Tradisi

Rokok Tahlilan, Penyambung Silaturahmi

Ada hal unik yang sering kita jumpai pada acara pembacaan yasin dan tahlil yang dilaksanakan di mayoritas orang kampung atau pedesaan kalangan Nahdliyin. Pada kesempatan tersebut tuan rumah atau shohibul musibah memberikan penghormatan kepada para tamu yang hadir dengan menyediakan teh manis panas, gorengan atau kue kering dan satu pendamping wajib disediakan adalah rokok yang ditaruh di dalam gelas.

Mungkin fenomena yang demikian hanya dapat kita jumpai di pedesaan saja, karena maklum saja mayoritas para laki-lakinya adalah ahlul hisap atau orang yang menyukai rokok.

Disebutkan bahwa masyarakat nusantara pada saat itu perlahan mulai mengadopsi kebiasaan merokok yang bermula dilakukan oleh para bangsawan dan para penjajah. Dikutip Menurut Babad Ing Sangkala, para bangsawan Jawa telah mengonsumsi rokok tembakau pada masa pemerintahan Senopati di kerajaan Mataram Islam.

Sementara itu, masyarakat kalangan bawah dan kaum priyayi mengembangkan kebiasaan merokok dengan mencampurnya dengan aroma dan rempah seperti menyan dan cengkeh.

Dahulu Rokok kretek digunakan oleh masyarakat nusantara dalam berbagai kegiatan ritual yang bersifat spiritual utamanya sering dilakukan oleh masyarakat Kejawen dengan menggunakan rokok sebagai sajen yang disajikan bersama kopi hitam atau teh untuk mendoakan ketenangan bagi para leluhur atau orangtua kerabat sanak saudara yang sudah meninggal. Selain itu, rokok kretek juga dapat berfungsi sebagai penenang dan masyarakat biasa menggunakannya untuk mencairkan suasana dan membangun hubungan.

Oleh karenanya, rokok kretek dapat dikatakan sebagai kebiasaan, atau kebudayaan asli nusantara atau Indonesia. Asumsi tersebut karena rokok kretek merupakan inovasi bangsa nusantara dan penggunaan rokok kretek pun lekat dengan keseharian masyarkat nusantara.

Kehadiran rokok kretek hingga kini masih menjadi  kenikmatan bagi para penikmatnya karena rasa tembakau dan cengkeh yang telah bercampur padu dinikmati bersama kopi hitam atau teh, hingga camilan ringan lainnya.

Maka sejatinya budaya mengonsumsi tembakau tersebut, bahkan cenderung lentur dan terbuka di kalangan para ulama pesantren Nusantara, sejak Walisongo hingga abad 21 ini, bahwa semakin membuktikan bahwa budaya mengkretek merupakan tradisi yang integral dalam Islam Nusantara. Bahkan, dan ini yang lebih penting, tradisi tembakau ini dulu telah menjadi basis kedaulatan ekonomi bagi kaum santri dan ulama-ulama di Nusantara.

Dari sinilah sudah terbukti bahwa kretek dan tembakau bukan hanya warisan budaya masyarakat Nusantara saja yang sudah berjalan turun temurun, tetapi juga basis kedaulatan ekonomi kaum santri (NU)-santara yang harus terus dilestarikan. (*)