Beranda Aktual Sejarah Berdirinya MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa

Sejarah Berdirinya MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa

44

Berdirinya Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sirojut Tholibin Rengaspendawa pada tahun 2005 tidak dapat dipisahkan dari sejarah Madrasah Diniyah (Madin) Sirojut Tholibin yang telah lebih dahulu berdiri sejak tahun 1992, sebagaimana tercatat dalam dokumen Izin Operasional (Ijop) Madrasah Diniyah.

Cikal bakal Madrasah Diniyah Sirojut Tholibin sendiri telah dirintis sejak tahun 1986. Pada masa awal, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan secara sederhana dengan menempati beberapa rumah milik H. Nur Kholid, H. Solehudin, dan H. Zarkasih.

Dalam perjalanannya, Madrasah Diniyah sempat mengalami masa vakum selama beberapa tahun. Namun, pada Januari 2002, lembaga tersebut kembali diaktifkan atas prakarsa KH. Nurudin Syamsudin, Pengasuh Pondok Pesantren Al Hasainiyah Kedawon, Karangan, Brebes, bersama masyarakat Rengaspendawa Barat.

Pada saat itu, Akhmad Sururi, alumni Pondok Pesantren Lirboyo asal Desa Jagalempeni, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, yang sedang berkhidmah di Pondok Pesantren Al Hasainiyah Kedawon, dipercaya menjadi Kepala Madrasah Diniyah.

Di bawah kepemimpinannya, Madrasah Diniyah melibatkan sejumlah alumni pesantren untuk bersama-sama mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik.Kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di gedung lama yang terdiri atas empat ruang kelas dan satu ruang kantor.

Seiring perkembangan Madrasah Diniyah, muncul dorongan kuat dari Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) Kecamatan Larangan, Soedarjo, agar didirikan lembaga pendidikan formal setingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI). Gagasan tersebut berulang kali disampaikan kepada Drs. Syaifulloh, salah satu tokoh dan keluarga besar pengurus Madrasah Diniyah, dengan berbagai pertimbangan demi masa depan pendidikan masyarakat Rengaspendawa Barat.

Dorongan tersebut akhirnya diwujudkan pada tahun 2005 dengan berdirinya MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa. Drs. Syaifulloh ditunjuk sebagai kepala madrasah pertama.
Pada masa awal berdiri, tenaga pendidik yang mengabdi di MI Sirojut Tholibin antara lain Siti Musyarofah, Uswatu Hasanah, dan Warfuah yang mengajar khusus setiap hari Jumat.

Meskipun belum memperoleh Bantuan Operasional Sekolah (BOS), kegiatan pembelajaran tetap berjalan dengan semangat gotong royong. Seluruh biaya operasional, termasuk honor para guru selama kurang lebih dua tahun, ditanggung oleh pihak yayasan melalui swadaya masyarakat.

Sambil menunggu proses perizinan, MI Sirojut Tholibin tetap menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar sesuai kurikulum Kementerian Agama. Setelah sekitar dua tahun, madrasah ini memperoleh Surat Keputusan Izin Penyelenggaraan secara resmi dari Departemen Agama Kabupaten Brebes. Pada tahun ketiga operasionalnya, MI Sirojut Tholibin mulai menerima dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Dalam perjalanan kepemimpinan, setelah masa jabatan Drs. Syaifulloh berakhir, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Akhmad Sururi yang menjabat sebagai Kepala MI selama kurang lebih empat tahun.

Selanjutnya, kepemimpinan diteruskan oleh Sugianto, putra kelahiran Kecamatan Songgom yang telah menetap di Desa Kedawon. Ia memimpin MI Sirojut Tholibin selama kurang lebih satu setengah tahun.

Pada tahun 2016, jabatan Kepala MI diamanahkan kepada Fahruri yang juga merangkap sebagai Kepala MDTA Sirojut Tholibin Rengaspendawa. Fahruri memimpin madrasah tersebut hingga tahun 2022.

Sejak tahun 2022, estafet kepemimpinan kembali diemban oleh Akhmad Sururi. Secara resmi beliau menerima amanat sebagai Kepala MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa untuk masa bakti hingga tahun 2027.

Selama lebih dari dua dekade, MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa terus berkembang sebagai lembaga pendidikan Islam yang lahir dari semangat swadaya masyarakat, dedikasi para ulama, dan pengabdian para guru.

Berbekal nilai-nilai keislaman, kebersamaan, dan komitmen dalam mencerdaskan generasi bangsa, madrasah ini terus berupaya meningkatkan kualitas pendidikan agar mampu menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan jati diri sebagai lembaga pendidikan berbasis Ahlussunnah wal Jamaah. (Red)


Eksplorasi konten lain dari aswajanews

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.