Google search engine
Beranda blog Halaman 53

Turnamen Bulutangkis eMTe CUP Open 2026 Rampung di Ciwidey, Libatkan 200 Peserta dan Dapat Dukungan TNI

0
Suasana penuh kebersamaan di penutupan eMTe CUP Open 2026

BANDUNG (Aswajanews.id) – Turnamen bulutangkis eMTe CUP Open 2026 resmi berakhir di GOR eMTe Sport, Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Minggu (8/2/2026) malam. Ajang yang berlangsung hampir satu bulan ini diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai daerah dan mendapat dukungan luas dari masyarakat serta unsur TNI.

Turnamen yang digelar sejak 12 Januari hingga 8 Februari 2026 tersebut mempertandingkan sejumlah kategori, di antaranya Ganda Putra, Ganda Putri, Ganda Campuran, termasuk kategori khusus emak-emak. Peserta datang dari berbagai wilayah di Kabupaten Bandung hingga luar daerah.

Sejak hari pertama, pertandingan berlangsung meriah dengan dukungan penonton yang konsisten memadati arena. Atmosfer kompetisi berjalan sportif, tertib, dan kondusif, sehingga seluruh rangkaian pertandingan dapat terlaksana sesuai jadwal.

Turnamen ini juga mendapat perhatian dari unsur TNI. Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I, Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, menyampaikan apresiasi melalui pesan singkat kepada Presiden Direktur eMTe Highland Resort, H. eMTe. Ia menilai turnamen tersebut mampu membangun karakter generasi yang realistis, agresif, beradab, serta memiliki arah dan tujuan yang jelas melalui olahraga.

Dukungan TNI untuk eMTe CUP 2026

Dukungan nyata ditunjukkan dengan kehadiran Dandim 0624/Kabupaten Bandung, Letkol Kav Samto Betah, S.Hub.Int., bersama para Danramil se-Kabupaten Bandung pada laga final. Kehadiran mereka menjadi bentuk dukungan terhadap pembinaan olahraga di tingkat masyarakat.

“Olahraga membuat tubuh sehat. Tubuh yang sehat membantu seseorang berpikir jernih. Dari pikiran yang jernih akan lahir tujuan dan harapan masa depan yang baik bagi generasi muda,” ujar Letkol Kav Samto Betah. Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga sportivitas dan persatuan dalam setiap kompetisi.

Presiden Direktur eMTe Highland Resort, H. eMTe, menjelaskan bahwa turnamen ini murni bertujuan untuk memasyarakatkan olahraga. Seluruh pembiayaan kegiatan ditanggung penyelenggara tanpa melibatkan sponsor komersial.

“Ini bukan untuk mencari keuntungan. Biaya pendaftaran peserta tidak mungkin menutup seluruh kebutuhan kegiatan, sehingga seluruh pembiayaan kami tanggung sendiri,” tegasnya.

Pada partai final yang digelar sejak pukul 13.00 WIB, para juara menerima piala dan uang pembinaan. Untuk kelas C, juara pertama memperoleh Rp5 juta dan juara kedua Rp3,5 juta. Sementara kelas D, juara pertama mendapat Rp3 jutadan juara kedua Rp2,5 juta. Total uang pembinaan yang disalurkan mencapai Rp35 juta.

Ketua Panitia eMTe CUP 2026, Yogi Negara, menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat. Ia menyebut peserta berasal dari berbagai daerah seperti Soreang, Banjaran, Cibiru, Cidaun, Pasirjambu, hingga luar kota.

“Turnamen ini bukan hanya kompetisi, tapi juga ajang silaturahmi dan kebersamaan melalui olahraga bulutangkis,” ujarnya.

Dari sisi peserta, turnamen ini meninggalkan kesan positif. Hj. Nining Kartini, pemain ganda campuran, berharap eMTe CUP dapat terus digelar setiap tahun. Sementara Yulianti, atlet asal Pasirjambu yang meraih juara pertama, menilai ajang ini mampu mempererat persahabatan antarkecamatan.

Menutup rangkaian kegiatan, Kepala Desa Ciwidey, H. Yusuf Darmaji, mengapresiasi pemrakarsa dan panitia atas suksesnya penyelenggaraan turnamen.

“Kami berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung eMTe CUP 2026. Kegiatan olahraga masyarakat seperti ini perlu terus ditingkatkan kualitasnya karena membawa manfaat besar dan mempererat silaturahmi,” ujarnya.

(Reporter: Uus)

Wily Wirasasmita, Kades Cibodas, Serahkan Piala di Final eMTe CUP 2026

0
Momen Wily Wirasasmita menyerahkan piala kepada juara eMTe CUP 2026

BANDUNG (Aswajanews.id) – Turnamen Bulutangkis eMTe CUP Open 2026 resmi ditutup di GOR eMTe Sport, Desa Lebakmuncang, Kecamatan Ciwidey, Minggu (8/2/2026) sore. Penutupan turnamen ditandai dengan penyerahan piala kepada para juara oleh sejumlah tokoh, salah satunya Kepala Desa Cibodas, Kecamatan Pasirjambu, Wily Wirasasmita.

Kehadiran Wily Wirasasmita menambah semarak partai final sekaligus menjadi wujud dukungan Pemerintah Desa Cibodas terhadap pembinaan olahraga di tengah masyarakat.

Turnamen yang berlangsung sejak 12 Januari 2026 ini diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bandung, bahkan dari luar kabupaten. Para atlet berkompetisi dalam sejumlah kategori, mulai dari Ganda Putra, Ganda Putri, Ganda Campuran, kelas D, C, CA, hingga kategori khusus emak-emak.

Setiap pertandingan berlangsung ketat namun tetap menjunjung tinggi sportivitas. Antusiasme penonton terlihat dari padatnya GOR sejak babak awal hingga partai final, dengan sorak sorai dan tepuk tangan yang menciptakan atmosfer kompetisi meriah dan penuh keakraban.

Selain Wily Wirasasmita, sejumlah tokoh lainnya turut menyerahkan piala kepada para juara. Momen ini menjadi simbol kolaborasi lintas elemen dalam mendukung pengembangan olahraga masyarakat. Para pemenang menerima piala dan uang pembinaan, dengan total hadiah mencapai Rp35 juta yang dibagikan sesuai kelas pertandingan.

Presiden Direktur eMTe Highland Resort, H. eMTe, menegaskan bahwa penyelenggaraan turnamen ini murni bertujuan untuk mengolahragakan masyarakat dan memasyarakatkan olahraga, tanpa orientasi keuntungan. Seluruh kebutuhan kegiatan ditanggung oleh penyelenggara tanpa melibatkan sponsor komersial.

“Olahraga bukan hanya soal fisik, tetapi juga membentuk karakter, disiplin, dan mental yang sehat,” ujarnya.

Dukungan juga datang dari unsur TNI, di antaranya Letjen TNI Kunto Arief Wibowo serta Dandim 0624/Kabupaten Bandung Letkol Kav Samto Betah, yang menekankan pentingnya olahraga dalam membangun pola pikir sehat dan karakter generasi muda.

Para peserta pun memberikan kesan positif terhadap eMTe CUP 2026. Mereka menilai turnamen ini sebagai ajang kompetisi yang menyenangkan, menjunjung sportivitas, sekaligus mempererat silaturahmi antar kecamatan. Penyelenggara berharap eMTe CUP dapat terus digelar secara rutin setiap tahun sebagai wadah pembinaan atlet dan hiburan olahraga bagi masyarakat Kabupaten Bandung dan sekitarnya.

(Reporter: Uus)

Rakor DPC FKDT Brebes Usulkan Peningkatan Poin Ijazah MDT pada SPMB SMP

0

BREBES (Aswajanews) – Dewan Pimpinan Cabang Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (DPC FKDT) Kabupaten Brebes mengusulkan peningkatan nilai poin ijazah Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) tingkat SMP.

Usulan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) DPC FKDT Kabupaten Brebes yang digelar di Hotel Grand Dian Brebes, Sabtu (7/2/2026). Peningkatan poin ijazah MDT dinilai sangat wajar mengingat proses pendidikan MDT dilaksanakan secara terstruktur selama empat tahun dan berfokus pada pembentukan karakter melalui pendidikan keagamaan Islam.

Selama ini, ijazah MDT hanya memiliki bobot nilai 15 poin dalam SPMB. Nilai tersebut dinilai belum sebanding dengan eksistensi MDT yang seratus persen mengajarkan ilmu agama Islam serta berkontribusi nyata dalam pembentukan akhlak peserta didik.

Kasubag Tata Usaha Kementerian Agama Kabupaten Brebes, KH Dr Akrom Jangka Daosat, yang hadir sebagai narasumber, menegaskan bahwa ijazah MDT semestinya mendapat posisi strategis dalam sistem penerimaan peserta didik baru.

“Ijazah MDT mestinya menjadi prioritas atau bahkan persyaratan dalam SPMB, baik di SMP Negeri maupun MTs Negeri di wilayah Kabupaten Brebes. Hal ini akan memperkuat MDT sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam yang menyelenggarakan pembelajaran secara terstruktur,” ujarnya.

Menurutnya, ketimpangan bobot nilai ijazah MDT dibandingkan dengan piagam kejuaraan tingkat kabupaten perlu segera dikaji ulang dan diusulkan perbaikannya.

“Nilai poin ijazah MDT yang lebih rendah dibandingkan piagam kejuaraan tentu perlu kita perjuangkan agar ditambah atau diprioritaskan,” imbuhnya.

Meski demikian, Gus Akrom menekankan pentingnya peningkatan mutu pembelajaran MDT, baik dari sisi proses pembelajaran maupun tata kelola kelembagaan. Hal tersebut dinilai menjadi landasan kuat dalam mengajukan peningkatan poin ijazah MDT sesuai dengan kompetensi lulusan.

“Kami persilakan forum Rakor untuk merumuskan konsep yang matang. Selanjutnya dapat berkoordinasi dengan Kemenag Kabupaten Brebes untuk bersama-sama menyampaikan usulan ini kepada Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga. Kami siap membantu dan mendampingi,” tegas doktor lulusan UIN Walisongo tersebut.

Sebelumnya, usulan peningkatan poin ijazah MDT telah disampaikan oleh Ketua DPC FKDT Kabupaten Brebes, Akhmad Sururi, dalam acara Wisuda Akbar MDT se-Kabupaten Brebes di hadapan Bupati Brebes. Saat itu, Bupati Brebes merespons positif aspirasi FKDT dan mencatatnya sebagai bahan pertimbangan kebijakan.

Rakor DPC FKDT Kabupaten Brebes dihadiri sejumlah pejabat daerah, di antaranya Kabag Kesra Setda Brebes Kambali, M.Kes, Kepala Kemenag Kabupaten Brebes yang diwakili Kasi PD Pontren H. Juremi A. Fauzi, serta Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga yang diwakili Nur Sidik.

Turut hadir sebagai narasumber pembekalan, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah H. Musyaffa, Lc, yang memberikan penguatan strategis terkait advokasi kebijakan pendidikan keagamaan. (Red/Nas)

Kades Ciwidey Resmi Tutup eMTe Cup Open 2026, Tekankan Pentingnya Konsistensi Pembinaan

0

BANDUNG (Aswajanews.id) – Kepala Desa Ciwidey, H. Yusuf Darmaji, menutup secara resmi Turnamen Bulutangkis eMTe CUP Open 2026 di GOR eMTe Sport, Desa Lebakmuncang, Minggu (8/2/2026) malam.

Dalam sambutannya, Yusuf menekankan pentingnya konsistensi dalam pembinaan olahraga di tingkat desa. Menurutnya, turnamen seperti ini bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang tumbuh bagi atlet-atlet lokal.

“Kami melihat potensi anak-anak muda di wilayah Ciwidey dan sekitarnya cukup besar. Tinggal bagaimana ruang dan panggungnya terus disediakan. Kegiatan seperti ini harus dijaga keberlanjutannya,” kata Yusuf.

Ia juga menilai kolaborasi antara pemerintah desa, penyelenggara, dan masyarakat menjadi kunci terselenggaranya turnamen dengan lancar. Partisipasi peserta dari berbagai kecamatan, menurutnya, menunjukkan bahwa olahraga mampu menyatukan berbagai kalangan.

“Yang terpenting bukan hanya hasil akhir pertandingan, tetapi prosesnya. Sportivitas, disiplin, dan kebersamaan itu yang harus dibawa pulang oleh para peserta,” ujarnya.

Turnamen yang digelar selama hampir satu bulan itu diikuti ratusan peserta dari dalam dan luar Kabupaten Bandung. Pada partai puncak, panitia menyerahkan piala serta uang pembinaan kepada para pemenang sebagai bentuk apresiasi atas prestasi mereka.

Yusuf berharap ajang serupa dapat terus digelar secara rutin dan berkembang menjadi agenda olahraga yang lebih besar di wilayah Ciwidey.

(Reporter: Uus)

Kadis Pertanian Tinjau BUMDes Desa Alam Endah, Produksi Ayam Petelur di Atas 90 Persen

0
Kades Alam Endah dan Kadis Pertanian saat meninjau peternakan ayam petelur BUMDes Alenda

BANDUNG (Aswajanews.id) – Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Ir. Hj. Ina Dewi Kania, M.P., meninjau peternakan ayam petelur milik Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Senin (9/2/2026). Dari hasil pemantauan di lokasi, tingkat produksi telur tercatat telah melampaui 90 persen.

Di tengah udara dingin khas Rancabali, Ina memasuki kandang utama didampingi Kepala Desa Alam Endah, H. Awan Rukmawan. Ia memperhatikan kondisi ternak sekaligus mendengarkan penjelasan mengenai pengelolaan budidaya.

Menurut Ina, capaian produktivitas tersebut berada di atas rata-rata umum budidaya ayam petelur.

“Kalau rata-rata produksi ayam petelur itu sekitar 80 persen dalam satu periode, di sini sudah di atas 90 persen, bahkan mendekati 97 persen. Itu artinya penanganan budidayanya sudah sangat baik,” ujar Ina.

Ia menjelaskan, tingginya produktivitas tidak terlepas dari pengelolaan pakan, kebersihan kandang, serta sarana pendukung yang memadai.

“Mulai dari manajemen pakan tidak bisa asal-asalan, kemudian kondisi kandang harus terjaga, sirkulasi udara diperhatikan. Kalau semua itu berjalan baik, timbal baliknya ayam sehat dan produksi telurnya meningkat,” katanya.

Ina juga menilai usaha ayam petelur dapat menjadi salah satu langkah sederhana dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga.

“Satu ekor ayam bisa menghasilkan satu butir telur per hari. Kalau dalam skala kecil saja, misalnya belasan ekor, itu sudah bisa membantu kebutuhan gizi beberapa rumah tangga. Apalagi ini dikelola BUMDes, berarti ada nilai ekonomi yang berputar di desa,” tuturnya.

Pengelola BUMDes Alenda saat melakukan penanganan telur

Sementara itu, Kepala Desa Alam Endah, H. Awan Rukmawan, mengatakan saat ini populasi ayam mencapai sekitar 2.000 ekor dengan produksi rata-rata lebih dari 100 kilogram telur per hari. Telur dipasarkan ke warung dan toko di wilayah setempat, disuplai ke tiga dapur MBG terdekat, serta dijual ke pedagang grosir.

Untuk menjaga stabilitas produksi di tengah suhu rendah dan kabut yang kerap turun, perawatan dilakukan lebih intensif. Eep, pengelola unit ayam petelur, menyebut penyemprotan minyak GPU dilakukan tiga kali dalam sepekan disertai pemberian vitamin.

“Karena di sini cuacanya dingin, kami jaga supaya ayam tidak stres. Vaksinasi juga rutin dan kualitas telur dicek berkala,” ujarnya.

Saat ini, harga telur berada di kisaran Rp 27 ribu per kilogram. Pengembangan usaha direncanakan dilakukan bertahap seiring peningkatan kapasitas produksi.

(Reporter: Uus)

Laka Lantas di Karawang, Polres Lakukan Penanganan Awal dan Olah TKP

0

KARAWANG (Aswajanews) – Polres Karawang melalui jajaran Pamapta dan Unit Gakkum Satlantas melakukan penanganan awal terhadap peristiwa kecelakaan lalu lintas yang terjadi di wilayah hukumnya.

Kapolres Karawang AKBP Fiki N. Ardiansyah melalui Kasi Humas IPDA Cep Wildan menyampaikan, kecelakaan tersebut terjadi pada Minggu (8/2/2026) sekitar pukul 14.00 WIB di Jalan Raya Ruas Kampung Jatimulya II, Dusun Walahar, Desa Walahar, Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang.

Laporan kejadian diterima petugas sekitar pukul 14.30 WIB dan langsung ditindaklanjuti oleh personel Polsek Klari bersama Unit Gakkum Satlantas Polres Karawang.

“Kecelakaan melibatkan satu unit kendaraan Truck Fuso Box bernomor polisi B-9916-SYP, satu unit sepeda motor Honda Blade bernomor polisi T-4505-HU, serta satu unit sepeda motor lain yang hingga saat ini belum diketahui identitasnya dan diduga melarikan diri dari lokasi kejadian,” jelas IPDA Cep Wildan.

Berdasarkan keterangan saksi di lapangan dan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), sepeda motor yang belum teridentifikasi melaju dari arah Curug menuju Kosambi dan berserempetan dengan sepeda motor Honda Blade yang dikendarai Sdr. Ending. Akibatnya, korban terjatuh ke badan jalan dan kemudian tertabrak kendaraan Truck Fuso Box yang melaju searah di belakangnya.

Akibat peristiwa tersebut, pengendara sepeda motor Honda Blade berinisial E (41), warga Kecamatan Klari, Kabupaten Karawang, mengalami luka serius dan dinyatakan meninggal dunia setelah mendapatkan penanganan medis di RSUD Karawang. Kerugian materiil akibat kecelakaan diperkirakan mencapai kurang lebih Rp1.000.000.

Usai menerima laporan, personel Pamapta bersama Unit Gakkum Satlantas Polres Karawang segera mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan tindakan pertama di tempat kejadian perkara (TPTKP), pengamanan arus lalu lintas, olah TKP, pendataan saksi-saksi, serta mengamankan barang bukti kendaraan ke Pool Derek Cikopo.

“Saat ini Unit Gakkum Satlantas Polres Karawang masih melakukan penyelidikan lanjutan, termasuk mencari saksi tambahan dan mengidentifikasi pengendara sepeda motor yang meninggalkan lokasi kejadian,” tambahnya.

Kapolres Karawang melalui Kasi Humas juga mengimbau kepada seluruh pengguna jalan agar senantiasa berhati-hati, mematuhi peraturan lalu lintas, serta mengutamakan keselamatan demi mencegah terjadinya kecelakaan di jalan raya.
(Ahmad Z)

Hadiri Panen Raya Organik, Bupati Herdiat Canangkan Ciamis sebagai Kabupaten Organik 2026

0

CIAMIS (Aswajanews) – Pemerintah Kabupaten Ciamis menargetkan deklarasi Ciamis sebagai Kabupaten Organik pada 2026. Target tersebut disampaikan langsung Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya, seiring meningkatnya jumlah petani yang beralih ke sistem pertanian organik.

Pernyataan itu disampaikan Bupati Herdiat saat menghadiri Panen Raya Organik yang diselenggarakan Petani Organik Mandiri Ciamis (POMC) di Demplot Jambansari, Kelurahan Ciamis, Senin (9/2/2026).

Menurut Herdiat, tren penggunaan pupuk organik di kalangan petani Ciamis terus menunjukkan peningkatan signifikan. Peralihan tersebut dinilai membawa dampak positif, baik dari sisi kesehatan, kelestarian lingkungan, maupun kesejahteraan ekonomi petani.

“Bertani secara organik memiliki banyak keunggulan. Selain lebih sehat karena kembali ke alam, hasil panennya juga lebih baik. Harga pupuk organik relatif murah, mudah dijangkau, dan manfaatnya sangat besar,” ujar Herdiat.

Ia menegaskan, petani tidak perlu khawatir soal pemasaran hasil pertanian organik. Permintaan pasar, menurutnya, justru sangat tinggi, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

“Permintaan sangat besar. Jadi, pemasaran tidak akan menjadi persoalan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Herdiat menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para petani yang telah lebih dahulu berkomitmen menerapkan sistem pertanian organik. Ia menilai, komitmen tersebut menjadi fondasi utamadalam mewujudkan Ciamis sebagai kabupaten berbasis pertanian organik.

Lebih lanjut, Herdiat juga mendorong keterlibatan petani milenial dalam pengembangan pertanian organik. Regenerasi petani dinilai menjadi kunci keberlanjutan sektor pertanian di Ciamis.

“Ke depan, pertanian organik tidak boleh hanya ditekuni oleh para orang tua. Anak-anak muda harus dilibatkan. Masih banyak pemuda yang belum memiliki pekerjaan, dan ini bisa menjadi peluang jika mereka dibimbing oleh petani yang sudah berpengalaman,” ungkapnya.

Bupati pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama membangun Ciamis melalui sektor pertanian. Ia mengingatkan bahwa Ciamis dianugerahi tanah yang subur serta ketersediaan air yang melimpah, sehingga harus dimanfaatkan secara optimal.

“Mari kita bangun Ciamis melalui sektor pertanian. Kita syukuri anugerah alam ini dan kita kelola sebaik-baiknya,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Petani Organik Mandiri Ciamis (POMC), Abdul Majid, menjelaskan bahwa gerakan pertanian organik di Ciamis awalnya dipelopori oleh para petani senior dan pensiunan yang masih ingin terus berkarya serta memberi manfaat bagi masyarakat.

Inisiatif tersebut, kata dia, lahir dari keprihatinan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi petani, khususnya mahalnya harga pupuk kimia serta rendahnya harga jual padi yang kerap merugikan petani.

“Kami memulai pertanian organik dari keinginan membantu petani dan masyarakat. Banyak keluhan soal pupuk yang mahal, sementara hasil panen dijual dengan harga murah,” ujar Abdul Majid.

Ia menambahkan, penggunaan pupuk organik terbukti mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen, sekaligus menekan biaya produksi sehingga memberikan keuntungan yang lebih layak bagi petani.
(Nana S)

Perkuat Ideologi Aswaja, SMA NU Al Fattah Gelar Diskusi

0

BREBES (Aswajanews) – Sebagai kader NU di lingkungan pelajar, pemahaman terhadap Nahdlatul Ulama (NU) tidak boleh berhenti pada tataran simbolik dan narasi semata. Sejarah, perkembangan, hingga posisi NU hari ini harus dipahami secara utuh agar militansi organisasi tumbuh berbasis ideologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Hal tersebut disampaikan KH Musyaffa, Lc atau yang akrab disapa Gus Syaffa, saat memberikan sambutan dalam kegiatan Pendalaman Ahlussunnah wal Jamaah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Komisariat (PK) IPNU–IPPNU SMA NU Al Fattah Tegalgandu, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes.

“Sebagai kader NU, khususnya pelajar, jangan berhenti pada narasi. Militansi organisasi harus diwujudkan melalui pemahaman ideologi Ahlussunnah wal Jamaah yang kokoh,” tegas Gus Syaffa di hadapan peserta diskusi.

Menurut Pimpinan Yayasan Al Fattah Tegalgandu tersebut, tradisi keagamaan NU memang harus terus dijaga, namun penguatan ideologi menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi muda NU. Ia menyoroti masih banyak sekolah berlabel NU, tetapi siswanya belum memahami NU secara mendalam.

“Oleh karena itu, pendalaman Aswaja melalui sistem diskusi seperti ini penting untuk membuka cakrawala berpikir dan memperkuat identitas ke-NU-an di kalangan pelajar,” ujarnya.

Alumni Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah itu berharap forum diskusi memiliki output yang jelas dan terukur, sehingga kegiatan PK IPNU–IPPNU SMA NU Al Fattah dapat menjadi ekstrakurikuler unggulan dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, Gus Syaffa menegaskan bahwa militansi organisasi hanya bisa dibangun melalui komitmen dan langkah nyata dalam memahami ideologi. Aswaja, menurutnya, merupakan fondasi utama dalam berorganisasi di NU.

“Pemahaman Aswaja harus dimulai dari sejarahnya hingga konteks kekinian, karena Aswaja adalah pemahaman keagamaan mayoritas umat Islam di dunia,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya sikap kritis dalam memahami keagamaan. Melalui forum diskusi, pelajar didorong untuk berdialog secara interaktif, mengkaji, dan mengkritisi kiprah NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dari masa ke masa.

Mengakhiri sambutannya, Gus Syaffa menegaskan bahwa pelajar di lingkungan sekolah berlabel NU harus memiliki pemahaman ke-NU-an yang lebih mendalam dibanding pelajar di lembaga pendidikan non-NU.

Kegiatan Pendalaman Aswaja yang digelar pada Jumat, 6 Februari 2026 tersebut menghadirkan narasumber Sekretaris MWC NU Wanasari, Akhmad Sururi. Dalam paparannya, Sururi mengajak peserta memahami sejarah berdirinya NU di Indonesia, yang dilatarbelakangi semangat nasionalisme kebangsaan serta upaya membendung masuknya paham Islam Wahabi.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala SMA NU Al Fattah, Rikhatul Unim, S.Pd, yang memberikan sambutan pembukaan. Ketua PK IPNU–IPPNU SMA NU Al Fattah, dua orang pembina, serta seluruh peserta didik juga tampak mengikuti kegiatan dengan antusias.
(Red/Nas)

Gus Syafa Dorong Bupati Brebes Segera Terbitkan Perda MDT

0
Anggota DPRD Jateng, KH Musyaffa, Lc (Gus Syafa)

BREBES (Aswajanews) – Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, KH Musyaffa, Lc (Gus Syafa), mendorong Bupati Brebes Hj Paramita Widya Kusuma agar segera menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT). Dorongan tersebut disampaikan langsung di hadapan Bupati Brebes dalam acara Wisuda Akbar MDT se-Kabupaten Brebes.

Menurut Gus Syafa, keberadaan MDT sangat strategis dalam membentuk generasi yang berakhlak dan berkarakter melalui pendidikan agama Islam. Generasi berakhlak, kata dia, merupakan fondasi penting dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

“Saat ini Kabupaten Brebes memang sudah memiliki Perbup Nomor 12 Tahun 2025 tentang Fasilitasi Pengembangan MDT. Namun, MDT tetap membutuhkan payung hukum yang lebih kuat dalam bentuk Peraturan Daerah,” ujar Gus Syafa saat memberikan sambutan selaku Dewan Pembina DPC FKDT Kabupaten Brebes sekaligus anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah.

Ia menegaskan, eksistensi MDT telah terbukti nyata dalam mencetak generasi yang berakhlak. Oleh karena itu, ia berharap Bupati Brebes dapat menerbitkan Perda MDT dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Gus Syafa juga mengungkapkan bahwa saat dirinya menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Brebes selama dua periode, upaya pengusulan Perda MDT telah dilakukan. Namun hingga akhir masa jabatannya, regulasi tersebut belum juga terwujud. “Di bawah kepemimpinan Ibu Hj Paramita Widya Kusuma, kami sangat berharap Perda MDT akhirnya bisa diterbitkan,” tambahnya.

Sebelumnya, Ketua DPC FKDT Kabupaten Brebes, Akhmad Sururi, turut menyampaikan aspirasi agar ijazah MDT mendapatkan peningkatan nilai poin dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB). Ia menilai ijazah MDT diperoleh melalui proses pembelajaran yang terstruktur dan berjenjang selama empat tahun, sehingga layak mendapatkan pengakuan yang lebih proporsional.

“Faktanya, nilai poin piagam kejuaraan tingkat kabupaten dalam SPMB masih lebih tinggi dibanding ijazah MDT. Ini perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya.

Wisuda Akbar MDT ke-6 yang digelar pada Rabu, 4 Februari 2026, di Pondok Pesantren Al Hikmah 1 Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, dihadiri sejumlah pejabat daerah. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Brebes HM Aqso, MA; Kabag Kesra Setda Brebes Hambali, M.Kes; Kasi PD Pontren Kemenag Brebes H. Juremi A. Fauzi; serta anggota DPRD Kabupaten Brebes Titin Lutfiatin.

Acara juga dihadiri jajaran PC Fatayat NU dan Muslimat NU Kabupaten Brebes, serta keluarga besar Pondok Pesantren Al Hikmah 1 Benda. Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah 1 Benda, KH Labib Shodik Suchemi, didapuk sebagai penceramah, sementara doa pembuka dipimpin oleh Gus Mujib.
(Red/Nas)

HPN 2026: Saatnya Mengembalikan Pers sebagai Investor Kemerdekaan

0
Oleh: Benz Jono Hartono - Praktisi Media Massa, Vice Director Confederation of ASEAN Journalists (CAJ) PWI Pusat

Hari Pers Nasional (HPN) 2026 tidak boleh lagi diperlakukan sebagai ritual tahunan yang jinak. Ketika perayaan pers hanya diisi panggung penghargaan, foto seremonial, dan slogan normatif, maka yang sedang dirayakan sesungguhnya bukan kemerdekaan pers, melainkan kenyamanan kekuasaan.

Slogan “Pers sebagai Pilar Keempat Demokrasi” tidak otomatis memiliki daya politik. Ia akan menjadi mantra kosong jika tidak disertai keberanian mengevaluasi relasi pers dan negara secara jujur—terutama ketika relasi itu kian timpang dan pragmatis.

HPN 2026 semestinya menjadi forum koreksi arah dan negosiasi ulang posisi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) di hadapan negara. Pertanyaannya mendasar: apakah negara masih menganggap pers sebagai mitra sejarah dalam menjaga Republik, atau sekadar elemen dekoratif demokrasi prosedural?

Sejarah memberi jawabannya. PWI lahir pada 9 Februari 1946, saat Republik belum mapan, belum stabil, dan belum aman. Pada masa itu, wartawan Indonesia tidak mengambil posisi netral yang steril, apalagi oportunistik. Mereka berpihak secara sadar pada kedaulatan bangsa. Pers berfungsi sebagai instrumen diplomasi, penggerak psikologi nasional, sekaligus benteng ideologis menghadapi propaganda kolonial.

PWI telah menanamkan modal sejarah berupa risiko nyawa, reputasi, dan integritas profesi jauh sebelum negara ini memiliki perangkat hukum dan institusi yang kuat. Dalam konteks itu, menyebut PWI sebagai investor kemerdekaan Republik Indonesia bukan retorika, melainkan fakta historis.

Ironisnya, posisi tawar historis itu kini mengalami penyusutan. Tantangan utama PWI hari ini bukan sekadar disrupsi teknologi atau perubahan pola konsumsi media, melainkan pelemahan posisi struktural pers di hadapan kekuasaan.Relasi yang dahulu ideologis dan strategis kini direduksi menjadi relasi yang:

  • Administratif, sibuk pada prosedur dan legitimasi formal.

  • Seremonial, hadir tanpa daya pengaruh substantif.

  • Berbasis proyek, bergantung pada siklus anggaran dan kepentingan jangka pendek.

Dalam situasi ini, pers berisiko dipersepsikan sebagai objek regulasi dan instrumen stabilisasi opini, bukan sebagai subjek sejarah yang memiliki mandat konstitusional untuk mengawasi kekuasaan.

Karena itu, HPN 2026 harus menjadi ruang artikulasi politik pers, dengan setidaknya empat agenda mendasar.

Pertama, pengakuan historis yang berimplikasi kebijakan. Penghormatan terhadap pers tidak cukup berhenti pada pidato atau simbol. Ia harus terwujud dalam perlindungan hukum yang efektif, penegakan kebebasan pers yang konsisten, serta akses informasi publik yang tidak diskriminatif.

Kedua, pembebasan pers dari ketergantungan ekonomi. Ketika keberlangsungan media bergantung pada iklan pemerintah dan proyek komunikasi, daya kritis akan selalu berada dalam posisi tawar yang lemah. PWI perlu mendorong model keberlanjutan media independen, penguatan media daerah, dan ekosistem pers yang tidak disandera modal maupun kekuasaan.

Ketiga, pemulihan fungsi pers sebagai penjaga etika publik. Di tengah demokrasi elektoral yang makin transaksional, pers tidak cukup menjadi penyampai peristiwa. Ia harus menjadi penafsir kepentingan publik dan pengingat batas moral kekuasaan.

Keempat, kedaulatan informasi nasional. Dominasi platform global dan algoritma asing telah menggeser kendali ruang publik. Tantangannya bukan memilih antara kebebasan atau kontrol, melainkan membangun kerja sama negara dan pers untuk menjaga kedaulatan informasi tanpa melahirkan sensor dan pembungkaman.

HPN 2026 seharusnya menjadi titik balik relasi pers dan negara. PWI bukan produk kekuasaan, melainkan produk sejarah Republik. Ia tidak dilahirkan untuk menyenangkan rezim, tetapi untuk menjaga kewarasan negara.

Sebagai investor kemerdekaan, PWI memiliki kewajiban moral dan historis untuk terus mengingatkan negara pada janji konstitusionalnya, mengkritik kebijakan secara bertanggung jawab, dan memastikan bahwa demokrasi tidak direduksi menjadi prosedur tanpa substansi.

Jika kesadaran ini berhasil ditegakkan, maka HPN 2026 bukan sekadar perayaan usia pers, melainkan pernyataan sikap sejarah: bahwa pers Indonesia masih hidup, berpikir, dan berani. ***

Bupati Brebes Tegaskan Komitmen Dukung Pendidikan Keagamaan

0
Bupati Brebes, Hj. Paramita Widya Kusuma, SE, MM

BREBES (Aswajanews) – Pemerintah Kabupaten Brebes menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pendidikan keagamaan sebagai pilar utama pembangunan sumber daya manusia yang unggul dan berakhlak. Pendidikan keagamaan dinilai memiliki peran strategis dalam membentuk generasi berkarakter dan berlandaskan nilai-nilai moral.

Hal tersebut disampaikan Bupati Brebes, Hj. Paramita Widya Kusuma, SE, MM, saat memberikan sambutan pada Wisuda Akbar Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) se-Kabupaten Brebes yang digelar di Pondok Pesantren Al Hikmah 1 Benda, Kecamatan Sirampog, Rabu (4/2/2026).

Dalam sambutannya, Bupati Brebes berpesan kepada seluruh peserta wisuda agar tidak berhenti menuntut ilmu agama meskipun telah menyelesaikan jenjang pendidikan MDT. Ilmu yang diperoleh diharapkan dapat terus dipelajari, diamalkan, dan menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat maupun di lingkungan keluarga.

“Wisuda bukanlah akhir dari proses belajar. Ilmu agama yang telah diperoleh harus dijaga, diamalkan, dan dijadikan bekal untuk menghadapi tantangan zaman,” ujar Bupati Brebes.


Di hadapan para wisudawan dan wisudawati, Bupati juga menyampaikan ucapan selamat serta apresiasi kepada seluruh peserta wisuda. Menurutnya, momen wisuda merupakan kebanggaan bersama, baik bagi santri, orang tua, maupun para pendidik.

“Kepada para orang tua, saya berpesan agar anak-anaknya terus melanjutkan pembelajaran ilmu agama dan mempraktikkannya di tengah masyarakat serta dalam keluarga. Hal ini akan memperkuat keimanan dan membentuk pribadi yang unggul serta berakhlakul karimah,” tambahnya.

Bupati Brebes juga mendoakan agar ilmu yang telah diperoleh para santri menjadi ilmu yang bermanfaat dan membawa keberkahan, serta mengantarkan mereka meraih masa depan yang cerah di tengah dinamika dan tantangan zaman.

Wisuda Akbar MDT se-Kabupaten Brebes tahun ini diikuti oleh 625 delegasi dari seluruh MDT di Kabupaten Brebes. Adapun total lulusan untuk jenjang Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) sebanyak 12.458 santri, dan Madrasah Diniyah Takmiliyah Wustho (MDTW) sebanyak 453 santri.

Kegiatan wisuda yang dihadiri ribuan pendamping serta tamu undangan tersebut berlangsung meriah namun tetap khidmat. Pada kesempatan itu, KH. Labib Shodik Suchemi menyampaikan mauidzah hasanah kepada para wisudawan dan wisudawati, wali santri, serta seluruh tamu undangan yang hadir.

(Red/Nas)

Seorang Siswa SD di Ngada Meninggal Dunia, Peristiwa Soroti Akses Pendidikan dan Perlindungan Sosial

0

NGADA, NTT (Aswajanews) — Seorang siswa sekolah dasar berinisial YBR (10), warga Desa Naruwolo, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, ditemukan meninggal dunia. Peristiwa tersebut meninggalkan duka mendalam sekaligus memunculkan perhatian publik terhadap persoalan akses pendidikan dan perlindungan sosial bagi keluarga kurang mampu.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, YBR merupakan siswa kelas IV di salah satu sekolah dasar negeri di wilayah tersebut. Sejumlah pihak menyebutkan bahwa sebelum peristiwa terjadi, keluarga korban menghadapi keterbatasan ekonomi dalam memenuhi kebutuhan pendidikan, termasuk perlengkapan sekolah.

Terkait pembiayaan pendidikan, pihak sekolah menerapkan skema pembayaran yang dilakukan secara bertahap selama satu tahun ajaran. Total biaya yang disebutkan mencapai Rp1.220.000 per tahun, dengan mekanisme pembayaran cicilan per semester.

Orang tua YBR diketahui telah menyelesaikan pembayaran tahap pertama sebesar Rp500 ribu pada semester I. Sementara itu, sisa pembayaran untuk semester II masih berada dalam masa berjalan.

Kepala UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Ngada, Veronika Milo, menegaskan bahwa sisa pembayaran tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai tunggakan, karena belum melewati batas waktu yang ditentukan.

“Pembayaran dilakukan secara bertahap. Tahap pertama sudah dibayarkan pada semester satu, dan sisanya untuk semester dua,” ujar Veronika, Kamis (5/2/2026).

Sementara itu, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Ngada, Gerardus Reo, menjelaskan bahwa keluarga korban selama ini belum terdaftar sebagai penerima bantuan sosial. Hal tersebut, menurutnya, disebabkan kendala administrasi kependudukan.

Ia menyampaikan bahwa ibu korban secara faktual telah lama tinggal di Desa Naruwolo, namun secara administratif masih tercatat sebagai penduduk Kabupaten Nagekeo, sehingga berdampak pada tidak teraksesnya sejumlah program bantuan pemerintah.

Peristiwa meninggalnya YBR saat ini menjadi perhatian berbagai pihak. Sejumlah lembaga mendorong agar dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pendampingan anak, akses layanan pendidikan, serta pendataan sosial masyarakat, khususnya di wilayah terpencil.
Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas sektor guna memastikan hak anak atas pendidikan dan perlindungan sosial dapat terpenuhi secara optimal. (Red)

Bupati Bandung Sampaikan Duka Cita atas Wafatnya Kader Muda PPSI, Robby Anbiya Somantri

0

BANDUNG (Aswajanews.id) — Bupati Bandung Dadang Supriatna menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya salah satu kader muda Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI), Robby Anbiya Somantri, pada Minggu, 8 Februari 2026.

Ucapan belasungkawa tersebut disampaikan Bupati Bandung yang akrab disapa Kang DS saat membuka Konferensi Daerah (Konferda) Dewan Pimpinan Daerah PPSI Kabupaten Bandung periode 2026–2031 di Aula Kodim 0624/Kabupaten Bandung, Minggu.

Dalam sambutannya, Kang DS mengenang almarhum sebagai sosok kader muda PPSI yang aktif, berdedikasi, dan memiliki kepedulian besar terhadap pelestarian seni budaya pencak silat di Kabupaten Bandung.

“Pada kesempatan ini, kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya salah satu kader muda PPSI, Kang Robi. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, serta menjadi inspirasi dan motivasi bagi generasi penerus untuk terus menjaga dan mengembangkan seni budaya silat,” ujar Dadang Supriatna.

Robby Anbiya Somantri merupakan pemuda kelahiran tahun 1991 yang dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kepemudaan dan organisasi di Kabupaten Bandung. Semasa hidupnya, almarhum menjabat sebagai Ketua Manggala Garuda Putih Kabupaten Bandung.

Selain aktif berorganisasi, Robby juga pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Kabupaten Bandung, menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat.

Almarhum meninggal dunia pada Minggu, 8 Februari 2026 sekitar pukul 02.00 WIB dini hari. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, rekan organisasi, serta komunitas pencak silat di Kabupaten Bandung.

Ucapan duka cita tersebut disampaikan di sela-sela kegiatan pembukaan Konferda PPSI Kabupaten Bandung yang berlangsung khidmat.

(Reporter: Uus)

Bupati Indramayu Nonaktifkan Kuwu Sukadadi, Audit Inspektorat Temukan Dugaan Kerugian Negara Rp150 Juta

0

INDRAMAYU (Aswajanews) – Bupati Indramayu Lucky Hakim kembali menunjukkan sikap tegas dalam menjaga integritas pengelolaan keuangan desa. Kali ini, ia resmi memberhentikan sementara Kepala Desa (Kuwu) Sukadadi, Kecamatan Arahan, Caswita, menyusul temuan audit Inspektorat Kabupaten Indramayu yang mengindikasikan kerugian negara mencapai kurang lebih Rp150 juta.

Keputusan tersebut disampaikan langsung oleh Lucky Hakim melalui rekaman video pada Sabtu (7/2/2026). Ia mengungkapkan bahwa surat pemberhentian sementara telah ditandatangani sebagai tindak lanjut hasil pemeriksaan aparat pengawasan internal pemerintah.

“Pada hari ini sudah saya tandatangani surat pemberhentian sementara untuk Kuwu Desa Sukadadi, Kecamatan Arahan, yaitu Pak Caswita,” ujar Lucky Hakim.

Lucky menyatakan penyesalannya atas temuan tersebut. Menurutnya, segala bentuk penyelewengan anggaran merupakan pelanggaran serius karena berdampak langsung pada kepentingan dan hak masyarakat desa.

Ia menegaskan, langkah pemberhentian sementara ini diambil sebagai bentuk ketegasan Pemerintah Kabupaten Indramayu sekaligus peringatan keras agar praktik serupa tidak terulang.
“Saya berhentikan sementara karena dari temuan Inspektorat terdapat sekitar Rp150 juta dana yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” tegasnya.

Tak hanya itu, Lucky juga secara eksplisit meminta Caswita untuk segera menyelesaikan persoalan tersebut dengan mengembalikan dana yang diduga merugikan keuangan negara.
“Saya minta yang bersangkutan untuk segera mengembalikan dana tersebut,” katanya.

Lebih lanjut, Lucky Hakim mengingatkan seluruh kepala desa dan jajaran pemerintahan di bawah kepemimpinannya agar tidak bermain-main dengan uang rakyat. Ia menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam setiap pengelolaan anggaran negara.

“Ini mudah-mudahan bisa menjadi pelajaran untuk kita semua,” pungkasnya.

Diketahui, langkah tegas ini bukan kali pertama dilakukan Lucky Hakim. Sebelumnya, ia juga pernah memberhentikan sementara sejumlah kepala desa lain di Indramayu akibat temuan dugaan penyelewengan anggaran, di antaranya Kepala Desa Kedokan Agung Kecamatan Kedokan Bunder, Kepala Desa Anjatan Utara Kecamatan Anjatan, serta Kepala Desa Sukaslamet Kecamatan Kroya. (Red)

Perkuat Khidmah dan Ibadah, PC Fatayat NU Kabupaten Pekalongan Gelar Raker

0

PEKALONGAN (Aswajanews) – Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama Kabupaten Pekalongan menggelar Rapat Kerja (Raker) pada hari ini di Rumah Makan Gili Sawah, Bojong. Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh jajaran pengurus PC Fatayat NU Kabupaten Pekalongan.

Rapat kerja ini menjadi momentum penting dalam menyusun program kerja organisasi selama satu periode ke depan. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat koordinasi, sinergi, serta komitmen pengurus dalam menjalankan peran strategis Fatayat NU di tengah masyarakat.

Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Pekalongan, Jariyah, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa rapat kerja merupakan forum strategis untuk merumuskan arah gerak organisasi agar lebih terstruktur, terencana, dan berdampak nyata bagi anggota maupun masyarakat luas.

“Rapat kerja ini bukan sekadar menyusun program, tetapi menjadi wadah untuk memperkuat semangat kebersamaan, tanggung jawab, serta komitmen pengurus dalam menjalankan amanah organisasi. Kami berharap seluruh program yang dirancang mampu menjawab kebutuhan anggota serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa kader Fatayat NU harus mampu menyeimbangkan antara aktivitas organisasi dengan peningkatan kualitas spiritual. Menurutnya, penguatan ibadah menjadi fondasi penting dalam membangun karakter kader yang berintegritas, berakhlak, dan istiqamah dalam berkhidmah.

“Selain aktif dalam kegiatan organisasi dan sosial kemasyarakatan, pengurus Fatayat NU juga harus terus meningkatkan kualitas ibadah, memperkuat nilai-nilai keislaman, serta menjadikan organisasi sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya inovasi program yang relevan dengan perkembangan zaman, khususnya dalam pemberdayaan perempuan muda, penguatan kapasitas kader, serta pengabdian sosial keagamaan.

Kegiatan raker berlangsung dengan suasana penuh kekeluargaan dan semangat kebersamaan. Para pengurus turut aktif memberikan masukan serta gagasan dalam penyusunan program kerja yang akan dilaksanakan selama masa kepengurusan.
Melalui rapat kerja ini, PC Fatayat NU Kabupaten Pekalongan berharap mampu melahirkan program-program yang berkualitas, berkelanjutan, serta mampu memperkuat peran Fatayat NU sebagai organisasi perempuan muda Nahdliyin yang berdaya dan berkontribusi bagi masyarakat.
(Kontributor : Anik Maghfiroh)

Kemitraan Pemda Karawang dan Media Dipertanyakan, Pembayaran Publikasi Belum Terealisasi

0

KARAWANG (Aswajanews) – Hubungan kemitraan antara Pemerintah Daerah (Pemda) Karawang dan insan pers kian memprihatinkan. Sejumlah media lokal secara terbuka mempertanyakan komitmen Pemda Karawang, khususnya Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), yang dinilai tidak lagi menunjukkan itikad baik dalam menjalin kerja sama publikasi.

Persoalan mencuat setelah banyak media mengaku belum menerima pembayaran kerja sama publikasi maupun advertorial (ADV) hingga saat ini. Padahal, pemberitaan telah ditayangkan sesuai permintaan, dan kwitansi pembayaran bahkan sudah diminta sejak awal oleh pihak terkait.

“Beritanya sudah tayang, kwitansi sudah diminta, tapi sampai sekarang tidak ada pembayaran. Alasannya selalu sama, katanya tidak ada dana,” ujar AZ, Kepala Biro salah satu media di Karawang, Rabu (4/2/2026).

Ironisnya, kondisi tersebut disebut tidak hanya dialami satu atau dua media. Sejumlah perusahaan pers lokal mengungkapkan praktik serupa terjadi secara luas. Di tengah tunggakan pembayaran itu, Diskominfo Karawang justru menerapkan berbagai ketentuan kerja sama yang ketat dan dinilai memberatkan media, tanpa disertai kepastian pemenuhan hak finansial.

“Kalau aturan diperketat, kami masih bisa menyesuaikan. Tapi jangan sampai kewajiban kami dituntut penuh, sementara hak kami justru diabaikan. Ini sudah masuk wilayah tidak profesional,” tegas AZ.

Situasi tersebut menimbulkan kesan bahwa Pemda Karawang melalui Diskominfo tidak lagi memosisikan media sebagai mitra strategis. Padahal, selama ini media memiliki peran penting dalam menyebarluaskan program, kebijakan, serta capaian pemerintah kepada masyarakat.

Sejumlah pemerhati menilai, jika persoalan ini terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya merugikan media secara ekonomi, tetapi juga berpotensi merusak kepercayaan publik dan mencederai prinsip keterbukaan informasi di Kabupaten Karawang. Ketika media dibebani kewajiban tanpa kepastian hak, independensi serta keberlanjutan pers lokal pun berada dalam posisi rentan.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak Diskominfo Karawang belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tunggakan pembayaran kerja sama dengan media. Sikap tersebut memunculkan pertanyaan besar: masihkah Pemda Karawang menempatkan pers sebagai mitra strategis dan pilar demokrasi, atau kemitraan media kini sekadar menjadi formalitas belaka?
(Red)

Polres Karawang Gelar Sertijab dan Pelantikan, Perkuat Soliditas dan Kinerja Pelayanan Publik

0

KARAWANG (Aswajanews) – Kepolisian Resor Karawang menggelar Upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) Wakapolres dan Kasatlantas, serta Pelantikan Kasatres PPA dan PPO Polres Karawang, pada Sabtu (7/2/2026) siang. Kegiatan yang berlangsung di Lapangan Apel Polres Karawang tersebut berjalan khidmat, tertib, dan penuh makna sebagai bagian dari dinamika organisasi Polri.

Upacara dipimpin langsung oleh Kapolres Karawang AKBP Fiki N. Ardiansyah selaku Inspektur Upacara, serta dihadiri Wakapolres Karawang, para Pejabat Utama (PJU), Kapolsek jajaran, personel Bintara, dan ASN Polres Karawang.

Rangkaian kegiatan diawali dengan persiapan pasukan dan laporan perwira upacara, dilanjutkan kedatangan Inspektur Upacara. Pada acara inti, upacara diisi dengan menyanyikan Mars Polri, penghormatan pasukan, pembacaan Surat Perintah Kapolres Karawang, penyematan tanda jabatan, pengambilan sumpah jabatan, serta penandatanganan Berita Acara Serah Terima Jabatan, Berita Acara Sumpah Jabatan, dan Pakta Integritas.

Dalam amanatnya, Kapolres Karawang menegaskan bahwa mutasi dan serah terima jabatan merupakan bagian dari pembinaan karier dan penyegaran organisasi guna meningkatkan profesionalisme serta kualitas pelayanan Polri kepada masyarakat. Kapolres juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pejabat lama atas dedikasi, loyalitas, dan pengabdian yang telah diberikan selama bertugas di Polres Karawang.

Kepada pejabat yang baru dilantik, Kapolres berharap agar segera beradaptasi dengan lingkungan tugas, menjaga integritas, serta mampu menghadirkan kinerja yang responsif, profesional, dan humanis dalam menjawab tantangan tugas ke depan.

Adapun pejabat yang melaksanakan serah terima jabatan dan pelantikan yaitu KOMPOL Rizky Adi Saputro yang digantikan oleh KOMPOL Andriyanto sebagai Wakapolres Karawang. Jabatan Kasatlantas Polres Karawang diserahterimakan dari AKP Abdurrahman Hidayat kepada AKP Sudirianto, serta AKP Herwit Yuanita Bintari, dilantik sebagai Kasatres PPA dan PPO Polres Karawang.

Upacara ditutup dengan pembacaan doa, menyanyikan Hymne Polri, dan penghormatan pasukan. Kegiatan dilanjutkan dengan pemberian ucapan selamat oleh Kapolres Karawang beserta jajaran kepada para pejabat yang melaksanakan sertijab dan pelantikan, serta sesi foto bersama sebagai bentuk kebersamaan dan soliditas institusi.
(Liputan : Ahmad Z)

Bupati Aep dan Forkopimda Karawang Gelar Aksi Nyata Gerakan Indonesia ASRI di Hutan Mangrove Tangkolak

0

KARAWANG (Aswajanews) – Bupati Karawang H. Aep Syaepuloh bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Karawang menggelar aksi nyata Gerakan Indonesia ASRI (aman, sehat, resik, indah) di Kawasan Ekowisata Mangrove Dusun Tangkolak, Desa Sukakerta, Kecamatan Cilamaya Wetan pada Sabtu (7/2/2026).

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Dandim 0604/Karawang Letkol Inf. Naryanto, Kapolres Karawang AKBP Fiki Novian Ardiansyah, Ketua DPRD Kabupaten Karawang H. Endang Sodikin, Wakil Bupati Karawang H. Maslani, Danyon 305/Tengkorak Mayor Inf. Afdal Eko Putra, dan seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta para camat di lingkungan Kabupaten Karawang.

Hujan tidak menjadi halangan yang menyertai langkah puluhan aparatur pemerintah yang turun langsung memunguti sampah di kawasan pesisir tersebut. Bukan sekadar simbolik, aksi bersih-bersih ini menjadi wujud komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karawang dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

Bupati Aep dalam sambutannya menjelaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari Gerakan ASRI yang menjadi instruksi Presiden kepada para kepala daerah saat Taklimat Presiden pada Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

“Kemarin saat rakor bersama Presiden, beliau menginginkan Indonesia harus asri. Hari ini kita hadir di Tangkolak bukan untuk seremonial, tapi kerja nyata. Kita ingin kebersihan ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga dan pengunjung,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran seluruh unsur pemerintahan dan masyarakat dalam aksi tersebut merupakan bentuk tanggung jawab bersama menjaga lingkungan, khususnya di kawasan wisata. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tetap hadir meski kegiatan dilaksanakan di hari libur dan gerakan ini harus memberi dampak langsung bagi masyarakat, bukan sekadar agenda seremonial semata.

“Alhamdulillah hari ini kami disupport oleh Forkopimda, termasuk juga rekan-rekan TNI-Polri dan para ASN yang hari ini kita sama-sama ikut melakukan Gerakan ASRI, bukan hanya datang ke sini lalu seremonial tetapi kita juga menginginkan ada aksi-aksi nyata yang memang betul-betul dirasakan oleh masyarakat,” ungkapnya.

Sebagai informasi, Pantai Mangrove Tangkolak dipilih sebagai lokasi kegiatan karena dinilai memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata berbasis edukasi dan lingkungan, khususnya ekosistem mangrove.

Bupati Aep menyebut kawasan tersebut sebagai salah satu ikon wisata pesisir di wilayah Cilamaya yang perlu dijaga bersama agar terus berkembang dan memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
(Liputan : Ahmad Z)

RSUD Bedas Pacira Resmi Beroperasi, Seluruh Layanan Kesehatan Digratiskan hingga 14 Februari

0

BANDUNG (Aswajanews.id) — RSUD Bedas Pacira resmi menggratiskan seluruh layanan kesehatan bagi masyarakat hingga 14 Februari 2026, bertepatan dengan dimulainya operasional rumah sakit tersebut, Senin (2/2/2026). Kebijakan ini diterapkan untuk memastikan akses pelayanan kesehatan yang merata bagi warga Pasirjambu, Ciwidey, dan Rancabali (Pacira), serta masyarakat Kabupaten Bandung secara umum.

Sejak hari pertama beroperasi, RSUD Bedas Pacira yang berlokasi di Sukawening, Ciwidey, telah membuka layanan rawat jalan, rawat inap, dan instalasi gawat darurat (IGD). Pantauan di lokasi menunjukkan aktivitas pelayanan berjalan normal dengan antusiasme masyarakat yang mulai memanfaatkan layanan pemeriksaan penyakit dalam, kebidanan dan kandungan, kesehatan gigi, hingga pemeriksaan kesehatan umum atau medical check-up.

Direktur RSUD Bedas Pacira, dr. Reymond Pangihutan Sirait, M.K.P., M.M.(RS), menegaskan bahwa kebijakan layanan gratis ini merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam menjamin pelayanan kesehatan yang inklusif dan tanpa diskriminasi.

“Selama masa peluncuran hingga 14 Februari, seluruh layanan kesehatan dapat diakses masyarakat tanpa dipungut biaya. Rumah sakit ini melayani semua warga tanpa membedakan kondisi ekonomi,” ujarnya.

Ia menambahkan, bagi masyarakat kurang mampu, pelayanan tetap diberikan dengan ketentuan memiliki identitas atau KTP Kabupaten Bandung. Adapun persyaratan administratif seperti Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Camat Pasirjambu, Nia Kania, S.Pt., M.I.L., yang hadir langsung dalam kegiatan tersebut, menyatakan bahwa kehadiran RSUD Bedas Pacira secara nyata memperpendek jarak dan waktu tempuh masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan.

“Kehadiran rumah sakit ini sangat membantu dan menjadi kebutuhan riil warga Pasirjambu dan sekitarnya,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Kecamatan Ciwidey, Panpan Risvan C., S.IP., M.Si., menilai fasilitas RSUD Bedas Pacira sudah representatif untuk menunjang pelayanan kesehatan. Menurutnya, ketersediaan ruang perawatan, ruang operasi, serta tenaga medis menjadi indikator kesiapan rumah sakit tersebut.

“Selama 14 hari ke depan layanan diberikan secara gratis. Masyarakat di wilayah Pacira diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas ini secara optimal,” ujarnya.

(Reporter: Uus)

Sekjen: Kemenag Serius Benahi Tata Kelola dan Sejahterakan Guru

0
Sekjen Kemenag, Kamaruddin Amin

JAKARTA (Aswajanews) – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, menyampaikan bahwa tata kelola dan kesejahteraan guru agama dan madrasah menjadi prioritas Kemenag untuk meningkatkan pendidikan agama dan keagamaan yang unggul dan kompetitif.

Selama ini, pihaknya intensif melakukan koordinasi terkait berbagai kebijakan tentang guru dengan Kemenko PMK, Bappenas, Kementerian Keuangan, maupun Komisi VIII DPR RI.

“Kemenag serius benahi tata kelola dan sejahterakan guru. Kami pastikan bahwa perbaikan tata kelola dan kesejahteraan guru agama dan madrasah terus dilakukan dan diperjuangkan. Selama ini yang sudah berjalan seperti kenaikan TPG dari Rp1,5 juta menjadi Rp2 juta. Selain itu, akselerasi sertifikasi guru agama dan madrasah juga mengalami kenaikan tajam pada 2025 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya” tegas Kamaruddin di Jakarta, Minggu (1/2/2026).

Terkait rekruitmen guru non ASN, Kamaruddin menyatakan bahwa koordinasi dalam proses pengangkatan guru madrasah swasta maupun guru agama di sekolah itu sangat penting. Sebab, koordinasi akan memudahkan proses pendataan sekaligus afirmasi terhadap mereka.

Sekjen Kemenag menegaskan hal ini sebagai penjelasan atas keterangan yang dia sampaikan dalam Rapat Kerja Kementerian Agama dengan Komisi VIII DPR. Raker saat itu antara lain membahas tentang usulan tambahan untuk pembayaran Tunjangan Profesi Guru (TPG) dan penanganan masalah guru honorer madrasah.

Sekjen mengatakan bahwa pernyataannya di DPR itu dalam semangat memberikan afirmasi kepada guru, mencari solusi terbaik, bukan mendikotomisasi. “Saya memohon maaf setulus-tulusnya jika dalam penjelasan saya ada yang kurang berkenan, tidak ada maksud sama sekali untuk menyinggung para guru. Saya sangat menghormati guru dan terus menerus memperjuangkan nasib dan kesejahteraan mereka,” ujar Kamaruddin Amin.

Kamaruddin menjelaskan, guru agama di sekolah tidak hanya diangkat oleh Kementerian Agama. Mereka ada juga yang diangkat oleh yayasan, pemerintah daerah, sekolah kedinasan dari K/L lain, dan juga oleh kepala sekolah.

“Koordinasi sejak awal dalam proses pengangkatan guru agama di sekolah, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, dengan Kementerian Agama itu sangat penting. Sebab, itu akan memudahkan pendataan, tata kelola, dan afirmasi,” tegasnya.

“Afirmasi itu bisa dalam bentuk pendataan yang tersistem, peningkatan kompetensi guru, dan juga terkait kesejahteraannya yang belakangan ini terus kita upayakan,” sambungnya.

Khusus terkait pengangkatan guru pada madrasah swasta, menurut Sekjen, telah diatur dalam Keputusan Menteri Agama Nomor 1006 Tahun 2021. Regulasi ini menjadi pedoman dalam pengangkatan guru pada madrasah yang diselenggarakan oleh masyarakat. Pedoman itu mengatur beberapa hal terkait rekrutmen guru di madrasah swasta sebagai berikut:

1. Penyelenggara Pendidikan menyampaikan usulan kebutuhan guru kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota.
2. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota memberikan persetujuan/rekomendasi proses seleksi calon guru setelah melakukan analisis kebutuhan guru pada Sistem Informasi dan Manajemen Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kementerian Agama (SIMPATIKA).

3. Penyelenggara pendidikan membentuk panitia seleksi yang berasal dari unsur yayasan/penyelenggara pendidikan, unsur Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota, dan pihak lain sesuai dengan kebutuhan.
4. Panitia seleksi mengumumkan penerimaan calon guru yang dibutuhkan sesuai dengan jenjang Pendidikan yang diselenggarakan (RA, MI, MTs, MA, atau MAK).

5. Pelamar mengirimkan surat lamaran dalam amplop tertutup atau melalui media elektronik.
6. Isi surat lamaran terdiri atas dokumen sebagaimana dimaksud dalam BAB II huruf B.

Sekjen Kemenag menambahkan bahwa saat ini masih ada 423.398 guru madrasah yang belum mengikuti sertifikasi guru. Mereka yang _eligible_ akan menjadi prioritas diikutkan Pendidikan Profesi Guru (PPG) tahun ini secara bertahap di LPTK, sebagaimana yang berjalan di tahun lalu.

“Bersama Kementerian/Lembaga terkait dan Komisi VIII DPR, Kemenag serius melakukan akselerasi perbaikan tata kelola dan kesejahteraan guru, seperti sertifikasi  melalui PPG dan pembayaran Tunjangan Profesi Guru. Ini menjadi concern pemerintah sebagai perhatian terhadap dunia pendidikan,” tandasnya. (Kontributor: Moh Khoeron)

Google search engine
0FansSuka
3,912PengikutMengikuti
22,300PelangganBerlangganan

Recent Posts