Gubernur Jateng, H. Ganjar Pranowo tengah menikmati enaknya kuliner khas Pemalang Nasi Grombyang Pak Haji Warso di jalan Martadinata, Pelutan, Kabupaten Pemalang
Setiap daerah di Indonesia tentu memiliki ciri khasnya masing-masing. Mulai dari seni, budaya, tradisi, wisata hingga kulinernya. Salah satu daerah yang cukup terkenal dengan wisata dan kulinernya yaitu Pemalang.
Pemalang merupakan salah satu kabupaten yang berada di provinsi Jawa Tengah. Luas Kabupaten Pemalang yaitu 111.530 km², dengan batas wilayah sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Purbalingga, dan sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Tegal.
Pemalang memiliki banyak makanan khas yang begitu menarik perhatian para pecinta kuliner. Beberapa makanan khas Pemalang, di antaranya, nasi grombyang, sate loso, lontong dekem, kraca, dan masih banyak lagi.
Untuk mengetahui lebih jelas tentang makanan khas Pemalang, redaksi telah merangkumnya dari berbagai sumber. Berikut ulasan lengkapnya.
Nasi Grombyang
Makanan khas Pemalang yang pertama yaitu nasi grombyang. Nasi Grombyang merupakan sejenis nasi campur khas Pemalang, Jawa Tengah. Nama makanan tersebut berasal dari penyajiannya, yaitu antara isi dan kuah lebih banyak kuahnya, sehingga tampak bergoyang-goyang.
Dalam seporsi nasi grombyang, biasanya berisi potongan daging sapi beserta kuah dan sate kerbau. Keduanya pun disajikan secara terpisah.
Salah satu nasi grombyang yang sangat terkenal yaitu nasi grombyang Pak Waridin Sirandu di Jl Gatot Subroto, No. 31, Kebondalem, Bojongbata, Pemalang.
Sate Loso
Makanan khas Pemalang yang kedua yaitu sate loso. Sate loso biasanya memanfaatkan daging kerbau sebagai bahan utamanya. Akan tetapi, dalam perkembangannya, sekarang sudah banyak pula sate loso yang memanfaatkan daging sapi.
Daging tersebut dibacem terlebih dahulu sebelum dibakar. Untuk bumbunya, ada dua macam, yaitu bumbu kacang dan bumbu sate. Sate ini biasanya disajikan bersama dengan sup yang berisikan tulang muda, urat, serta tauge.
Menurut cerita, nama sate loso ini berasal dari pembuatnya yaitu Mbah Loso. Sate loso yang cukup terkenal di Pemalang berada di Jl. Urip Sumoharjo N0.327, Pelutan, Pemalang.
Lontong Dekem
Lontong dekem merupakan makanan khas Pemalang berisi lontong yang dipadukan dengan sate khas dekem. Untuk sate pelengkapnya, terdapat dua varian yang bisa dipilih.
Ada sate dengan potongan yang dipipihkan sebelumnya lalu ditusuk dengan menggunakan lidi dan kemudian disiram dengan kuah. Dan ada pula sate goreng yang memiliki isi jeroan ayam maupun kulit yang dibumbui dengan serundeng kelapa.
Salah satu lontong dekem yang cukup terkenal yaitu di kedai Lontong Dekem Pak Dradjat yang lokasinya ada di Jl. Mochtar, Kebondalem, Pemalang.
Pecak Belut
Makanan khas Pemalang berikutnya yaitu pecak belut. Pecak belut ialah belut goreng yang diberi sambal. Anda dapat memilih pecak belut santan atau pecak belut sambal kering.
Dalam penyajiannya, pecak belut disajikan dengan bawang goreng utuh dan nasi hangat. Rasanya yang pedas nikmat dan menggugah selera membuat pecak belut disukai oleh para pecinta kuliner.
Kepiting Lemburi
Kepiting Lemburi merupakan kuliner khas Pemalang yang biasanya dimasak sedemikian rupa sampai cangkangnya lunak. Saking lunaknya, cangkang kepiting lemburi bahkan dapat digigit dengan mulut.
Kepiting lemburi biasanya dimasak dengan saus asam manis dan saus tiram. Jika Anda ingin mencoba kuliner satu ini, Anda dapat menemukannya di Jalur Pantura, Pemalang, Jawa Tengah.
Kraca
Makanan khas Pemalang selanjutnya yaitu kraca. Kraca merupakan makanan berbahan dasar keong, yang dimasak dengan bumbu khas seperti ketumbar, bawang putih, kemiri, dan rempah lainnya.
Rasanya yang unik dan khas membuat kraca menjadi salah satu kuliner yang cukup diminati. Jika Anda ingin mencoba kuliner ini, Anda dapat mencoba datang ke warung Mas Kiwil di desa Bodeh, Pemalang.
Apem Comal
Apem Comal merupakan makanan khas Pemalang yang terbuat dari campuran tepung terigu serta gula jawa. Apem comal memiliki cita rasa yang gurih dan manis. Harga apem comal pun cukup terjangkau, yaitu Rp1000 sampai Rp2000 per bijinya.
Cara membuat Apem Comal terbilang masih sangat tradisional, yaitu dengan menggunakan bakaran anglo. Selain itu, dalam pengemasannya juga masih menggunakan daun pisang.
Ogel-Ogel
Makanan khas Pemalang berikutnya yaitu ogel-ogel. Ogel-Ogel menjadi salah satu makanan khas Pemalang populer dan kerap dijadikan sebagai oleh-oleh. Rasanya yang gurih dan nikmat membuatnya diburu oleh banyak orang.
Ogel-ogel dibuat dari tepung ketan yang dicampur dengan bumbu-bumbu seperti garam, gula, dan keju. Ogel-Ogel cukup mudah ditemukan di toko oleh-oleh daerah Pemalang, Jawa Tengah. *(Berbagai Sumber)
Bagi wisatawan yang gemar dengan wisata alam, Pangandaran adalah destinasi wisata yang cocok untuk berlibur dan refreshing.
Kabupaten Pangandaran di Jawa Barat memiliki sejumlah wisata alam yang menakjubkan. Kabupaten ini terkenal memiliki beragam wisata pantai karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan laut. Namun, Pangandaran ternyata juga memiliki tempat wisata alam lain berupa sungai, gua, hingga cagar alam. Bagi wisatawan yang gemar dengan wisata alam, Pangandaran adalah destinasi wisata yang cocok untuk berlibur dan refreshing. Berikut adalah sejumlah tempat wisata alam di Pangandaran.
Pantai Pangandaran
Pantai Pangandaran adalah wisata tepi laut yang berlokasi di sebelah tenggara Jawa Barat, tepatnya di Desa Pangandaran dan Penanjung, Kabupaten Pangandaran. Pantai ini terkenal dengan keindahan pasir hitam dan putihnya. Kondisi kawasan Pantai Pangandaran memiliki keindahan alami beserta lingkungan yang bersih dan terjaga, sehingga nyaman dikunjungi.
Berbagai macam aktivitas dapat dilakukan di Pantai Pangandaran. Pantai ini landai, sehingga wisatawan bisa bermain air dengan cukup aman. Pantai Pangandaran juga memiliki beberapa fasilitas untuk aktivitas olahraga air. Wisatawan dapat menaiki wahana Banana Boat dan Jet Ski sebagai sarana menyusuri perairan pantai. Pada sore hari, wisatawan juga dapat duduk-duduk di pinggiran pantai sembari menikmati pemandangan matahari terbenam.
Fasilitas di pantai ini tergolong lengkap. Ada lahan parkir yang luas, penjaga pantai, pemandu wisata, dan pusat informasi. Ada pula penginapan dan kafe. Pantai Pangandaran dibuka untuk umum hingga malam hari. Namun, terdapat jam buka yang berlaku hanya untuk kegiatan bermain air, yaitu pukul 06.00 – 17.00 WIB. Harga tiket masuknya adalah Rp 6.000 per orang.
Green Canyon Pangandaran
Green Canyon adalah wisata alam berupa aliran sunai yang diapit dua bukit bebatuan yang menembus goa. Wisata ini terletak di Desa Kertayasa, Kecamatan Cijulang. Nama Green Canyon merupakan sebuah pelesetan dari Grand Canyon di Sungai Colorado, Amerika Serikat. Tempat wisata ini juga dikenal sebagai Cukang Taneuh.
Wisatawan dimanjakan dengan panorama alam yang indah. Dengan tebing-tebing batu yang tinggi dan pepohonan yang lebat di sekitarnya, suasana di Green Canyon kian teduh. Obyek wisata ini menawarkan keindahan dinding bebatuan yang ditutupi lumut dan wisatawan dapan menikmatinya dengan menyusuri sungai menggunakan perahu.
Obyek wisata ini menawarkan keindahan dinding bebatuan yang ditutupi lumut dan wisatawan dapan menikmatinya dengan menyusuri sungai menggunakan perahu.
Salah satu aktivitas adalah body rafting, aktivitas olahraga air seperti arung jeram, tetapi tidak menggunakan rakit maupun dayung. Aktivitas lain yang dapat dilakukan adalah berperahu menyusuri Sungai Cijulang. Perjalanan di perahu ini berlangsung selama 30-45 menit pulang pergi.
Green canyon menyediakan beberapa sarana pelengkap. Di antaranya adalah area parkir, rumah makan, kamar mandi, dan toko oleh-oleh. Baca juga: Wisata ke Green Canyon Pangandaran, Perhatikan Dulu Hal-hal Berikut Pada hari Senin-Kamis Green Canyon buka pukul 08.00-16.00 WIB. Pada akhir pekan, jam bukanya pukul 7.30-16.00 WIB. Khusus Jumat, Green Canyon buka pukul 13.00-16.00 WIB. Tiket masuk ke Green Canyon sudah termasuk dalam pembelian paket body rafting, yaitu seharga Rp 225.000 per orang. Untuk masuk ke kawasan Green Canyon wisatawan cukup membayar parkir seharga Rp 5.000 untuk mobil dan Rp 15.000 untuk transportasi besar seperti bus.
Pantai Batu Hiu
Pantai Batu Hiu menawarkan keindahan pemandangan laut lepas Samudera Hindia dari bukit karang. Pantai ini disebut juga sebagai Tanah Lotnya Jawa Barat karena batu karangnya yang menjorok ke tengah laut seperti di Tanah Lot di Bali. Pantai Batu Hiu berlokasi di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi, Pangandaran. Pantai ini cocok sebagai tempat untuk bersantai karena memiliki hamparan rumput hijau yang memberikan nuansa teduh. Semilir angin laut pun menambah nyaman suasana.
Wisatawan tidak disarankan untuk berenang di pantai ini. Ombak Samudera Hindia yang dikenal ganas dan bergelombang tinggi cukup membahayakan. Batu karang yang tajam juga dapat membahayakan keselamatan wisatawan.
Pantai Batu Hiu memiliki sejumlah spot foto menarik. Salah satu spot foto ada di atas bukit kecil. Wisatawan dapat berfoto dengan latar belakang panorama lautan yang biru. Umumnya wisatawan dapat berkunjung dari pada pagi hari untuk menikmati matahari terbit, atau di sore hari untuk menyaksikan matahari terbenam.
Fasilitas yang disediakan di Pantai Batu Hiu adalah area parkir, gazebo, dan sejumlah warung penjual makanan dan minuman. Harga tiket masuk Pantai Batu Hiu adalah Rp 6.000 per orang.
Sungai Citumang
Tak kalah bagus dengan Green Canyon, Citumang juga memiliki pemandangan alam yang indah dengan aliran sungai jernih dan bebatuan alam. Wisata Citumang berlokasi di kompleks Obyek Wisata Citumang, Desa Bojong, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Sungai Citumang memiliki aliran air yang jernih berwarna hijau kebiruan. Alirannya tenang dan memiliki beberapa air terjun rendah. Di kawasan Citumang, wisatawan dapat menikmati pemandangan sekitar atau berenang. Buat kamu yang gemar dengan aktivitas yang lebih menantang, cobalah body rafting.
Saat body rafting, wisatawan akan menyusuri sungai dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam. Kedua mata akan dimanjakan dengan pemandangan indah selama menyusuri sungai. Wisatawan akan ditemani dengan seorang pemandu selama body rafting. Pemandu kemudian akan mengajak wisatawan ke sejumlah spot seperti air terjun, bendungan, dan akar gantung. Kawasan wisata ini dilengkapi dengan sejumlah fasilitas umum, seperti lahan parkir, toilet, mushala, dan tempat makan. Wisatawan juga dapat menemukan tempat penginapan bagi yang ingin bermalam.
Citumang buka setiap harinya pukul 07.00 – 17.00 WIB. Harga tiket masuk berkisar dari Rp 19.000-Rp 24. 000 per orang. Untuk paket body rafting wisatawan akan dikenakan biaya senilai Rp 85.000. Paket tersebut sudah termasuk perlengkapan body rafting, pemandu, asuransi, dokumentasi, dan makan siang.
Cagar Alam Pangandaran
Cagar Alam Pangandara adalah rumah bagi berbagai flora dan fauna, beberapa diantaranya dilindungi. Wisatawan dapat menjelajahi kawasan cagar alam ini dan bertemu dengan berbagai jenis satwa liar. Di antaranya adalah rusa, kijang, lutung, hingga landak jawa. Lokasi Cagar Alam Pangandaran adalah di Penanjung. Tempat ini ternyata juga menyimpan jejak sejarah zaman Hindu. Di kawasan ini wisatawan juga dapat menemukan Batu Kalde yang diduga adalah peninggalan Umat Hindu pada abad ke-15.
Taman wisata ini juga menyimpan sejumlah goa yang tak hanya terbentuk secara alami. Ada pula goa buatan yang merupakan markas perlindungan Jepang di masa Perang Dunia II. Beberapa goa yang dapat ditemukan di kawasan ini adalah Goa Panggung, Goa Parat, dan Goa Sumur Mudal.
Taman Wisata Cagar Alam Pangandaran memiliki beberapa fasilitas seperti area parkir, toilet, dan mushola. Mereka juga menyediakan jasa pemandu. Wisatawan yang ingin menikmati alam sembari belajar mengenai sejarah di kawasan ini akan dikenakan tiket masuk seharga Rp 16.000 – Rp 21.000 per orang. ***(Disparbud Jabar)
Ratusan massa buruh dari Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) dan aliansi serikat pekerja lainnya melakukan unjuk rasa di depan Gedung Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (25/11/2021)
Jakarta (Aswajanews.id) – Aliansi buruh dan mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak) akan menggelar aksi unjuk rasa pada Senin siang di depan Gedung Balai Kota DKI Jakarta guna mendesak kenaikan upah minimum provinsi (UMP) sebesar minimal 10 persen.
Juru Bicara Gebrak Ilhamsyah saat dihubungi di Jakarta, Senin, menyatakan, sebelum menyampaikan tuntutan kenaikan UMP, pihaknya akan melakukan aksi di kawasan industri, seperti di Jakarta Utara dan Tangerang, kemudian mengarah ke depan Gedung Balai Kota DKI Jakarta.
Ia mengatakan pihaknya menuntut pencabutan Surat Keputusan (SK) Penetapan Upah Minimum Provinsi yang hanya naik sebesar 1,09 persen. “Kedua, kita menuntut Presiden Jokowi mengeluarkan kenaikan upah secara nasional rata-rata antara 10 sampai 15 persen melalui Keputusan Presiden atau Kepres,” kata Ilhamsyah yang juga Ketua Umum Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) ini.
Buruh dan mahasiswa juga menuntut agar pemerintah dapat menjalankan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan bahwa Undang-Undang (UU) Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja inkonstitusional secara bersyarat.
Sebelumnya, Omnibus Law UU 11/2020 Cipta Kerja dinyatakan inkonstitusional. Putusan itu dibacakan oleh Ketua MK Anwar Usman dalam sidang uji formil UU 11/2020 Cipta Kerja yang disiarkan secara daring, Kamis (25/11).
Omnibus Law UU 11/2020 Cipta Kerja dinyatakan inkonstitusional atau bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. MK memerintahkan DPR dan pemerintah memperbaiki UU Cipta Kerja dalam jangka waktu dua tahun ke depan.
Adapun aksi unjuk rasa nanti akan diikuti oleh sejumlah massa dari berbagai elemen, seperti buruh dari Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI), Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) dan mahasiswa dari Liga Mahasiswa Nasional untuk demokrasi. “Estimasi ada sekitar 5.000 orang yang akan turun ke jalan,” kata Ilhamsyah. (Ant)
Pabrik-pabrik itu memproduksi komponen regulator generator yang tidak digunakan pada mobil listrik. Pabrik itu juga sudah kekurangan permintaan sepanjang tahun 2021
Jakarta (Aswajanews.id) – Transisi dari kendaraan konvensional ke kendaraan listrik memberikan dampak kepada para pekerja perusahaan komponen dan elektronika Bosch, yang berencana merumahkan sebanyak 1.000 karyawan.
Menurut serikat pekerja setempat, dilansir CarsCoops pada Senin, kebijakan itu memicu protes dari ribuan pekerja otomotif di Jerman yang akan melancar aksinya di Munich dan Arnstadt.
Sekitar 1.000 orang pekerja Bosch yang bekerja di Pabrik Buehl akan dirumahkan mulai 2025. Sedangkan Pabrik Arnstadt akan merumahkan sekitar 100 orang pekerja.
Pabrik-pabrik itu memproduksi komponen regulator generator yang tidak digunakan pada mobil listrik. Pabrik itu juga sudah kekurangan permintaan sepanjang tahun 2021.
Kendati demikian, perusahaan masih memiliki opsi untuk memindahkan sebagian karyawan ke pabrik lain yang masih berproduksi. “Tujuan kami adalah menyiapkan langkah-langkah melalui dialog dengan perwakilan pekerja dengan tujuan menemukan segala peluang dan melanjutkan pekerjaan, sambil juga menunjukkan peluang pekerjaan baru di luar perusahaan,” kata juru bicara Bosch kepada Reuters.
Di sisi lain, Kepala Dewan Pekerja dari Divisi Mobilitas Bosch, Frank Sell menyatakan bahwa perubahan strukturan di perusahaan itu memerlukan upaya yang besar. Namun ia berharap hal itu bisa terjadi dan menciptakan situasi yang adil untuk semua pekerja. (Ant)
Jakarta (Aswajanews.id) – Kapolda Papua Irjen Pol Marthinus D Fakhiri mengatakan insiden perkelahian antara anggota Polri dan TNI di Tembagapura, Timika, telah diselesaikan secara damai. Ia menyebutkan, insiden tersebut hanya kesalahpahaman saja, bukan bentrok atau keributan besar.
“Tidak ada bentrok, salah paham saja itu. Sudah diselesaikan, sudah berdamai,” ujar Marthinus kepada wartawan di Jakarta, Senin (29/11/2021).
Video diduga keributan antar anggota TNI tergabung dalam Satgas Nanggala Kopassus dan anggota Polri dari Satgas Amole di Kabupaten Mimika beredar di media sosial.
Menurut Mathinus, Satgas Nanggala dan Satgas Amole, sama-sama berada di bawah Operasi Satgas Nemangkawi. “Nanggala juga kan itu di bawah Kapolda, karena di bawah Operasi Nemangkawi. Amole juga sama di bawah Kapolda, sudah diselesaikan langsung,” kata Marthinus.
Marthinus tidak merinci soal adanya korban dalam perkelahian tersebut, namun dia memastikan permasalahan sudah diselesaikan. “Korban luka-luka biasa saja. sudah diselesaikan. Tidak masalah ya. Insyaallah aman-aman saja,” katanya menerangkan.
Berdasarkan siaran pers Humas Polda Papua, peristiwa kesalahpahaman tersebut terjadi Sabtu (27/11) bertempat di Ridge Camp Pos RCTU Mile 72 tepat di depan Mess Hall, Timika, Papua.
Kesalahpahaman tersebut berawal dari enam personel Satgas Amole Kompi 3 yang berada di Pos RCTU Ridge Camp Mile 72 yang sedang berjualan rokok.
Selanjutnya tiba Personel Nanggala Kopassus sebanyak 20 orang membeli rokok dan komplain mengenai harga rokok yang dijual personel Amole Kompi 3 Penugasan. Selanjutnya dan pengeroyokan dengan menggunakan benda tumpul dan tajam terhadap enam Personel Amole Kompi 3 Penugasan.
Dalam keterangan pers tersebut, Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Ahmad Musthofa Kamal mengatakan kasus tersebut merupakan kesalahpahaman antara personil Satgas Nanggala Kopassus dengan Satgas Amole.
Pimpinan masing-masing setelah menerima laporan, langsung berkoordinasi untuk menyelesaikan kesalahpahaman tersebut. Saat ini permasalahan tersebut telah diselesaikan secara damai. “Selanjutnya, tindakan disiplin terhadap mereka yang terlibat perkelahian akan tetap dilakukan,” kata Kamal.
Pasca kejadian tersebut situasi di Kabupaten Mimika khususnya di Ridge Camp Pos RCTU Mile 72 tepat di depan Mess Hall, Timika, Papua aman dan kondusif. (Humas Polda Papua)
Muatan lokal yang inspiratif, edukatif, dan ramah anak harus menjadi prioritas mengingat media penyiaran di Indonesia merupakan media yang paling banyak diakses meski harus bersaing dengan perkembangan media digital
Jakarta (Aswajanews.id) – Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat berharap konten lokal edukatif, insipiratif serta ramah anak mampu mendominasi media penyiaran Indonesia agar bisa memberikan manfaat optimal kepada seluruh masyarakat.
Harapan itu disampaikan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Agung Suprio, berkaca dari masih banyaknya konten konten asing dan kurang ramah anak yang disiarkan di media-media penyiaran saat ini. “Kami terus berharap TV dan radio (di Indonesia) bisa membuat lebih banyak konten bermuatan lokal, yang memang asli menggambarkan Indonesia,” kata Agung dikutip Senin.
Muatan lokal yang inspiratif, edukatif, dan ramah anak harus menjadi prioritas mengingat media penyiaran di Indonesia merupakan media yang paling banyak diakses meski harus bersaing dengan perkembangan media digital.
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Lembaga Riset Media Nielsen, selama 2020 media penyiaran merupakan media yang paling banyak diakses oleh masyarakat Indonesia.
Media penyiaran pun kini bersaing ketat dengan platform digital seperti layanan streaming audio serta Over-The-Top (OTT). Agar kontennya tetap diminati namun bisa membentuk SDM dari generasi muda semakin berkualitas maka diperlukan konten lokal yang bersifat inspiratif, edukatif, serta ramah anak di media penyiaran Indonesia. Tentunya produksi konten- konten lokal bermuatan positif tersebut diharapkan bisa digenjot oleh media- media yang nanti mengisi ruang publik setelah Analog Switch Off (ASO) terealisasi penuh pada 2 November 2022.
Hal serupa juga disampaikan oleh Anggota Komisi I DPR RI Dave Akbarshah Fikarno yang mengharapkan media penyiaran Indonesia bisa menggunakan paradigma “out of the box” agar konten yang disajikan bisa bersaing dengan media asing namun tetap diminati masyarakat Indonesia.
Dave menyebutkan setelah ASO terealisasi secara nasional maka ada efisiensi lebar pita yang memungkinkan semakin banyak media penyiaran baru berkembang. Kondisi itu harus diiringi peningkatan kualitas produksi konten- konten yang mendidik di ruang publik.
“Industri kreatif penyiaran harus berinovasi menghadirkan konten dengan nilai- nilai yang kita anut seperti tata krama, moralitas, dan nasionalisme. Jangan manja, cuma ambil program dari media asing lalu di-dubbing. Ini justru tidak mendukung industri kreatif Indonesia,” ujarnya. (Ant)
Rupanya masih banyak yang belum paham ihwal Walk-Out (WO) dalam suatu sidang di parlemen. Seperti yang baru-baru ini (Jumat 26 November 2021) dilakukan oleh 3 Anggota Legislatif (ALeg) dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di DPRD Kota Bandung. Ketiganya adalah Christian Julianto, Erick Darmajaya dan Yoel Yosaphat. Dalam sidang paripurna DPRD Kota Bandung mereka melakukan WO, kenapa?
Intinya adalah soal postur anggaran (APBD) yang tidak memihak rakyat. Namun sebelumnya mendalaminya, ada baiknya kita mengenal dulu anatomi DPRD Kota Bandung (periode 2019-2024) yang berisi 50 kursi. Begini komposisinya: PKS (13 kursi; 26%), Gerindra (8 kursi; 16%), PDIP (7 kursi; 14%), Golkar (6 kursi; 12%), Nasdem (5 kursi; 10%), Demokrat (5 kursi; 10%), PSI (3 kursi; 6%), PKB (2 kursi; 4%), PPP (1 kursi; 2%). Adapun Pemerintah Kota (PemKot) Bandung (periode 2018-2023) dipimpin seorang Walikota yang saat ini dijabat oleh H. Oded Mohamad Danial,S.A.P (Mang Oded) dari Partai PKS.
Sebelum menjabat Walikota, Mang Oded adalah Wakil Walikotanya H. Ridwan Kamil di periode 2013-2018. Ia juga pernah jadi Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah DPW PKS Jawa Barat, 2015-2020. Sedangkan Wakil Walikotanya adalah H. Yana Mulyana, S.E. (Kang Yana). Latar belakangnya pengusaha. Ia pendiri Radio Rase FM, pernah jadi Ketua DPD REI Jawa Barat, Ketua HIPMI Jawa Barat, Sekretaris Dewan Pertimbangan Kadin Jawa Barat, juga Ketua PSSI Kota Bandung dan Ketua Generasi Muda FKPPI.
Kembali ke peta parlemen (DPRD) Kota Bandung. Jadi “kekuatan” ketiga ALeg PSI itu hanya 6% melawan 94% ALeg lainnya. Sehingga kalau pun mesti voting, jelaslah suara rakyat akan kalah.
Kenapa disebut suara rakyat? Sederhana, karena PSI memprotes postur APBD yang sama sekali tidak berpihak kepada rakyat. Berikut penjelasannya. Dalam RAPBD 2022 Kota Bandung, dikatakan bahwa anggaran belanja modalnya hanya Rp 626 miliar. Ini artinya cuma 9,41%, dimana angka idealnya adalah sekitar 30-40% dari APBD.
Kalau disoroti lebih khusus lagi soal belanja modal untuk jalan, jaringan, dan irigasi, bahkan hanya Rp 112,9 miliar atau 1,69% dari total APBD. Sementara itu, di sektor yang tidak penting seperti tunjangan perumahan pejabat malah naik sebesar Rp 20 juta! Termasuk soal anggaran belanja pegawai yang sudah sangat besar dan terus naik dari tahun ke tahun. Pendeknya, APBD (uang rakyat) habis untuk belanja pegawai saja. Dampaknya untuk masyarakat? Nihil!
Sudah terlihat ketidak berpihakannya bukan? Dimana persoalan besar Kota Bandung seperti banjir, transportasi umum, dan penanganan sampah jadinya tidak tersentuh dalam kebijakan Walikota selama ini.
Kenapa sampai akhirnya ketiga ALeg PSI itu WO dari sidang paripurna adalah juga lantaran kejadian ini bukan yang pertama kali. Dicatat bahwa ALeg PSI itu sudah mengikuti pembahasan dan penyusunan APBD dari sejak mereka dilantik Agustus 2019 lalu. Sejak itu mereka tidak menemukan adanya visi kota yang jelas dari pihak eksekutif (Walikota).
Arah pembangunan Kota Bandung tidak jelas, ini seperti kota auto-pilot. Tidak terasa ada pembangunan yang signifikan, malah makin semrawut dan tidak terurus. Taman-taman dan infrastruktur fisik yang dulu sempat dibanggakan warga Bandung, sekarang kondisinya menurun, alias tidak terawat. Belum lagi kita bicara soal inovasi dan gebrakan demi mengatasi disparitas (kesenjangan) sosial serta pemulihan ekonomi.
Mengacu pada data BPS 2020, jumlah penduduk miskin bertambah 15.000 orang, diikuti tingkat kedalaman kemiskinan juga naik dari 0,53 menjadi 0,61 di tahun 2020. Nah! Sekarang kita bisa memahami, mengapa ketiga ALeg PSI itu tidak dapat menyetujui RAPBD 2022 yang sudah disusun. Lantaran postur dan komposisi anggaran sama sekali tidak menunjukkan transformasi. Apalagi soal transparansi anggaran, masih jauh panggang dari api! PemKot Bandung nyatanya gagal membawa perubahan. Hanya stagnasi dan bahkan kemunduran yang ada.
Lalu, apakah dengan WO ini ketiga ALeg PSI itu bisa membawa perubahan? Nah ini dia. Kita sudah tahu bahwa “kekuatan” ketiga ALeg PSI itu hanya 6%, dan mereka mesti “melawan” kekuatan 94% (PKS, Gerindra, PDIP, Golkar, Nasdem, Demokrat, PKB dan PPP) di parlemen Kota Bandung.
Kecil memang, tapi itulah sejatinya wakil rakyat yang mewakili suara rakyat, mewakili kepentingan rakyat. Berani menyuarakan dengan lantang, walau di tengah sunyinya padang gurun.
Mekanisme WO dalam hukum ketatanegaraan Indonesia merupakan bagian dari fenomena demokrasi. Itu dilakukan anggota parlemen manakala terjadi perbedaan pendapat dalam persidangan yang tidak mencapai kesepakatan. WO adalah salah satu mekanisme mempertahankan pendapat.
Idenya bahwa WO ini seyogianya bisa mempengaruhi kuorum yang diperlukan dalam pengambilan keputusan sidang. Walaupun, anggota parlemen yang melakukan WO memang tidak dapat mempengaruhi hasil keputusan sidang manakala ternyata kuorum tetap mencukupi. Hal lain yang mesti kita sadari adalah bahwa proses sampai terjadinya WO oleh ketiga ALeg PSI itu tentu bukan perjalanan yang pendek. Bukan seketika itu di sidang paripurna, tapi sudah melewati proses perdebatan (adu argumentasi) serta mungkin lobbying yang cukup memakan waktu, tenaga dan pikiran.
WO itu terjadi sebagai upaya terakhir ALeg PSI untuk membela kepentingan rakyat dengan mempertahankan pendapatnya. Ini adalah signal yang kuat. Signal kepada seluruh rakyat yang diwakilinya, juga kepada seluruh rakyat Indonesia yang peduli terhadap nasib bangsa ini.
Kasus WO di parlemen Kota Bandung adalah pelajaran penting dalam proses pendidikan politik bangsa ini. Pelajaran tentang betapa kita tidak boleh acuh dan tidak peduli dengan proses politik dalam memilih wakil-wakil rakyat (pileg). Juga pelajaran penting tentang transparansi anggaran.
Apakah Pemerintah Kota Bandung sudah transparan dalam pengelolaan uang rakyat? Misalnya, sudahkah mereka mengunggah keseluruhan proses penganggaran ke situs resmi PemKot? Diunggah sejak KUA-PPAS (Kebijakan Umum APBD – Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara), secara rinci sampai satuan harga ketiga (satuan barang). Dan akhirnya juga sampai ke realisasi penggunaannya.
Kita masih ingat pesan dari Kofi Annan (mantan Sekjen PBB) yang bilang, “If corruption is a disease, transparency is a central part of its treatment.” Akhirnya, upaya WO ketiga ALeg PSI yang cuma 6% di DPRD Kota Bandung itu mungkin saja tenggelam oleh ulah 94% ALeg lainnya.
Tapi paling tidak, suara rakyat yang parau serta volumenya kecil itu telah mendapat amplifikasi yang cukup.
Tinggallah kita semua, apakah bisa belajar dari kejadian ini? Untuk tidak lagi mengulanginya. Dulu pernah ada yang bilang (entah siapa), “Dumb politicians are not the problem. The problem are the dumb people that keep voting for them.” (28/11/2021) *Andre Vincent Wenas, Pemerhati Ekonomi-Politik.
Edy Rahmayadi saat menghadiri Wisuda Tahfiz Daerah, Rumah Tahfiz PPPA Da'arul Quran Medan, Sumut, di Masjid Baitusolihin, Jalan Karya Bakti Medan Johor, Sabtu (27/11).
Medan (Aswajanews.id) – Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi mengharapkan Rumah Tahfiz Alquran terus berkembang melahirkan para hafiz atau penghafal Alquran. Sehingga nantinya dapat mengamalkan isi kandungan Alquran untuk kemaslahatan agama dan umat di daerah ini.
“Saya apresiasi Rumah Tahfiz Alquran ini terus berkembang, ibarat jamur di musim penghujan. Saat ini 40 orang dan ini akan terus bertambah. Kita bersyukur, karena terus bertambah orang yang memahami dan hafal Alquran,” ucap Edy Rahmayadi saat menghadiri Wisuda Tahfiz Daerah, Rumah Tahfiz PPPA Da’arul Quran Medan, Sumut, di Masjid Baitusolihin, Jalan Karya Bakti Medan Johor, Sabtu (27/11).
Hadir di antaranya, Pengasuh Rumah Tahfiz PPPA Da’arul Quran Medan Syekh Abdullah Ahmad Muhammad Asy Syajaroh, Koordinator Rumah Tahfiz Ustaz Muhammad, orang tua santri serta lainnya.
Menurut Edy Rahmayadi, dengan wisuda tahfiz ini membuktikan bahwa Alquran benar tidak dapat diubah walau satu huruf, karena banyaknya pengahafal Alquran. Dengan hafalan tersebut, Edy berharap menjadi bekal para santri untuk hidup bahagia di dunia dan akhirat.
Edy juga meminta para santri tidak hanya mampu menghafal, namun juga memahami makna atau arti dari ayat Alquran tersebut, yang nantinya dapat diterapkan untuk kemaslahatan umat dan negara.
“Semakin banyak yang hafal Alquran, maka akan semakin nyaman hidup di dunia ini. Tumbuh kembangkan rumah tahfiz ini dan saya minta kaji lagi lebih dalam makna Alquran untuk kemaslahatan umat dan negara,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Rumah Tahfiz Ustad Muhammad dalam kata sambutannya mengatakan Rumah Tahfiz PPPA Da’arul Quran Medan saat ini telah memiliki 23 Rumah Tahfiz yang tersebar di Sumut. Diharapkan tahun yang akan datang dapat meningkatkan kembali pembangunan rumah tahfiz ini.
“Bagi yang sudah diwisuda untuk dapat mengajarkan Alquran pada yang lain sampai kepojok negeri ini, dan dapat mengamalkan seluruh isi Alquran pada lainnya,” ucap Muhammad. * (A. Arifuddin Manalu /Diskominfo Sumut)
Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Tausiyah bersama Habib Hayqal Husein Alaydrus di Pesantren Tahfiz Qur'an (PTQ) Usamah Bin Zaid, Jalan Mawar, Medan, Minggu (28/11)
Medan (Aswajanews.id) – Menjamurnya pondok-pondok pesantren tahfiz Alquran di Sumatera Utara (Sumut) diharapkan akan membawa keberkahan di daerah ini. Itu bisa terwujud bila hafiz dan hafizah bukan hanya sekedar hafal, namun juga bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan. Hal ini diungkapkan Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Tausiyah bersama Habib Hayqal Husein Alaydrus di Pesantren Tahfiz Qur’an (PTQ) Usamah Bin Zaid, Jalan Mawar, Medan, Minggu (28/11).
“Tidak hanya sekedar hafal, tetapi juga mampu mengaplikasikannya ke kehidupan sehari-hari, itu akan membawa keberkahan di Sumut,” kata Edy Rahmayadi, saat memberikan sambutan.
Edy Rahmayadi berharap pondok pesantren juga mengajarkan keterampilan lain agar hafiz dan hafizah memiliki bekal selain hafalan Alqur’an. “Perlu keterampilan lain agar anak-anak kita ini memiliki bekal yang lebih lagi dalam kehidupannya karena saat ini semakin banyak pesantren yang mencetak hafiz dan hafizah,” terangnya.
Sementara itu, salah satu penceramah pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kali ini, Kyai H Mufti Ahmad Nasihin menyampaikan, para hafiz dan hafizah akan memiliki beban yang besar untuk menjadi ulama besar, karena itu butuh ilmu yang luas.
“Bebannya besar, tanggung jawabnya besar, tantangannya besar karena akan sangat banyak godaan. Karena itu harus terus menimba ilmu dan belajar agar menjadi ulama yang baik,” kata Mufti.
Pimpinan PTQ Usamah Bin Zaid Hermansyah Putra berharap pemerintah terus memperhatikan PTQ di Sumut agar berkembang lebih baik. “Kita berharap pemerintah terus memberikan perhatian pada PTQ sehingga bisa berkembang seperti yang kita harapkan,” kata Hermansyah. *(A. Arifuddin Manalu/Diskominfo Sumut)
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Drs. Muhilli Lubis resmi menutup gelaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Terbatas Kabupaten Asahan Tahun 2021 yang diadakan di Gedung Tahfiz Masjid Agung H. Achmad Bakrie Kisaran, Minggu (28/11/2021).
Asahan (Aswajanews.id) – Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Terbatas Kabupaten Asahan Tahun 2021 yang diadakan di Gedung Tahfiz Masjid Agung H. Achmad Bakrie Kisaran hari ini, Minggu (28/11/2021) resmi ditutup oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Drs. Muhilli Lubis. Pada penutupan ini, tampak hadir juga Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setdakab Asahan, Ketua MUI Kabupaten Asahan, Ketua Imtaq Kabupaten Asahan dan tamu undangan lainnya.
Ketua panitia H. Dahmul, S. Ag, MA pada laporannya mengatakan, MTQ terbatas merupakan program Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kabupaten Asahan dalam upaya meningkatkan pembinaan dan pengembangan Tilawah Al-Quran di Kabupaten Asahan.
“MTQ terbatas ini diikuti oleh kafilah 25 Kecamatan , Pondok Pesantren, Madrasah dan Perguruan Tinggi sebanyak 130 peserta, dengan rincian sebagai berikut, Cabang Qira’ah Sab’ah sebanyak 43 orang, Cabang Tafsir 11 orang, Cabang Hadis 40 orang, Cabang Khat Kontemporer 21 orang dan Cabang Karya Tulis Ilmiah Al-Quran 15 orang,” lapor Dahmul.
Diakhir laporannya Dahmul mengatakan atas nama panitia penyelenggara kami menyampaikan terima kasih kepada Bupati dan Wakil Bupati Asahan yang telah mendukung sepenuhnya kegiatan ini.
Ditempat yang sama Bupati Asahan melalui Asisten Perekonomian dan Pembanguna Drs. Muhilli Lubis mengatakan, atas nama Pemerintah Kabupaten Asahan saya mengapresiasi yang setinggi-tingginya kepada LPTQ Kabupaten Asahan, Panitia, para peserta, Oppecial dan Para Dewan Hakim yang telah melaksanakan dan mengikuti MTQ terbatas Kabupaten Asahan Tahun 2021 ini.
“Kepada para peserta yang berhasil dalam acara ini patut terus bersyukur dan tingkatkan belajar, jaga kepribadian diri semoga Allah SWT memberikan keridhoannya. Dan kepada para peserta yang belum berhasil agar bersabar diri dan terus berjuang karena perjalanan meraih prestasi itu tidak mudah, namun jika kita bersabar yakinlah bahwa Allah SWT akan mengabulka doa dan impian kita,” ucap Muhilli mengakhiri pidato Bapati Asahan.
Dikesempatan ini Ketua Dewan Hakim MTQ Terbatas Kabupaten Asahan Tahun 2021 H. Ahmad Qosim Marpaung, S. Ag, M. Si mengumumkan para pemenang.
Cabang Qiro’at Sab’ah; Golongan Mujawwad Remaja Putri, Juara I Mutia Armanda Khairiah Kecamatan Aek Ledong, Golongan Mujawwad Dewasa Putra, Juara I Habib Al Hasan Kecamatan Bandar Pulau, Juara II Musawwimin Kecamatan Aek Ledong, Juara III Asril Marpaung Pondok Pesantren Yayasan Pendidikan Qur’an, Golongan Mujawwad Dewasa Putri , Juara I Nurul Hafizah Kecamatan Sei Dadap, Juara II Nur Ainun Kecamatan Sei Kepayang, Juara III Khairia Fikri Azzahra Kecamatan Aek Kuasan, Golongan Murottal Remaja Putra, Juara I M. Naufal Zaki Manurung Kecamatan Kisaran Barat, Juara II M. Nawawi YTQ Al Husna, Juara III M. Zakiyuddin Ilyas Pondok Pesantren Darul Hikmah.
Kemudian untuk Golongan Murottal Remaja Putri, Juara I Siti Aisyah Dauro YTQ Al Husna, Juara II Muthmainnah Kecamatan Pulau Rakyat, Juara III Sulistiani Kecamatan Aek Songsongan. Golongan Murottal Dewasa Putra, Juara I Rahmad Agus Riandi Kecamatan Air Batu, Juara II Khairuddin Lubis Kecamatan Sei Dadap, Juara III Adnan Fadillah Pondok Pesantren Darul Hikmah. Golongan Murottal Dewasa Putri, Juara I Fitriana Pardede Kecamatan Sei Kepayang, Juara II Basti Rizki Pondok Pesantren Yayasan Pendidikan Qur’an, Juara III Hazzah Harahap YTQ AL Husna.
Cabang Tafsir; Golongan Tafsir Bahasa Indonesia Putra, Juara I Dedi Armansyah Dolok Saribu Pondok Pesantren Bina Ulama. Golongan Tafsir Bahasa Indonesia Putri, Juara II Syamsidar Dalimunthe Kecamatan Sei Kepayang.
Cabang Kontemporer; Golongan Putra, Juara I Umar Bakri Siregar Kecamatan Bandar Pulau, Juara II Rizky Kecamatan Air Batu, Juara III Al Azliansyah Kecamatan Rahuning. Golongan Putri, Juara I Annisa Safitri Kecamatan Air Batu, Juara II Amelia Siregar Kecamatan Bandar Pulau, Juara III Lisa Ayu Lestari Kecamatan Aek Songsongan.
Karya Tulis Ilmiah Al-Quran; Golongan Putra, Juara I Kurnia Sandi Panjaitan Kecamatan Tanjung Balai, Juara II Dimas Alfajarian Kecamatan Teluk Dalam, Juara III Raja Ahmad Rifasyah Sitorus Pondok Pesantren Abdullah Bin Mas’ud. Golongan Putri, Juara I Siti Jihan Kecamatan Sei Kepayang, Juara II Sri Wulan Universitas Asahan, Juara III Azyana Alda Sirait Kecamatan Setia Janji. *(A. Arifuddin Manalu)
WISATA ziarah atau pilgrimage tourism adalah wisata atau traveling yang dilakukan individu atau kelompok untuk tujuan ziarah atau untuk menjalankan bagian dari kepercayaan spiritual atau agamanya, untuk misionari, atau untuk kesenangan spiritual.
Menurut data World Tourism Organization, situs-situs ziarah masih menjadi tujuan utama para wisatawan seluruh dunia. Setiap tahun sekitar 350 juta wisatawan dari berbagai macam agama dan kepercayaan mendatangi situs-situs ziarah di seluruh dunia. Dari ritual Haji ke Mekah bagi Muslim, hingga ritual penyucian diri dengan mandi di Sungai Gangga bagi umat Hindu India.
Terkait dengan ziarah ini Syekh Sulhawi el-Gamel dalam bukunya menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan ziarah sesungguhnya terkandung misi lain, yaitu sebuah bentuk ajakan kepada ummat Islam dan ummat beragama lainnya, bahwa suatu saat kita ini pasti akan wafat seperti mereka yang berada di alam barzah. Dengan itu kita wajib harus selalu mengingat mati, dan selalu harus berusaha menyiapkan bekal hidup di alam kubur kelak. Kita jangan lengah dengan kehidupan duniawi yang serba indah dan mewah ini. Hal ini seperti yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW yang diperbolehkan ziarah kubur dengan tujuan supaya ingat akan mati dan mendoakan arwah yang sudah ada di alam barzah.
Bagi anda yang gemar melakukan ziarah, tidak lengkap rasanya jika belum mengunjungi Makam Mbah Jamirah-Jaminten. Lokasinya tidak jauh dari Masjid Jami Gandasuli di Kelurahan Gandasuli Kecamatan Brebes Kabupaten Brebes Jawa Tengah Indonesia. Tidak terlalu sulit untuk menjangkau tempat itu karena tidak terlalu jauh (sekitar 4 Km) dari pusat kota (Alun-alun Kabupaten Brebes). Jarak yang paling mudah menuju lokasi adalah 2 Km kearah Selatan dari kantor DPRD Kabupaten Brebes.
Setiap malam Jumat, di makam itu diadakan pengajian rutin (Yassin, Tawasul, Dzikir, dst) yang dipimpin oleh Ustadz Abdul Hamid Muhtadi.
Asal Usul Desa Gandasuli Brebes
GANDASULI adalah nama dari salah satu kelurahan dalam lingkungan kecamatan Brebes dan terletak di Brebes, Jawa Tengah. Secara kebetulan bahwa ibukota kabupaten termasuk juga dalam daerah kecamatan Brebes. Sebagai kecamatan yang terdapat ibukota kabupaten, kecamatan Brebes tidak kecil peranannya bagi kehidupan pemerintahan di tingkat kabupaten ini.
Letak geografis Desa Gandasuli ialah di sebelah Timur desa Brebes. Sedang batas sebelah utara adalah jalan Raya Daendels (Pantura) yang menghubungkan Brebes-Tegal dan seterusnya dari arah Barat maupun arah timur. Mudahnya letak desa ini tepat di tepi jalan raya yang terkenal Daendels. Sehingga komunikasi dengan luar daerah sangat mudah. Sebelah timur berbatasan dengan Desa Banjaranyar dan sebelah selatan dengan dukuh Klapasawit yang termasuk wilayah Desa Padasugih.
Seperti yang terdapat didalam desa-desa lain di negeri kita ini, Gandasuli tidak tampak suatu keistimewaan yang menonjol. Kehidupan masyarakat dalam bidang pendidikan, sosial ekonomi, pembangunan boleh dikatakan setarap dengan lain-lain desa terutama dalam wilayah Kecamatan Brebes. Hanya ada satu keistimewaan yang bisa menarik perhatian, telah dikenalnya nama Gandasuli ini sampai keluar daerah, bahkan sampai jauh ke luar daerah kabupaten Brebes.
Keluarga Besar Kyai Amir cucu Kyai Amari bin Kyai Salka saat berziarah di makam mbah Jamirah-Jaminten
Kenyataan bahwa banyak pendatang dari jauh sekedar “nyepi” untuk memohon berkah di makam “mbah Juminten” maupun di makam “mbah Jumirah”. Bermacam-macam tujuan mereka untuk “mengalap” berkah ini, ada yang ingin mendapat rezeki berlimpah, ada pula yang ingin segera naik pangkat atau dapat menduduki jabatan tertentu, ada pula yang ingin mendapat pusaka dan lain-lain. Bermacam-macam pula mereka “nyepi” diantaranya ada yang harus dilakukan dengan cara tafakur tidak tidur semalam suntuk. Konon kabarnya ada juga yang berhasil mendapatkan wahyu, atau bahkan dapat bertemu dengan roh “mbah Juminten” atau “mbah Jumirah” tersebut. Tetapi tidak sedikit pula yang gagal karena ditolak atau tidak kuat menjalankan syarat-syaratnya.
Menurut “Ki Karyad” orang yang dapat digolongkan tua-tua atau sesepuh di Gandasuli (95 th. Pada tahun 1978), yang masih leluhur “Ki Karyad” sendiri. Peninggalan dalang Gandasari ini konon ada seperangkat gamelan (alat musik Jawa) bekas iringan disaat pementasan, dititipkan kepada seorang kepercayaan “Ki Gandasari” di desa Padasugih. Menurut “Ki Karyad “, gamelan yang ada di Padasugih dan disimpan oleh salah seorang pensiunan Guru di sana itulah peninggalan “Ki Gandasari”. Sedang “Ki Karyad” sendiri yang juga seorang dalang tidak bisa merawatnya, sebab semenjak masa mudanya ia sendiri gemar merantau dan pernah mengabdi di dalam Keraton Surakarta Adiningrat/Mangkunegaran. Dan pernah pula bekerja di dalam Keraton Kasepuhan Cirebon.
Ki dalang Gandasari setelah meninggal dikuburkan dekat pohon asam. Dan pohon asam itu hingga kini masih tumbuh kokoh meskipun tampak akan ketuaannya. Demikian tuanya sehingga merupakan satu-satunya pohon yang terbesar dan terimbun di desa Gandasuli. Di makam Ki Gandasari ini sering pula didatangi orang-orang yang “nyepi”. Tidak banyak ceritera orang tentang makam ini, meskipun masih dianggap sebagai makam yang keramat. Pohon asam itulah yang diceriterakan sementara orang adalah sebagai lajernya penduduk Gandasuli. Meskipun cabang atau dahan-dahannya yang tumbuh bebas membuat pemandangan menjadi seram, tidak seseorangpun yang berani mencoba menebang.
Dikatakan oleh “Ki Karyad” bahwa pernah seorang tukang pembuat arang memberanikan diri atas suruhan pemilik tanah pekarangan untuk menebang cabang-cabangnya, tetapi selang beberapa hari setelah peristiwa penebangan itu, si penebang jatuh sakit dan disusul dengan kematiannya. Hal ini diulangi lagi oleh seseorang lain yang tidak mempercayai adanya hubungan penebangan pohon asam dengan meninggalnya orang tersebut. Akhirnya orang kedua inipun mengalami nasib yang sama. Hingga sekarang tidak seorangpun yang berani mengusik pohon itu meskipun diupah berapapun besarnya. Akibatnya pohon itu tumbuh merimbun dan meneduhi daerah sekitar pohon asam itu, sehingga membuat suasana menjadi tampak seram dan angker. Jarang orang berani mendekat pohon itu kecuali mereka yang sudah dengan niat akan “nyepi” di situ.
Dahulu, sebelum penduduk sepadat sekarang ini, pada setiap bulan Maulud terutama di hari Kamis Wage malam Jum`at Kliwon, pohon asam itu didatangi oleh serombongan kera, rombongan kera ini sedemikian banyak sehingga dapat memenuhi dahan-dahan pohon asam itu. Disaat mereka datang tidak ada suara, hanya bergumam seperti suara manusia, dan yang dapat tahu kedatangan merekapun tidak tampak mereka berbondong-bondong. Baru setelah berkumpul mulailah mereka menyuarakan jeritan-jeritan, hiruk-pikuk berteriak-teriak seperti paukan yang menang perang. Kebisingan suara rombongan kera ini dapat didengar semua orang sekitarnya. Tidak sedikit sekali hidup yang menyaksikan kejadian itu. Konon menurut “Ki Karyad” mereka itu sebenarnya manusia juga adalah pasukan dari Surakarta yang akan menuju ke Cirebon. Hanya dalam waktu sebentar merekapun mulai meninggalkan pohon asam itu untuk melanjutkan perjalanan ke arah Barat. Kepergian merekapun mengambil cara seperti mereka datang. Bagi orang-orang yang berumur 65 tahun ke atas dapat dijadikan saksi mata dalam peristiwa – peristiwa itu. Seperti “Ki Karyad” sendiri. “Ki Sakhib” dan lain-lain. sayang hal itu sekarang sudah tidak pernah terjadi, entahla di kelak kemudian hari.
Selanjutnya “Ki Sakhib” yang termasuk pula orang-orang golongan tua telah pula memberikan uraian tentang “mbah Jumirah” dan “mbah Juminten”. Ceritera ini Dia dapatkan dari ceritera orang-orang tua pula secara turun-temurun, jadi tentang kebenarannya hanya Tuhanlah yang maha tahu. Menurut “Ki Sakhib”, dahulu pernah terjadi kekosongan jabatan Bupati di Brebes. Hal ini mengundang perhatian dari luar daerah. Datanglah dua orang laki-laki kakak-beradik, konon ada yang menyebut asal dari Yogya, ada pula yang mengatakan asal dari Tuban. Di tempat asalnya, mereka telah menduduki jabatan wedana pada saat itu. Tujuan ke Brebes tiada lain untuk mengadu nasib dengan cara “magang” (bekerja sebagai calon Bupati). Dasar nasib belum mujur, sampai di Brebes, lowongan itu telah terisi. Kedua orang laki-laki kakak-beradik yang masing-masing menyebut dirinya “Jumirah” si kakak dan “Juminten” si adik itu singgah di Gandasuli. Berhubung tujuan tidak kesampaian dan akan kembali ke daerah asalnya sudah tidak mungkin, sebab disana mereka telah meletakkan jabatan masing-masing., stelah mengadakan perundingan merekapun pantang untuk menarik keputusan yang telah mereka relakan kepada orang lain. Mereka berdua berniat untuk meningkatkan ilmu yang mereka miliki masing – masing dengan cara masing-masing pula. Jumirah pergi entah kemana tidak satupun yang mengetahui, sedang Juminten tetap tidak mau pergi dari desa Gandasuli. Juminten selalu menonjolkan rasa sosialnya. Pekerjaan sehari-harinya menanak nasi. Sehingga tempat dia menanak dan petilasan itu disebut petilasan atau makam “buyut tungku” (tungku adalah suatu tempat untuk memasak : kompor untuk jaman sekarang). Nasi yang satu kaleng (seperti kaleng susu) ditanak dan dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin atau mereka yang kelaparan. Konon kabarnya nasi yang sedikit itu belum bisa untuk di makan sampai kenyangbagi beberapa orang. Sedangkan keraknya dia ambil dan digunakan untuk pengganti genting sebagai peneduh gubugnya. Dan anehnya biarpun hujan deras sekalipun dengan genting kerak nasi itu juminten tidak akan kehujanan. Pernah sekali peristiwa di kala jalan raya Daendels dibangun, pekerja – pekerja diberi makan oleh juminten. Demikian pula ketika mereka dipaksa unntuk bekerja terus meskipun hari hujan deras, pekerja-pekerja itu diberi kerak nasi sebagai pengganti topi. Dengan tutup kepala kerak nasi itu mereka dapat bekerja terus tanpa gangguan hujan, meskipun hujan lebat sekalipun mereka tetp tdak kehujanan, sedikit basahpun tidak, demikian kata “Ki Karyad”. Hal ini sangat irrasionil bagi alam pikiran kita sekarang. Tetapi begitulah kata orang, kita tidak bisa menolak.
Setelah sekian lama pergi, suatu hari Jumirah si kakak ini datang kembali di Gandasuli, langsung menemui juminten si adik. Juminten dengan rasa kangen (rindu) menanyakan pula sampai dimana saja sekian lamanya pergi, dan apa pula hasilnya. Jumintenpun menceritakan dirinya, bahwa sepeninggal Jumirah pekerjaan sehari-harinya hanya menanak nasi untuk dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin dan kelaparan. Sedang keraknya diambil dan digunakan sebagai pengganti genting sebagai peneduh rumah gubugnya. Dengan rasa bangga Jumirah yang meras bahwa ilmunya meningkat ingin pula menunjukkan betapa hebatnya ilmu itu. Disuruhkan Juminten memejamkan mata sekejap saja, tahutahu Juminten telah dikerumuni oleh berbagai binatang buas seisi hutan rasanya. Juminten tidak menjadi heran atau gugup, tidak juga tampak takut, tetap tenang sambil mengatakan bahwa Ia pun ingin menunjukan betapa kemajuan ilmunya yang diperoleh tanpa pergi jauh itu. Disuruhnya pula Jumirah memejamkan mata pula sekejap, dalam sekejap mata itulah segala binatang buas yang mengerikan lenyap tidak berbekas, seolah-olah tidak ada kejadian sebelumnya.
Tahulah kini ilmu adiknya dapat mengungguli ilmunya, maka tak ingin Jumirah melanjutkan, dan menyatakan kalah. Hanya ada suatu pesan dari Jumirah kepada adiknya “bahwa kelak jika ia meninggal agar dikuburkan di sebelah timur sungai dan Juminten sendiri agar menempati sebelah barat sungai”. Permintaan itu dipenuhi dan kenyataan sekarang meskipun sungai yang membatasi kedua makam itu kini sudah hilang sama sekali bekas-bekasnya, mungkin karena endapan lumpur telah meratakan dasar sungai itu dengan tanah pekarangan.
Bagi yang “nyepi” di makam “mbah Jumirah” tentu ada yang pernah ditemui wujud seekor harimau, kadang harimau hitam (Si Kumbang), kadang bentuk harimau kecil wrna kemerah-merahan (Si Serang), kadang bentuk yang menakutkan karena besar dan loreng-loreng dengan ekor yang berjuntai panjang (Si Gembong). Hingga sekarang meskipun tidak melakukan “nyepi” ada pula penduduk yang menampak harimau di malam hari disaat-saat tertentu. Kadang “mbah Juminten” ada pula berita pemunculannya bentuk seekor kucing warna putih, kadang juga seekor harimau warna putih. Karena pemunculannya mereka kesemuanya berujud harimau itu maka banyak orang meyakinkan bahwa mereka mempunyai ilmu yang sama, kata “Ki Sakhib” adalah ilmu siliwangi. Penduduk yang punya khajad kadang-kadang mendapat kunjungan kucing putih ini. Dan makna kedatangannya itu tidak mendapat penjelasan.
Ada pula ceritera yang dikatakan oleh “Ki Karyad”, bahwa Presiden RI yang pertama, bung Karno almarhum pernah pula berkunjung ke desa Gandasuli. Kunjungan secara ingognite ini secara mendadak dan disaat malam hari. Kunjungan pertama dilakukan pada jaman sebelum penjajahan jepang, jadi sebelum menjabat sebagai presiden RI sudah ada lima kali beliau berkunjung masuk ke rumah “Ki Karyad” dan kunjungan yang entah sudah berapa kali lagi. Bahkan pada jaman penjajahan Jepang, sempat pula bung Karno memimpin latihan keibodan.
Yang sangat terkesan oleh “Ki Karyad” ialah permintaan Bung Karno untuk mencarikan lidi aren. “Ki Karyad” mencari dan mendapat tiga batang lidi, selanjutnya dibawa keliling desa sampai disuatu tempat dimintanya sebatang lalu dilemparkan, konon katanya sampai menimbulkan suara “thak’ yang cukup keras. Sambil beliau katakan bahwa kelak disitu akan didirikan sebuah kantor rakyat, dan kenyataan sekarang tempat itulah didirikan gedung DPRD Tk. II Brebes yang cukup megah. Lidi kedua dimintanya pula dan ditancapkan di suatu tempat sambil mengatakan bahwa di tempat ini akan didirikn pula kantor pemerintah. Kenyataannya sekarang di tempat itu berdiri kantor pajak daerah. Adapun lidi yang terakhir dilemparkan pula, yang ternyata di tempat jatuhnya lidi, sekarang berdiri kantor kepala desa Gandasuli (kantor kepala desa yang lama).
Peristiwa selanjutnya yang ada hubungan dengan kehadiran Bung Karno ini di sana-sini memang sering terdengar dan menjadi buah bibir masyarakat Gandasulii sendiri maupun masyarakat sekitarnya. Berita dari mulut ke mulut ini terkhir pernah kunjungan ingognite ini terdengar pada tahun 1966 setelah beliau turun dari jabatan Presiden. Semenjak itu belum ada lagi ceritera orang mengenai kunjungan ini.
Adapun serentetan kunjungan itu menurut “Ki Karyad” bertujuan meninjen makam Ki Gandasari maupun kedua kakak beradik Jumirah dan Juminten tersebut. Ketenaran makam – makam tersebut tak lain karena masyarakat menganggap keramat. Anggapan kekeramatan ini tertanam pula dalam hati, sementara pejabat-pejabat penting ditingkat pemeritahan kabupaten Brebes sendiri. Diakui atau tidak, hal ini sekedar penulis uraian berdasarkan penjelasan “Ki Karyad”. Demikian pula masyarakat Gandasuli sendiri setiap hari kamis wage malam jum`at kliwon, terutama penduduk asli Gandasuli menaruh “Paso” (semacam mangkuk dari tanah liat) yang diisi air jernih serta diberi bunga-bungaan. Sesaji ini dimaksudkan untuk menjamu bila suatu ketika singgah dipekarangannya, sebab menurut anggapan mereka “mbah jumirah” akan sangat marah jika tidak disediakan sesuatu. Demikianlah tradisi ini terus berjalan hingga kapan Tuhanlah yang Maha Tahu.
Cerita lain menceritakan bahwa pada jaman dahulu kala sekitar abad 17 dan 18, hiduplah seorang kakak beradik yang bernama Jamirah dan Jaminten. Dia tidak mempunyai sanak saudara, entah dari mana tempat kelahirannya kakak beradik itu. Dia hidup berkecukupan, senang menolong orang miskin, taat beribadah,bahkan orang sekampung pun waktu itu merasa tentram, karena mbah Jamirah selalu memberi makanan anak-anak yang kelaparan. Bahkan kepada orangtua nya disuruh mengambil padi untuk ditumbuk dan dimasak untuk makan sekeluarganya. Anak-anak disuruh mengaji dirumah Jamirah dan Jaminten. Pada suatu hari Jamirah mengeluh sakit, kemudian oleh tokoh masyarakat untuk mengobati dengan mantra supaya sembuh. Tetapi rupanya Allah berkehendak lain, wafatlah Jamirah itu. Maka sebagai tanda terima kasih atas pengabdian jamirah itu, masyarakat sekitar pun membawa bunga-bunga yang harum semerbak. Bunga-bunga untuk menyusuli itu ditaburkan disepanjang jalan mulai dari lingkungan rumah kekanjengan sampai ketempat dimana Jaminten itu meninggal dunia yang menembarkan harum semerbak itu berhamburan kemana-mana. Maka dengan peristiwa tersebut terjadilah nama GANDASOLI yang berasal dari harumnya bunga yang amat sangat menimbulkan bau yang dalam bahasa jawa bauitu sama dengan Ganda atau Bondo. Adapun SOLIyang berarti orang yang taat ibadah atau sholeh. Jadilah Desa Gandasoli, seiring berkembangnya waktu nama Gandasoli berubah menjadi Gandasuli.
Semoga tulisan sejarah singkat Babad Tanah Gandasuli ini dapat bermanfaat bagi kita semua, menjadikan sumber inspirasi dan yang lebih utama adalah lebih mendekatkan kita kepada Sang Kholik Allah SWT, dengan berziarah kita akan selalu mengingat kematian sehingga kita lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, Amiin YRA. *** (Berbagai Sumber)
Oleh: Marzuki, M.Ag.
(Dosen Tetap Jurusan PPKN Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta)
Masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Islam hingga sekarang belum bisa meninggalkan tradisi dan budaya Jawanya. Di antara tradisi dan budaya ini terkadang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Tradisi dan budaya Jawa ini sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa, terutama yang abangan. Di antara tradisi dan budaya ini adalah keyakinan akan adanya roh-roh leluhur yang memiliki kekuatan ghaib, keyakinan adanya dewa dewi yang berkedudukan seperti tuhan, tradisi ziarah ke makam orang-orang tertentu, melakukan upacara-upacara ritual yang bertujuan untuk persembahan kepada tuhan atau meminta berkah serta terkabulnya permintaan tertentu.
Setelah dikaji inti dari tradisi dan budaya tersebut, terutama dilihat dari tujuan dan tatacara melakukan ritus-nya, jelaslah bahwa semua itu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Tuhan yang mereka tuju dalam keyakinan mereka jelas bukan Allah, tetapi dalam bentuk dewa dewi seperti Dewi Sri, Ratu Pantai Selatan, roh-roh leluhur, atau yang lainnya. Begitu juga bentuk-bentuk ritual yang mereka lakukan jelas bertentangan dengan ajaran ibadah dalam Islam yang sudah ditetapkan dengan tegas dalam al-Quran dan hadis Nabi SAW. Karena itulah, tradisi dan budaya Jawa seperti itu sebenarnya tidak sesuai dengan ajaran Islam dan perlu diluruskan atau sekalian ditinggalkan.
Masyarakat Jawa sangat kental dengan masalah tradisi dan budaya. Tradisi dan budaya Jawa hingga akhir-akhir ini masih mendominasi tradisi dan budaya nasional di Indonesia. Di antara faktor penyebabnya adalah begitu banyaknya orang Jawa yang menjadi elite negara yang berperan dalam percaturan kenegaraan di Indonesia sejak zaman sebelum kemerdekaan maupun sesudahnya. Nama-nama Jawa juga sangat akrab di telinga bangsa Indonesia, begitu pula jargon atau istilah-istilah Jawa. Hal ini membuktikan bahwa tradisi dan budaya Jawa cukup memberi warna dalam berbagai permasalahan bangsa dan negara di Indonesia.
Di sisi lain, ternyata tradisi dan budaya Jawa tidak hanya memberikan warna dalam percaturan kenegaraan, tetapi juga berpengaruh dalam keyakinan dan praktek-praktek keagamaan. Masyarakat Jawa yang memiliki tradisi dan budaya yang banyak dipengaruhi ajaran dan kepercayaan Hindhu dan Buddha terus bertahan hingga sekarang, meskipun mereka sudah memiliki keyakinan atau agama yang berbeda, seperti Islam, Kristen, atau yang lainnya.
Masyarakat Jawa yang mayoritas beragama Islam hingga sekarang belum bisa meninggalkan tradisi dan budaya Jawanya, meskipun terkadang tradisi dan budaya itu bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam. Memang ada beberapa tradisi dan budaya Jawa yang dapat diadaptasi dan terus dipegangi tanpa harus berlawanan dengan ajaran Islam, tetapi banyak juga budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam. Masyarakat Jawa yang memegangi ajaran Islam dengan kuat (kaffah) tentunya dapat memilih dan memilah mana budaya Jawa yang masih dapat dipertahankan tanpa harus berhadapan dengan ajaran Islam. Sementara masyarakat Jawa yang tidak memiliki pemahaman agama Islam yang cukup, lebih banyak menjaga warisan leluhur mereka itu dan mempraktekkannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, meskipun bertentangan dengan ajaran agama yang mereka anut. Fenomena seperti ini terus berjalan hingga sekarang.
Pada prinsipnya masyarakat Jawa adalah masyarakat yang religius, yakni masyarakat yang memiliki kesadaran untuk memeluk suatu agama. Hampir semua masyarakat Jawa meyakini adanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang menciptakan manusia dan alam semesta serta yang dapat menentukan celaka atau tidaknya manusia di dunia ini atau kelak di akhirat. Yang perlu dicermati dalam hal ini adalah bagaimana mereka meyakini adanya Tuhan tersebut. Bagi kalangan masyarakat Jawa yang santri, hampir tidak diragukan lagi bahwa yang mereka yakini sesuai dengan ajaran-ajaran aqidah Islam.
Mereka meyakini bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan mereka menyembah Allah dengan cara yang benar. Sementara bagi kalangan masyarakat Jawa yang abangan, Tuhan yang diyakini bisa bermacam-macam. Ada yang meyakini-Nya sebagai dewa dewi seperti dewa kesuburan (Dewi Sri) dan dewa penguasa pantai selatan (Ratu Pantai Selatan). Ada juga yang meyakini benda-benda tertentu dianggap memiliki ruh yang berpengaruh dalam kehidupan mereka seperti benda-benda pusaka (animisme), bahkan mereka meyakini benda-benda tertentu memiliki kekuatan ghaib yang dapat menentukan nasib manusia seperti makam orang-orang tertentu (dinamisme).
Mereka juga meyakini ruh-ruh leluhur mereka memiliki kekuatan ghaib, sehingga tidak jarang ruh-ruh mereka itu dimintai restu atau izin ketika mereka melakukan sesuatu. Jelas sekali apa yang diyakini oleh masyarakat Jawa yang abangan ini bertentangan dengan ajaran aqidah Islam yang mengharuskan meyakini Allah Yang Mahaesa. Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah Swt. Orang yang meyakini ada tuhan (yang seperti tuhan) selain Allah maka termasuk golongan orang-orang musyrik yang sangat dibenci oleh Allah dan di akhirat kelak mereka diharamkan masuk ke surge dan tempatnya yang paling layak adalah di neraka (QS. al-Maidah (5): 72). Perbuatan seperti itu dinamakan perbuatan syirik yang dosanya tidak akan diampuni oleh Allah (QS. al-Nisa’ (4): 166).
Tradisi dan budaya masyarakat Jawa yang lain yang perlu dikaji di sini adalah yang terkait dengan perilaku-perilaku ritual mereka. Masyarakat Jawa yang abangan juga memiliki tradisi ziarah ke makam orang-orang tertentu dengan tujuan untuk mencari berkah atau memohon kepada para ruh leluhur atau orang yang dihormati agar memberikan dan mengabulkan apa yang mereka minta. Mereka juga memiliki tradisi melakukan upacara-upacara keagamaan (ritus) sebagai ungkapan persembahan mereka kepada Tuhan.
Di antara tradisi yang terkait dengan ritus ini adalah upacara labuhan di pantai Parang Kusuma, upacara ruwatan, upacara kelahiran hingga kematian seseorang, upacara menyambut tahun baru Jawa yang sama dengan tahun baru Islam, dan bentuk-bentuk upacara ritual lainnya. Acara-acara ritual yang mereka lakukan seperti itu meskipun bertujuan minta kepada Tuhan (Allah), tetapi menempuh cara yang bertentangan dengan ajaran syariah Islam. Mereka meminta berkah atau rizki kepada Tuhan tidak secara langsung, tetapi melalui perantara dan memakai sesaji. Meminta berkah atau rizki kepada selain Allah jelas dilarang dan bertentangan dengan al-Quran, karena tidak ada yang dapat memberikan berkah atau rizki kepada siapa pun selain Allah (QS. al-Zumar (39): 52). Syariah Islam mengatur masalah ibadah (ibadah mahdlah) dengan tegas dan tidak dapat ditambah-tambah atau dikurangi. Tatacara ibadah kepada Allah ditetapkan dalam bentuk shalat, zakat, puasa, dan haji yang didasari dengan iman (kesaksian akan adanya Allah yang satu dan Muhammad sebagai Rasulullah). Semua bentuk ibadah ini sudah diatur tatacaranya dalam al-Quran dan hadis Nabi Saw. Segala bentuk amalan yang bertentangan dengan cara-cara ibadah yang ditetapkan oleh al Quran atau hadis disebut bid’ah yang dilarang. Dengan demikian, apa yang selama ini dilakuan oleh masyarakat Jawa, khususnya dalam masalah-masalah ritual seperti itu, jelas tidak sesuai dengan ajaran Islam. Karena itu, hal ini sebenarnya harus diupayakan untuk ditinggalkan atau diluruskan tatacaranya sehingga tidak lagi bertentangan dengan ajaran Islam. ***
Anggota DPRD Kota Bandung dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melakukan interupsi dan walk out dari Rapat Paripurna DPRD pada Jumat siang (26/11/2021)
Bandung (Aswajanews.id) – Anggota DPRD Kota Bandung dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) melakukan interupsi dan walk out dari Rapat Paripurna DPRD pada Jumat siang (26/11/2021). Anggota DPRD PSI Christian Julianto menyatakan kekecewaannya terhadap postur RAPBD 2022 yang tidak berpihak pada rakyat.
“PSI sudah mengikuti pembahasan dan penyusunan APBD dari tahun ke tahun, dan kami tidak menemukan ada visi kota yang jelas. Arah pembangunan Kota Bandung tidak jelas dan Bandung seperti kota auto-pilot,” tegas Christian.
PSI menilai komposisi dan prioritas RAPBD 2022 tidak proporsional. Tidak ada transformasi anggaran maupun solusi terhadap permasalahan yang ada di Kota Bandung.
“Permasalahan besar Bandung seperti banjir, transportasi umum, dan penanganan sampah tidak tersentuh dalam kebijakan-kebijakan Walikota selama ini,” kata anggota dewan PSI yang juga adalah anggota termuda di DPRD Kota Bandung ini.
Chris menambahkan bahwa anggaran belanja modal yang hanya 626 miliar atau hanya sebesar 9,41% di APBD 2022 itu masih jauh dari angka idealnya yaitu 30-40% dari APBD. Khususnya belanja modal jalan, jaringan, dan irigasi bahkan hanya sebesar 112,9 miliar atau 1,69% dari total APBD.
“Tanya saja ke warga Kota Bandung, apakah terasa ada pembangunan signifikan beberapa tahun terakhir ini? Yang ada kota kita semakin semrawut dan tidak terurus. Taman-taman dan infrastruktur fisik kita kondisinya menurun dan tidak sebaik dulu lagi, jauh dibanding zaman walikota sebelumnya,” kata Christian.
PSI menilai tidak ada inovasi dan gebrakan untuk mengatasi kesenjangan sosial dan pemulihan ekonomi. Berdasarkan data BPS 2020, jumlah penduduk miskin bertambah 15.000 orang dan tingkat kedalaman kemiskinan juga naik dari 0,53 menjadi 0,61 di tahun 2020.
Christian juga mengkritisi anggaran untuk belanja pegawai dan juga kenaikan tunjangan perumahan pejabat DPRD sebesar 20 juta Rupiah di tahun 2022 ini.
“Bandingkan dengan belanja pegawai yang sangat besar dan semakin naik dari tahun ke tahun. Uang APBD habis untuk belanja pegawai saja, tidak terasa untuk masyarakat,” kata Christian.
PSI tidak dapat menyetujui RAPBD 2022 yang sudah disusun selama postur dan komposisi anggaran tidak menunjukkan transformasi dan juga transparansi anggaran. PSI menilai pemerintah telah gagal membawa perubahan, bahwa Kota Bandung dikelola secara auto-pilot sehingga mengalami kemunduran.
“Kami ingat dulu warga Bandung sangat bangga dengan kotanya. Banyak gebrakan, pembangunan, taman-taman indah dan tertata di pemerintahan sebelumnya. Sekarang banyak sekali kemunduruan. Kami berharap penyusunan APBD seharusnya menjadi kesempatan membangun kembali Bandung. Tapi itu tidak terefleksikan di RAPBD 2022 ini. Kami tegas menolak,” tutup Christian. (Benjamin Christian/Nas)
Padalarang (Aswajanews.id) – Jalan layang atau fly over Padalarang mulai dioperasikan guna mengurai kemacetan arus lalu lintas dari Gerbang Tol Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Jalan layang itu merupakan yang pertama kali ada di daerah Bandung Barat sejak berpisah secara administratif dari Kabupaten Bandung.
“Ini jadi kebanggaan kita semua, ini fly over pertama kali di Bandung Barat, semoga menjadi jalan kebaikan dan keberkahan kita semua,” kata Plt Bupati Bandung Barat Hengky Kurniawan, Jumat.
Jalan layang tersebut menghubungkan jalan dari Gerbang Tol Padalarang hingga ke Bundaran Kota Baru dengan melintasi di atas simpang Padalarang. Dengan kemacetan yang dapat diminimalisir, dia berharap semakin banyak masyarakat dari luar kota atau wisatawan yang berkunjung ke Bandung Barat sebagai daerah dengan daya tarik pariwisata.
“Masyarakat bisa menghabiskan waktu di sini, berlibur di sini, karena sudah tidak macet lagi, dan lokasinya sangat strategis,” kata Hengky.
Pasalnya, kata dia, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bandung Barat salah satunya bersumber utama dari sektor pariwisata. Sehingga pembangunan infrastruktur itu menurutnya cukup menunjang sektor tersebut.
Sementara itu, KBO Satuan Lalu Lintas Polres Cimahi AKP Erin mengatakan kendaraan umum mulai diperbolehkan melintasi jalan layang tersebut pada Sabtu (27/11). “Besok mulai dibuka jam 08.00 WIB rencananya,” kata Erin. (Sumber : antara)
Bupati Pemalang, Mukti Agung Wibowo, S.T,.M.Si., membuka Kemah Budaya yang diadakan oleh Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Pemalang di Igir Kandang, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari pada Jumat (26/11/2021).
Pemalang (Aswajanews.id) – Gelaran Kemah Budaya diadakan oleh Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Pemalang di Igir Kandang, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari pada Jumat (26/11/2021). Kegiatan diikuti oleh siswa-siswi sekolah dari 21 sekolah SMA/SMK sederajat se-Kabupaten Pemalang.
Pembukaan kegiatan Kemah Budaya dibuka oleh Bupati Mukti Agung Wibowo bersama Wakil Bupati Mansur Hidayat dengan memecahkan kendi sebagai tanda dimulainya gelaran Kemah Budaya yang rencananya akan dilaksanakan selama tiga hari tersebut.
Diketahui dalam gelaran Kemah Budaya tersebut menyajikan berbagai perlombaan dan pertunjukan mulai dari lomba seni tari, lukis, sastra, fotografi, lomba menyanyi, pertunjukan kesenian seperti jaran ebeg, tari-tari tradisional, dan pawai obor pada hari kedua.
Bupati Agung dalam wawancaranya usai pembukaan berlangsung menjelaskan, “Kami melihat Pemalang memiliki potensi yang sangat besar sekali, kita bisa melihat banyak desa-desa yang memiliki seni budaya dan ditampilkan disini, dan ini menunjukan Pemalang termasuk Kabupaten atau Kota Budaya”.
“Ayo kita sama-sama nguri-uri budaya lokal, sehingga budaya yang ada tidak tergerus tidak tertinggal oleh generasi muda, kita berikan pengetahuan kepada generasi muda dengan budaya yang ada tidak kalah dan tidak ketinggalan dari budaya luar, silahkan mengikuti budaya luar namun harus ada filternya, dengan adanya kegiatan seperti ini secara tidak langsung memberikan gambaran kepada generasi muda bahwa kita punya budaya yang luar biasa,” pungkas Agung.
Wawancara secara terpisah dengan Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Pemalang, Supendi menuturkan tujuan diadakannya kegiatan Kemah Budaya, “Kita berusaha untuk mengenalkan ke anak-anak supaya suatu saat menjadi generasi yang masih tau tentang budaya, kita menggali potensi yang sudah ada, dan potensi yang setengah-setengah ada atau yang belum ada kita perkenalkan kepada adik-adik”.
Selain penampilan dan lomba-lomba kesenian yang disajikan dalam gelaran Kemah Budaya, juga akan ada festival kopi dengan membagikan seribu cup kopi gratis dan lomba menyajikan kopi yang rencananya akan digelar pada hari kedua. (Sumber : Diskominfo)
Ada banyak tokoh besar Islam yang terkenal bijak.Satu di antaranya adalah Imam Al Ghazali (lahir di Thus; 1058/450 H – meninggal di Thus; 1111/14 Jumadil Akhir 505 H; umur 52–53 tahun). Ia adalah seorang filsuf dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan. Ia dikenal akan kecerdasan dan ketaatannya kepada agama.
Al Ghazali memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’i. Filsuf dan tokoh besar Islam ini berasal dari keluarga yang kurang mampu. Namun, sejak Al Ghazali kecil, ayahnya selalu memiliki cita-cita agar anaknya kelak menjadi seorang yang alim, saleh, bijak, dantaat pada agama.
Setelah beranjak dewasa, Al Ghazali menjadi seorang ulama, filsuf, dan pemikir Islam yang berandil besar dalam kemajuan umat manusia.
Al Ghazali dikenal oleh dunia barat sebagai filsuf dan teolog muslim yang cukup disegani oleh banyak ilmuwan dan juga filsuf-filsuf barat. Hal itu karena ia terkenal memiliki daya ingat tinggi.
Lantaran kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan, Al Ghazali rela meninggalkan hartanya, dan pergi ke tempat-tempat suci seperti Mekkah, Madinah, Mesir, dan Yerusalem untuk mencari ilmu pengetahuan.
Ia menjadi sosok besar dan disegani banyak orang. Jadi, tak salah Al Ghazali menjadi panutan banyak orang. Ihya Ulumuddin (Kebangkitan Ilmu-Ilmu Agama), merupakan karyanya yang sangat terkenal.
Begitu juga dengan kata-kata yang pernah dikeluarkan oleh Al Ghazali. Sepanjang hidupnya, ia sering megeluarkan kata-kata bijak yang menginspirasi banyak kalangan.
Kata-kata Al Ghazali sangat bijak, memotivasi, dan penuh makna, sangat cocok untuk kamu yang sedang mencari motivasi dalam menjalani hidup.
Jika kamu penasaran, berikut 35 kata-kata bijak Al Ghazali, yang dapat kamu jadikan motivasi dan kamu kirim ke orang-orang terdekat agar mereka juga makin bersemangat, seperti dirangkum dari Jagokata.
“Hiduplah kamu bersama manusia sebagaimana pohon yang berbuah, mereka melemparinya dengan batu, tetapi ia membalasnya dengan buah”.
“Hal yang paling besar di bumi ini bukan gunung dan lautan, melainkan hawa nafsu yang jika gagal dikendalikan maka kita akan menjadi penghuni neraka”.
“Menuntut ilmu adalah takwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah zikir. Mencari ilmu adalah jihad”.
“Doakanlah temanmu, baik selagi hidup maupun sesudah dia meninggal dunia”.
“Menyatakan jihad pada dua belas musuh Anda yang tidak terlihat yaitu: egois, arogansi, kesombongan, keegoisan, keserakahan, nafsu, intoleransi, kemarahan, berbohong, menipu, bergosip dan memfitnah. Jika Anda dapat menguasai dan menghancurkan mereka, maka Anda akan siap untuk melawan musuh yang Anda lihat”.
“Kerja seorang guru tidak ubah seperti kerja seorang petani yang sentiasa membuang duri serta mencabut rumput yang tumbuh di celah-celah tanamannya”.
“Jagalah rahasia temanmu, tutupilah keburukannya dan diamlah jangan memperbesar kesalahannya yang sedang dibicarakan oleh orang lain”.
“Kata-kata lembut melunakkan hati yang lebih keras dari batu, kata-kata kasar mengeraskan hati yang lebih lembut dari sutra”.
“Jadikan kematian itu hanya pada badan karena tempat tinggalmu ialah liang kubur dan penghuni kubur senantiasa menanti kedatanganmu setiap masa”.
“Hadapi kawan atau musuhmu itu dengan wajah yang menunjukkan kegembiraan, kerelaan penuh kesopanan dan ketenangan. Jangan menampakkan sikap angkuh dan sombong”.
“Cinta adalah suatu kecenderungan terhadap sesuatu yang memberikan manfaat. Apabila kecenderungan itu mendalam dan menguat, maka ia dinamakan rindu. Sedangkan sebaliknya, benci adalah kecenderungan untuk menghindari. Apabila kecenderungan itu mendalam dan menguat, maka itu dinamakan dendam”.
“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis”.
13.” Bersikaplah lemah lembut dan sopan santun dengan menundukkan kepala”.
“Yang paling dekat dengan kita ialah mati”.
“Ilmu itu kehidupan hati daripada kebutaan, sinar penglihatan daripada kezaliman dan tenaga badan daripada kelemahan”.
“Teman seseungguhnya adalah ketika Anda memintanya untuk mengikuti Anda, dia tidak bertanya ke mana atau di mana, namun beranjak dan pergi”.
“Apa yang ditakdirkan akan menjadi milik Anda meski jika itu di bawah dua gunung. Dan yang bukan ditakdirkan untuk Anda tidak akan Anda dapat sekalipun hanya berada di antara kedua bibir Anda”.
“Menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan pengetahuan akan membawanya ke jajaran malaikat. Sebaliknya mengikuti keinginannya akan membawanya turun ke level binatang”.
“Ibu segala akhlak ialah tempat kebijaksanaan, keberanian, kesucian diri, dan keadilan”.
“Yang paling berat di dunia ini adalah memegang amanah”.
“Jangan biarkan hati Anda mendapatkan kesenangan dengan pujian dari orang lain atau Anda akan sedih dengan kecaman mereka”.
“Lidah sangat kecil dan ringan tetapi dapat membawa Anda ke ketinggian terbesar dan dapat menempatkan Anda di kedalaman terendah”.
“Kebahagiaan terletak pada kemenangan memerangi hawa nafsu dan menahan kehendak yang berlebih-lebihan”.
“Tidak pernah saya berurusan dengan sesuatu yang lebih sulit daripada jiwa saya sendiri, kadang-kadang membantu saya dan kadang-kadang menentang saya”.
“Ketika saya melihat kembali kehidupan saya, saya menyadari bahwa setiap kali saya pikir ditolak dari sesuatu yang baik. Pada saat itu Aku benar-benar sedang kembali diarahkan ke sesuatu yang lebih baik. Anda harus meyakinkan hati bahwa apapun yang Tuhan menetapkan adalah hal yang paling tepat dan paling bermanfaat bagi Anda”.
“Carilah teman untuk menenangkan hati dan pikiran, maka perhatikanlah baik-baik tentang keselamatanmu dan kesejahteraannya”.
“Setengah tak percaya pada Tuhan di dunia ini disebabkan oleh orang-orang yang membuat tampilan jelek pada agamanya karena perilaku buruk dan kebodohan mereka”.
“Bersungguh-sungguhlah engkau dalam menuntut ilmu, jauhilah kemalasan dan kebosanan karena jika tidak demikian engkau akan berada dalam bahaya kesesatan”.
“Lidah yang lepas dan hati yang tertutup dan penuh dengan kelalaian itu alamat kemalangan besar”.
“Kita adalah makhluk yang suka menyalahkan dari luar, tidak menyadari bahwa masalah biasanya dari dalam”.
“Saran itu mudah, yang sulit adalah menerimanya, karena itu pahit dalam rasa”.
“Keinginan menjadikan budak dari raja-raja dan kesabaran menjadikan raja-raja dari budak”.
“Orang-orang dari hewan, beberapa setan, beberapa malaikat, dan Anda”.
“Satu berangkat dari stasiun kesabaran melalui kecemasan, berlebihan dari keluhan, membuat sebuah pameran kesedihan, harta dan makanan”.
“Pengetahuan ada berpotensi dalam jiwa manusia seperti benih di tanah dan dengan belajar, potensial menjadi aktual”. *** (Sumber: Jagokata)
PMII Komisariat UPI menggelar aksi unras di halaman kampus UPI Jl. Setiabudi No.229 Bandung
Bandung (Aswajanews.id) – Bertepatan dengan peringatan Hari Guru Nasional pada 25 November 2021, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada 26 November 2021 melakukan aksi memperingati Hari Guru Nasional di Kampus Pendidikan Jl. Setiabudi No.229 Bandung.
Aksi tersebut dilaksanakan di depan gerbang utama (Gate 1) Kampus Universitas Pendidikan Indonesia. Aksi tersebut di ikuti sekitar 25 Anggota dan Kader PMII Komisariat UPI dengan melakukan orasi dan pernyataan sikap.R
Renaldi, Ketua PMII Komisariat UPI memandang masih terdapat banyak permasalahan mengenai pendidikan di Indonesia terutama permasalahan mengenai tenaga pendidik atau guru. Dalam aksi tersebut PMII Komisariat UPI menyampaikan bahwa hari ini masih terdapat banyak kebijakan tentang tenaga pendidik atau guru di Indonesia yang tidak sejalan dengan tuntutan guru dalam melakukan tugasnya atau bahkan semakin mempersulit guru untuk memperoleh kesejahteraan yang sepadan dengan tugasnya. Begitu pula dengan calon guru terutama yang berasal dari Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) seperti Universitas Pendidikan Indonesia.
Lebih lanjur Renaldi mengatakan, beberapa kebijakan pemerintah seperti adanya Pendidikan Profesi Guru (PPG) sebagai program pendidikan profesi guru yang harus ditempuh ketika ingin dianggap sebagai guru profesional bahkan oleh mahasiswa yang merupakan lulusan dari jurusan kependidikan. Kemudian permasalahan hilang nya formasi guru dari CPNS dan digantikan dengan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) menjadi suatu permasalahan baru ketika seseorang ingin menjadi guru yaitu pertama lulusan baru tidak bisa mendaftar untuk mengikuti seleksi PPPK ini dan guru yang sudah menjadi guru honorer bertahun-tahun pun harus mengikuti tes lagi bukan langsung masuk ke PPPK.
Menurutnya, permasalahan tersebut dipandang merugikan bagi guru maupun calon guru oleh PMII Komisariat UPI. Sehingga PMII Komisariat UPI dalam aksi nya menyampaikan beberapa pernyataan yang ditujukan untuk Universitas Pendidikan Indonesia, sebagai berikut:
Pertama, PMII Komisariat UPI menuntut agar Universitas Pendidikan Indonesia memberikan sikap yang konkret terhadap permasalahan pendidikan di Indonesia.
Kedua, PMII Komisariat UPI memberikan sikap bahwasanya Universitas Pendidikan Indonesia sebagai salah satu kampus LPTK untuk berpartisipasi aktif dalam mengawal peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik atau guru di *** (Elisa Nurasri)
Bupati Brebes Hj Idza Priyanti, SE MH saat membuka penyuluhan hukum bagi perangkat desa se Kecamatan Jatibarang, di Hotel Anggraeni Jatibarang, Rabu (24/11).
Brebes (Aswajanews.id) – Aparatur Desa se-Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes ditingkatkan kesadaran hukumnya, agar tidak menyalahi hukum saat melakukan pekerjaan. Jangan sampai akibat awam hukum, aparatur desa tersandung persoalan hukum. Untuk itu, perlu peningkatan kapasitas dibidang hukum bagi aparatur desa sehingga lebih melek hukum.
Demikian disampaikan Bupati Brebes Hj Idza Priyanti, SE MH saat membuka penyuluhan hukum bagi perangkat desa se Kecamatan Jatibarang, di Hotel Anggraeni Jatibarang, Rabu (24/11).
Kata Idza, dengan penyuluhan yang menggandeng Aparatur Penegak Hukum (APH) dan unsur terkait lainnya, harapannya pemahaman tentang hukum bagi perangkat desa semakin meningkat. Seperti dalam pengelolaan dana desa, pengadaan barang dan jasa dan berbagai kegiatan lainnya tidak melenceng dari hukum yang berlaku di Indonesia. “Penyuluhan hukum ini, semoga menjadi jalan menuju terwujudnya good governance,” tandas Idza.
Bupati juga mengingatkan kembali kepada aparatur desa untuk terus meningkatkan capaian vaksinasi di desanya masing-masing. Aparatur desa sebagai ujung tombak dalam penerapan protokol kesehatan dan peningkatan capaian vaksinasi jangan sampai kendur. Karena pandemi Covid-19 belum berakhir, dan perlu dilawan dengan vaksinasi dan penerapan protokol kesehatan,
Camat Jatibarang Imam Tauhid menjelaskan, penyuluhan hukum diinisiasi Badan Kerjasama Antar Desa (BKAD) Kecamatan Jatibarang. Menurutnya, penyuluhan hukum bukan berarti perangkat desa belum maksimal dalam melayani masyarakat. Tetapi bertujuan untuk merefresh atau penyegaran kembali bagi aparat desa tentang hukum karena tuntutan masyarakat makin meningkat dalam kualitas pelayan publik.
“Perkembangan yang muncul di pedesaan, antara lain tentang bantuan sosial dan pengentasan kemiskinan ekstrem yang lagi ngetren, untuk itu perlu disikapi dengan bijak agar tidak melenceng dari hukum yang berlaku,” kata Imam Tauhid.
Sekretaris BKAD Jatibarang Rudi Hartono menjelaskan, kegiatan diikuti 88 peserta utusan dari 22 Desa se Kecamatan Jatibarang. Mereka mendapatkan materi penyuluhan dari Kejaksaan Negeri Brebes, Inspektorat, Pengadilan Negeri Brebes, Dinpermades, Polres Brebes, Kodim Brebes, dan Kecamatan jatibarang. Turut mendampingi Bupati Brebes, Plt Asisten Sekda Bidang Pemerintahan Khaerul Abidin, Staf Ahli Bupati bidang Ahmad Makmun dan pejabat lainnya. (Hafidz/Sumber : Website Pemkab Brebes)
Suatu ketika Imam Syafi’i pernah tiba-tiba mencium tangan dan memeluk hangat seorang laki-laki tua yang kebetulan bertemu muka dengannya. Tindakan ini jelas mengundang tanya para sahabat dan murid-murid Imam Syafi’i.
“Wahai Imam, mengapa engkau mau mencium tangan dan memeluk lelaki tua yang tak dikenal itu? Bukankah masih banyak ulama yang lebih pantas diperlakukan seperti itu dari pada dia?” tanya salah seorang sahabatnya.
Dengan lugas, Imam Syafi’i menjawab: “Ia adalah salah seorang guruku. Ia kumuliakan karena pernah suatu hari aku bertanya kepadanya, bagaimana mengetahui seekor anjing telah dewasa. Ia pun menjawab, untuk mengetahuinya dengan melihat apakah anjing itu mengangkat sebelah kakinya ketika hendak kencing. Jika iya, ketahuilah bahwa anjing itu telah berusia dewasa.”
Begitu luar biasanya Imam Syafi’i memperlakukan dan memuliakan gurunya. Meski pembelajaran yang ia dapatkan terkesan remeh, tidak membuat mufti besar itu melupakan apalagi meremehkan jasa dari orang tersebut. Ia tetap memperlakukannya dengan mulia, sama seperti ia memperlakukan guru-gurunya yang lain.
“Pelajarilah oleh kalian ilmu, pelajarilah oleh kalian ilmu (yang dapat menumbuhkan) ketenangan, kehormatan, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang yang kalian menuntut ilmu darinya.” (HR. Thabrani dari Abu Hurairah RA).
Tak kalah luar biasanya lagi, adalah Khalifah Ali Bin Abi Thalib dalam hal memuliakan guru. Beliau pernah berkata: “Aku adalah hamba dari siapa pun yang mengajariku walaupun hanya satu haruf. Aku pasrah padanya. Entah aku mau dijual, dimerdekakan atau tetap sebagai seorang hamba.”
Perkataan beliau ini menunjukkan bentuk memuliakan dan pengabdian yang tinggi pada siapa pun saja yang pernah mengajarinya walaupun hanya satu huruf. Bahkan, beliau mengibaratkan hubungan guru dengan murid seperti tuan dengan budaknya. Sebagaimana budak, senantiasa siap menjalankan titah tuannya.
Begitulah sejatinya memuliakan gurunya. Memuliakan guru adalah kewajiban setiap murid. Memuliakan guru tak kenal batas ruang dan waktu. Baik di sekolah, di jalan, di rumah, di taman, atau di mana saja.
Memuliakan guru juga tidak hanya mengacu pada posisi saat ia masih aktif menjadi guru. Namun, meski guru sudah berhenti atau pindah tugas dari tempat kita belajar, beliau tetap harus dimuliakan. Memuliakan guru sejak kita berguru padanya sampai ajal menjemput kita.
Memuliakan guru bukan formalitas belaka, harus tumbuh dari dalam sanubari. Jangan sampai lahir kelihatan hormat, tetapi batinnya melaknat. Penghormatan dan memuliakan guru itu harus berangkat dari hati yang bersih agar berbuah kasih dari Allah SWT.
Teladanilah Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Imam Syafi’i dalam hal memuliakan guru. Pantaslah jika dikemudian hari, sejarah Islam mencatat nama beliau berdua dengan tinta emas, yang hingga kini tetap diingat dan dihormati setiap Muslim. Bahkan, Nabi SAW dalam satu kesempatan pernah bersabda: “Saya adalah kota ilmu dan Ali sebagai pintunya.” Hadis ini menunjukkan betapa tingginya ilmu Sayyidina Ali sehingga Rasulullah menjulukinya sebagai Babul Ilmi (pintu ilmu pengetahuan). Wallahu a’lam.
Upacara Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2021 di Lapangan Kantor Kementerian Agama Jakarta, Kamis (25/11/2021) pagi.
Jakarta (Aswajanews.id) – Direktur Jenderal Pendidikan Islam Ali Ramdhani menegaskan bahwa negara patut mengapresiasi dedikasi guru lewat program-program strategis nasional, terutama terkait aspek kesejahteraan guru.
Berbagai kebijakan dan program pun sudah diluncurkan Kementerian Agama. Misalnya, pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG), baik bagi Guru Madrasah maupun Guru PAI pada sekolah, pengangkatan guru PPPK guru madrasah dan GPAI pada tahun 2021-2022, pemberian bantuan insentif guru, serta pembayaran selisih tukin terhutang tahun 2015-2018 dan program lainnya.
“Pada aspek peningkatan kompetensi, kita telah dan sedang mengupayakan penguatan program sertifikasi guru melalui jalur PPG (pendidikan profesi guru); pelaksanaan Asesmen Kompetensi Guru (AKG), Asesmen Kompetensi Pengawas, Asesmen Kompetensi Kepala Madrasah dan sejumlah kegiatan penyelenggaraan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) dan lain sebagainya,” kata Ali Ramdhani saat membacakan sambutan Menteri Agama di upacara Hari Guru Nasional 2021 di Lapangan Kantor Kementerian Agama Jakarta, Kamis (25/11/2021) pagi.
“Semoga langkah-langkah tersebut gayung bersambut diikuti dengan menguatnya kepedulian dan tumbuhnya cinta pendidik demi terwujudnya generasi cerdas bermartabat,” lanjut Ali Ramdahni.
Dirjen Pendis berharap tema HGN 2021 yakni Guru Peduli Cerdaskan Anak Negeri tidak hanya berhenti menjadi jargon, tetapi mewujud-nyata dalam ekosistem pendidikan agama dan keagamaan. “Mari kita laksanakan bersama-sama untuk menggapai cita-cita luhur bangsa, mencerdaskan anak negeri. Guru hebat, siswa cerdas dan madrasah bermartabat,” tandasnya.
Upacara HGN di lapangan Kantor Kemenag pagi itu diawali dengan pengibaran bendera dan diikuti terbatas oleh ASN Kementerian Agama dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Upacara HGN 2021 juga diikuti secara hybrid oleh keluarga besar ASN Kemenag melalui zoom, youtube Kemenag RI dan dan Pendis Chanel. (Kemenag)