INDRAMAYU (Aswajanews) – Pemerintah Desa Malangsari, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kembali meneguhkan komitmennya dalam melestarikan kearifan lokal melalui tradisi adat Mapag Sri. Halaman Balai Desa Malangsari dipadati ratusan warga yang antusias mengikuti prosesi budaya menyambut panen raya tersebut, Kamis pagi (14/5/2026).
Khidmatnya acara sudah terasa sejak Rabu malam (13/5/2026). Bertempat di halaman balai desa, rangkaian kegiatan diawali dengan siraman rohani dan tausiyah yang disampaikan oleh Ustaz Muhammad Zaky, S.Ag., M.Pd., dari Indramayu.
Memasuki puncak acara pada Kamis pagi, kegiatan Mapag Sri dimulai dengan doa bersama dan prosesi adat yang diiringi pertunjukan kesenian tradisional wayang kulit bertajuk “Panji Budaya” oleh Ki Dalang Somdani. Penampilan semakin semarak dengan iringan sinden Tiyah Permatasari dan Yeyen Ismantoro yang menghibur masyarakat semalam suntuk.

Kepala Desa Malangsari, Casminto, yang akrab disapa Kuwu Into, mengatakan bahwa tradisi Mapag Sri tidak hanya menjadi ritual budaya dan keagamaan, tetapi juga sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga.
“Melalui acara Mapag Sri ini, kita ingin menjaga agar budaya nenek moyang tidak hilang ditelan zaman, sekaligus mengajak seluruh masyarakat untuk selalu bersyukur atas apa yang telah kita terima hari ini,” ujarnya.
Menurutnya, tradisi tersebut menjadi simbol menyambut musim panen sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Mapag Sri adalah tradisi tahunan masyarakat sebagai wujud syukur menjelang panen raya, sekaligus penghormatan kepada Dewi Padi,” jelasnya.
Kegiatan berlangsung khidmat dan meriah dengan dihadiri unsur pemerintah desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, RT/RW, BPD, LPM, serta warga setempat.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Kecamatan Bangodua Eko Febiyanto, S.IP., Kasi Trantibum Kecamatan Bangodua Caskiyah, S.IP., Babinsa, Bhabinkamtibmas, para kuwu dan pamong desa, di antaranya Kuwu Wamin (Desa Rancasari), Kuwu Ayub (Desa Mulyasari), Kuwu Agus Syafrudin (Desa Bangodua), Kuwu Tarsono, S.T. (Desa Wanasari), Kuwu Panji Kholifatullah (Desa Tegalgirang), serta Kuwu Daryana (Desa Beduyut).
Tradisi Mapag Sri di Desa Malangsari tidak sekadar seremoni, melainkan juga menjadi wujud nyata nilai gotong royong, kebersamaan, serta penghormatan terhadap alam dan hasil bumi. Suasana haru dan bahagia terpancar dari wajah warga yang hadir, menjadikan tradisi ini sebagai warisan budaya yang sarat makna.
(Prapto/Herman Tongol)
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
































