Beranda Aktual Humanisme dalam Setiap Koin: Menelusuri Gerakan Filantropi Nahdlatul Ulama

Humanisme dalam Setiap Koin: Menelusuri Gerakan Filantropi Nahdlatul Ulama

1

JAKARTA (Aswajanews.id) – Gerakan Koin NU yang selama ini dikenal sebagai salah satu model filantropi masyarakat Nahdlatul Ulama menjadi fokus penelitian disertasi Salmaa Al Zahra, penerima Beasiswa S3 BAZNAS RI. Penelitian tersebut mengkaji sejarah, dinamika, serta proses institusionalisasi Gerakan Koin NU, mulai dari lahir sebagai gerakan lokal di Kabupaten Sragen hingga berkembang menjadi gerakan filantropi berskala nasional di bawah koordinasi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Penelitian ini berangkat dari ketertarikan untuk memahami bagaimana sebuah gerakan sosial berbasis masyarakat mampu berkembang menjadi kebijakan organisasi yang memiliki dampak luas dalam pelayanan sosial dan kemanusiaan. Selain menelusuri aspek historis, kajian tersebut juga menyoroti proses pelembagaan Gerakan Koin NU hingga menjadi bagian dari strategi filantropi NU di tingkat nasional.

Menurut Salmaa Al Zahra, keberhasilan Gerakan Koin NU tidak semata-mata terletak pada mekanisme penghimpunan dana melalui recehan masyarakat, melainkan pada kemampuannya membangun solidaritas sosial, partisipasi warga, dan semangat gotong royong yang menjadi karakter masyarakat Indonesia.

Nilai-nilai tersebut kemudian berkembang menjadi fondasi gerakan filantropi yang menjangkau berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga penanganan bencana.

“Saya ingin melihat bagaimana sebuah inisiatif sederhana yang lahir dari masyarakat di Sragen mampu berkembang menjadi gerakan filantropi kemanusiaan yang diadopsi secara nasional oleh PBNU. Yang menarik bukan hanya proses organisasinya, tetapi bagaimana nilai kepedulian dan solidaritas sosial dapat dilembagakan sehingga terus hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Salmaa.

Ketertarikan Salmaa terhadap tema tersebut juga dipengaruhi oleh refleksi kemanusiaan yang ia temukan dalam karya-karya Dr. Fahruddin Faiz. Salah satu kutipan yang paling membekas baginya adalah:

“Menjadi manusia itu takdir, tapi menjadi kemanusiaan itu pilihan.”

Bagi Salmaa, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kemanusiaan bukan sekadar identitas, melainkan komitmen yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Nilai itulah yang menurutnya tercermin dalam Gerakan Koin NU, ketika partisipasi masyarakat melalui donasi bernilai kecil mampu dihimpun menjadi kekuatan besar untuk membantu sesama.

Melalui penelitian ini, Salmaa berharap kajian mengenai Gerakan Koin NU tidak hanya memperkaya khazanah akademik tentang gerakan sosial dan filantropi Islam, tetapi juga memberikan kontribusi bagi pengembangan model filantropi berbasis komunitas yang berkelanjutan. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi referensi bagi organisasi kemasyarakatan, akademisi, maupun para pegiat filantropi dalam membangun gerakan kemanusiaan yang berakar pada partisipasi masyarakat dan nilai-nilai solidaritas. (Khairul Anwar)


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.