INDRAMAYU (Aswajanews) – Pemerintah Desa Beduyut, Kecamatan Bangodua, Kabupaten Indramayu menggelar tahlil dan doa bersama sebagai rangkaian utama tradisi adat Mapag Sri, Minggu (31/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Beduyut tersebut juga dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian tradisional wayang kulit.
Acara berlangsung khidmat dan dihadiri berbagai unsur masyarakat serta pemerintah. Hadir dalam kegiatan tersebut tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda, Ketua RT dan RW, BPD, LPM, serta ibu-ibu PKK Desa Beduyut.
Turut hadir Sekretaris Kecamatan Bangodua Eko Febiyanto, S.IP., Kasi Trantibum Kecamatan Bangodua Caskiyah, S.IP., Babinsa, Bhabinkamtibmas, para kuwu dan pamong desa. Di antaranya Kuwu Wamin (Desa Rancasari), Kuwu Casminto (Desa Malangsari), Kuwu Ayub (Desa Mulyasari), Kuwu Tarsono, ST (Desa Wanasari), Kuwu Panji Kholifatullah (Desa Tegalgirang), serta Kuwu Agus dari Desa Bangodua.
Adat Mapag Sri merupakan tradisi tahunan yang terus dilestarikan masyarakat Desa Beduyut sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas hasil bumi yang melimpah sekaligus menyambut musim panen raya padi.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat tampak antusias mengikuti tahlil dan doa bersama. Suasana kebersamaan dan gotong royong sangat terasa saat warga dan para pejabat duduk bersama beralaskan tikar, memanjatkan doa agar proses panen berjalan lancar dan membawa keberkahan bagi para petani.

Kepala Desa Beduyut, Daryana, saat ditemui awak media Aswajanews di sela-sela kegiatan mengatakan bahwa Mapag Sri tidak hanya menjadi ritual keagamaan dan budaya, tetapi juga sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga.
“Melalui acara Mapag Sri ini, kita ingin menjaga agar budaya nenek moyang tidak hilang ditelan zaman, sekaligus mengajak seluruh masyarakat untuk selalu bersyukur atas apa yang telah kita terima hari ini,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Bangodua Iim Nurahim, S.Sos., M.Si., melalui Sekretaris Kecamatan Bangodua Eko Febiyanto, S.IP., memberikan apresiasi atas komitmen masyarakat Desa Beduyut dalam melestarikan budaya warisan leluhur.
“Tradisi Mapag Sri bukan hanya seremoni, tetapi juga bentuk syukur atas limpahan berkah dan rezeki dari Allah SWT. Ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga dan melestarikan budaya warisan leluhur,” katanya.
Eko berharap tradisi tersebut menjadi momentum doa bersama agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan, terhindar dari berbagai bencana, serta memperoleh hasil panen yang semakin melimpah.
“Semoga para petani semakin makmur, jaya, dan mandiri,” pungkasnya.
(Prapto/Herman Tongol)
Eksplorasi konten lain dari aswajanews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.
































