INDRAMAYU (Aswajanews.id) – Tradisi Unjungan Buyut Lemah Duwur di Desa Tegalgirang, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, berlangsung meriah selama dua hari, 7–8 November 2026. Sebanyak 15 kelompok kesenian ogoh-ogoh turut memeriahkan karnaval budaya yang menjadi bagian dari upaya masyarakat melestarikan warisan leluhur.
Kegiatan yang digelar Pemerintah Desa Tegalgirang bersama masyarakat tersebut menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan dalam menjaga tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Lurah Desa Tegalgirang, Didi Setiadi, mengatakan Unjungan bukan sekadar pesta adat, melainkan momentum untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus menjaga kelestarian tradisi khas Indramayu.
“Kegiatan ini digelar bukan sekadar pesta semata, melainkan untuk mempererat tali silaturahmi sekaligus melestarikan tradisi khas Indramayu yang dikenal dengan nama Unjungan. Semangat ini menunjukkan kedekatan yang terjalin erat antara kepala desa dan seluruh warga Tegalgirang,” ujar Didi kepada Aswajanews.id, Sabtu (7/11/2026).

Karnaval budaya semakin semarak dengan penampilan 15 kelompok kesenian ogoh-ogoh dan sejumlah musisi lokal Indramayu. Kehadiran para seniman tersebut sekaligus menjadi ruang ekspresi bagi potensi seni dan kreativitas masyarakat daerah.
Tradisi Unjungan atau haul adat ini digelar masyarakat Desa Tegalgirang, khususnya warga Blok Girang RT 09–11, RW 04, Kecamatan Bangodua. Kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap jasa para leluhur.
Rangkaian acara diisi dengan doa bersama, tumpengan, ziarah, kirab budaya, pementasan seni, hingga hiburan rakyat berupa sandiwara. Puncak kemeriahan ditandai dengan pawai atau arak-arakan ogoh-ogoh yang melibatkan berbagai elemen masyarakat.
Tak hanya itu, parade Sinoman yang menampilkan anak-anak usia dini juga turut mencuri perhatian. Dengan iringan musik angklung, parade tersebut menampilkan beragam kreasi seni yang melibatkan masyarakat Desa Tegalgirang.
Kegiatan yang berlangsung hingga Minggu (8/11/2026) itu dihadiri Kuwu atau Kepala Desa Tegalgirang Panji Kholifatullah beserta jajaran pemerintah desa, unsur Forkopimcam Bangodua, Koramil, serta Kapolsek setempat.
Dalam kesempatan tersebut, Panji Kholifatullah menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah berpartisipasi menyukseskan penyelenggaraan tradisi Unjungan.
“Alhamdulillah, kegiatan ini berjalan lancar. Adat budaya di sini tak pernah hilang tergerus zaman,” ungkap Panji, Minggu (8/11/2026).
Menurut Panji, Unjungan merupakan wujud rasa syukur masyarakat kepada Sang Pencipta sekaligus momentum untuk mengenang dan meneruskan jejak perjuangan para leluhur. Tradisi ini juga diharapkan mampu memotivasi masyarakat untuk meningkatkan ibadah, menumbuhkan kepedulian sosial, serta memperkuat semangat kebersamaan.
Sementara itu, Ketua Panitia Penyelenggara Unjungan, Sarwadi, menjelaskan bahwa kegiatan tahunan tersebut tidak hanya diisi doa bersama, tetapi juga pementasan sandiwara “Aneka Tuggal” dan berbagai pertunjukan seni budaya.
Selama dua hari pelaksanaan, masyarakat disuguhi pawai ogoh-ogoh, kirab budaya, serta parade Sinoman yang diiringi musik angklung. Berbagai kreasi seni yang ditampilkan menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas budaya Desa Tegalgirang.
“Tradisi ini merupakan wujud rasa syukur masyarakat desa. Di dalam penyelenggaraannya terkandung nilai-nilai luhur gotong royong yang patut terus dilestarikan,” ujar Sarwadi.
Ia juga mengapresiasi Kuwu Tegalgirang, Panji Kholifatullah, yang dinilai telah mendorong pembangunan desa sekaligus memberikan perhatian terhadap pelestarian tradisi adat Jawa yang memiliki nilai sakral bagi masyarakat setempat.
“Semoga tradisi ini terus terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang,” pungkasnya.
(Prapto/Herman Tongol)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























