Beranda Nasional Ekonomi, Bisnis dan UMKM KETIKA DOLAR MAKIN MENGORBIT

KETIKA DOLAR MAKIN MENGORBIT

0
Oleh: Dedi Asikin

Hari ini nilai tukar dolar Amerika Serikat menembus Rp18.000. Angka ini menjadi salah satu level tertinggi yang pernah dialami negeri ini.

Beberapa waktu lalu, ekonom senior dan guru besar Universitas Indonesia, Faisal Basri, pernah memperingatkan kemungkinan situasi seperti ini. Ia bukan peramal, melainkan akademisi yang berbicara berdasarkan data, perhitungan, dan logika ekonomi.

Menurutnya, suatu saat hubungan politik antara Prabowo dan Jokowi berpotensi mengalami pergeseran. Ia juga mengingatkan bahwa perekonomian nasional bisa menghadapi tekanan, sementara harga-harga kebutuhan pokok berisiko meningkat. Apalagi Indonesia masih mengimpor berbagai komoditas penting yang transaksinya menggunakan dolar AS.

Namun, berbagai peringatan tersebut kala itu tidak banyak mendapat perhatian. Bahkan kritik dan pandangan yang disampaikan sering dianggap sebagai sikap pesimistis terhadap pembangunan.

Ada satu hal yang ternyata berbeda dari prediksi tersebut. Prabowo Subianto tidak meninggalkan Jokowi. Sebaliknya, pengaruh Jokowi masih terasa dalam dinamika politik nasional hingga hari ini.

Kini, ketika dolar terus menguat dan gejala kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok mulai dirasakan masyarakat, Presiden Prabowo Subianto terlihat tetap tenang. Salah satu pernyataan yang ramai diperbincangkan adalah bahwa masyarakat desa tidak bertransaksi menggunakan dolar, melainkan rupiah.

Pernyataan itu mungkin benar secara langsung. Namun persoalannya, banyak kebutuhan pokok, bahan baku industri, hingga berbagai komponen produksi masih bergantung pada impor yang dibayar dengan dolar. Ketika nilai tukar dolar naik, biaya impor ikut melonjak. Pada akhirnya harga barang di pasar berpotensi naik, dan masyarakatlah yang harus menanggung dampaknya.

Hari ini dolar seolah telah mengorbit jauh dari jangkauan rakyat. Jika dianalogikan seperti satelit yang melayang ratusan kilometer di atas bumi, nilainya terus menjauh dari kemampuan sebagian masyarakat untuk mengejarnya.

Pertanyaannya, sampai kapan dolar terus mengorbit? Dan siapa yang mampu menjangkaunya? ***


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.