Kepada teman-teman wartawan liputan Kementerian Agama Jawa Barat yang sedang berusaha membangun kemitraan dengan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Barat, saya sarankan agar tidak terlalu berharap bahwa kemitraan pers dan pemerintah akan berlangsung abadi.
Sejak dulu, adagium itu kerap dipandang sebagai semboyan belaka. Ibarat perang dingin antara Amerika dan Rusia. Suatu saat, konflik dapat muncul di Korea, Vietnam, Afghanistan, atau Lebanon. Masing-masing pihak memiliki kepentingan, baik politik, ekonomi, maupun kepentingan lainnya.
Tahun 2003, kami, para wartawan yang meliput kegiatan Kementerian Agama Jawa Barat, melakukan demonstrasi untuk menyuarakan penolakan terhadap pengangkatan Drs. ML, MM sebagai Kepala Kanwil Kementerian Agama Jawa Barat.
Kami menyampaikan aspirasi yang juga disebut datang dari sejumlah warga Jawa Barat, termasuk beberapa kepala Kemenag kabupaten dan kota, yang menghendaki agar Kepala Kanwil ditunjuk dari kalangan orang Jawa Barat sendiri.
Alasan yang disampaikan adalah agar kondisi lebih kondusif karena pejabat tersebut dinilai telah mengenal lapangan dan karakter masyarakat Jawa Barat. Namun, Menteri Agama Maftuh Basyuni tetap menetapkan pengangkatan Drs. ML, MM.
Menurut penjelasan yang beredar saat itu, keadaan dinilai mendesak karena jabatan tersebut telah kosong sejak ditinggalkan Kakanwil lama, Drs. IM, MM, yang diberhentikan sekitar dua bulan menjelang THT pensiun.
Begitu datang di Bandung, sebelum memasuki ruang kantor, ia meminta bertemu dengan kami. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan komitmen untuk bekerja sama serta mengembangkan transparansi dan keterbukaan. Namun, dalam perkembangannya, sebagian pihak menilai komitmen tersebut belum terwujud sebagaimana diharapkan. Kata orang Betawi, cuma lip service doang.
Menjelang tahun keempat, tepatnya pada 2007, muncul kesan bahwa hubungan tersebut mulai berubah. Salah satu hal yang membuat para wartawan geram adalah beredarnya informasi bahwa ia mengirim surat kepada Kepala Kejaksaan Tinggi Jawa Barat, Kapolda Jawa Barat, dan Ketua PWI Jawa Barat.
Dalam surat itu, menurut informasi yang saya terima, ML, MM melaporkan perilaku sejumlah wartawan yang disebut mengganggu ketenangan kerja aparat penyelenggara negara. Saya mengetahui surat tersebut dari Us Tiarsa, Ketua PWI Jawa Barat. Drs. ML, MM disebut tidak menanggapi protes kami sebagaimana yang kami harapkan.
Beberapa waktu berselang, saya mendapat informasi dari Kepala Seksi Madrasah Kantor Kemenag Kabupaten Bandung. Ia mengaku telah dikenai sanksi nonjob dan ditarik menjadi staf di Kanwil.
Ia juga mengaku melakukan pungutan dari uang rapel guru-guru fungsional. Menurut keterangannya, hasil pungutan itu digunakan untuk membeli laptop bagi para KKM atau Kelompok Kerja Madrasah.
Menurut informasi yang saya terima, setelah persoalan tersebut diketahui, laptop itu kemudian dijual kembali. Laptop yang disebut dibeli seharga Rp700.000 tersebut dikabarkan hanya laku Rp400.000 saat dijual. Untuk menutup kekurangan, ia mengaku meminjam uang dari Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat sebesar Rp1,2 juta, yang dicicil dari gajinya selama tiga tahun.
Ia menyampaikan bahwa uang sebesar Rp700.000 tersebut diambil Dr. S, Kepala Bagian Kepegawaian Kanwil, atas perintah Drs. ML, MM. Meski demikian, ia tetap mengaku dikenai sanksi dengan status nonjob.
Ketika bertemu dengan saya, ML, MM menyampaikan bahwa sebagian uang tersebut, menurut keterangannya, digunakan untuk membangun masjid di kompleks Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bandung.
Saya menyampaikan kepadanya, “Anda ini ibarat mencuri sarung untuk salat. Itu TPPU, Pak.”
Setelah dipanggil dan diperiksa Ditreskrimsus Polda Jabar, menurut informasi yang saya terima, ia berjanji akan mencopot Dr. S dan meminta maaf kepada seluruh wartawan yang meliput kegiatan Kementerian Agama.
Namun, dua hari sebelum janji itu dilaksanakan, jabatannya sebagai Kakanwil justru dicopot oleh Menteri Agama SDA, yang menggantikan Maftuh Basyuni.
“Ini namanya bagja teu daulat,” kata Teteng Saftari, S.H.I. (*)
Eksplorasi konten lain dari News
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.





























