Oleh: Dedi Asikin
Hari Sabtu, tanggal 3 September kemarin, saya ke Bandung. Ada acara memperingati wafatnya H. Oce Permana, seorang wartawan dan sahabat.
Istrinya yang juga saya kenal mengundang saya via Pemimpin Redaksi Kejakimpol News. Saya harus datang. Dibelain jalan terpincang-pincang dan bahkan beberapa kali hampir jatuh, terlambat nyampe di tempat acara.
Saya pikir semua maklum, maklum saya sudah aki-aki pisan (86/87).
Oce Permana itu seorang wartawan di Bandung. Tiada duanya. Dia pandai bergaul dan mendekati narasumber. Secara fisik kami jarang jumpa. Soalnya, ketika saya dipindahkan kerja dari Tasikmalaya ke Bandung, ditugaskan di dalam, sementara Oce bertugas di lapangan (kejaksaan, pengadilan, dan kepolisian), sohor dengan sebutan kelompok kerja Kejakimpol.
Saya cuma kadang-kadang saja diajak (wartawan) alm. Tedi Djukandi main ke kantor Kejaksaan Tinggi Jawa Barat di Jalan Riau. Atau ikut Soewardjo, juga alm., ke Polda atau ke Polrestabes Bandung. Di Polrestabes kadang ketemu Oce Permana. Juga ketemu dan kenalan dengan wartawan lain: Nurdin (KINI), Yaumar Yasin, Lister Marpaung, dll. Di Polda ketemu Opik Taufik yang sering dipanggil Si Abah.
Oce suka datang (main) ke kantor Mandala di Jalan Banceuy No. 2.
Kadang-kadang ujug-ujug blek saja duduk di depan meja kerja.
“Cageur, Ded,” sapanya akrab sekali. Dan sejak itu kami jadi sobat dalit, meski frekuensi bertemu fisik termasuk jarang.
Suatu hari, ketika dia datang lagi ke Mandala, saya cerita sedang ada konflik internal di Mandala. Beberapa wartawan, termasuk saya, merasa diperlakukan tidak adil oleh manajemen Mandala.
Oce menasihati saya untuk bertemu langsung dengan Pak Krisna Harahap, SH., Pemimpin Umum dan Pemimpin Redaksi Mandala.
“Siapa tahu itu kebanyakan di hilir, bukan dari hulu.”
Saya merasa Oce benar. Tapi yang terjadi, saya tidak punya keberanian untuk masuk ruang kerja Pak Krisna. Seperti ada hantu yang keluar masuk. Padahal sebenarnya yang keluar masuk ruang kerja Pak Bos itu Mang Emen, office boy, yang oleh karyawan administrasi suka dipanggil Emen Suremen, keluar masuk mengantar makanan atau minuman untuk Pak Bos.
Kembali ke Oce Permana, sekali waktu dia datang lagi ke kantor. Ujug-ujug peluk saja, melempar sebuah amplop besar. Ternyata itu undangan pernikahan. Mau merid, nih, anak, pikir saya.
Dia pun langsung ngomong.
“Didinya kudu datang. Pokona ente kudu nyaksian ijab qobul saya.”
Meski agak berat, saya penuhi permintaannya. Saya hadir dan menyaksikan ijab qobul dia:
“Saya terima nikahnya Ana Gardinasari dengan maskawin bla bla bla.”
Ternyata perempuan yang dia nikahi adalah Ana Gardinasari.
Dia itu bersama seorang temannya, praktik kerja di Mandala. Pak Krisna menugaskan saya untuk mendampinginya selama sekitar satu bulan.
Sejak pernikahan dia itu, kami tidak pernah ketemu lagi. Saya sendiri pulang kampung ke Tasik. Ternyata rumah tangga mereka berjalan mulus dan bahagia.
Ana, perempuan setia, mendampingi sampai maut memisahkan mereka.
Tahun 2020, tiba-tiba dia WA.
“Ded, saya maca tulisan didinya. Alus euy. Teruskeun.”
Saya jawab WA:
“Pertama, tamba kesel. Kedua, saya nasihat dokter. Otak harus terus digunakan. Tujuannya untuk mencegah penuaan dini dan tidak pikun. Dan itu saya rasakan. Dalam usia sudah aki-aki begini masih bisa menulis. Dalam tiga tahun saya mampu menulis 500 judul.”
Eh, tiba-tiba tanggal 18 Januari 2023 saya mendapat informasi sahabat terbaik itu sudah berpulang ke Rahmatullah. Jantungnya tidak cukup kuat untuk menopang aktivitasnya yang intensif.
Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu.
Semoga dia wafat dalam keadaan husnul khatimah dan mendapat tempat di surga yang sejuk, yang mengalir sungai-sungai di bawahnya.
Khalidina fiha abada, kekal selamanya. (*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























