Beranda Nusantara Mapag Sri, Wujud Syukur Panen Raya Warga Rancasari Bangodua

Mapag Sri, Wujud Syukur Panen Raya Warga Rancasari Bangodua

79

INDRAMAYU (Aswajanews) – Tradisi Mapag Sri kembali digelar masyarakat Desa Rancasari, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu, Rabu (15/04/2026), sebagai bentuk rasa syukur menyambut panen raya.

Mapag Sri merupakan adat budaya masyarakat Jawa dan Sunda yang memiliki makna “menjemput padi”. Dalam bahasa Jawa halus, mapag berarti menjemput, sedangkan sri diartikan sebagai padi. Tradisi ini menjadi simbol datangnya masa panen sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil pertanian yang melimpah.

Kegiatan tersebut dihadiri Sekretaris Kecamatan Bangodua Eko Febiyanto, S.IP., Kasi Trantibum Caskiyah, S.IP., para kuwu dan pamong desa, di antaranya Kuwu Ayub (Desa Mulyasari), Kuwu Casminto (Desa Malangsari), Kuwu Daryana (Desa Beduyut), serta tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda, tokoh agama, Ketua RT/RW, BPD, dan LPM Desa Rancasari.

5E01E487 DBBC 4C5E A180 21EC830B2E5C

Kepala Desa Rancasari, Wamin, mengatakan bahwa Mapag Sri menjadi momentum penting untuk menjaga sekaligus memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda.

“Tradisi Mapag Sri menjadi contoh nyata bagaimana nilai kebersamaan, kepedulian, dan rasa syukur terus hidup di tengah masyarakat. Kami berharap tradisi ini tetap lestari dan bisa menginspirasi daerah lain dalam menjaga kearifan lokal,” ujarnya.

Dalam pelaksanaannya, rangkaian acara diisi dengan doa bersama agar hasil panen padi semakin melimpah. Selain itu, sebagai bentuk syukuran, masyarakat juga menggelar perayaan dengan menampilkan pagelaran wayang kulit.

Tradisi Mapag Sri sendiri rutin dilaksanakan setiap tahun oleh pemerintah desa bersama masyarakat sebagai upaya melestarikan adat istiadat yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Budaya ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kearifan lokal masih kuat melekat dalam kehidupan masyarakat Jawa Barat, khususnya di Desa Rancasari, dalam menyambut panen raya dengan penuh rasa syukur dan kebersamaan. (Prapto/Herman Tongol)


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.