Orang yang sudah dewasa pada tahun 1960-an mustahil tidak mengenal Menteri Agama KH Saifuddin Zuhri. Dia adalah seorang ulama sekaligus pejuang kemerdekaan.
Waktu muda, Saifuddin Zuhri aktif dalam Laskar Hizbullah bersama TKR yang dibentuk Presiden Soekarno setelah melikuidasi BKR pada 5 Oktober 1945.
Sebagai pejuang, Saifuddin Zuhri ikut dalam Perang Ambarawa yang dipimpin Kolonel Sudirman, melawan Sekutu yang sedang bergerak menuju Surabaya.
Dia juga merupakan ulama besar Nahdlatul Ulama (NU) dan menjadi Sekjen pertama PBNU, mendampingi KH Hasyim Asy’ari, pendiri sekaligus Ketua Umum PBNU pertama.
Tahun 1962, Saifuddin Zuhri menjabat Menteri Agama. Ia sangat dekat dengan Presiden Soekarno dan banyak berfungsi sebagai penasihat spiritual presiden pertama itu. Berbagai urusan pribadi Bung Karno banyak meminta pendapat sang Menag kelahiran Martapura, 2 Oktober 1919, tersebut.
Bahkan, konon, sampai urusan poligami. Ketika Bung Karno hendak menikahi Ibu Hartini, janda seorang dokter, Bung Karno meminta fatwa kepada Menteri Agama ke-6 itu.
Satu hal lagi, ketika Bung Karno ingin bertemu dengan Mahbub Djunaidi, yang dikagumi tulisannya, Saifuddin pula yang diminta mendatangkan “si burung parkit di kandang macan” itu.
Saifuddin adalah putra kiai besar Banjar Martapura, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, yang dikenal dengan julukan Abah Guru Banjar Indah.
Dalam deretan menteri, ia dikenal sebagai seorang pejabat negara yang jujur dan sederhana. Selama menjadi menteri, ia menolak menempati rumah dinas. Ia bersama keluarga memilih tinggal di rumah kontrakan.
Setelah pensiun dari jabatan itu, Saifuddin Zuhri hilang dari peredaran. Selama bertahun-tahun, keluarga tidak tahu apa yang dia kerjakan.
Yang diketahui istrinya, setiap hari dia mengangkat sendiri satu atau dua karung beras dari gudang di belakang rumahnya. Ia pergi dengan menyetir mobil sendiri. Sore hari baru pulang dengan membawa setumpuk uang.
Kelakuan misterius itu berlangsung bertahun-tahun. Sampai suatu ketika, seorang anaknya ketika berjalan-jalan ke Pasar Glodok memergoki sang ayah sedang berjualan beras.
Jangan salah, bukan grosiran, tetapi eceran satu-dua kilogram kepada ibu-ibu yang berbelanja untuk kebutuhan rumah tangga.
Kepada anak yang memergokinya, ia hanya menyilangkan tangan di depan mulutnya, sebagai isyarat agar jangan banyak bicara atau merahasiakan kejadian itu.
Namun, akhirnya rahasia itu terbongkar lewat pemberitaan media massa. Maka diketahui secara luas bahwa mantan Menteri Agama dan kesayangan Presiden Soekarno itu berjualan beras eceran di Pasar Glodok, Jakarta.
Keuntungan dari satu kilogram sekitar Rp1. Jadi, kalau sehari laku 100 kilogram, dia membawa pulang ke rumah Rp100. Uang sebesar itu cukup untuk membeli lauk-pauk untuk makan sekeluarga.
Salah seorang putranya adalah Lukman Hakim Saifuddin, yang pernah menjabat Menteri Agama ke-16 di bawah pemerintahan periode kedua Presiden SBY dan awal pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Kejujuran dan kesederhanaan tidak membuat pamor melorot. Kelakuan terpuji yang tidak menarik dan dilakukan banyak pejabat lain. (*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























