Dalam cerita pewayangan, Candradimuka adalah sebuah tempat di kahyangan untuk menggembleng bayi Jabang Tutuka (Gatotkaca), putra Bima alias Werkudara. Maksudnya agar tali ari-ari bisa diputus. Sudah diusahakan dengan berbagai senjata, tetapi tali pusat itu tidak mau putus. Ternyata bayi tersebut malah menjadi sakti mandraguna, punjul alinga papak, dan menjadi satria Pringgodani, penjaga keamanan negara Amarta.
Terkait Mekkah sebagai kawah Candradimuka, ceritanya cukup panjang. Para calon haji dahulu berangkat dari daerah masing-masing menuju Aceh dengan menggunakan kapal atau perahu layar.
Yusuf Al-Makasari, kiai besar dari Sulawesi Selatan, misalnya, berangkat dari Makassar dengan menumpang perahu layar. Ia mampir terlebih dahulu di Banten untuk menemui sahabatnya, Sultan Ageng Tirtayasa, yang sedang menangani pemberontakan para petani melawan kekejaman tentara Belanda.
Semua calon jemaah berkumpul terlebih dahulu di Aceh sebelum berangkat dengan kapal barang menuju Gujarat, India. Karena itu, Aceh dijuluki Serambi Mekkah.
Sejak berada di Aceh, mereka sudah mulai berbicara mengenai perjuangan untuk mencapai kemerdekaan. Rasa persatuan dan nasionalisme mulai terbentuk di ujung Pulau Sumatra itu.
Sampai di Gujarat, mereka berganti kapal, juga kapal barang, menuju Jeddah atau Yaman. Empat kilometer sebelum pelabuhan Jeddah, kapal menurunkan penumpang di Pulau Kamerun untuk dikarantina selama seminggu. Setelah itu, dengan perahu sumbuk yang terbuka, para calon jemaah haji diangkut ke Pelabuhan Jeddah.
Dari Jeddah, perjalanan dilanjutkan menuju Mekkah dengan menggunakan kuda atau unta. Bahkan, ada juga yang berjalan kaki. Di Mekkah, mereka semakin intens berbicara mengenai perjuangan kemerdekaan. Mereka juga terkadang bertemu dengan jemaah dari India yang sedang berjuang melepaskan diri dari belenggu penjajahan Inggris.
Di antara mereka ada yang kemudian bermukim di Mekkah atau Madinah. Tujuannya, selain untuk mematangkan urusan perjuangan, juga untuk belajar dan menambah pengetahuan tentang Islam.
Di Mekkah dan Madinah terdapat guru-guru yang berasal dari Nusantara. Mereka bermukim di sana untuk belajar agama Islam. Kemudian, mereka menjadi guru besar dan mengajar para jemaah yang datang belakangan.
Di Mekkah dan Madinah juga terdapat beberapa ulama Nusantara yang menjadi imam di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di antaranya:
- Nawawi Al-Bantani yang berasal dari Banten. Beliau wafat pada tahun 1897 dan dimakamkan di Ma’la, pemakaman besar yang tidak jauh dari Masjidil Haram.
- Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, guru besar Mazhab Syafi’i.
- Syekh Umar Hamdani Al-Mahriji, guru besar dan ahli hadis. Beliau mengajar banyak jemaah haji dari Asia Tenggara.
- Syekh Hasan bin Muhammad Al-Masyath.
- Syekh Muhammad Abdullah dan lain-lain.
Bukan mengada-ada, Mekkah dan Madinah memang menjadi kawah Candradimuka bagi para haji yang berjuang di Tanah Air.
Mereka mematangkan nasionalisme dan semangat perjuangan kemerdekaan sebelum kembali ke Tanah Air. (*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























