali lagi, adalah selayaknya pelangi dengan keberagamannya yang membentuk sebuah keindahan yang dipancarkannya karena kehendak untuk menjaga dan merawat harmoni di dalamnya.
Dalam pelangi yang indah itu, saya bisa mengambil contoh tentang kegiatan pawai atau parade tahunan yang melibatkan semua agama. Jangan lupa dan silakan dinilai bersama, betapa peran serta dan kehadiran negara dari unsur apapun yang mencerminkan dan menyajikan pelayanan tanpa membedakan agama.
Sebagaimana arahan dan target capaian moderasi beragama yang dicanangkan Menag Yaqut Cholil Qoumas pada launching aksi moderasi beragama, bisa Bapak sampaikan peta jalan insersi, adaptasi, dan pelaksanaan moderasi beragama pada Kanwil Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah? Bagaimana kiat dan perangkat kebijakan yang disiapkan dalam mewujudkan peta jalan tersebut?
Kepada seluruh jajaran Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah, saya selalu menekankan langkah insersi moderasi beragama. Dalam konteks pendidikan Islam, khususnya Pendidikan Agama Islam, kami selalu dalam posisi siaga dan adaptif dalam upaya penguatan moderasi beragama dalam pengembangan kurikulum mapel Pendidikan Agama Islam dan budi Pekerti (PAI) Kurikulum 2013 dan juga Kurikulum Merdeka.
Dalam konteks praksis, kami juga menginsersi moderasi beragama dalam kegiatan Kemah Rohis Tahun 2019, kegiatan Kemah Rohis Virtual Tahun 2020 dan Tahun 2021 bekerja sama dengan DPW Asosisasi Guru PAI Indonesia (AGPAII) Provinsi Jawa Tengah.
Pada momen Ramadan seperti sekarang, kami juga menjadikan moderasi beragama sebagai tema utama dalam kegiatan Pesantren Ramadhan Virtual 2022 yang diselenggarakan oleh Musyawarah Guru Mata pelajaran (MGMP) PAI jenjang SMA/SMK Provinsi Jawa Tengah Tahun 2022.
Dalam pandangan Bapak sendiri, apa makna dan pesan dasar moderasi beragama beserta sembilan nilainya?
Makna moderasi beragama (sembilan nilai: tengah-tengah, tegak lurus, toleransi, musyawarah, perbaikan, kepeloporan, kewarganegaraan, anti kekerasan, dan ramah budaya) adalah memahami dan mengamalkan ajaran agama dengan tidak ekstrem, baik ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.
Kita tahu, bentuk ekstremisme terejawantahkan dalam dua kutub pembelahan yang berlebihan. Dalam pembelahan tersebut terdapat dua kutub yang saling berlawanan. Terdapat satu kutub kanan yang sangat kaku dalam beragama, yakni memahami ajaran agama dengan membuang jauh-jauh penggunaan akal, sementara di pihak yang lain justru sebaliknya, sangat longgar dan bebas dalam memahami sumber ajaran agama.
Menjadi moderat bukan berarti menjadi lemah dalam beragama, dengan sikap cenderung terbuka dan mengarah kepada kebebasan. Menjadi moderat juga bukan berarti tidak memiliki militansi, tidak serius, atau tidak sungguh-sungguh dalam mengamalkan ajaran agamanya.
Dalam perspektif kebijakan dan implementasi moderasi beragama Kanwil Kementerian Agama Jawa Tengah, apa dan bagaimana pendekatan yang ditempuh Kanwil Kemenag Jawa Tengah dalam konteks Pendidikan Agama Islam di sekolah?
Dalam mengimplementasikan moderasi beragama di tingkat satuan pendidikan, secara struktural posisi Kementerian Agama, harus diakui, teramat lemah. Kementerian Agama tidak mempunyai otoritas struktural untuk melakukan pembinaan di satuan pendidikan sekolah. Otoritas yang dimiliki Kementerian Agama sebatas pada penguatan kompetensi Guru dan Siswa (Pengurus Kerohanian Islam/ROHIS jenjang SMA/SMK).
Pada lingkup yang terbatas tersebut, peluang mengimplementasikan penguatan moderasi beragama dimaksimalkan dengan memperkuat jalinan koordinasi dengan Forum Kerja Sama Guru (FKG) PAI jenjang TK, Kelompok Kerja Guru (KKG) PAI jenjang SD, dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) PAI jenjang SMP dan SMA/SMK, serta menjalin kerja sama dengan Asosisasi Guru PAI Indonesia (AGPAII) untuk menginisisasi kegiatan-kegiatan keagamaan Islam, sebagai media insersi moderasi beragama di kalangan siswa sekolah yang memeluk agama Islam.
Apa harapan Bapak pada pemangku kepentingan Pendidikan Agama Islam dalam kaitan insersi, adaptasi, dan implementasi moderasi beragama?
Pemilihan penguatan moderasi beragama sebagai program prioritas idealnya didukung pula dengan prioritas anggaran. Anggaran dibutuhkan dalam rangka mengimplementasikan program kerja dalam bentuk aksi dan serangkaian kegiatan.
Dalam lingkar relasi seperti itu, perlu ada sinkronisasi program dan kegiatan antara Kemenag Pusat dan Daerah yang didukung dengan alokasi anggaran yang memadai. Dengan adanya sinkronisasi program, kegiatan, dan anggaran, maka upaya pencapaian target dan indikator penguatan moderasi beragama akan lebih terukur dan efektif.
Dalam upaya tersebut, saya menilai dan terus mengupayakan secara bersama, peran berbagai pihak, baik pada ranah pendidikan (guru dan pengawas) maupun kepenyuluhan berbagai agama, untuk terus menghadirkan sajian layanan pendidikan yang diminati anak-anak dan kepenyuluhan yang baik.
Sajian layanan pendidikan terkait moderasi beragama ini kami tempuh dengan menghadirkan standar minimal pengetahuan dan praktik keberagamaan dan keberagamaan sesuai jenjang dan tingkat pendidikan mereka, semacam basic standards, misalnya bagaimana agar anak-anak mengetahui konsep berwudhu dan guru mengawasinya dalam rutinitas. Standar pengetahuan agama harus disertai dengan bimbingan praktik dalam keseharian mereka.
Mari, kita terus menumbuhkan rasa keterpanggilan bekerja sama dan membangun harmoni, makin memperindah pelangi dan langit keberagamaan dan keberagaman Jawa Tengah pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya. (Sumber: Kemenag Jateng/Moh Khoeron)
Gagasan 99 MDTW (Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustho) setingkat SMP/MTs pada lembaga formal dilatarbelakangi karena jenjang MDTW di Kab Brebes sangat sedikit. Jumlah lembaga yang terdaftar di Kemenag hanya 9 MDTW, belum berbanding lurus dengan anak anak yang mestinya mengikuti layanan pendidikan MDTW. Mereka yang pagi sekolah di SMP/MTs tidak mau masuk ke MDTW dengan alasan capek dan lainnya.
Sementara jumlah lembaga MDTA di Kab Brebes mencapai 723 lembaga yang tersebar di 17 kecamatan. Dengan jumlah siswa yang variatif tiap kelas, total santri MDTA se-Kab Brebes 45.657. Jumlah tersebut juga belum sebanding dengan peserta didik SD/MI yang mestinya mengikuti pendidikan MDTA. Masih ada sekitar 35 presen anak-anak SD/MI yang belum mengikuti pendidikan MDTA. Mereka lebih memilih bermain atau kegiatan lain.
Dalam rangka peningkatan layanan pendidikan untuk MDTW, Kasi PD Pontren Kemenag Kab Brebes, saat itu dijabat oleh Dr H Akrom Jangka Daosat menggulirkan ide untuk mewujudkan 99 MDTW di Kab Brebes. Gagasan tersebut setelah Beliau melihat kondisi MDTW yang sangat sedikit serta pemahaman keagamaan yang sangat minim untuk peserta didik setingkat SMP. Sementara angka 99 MDTW mengiblat kepada Asamaul Husna yang berjumlah 99. Dengan harapan melalui berdirinya 99 MDTW akan terwujud generasi yang bisa memahami dan meneladani baik (Asmaul Husna) dalam kehidupan sehari-hari.
Sedikitnya lembaga MDTW sangat berpengaruh dengan perkembangan pemahaman keagamaan untuk siswa SMP. Sehingga gagasan yang dimunculkan menjadi ide besar yang membutuhkan peran masyarakat dan pemerintah dengan kebijakannya. Hari ini kalau hanya mengandalkan peran masyarakat tanpa dukungan dari Pemerintah rasanya perlu perjuangan keras dari tokoh yang peduli terhadap pendidikan keagamaan.
Sejalan dengan gagasan tersebut, Penulis pernah mendiskusikan bersama dengan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga,Ibu Caridah. Gayung bersambut, respon yang positif dari Kepala Dinas, meskipun saat itu masih sebatas wacana dan menjadi mimpi besar Kepala Dinas Pendidikan. Mimpi besar dan harapan besar agar peserta didik di SMP Negeri bisa mengikuti pembelajaran di MDTW. Sebagai bentuk keterkaitan antara SMP dan MDTW untuk penilaian mapel PAI di SMP salah satunya bersumber dari penilaian di MDTW. Dengan model seperti ini maka antara SMP dan MDTW ada keterikatan pada proses pembelajaran khususnya untuk Mapel PAI.
Lebih dari itu saat diskusi di ruang Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, Ibu Caridah selaku Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kab Brebes menghendaki Kemenag bisa memberikan surat edaran untuk SD se Kab Brebes agar mengikuti pembelajaran di MDTA. Harapan ini bertujuan agar anak anak pada usia pendidikan dasar mendapatkan pengetahuan agama yang cukup. Selama ini jam tatap muka mapel agama Islam di SD/SMP sangat minim, sehingga untuk sampai pada tahapan pengamalan dan pemahaman serta penghayatan dalam beragama dibutuhkan tambahan jam pembelajaran.
Pemikiran peserta didik SMP agar mengikuti pembelajaran di MDTW menjadi bagian dari penguatan pendidikan karakter dan penguatan profil pelajar Pancasila. Dua hal tersebut menjadi amanat pemerintah yang harus dilaksanakan oleh lembaga pendidikan formal. Sinergitas lembaga pendidikan formal dan pendidikan MDT dalam penguatan profil pelajar Pancasila menjadi bagian dari mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
Semoga gagasan mewujudkan 99 MDTW akan terlaksana dengan keterlibatan semua pihak (pemerintah dan masyarakat). Mewujudkan keterpanggilan dan kepedulian kepada pendidikan keagamaan dibutuhkan kesadaran pentingnya pendidikan untuk generasi masa depan. Hadirnya pendidikan keagamaan akan bisa mengurangi tindakan kenakalan remaja dan kriminalitas. (*)
KARAWANG (Aswajanews.id) – Tim pemenangan bersama para relawan pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Karawang 2024 – 2029 Acep Jamhuri – Gina Fadlia Swara gelar kegiatan Konsolidasi. Pemenangan Cabup dan Cawabup Karawang bertemakan “Karawang Maju Bersama Menuju JAMUGA (Jaya, Mulya, Tohaga) bertempat di RM Indo Alam Sari Karawang, Sabtu (14/9/2024).
Hadir dalam acara ketua DPRD Karawang, pengurus DPP Partai Gerinda, pengurus dan jajaran DPD Partai Gerindra Jawa Barat, pengurus DPC Partai Gerindra Karawang, para Ketua Ranting dan para kader Partai Gerindra serta seluruh tim pemenangan dan relawan Pasangan Acep – Gina se-Kabupaten Karawang.
Dalam sambutannya Acep Jamhuri mengajak kepada masyarakat dan seluruh tim pemenangan serta relawan untuk selalu menjaga Karawang.
“Saya ucapkan terima kasih kepada semua jajaran pengurus partai Gerindra dari DPP, DPC, DPD Jabar dan pengurus ranting serta seluruh jajaran partai atas support dan dukungannya. Dan tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Ketua DPRD yang juga sudah memberikan supportnya. Dan di hari ini dalam acara kegiatan konsolidasi yang bertepatan dengan HUT Karawang ke 391 ini saya berpesan, kita harus bangga dan tetap semangat untuk menjaga Karawang, kedepan harus bisa membangun Karawang lebih baik lagi,” ucapnya.
“Dan kepada para kader kader Gerindra saya titip yang ada dipeloksok jaga dan bangun Karawang lebih baik, ajak semuanya untuk bisa lebih melestarikan khasanah dan nama baik budaya Karawang. Ini Kota kita (ieu lembur urang-red) Karawang punya gue (Karawang nu aing-red),” serunya di hadapan ratusan relawan.
“Kita ingin membawa masyarakat Karawang JAMUGA, Jaya, Mulya dan Tohaga. Jangan sampai ada orang Karawang yang kelaparan. Semua masyarakat karawang harus Jamuga. Gaskeun, Abringkeun, Jadikeun,” tandasnya.
Di kesempatan yang sama, Gina Fadlia Swara mengucapkan terima kasih kepada seluruh relawan yang hadir. “Saya ucapkan terima kasih kepada jajaran DPP Partai Gerindra, KSB dari 30 Kecamatan seKabupaten Karawang, 300 pengurus ranting partai, sayap partai, Satria, PPIR, Pira dan seluruh relawan relawan lain. Saya merasa senang sekali, hari ini di acara Acep – Gina bisa hadir dalam acara Konsolidasi Pemenangan untuk memberikan pengarahan dalam pemenangan,” paparnya.
“Tidak ada santai santai untuk bergerak dalam waktu 2,5 bulan untuk dukung Acep – Gina. Tokoh tokoh penting di Karawang Insya Allah mendukung Acep – Gina. Untuk itu kita harus lebih kenceng bergerak dan ramaikan spanduk didaerah masing masing,” tandasnya.
“Partai Gerindra adalah partai komando. Jadi kita harus siap dan loyal, jangan bicarakan kebelakang dan harus jalankan keputusan pimpinan kita. Loyal, berani, militan dan pantang menyerah,” tandasnya.
“Jangan ada perpecahan diantara kita. Kita harus kompak dan terus bergerak. Kita harus contoh pak Prabowo. Jatuh bangkit, jatuh bangkit dan akhirnya jadi Presiden,” terangnya.
“Kita jangan sombong. Saya sangat terharu dan bangga atas dukungan dari semua pihak. Kedepan mari kita bangun Karawang ke arah yang lebih baik lagi. Kita jaga dan lestarikan adat dan budaya Karawang, mari bersama sama kita bangun,” pungkasnya.
Sementara itu Cellica Nurrachadiana mantan Bupati Karawang yang turut hadir dalam acara tersebut mengajak untuk bisa mengoptimalkan secara bersama sama untuk memperjuangkan pasangan Acep – Gina di Pilkada Karawang mendatang.
“Tidak ada sebuah proses tanpa awal, tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan. Akan kita perjuangkan bersama sama. Saya meyakini punya harapan menang. Berkaca dari dasar dasar tersebut itu terlihat dari 24 kursi partai besar. Dan dari sinilah bisa kita gerus bersama dan optimalkan, yakin kita menang 65 sampai 70 persen,” bebernya.
“Dari 309 ranting harus bisa bergerak semuanya. 42 ribu spanduk terpasang dari semua partai. Ketokohannya teh Gina jadi anggota DPRD provinsi. Ketokohannya Acep Jamhuri lintas partai pengalaman 30 tahun di ASN,” urainya.
“Saya berbicara kepentingan Kabupaten Karawang harus lebih baik, bukan kepentingan pribadi. Karawang harus lebih baik dari kepemimpin saya. Estafet kepemimpinan lama harus diadopsinya untuk lebih baik dan jangan ditinggalkan. Saya yakin Acep-Gina jadi pemimpin terbaik Karawang,” papar teh Celli di hadapan ratusan relawan dan pendukung.
“Hanya 2,5 bulan, waktu yang sebentar kita harus bergerak, jangan berleha leha, kita punya presiden Prabowo. Dan saya akan turun langsung dengan semua pihak untuk sama sama bergerak, untuk kekuatan yang kurang kuat, kita kuatkan. Karena tidak akan ada kekuatan kalau sendiri sendiri. Gaskeun, Abringkeun, Jadikeun,” tandasnya menyerukan.
“Saya hanya berpesan, jangan sombong tetap kita harus bekerja dan bekerja. Harus koordinasi dan komunikasi dengan semua partai pendukung, dan yang susah susah saya akan turun langsung,” tutupnya. *(Red)
KARAWANG (Aswajanews.id) – Bertempat di ruang sidang Rapat Paripurna DPRD Ketua DPRD Kabupaten Karawang, H. Endang Sodikin, S.Pd.I., S.H., M.H., beserta seluruh jajaran menyampaikan Selamat Memperingati HUT Karawang ke-391 yang mengusung Tema “Karawang KASEP, Kolaboratif, Aman, Sehat, Empati dan Produktif”.
Dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD juga ada pembacaan sejarah panjang terbentuknya Kabupaten Karawang dan pembacaan nama-nama Bupati sejak Karawang berdiri hingga saat ini, serta pencapaian yang telah diraih oleh Bupati Pada masa kepemimpinannya, Sabtu (14/09/24).
Ketua DPRD Karawang H. Endang Sodikin, S.Pd.I., S.H., M.H., saat diwawancara usai rapat paripurna mengatakan, tentunya dengan HUT Karawang yang ke-391 semoga terus menciptakan sistem penyelenggara pemerintahan yang kolaboratif sehingga menjadikan Karawang Sejahtera, Maju, Adil Makmur sesuai dengan tema Karawang KASEP ke-391 ini.
“Harapan besar kami justru dengan adanya ulang tahun Karawang dan kita sama-sama meningkatkan kesejahteraan, terus mengevaluasi apa yang menjadi kekurangan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada Masyarakat,” harap Ketua DPRD Karawang.
“Mudah-mudahan ini cepat selesai apa yang menjadi PR kita kaitan dengan mengatasi pengangguran,” tutup Ketua DPRD Karawang. *(Red)
Rapat Kordinasi Panitia Porsadin Jawa Tengah di aula Kemenag Banjarnegara
BANJARNEGARA (Aswajanews.id) – Perhelatan Pekan Olahraga dan Seni antar Diniyah PORSADIN tingkat Provinsi Jawa Tengah akan digelar di Kab Banjarnegara pada Jumat sampai dengan Sabtu, 20 s.d 21 September 2024. Berbagai persiapan teknis tengah dilakukan oleh Panitia Daerah dan Panitia Propinsi Jawa Tengah. Bertempat di aula Kemenag Kab Banjarnegara berlangsung Rapat Kordinasi Panitia untuk yang terakhir dengan membahas segala persiapan pembukaan, perlombaan dan penutupan.
Rapat Kordinasi Panitia Porsadin Jawa Tengah di aula Kemenag Banjarnegara
Dalam kesempatan tersebut, Akhmad Sururi selaku Steering Committee (Ketua Panitia Pengarah) mengatakan, rapat ini adalah rapat yang terakhir yang merupakan tahapan perencanaan kegiatan Porsadin di Kab Banjarnegara. Beberapa persiapan teknis secara maraton sudah dibahas bersama dengan Panitia Daerah dibawah komando Gus Zahid. Segala persiapan dari Pemda Banjarnegara dan Kementerian Agama Banjarnegara sudah hampir finishing. Jadi ibarat orang hajatan, tinggal menunggu Pembukaan besok hari Jumat, 20 September 2024.
“Kita berharap semua persiapan yang sudah dilakukan oleh Panitia bisa berjalan dengan sukses dan lancar. Hari ini, Sabtu 14 September 2024, adalah pertemuan atau rapat cheking terakhir persiapan pelaksanaan kegiatan Porsadin dengan mengundang Ketua dan Sekretaris DPC FKDT Kab/Kota se-Jawa Tengah dan dewan Juri. Sehingga setelah pertemuan ini diharapkan semua disiapkan dengan sebaik baiknya,” kata Akhmad Sururi d ihadapan peserta rapat.
Pada saat awal sambutan pengarahan, Akhmad Sururi menegaskan bahwa kegiatan Porsadin menjadi bagian dari wahana memperkuat Ukhuwah antar Madrasah Diniyah di Jawa Tengah. Lebih dari itu perlombaan yang kita laksanakan untuk mengukur potensi dan kompetensi santri diniyah baik dibidang seni maupun olahraga. Oleh karena itu kepada dewan juri agar melaksanakan tugas secara profesional agar hasil dari Porsadin tingkat Provinsi Jawa Tengah betul betul layak untuk maju di tingkat nasional.
“Kepada semua ketua DPC FKDT Kab/Kota se-Jawa Tengah saya minta jangan hanya mencari kemenangan atau juara dengan mengedepankan ego sentris daerah masih masing. Akan tetapi kita junjung sportifitas, kejujuran, kompetensi dan keadilan. Ini sangat penting agar peserta yang lolos betul betul berdasarkan penilaian yang profesional,” imbuh Wakil Ketua DPW FKDT Jawa Tengah.
Senada dengan Akhmad Sururi, Kabid PD Pontren Kanwil Kemeng Jawa Tengah melalui Ketua Tim MDT, Hj Aini Sa’adah berpesan agar semua dewan juri bersikap adil dan profesional. Sportifitas harus kita jaga, karena Porsadin Jawa Tengah menjadi bagian dari seleksi, maka kita berharap bisa menghasilkan bibit yang hebat untuk maju di tingkat nasional.
“Dalam rangka hal tersebut, insya Allah Kanwil Kemeng akan merencanakan kegiatan pembekalan untuk peserta yang lolos di tingkat propinsi. Jadi untuk persiapan dan pembekalan peserta agar ada traning center dengan karantina selama 2 hari,” kata Hj Aini.
Saat pembukaan dalam Rapat tersebut, Gus Zahid selaku Ketua Panitia Daerah mengatakan semua kepanitiaan sudah siap. Lokasi lomba dan penginapan peserta juga sudah dipersiapkan oleh Panitia. Khusus untuk olahraga kami melibatkan Koni Kabupaten yang hari ini bisa dihadirkan. “Banjarnegara siap menyukseskan Porsadin Jawa Tengah, semoga ramai, meriah dan lancar meskipun dengan sederhana,” kata Gus Zahid.
Rapat yang diselenggarakan di aula kantor Kemenag Kab Banjarnegara, dihadiri oleh Ketua dan Sekretaris DPC FKDT Kab/Kota se-Jawa Tengah. Hadir dalam kesempatan tersebut Dewan Juri Porsadin dan Panitia Daerah. Ketua DPW FKDT Jawa Tengah, Kyai Abdul Rohman juga hadir dan memberikan sambutan Penutupan. *(Red)
KARAWANG (Aswajanews.id) – Rangkaian HUT ke-391 Karawang, sebanyak 1600 nasi tumpeng membentuk peta kabupaten Karawang menghiasi halaman Plaza Pemda Karawang, Sabtu (14/09/24).
Rekor Muri Peta Terbesar dari Rangkaian Tumpeng
Puncak kegiatan Hari Jadi Kabupaten Karawang ke-391 berlangsung meriah. Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang menggelar berbagai rangkaian kegiatan yang diawali dengan Apel Besar atau Upacara Hari Jadi Karawang ke-391 di Lapangan Karangpawitan dilanjutkan Sidang Paripurna bertempat Aula Sidang Gedung Paripurna DPRD Kabupaten Karawang lalu Tumpengan dengan Tema Rekor Muri Peta Terbesar dari Rangkaian Tumpeng di Halaman Kantor Bupati, Plaza Pemda Karawang.
Sebanyak 1.600 tumpeng berjajar membentuk Peta Karawang hingga memecahkan Rekor Muri. Diketahui, Rekor Muri ini merupakan kolaborasi Pentahelix antara Pemkab Karawang, perusahaan, sekolah dan stakeholder lainnya yang dipersembahkan untuk Kabupaten Karawang. Namun mirisnya, paket -paket nasi tumpeng yang harganya tentu tidak murah tersebut harus dibuang sia-sia karena rusak dan basi.
“Jadi pada hari ini izinkan kami dari musium rekor dunia Indonesia akan memberikan piagam penghargaan rekor dunia untuk Pemerintah Kabupaten Karawang,” ujar Senior Manajer MURI, Triyono.
Dari vidio amatir yang beredar di media sosial, paket-paket nasi tumpengan itu dibuang begitu saja oleh petugas kebersihan ke tempat sampah.
Kondisi ini sungguh ironis, mengingat hari ini, Sabtu (14/9/2024), adalah Hari Jadi Kabupaten Karawang, dan di hari jadinya ini Nasi Tumpeng yang memiliki makna yang sakral dan sprititual yang mendalam. Sebagai simbolisme rasa syukur kepada Tuhan justru dibuang-buang.
“Tumpeng itu Simbol Sakral, bagaimana Petani Karawang akan Berkah hasil taninya, jika Nasi yang berasal dari padi dibuang -buang terlebih lagi diacara Hari Jadi Karawang, dimana kebahagiaan harusnya untuk masyarakat Karawang,” kata Rudi, salah seorang warga masyarakat dari Cilamaya Wetan yang mengaku prihatin dengan kondisi tersebut.
“Sangat Mubazir sekali, Jangan karena demi pecah Rekor Muri, essensi makna yang sakral dari Nasi Tumpeng diperlakukan seperti itu, sementara masih banyak warga Karawang yang harus banyak menahan lapar dalam menjalani kehidupannya sehari-hari,” sesalnya.
Diketahui, dari rilis resmi Diskominfo Kabupaten Karawang, bahwa menurut hasil verifikasi Museum Rekor Indonesia (Muri) tercatat Peta Karawang seluas 25×30 meter dengan nasi tumpeng sebanyak 1.600 tumpeng merupakan rekor Muri terbesar di dunia.
Terkait informasi dan potongan video yang beredar di medsos, mengenai sejumlah nasi tumpeng yang dimusnahkan pihak panitia sudah klarifikasi. Panitia Penyelenggara melakukan upaya prventif, karena sebagian nasi tumpeng tersebut sudah tidak layak makan dan demi menghindari kejadian yang tidak diinginkan, pihak panitia memilih segera membersihkannya.
Nasi tumpeng yang telah melalui proses pemeriksaan oleh panitia dibagikan kepada masyarakat Kabupaten Karawang untuk bisa dinikmati.
Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang melalui Diskominfo menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyaman akibat informasi tersebut. *(Red)
NYARIS PUNAH - Upacara tradisional bobotan yang biasa dilaksanakan masyarakat Indramayu sekitar tahun 1960-1980an
INDRAMAYU (Aswajanews.id) – Salah satu karya budaya dari Kabupaten Kuningan yaitu Bobotan berhasil ditetapkan menjadi Warisan Budaya Takbenda (WBTb). Penetapan tersebut resmi dicatat oleh negara melalui Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI pada 23 Agustus 2024 lalu.
NYARIS PUNAH – Upacara tradisional bobotan yang biasa dilaksanakan masyarakat Indramayu sekitar tahun 1960-1980an
Bobotan sendiri merupakan upacara tradisional yang biasa dilaksanakan masyarakat Kabupaten Indramayu sekitar tahun 1960-1980an. Saat ini, Upacara Bobotan dapat dikatakan nyaris punah karena hanya masyarakat di kecamatan tertentu yang masih melakukan kegiatan tersebut.
Istilah Bobotan memiliki banyak makna. Dalam bahasa Jawa, Bobotan diartikan berat. Selain itu Bobotan juga berasal dari kayu milik Buyut Babar, namanya kayu bobotan. Kayu ini sekarang menjadi alat yang digunakan dalam upacara Bobotan. Kayu bobotan sampai sekarang masih disimpan penduduk setempat maupun keluarganya yang berada di kejauhan.
Lalu siapa Buyut Babar itu? Menurut laman Kemendikbudristek RI, dulu ada seorang prajurit Bagelan yang bernama Sutra Jiwa dari Mataram pernah menetap di Desa Pangkalan, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu. Alasan Sutra Jiwa menetap di desa tersebut karena kalah berperang. Suatu ketika, Sutra Jiwa bertemu dengan utusan dari Cirebon saat sedang memeriksa daerah perbatasan. Seorang utusan dari suatu kerajaan atau kesultanan, tentunya memiliki ilmu kedigdayaan dan tokoh asal Cirebon ini menyimpan ilmu Macan Siliwangi. Utusan Cirebon menyangka bahwa Sutra Jiwa berpihak pada kompeni (Belanda). Dituduh demikian, Sutra Jiwa pun tidak menerimanya. Mereka kemudian berkelahi. Perkelahian berjalan seimbang dan berakhir dengan babar (wafat). Dari peristiwa itulah, masyarakat kemudian menyebut keduanya dengan istilah Buyut Babar.
Upacara Bobotan dilaksanakan berkaitan dengan keturunan. Misalnya, apabila memiliki anak pertama laki-laki dan anak bungsu laki-laki, maka untuk menyelamatkan jiwa kedua anaknya harus mengadakan Upacara Bobotan. Caranya adalah, kedua anak ditimbang atau dibobot dengan kayu bobotan. Supaya seimbang, timbangan sebelahnya diberi tambahan berat yang sama.
Selain itu, upacara ini juga dilaksanakan apabila memiliki anak tunggal laki-laki atau perempuan. Upacara Bobotan juga dapat dilakukan jika satu keluarga memiliki tiga orang anak, tapi anak kedua sudah meninggal.
Tujuan upacara ini adalah untuk memohon keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa, agar mendapat keselamatan di dunia dan juga akhirat. Ini sekaligus sebagai salah satu cara untuk memupuk kerukunan persaudaraan kekeluargaan. Selain itu, agar anak mendapatkan keselamatan, perlindungan, dan kemuliaan.
Jalannya upacara bobotan dimulai dengan menimbang anak. Bobot isi timbangan harus seimbang dengan berat badan anak. Bila isi timbangan lebih banyak, maka anak tersebut akan mendapatkan kemuliaan di kemudian hari. Barang-barang yang ditimbang adalah barang-barang yang dianggap berharga, seperti pakaian, emas, perak, uang, beras, dan lain-lain. Selanjutnya, barang-barang tersebut menjadi harta kekayaan anak sebagai bekal untuk hidupnya.
Penimbangan dilakukan oleh juru timbang. Saat menimbang, juru timbang melantunkan kidung dengan lantunan syair bahasa daerah. Sambil mendengarkan lantunan kidung, sang anak yang ditimbang melemparkan uang ke tempat yang sudah disediakan. Uang tersebut nantinya menjadi milik juru timbang. Juru timbang biasanya akan mengantongi uang kurang lebih satu juta sampai lima juta tergantung tingkat ekonomi si empunya hajat. *(Sumber: Kemendikbudristek RI)
KAB BANDUNG (Aswajanews.id) – Duet Duo Gunawan sangat potensial memenangkan kontestasi pemilihan kepala daerah di Kabupaten Bandung pada 27 November 2024 mendatang.
Elektabilitas pasangan ini cukup kokoh untuk terpilih sebagai Bupati dan Wakil Bupati jika tak ada tsunami politik. Kesimpulan itu terlihat dari hasil pemberitaan dan media sosial terkait preferensi pemilih warga Kabupaten Bandung terhadap calon Bupati, wakil Bupati dan isu-isu politik lainnya.
Tolak Politik Uang (ilustras)
Direktur Jamparing Institut, Dadang Risdal Aziz mengatakan, jika tak ada tsunami politik seperti kandidat yang curang dan money politic, maka pasangan Sahrul Gunawan-Gun Gun Gunawan punya potensi kuat untuk memenangkan kontestasi politik lima tahunan di Kabupaten Bandung.
“Merujuk pada pemberitaan dan sosial media, potensi menang tersebut karena baik Sahrul maupun Gun Gun sama-sama punya elektabilitas yang tinggi. Sebagai cabub, Sahrul unggul cukup jauh dari cagub Dadang Supriatna. Begitu juga sebagai cawabub, Gun Gun unggul dibanding cawabub Alie Syakieb,” kata Dadang Risdal dalam keterangannya kepada media Sabtu, 14 September 2024.
Yang menarik, kata Risdal, dalam simulasi yang semakin mengerucut, misalnya elektabilitas Sahrul semakin naik, dari 50,5 ke 60%. Apalagi dalam simulasi head to head, Sahrul Gunawan semakin meroket.
elektabilitas lebih unggul
Dadang Risdal mencontohkan simulasi dua calon, elektabilitas Sahrul Gunawan tembus ke angka 60% saat berhadapan dengan Dadang Supriatna yang hanya 36,5%.
Kendati demikian, Dadang Risdal mengingatkan bahwa data survei juga mengungkapkan, masih ada 54,1% pemilih yang berkategori soft supporter (pemilih cair). Yaitu, gabungan antara mereka yang sudah punya pilihan tapi bisa berubah dengan yang belum punya pilihan sama sekali.
“Jumlah pemilih yang mayoritas itulah, yang sering saya sebut sebagai lahan tak bertuan. Artinya, pemilih yang masih bisa diperebutkan oleh siapa saja. Termasuk, kandidat yang saat ini masih rendah elektabilitasnya,” jelasnya.
Sementara itu, lanjut Risdal, sampai sekarang yang memiliki kandidat yang punya strong supporter tembus di angka 30% adalah Gun Gun Gunawan yang memiliki pemilih militan.
“Dari data tersebut, sebenarnya masih terbuka peluang buat siapa saja untuk menang. Hanya, duet Duo Gunawan lebih punya peluang besar,” ujar Dadang Risdal. (*)
Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya meninjau kondisi gudang di Tuk Kedawung, Cirebon
KABUPATEN CIREBON (Aswajanews.id) – Pemerintah Kabupaten Cirebon memastikan ketersediaan pangan, khususnya beras, berada dalam kondisi aman untuk beberapa bulan mendatang. Hal ini disampaikan oleh Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya, yang menyebutkan bahwa stok beras di wilayahnya mencapai 35 ribu ton.
Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya meninjau kondisi gudang di Tuk Kedawung, Cirebon
“Informasi dari Bulog, ketersediaan pangan untuk Cirebon, khususnya Kabupaten Cirebon, sudah aman. Untuk beras saja, tersedia 35 ribu ton, dengan 14 ribu ton tersimpan di salah satu gudang di Kabupaten Cirebon,” katanya usai meninjau kondisi gudang di Tuk Kedawung, Cirebon, Kamis (12/9/2024).
Ia menambahkan, bahwa penyaluran bantuan pangan di Kabupaten Cirebon akan mencapai 2.800 ton, sementara penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) diperkirakan sekitar 1.000 ton per bulan.
Selain beras, Wahyu juga menyebutkan, bahwa stok komoditas lain, seperti gula dan minyak goreng masih mencukupi.
“Cadangan gula ada 62 Ton dan minyak goreng 17 ton. Jadi, untuk beberapa komoditas yang menjadi perhatian kami, stoknya cukup aman,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Perum Bulog Cabang Cirebon, Ramaijon Purba menegaskan, bahwa ketersediaan beras di wilayahnya sangat aman, dengan stok mencapai 61 ribu ton. Bulog Cirebon telah menyerap 76 ribu ton gabah dan beras dari panen lokal.
“Kami menyerap gabah 5.400 Ton dan beras 72.500 Ton. Jika disetarakan dengan beras, totalnya 76 ribu ton. Kebutuhan penyaluran wilayah kami hanya 6.100 ton, artinya stok ini bisa bertahan hingga 10 bulan ke depan,” ungkap Ramaijon.
Ia berharap, panen tidak terganggu, sehingga beras yang ada saat ini dapat tersalurkan sebelum masa panen berikutnya, guna menjaga kesegaran dan kualitas stok.
Dengan ketersediaan yang memadai, Pemerintah Kabupaten Cirebon optimis dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat tanpa kendala dalam waktu dekat. (Diskominfo)
Situasi para penumpang Whoosh di Stasiun Padalarang, KBB, Sabtu (14/9/2024). ANTARA
BANDUNG (Aswajanews.id) – PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) menyebutkan sebanyak 75 ribu tiket kereta cepat Whoosh telah terjual selama periode libur panjang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Situasi para penumpang Whoosh di Stasiun Padalarang, KBB, Sabtu (14/9/2024). ANTARA
“Saat ini tiket yang sudah terjual sudah mencapai sekitar 75 ribu tempat duduk untuk perjalanan tanggal 13 sampai dengan 16 September. Jumlah tersebut akan terus bertambah mengingat penjualan tiket masih terus berlangsung,” kata Eva di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (14/9/2024).
Eva mengungkapkan peningkatan penumpang mulai terjadi sejak 13 September 2024. Di tanggal tersebut, jadwal keberangkatan di sore dan malam hari selepas pulang kerja menjadi salah satu incaran para penumpang dengan mayoritas okupansi dari kereta Whoosh yang beroperasi mencapai 98 persen.
Eva mengatakan KCIC sendiri menyiapkan sebanyak 48 perjalanan kereta cepat Whoosh yang mampu mengangkut 28.000 penumpang per hari saat periode libur panjang akhir pekan dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW 13 sampai 16 September 2024.
“Total terdapat ketersediaan tempat duduk sebanyak 115.392 untuk perjalanan Whoosh masa libur panjang mulai 13 hingga 16 September 2024,” kata Eva.
Eva mengungkapkan KCIC sangat antusias menyambut libur panjang Maulid Nabi Muhammad ini dengan mempersiapkan operasional kereta cepat Whoosh secara optimal.
“Kami berharap masyarakat bisa memanfaatkan layanan ini untuk bepergian dengan nyaman dan cepat selama liburan,” katanya.
Adapun mayoritas penumpang keberangkatan Halim turun di Stasiun Padalarang dan melanjutkan perjalanan dengan KA Feeder menuju Stasiun Bandung.
Dia menambahkan pada periode tersebut, KCIC tetap menjual tiket dengan skema dynamic pricing atau tarif dinamis dengan menawarkan harga lebih hemat pada periode perjalanan tertentu.
“Menyambut periode libur panjang ini, KCIC menerapkan skema tarif dinamis dimana tarif kereta menyesuaikan hari dan jam keberangkatan hingga rute yang dipilih dengan tarif termurah Rp150 ribu di jam-jam tertentu,” kata Eva. (*)
Oleh : Akhmad Sururi (Wakil Ketua DPW FKDT Jateng)
Pada satu kesempatan mengikuti mata kuliah Pendidikan Multikultural, penulis berkesempatan untuk mendiskusikan MDT (Madrasah Diniyah Takmiliyah) yang menjadi pilar sistem pendidikan nasional. Kebetulan Dosen pengampu mata kuliah tersebut pernah menjadi guru Madin selama kurang lebih empat tahun, sehingga banyak memahami dan mengalami proses penyelenggaraan MDT yang mayoritas ada di kampung kampung.
Satu hal yang menjadi catatan penulis dalam diskusi tersebut adalah tentang kondisi pengelolaan MDT yang membutuhkan sentuhan tangan tangan profesional. Selama ini dibeberapa tempat pengelolaan MDT masih terkesan tradisional dengan proses pembelajaran yang belum profesional. Stigma ini menjadi hambatan besar untuk kemajuan lembaga pendidikan MDT yang memiliki sejarah panjang dalam kancah pendidikan Islam di Indonesia.
Penilaian Sang Dosen terhadap Madin kemungkinan berdasarkan pengalaman di MDT dimana Beliau mengajar puluhan tahun yang lampau. Itupun hampir sama saat penulis mendapatkan amanat menjadi pengelola MDT yang sudah 6 tahun gulung tikar. Dengan berbekal dari Pondok Pesantren Lirboyo, penulis membuka kembali MDT Sirojut Tholibin yang sudah 6 tahun tutup.
Terlepas dari stigma di atas searah dengan perhatian pemerintah dalam hal ini Kementerian agama dengan beberapa program peningkatan mutu, pembelajaran, ada beberapa Madin yang sudah mengalami metamorfosis. Lebih dari itu faktor kepemimpinan yang memilki latar belakang pendidikan formal juga sedikit mengubah paradigma lama dengan sebutan tradisional.
Beberapa program Kementerian Agama semenjak munculnya nomenklatur direktorat pendidikan Diniyah dan Pesantren memberikan angin segar untuk perkembangan MDT. Meskipun progam yang digulirkan untuk MDT belum menyentuh secara masif kepada seluruh MDT, namun setidaknya banyak MDT yang menangkap kesempatan ini menjadi peluang untuk berbenah dalam mengelola MDT menjadi lebih baik.
Hadirnya Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah yang mewadahi Madrasah Diniyah juga berpengaruh terhadap pergerakan dalam peningkatan mutu pendidikan MDT. Pergerakan yang dilakukan forum tersebut bisa melakukan komunikasi yang produktif dengan pemerintah setempat. Dengan komunikasi tersebut akhirnya dapat melaksanakan kegiatan kegiatan yang bermanfaat untuk kemajuan Madrasah Diniyah.
Meskipun tidak semua FKDT bisa melakukan gerakan yang sama, akan tetapi struktural yang terbangun dari mulai tingkat pusat sampai dengan kecamatan menjadi mitra Kemenag. Dengan kemitraan tersebut, FKDT bisa membantu Kemenag dalam upaya peningkatan mutu pendidikan Madin. Hal ini sudah banyak dilakukan oleh beberapa FKDT di Kab/Kota di Indonesia.
Persoalan MDT yang kompleks berkait dengan lemahnya mutu pembelajaran, manejemen yang kurang tertata, pendidik yang kurang profesional dan lainnya, menjadi perhatian kita bersama. Sinergitas Kemenag Kabupaten/Kota, Pemkab/kota bersama dengan FKDT sangat dibutuhkan untuk mengatasi problematika MDT.
Oleh karena itu, dengan semangat tanggung jawab bersama dalam mewujudkan kecerdasan bangsa Indonesia menjadi sebuah keharusan. Penguatan rekognisi Pemerintah terhadap MDT merupakan energi untuk peningkatan mutu pendidikan Madin. Penyadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan MDT juga menjadi ikhtiar yang sangat penting. Disinilah Pemerintah hadir dan masyarakat menemukan titik kesadaran untuk para generasi kedepan.
Akhirnya kita berharap semoga MDT dengan jumlah ribuan di Indonesia dapat melakukan pembenahan dan meningkatkan mutu pendidikan. Meskipun butuh waktu yang cukup, namun setidaknya langkah yang telah dilakukan oleh Kemenag menjadi bagian perhatian yang serius terhadap pendidikan MDT. (*)
KARAWANG (Aswajanews.id) – Sebanyak 1.391 nasi tumpeng membentuk peta kabupaten Karawang menghiasi halaman Plaza Pemerintah Daerah (Pemda) Karawang. Moment bersejarah ini diabadikan dan tercatat di Rekor Muri sebagai Peta Terbesar dari Rangkaian Tumpeng dalam kegiatan rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-391, Sabtu (14/09/24).
Rekor Muri Peta Terbesar dari Rangkaian Tumpeng
Dalam rangka Hari jadi Kabupaten Karawang ke-391 tahun 2024, Bupati Karawang H Aep Syaepuloh, SE menggelar berbagai kegiatan mulai dari peringatan maulid Nabi Muhammad SAW di Makam Bupati pertama Karawang di Manggung Jaya dilanjutkan apel besar hari jadi di lapangan Karang Pawitan, dilanjutkan rapat paripurna di Gedung DPRD, penyajian 1391 tumpeng, Heleran budaya dan pawai serta mancing massal, pegelaran wayang golek dan berabagai kegiatan lainnya.
Secara umum, filosofi tumpeng lekat kaitannya dengan perwujudan nilai toleransi, keikhlasan, kebesaran jiwa, dan kekaguman atas kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Jika diperhatikan, bentuk tumpeng yang mengerucut dan dikelilingi lauk-pauk serta sayuran menggambarkan simbol ekosistem kehidupan. *(Red)
JAKARTA (Aswajanews.id) – Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia meminta para bakal pasangan calon pada Pilkada Serentak 2024 untuk menahan diri tidak berkampanye sebelum masa kampanye resmi ditetapkan.
Puadi anggota Bawaslu RI. Foto: Bawaslu
“Regulasi telah menentukan ada masanya bagi peserta pilkada untuk berkampanye,” kata anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) RI Puadi di Jakarta, Sabtu (14/9/2024), menanggapi maraknya bakal calon peserta pilkada yang memanfaatkan hari bebas kendaraan untuk berinteraksi dengan warga.
Menurut Puadi, secara teknis memang tidak ada larangan bagi bakal pasangan calon peserta pilkada memanfaatkan hari bebas kendaraan (car free day/CFD) untuk bertemu dengan masyarakat.
Hal itu karena masa kampanye Pilkada 2024 sudah ada jadwalnya dan bakal pasangan calon bisa menggunakan jadwal yang ada untuk mengajak warga yang mempunyai hak pilih untuk memilih ketika pelaksanaan pencoblosan pada 27 November mendatang.
“Untuk menjamin prinsip perlakuan yang sama dalam berkontestasi pada pilkada, bakal calon hendaknya bisa menahan diri untuk tidak melakukan tindakan semacam kampanye,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa aturan yang berlaku saat ini apabila bakal pasangan calon Pilkada 2024 sudah ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPU, semua aturan akan mengikat kepada peserta pilkada.
“Hal ini sesuai dengan PKPU yang menjelaskan bahwa pertemuan-pertemuan dianggap sebagai kampanye apabila bakal pasangan calon sudah ditetapkan sebagai pasangan calon oleh KPU,” katanya.
Saat ini, Pilkada Serentak 2024 masuk pada tahapan pengecekan syarat administrasi bakal pasangan calon dan setelah semua dinyatakan lengkap maka selanjutnya digelar rapat pleno penetapan calon kepala daerah. *(Red)
SAMBAS (Aswajanews.id)- Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) Yonkav 12/BC Pos Koki Sajingan Terpadu menggelar sunatan massal dan pengobatan gratis dalam rangka HUT Yonkav 12/BC yang ke-8 di Pasar Wisata Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Provinsi Kalimantan Barat, Selasa (10/9/2024).
Dansatgas Pamtas RI-Malaysia Yonkav 12/BC Letkol Kav Andy Setio Untoro, S.H., M.Ha., dalam keterangannya, Sabtu (14/9/2024) mengatakan bahwa kegiatan sunatan massal dan pengobatan gratis ini kami adakan khusus bagi warga di daerah perbatasan dan sekitarnya dalam kegiatan ini kami bekerjasama dengan puskesmas Sajingan Besar dan seluruh komponen instansi dan masyarakat sekitar perbatasan.
Selanjutnya dikatakan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka pembinaan teritorial terhadap masyarakat yang ada di wilayah perbatasan RI-Malaysia dan juga sebagai rangkaian kegiatan dalam rangka HUT ke-8 Yonkav 12/BC, dimana masyarakat menyambut dengan baik kegiatan sunatan massal dan pengobatan gratis tersebut.
Dansatgas berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, terutama di bidang kesehatan untuk masyarakat yang ada di perbatasan.
Warga sekitar mengungkapkan sangat senang dan sangat berterimakasih dengan bantuan yang diberikan oleh Satgas Yonkav 12/BC yang telah peduli dan banyak membantu warga. *(Sumber: Pen Satgas Pamtas RI-Mly Yonkav 12/BC)
Pejabat Walikota Cimahi, Dicky Saromi foto bersama anak anak SD Tridaya
CIMAHI (Aswajanews.id) – Pemerintah Kota Cimahi secara khusus memberikan ruang berekspresi dan presentasi bagi para penggiat seni dan budayawan yang ada di kota Cimahi. Melalui kegiatan pekan kebudayaan kota Cimahi tahun 2024 di Alun-alun kota Cimahi, Jawa Barat selama dua hari, Jumat dan Sabtu (13-14/9).
Pejabat Walikota Cimahi, Dicky Saromi foto bersama anak anak SD Tridaya
Kegiatan yang diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cimahi tersebut menyedot banyak perhatian dan sangat menghibur warga masyarakat kota Cimahi maupun sekitarnya. Dimana balutan rangkaian acara tersebut meliputi: Paggelaran Rampak Dalang Kota Cimahi, Gelar Seni Unggulan, Festival Musik Etnik Kolaborasi, Workshop Aksara Sunda Buhun dan Festival Permainan dan Olahraga Tradisional.
Ketua Panitia, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Mardi Santoso, S.Sos dalam laporannya menyampaikan, pelestarian kebudayaan sebagai langkah nyata di dalam upaya menjaga budaya lokal warisan leluhur dari kerusakan atau permusnahan akibat tergerus oleh arus globalisasi.
“Kesadaran ini mendorong kami membangun ruang apresiasi, ekspresi kreasi seni dan budaya serta melakukan interaksi kebudayaan yang beragam di tahun 2024 ini. Moment ini tidak saja peragaan budaya semata, tetapi juga sebuah panggilan untuk menjaga dan melestarikannya budaya lokal warisan leluhur yang tak ternilai harganya,” ujar Mardi.
Pejabat Walikota Cimahi, Dicky Saromi saat membuka kegiatan pekan budaya
Pejabat Walikota Cimahi, Dicky Saromi menyampaikan rasa syukurnya atas moment istimewa penyelenggaraan pekan budaya tahun 2024. “Langkah nyata tersebut, dilihatnya sebagai bentuk dari kepedulian untuk melestarikan budaya Kota Cimahi dan lebih daripada itu, untuk menjadikan kebudayaan kita terus menjadi ‘tuan rumah’ di Kota Cimahi yang kita cintai, secara khusus bagi young generation and society,” ungkapnya.
“Apa yang kita lakukan dalam pekan kebudayaan ini tidak hanya dari seni tari, musik tapi juga ada seni seni lainnya seperti seni lukis. Dengan setting goalnya, kota Cimahi akan semakin campernik, semakin dikenal dan bisa tampil menunjukkan indentitas dirinya, lewat budaya baik ditingkat lokal, regional maupun nasional, ujarnya saat berpidato sebelum membuka rangkaian kegiatan tersebut,” imbuhnya.
Sambil berharap melalui keseringan pagelaran event akbar seperti ini, bisa memberikan kepada masyarakat suatu spirit untuk semakin mencintai budayanya sendiri dan kotanya. Secara khusus bagi generasi muda dapat mengekpresikan dan mengenalnya secara lebih dekat serta melestarikannya budayanya ketimbang budaya luar.
Kapolsek Cimahi, Kompol Donny Irawan, SH, nampak bersama para penari
Sebagaimana anak- anak SDS Tridaya Tunas Bangsa yang begitu memukau, penuh semangat dan merasa happy, enjoy ketika menampilkan tiga materi lagu budaya nusantara dalam menyambut pekan budaya tersebut.
“Kami bangga bisa tampil dan memberikan suara-suara terbaik anak kami dan turut menghibur masyarakat pada kesempatan yang terhormat,” ujar kang Iyang selaku pelatih SD Tridaya Tunas Bangsa di sela-sela berpose bersama Pj Walikota Cimahi.
Hadir dalam pekan budaya tersebut unsur Forkopinda, para perangkat daerah, para penggiat seni dan budaya sekota Cimahi serta para tamu undangan. (Sinto)
BREBES (Aswajanews.id) – Dihadapkan Kepala Kantor Kemenag Kab Brebes dan beberapa pejabat kab Brebes, Gus Syafa panggilan akrab H. Musyaffa, Lc selaku anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah meminta ijazah MDTA menjadi persyaratan untuk masuk di SMP dan MTs wilayah Brebes. Permintaan tersebut disampaikan pada saat memberikan sambutan Pembukaan Pekan Olahraga dan Seni antar Diniyah (PORSADIN) VII di Pondok Pesantren Al Fattah Tegalgandu Kec Wanasari Kab Brebes.
“Kita tidak ingin kasus MDT gulung tikar seperti di Kec Losari dan Kec Ketanggungan merembet ke kecamatan lainnya. Oleh karena itu saya minta ijazah MDTA menjadi persyaratan untuk masuk di SMP dan MTs wilayah Brebes,” tegas Gus Syafa dihadapkan guru Madin se-Kab Brebes.
Gus Syafa menambahkan bahwa Madin gulung tikar karena yang ngajar tidak ada. Guru-gurunya memilih ke Jakarta untuk menghidupi ekonomi keluarga. Selanjutnya murid muridnya tidak ada, karena masyarakatnya tidak menganggap penting kehadiran MDT untuk anak anak mereka. Oleh karena itu hal ini harus menjadi perhatian kita bersama, terutama kesejahteraan guru Madin di Brebes yang setiap bulan hanya mendapatkan lima puluh ribu rupiah dari Pemkab Brebes.
Sebelumnya Dr H Abdul Wahab mengatakan, beberapa waktu yang lalu beberapa remaja terlibat dalam kasus tawuran. Mereka mengembangkan bakat yang tidak baik. Lain halnya Porsadin yang hari ini kita laksanakan sebagai penyaluran bakat yang baik untuk menghasilkan juara. Bakat dan minat santri diniyah harus disalurkan dengan cara yang baik, termasuk dengan kegiatan Porsadin.
Senada dengan Abd Wahab dalam siaran vidionya Hj Nur Nadhifah selaku anggota DPR RI Komisi X mengatakan, Porsadin sebagai wahana untuk melatih sportifitas dan melatih kejujuran dalam rangka mengembangkan bakat dan minat santri diniyah. Melalui perlombaan ini maka dapat terbentuk sikap sportifitas dan kejujuran santri diniyah.
Dalam kesempatan tersebut Akhmad Sururi selaku Ketua DPC FKDT Kab Brebes menyampaikan terima kasih kepada Gus Syafa selaku tuan rumah sekaligus anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah yang telah membantu suksesnya kegiatan Porsadin ke VII Kab Brebes. Dalam forum tersebut Akhmad Sururi juga menyampaikan bahwa ijazah MDTA sudah menjadi salah satu lampiran dalam PPDB di SMP Negeri wilayah Brebes. Semoga tahun depan bisa serentak seluruh SMP Negeri dan Swasta se-Kab Brebes. *(Red)
IKN (Aswajanews.id) – Presiden Joko Widodo mengumpulkan pejabat TNI dan Polri di Istana Negara Ibu Kota Nusantara (IKN), Kamis (12/9/2024). Dalam acara tersebut, Jokowi menyampaikan arahan di hadapan pejabat TNI-Polri seperti Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Kemudian juga para Panglima Kodam (Pangdam), Kapolda, Dandim, serta Kapolres.
Selain itu, hadir pula Presiden Terpilih sekaligus Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menkopolhukam Hadi Tjahjanto.
Pertama, Jokowi menyampaikan alasan mengajak berkumpul di IKN adalah untuk melihat seperti apa semangat transformasi dan progres kota masa depan.
“Agar semangat transformasi yang ada itu bisa Bapak Ibu bawa pulang untuk dikembangkan di daerah masing-masing,” ujarnya, seperti dikutip dari tayangan YouTube Sekretariat Presiden.
Lebih lanjut, Jokowi juga menekankan tentang Indonesia Emas di tahun 2045 demi kemajuan dan kemakmuran bangsa.
Menurut Jokowi, untuk menggapai hal tersebut harus melalui keputusan-keputusan besar yang memiliki risiko dan tantangan. Ia mengingatkan kepada TNI-Polri untuk berani mengambil keputusan sesuai tugas dan wewenang masing-masing untuk hak-hal yang berdampak besar bagi negara. Mulai dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, kemudian naik ke atas menjadi sebuah agregat nasional.
Selain itu, Jokowi juga meminta agar TNI-Polri memperbaiki tata kelola dan manajemen birokrasi agar semakin profesional. Hal tersebut akan membuat semua rakyat, apapun status sosialnya, baik pejabat hingga tukang gorengan, merasa dilindungi dan diayomi.
Jokowi mengimbau agar jajaran TNI-Polri melakukan hal-hal yang humanis dan baik bagi masyarakat. Dengan begitu maka citra institusi dan kepercayaan terhadap TNI maupun Polri juga akan semakin naik.
“Tapi sebaliknya jika saudara-saudara melakukan hal buruk maka dampak negatifnya juga akan besar. Hati-hati, misalnya terlibat judi online, penganiayaan, narkoba, atau pelecehan,” tutur Jokowi.
Menurutnya, hal-hal tersebut akan menyebabkan kepercayaan masyarakat terhadap intitusi menurun. Kemudian Jokowi mengingatkan bahwa Indonesia membutuhkan stabilitas untuk bisa tetap tumbuh dan membangun.
Untuk mencapai stabilitas tersebut, Jokowi menyebut membutuhkan TNI-Polri yang profesional dan dipercaya oleh rakyat.
Jokowi mengingatkan tentang adanya agenda penting yakni pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada bulan Oktober dan Pilkada Serentak pada bulan November.
Terkait hal tersebut, Jokowi meminta TNI-Polri untuk betul-betul menjaga stabilitas dan mendukung penuh transisi pemerintahan.
Jokowi memerintahkan untuk memastikan proses transisi tersebut berjalan dengan baik dan lancar serta jangan sampai ada riak-riak yang berpotensi mengganggu.
Kemudian mendukung penuh penyelenggaraan Pilkada Serentak, serta menjaga netralitas dan situasi agar tetap kondusif.
Terakhir, Jokowi menyoroti tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Ia meminta TNI-Polri bisa menjadi institusi pertama bagi perempuan dan anak dalam mencari perlindungan.
Dalam kesempatan tersebut, Jokowi juga menyampaikan permohonan maaf jika selama sepuluh tahun kepemimpinannya ada hal kurang berkenan bagi jajaran TNI-Polri. (*)
IKN (Aswajanews.id) Panglima Komando Operasi Udara I (Pangkoops Udara I) Marsda TNI Mohammad Nurdin, menghadiri kegiatan pengarahan yang diberikan oleh Presiden Republik Indonesia Ir. H. Joko Widodo kepada jajaran TNI-Polri yang berlangsung di Istana Negara Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, Kamis (12/9/2024).
Dalam Apel Dansat tersebut Panglima TNI melaporkan kepada Presiden RI bahwa pengarahan diikuti oleh seluruh Panglima, Komandan dan Kepala di jajaran TNI dan Polri hingga tingkat Lanud, Lanal, Kodim, dan Polres se-Indonesia, dengan TNI juga menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya acara ini yang memberikan kesempatan bagi anggota TNI dan Polri untuk mengenal dan melihat langsung perkembangan Ibu Kota Nusantara.
Panglima TNI juga mengajak seluruh anggota TNI dan Polri untuk menyimak dengan seksama setiap arahan yang disampaikan oleh Presiden, sebagai pedoman dalam meningkatkan profesionalisme dan Kinerja TNI-Polri di masa mendatang.
Dalam kesempatan tersebut Presiden RI Ir. H. Joko Widodo menyampaikan pengarahan dalam amanatnya yang menuturkan bahwa Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk dapat mewujudkan cita-cita dan visi besar dalam pembangunan Indonesia sentris dengan tujuan pemerataan dan keadilan.
“Kepada Pejabat TNI-Polri tetap semangat memperbaiki tata kelola, semangat memperbaiki manajemen birokrasi baik yang terdapat di TNI maupun yang terdapat di Polri, agar TNI terlindungi sehingga rakyat merasa diayomi. Semangat untuk memperbaiki citra diri, memperbaiki citra institusi agar TNI dan Polri semakin dipercaya oleh rakyat” jelas Presiden RI dalam pengarahannya dihadapan personel TNI-Polri yang hadir dalam kegiatan tersebut.*(Sumber : Pen Koopsud I)