Dalam sebuah sesi “Ngaji Filsafat”, Dr. Fahruddin Faiz kembali membedah fenomena sunyi yang tengah menyergap masyarakat modern: penjajahan pemikiran atau Ghazw al-Fikr. Mengutip pepatah legendaris Sun Tzu bahwa seni perang tertinggi adalah menaklukkan musuh tanpa peperangan fisik, Fahruddin mengingatkan bahwa hari ini, kekalahan manusia seringkali terjadi di ruang kepala, bukan di medan laga.
Menurutnya, invasi modern tidak lagi datang membawa pasukan bersenjata, melainkan menyusup melalui gagasan, pola pikir, dan pergeseran gaya hidup yng seringkali tidak disadari.
Fahruddin menyoroti perubahan drastis dalam filosofi hidup masyarakat Jawa yang kini mulai terkikis. Jika dulu prinsipnya adalah โMangan ora mangan sing penting kumpulโ sebuah simbol soliditas sosial dan spiritual kini realitasnya berbalik menjadi โKumpul ora kumpul sing penting mangan.โ
“Dulu, kita mengenal konsep tirakat. Ada kemauan untuk berproses, berprihatin, dan berusaha terlebih dahulu,” ungkapnya. Namun, budaya instan kini perlahan menggantikannya dengan hedonisme yang bermuara pada materialisme akut. Dampaknya fatal: manusia menjadi kuat secara informasi melalui arus digital, namun rapuh secara eksistensial.
Menghadapi Sekularisme Tersembunyi
Seringkali kita sibuk mengkritik sekularisme secara lisan, namun tanpa sadar mempraktikkannya dalam keseharian. Fenomena ini muncul saat seseorang mulai memisahkan nilai-nilai luhur dari aktivitas hidupnya. Kehidupan hanya dijalani sebagai rutinitas mekanis tanpa keterhubungan dengan prinsip spiritual atau moral.
Dalam menghadapi ketidakpastian hidup Fahruddin mengatakan “Ilmu” menjadi kacamata vital untuk melihat dunia dan cara pandang (worldview) yang kita miliki akan membentuk pola pikir, karakter, dan arah hidup seseorang.
Strategi Bertahan dalam Perang Pemikiran
Untuk memenangkan pertarungan gagasan ini, Fahruddin menawarkan dua jalan utama sebagai benteng resiliensi diri:
- Memperkuat Kompas Internal (Worldview) Visi hidup bukan berarti seseorang harus memiliki jawaban atas semua pertanyaan di dunia, melainkan memiliki kompas dasar. Tanpa orientasi hidup yang jelas, manusia hanya akan menjadi “buih” yang hanyut mengikuti arus tren. Orang yang tahu ke mana ia melangkah tidak akan mudah ditarik ke sana kemari oleh opini publik yang dangkal.
- Penguasaan Tradisi secara Substantif Fahruddin menekankan agar kita tidak terjebak pada identitas yang bersifat “kosmetik” atau simbolik belaka. Bangga dengan simbol agama atau budaya tanpa pemahaman mendalam hanya akan menciptakan kerentanan.
Resiliensi membutuhkan penguasaan mendalam atas teks, sejarah, filsafat, dan etika. Bukan sekadar dogma ‘kembali ke tradisi’, melainkan benar-benar memahami substansinya.”
Di akhir catatannya, Fahruddin mengingatkan bahaya laten dari “isme-isme” modern yang saling berkelindan, mulai dari Sekularisme, Materialisme, Konsumerisme, Hedonisme, hingga Relativisme. Ideologi-ideologi ini bekerja secara halus, mengikis kedalaman makna hidup dan menggantinya dengan kepuasan permukaan.
Melalui penguatan worldview dan kedalaman intelektual, diharapkan manusia modern tidak hanya sekadar bertahan, tapi mampu memenangkan kembali kemerdekaan berpikirnya di tengah kepungan arus zaman. (*)
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
































