
“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku”. (QS Asy-Syu’ara : 80)
Hakekat kesembuhan sejati adalah mutlak hak Allah Swt. meskipun secara manusia ikhtiar wajib diusahakan (berobat). Seseorang yang sakit lazimnya dapat sembuh apabila berobat dan mengikuti saran-saran dokter. Tetapi jangan juga mengatakan bahwa dokter atau obatlah sebagai penyembuh penyakit. Sebab yang menyembuhkan adalah Allah Swt. Dialah hakikatnya yang menyembuhkan, baik melalui sebab ataupun tidak.
Mendekatkan diri pada Allah Swt. Dzat yang menyembuhkan penyakit. Memiliki arti dalam kontek ibadah. Menerima dan ikhlas terhadap penyakit yang diderita. Berserah diri kepada-Nya. Dialah pemilik dan sumber ketenangan serta penentu kesembuhan.
Kelahiran perilaku Ikhlas dalam meraih kesembuhan tidak berdiri sendiri. Akan tetapi diiringi dengan usaha medis yang tepat agar penyembuhan dapat berjalan dengan optimal.
Potensi perasaan ikhlas yang Allah Swt. berikan pada manusia dapat menjadi sumber kekuatan, terutama dalam hal ini, untuk membuka salah satu kunci kekuatan jiwa yang dapat menyembuhkan penyakit.
Menerima kenyataan sakit yang dideritanya dengan ikhlas bukanlah tanda orang yang lemah, melainkan kunci utama untuk memulai proses penyembuhan mental dan spiritual. Penerimaan ini akan membantu pikiran beristirahat dari penolakan, sehingga tubuh dan jiwamu dapat fokus sepenuhnya pada pemulihan.
Menerima dengan sendirinya akan menenangkan pikiran. Menerima keadaan menurunkan tingkat stres, yang sangat penting lagi agar tubuh bisa memproduksi hormon penyembuh secara alami.
Sikap menerima merupakan proses perjalanan, yang penuh lika-liku, rintangan dan tantangan. Sehingga sangat wajar bila masih tersimpan rasa sakit, sedih, marah dan kecewa. Yang terpenting tidak terus-menerus menyalahkan keadaan. Menyesali yang berkepanjangan, tidur kelamaan tidak mau bangun dan bangkit. Memaafkan dan berdamai dengan kenyataan adalah bentuk ikhtiar batin agar langkah menuju kesembuhan jauh lebih ringan.
Menerima datangnya penyakit bukan berarti tidak boleh sedih, menangis, atau kecewa. Berikan waktu dan ruang pada diri sendiri untuk memproses rasa sakit tersebut agar hati bisa lebih tenang. Memahami bahwa ada hal-hal di luar kuasa kita sebagai manusia (seperti mengapa rasa sakit itu datang atau takdir yang sudah terjadi), namun diri kita tentu masih memiliki kendali penuh atas bagaimana cara kita meresponsnya.
Menerima dengan ikhlas sakit yang diderita adalah proses yang membutuhkan waktu. Menerima bukan berarti harus langsung merasa senang dengan kondisi tersebut, melainkan langkah berani untuk memeluk kenyataan dan melepaskan penolakan di dalam hati.
Menerima dan mensyukuri penyakit yang diderita dengan tetap berpikir positif. Masih banyak nikmat yang didapat dan penyakitnya yang diderita lebih ringan dari yang lain.
Kekuatan doalah yang harus terus diketuk dipintu langit. Untuk membantu memurnikan hati menuju penerimaan diri lebih kuat dan keajaiban sehat yang datang dan diberikan oleh Allah Swt.
Membersamai istri menerima ujian sakit dengan berusaha ikhlas dan terus berikhtiar. Mudah-mudahan menjadi bentuk nilai-nilai ibadah untuk mendekatkan diri dengan-Nya dan mendapat karunia-Nya. Semoga cepat sembuh istriku (Widyawati). Aamiiin.
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.































